[FF] The “Eternal Life 2” (Sekuel BF and SF 2)

Mianhae, setelah ini masih continue. kekeke~ jangan bosan ya…

= = =

The “Eternal Life 2” (Sekuel Best Friend and Strange Family 2)

Donghae melirik Sunghee yang masih terdiam. Dia kemudian menatap Chaerin yang sedang asyik menonton video di ponselnya.

“Raeki mana?” tanya Donghae pada Chaerin. Chaerin melepas headsetnya dan menatap Donghae.

“Raeki? Ada jadwal kuliah.”

“Kau tidak akan keluar, kan?” Chaerin mengangguk.

“Jaga adikku baik-baik ya, aku mau menyelesaikan urusan di dunia.”

“Perlu kubantu?”

Continue reading

[FF] A Complete Us

Ruangan ini kosong dan gelap. Sekosong hatiku yang telah kau tinggalkan. Segelap malam yang tak ada bintang. Itu semua karena kau pergi. Kau pergi meninggalkan kamar ini. Kau pergi meninggalkan aku.

Aku duduk di pojok ruangan kosong ini. Tak ada barang, yang ada hanya debu. Sekitar 3 meter ke depan, di samping kiriku, terdapat sebuah pintu yang selalu kau kunci saat malam hari. Karena kau tidak mau aku mengganggu tidurmu. Aku menyesal selalu mengganggumu. Aku tidak bisa berperan sebagai sahabat yang baik. Aku menatap pigura yang sedari tadi kupeluk. Fotoku bersamamu. Di sana kau terlihat sangat bahagia. Meskipun saat itu aku selalu mengganggumu. Aku menyesal. Sekarang kau telah pergi. Kenapa kau pergi di saat aku ingin memperlakukanmu dengan baik? Maafkan aku.

Aku ingat saat-saat kita bersama dulu. Kau yang polos, kuajari dengan hal yang tidak baik. Tawamu yang renyah saat mengerjai sahabat kita yang lain. Ah bukan..bukan sahabat kita, tapi keluarga kita. Kita ini satu keluarga, bukan?

Kau yang selalu bilang akan terus bersamaku. Aku yang bodoh mempercayai janjimu. Tapi dimana kau sekarang? Sampai ruangan ini berdebu pun kau tidak datang. Ini kamarmu, ini rumahmu, pulanglah..

Aku mendengarkan lagu Endless Moment dari i-podku. Endless moment..cocok sekali dengan kisah kita. Memang semua kenangan yang telah kita rajut tidak bisa di rusakkan begitu saja. Akan kuingat selamanya meskipun air mata ini harus turun jika mengingatnya. Tapi tak apa..itu menandakan bahwa kau ada. Kau pernah mengisi hidupku. Kau yang memberi warna pada hidupku.

In this cold world, I lived without anything of special value

I couldn’t help but cry when I walked the dark streets

Kemana kau sekarang..? Apa kau merindukanku seperti aku merindukanmu?

Continue reading

[FF] Mission Possible part 4

The true killer

Aku duduk sendirian di ruangan gelap ini. Hanya ada lampu kecil di sudut ruangan. Di hadapanku terdapat 15 buah foto seluruh badan. Aku mengambil sebuah panah kecil, mengecek ketajamannya, dan melemparkannya pada gambar pertama. Bagus sekali, mengenai leher. Bagian yang kusuka.

“Hah. Tunggu saja aku, Jungsoo. Aku akan memberimu mimpi indah malam ini.” Aku bangkit dari kursi goyangku dan berjalan keluar ruangan.

Aku berdiri di depan pintu kamar Jungsoo. Sekarang pukul 12 tengah malam. Aku sudah memastikan bahwa dia sedang tidur nyenyak. Aku memasukkan kode di pintu itu. Pintu pun terbuka. Jangan salah, aku sudah memasang penyadap di setiap kamar. Termasuk kamera CCTV. Aku tahu apa yang dia lakukan dan kode apa yang dia ketik.

Aku masuk ke dalamnya. Terlihatlah Jungsoo sedang tertidur nyenyak. Aku tersenyum licik. Aku mengeluarkan pisau kecil andalanku dari balik blazer hitam kelamku. Aku memainkan pisau itu sebentar. Aku duduk di pinggiran ranjang, menatap wajah Jungsoo yang tertidur. Aku menyingkirkan beberapa helai rambutnya yang mengganggu. Aku tersenyum lagi. Aku mengontak seseorang yang bersedia membersihkan tempat ini dan membakar jasadnya. Lalu aku menyeringai.

