[FF] I Am a Girl?! Part 1


Cast: Hyukjae, Sunghee, Hyoyeon, Donghae, Sungmin
Genre: Romance, Comedy

Summary: Lee Hyukjae adalah seorang cowok yang dikenal playboy, tapi sebenarnya dia cuma mencintai seorang wanita yaitu, Kim Hyoyeon, teman sekolahnya. Suatu hari, ia bertemu dengan Lee Sunghee, gadis yang santai, bebas, dan sedikit agresif. Tapi tak disangka, ia dan Sunghee malah kecelakaan. Hyukjae diberi kesempatan hidup sekali lagi namun dalam tubuh Sunghee. Ia harus menyelesaikan masalahnya menggunakan tubuh cewek itu. Apalagi arwah Sunghee menghantuinya terus menerus. Masalah makin rumit ketika cowok-cowok mulai mengejarnya. Hyukjae kesal, dia kan cowok. Masa cowok dikejar cowok? Lalu, apa jadinya kalau cowok berotak yadong ini dimasukkan ke tubuh cewek? Apa urusannya bakalan selesai? Atau malah makin runyam?

= = =

“Hyo~~~” seruan itu menghentikan langkah Kim Hyoyeon. Gadis itu menoleh ke belakang dan mendapati kekasihnya sedang berlari mengejarnya. Hyoyeon tersenyum senang menyambutnya.

“Ada apa, Hyukie?” sapanya.

“Nanti kamu pulang jam berapa?” tanya Hyukjae di sela ngos-ngosannya.

“Hm…sekitar jam 5. Tapi aku harus pergi ke studio dance.”

“Baiklah, kita pulang bareng.”

“Eh? Lama lho. Sekarang kan sudah pulang sekolah. Kamu gak ada jadwal ekskul kan sekarang?”

“Iya gak apa-apa. Aku bisa nunggu di kantin.” Hyukjae tersenyum. “Nanti aku jemput kamu di studio dance jam 5. Gak jauh dari sini kok tempatnya.”

“Oh ya sudah. Terima kasih ya, Hyukie!”

“Ya!” Hyukjae mengangguk senang. Ia menghitung langkah Hyoyeon sampai hilang dari pandangannya dan berbalik pergi. Hyukjae memutuskan untuk menunggu di kantin. Langit tampak mendung. Hyukjae mendengus.

“Hey, kau menghalangi!” ujar seorang gadis di belakangnya. Hyukjae terkejut dan menoleh ke belakang. Ia melihat seorang gadis sedang melongokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencoba menatap sesuatu di depan Hyukjae.

Hyukjae otomatis bergeser. Matanya teralih pada pandangan yang tadinya berada di hadapannya. Hanya ada segerombolan cowok member klub basket.

Hyukjae menoleh ke gadis itu lagi dengan pandangan sinis. Gadis itu menyeruput minumannya dengan khidmat. Namun matanya terus terarah pada satu sosok di antara cowok-cowok anak basket itu.

Hyukjae mendengus dan memutuskan untuk duduk di hadapan gadis itu tanpa menghalangi pandangan gadis itu.

“Dasar cewek. Beraninya main mata doang, deketin dong,” ujar Hyukjae. Gadis itu meliriknya sekilas sebelum kembali menatap cowok-cowok itu.

“Memangnya cowok? Main mata, deketin, berbuat, terus gak tanggung jawab,” balasnya enteng.

“Heh! Gak semua cowok kayak gitu! Pikiranmu itu terlalu sempit.” Hyukjae merasa tidak terima.

