[FF] Mission Possible part 4

The true killer

Aku duduk sendirian di ruangan gelap ini. Hanya ada lampu kecil di sudut ruangan. Di hadapanku terdapat 15 buah foto seluruh badan. Aku mengambil sebuah panah kecil, mengecek ketajamannya, dan melemparkannya pada gambar pertama. Bagus sekali, mengenai leher. Bagian yang kusuka.

“Hah. Tunggu saja aku, Jungsoo. Aku akan memberimu mimpi indah malam ini.” Aku bangkit dari kursi goyangku dan berjalan keluar ruangan.

Aku berdiri di depan pintu kamar Jungsoo. Sekarang pukul 12 tengah malam. Aku sudah memastikan bahwa dia sedang tidur nyenyak. Aku memasukkan kode di pintu itu. Pintu pun terbuka. Jangan salah, aku sudah memasang penyadap di setiap kamar. Termasuk kamera CCTV. Aku tahu apa yang dia lakukan dan kode apa yang dia ketik.

Aku masuk ke dalamnya. Terlihatlah Jungsoo sedang tertidur nyenyak. Aku tersenyum licik. Aku mengeluarkan pisau kecil andalanku dari balik blazer hitam kelamku. Aku memainkan pisau itu sebentar. Aku duduk di pinggiran ranjang, menatap wajah Jungsoo yang tertidur. Aku menyingkirkan beberapa helai rambutnya yang mengganggu. Aku tersenyum lagi. Aku mengontak seseorang yang bersedia membersihkan tempat ini dan membakar jasadnya. Lalu aku menyeringai.

“Jungsoo, selamat tinggal.” Aku menggorok lehernya menggunakan pisau kecilku. Aku tertawa. Jungsoo membuka matanya dan tak lama ia menutupnya lagi karena aku menusuk jantungnya. Dari mulutnya keluar darah segar. Tawaku semakin besar. Aku menusukkan pisauku lagi dan mencabutnya. Lalu menusukkannya lagi. Aku mengambil pisauku yang menancap di dadanya. Dengan santai, aku membersihkan pisau kecilku ke bajunya. Aku memasukkan pisau itu ke dalam blazerku dan pergi meninggalkan kamarnya. Aku kembali ke ruangan gelap itu.

Continue reading

[FF] Mission Possible part 3

The war and the winner

Aku memperhatikan beberapa jet yang membawa SV-413 sudah mulai menyerang. Helikopter pun begitu. Tank baja sudah diposisinya dan bersiap menembak lawan. Tentara sudah maju, markas sudah disembunyikan. Aku membawa sebuah senapan dan dua buah pistol yang kusembunyikan di saku blazer 10 cm di atas lututku ini. Aku terdiam sebentar, menarik nafas, dan mulai berlari menuju perang senapan itu.

Aku menembakkan senapanku pada tentara di depan. Berhasil. Kena semua. Aku memasukkan peluru baru sambil mencari tempat persembunyian. Tak sengaja tubuhku membentur tubuh seseorang. Dengan cepat aku menoleh dan menghela nafas lega karena yang kutabrak adalah Hyukjae. Setidaknya ia tidak akan menempelkan pistolnya di leherku. Mungkin.

“Semur hidup aku tak akan pernah memaafkanmu!” DAR.. Hyukjae menembak salah satu tentara negara asing. Aku mendelik padanya.

“Kau..bisa-bisanya membahas masalah itu di tengah perang begini!” Aku pun menembak beberapa tentara. Bersamaan dengan itu, satu SV-413 telah mengeluarkan 5 pelurunya dalam sekali tembakan. Terdengar suara ledakan yang dasyat. Aku dan Hyukjae cepat-cepat memakai maskerku. Jangan salah, gas beracun itu bisa menyebar hingga 15 km jauhnya. Tak di sangka, negara asing membalasnya dengan melemparkan sebuah bom ke arah kami. Hyukjae langsung menarikku menjauh. Kami selamat, namun beberapa tank baja dan tentara tewas seketika. Sial. Aku langsung menembaki mereka lagi. Aku menembaki helikopter negara asing. Hyukjae membantuku. Akhirnya helikopter itu meledak dan beberapa tentara di bawahnya tewas. Ya ampun, tentara kami juga kena. Yah..resiko.

