[FF] Stepbrother part 5

PART 5

-Kidnapped-

Jung Daehyun menatap tubuh kekasihnya yang terbaring tak sadarkan diri di ranjangnya. Ia merapikan rambut depan Naeun yang menutupi matanya. Daehyun mengusap pipinya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tatapan mesra ia layangkan pada tubuh lemah itu.

“Aku tak ingin kamu terlibat dalam masalah ini. Sebaiknya kamu tidur. Saat kamu terbangun, semua masalah ini sudah selesai dan kita akan bersama selamanya. Bahagia berdua saja.” Daehyun tersenyum dan mengecup kening Naeun.

Daehyun melangkah mundur untuk melihat sosok Naeun yang tertidur dari jauh. Namun, sebuah benda logam dingin menyentuh lehernya. Daehyun terpaku. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu benda apa itu dan dia tidak mau menyebutkannya.

“Jangan bergerak atau kau mati,” kata seorang pria di belakangnya. Suara pelatuk pistol yang ditarik terdengar, membuat bulu kuduk Daehyun berdiri. Dia benci pistol. Sangat sangat benci.

“Sekarang ikuti kami!” Dua pria lain memegangi tubuh Daehyun dan memborgol tangannya. Daehyun terkesiap.

“Tidak! Apa salahku?!” serunya.

“Culik Naeun. Binasakan,” kata pria itu lagi. Satu pria lain yang berbadan lebih besar melangkah mendekati tubuh Naeun dan menggendongnya. Dia menyeringai pada Daehyun.

“Tidak, jangan Naeun-ku! Dia tidak salah apa-apa! Aku rela dibunuh asalkan Naeun selamat!” Daehyun memberontak. Ia terus meronta, berusaha melepaskan diri dari pegangan dua bodyguard yang jauh lebih kuat darinya.

“Kau memang anak yang lemah…benar-benar tidak pantas jadi adik Master Yunho.” Pria yang menggendong Naeun itu pun melangkah keluar kamar.

“SINGKIRKAN TANGAN BRENGSEKMU DARI GADISKU!” teriaknya.

“DIAM!” DOR…suara tembakan terdengar tepat di samping telinga Daehyun. Lelaki itu membelalak, matanya seperti mau keluar. Keringat dingin membanjiri tubuhnya yang gemetar hebat. Deru napasnya tak beraturan. Kakinya lemas, tak bisa menahan beban tubuhnya. Kalau tidak dipegangi oleh dua bodyguard itu, Daehyun pasti sudah terduduk di lantai.

“ARRGHHHH!!!” Daehyun teriak frustrasi. Dia benci pistol. Dia takut pistol. Tapi, dia lebih takut kehilangan Naeun. Dia takut kehilangan orang yang dicintainya lagi.

Seketika otaknya memutar film masa lalu di dalam pikirannya. Kejadian 13 tahun yang lalu.

= =

Daehyun yang saat itu baru berumur 5 tahun melangkah dengan riang menuju rumahnya. Hari ini, gurunya memuji gambarannya. Gurunya bilang, Daehyun punya bakat menggambar. Daehyun juga senang bersenandung saat menggambar. Beliau bilang, Daehyun memiliki suara yang sangat bagus.

Daehyun kecil ingin memberitahu ibunya tentang ini. Ia sangat menyayangi ibunya lebih dari rasa sayangnya pada ayahnya. Ayahnya jarang ada di rumah, makanya dia tidak terlalu kenal dengan ayahnya sendiri. Nama asli ayahnya pun ia tak tahu. Hanya dengan ibunya Daehyun bisa bermain dan bermanja-manja tanpa perlu diejek anak mami.

Daehyun membuka pintu rumahnya dan berteriak, “Aku pulang! Eomma, aku punya kabar bagus! Guruku bilang…”

DOR. Suara tembakan terdengar.

Daehyun terpaku menatap pemandangan mengenaskan di hadapannya. Ibunya merintih kesakitan sambil memegangi dadanya yang mengeluarkan banyak darah. Di seberangnya, ayahnya sedang berdiri tegap, di tangannya ada pistol yang masih mengarah pada ibunya.

Daehyun terdiam. Pistol itu telah merenggut senyumnya. Benda itu telah mengambil nyawa ibunya.

Sejak saat itu, Daehyun yang ceria sudah mati, bersamaan dengan kematian ibunya.

