[FF] The Black Ribbon: Hunting #2

Dujun menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia melongokkan kepalanya untuk melihat gedung yang ada di samping kirinya dengan lebih jelas. Gedung itu tampak tua dan tidak terawat. Retakan terlihat di sana-sini. Catnya telah memudar. Dulu gedung itu pasti berwarna biru cerah, seiring dimakan usia, gedung itu tampak berwarna abu-abu kusam.

“Err..” Dujun mengusap tengkuknya. “Kau yakin ini tempatnya?”

Lee Joon membaca alamat yang tertera di secarik kertas di genggamannya. “Ya, memang ini tempatnya. Ayo.”

Mereka berdua turun dari mobil dan melangkahkan kaki mereka ke dalam gedung tua tersebut. Mereka disambut oleh sayup-sayup suara musik dari lantai atas. Tanpa membuang banyak waktu, Joon dan Dujun pun segera menuju ke lantai atas.

Apa yang mereka lihat benar-benar diluar dugaan. Lantai 2 gedung ini ternyata kosong melompong, tanpa ruangan, hanya ada satu toilet di pojok ruangan. Dindingnya dilapisi dengan cermin, lantainya licin dan bersih. Di sudut sebelah kiri dekat dengan cermin besar, terdapat sebuah sound system yang sedang memutar lagu bergenre RnB. Di tengah ruangan terdapat 6 orang remaja laki-laki yang sedang menari mengikuti irama. Di hadapan mereka berdirilah sang tutor yang sedang mengamati setiap gerakan mereka.

Itulah target Joon dan Dujun yang pertama. Kang Raeki.

Raeki bertepuk tangan ketika 6 remaja itu sudah menyelesaikan penampilan mereka. Raeki tersenyum puas dan menatap murid-muridnya dengan bangga.

“Kerja bagus, Teen Top. Aku yakin kalian bisa lolos audisi itu.”

Thanks, coach!” koor Teen Top. Mereka berpencar untuk beristirahat dan saat itulah Raeki menyadari keberadaan dua lelaki yang sedari tadi mengamatinya.

“Apa aku mengenal kalian?” Raeki berjalan menghampiri mereka dengan tangan dilipat depan dada.

“Aku Lee Joon dari FBI, dan dia Yoon Dujun, seorang detektif. Kami di sini untuk meminta bantuanmu.” Lee Joon menunjukkan kartu ID-nya pada Raeki. Gadis itu menatapnya sekilas sebelum mendengus.

“Hah. FBI meminta bantuanku? Justru kalianlah yang telah menangkapku dua tahun yang lalu. Dan sekarang aku harus mengenakan gelang sialan ini di kakiku, tidak boleh pergi lebih jauh dari 87 km dari rumah. Apa-apaan?”

“Dengar, kami tak punya banyak waktu untuk berdebat. Kasus The Black Ribbon semakin panas, korban terus berjatuhan setiap minggunya. Dan kami sudah berusaha keras untuk melacaknya, namun dia sangat licin, sulit ditangkap.” Kali ini Dujun angkat bicara.

“Itu tak ada hubungannya denganku.”

“Jika kau berhasil menangkap The Black Ribbon, kau akan dibebaskan tanpa syarat, diberi hadiah apapun yang kau minta.” Joon menatap mata Raeki dengan tajam. Gadis itu mengangkat alis.

“Wow, tawaran yang menarik. Tapi maaf, aku sibuk.” Ia melambaikan tangan dan berbalik badan, berjalan menuju murid-muridnya.

“Semua korban adalah anak usia 18 tahun ke bawah. Bisa siapa saja, bahkan salah satu di antara muridmu ini.” Kata-kata Joon yang satu ini membuat 7 orang lainnya di dalam ruangan itu tersentak. Raeki berbalik dengan sengit dan berjalan mendekati Joon hingga jarak mereka hanya tersisa sejengkal.

“Jaga mulutmu, bajingan. Tidak mungkin salah satu muridku jadi korban. Mereka punya mimpi yang tinggi, mereka tidak akan mati sekarang,” Raeki mendesis.

“Kalau begitu, kau ikut dengan kami, tangkap The Black Ribbon, dan seluruh muridmu selamat. Bagaimana?” Joon tersenyum simpul.