Continue reading

[FF] Mei Lin

Namaku Mei. Aku punya saudara kembar bernama Lin. Tapi keadaan kembaranku tidak seperti aku. Kedua matanya buta sejak lahir. Kedua kakinya lumpuh. Tubuhnya sangat lemah. Sedikit-sedikit dia harus beristirahat jika tidak mau menginap di RS. Selama ini aku yang merawatnya. Selama ini aku yang menjaganya. Selama ini aku yang menghiburnya. Dan selama ini pula aku yang menceritakan keadaan dunia luar padanya. Orang tua kami juga menjaganya dengan sepenuh hati. Kami bergantian bercerita tentang jadwal sehari-hari dan dunia luar. Meski banyak kekurangan, Lin tidak pernah mengeluh. Dia selalu ceria. Dia tidak mau membuat orang lain sedih hanya karena dia. Kami sangat sayang padanya. Jika dia harus didonorkan darah, maka aku senantiasa mendonorkan darahku padanya. Kami seperti satu. Darahku darahnya juga. Mataku matanya juga. Kakiku kakinya juga. Tubuhku tubuhnya juga. Aku selalu memberikan segalanya untuknya.

Suatu hari aku dan Lin sedang duduk berdua di kamar. Aku baru saja selesai menceritakan kehidupanku di sekolah tadi.

“Mei…” Lin berbisik di dekatku. Kepalanya bersandar ke pundakku.

“Ya, Lin?” Tatapanku lurus. Aku menggigit bibir bawahku. Rasanya aku ingin menangis. Aku…hampir sering menangis jika berada di dekatnya. Meski dia tidak bisa melihatku menangis, tapi dia mendengar aku menangis. Indranya yang lain menjadi lebih tajam dibanding manusia normal lainnya. Pendengarannya sangat tajam. Dia meraba dimana aku dan dia mengusap air mataku lembut. Dia selalu bilang, “Tidak apa-apa. Aku tidak akan meninggalkanmu.” Aku langsung tersenyum. Andai dia tahu, bahwa umurnya hanya sampai usia 17. Dan sekarang kami berumur 16. itu yang membuatku menangis terus.

Continue reading

[FF] Mission Possible part 2

The beginning of the end

“Kemana Henry dan Zhou Mi?” tanyaku pada Elle. Aku melepaskan kaca mataku. Dia mengedikkan bahu.

“Kurasa mereka sedang membuat rencana rahasia untuk menyelamatkan 12 experts lainnya.” Aku terdiam sambil membersihkan lensa kaca mata.

“Perang sudah dimulai?” tanya Elle. Aku mengenakan kaca mataku lagi. Lalu melirik jam tangan.

“Sudah. Sejak 2 menit yang lalu. Hah.. udara di sini pengap sekali kalau disembunyikan di bawah tanah.” Elle mengangguk menyetujui ucapanku.

“Grisel, bolehkah aku ikut perang kali ini?” tanyanya. Aku menatapnya.

“Berapa umurmu?”

“Hei, aku sudah 20 tahun! Kau lupa bahwa aku seumuran denganmu?” Elle mendengus kesal. Aku tersenyum.

“Maaf, maaf. Wajahmu terlihat lebih muda dariku,” ucapku jujur, tak mau memperpanjang. Elle terlihat tersipu. Tapi ini bukan saatnya untuk membahas masalah ini. Aku berjalan sambil mengeluarkan pistolku dan memasukkan peluru ke dalamnya. Aku menoleh pada Elle. Benteng sudah terlihat di depan.

“Serius akan turun sekarang?” tanyaku. Elle mengeluarkan pistolnya dan memasukkan peluru ke dalamnya. Sekali hentakan, pistolnya sudah siap. Dia tersenyum.

“Tentu saja. Ayo.”

Continue reading