= =

“Kenapa kau diam saja? Cepat!”

Daehyun tidak bisa mendengar apa-apa. Dia terpaku di tempatnya.

“Dasar menyusahkan saja.” Dua orang itu menuntun Daehyun keluar dari ruangan.

Ah, tidak. Mereka menyeretnya. Kedua bodyguard itu tampak seperti sedang menyeret sebuah patung. Karena Daehyun hanya diam, matanya menatap kosong. Tubuhnya seperti tanpa nyawa.

= = =

Hingar bingar suara musik memenuhi ruangan penthouse milik G-Dragon malam itu. Semua pria dan wanita dari kalangan jetsetter berkumpul di sana, berpesta dengan meriah seakan inilah kesempatan terakhir mereka untuk berpesta. Jung Yunho ada di antara ratusan orang yang asyik berpesta. Lelaki itu ada di tengah-tengah lantai dansa, asyik menari bersama banyak wanita seksi.

G-Dragon duduk di sofa mewah yang terletak di balkon. Ia bisa melihat semuanya dengan jelas dari situ. Dia meneguk wine-nya perlahan sambil matanya terus mengawasi sosok Jung Yunho.

“Efek lama di penjara, dia jadi lebih ganas..” gumam Jessica, wanita cantik yang sedari tadi menyenderkan kepalanya di pundak GD sambil memutar-mutar kancing kemejanya. GD tersenyum.

“Kau benar. Lihat…dia tampak seperti harimau yang sudah lama dikurung di kandang, begitu dibebaskan, dia haus akan mangsa.” GD meneguk wine-nya lagi. Begitu gelasnya kosong, Jessica segera mengisinya kembali.

“Untukmu,” GD menyodorkan gelas berisi wine di tangannya. Jessica menatapnya bingung, tapi dia menerimanya juga. Pria itu mengambil sebatang rokok dan mengapitnya dengan bibirnya. Jessica mengerti, ia segera menyalakan rokok GD dengan zippo yang sedari tadi tergeletak begitu saja di sofa. GD menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asap dari mulutnya. Tangan kirinya memegang rokok sedangkan tangan kanannya sibuk menggelitik tengkuk Jessica.

Tak lama kemudian, Yunho menaiki tangga dengan susah payah. Ia tertawa-tawa dan berjalan sempoyongan ke arah GD. Setelah berada di hadapan lelaki yang mengundangnya ke pesta tersebut, dia bertepuk tangan dan berseru gembira.

“Wohooo aku sudah tidak lama berpesta seperti ini….kawan, kau hebat! Aku akan datang ke sini sering-sering…hahahaha…kau memang kawanku yang memang terbaik!” Yunho mengacungkan jempol. Susunan perkataannya sudah berantakan akibat mabuk berat. GD hanya mengangguk-angguk sambil menghisap rokoknya yang tinggal sisa setengah batang.

“Kau mau mencicipinya?” GD mengedikkan kepalanya ke arah Jessica. Yunho menyeringai.

“Ehey…tentu saja, kawan! Aku sudah lama tidak melakukannya! Dia gadis terbaik yang kau punya?”

“Tentu.” GD tersenyum setengah. Ia lalu membisikkan sesuatu ke telinga Jessica sebelum menepuk pundak gadis itu, menyuruhnya melayani Yunho. Jessica menurut.

Ketika Yunho dan Jessica sudah menghilang dari pandangan, GD mendengus.

“Pesta, huh? Kawan, kau baru saja masuk ke lubang buaya.” GD menghembuskan asap terakhir rokoknya dan mematikan rokoknya di asbak. Dia beranjak berdiri dan melangkah ke ruangan CCTV. Dia akan mengawasi kegiatan Yunho dan Jessica malam ini.

“Kita lihat apakah Jessica melakukan pekerjaannya dengan baik…” GD tersenyum sinis.

= = =

Yongguk menatap jam dinding rumahnya dengan gelisah. Sudah jam 12 malam namun adik tercintanya belum juga pulang. Ponselnya pun sepi, tidak ada telepon atau SMS dari Naeun. Dia berusaha menelepon Daehyun, namun hasilnya sama. Daehyun tidak menjawab, semua panggilannya masuk ke pesan suara.

“Sialan. Dimana kalian?” Yongguk membanting ponselnya dengan kesal.