“Kamu juga pikirannya sempit. Memangnya semua cewek cuma mau menunggu? Well, aku tidak.” Gadis itu beranjak berdiri dan membuang bungkus minumannya ke tempat sampah. Ia lalu menepuk pundak Hyukjae sekilas. Gadis itu berjalan mendekati sekelompok anak basket itu. Ia lalu menghampiri seorang anggota yang paling tinggi dan paling tampan. Ia terlihat berbincang dengannya sebentar. Ia tertawa dan puncak kepalanya ditepuk-tepuk oleh cowok itu. Gadis itu melambai ketika sekelompok anak basket itu pergi. Gadis itu kembali ke arah Hyukjae yang masih memperhatikannya. Gadis itu tertawa sambil memperlihatkan ponselnya.

“Aku dapat nomornya.” Gadis itu menjulurkan lidahnya, seolah mengejek Hyukjae. Hyukjae hanya mendengus.

“Itu kan tugasnya cowok. Bagaimana sih kamu ini? Melawan kodrat sebagai perempuan tahu! Cewek kan tugasnya menunggu seseorang datang padanya,” kata Hyukjae sok menasehati.

“Sekarang, jumlah perempuan dan laki-laki itu 7 banding 1. Makanya perempuan agresif, gak bisa nunggu terus. Nanti diambil orang lagi.” Gadis itu duduk di sebelah Hyukjae. Ia mendongak menatap langit yang mulai gerimis.

“Kok bisa ya cowok itu mau sama kamu. Ckckck..” Hyukjae berdecak. Gadis itu meliriknya.

“Kamu gak tahu siapa aku? Aku ini Lee Sunghee, aku masuk 10 besar cewek tercantik di sekolah.” Sunghee mengibaskan rambutnya. Hyukjae tersenyum kecil.

“Kamu pasti yang ke-10 ya?” Hyukjae tertawa.

“Biarin. Yang penting masuk, kan?” Sunghee ikut tertawa.

“Jadi, namamu adalah?” tanya Sunghee.

“Lee Hyukjae. Kenapa? Berniat meminta nomor teleponku?” Hyukjae mengerling nakal. Sunghee mendengus.

“Levelmu jauh. Choi Siwon jauh lebih baik daripadamu. Kamu sama dia tuh begini.” Sunghee mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, sedangkan yang kiri ia letakkan di atas pahanya yang tertutup rok seragamnya.

“Yang kanan itu pasti aku.” Hyukjae menunjuk tangan Sunghee yang terangkat tinggi.

“Puih! Mimpi!” Sunghee tertawa. Kembali, mereka berdua tertawa. Lalu percakapan mereka berlanjut. Mereka memperbincangkan hal-hal sederhana. Apa yang sedang hits sekarang, hobi masing-masing, bahkan guru yang dibenci.

Percakapan mereka terhenti ketika Hyukjae tersadar bahwa ia harus menjemput kekasihnya.

“Aku harus pergi sekarang, Sunghee. Senang bertemu denganmu.” Hyukjae bangkit berdiri dan menyampirkan tasnya di bahu.

“Hujan lho,” ujar Sunghee singkat.

“Bawa payung kok.” Hyukjae mencoba membuka payung lipatnya, namun ternyata ketika terbuka, payung itu rusak. Hyukjae mendengus kesal. Sunghee mati-matian menahan tawa.

“Memangnya mau kemana sih?” tanya Sunghee di sela tawanya.

“Ke studio dance dekat sini kok.”

“Ya udah bareng aja. Aku lewat situ kok.”

Hyukjae berpikir sejenak. Sebenarnya itu tawaran bagus. Motornya ia titipkan ke studio dance tadi pagi. Jaraknya hanya sekitar 100 meter dari sekolah. Di sana, para siswa biasa menitipkan kendarannya. Di sekolah keamanan kurang menjamin karena tidak ada yang menjagai kendaraan itu selama mereka belajar.

“Tidak merepotkan?” kata Hyukjae pelan. Sunghee tersenyum dan bangkit berdiri.

“Sama sekali tidak, Lee Hyukjae. Kamu tunggu sini, aku ambil mobil dulu.” Sunghee membuka payungnya dan mulai berlari menembus hujan tanpa sempat Hyukjae cegah.