“Tidak. Aku bisa menjaga muridku. Mereka bisa menjaga dirinya sendiri.”

“Oh ya semua berkata seperti itu. Tapi hampir semua tak bisa terselamatkan.”

“Itu karena kalian terlalu bodoh! FBI macam apa yang tidak bisa memecahkan kasus segampang ini?”

“Baiklah, orang pintar. Jika kau menganggap kasus ini gampang, gabunglah. Mungkin kau akan menyelesaikannya dalam dua detik. Siapa tahu?” Joon mengangkat bahu.

“Tidak. Aku tidak akan bekerja pada kalian.”

“Oke, penawarannya ditambah. Sial, susah sekali membujukmu. Begini, kau gabung dengan kami sampai kasus selesai, selama kau menjalankan tugas, polisi FBI akan mengawasi murid-muridmu agar tetap aman. Kau ingin uang, rumah, mobil, istana sekalipun akan kuberikan. Silakan kau pilih.”

“Tidak, tidak.” Raeki kembali menjauhi Joon.

“Kau butuh uang untuk biaya pengobatan ibumu kan?”

Raeki tersentak dan terdiam di tempatnya berdiri sekarang. Bisa Joon lihat pundak gadis itu sedikit gemetar.

“Tahu apa kau tentang ibuku.” Raeki berbisik, mencoba menahan tangisnya dan membungkuk untuk mengambil tasnya.

“Oh, aku tahu semuanya. Jadi bagaimana?” Joon merasa sudah di atas angin. Raeki menggigit bibirnya dan mengepalkan tangan.

“Terima saja, Noona. Lakukan ini demi kami,” remaja berambut ungu berkata.

“Tapi, Niel..”

“Kami baik-baik saja, jangan khawatir.” Remaja berambut pirang tersenyum.

“L.joe…”

“Noona, lakukan ini untuk ibumu. Dia pasti bangga denganmu.”

“Chunji..” Raeki menarik napas dan mengeluarkannya dengan berat. Ia lalu melirik ke arah Joon dengan tajam.

“Sial.” Dia menyisir rambutnya dengan tangan. “Apa aku mulai bekerja sekarang?”

“Oh yeah, lebih cepat lebih baik. Namun, jika kau ingin pulang ke rumah, mandi, dan membawa beberapa baju ke markas kami, pasti akan lebih baik.”

“Tsk.” Raeki berjalan melewati Joon dan menyenggol lengannya dengan sengaja. Joon yakin ia sebenarnya ingin menabrak pundaknya, namun tinggi badannya melarang.

“Oh, dan ini kartu namaku.” Joon menyodorkan kartu namanya. “Jangan sampai tersesat.”

Raeki memutar bola matanya. “Oh, c’mon.”

Tidak sulit untuk menemukan Kim Yoonmin karena ia bekerja di sebuah perpustakaan besar di tengah kota. Yang sulit adalah membawanya ke markas FBI untuk memanfaatkan jasanya.

Yoonmin mendengus, entah untuk yang ke berapa kali.

“Sudah kubilang, aku tidak akan bergabung dengan kalian. Apa kalian tidak mengerti bahasa Korea? Haruskah aku bicara dengan bahasa primitif agar kalian mengerti? Begitu?” Yoonmin bersandar pada dinding perpustakaan dan mengeluarkan sebungkus rokok. Ia mengambil sebatang dan menyulutnya dengan zippo. Ia menghisap rokok itu dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

Dujun menyeret mereka berdua keluar perpustakaan, karena ia tahu percakapan ini tidak akan bisa diselesaikan dengan cara bisik-bisik. Dan benar saja, Yoonmin sudah beberapa kali mencaci maki soal chip yang ditempelkan di kakinya.

“Sudah dihukum menjadi penjaga perpustakaan, dipasangi alat pelacak, kehilangan privasi..” Yoonmin menatap Joon dan Dujun bergantian dengan tatapan sinis. “Aku bahkan tidak diperbolehkan untuk memegang senjata apapun.”

“Yah, kalau kau bergabung dengan kami, kau akan mendapatkan senjatamu kembali. Dan kami juga akan melepaskan alat pelacak itu, tentunya.”