“Mungkin mereka sedang menonton film tengah malam di bioskop, seperti pasangan lain.” Himchan meletakkan secangkir kopi di meja. Dia duduk di sofa single sebelah Yongguk dan meniupi kopi panasnya.

“Setidaknya beri kabar. Mereka sama sekali tidak menjawab teleponku.”

“Ah…mungkin mereka sedang..ehm..kau tahu..” Himchan berdeham. Yongguk mendengus kesal.

“Memangnya kau dan Hyeri? Tidak mungkin mereka masih terlalu kecil..”

“Ckck..sudahlah, Yong. Mereka baik-baik saja. Kau sendiri yang menitipkan Naeun pada Daehyun, kan? Mereka pasti sedang menonton film, atau berjalan-jalan di pinggir sungai Han sambil bergandengan tangan…”

“Semoga saja begitu…” Yongguk menghela napas.

“Yong.”

“Hm?”

“Kau masih mau balas dendam pada Jung Daeryong?”

Yongguk menghela napas sebelum menjawab, “Sebenarnya aku tidak perlu membunuh dia.”

Himchan mengangkat alis. “Lalu? Kau tetap di bangster hanya untuk membunuh Jung Daeryong, kan? Setelah misimu tercapai, kau akan keluar dari bangster…ya kan?”

“Hm.” Yongguk menyandarkan punggungnya ke sofa. “Bangster terlalu berbahaya. Aku takut Naeun terseret ke dalamnya. Lebih baik aku mencari pekerjaan yang lebih baik, yang tidak akan membahayakan Naeun.”

“Naeun, Naeun, dan Naeun. Semua saja Naeun. Seakan kau hidup untuknya.”

“Ya, memang aku hidup untuknya. Kalau bukan aku, siapa lagi yang merawatnya? Dia sebatang kara, keluarganya terpencar jauh. Dia masih kelas 2 SMA..”

“Kau jatuh cinta padanya?” tanya Himchan memotong perkataan Yongguk.

“Hah?” Yongguk mengerutkan kening. “Aku mencintainya sebagai adik, Chan. Kalau itu yang kau maksud..”

“Bukan, maksudku..ya..seperti kau dan Jieun dulu.”

“Hah..” Yongguk mendengus. “Tentu saja tidak. Dasar bodoh.”

“Kau rela melakukan apa saja untuknya.” Himchan mengangkat bahu.

“Hm. Mati pun aku rela, asal dia bahagia.”

You love her.

I do.” Yongguk beranjak berdiri, meninggalkan Himchan yang tersenyum-senyum menatap sahabatnya itu.

“Oh..ya..Nana belum memberi kabar lagi. Aneh.”

“Nana..?” Yongguk menoleh.

“Tunggu…aku merasa..hyungnim dan yang lain seakan menjaga jarak dengan kita.”

“Apa maksudmu?” Yongguk menghentikan langkahnya dan menatap Himchan heran.

“Mereka seperti membuat pergerakan sendiri. Dan kita di sini hanya melacak keberadaan Jung Daeryong dan Yunho. Kau tidak merasakannya?”

“Feeling-mu terlalu kuat, Chan.”

“Aku tahu kau tahu sesuatu, Yongguk.” Himchan berdiri dan melangkah ke arah Yongguk. Kini mereka berdiri berhadapan. Himchan menatap Yongguk tajam.

“Beritahu aku semua yang kau tahu tentang J Company.”

“Kenapa memangnya?” Yongguk mundur selangkah.

“Kenapa kau menyimpan rahasianya sendirian? Kau mencurigakan.”

“Kau akan tahu suatu hari nanti.”

“Terserah. Aku akan pergi ke markas sekarang. Bye bye!” Himchan melambai tepat di depan wajah Yongguk dan beranjak pergi. Yongguk tertegun.

“Dasar aneh.”

Hening. Yongguk melangkah ke kamarnya. Ia berlutut dan meraih sesuatu dari kolong tempat tidurnya. Ia menarik sebuah album foto. Yongguk membersihkan permukaan album tersebut dari debu dan membaca tulisan yang tertera di atasnya.

Jung Daehyun’s Album

“Semua yang kutahu tentang J Company… ada di sini.” Yongguk membuka album itu, halaman demi halaman. Daehyun anak yang pintar, Yongguk tahu itu. Di album ini, semua tentang J Company ia gambar dengan baik. Bahkan ia menambahkan catatan-catatan kecil mengenai karyawan di sana, ruangan-ruangan di sana, produk yang dihasilkan, grafik penjualan, dsb.