“Sudahlah. Lagipula kalau aku bersikeras ikut bisa membuat jok mobilnya basah.” Hyukjae menghela napas. “Tapi kalau dipikir-pikir…harusnya kan laki-laki yang mengambil mobil dan menyuruh ceweknya menunggu, kenapa ini malah terbalik?”

Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan berwarna biru metalik berhenti di depan Hyukjae. Suara klakson terdengar dua kali. Hyukjae mengerti dan melangkah masuk.

Hyukjae takjub dengan mobil Sunghee. Mobil itu pasti harganya ratusan juta, karena eksterior maupun interiornya sangat mewah. Warna interiornya hijau muda. Di dashboard-nya ditempeli hiasan-hiasan lucu. Khas cewek.

Hujan deras masih mengguyur kota Seoul. Sangat deras, ditambah lagi angin yang bertiup kencang menambah suram suasana sore itu. Sunghee berkali-kali menyipitkan matanya, berusaha menajamkan pandangan. Namun percuma, sore itu sangat gelap. Pandangannya jadi buram.

“Sunghee, kita berhenti dulu saja,” saran Hyukjae.

“Duh, nanggung ah! Sedikit lagi juga sampai.”

“Jangan ngebut, bahaya!” Hyukjae memperingatkan. Tangannya menggenggam sabuk pengaman dengan erat.

“Kamu tahu? Aku paling gak bisa dilarang. Hehe.” Sunghee menambah kecepatannya.

“YAH!!” seru Hyukjae. “Aku tidak mau mati muda! Aku belum kawin!!”

“Cih.” Sunghee melambatkan lajunya. Hyukjae menjadi sedikit lebih tenang. Setidaknya tidak setegang tadi. Sekarang Sunghee mengendarai mobilnya dengan kecepatan 60km/jam.

“Hyuk, kok aku tiba-tiba pusing ya?”

“Ke-kenapa? Berhenti dulu, Lee Sunghee!” seru Hyukjae panik.

Tiba-tiba, dari arah depan, cahaya yang menyilaukan menyorot mereka. Cahaya itu semakin terang, membuat mereka dua harus menyipitkan mata. Seiring dengan kepergian cahaya itu, suara tabrakan terdengar kencang.

= = =

Hyukjae membuka matanya perlahan. Ia mengerjap-erjap untuk membiasakan matanya dengan cahaya. Hyukjae mengernyit heran ketika menyadari bahwa tubuhnya tergeletak di tanah. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Sekelilingnya sangat ramai, orang-orang mengelilinginya. Ia bangkit berdiri dan menghampiri seorang siswa.

“Hei, apa yang terjadi?” tanya Hyukjae. Namun diluar dugaan, siswa itu sama sekali tidak meresponnya. Bahkan menyadari kedatangan Hyukjae pun tidak. Ia malah mendengus dan berlalu pergi.

Hyukjae mendengus. “Baru sekolah di SMA pinggiran aja lagaknya sombong banget.”

Hyukjae lalu memutuskan untuk bertanya pada wanita paruh baya di dekatnya. Namun, hal yang sama terjadi. Wanita itu tidak merespon. Ia malah sibuk membicarakan kejadian naas itu dengan temannya.

“Katanya pengemudi truknya meninggal ya?”

“Iya. Pengemudi truknya mengantuk, jadi jalannya oleng.”

Hyukjae tersadar, ia baru saja mengalami kecelakaan. Ia melihat sekeliling. Benar saja, mobil biru metalik Sunghee tergeletak dengan posisi terbalik. Ia mencari-cari dimana Lee Sunghee. Hyukjae berlari mendekati mobil itu. Ketemu. Tubuh Sunghee tergeletak di samping mobil. Beberapa petugas medis sedang memberikan pertolongan pertama.

“Sunghee bertahanlah!” Hyukjae ingin menggenggam tangan Sunghee, namun tidak berhasil. Tangan Sunghee tidak tersentuh. Hyukjae tertegun. Ia memukul petugas medis di sebelahnya. Tak ada respon. Ia lalu berteriak gaduh. Tetap tak ada respon.

