[FF] The Black Ribbon: The News #1

“WONJUN – Ketentraman sepertinya belum bisa didapatkan oleh Korea Selatan sepenuhnya. Korban pembunuh berantai The Black Ribbon terus berjatuhan. Selasa (12/05) seorang anak laki-laki berusia 10 tahun ditemukan tewas di sebuah gudang kayu yang sudah lama terbengkalai. Anak laki-laki itu diduga telah disekap selama dua minggu lebih tanpa makanan dan minuman. Tubuhnya dipenuhi oleh memar dan luka sayatan. Di tangan kirinya terikat sebuah pita hitam yang menandakan bahwa dia adalah korban The Black Ribbon yang ke-9 selama 2 bulan belakangan ini.

Teror terus menghantui Korea Selatan. Aparat keamanan dan bahkan FBI belum mampu mengungkap misteri ini. Warga pun mulai resah. Demo mulai terjadi dimana-mana meminta aparat segera menangkap pembunuh berdarah dingin tersebut, dan tidak memakan lebih banyak korban lagi.

“The Black Ribbon benar-benar mengerikan. Dalam dua bulan dia berhasil memakan korban sebanyak 9 jiwa. Itu berarti sekitar 1 jiwa tiap minggunya. Semuanya adalah anak usia 18 tahun kebawah. Tim masih mencari ke seluruh negeri, bahkan keluar negeri untuk mencari kemungkinan korban-korban lain yang belum terungkap. Dia bergerak dengan sangat cepat, jejaknya tidak pernah ditemukan,” tutur Lee Joon, FBI’s Assistant Director.

Rakyat Korea Selatan nyaris sudah tidak percaya dengan FBI. Sudah dua bulan kasus ini terungkap di media massa, namun tak satupun korban berhasil diselamatkan.”

Lee Joon melemparkan koran yang baru saja dibacanya ke lantai. Dia mengusap wajahnya dengan frustrasi. Rambutnya yang sudah disisir rapi diacaknya dengan paksa. FBI telah bekerja keras untuk menangkap The Black Ribbon, namun belut itu seperti berada di dalam kubangan minyak. Terlalu licin, begitu dia sudah nyaris menangkapnya, belut itu menggeliat dan lolos dengan mulus.

Dia menelungkup di atas meja kerjanya dan menghela napas berat.

Yoon Dujun, seorang detektif yang sekaligus mencakup sahabat Joon sedang duduk di sebuah sofa panjang di seberang Joon. Di meja di hadapannya terpampang sebuah peta yang di atasnya terdapat foto-foto korban The Black Ribbon.

“Korban ke-8 dibunuh di Mokpo, kali ini Wonjun,” ucap Dujun sambil meneliti pola yang dibentuk oleh gambar-gambar tersebut. Abstrak, tidak berhubungan satu sama lain.

“Mau bagaimanapun aku menghubungkan lokasi-lokasi pembunuhan ini, tidak ada yang dapat kusimpulkan. Polanya abstrak dan…” Dujun menggeser sebuah foto pembunuhan di Daegu. Kemudian ia menghela napas. “Kalau saja aku bisa menerka gambar apa yang tertera di sini, mungkin segalanya akan menjadi lebih mudah.”

Joon tiba-tiba berdiri dan menyambar jasnya yang tersampir di kursi. Dengan lekas ia mengenakannya dan berjalan cepat keluar kantornya. Dujun mengikuti di belakangnya dengan kebingungan.

Joon berjalan lurus ke tengah ruangan besar tempat anak buahnya bekerja di depan komputer masing-masing. Ia menggebrak meja anak buahnya yang terdekat dan membuat semuanya membeku dan menatap ke arah Joon dengan tatapan ngeri.

“Dua bulan, sembilan korban. Apa yang sebenarnya kalian kerjakan, hah?! Presiden bahkan memerintahkanku untuk segera menangkap pembunuhnya. Kerja kita lamban! Sembilan nyawa telah melayang! Kita harus buktikan pada dunia, pada rakyat Korea Selatan, bahwa kita bisa menjaga keamanan negara dengan baik. Kalian mengerti?!”

“Mengerti, Pak!” koor anak buahnya. Joon mengangguk dan berjalan keluar ruangan, terus menuju sebuah laboratorium IT tempat Choi Chaerin berada. Dia adalah agen favoritnya karena kerjanya selalu cepat.

“Menemukan sesuatu?” Joon menghampiri Chaerin yang sedang menggerak-gerakan tangannya yang terbungkus sarung tangan di udara, seperti sedang menyentuh layar touchscreen. Mata cokelat indahnya ditutupi oleh sepasang kacamata hitam. Namun, tentu ini bukan kacamata hitam biasa. Ini properti FBI yang digunakan untuk menganalisis bukti, jejak, dan bahkan sehelai rambut sekalipun.

Chaerin menggerakkan tangan kanannya ke bawah, seperti sedang menyeret sesuatu. “Kami menganalisa bahan pita yang digunakan oleh The Black Ribbon. Dia menggunakan bahan sutra.”

“Lalu? Apakah bahan sutra ini bisa menunjukkan pada kita siapa pembunuhnya?”

Chaerin mengangguk, masih tidak lepas dari kacamatanya. “Ada sidik jari di pita itu dan merujuk pada toko yang menjual kain tersebut. Kita bisa mencari tahu siapa saja yang membeli kain sutra di toko itu.”

“Coba kau cari dimana,” titah Joon. Chaerin menggeserkan tangannya lagi pada layar yang tak kasat mata.