Daehyun adalah anak dengan IQ di atas rata-rata. Dia membuat semua gambar dan catatan itu semua saat dia berumur 8 tahun. Tidak heran dia menjadi murid yang menonjol di sekolahnya. Dia nyaris mendapatkan nilai sempurna di tiap mata pelajaran.

Yongguk menelan ludah. Daehyun adalah satu-satunya gerbang menuju J Company. Anak itu selalu mengabari Yongguk mengenai J Company. Semua yang dilihatnya, semua yang didengarnya, semua yang dirasakannya. Ia beri tahukan pada Yongguk, seakan-akan Yongguk adalah buku diary-nya.

Drrt…drrt… Ponsel Yongguk bergetar di atas meja. Yongguk beranjak berdiri dan meraihnya.

“Halo?”

“Yongguk-ah..Nana sudah tiada.”

“Apa?” Yongguk menahan napas mendengar kabar tak terduga dari bibir Bang Yongshik.

“Bodyguard Daeryong menyerangnya waktu itu..saat dia sedang mengabariku tentang seseorang yang menyadari sesuatu. Kami sedang mengecek ulang chip yang kami tanamkan pada Daeryong, hasilnya nihil. Daeryong mungkin melakukan operasi, chipnya diambil dan dirusakkan.”

“Jadi..Daeryong tidak terlacak?”

“Ya. Tapi kami masih bisa melacak keberadaan Jung Yunho. Dia ada di penthouse G-Dragon malam ini. Jessica sedang menginvestigasinya diam-diam.”

“Arasseo..”

“Oh ya, rumah Jung family dibobol kemarin sore. Si bungsu dan seorang gadis tidak ditemukan keberadaannya.”

“Si bungsu? Maksudmu Jung Daehyun?”

“Ya. Dan adik tirimu, Son Naeun.”

“Mereka..hilang?”

“Kami sedang mencarinya.”

Tuut..tuuut…hubungan telepon dihentikan oleh Yongshik. Yongguk tertegun lama. Ia terduduk lemas di ranjangnya. Otaknya terus bekerja, memikirkan ujung dari permasalahan ini.

= = =

Pagi itu, awan mendung tampak menutupi matahari yang ingin menyinari kota Seoul. Suasana gelap dan mencekam. Burung pun enggan bernyanyi. Bahkan angin hanya berbisik lembut, membelai dedaunan yang bertengger manis di ranting pohon dengan perlahan, seakan takut membuat dedaunan itu terlepas dari rantingnya.

Suasana yang jauh lebih mencekam bisa ditemukan di pemakaman umum. Banyak orang berdiri di sana, memakai pakaian serba hitam, menunduk sedih melihat proses memasukkan peti mati ke dalam tanah. Satu nyawa telah terenggut. Bukan berarti itu nyawa terakhir. Yongguk yakin, pasti akan jatuh korban lagi.

“Hh..” Yongguk menghela napas. Ia menatap ke langit, lalu terdiam lama. Beberapa burung gereja beterbangan ke arah Selatan. Angin berhembus semakin kencang. Dedaunan terlepas dari rantingnya. Tuxedo hitam Yongguk yang tidak dikancingkan pun berkibar terkena hempasan angin. Yongguk mundur selangkah, seakan badannya ikut tertiup angin juga.

Suara langkah kaki samar terdengar, menerobos masuk ke dalam telinga Yongguk. Pria itu berbalik, melihat siapa yang datang. Tatapannya berubah. Lidahnya tercekat.

“Hai…Yongguk. Senang bertemu denganmu..di tempat ini..” Jieun menatap Yongguk sedih.

“Ya..” Hanya itu yang bisa Yongguk katakan.

Jieun tersenyum miris. “Apa aku masih diterima di sana?” Tatapannya melayang pada bangsters yang sedang mengelilingi makam Nana.

Sebagai jawaban, Yongguk menggenggam tangan Jieun dan menariknya mendekati para bangsters. Ketika mereka sampai, bangsters langsung menyingkir. Seakan merasa jijik dengan kehadiran Jieun di sana.

“Rest in peace, Im Jinah..” Jieun meletakkan bunga edelweiss di atas makam. “Kau telah banyak berjasa pada bangsters.”