Hyukjae menoleh ke dalam mobil. Ia terkejut ketika melihat beberapa orang petugas berusaha mengeluarkan tubuhnya dari dalam mobil. Ya, tubuhnya sendiri.

Hyukjae memperhatikan tangannya yang pucat. Lalu kakinya. Ia meraba-raba wajahnya. Tidak ada yang aneh. Selain…melihat tubuhnya sendiri tergencet oleh mobil Sunghee.

Itu jelas-jelas tidak mungkin. Hyukjae menggelengkan kepalanya keras-keras. Ia terkejut ketika beberapa orang petugas yang membawa tubuh Lee Sunghee menembus tubuhnya. Hyukjae menganga. Tidak percaya akan apa yang terjadi.

Aku mati?! Sekarang?!! Andwae!!!

Hyukjae berusaha mencari Lee Sunghee, siapa tahu gadis itu meninggal juga. Tapi ternyata tidak ada. Sepertinya Sunghee selamat.

“Hey, Hyukjae!” seru seorang laki-laki. Hyukjae tertegun. Ia menoleh ke sumber suara. Seorang anak laki-laki berjalan ke arahnya. Ia menatap Hyukjae dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Ikuti aku,” ucapnya singkat dan berlalu pergi. Hyukjae tidak punya pilihan lain. Lantas, ia mengikuti laki-laki yang kira-kira berusia 10 tahun itu. Mereka berhenti di sebuah toko pinggir jalan yang sedang tutup.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Aku tidak mungkin mati sekarang kan?” cecar Hyukjae.

“Kamu memang sudah mati, Lee Hyukjae.”

“Tapi..ini tidak mungkin! Aku..aku..” Hyukjae tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

“Mau lihat keadaan Lee Sunghee?” tanya anak itu. Hyukjae mengangguk.

“Ayo.” Anak itu menyuruhnya mengikutinya lagi. Hyukjae hanya menurut. Mereka menumpang di bus. Anak itu juga sepertinya hantu sama sepertinya. Makanya ia tidak bisa dilihat oleh orang lain, dan bisa melihat dirinya.

Sampai di rumah sakit, anak itu langsung mengajak Hyukjae ke ruang UGD. Di sana, Sunghee sedang ditangani. Keadannya sangat kritis.

“Sebenarnya kamu siapa?” tanya Hyukjae.

“Aku Ryo.”

“Baiklah. Ryo, kenapa aku bisa ada di sini? Maksudku, masih di dunia ini?”

“Kau punya suatu masalah yang belum terselesaikan?” Ryo malah bertanya balik. Hyukjae tertegun. Tentu ada. Rencananya, ia akan memberikan kalung emas putih untuk Hyoyeon di hari ulang tahunnya 2 hari lagi. Tapi bagaimana cara memberikannya kalau ia sudah meninggal?

Hyukjae lalu menceritakan masalah itu pada Ryo. Ryo mengangguk paham. Rambutnya yang hitam legam bergerak mengikuti anggukan kepala.

“Jadi, itu masalah gampang. Kau bisa meminjam tubuh seseorang lalu memberikan kalung itu pada gadismu. Beres, kan?”

“Tapi…tubuh siapa? Kenapa tidak memakai tubuhku?”

“Tubuhmu hancur. Kalau kau mau…kau bisa memakai tubuhnya.” Ryo menunjuk Sunghee dengan dagunya. Hyukjae menatap Sunghee. Gadis itu meninggal dunia, nyawanya tak berhasil diselamatkan. Hyukjae melangkah mendekati tubuh Sunghee yang telah tertutupi kain putih. Ryo mengikuti di sebelahnya.

“Kemana Lee Sunghee?”

“Langsung pergi. Dia tidak punya urusan.” Ryo mengedikkan bahu.