“Toko Ribuscus, di Eunsan-ri.” Chaerin membuat gerakan seperti sedang menekan tombol dengan jarinya. “Oh tidak..”

“Kenapa?” Joon menumpukan berat badannya ke kaki kanannya dan melipat tangan di depan dada.

“Tokonya habis dilalap si jago merah.” Chaerin menggelengkan kepala. “Semua habis. Tidak ada barang bukti tersisa.”

“Sialan.” Joon mengepalkan tangannya. Chaerin melepaskan kacamata dan sarung tangannya lalu memutar kursinya menghadap Joon.

“Dia sengaja menghilangkan jejak,” bisik Chaerin.

“Kita menghabiskan waktu kita jika kita terus-terusan seperti ini.” Dujun melangkah memasuki ruangan, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. “The Black Ribbon terus melangkah maju, sedangkan kita terus berputar di tempat yang sama. Dia berhasil mengecoh kita. Dia sangat pintar.”

“Kalau begitu kita harus lebih pintar dari mereka.” Joon mengusap dagunya. “Kita butuh penjahat untuk membantu kita.”

“Apa?” Dujun dan Chaerin kompak menatap Joon dengan tatapan tidak percaya.

“Penjahat kelas kakap, penjahat yang sulit ditangkap, penjahat yang cerdas, penjahat yang sudah tahu semua taktik-taktik penjahat.” Joon mengangguk-angguk seakan bangga dengan idenya. “Teman seperjuangan mengerti satu sama lain lebih baik dibanding teman biasa.”

“Ahh…” Chaerin mengangguk. “Aku mengerti maksudmu.”

“Lalu siapa yang akan kita…” Dujun mencari kata yang tepat. “panggil untuk meminta bantuan?” Dia mengangkat sebelah alisnya.

Joon tersenyum tipis. “Tiga orang ini begitu licin bagai belut. Dua sudah berhasil kita tangkap, satu lagi masih berkeliaran bebas. Kalian tahu siapa mereka?”

Dujun dan Chaerin kompak menggeleng.

“Kang Raeki, Kim Yoonmin, Jeon Ellie.” Mendengar ketiga nama tersebut, mulut Dujun dan Chaerin ternganga lebar.

“T-tidak mungkin meminta bantuan pada mereka! Mereka orang gila!” Chaerin nyaris berteriak.

“Terutama Jeon Ellie itu..dia pernah dimasukkan ke rumah sakit jiwa, bukan?” Dujun berbisik nyaris tak bersuara.

“Ya, The Black Ribbon sendiri adalah orang gila. Kita butuh orang yang lebih gila untuk mengalahkannya.”

“Kau gila..” Dujun menggelengkan kepalanya. Chaerin menghela napas dan memutar kursinya dengan perlahan.

“Ayo, kita tak punya banyak waktu.” Joon berjalan ke arah pintu dan menggenggam pegangannya. “Dujun, kau ikut?”

Dujun memutar bola matanya dan mengangkat bahu. “Jangan bertanya seperti itu, kedengarannya seperti aku punya pilihan.”

Joon tersenyum lebar dan menepuk punggung sahabatnya. Mereka berjalan keluar gedung FBI. Ini akan menjadi perjalanan yang melelahkan.

 

A/N: Banyak banget yang nagih Stepbrother part 6 tapi berhubung idenya mentok dan malah ada ide baru, jadi selingan dulu deh ya😀 cerita ini sudah selesai dirangkai, saya sendiri sudah nulis sampe part 3. gimana tanggapannya nih? dilanjut jangan?

Ide-nya sendiri ga jauh beda dengan stepbrother, angst, family, dan penuh misteri. Saya di sini mau mengajak para pembaca tercinta untuk menebak siapakah The Black Ribbon.

10 thoughts on “[FF] The Black Ribbon: The News #1

  1. vidiaf says:

    YEAY GENRENYA ANGST & THRILLER😄
    Ini part satunya atau masih prolog? .-.
    Lanjutkan!!!!! >o< selain sayang udah bikin sampai 3 part, jarang2 ada ff genre begini~ :3
    Ditunggu lanjutannya sunbaenim~

  2. aminocte says:

    Nisaaa..akhirnyaah, kangen sama ff-ffmu. Apalagi yang angst dan thriller, udah lama nggak konsumsi ff dengan dua genre itu *macam obat aja*
    Personil V-rase eksis lagi euy..*keplok-keplok* seru nih, menangkap penjahat dengan penjahat.
    Meluncur ke part selanjutnya dulu ah…

  3. Pudinggo says:

    Wohooo~~ Really exciting bro. Can’t wait to read the next chapter! Aigoo….. kapan nih mau bikin novel? ceritanya makin keren aja kkkkk

  4. hyohae says:

    acieeee comeback nih ;;) haa! udh lama nih nungguin genre action dan akhirnya kamu buat juga haha=))) tapi td baca ada beberapa kalimat rancu hehe
    semangaaaat buat lanjutinnya lagi saeng!

  5. dorky Mint says:

    Aku maklumin kalo idenya mandek, toh kamu tetep bisa nulis yang lain😀 Eksplorasi idenya lancar nih, jadi ngiri (karena aku dapet banyak ide tapi susah nulisnya) >.> apalagi kamu udah kelas 12 tapi masih aktif nulis. keren banget

    seru seru! lanjut ke part 2~

  6. Normalia Agnes says:

    Yeaaah~ ini keren. Masih bener-bener buta untuk tau siapa si Black Ribbon ini, dan apa motifnya. Lanjut aja lanjut aja!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s