Yoonmin terlihat mulai tertarik. Joon tertawa dalam hati. Dujun meringis.

“Pudding setiap hari? Tiga kali sehari?” Yoonmin berkata dengan perlahan, nyaris tak terdengar. Joon tersenyum lebar dan mengangguk.

“Adikmu masih berusia 17 tahun, kan?” Dujun melirik Yoonmin. Gadis itu mengangguk.

“Wow, bahaya. Korban The Black Ribbon usianya kisaran usia 18 tahun ke bawah. Adikmu bisa saja jadi korban selanjutnya, mengingat betapa cepatnya Black Ribbon ini bergerak.”

“Oh, jadi kalian sekarang sedang mengancamku?” Yoonmin tampak marah.

“Tidak, tidak, jangan salah paham. Kami hanya berusaha membantu dan mengingatkanmu untuk lebih waspada.” Joon tersenyum dan menyodorkan kartu namanya pada Yoonmin. Dengan ragu, Yoonmin menerimanya.

“Datang saja ke alamat itu jika berubah pikiran.”

Lee Joon duduk di atas kap mobil sambil memperhatikan keadaan sekitar. Dujun duduk di kursi kemudi, sibuk menyesap kopinya. Mereka telah pergi ke sebuah bukit tempat balapan liar akan digelar malam ini. Tak heran jika bukit yang biasanya sepi ini berubah 180 derajat menjadi tempat pesta para pembalap dan anak jalanan.

“Tikungan 1 aman,” ucap seseorang melewati walkie-talkie. Joon melirik ke arah seorang pria yang sedang berbicara melalui alat komunikasi tersebut.

“5 tikungan terakhir aman, balapan sudah bisa dimulai!” balas pria itu. Mendengarnya, Joon segera masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman.

“Ini dia. Balapan akan segera dimulai. Ayo bersiap, Jun, dia sangat cepat.”

Dujun menarik napas dan membuang cup bekas kopinya ke jok belakang dengan begitu saja. Dia menyalakan mesin mobilnya dan meletakan kakinya di depan pedal, siap untuk memacunya kapan saja.

“Skyline memulai start pertama dan GT-R menempel tepat di belakangnya! Tikungan pertama sudah di depan mata daaan wooow drift kembar yang sangat mulus!”

“GT-R berhasil menyusul Skyline di tikungan ke 5! Hujan yang mulai turun pasti mempersulit keadaan!”

“GT-R masih tetap mempimpin!”

“Eh? Sebuah mobil masuk ke arena balap..tidak mungkin..Nova hitam itu..The Unbeatable Wind!! The Unbeatable Wind is here!!!” Sontak seluruh penonton bersorak.

“Itu dia. 6 tikungan lagi untuk sampai di sini. Jun­–”

“Aku tahu, aku tahu. Jangan banyak bicara, aku sedang konsentrasi.” Dujun mengeratkan genggamannya pada kemudi. Jantungnya berdegup kencang.

“The Unbeatable Wind menempel tepat di belakang Skyline! GT-R masih memimpin di depan.”

“Posisi tetap sama hingga tikungan ke-13! Nova masih tetap santai membuntuti kedua mobil di depannya!”

“Penentuan ada di 5 tikungan terakhir.”

“Ooow Nova berhasil menyusul Skyline! Drift yang sangat mulus sekali! Skyline terlempar cukup jauh, nampaknya dia kewalahan menghadapi hujan ini.”

“5 tikungan terakhir! GT-R masih tetap memimpin, namun Nova menempel ketat di belakangnya!”

“Eh? Nova menghilang? Hanya ada GT-R di arena..”

“Astaga astaga astaga!! Nova menyusul GT-R tepat di tikungan terakhir! The Unbeatable Win kembali memenangkan pertandingan!”

“Rupanya dia mematikan lampunya untuk mengelabui GT-R di tengah hujan lebat ini…sungguh skill yang sangat gila..”

Joon mematikan radio yang menyadap obrolan melalui walkie-talkie tersebut. Dujun sudah memacu mobilnya semenjak 5 menit yang lalu, mencoba mengejar Honda Civic Nova hitam metalik yang langsung meninggalkan arena setelah memenangkan pertandingan melawan GT-R dan Skyline. Memang benar, Nova itu sangat cepat. Sangat cocok dengan gelar The Unbeatable Wind yang disandangnya. Dujun benar-benar kewalahan mengejarnya, apalagi di tengah hujan lebat dan malam yang gelap seperti ini.