“Tapi…apa ini tidak apa-apa?” Hyukjae tampak ragu.

“Terserah. Tapi kalau masalahmu tidak terselesaikan, kau bisa gentayangan terus menerus di bumi.”

“Ergh, baiklah.” Hyukjae merangkak ke atas tubuh kaku Sunghee setelah menyibakkan kainnya terlebih dahulu.

“Kamu mau apa?” tanya Ryo heran.

“Hah? Merasukinya lah!” ujar Hyukjae ketus.

“Bukan begitu caranya bodoh! Kau tampak seperti om-om mesum yang mengambil kesempatan dalam kesempitan!”

“Tapi kalau di film-film kan..”

“Ini bukan film, bodoh! Cepat turun!”

Hyukjae pun merangkak turun. Ia berdiri di hadapan Ryo. Ryo mengulurkan tangannya.

“Kau harus pergi ketika urusanmu selesai. Arasseo?”

“Oke.”

Ryo memberi isyarat agar Hyukjae menjabat tangannya. Hyukjae menyambut uluran tangan Ryo. Sedetik kemudian, Ryo melepasnya. Hyukjae mengernyit.

“Tidak ada yang..” Hyukjae menutup mulutnya. Tadi bukan suaranya. Itu suara Lee Sunghee. Hyukjae semakin terkejut ketika melihat tangan yang menutup mulutnya adalah tangan perempuan. Hyukjae memperhatikan tangannya, putih mulus. Kakinya yang tidak tertutupi celana, melainkan hanya rok sekolah yang pendeknya di atas lutut. Hyukjae meraba rambut Sunghee, yang sekarang menjadi miliknya untuk sementara. Halus dan panjang sepunggung.

Hyukjae terpana. Ryo memiringkan kepalanya sambil menatap Hyukjae yang bertubuh Sunghee. Seakan sedang menilai.

“Gadis ini kalau hidup cantik juga.” Ryo mengangguk-angguk.

“Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?”

“Kenapa malah tanya aku! Sana cepat selesaikan urusanmu dengan gadismu itu!” Ryo berujar dengan ketus. Tiba-tiba sosoknya menghilang begitu saja.

Hyukjae terdiam. Ia masih tidak percaya hal ini terjadi padanya. Hyukjae memperhatikan tubuhnya sekali lagi. Senyum jail terukir di bibirnya.

Hyukjae berjalan ke kamar mandi. Ia nyaris memasuki toilet laki-laki. Untung saja dia cepat sadar. Ia lalu memasuki toilet wanita. Di sana ada dua orang suster yang sedang mencuci tangan. Hyukjae ingat, itu suster-suster yang menangani Sunghee tadi.

Hyukjae mencoba tersenyum menyapa. Tapi, respon yang didapat diluar dugaan Hyukjae. Kedua suster itu terkejut. Mereka seperti melihat hantu.

“K-k-ka-kau! Kau kan sudah meninggal!” seru salah satu suster itu.

“Tidak mungkin!” Suster yang lain menutup mulutnya dengan tangan.

“Aku..er..ya aku memang sudah meninggal tapi aku hidup kembali. Kurasa detektor detak jantungnya salah.” Hyukjae mengangkat bahu. Kedua suster itu tidak menjawab dan malah berlari pergi. Hyukjae menghela napas. Ia lalu berdiri di depan wastafel dan memperhatikan tubuhnya. Well, tubuh Sunghee.

Hyukjae memutar-mutar tubuhnya. Ia memegang kepalanya, wajahnya, lehernya, dan terakhir…Hyukjae tersenyum geli. Ia meraba bagian dada Lee Sunghee.

“Ternyata begini rasanya punya ini ya..” gumam Hyukjae. Pintu toilet terbuka, seorang gadis cantik memandanginya heran. Ia bergidik ngeri dan cepat-cepat keluar dari toilet.