“Jungsoo, selamat tinggal.” Aku menggorok lehernya menggunakan pisau kecilku. Aku tertawa. Jungsoo membuka matanya dan tak lama ia menutupnya lagi karena aku menusuk jantungnya. Dari mulutnya keluar darah segar. Tawaku semakin besar. Aku menusukkan pisauku lagi dan mencabutnya. Lalu menusukkannya lagi. Aku mengambil pisauku yang menancap di dadanya. Dengan santai, aku membersihkan pisau kecilku ke bajunya. Aku memasukkan pisau itu ke dalam blazerku dan pergi meninggalkan kamarnya. Aku kembali ke ruangan gelap itu.

Continue reading

[FF] Mission Possible part 3

The war and the winner

Aku memperhatikan beberapa jet yang membawa SV-413 sudah mulai menyerang. Helikopter pun begitu. Tank baja sudah diposisinya dan bersiap menembak lawan. Tentara sudah maju, markas sudah disembunyikan. Aku membawa sebuah senapan dan dua buah pistol yang kusembunyikan di saku blazer 10 cm di atas lututku ini. Aku terdiam sebentar, menarik nafas, dan mulai berlari menuju perang senapan itu.

Aku menembakkan senapanku pada tentara di depan. Berhasil. Kena semua. Aku memasukkan peluru baru sambil mencari tempat persembunyian. Tak sengaja tubuhku membentur tubuh seseorang. Dengan cepat aku menoleh dan menghela nafas lega karena yang kutabrak adalah Hyukjae. Setidaknya ia tidak akan menempelkan pistolnya di leherku. Mungkin.

“Semur hidup aku tak akan pernah memaafkanmu!” DAR.. Hyukjae menembak salah satu tentara negara asing. Aku mendelik padanya.

“Kau..bisa-bisanya membahas masalah itu di tengah perang begini!” Aku pun menembak beberapa tentara. Bersamaan dengan itu, satu SV-413 telah mengeluarkan 5 pelurunya dalam sekali tembakan. Terdengar suara ledakan yang dasyat. Aku dan Hyukjae cepat-cepat memakai maskerku. Jangan salah, gas beracun itu bisa menyebar hingga 15 km jauhnya. Tak di sangka, negara asing membalasnya dengan melemparkan sebuah bom ke arah kami. Hyukjae langsung menarikku menjauh. Kami selamat, namun beberapa tank baja dan tentara tewas seketika. Sial. Aku langsung menembaki mereka lagi. Aku menembaki helikopter negara asing. Hyukjae membantuku. Akhirnya helikopter itu meledak dan beberapa tentara di bawahnya tewas. Ya ampun, tentara kami juga kena. Yah..resiko.

Continue reading

[FF] Mission Possible part 2

The beginning of the end

“Kemana Henry dan Zhou Mi?” tanyaku pada Elle. Aku melepaskan kaca mataku. Dia mengedikkan bahu.

“Kurasa mereka sedang membuat rencana rahasia untuk menyelamatkan 12 experts lainnya.” Aku terdiam sambil membersihkan lensa kaca mata.

“Perang sudah dimulai?” tanya Elle. Aku mengenakan kaca mataku lagi. Lalu melirik jam tangan.

“Sudah. Sejak 2 menit yang lalu. Hah.. udara di sini pengap sekali kalau disembunyikan di bawah tanah.” Elle mengangguk menyetujui ucapanku.

“Grisel, bolehkah aku ikut perang kali ini?” tanyanya. Aku menatapnya.

“Berapa umurmu?”

“Hei, aku sudah 20 tahun! Kau lupa bahwa aku seumuran denganmu?” Elle mendengus kesal. Aku tersenyum.

“Maaf, maaf. Wajahmu terlihat lebih muda dariku,” ucapku jujur, tak mau memperpanjang. Elle terlihat tersipu. Tapi ini bukan saatnya untuk membahas masalah ini. Aku berjalan sambil mengeluarkan pistolku dan memasukkan peluru ke dalamnya. Aku menoleh pada Elle. Benteng sudah terlihat di depan.

“Serius akan turun sekarang?” tanyaku. Elle mengeluarkan pistolnya dan memasukkan peluru ke dalamnya. Sekali hentakan, pistolnya sudah siap. Dia tersenyum.

“Tentu saja. Ayo.”

Continue reading