Satu persatu, mereka semua bubar. Tinggal Yongguk dan Jieun yang masih terdiam di sana. Tanpa sepatah kata pun.

“Nana gadis yang baik…dia sahabatku. Kenapa dia harus pergi..kenapa…” Jieun terisak. “Dia orang yang mau bicara denganku..setelah kejadian itu…hanya kau dan dia yang berharga untukku, Yongguk. Kenapa Tuhan harus mengambilnya secepat ini?”

Yongguk memasukkan tangannya ke saku celana. Ia menggeleng pelan.

“Tuhan itu adil. Yang memang pantas pergi, pergilah.”

“Tapi…Tuhan memberikan banyak cobaan untukmu, Yongguk. Kau orang baik..kenapa harus menderita? Kau pantas bahagia..kau seharusnya bersenang-senang seperti orang lain..”

“Aku terlalu spesial sampai-sampai Tuhan tidak rela aku bahagia seperti orang lain. Aku berbeda dengan caraku sendiri sampai-sampai Tuhan tidak ingin menyamakan aku dengan orang lain. Aku bukan orang lain, Jieun. Aku adalah aku. Ini takdirku dan aku akan menjalaninya semampuku.”

Jieun menangis tersedu-sedu mendengarnya. “Kenapa kau kuat…kenapa ada orang..sekuat kau..”

“Aku kuat karena ada kalian.” Yongguk mendengus. “Satu per satu kalian pergi, aku semakin lemah.”

Jieun tidak menjawab. Tapi tangisannya mulai reda.

“Jangan tinggalkan aku,” kata Yongguk lagi. Jieun menggeleng.

“Mianhae…Mianhae, Yongguk-ah…mianhae…”

Yongguk mengangguk pelan. “Arasseo.” Dia lalu menjulurkan tangannya pada Jieun. Gadis itu meraihnya. Yongguk menariknya berdiri. Mereka berdiri berhadapan, saling menatap dalam.

“Kau benar-benar tidak ingin melihatku lagi? Kau benar-benar tega akan meninggalkanku selamanya?”

Jieun menggigit bibir bawahnya. Ia mengumpulkan keberanian dulu sebelum menjawab, “Ya. Aku harus pergi. Mulai hari ini, aku akan pergi jauh. Aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi. Anggap saja kita tidak pernah kenal sebelumnya.”

“Kalau begitu…boleh aku minta permintaan terakhir?” tanya Yongguk dengan suara seraknya. Matanya berkaca-kaca.

“Tentu…apa itu?” Yongguk menyentuh kedua pundak Jieun dan menyentuh bibirnya lembut. Jieun membalas ciumannya. Ia terkejut ketika setetes air mata mengalir menuruni pipinya. Itu bukan air matanya, itu milik Yongguk. Yongguk menangis. Pria yang kuat itu kini sedang mengeluarkan air matanya. Jieun merasakan kepiluan yang amat dalam. Dia tidak pernah melihat pria ini menangis sebelumnya. Kini ia menangis..ia menangisinya.

“Aku masih mencintaimu..” bisiknya pelan. Jieun mengangguk.

“Aku juga..”

Yongguk menegakkan tubuhnya. Ia tersenyum tipis.

“Selamat tinggal…”

“Ya…selamat tinggal.” Jieun memaksakan seulas senyum sebelum berbalik dan melangkah pergi. Yongguk menatap punggung Jieun sampai menghilang dari pandangan.

“Satu persatu mereka pergi. Pada akhirnya, akulah yang berdiri sendirian.”

Suara petir terdengar. Tetesan air mulai turun. Awalnya perlahan-lahan, lama-lama menjadi semakin deras. Yongguk tersenyum. Senyum yang aneh. Bukan senyum kebahagian.

“Ya..pada akhirnya hanya aku…dan hujan..” Dia berdiri di sana, membiarkan tubuhnya diguyur hujan deras.

= = =

Jung Daehyun membuka matanya. Ia mengerutkan kening. Sekelilingnya tampak gelap. Ia memegang kepalanya yang berdenyut nyeri. Rintihan kesakitan keluar dari bibirnya. Dia mengutuk dalam hati, siapa yang tega melakukan ini padanya.

Ah…akhirnya dia ingat. Bodyguard keluarganya sendirilah yang melakukannya. Kenapa mereka melakukannya? Kenapa mereka menculik tuannya sendiri dan membawanya ke…tempat apa ini? Kuburan China?!