Hyukjae tertegun. Ia menyadari posisi tangannya memang agak mencurigakan. Ia cepat-cepat melepas tangannya dan berdiri dengan mantap.

“Baiklah, aku harus meyakinkan Hyoyeon bahwa aku benar-benar aku! Ayo, Lee Hyukjae, berangkat!”

Hyukjae bergegas pulang ke rumah. Hari sudah malam, sebaiknya ia istirahat dulu.

Hyukjae sampai di depan rumahnya tanpa hambatan. Sunghee ternyata menyimpan beberapa lembar uang di saku seragamnya, makanya Hyukjae bisa menumpang bus.

Hyukjae berjalan ke rumahnya dan menekan bel. Tak lama kemudian, ibunya keluar dengan pandangan heran.

“Mau cari siapa ya?” tanya ibunya. Hyukjae tertegun. Benar, sekarang ia bukan dirinya. Ia berada di dalam tubuh Sunghee.

“Aku..mau cari Hyukjae.”

“Kamu teman sekolahnya?”

“Iya.”

“Hyukjae…” Ibunya tiba-tiba menangis. “Hyukjae sudah meninggal. Dia sudah tidak ada..”

Hyukjae terpaku.

“Tapi…tapi aku Hyukjae, Eomma!”

“Kamu ini bicara apa? Namamu Lee Sunghee, kan?” Eomma Hyukjae menunjuk pin nama di blazer Sunghee.

“Ini memang gila, tapi aku benar-benar Lee Hyukjae! Aku anak Eomma! Aku memang sudah meninggal, tapi aku diberi kesempatan untuk hidup kembali dalam tubuh ini. Aku meminjam tubuh Lee Sunghee untuk memberikan hadiah ulang tahun pada Hyoyeon. Eomma tahu Hyoyeon, kan? Dia pacarku, waktu kemarin diajak makan bareng juga sama Eomma dan Appa. Terus..”

“Yeobo! Yeobo!” Mrs. Lee malah masuk ke dalam, memanggil suaminya. Suaminya datang dan menatap Hyukjae heran.

“Appa…” ujar Hyukjae serak. “Ini Hyukjae, Appa.”

“Dasar anak gila! Hyukjae sudah meninggal! Pergilah! Nanti kau dicari orang tuamu!”

“Tapi..”

“Ayolah pergi! Tidak baik anak gadis keluyuran malam-malam.”

“Tapi, Appa..”

“Rumah kamu dimana? Ada urusan apa dengan Hyukjae?” Eomma-nya bertanya dengan lebih lembut.

“Rumahku di…” Hyukjae terdiam. Dimana rumah Lee Sunghee?! “a-aku..aku tadi kecelakaan dan dokter bilang aku amnesia jadi…aku tidak tahu rumahku dimana…yang aku ingat hanya Hyukjae..”

“Kamu…ada hubungan apa dengan Hyukjae?” tanya ibunya lagi.

“Aku..aku mantan kekasihnya! Aku sangaat mencintainya. Dokter bilang, karena saking cintanya aku terhadapnya, makanya aku tidak bisa melupakannya.”

“Sebaiknya kau pulang saja, Nak. Ini sudah malam.” Ibunya masuk ke dalam rumah. Ayahnya mengikuti. Hyukjae mendengus kesal. Ingin sekali rasanya ia berlari masuk ke dalam kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Hyukjae mendesah pasrah. Ia lalu melangkahkan kakinya tak tentu arah. Sekarang kemana ia harus pergi?

“Lee Sunghee!” suara seorang perempuan memasuki telinga Hyukjae. Ia menoleh mencari sumber suara. Ia nyaris pingsan ketika melihat sesosok arwah Sunghee sedang melayang di hadapannya. Persis di hadapannya.

“Hey, kamu siapa?! Seenaknya pakai tubuh orang! Aku udah muter-muter keliling Seoul untuk mencari tubuhku, taunya dipake! Kamu siapa hah?!” sembur Sunghee galak.