Dujun mengerem mobilnya dengan mendadak, bannya licin. Nova itu dengan mulus menghilang dari pandangan.

Dujun menarik napas. Lamborghini Murcielago-nya melintang di tengah jalan, memblokir dua jalur sekaligus.

“Itulah kenapa kami tidak pernah bisa menangkapnya. Dia iblis jalanan. Orang gila yang mempunyai skill di atas logika manusia.” Joon mengusap keningnya. Dujun masih mengatur napasnya, masih untung mereka tidak menabrak.

“Kalau begitu..dia tidak mungkin ditangkap.”

“Kita masih punya Chanyeol.”

“Chanyeol?” Dujun mengeritkan kening. Dia menepikan mobilnya ke pinggir jalan dan mematikan mesinnya. Joon mengangguk di sampingnya.

“Dia drifter paling handal yang kami punya. Handal, tapi kadang ceroboh. Meski begitu, dia harapan kita satu-satunya.”

Joon menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Dia memejamkan matanya dan memijat-mijat keningnya yang lelah. Dia nyaris tidak bisa tidur semalaman. Dia memikirkan berbagai cara untuk menangkap Ellie, dan tentu menangkap The Black Ribbon. Keduanya sama-sama licin, mulus.

“The Unbeatable Wind…The Black Ribbon…”

“Kau harus istirahat, bos.” Chaerin menepuk pundak Joon sebelum duduk di seberangnya. Dia menatap atasannya dengan tatapan penuh simpati.

“Selama nyawa anak-anak di Korea Selatan masih terancam, aku tidak bisa beristirahat.”

Chaerin mengangguk dan meletakkan secangkir kopi panas di hadapan bosnya. Joon berterima kasih dan menyesap kopi itu perlahan.

“Kau sudah mendapatkan orang-orang gila itu?”

“Kang Raeki sudah setuju, dia akan datang. Yoonmin terlihat masih ragu namun aku yakin dia akan datang hari ini. Dan Ellie…” Joon menghela napas. “Perempuan itu benar-benar gila. Kau tidak akan percaya kalau mendengarnya.”

“Apa?” Chaerin menopang dagu dengan kedua tangan yang disatukan di atas meja.

“Dia mematikan lampunya di tengah hujan lebat, di tengah malam sialan, untuk mengelabui lawannya. Dan dia menang. Mobil tua tahun 90 melawan GT-R dan Skyline. Kau percaya?”

Chaerin mengangkat alis. “Dilihat dari kacaunya dirimu, kurasa memang itulah yang terjadi.”

Joon terkekeh pelan. “Dujun malah lebih parah lagi. Dia tidak mau datang kemari hari ini, dia ingin mendapatkan ketenangan sejenak. Semalam dia nyaris menabrak ketika sedang mengejar Ellie.”

“Ya Tuhan..” Chaerin berbisik pelan.

Percakapan mereka harus terhenti sampai di situ, karena sebuah ketukan di pintu terdengar mengganggu pembicaraan mereka berdua. Dua pasang mata sontak menoleh ke arah sumber suara. Chaerin terdiam melihat siapa yang baru saja menapaki kakinya ke ruangan ini. Joon tersenyum penuh kemenangan.

“Aku benci senyummu itu.” Raeki memutar bola matanya dengan kesal.

“Selamat datang di FBI.” Joon menyapanya dengan ramah, kedua tangan direntangkan. Raeki hanya mengangguk malas.

“Silahkan duduk, anggap saja seperti di rumah sendiri.” Joon tersenyum. Raeki duduk di samping Chaerin.

“Kenalkan, dia professional staff kami, spesialis IT. Dia akan membantu kita menyelesaikan kasus The Black Ribbon.” Kedua gadis itu berjabat tangan dan saling bertukar sapaan canggung.

“Kita tinggal menunggu dua orang lagi dan misi pun dimulai.”

“Oh? Jadi ada dua orang lagi?” tanya Raeki. Joon mengangguk.