“Aku..Hyukjae..”

“Hyukjae?” Nada suara Sunghee menurun. “Bagus! Sekarang keluar dari tubuhku, Lee Hyukjae! Aku tidak suka melayang seperti ini.”

“Ryo bilang aku boleh meminjam tubuhmu sampai aku menyelesaikan masalahku. Dia bilang kamu tidak punya masalah. Kenapa sekarang malah gentayangan?”

“Aku punya masalah tahu! Sudah cepat keluar dari tubuhku!” bentak Sunghee.

“Sunghee, aku butuh bantuanmu! Tubuhku hancur, aku punya satu masalah penting. Aku pinjam tubuhmu dulu ya? Hanya untuk sementara kok, sampai urusanku selesai. Nanti kukembalikan tubuhmu. Oke?” Hyukjae memohon dengan nada memelas.

“Cih, memangnya tubuhku itu sewaan apa? Pinjam-pinjam…oke, tapi kamu harus menyelesaikan masalahmu secepat mungkin. Kamu pikir kamu aja yang punya masalah?” Sunghee mendengus kesal.

“Deal! Sunghee, terima kasih banyak!! Nah, sekarang, ayo bawa aku ke rumahmu. Aku diusir dari rumahku sendiri.”

“Diusir? Aku yakin kamu ngaku-ngaku sebagai Lee Hyukjae dan mereka mengiramu gila dan mereka mengusirmu. Ya, kan?”

“Tepat.”

“Bodoh! Ya sudah, ayo ikut ke rumahku saja.”

Mereka menumpang bus dan kembali ke rumah Sunghee dengan selamat, dengan sedikit hambatan. Hyukjae sering dianggap gila karena bicara sendiri. Padahal, ia sedang berbicara dengan Sunghee. Orang-orang menatapnya aneh.

“Kasihan. Cantik-cantik gila.” Begitu komentar orang-orang sekitar.

Sampai di rumah, hanya ada kakak Sunghee saja. Orang tuanya sedang pergi ke Indonesia. Kakak Sunghee yang bernama Sungmin membukakan pintu. Ia tidak terlihat curiga. Sepertinya ia belum melihat berita hari ini.

“Kau kemana saja, Sunghee? Air panas sudah kubuatkan. Kau tinggal mandi saja.”

“Baik, Hyu eh Oppa.” Hyukjae mengeluh dalam hati. Sunghee cekikikan di sebelahnya.

“Ayo ke kamarku.” Sunghee melayang ke atas, menuju kamarnya. Hyukjae mengikuti dengan langkah cepat, mencoba mengejar Sunghee.

Hyukjae membuka pintu kamar Sunghee yang bercat biru. Ia takjub dengan isinya. Serba biru. Cat biru, seprei biru, lemari biru, tirai biru, pokoknya semua biru. Hyukjae tersenyum senang ketika melihat fasilitas lengkap tersedia di sana. Seperti di kamar hotel bintang 5.

“Itu kamar mandinya.” Sunghee menunjuk sebuah pintu berwarna biru. Hyukjae mengangguk. Ia lalu masuk ke kamar mandi. Hyukjae tercenung. Dengan mandi, berarti dia bisa…

Hyukjae tersenyum geli. Ia membuka blazer Sunghee. Lalu kemejanya. Hyukjae membuka roknya, kaus dalamnya, dan…

Ia merasa tidak enak membukanya. Tapi ia harus. Tidak mungkin ia tidak melepas dua benda berharga aset milik bangsa tersebut.

Karena Hyukjae sering menonton film yadong, ia dengan mudah membuka bra Sunghee. Lalu celana dalamnya. Hyukjae menganga. Air liurnya menetes.

“LEE HYUKJAE! KAU APAKAN TUBUHKU, HAH?!!”

“S-Sunghee! Aku kan harus membersihkan tubuhmu jadi…tidak apa-apa, dong?”

“ANDWAE!! DASAR MESUM!!!!”

To be continued

A/N: Buahahaha saya tahu ini idenya agak-agak gimanaa gitu ^^v tapi dicoba deh. Silakan silakan, yang haus yang haus, komennya silakan!

23 thoughts on “[FF] I Am a Girl?! Part 1

  1. vidiaf says:

    bahahaha parah nih hyuknya yadongnya kebangetan ._. =))))))
    aku suka idenya sunbae~ :3 tumben bikin ff humor nih sunbae~
    “Kamu…ada hubungan apa dengan Hyukjae?” tanya ibunya lagi.

    “Aku..aku mantan kekasihnya! Aku sangaat mencintainya. Dokter bilang, karena saking cintanya aku terhadapnya, makanya aku tidak bisa melupakannya.” .< ditunggu next partnya😀

  2. amitokugawa says:

    kacau nih si hyukjae, yadongnya tingkat tinggi
    tapi ada untungnya sih, jadi nggak canggung lagi *eh*
    canggung sih nggak, mesum yang iya

    hmm, kata ryo sunghee nggak punya masalah, kira2 masalah sunghee apa ya?😀

  3. sophiemorore says:

    sunghee,ini ceritany kren bgt!walopun sya ga rela unyuk ama hyo, meskpun hyo onnie tu cool bgt orgnyaaaaa

    aku suka adegan hyuk ama sunghee ktemu,ngbrlny nynte amatttt…
    ringan,aq suka…
    cm aq bngung knp ryo td blg kl sunghee g puny mslh,tp sunghee mlh blg punya..
    aneh..
    o.O

    • sungheedaebak says:

      aah kenapa gak rela? kasian restuin aja #lho tapi hyo itu aslinya humoris kan, si choding hahaha

      hehe iya aku juga suka adegan itu. enak ngebayanginnya hohoho
      yah itu dia masalahnya. Ryo kan bukan Tuhan, makanya dia gak tau segalanya dong. justru ini yg bikin penasaran hehe

  4. kisaeternal says:

    ada aja ide kayak gini xD
    oya salam kenal ya. aku nadiya aka eunsaepark. aku baru maen2 ke blog ini. itu juga karna banyak foto suami saya disini nyahaha..
    annyeong sunghee daebak😀

    • sungheedaebak says:

      entahlah…otak udah gila tingkat SMA kelas 1 sih jadi yaa hahaha😄
      salam kenal! Sungheedaebak a.k.a Annisa a.k.a Ica a.k.a Enca terserah mau manggil apa ^^
      he? suamimu siapaa?

  5. kisaeternal says:

    kelas 1 SMA juga ya? sama dong😀
    panggil ica aja ya, soalnya aku ga punya temen yg nama nya ica *kasian😦
    itu si monyet kuning #eh haha

      • kisaeternal says:

        panggil aja cewe cantik xD nyahaha
        nad boleh nadiya boleh nadiya novrianty juga boleh. tapi kepanjangan kasian kamunya. eunsae boleh. nadnudnod boleh. senyaman ica aja xDxD

        oke ^^ sebenernya aku istrinya kibum kita hidup bahagia tapi semua berubah saat negara api menyerang (?)🙂

      • sungheedaebak says:

        nad aja deh ya ^^

        hahahaha
        tadinya juga aku jatuh cintanya sama yesung, tapi ketika alien datang menyerang bumi dan memporakporandakan dunia, eunhyuk datang menyelamatkanku dengan jurus Moon Tiara Action-nya. karena itu aku jadi jatuh cinta padanya (?)

  6. Lee seung-jae says:

    Oppa?
    Aku kira ceritanya 100% sedih…
    Tapi waktu aku hampir nangis..aku jadi tiba2 ketawa…
    Oppa Hebat…
    Oppa Bisa mempermainkan n merubah perasaan orang dalam sekejap….
    Aku mo baca yg part.2 lah..
    Good luck Oppa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s