“Yang pertama adalah..” ucapan Joon terpotong oleh pintu yang terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Kim Yoonmin menatap mereka satu persatu dengan tatapan datar tanpa ekspresi.

“Kim Yoonmin,” Joon tersenyum. “Aku tahu kau akan datang. Silahkan duduk, anggap rumah sendiri.” Yoonmin menghela napas dan mengambil tempat duduk di samping Raeki.

“Lalu siapa yang terakhir?” Raeki nampak mulai tertarik.

Pintu kembali dibuka dan masuklah sesosok pria dengan tinggi di atas rata-rata. 185cm. Rambutnya lurus tersisir rapi ke belakang, berwarna cokelat tua. Wajahnya tampan, dan tampaknya dia masih sangat muda. Sebuah senyum tidak lepas dari mulutnya.

“Bos, kau memanggilku?” Suaranya dalam dan berat, mengejutkan Raeki dan Yoonmin.

“Ya, kemarilah.” Joon menunjuk kursi kosong di samping Yoonmin.

“Dia?” Raeki menunjuk pria tinggi itu.

“Oh bukan, bukan.” Joon tertawa. “Dia Park Chanyeol, special agent kami. Drifter paling handal yang kami punya.”

“Hai, senang bertemu kalian.” Chanyeol tersenyum ramah.

“Kalau bukan dia, lalu siapa orang terakhir itu?”

“Kau memiliki banyak pertanyaan ya, Raeki.” Joon tersenyum. “Well, pernah mendengar Jeon Ellie?”

“Apa?” Raeki dan Yoonmin nampak terkejut, begitupun dengan Chanyeol.

“Dia adalah orang terakhir yang harus berada di sini, besok. Dia akan bergabung bersama kita.”

“Tapi bagaimana menangkapnya?” Chanyeol mengerutkan kening.

“Kau, Chanyeol. Kau harapan terakhir kami. Tangkap dia dan bawa dia kemari.”

Chanyeol kehilangan kata-katanya.

“Kau yakin ingin bekerja dengan Ellie?” Yoonmin mendesis.

“Kenapa tidak? Dia handal, aku sendiri sudah melihat skillnya dengan mata kepalaku sendiri.”

“Dia teman SMA-ku. Dari dulu dia memang sudah gila. Maksudku, dia tidak pernah bicara dengan orang lain, selalu menyendiri. Tidak pernah belajar, namun nilai selalu sempurna. Kurasa IQ-nya di atas 170.”

“Lalu?”

“Dia orang yang sangat sulit untuk diajak bekerja sama, aku hanya memberitahumu saja.” Yoonmin mengangkat kedua tangannya di udara.

“Sulit. Aku suka tantangan.” Joon mengangguk.

“Terserah.”

“Chanyeol,” tatapan Joon teralih pada pemuda yang nampak tegang itu, “aku tahu kau bisa melakukannya. Bawa Jeon Ellie kemari.”

Chanyeol menelan ludahnya. “Oke..” kata itu terdengar seperti bisikan.

A/N: blame me for posting the 2nd part already /bang my head to the wall/ can’t resist the urge to :3 anyway, ini masih awal, plotnya belum keliatan. 2 part lagi dan alurnya udah mulai keliatan. sabar menanti wkwk

7 thoughts on “[FF] The Black Ribbon: Hunting #2

  1. vidiaf says:

    Jeon Ellie. Keren. Banget. /cry a river/
    semoga chanyeol bisa bujuk ellie bantu fbi :3
    Aku kira ellie raeki yoonmin saling kenal, taunya cuman ellie sama yoonmin aja… ._.
    Makin penasaraaaan ><
    Ditunggu lanjutannya~

  2. dorky Mint says:

    Aaaaaack sumber ide balapannya dari mana ituuu? Menarik sekalih, bahkan aku yang ga begitu suka jadi kebayang banget >< Sepertinya Jeon Ellie itu kelewat pintar ngatur strategi sampe dibilang gila =_= lanjut part 3!

  3. Normalia Agnes says:

    Tantangan sih yah….. Ayo, sebelum nangkep The Black Ribbon, tangkep dulu Jeon Elie! Lanjuuuuut hahaha onfire nih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s