Daehyun membelalakkan matanya. Kini ia sudah sadar sepenuhnya. Ia tergeletak di samping sebuah kuburan China berukuran besar. Tubuhnya basah kuyup diguyur air hujan yang terus turun tanpa henti. Ia tidak yakin ini siang atau malam karena langit sangat gelap, dan dia tidak bisa melihat dengan jelas dengan mata berair seperti itu.

“Apa-apaan ini…” Daehyun berusaha bangkit. Bajunya jadi terasa berat karena menyerap banyak air. Atau mungkin, karena tubuhnya saja yang terlalu lemas untuk bangkit. Tapi, Daehyun harus pergi secepat mungkin. Dia tidak bisa tinggal diam. Naeun-nya sedang dalam bahaya.

Dengan susah payah, Daehyun akhirnya berhasil berdiri di sisi jalan raya. Jalanan tampak sepi. Daehyun yakin ini pasti malam hari. Lampu jalanan di atasnya menyala redup. Cahayanya tidak cukup terang untuk menyinari cowok itu. Bahkan Daehyun tidak bisa melihat tangannya sendiri. matanya berkunang-kunang. Kepalanya terasa berat.

“To..long…” rinithnya. Ia berjalan ke tengah jalan raya, menyusuri jalanan lurus itu. Mungkin jika terus berjalan dia akan menemukan sesuatu.

TIIN TIIIN…Suara klakson terdengar tepat di belakangnya. Namun, Daehyun nyaris tidak bisa mendengar apa-apa. Entah telinganya yang gangguan atau suara klakson tersebut teredam suara hujan.

TIIN!! Suara klakson itu semakin jelas. Daehyun terperanjat kaget ketika mobil oleng yang berasal dari arah belakang nyaris menyerempetnya.

“YAH! Setidaknya bunyikan klakson dulu!” teriak Daehyun marah. Tak disangka, mobil itu berhenti. Pengemudinya keluar dari mobil dengan mengenakan sebuah payung merah. Ia berjalan mendekati Daehyun.

“Aku sudah membunyikan klakson sampai tiga kali! Kau tidak juga menyingkir!” teriaknya.

“Hah?” Daehyun mengerutkan kening. “Kau bicara apa?”

“AKU SUDAH MENGKLAKSON TIGA KALI!” Seru si pengemudi ke telinga kiri Daehyun. Tepat di samping telinganya.

“Aku tidak bisa mendengarmu…bisa ulangi lagi? Lebih keras?”

“AKU SUDAH MEMBUNYIKAN KLAKSON SAMPAI TIGA KALI!” teriak si pengemudi dengan sangat kencang. Daehyun mengerutkan kening.

“Aku tidak bisa mendengarmu…” Daehyun menatap si pengemudi dengan heran. Pria pengemudi itu tertegun.

“Hey, kau tuli?”

“Apa?” Daehyun tampak bingung. Si pengemudi lalu melihat penampilan Daehyun yang acak-acakan. Dia menggeleng pelan.

“Ikut aku.” Pria itu menarik tangan Daehyun, menyuruhnya naik ke mobilnya. Merasa mendapat pertolongan, Daehyun menurut. Dia masuk ke dalam mobil, dengan bingung, seperti orang idiot. Pintu mobil tertutup di sampingnya, dan dia tidak bisa mendengar suaranya.

= = =

Naeun tersadar dari pingsannya. Dia berusaha membuka mata namun sulit. Ada sebuah kain yang menutupi matanya dengan erat. Ia tertegun. Ia berusaha menggerakkan tangannya, namun tidak bisa. Tangannya terikat ke belakang kursi. Begitupun dengan kakinya. Naeun mengerutkan kening. Bau aneh merangsek masuk ke hidungnya. Bau bawah tanah yang lembab dan membuatnya mual.

“Ugh..” Perut Naeun serasa diaduk. Ia ingin muntah. Tapi dia tidak bisa muntah di sini, dalam keadaan terikat begini.

“Aish…dimana aku..” Naeun menggerakkan tangannya, berusaha melepaskan ikatan tali tambang yang kuat tersebut. Namun usahanya sia-sia. Tali itu diikat dengan sangat kencang. Tidak mungkin membukanya dengan gerakan lemah Naeun.

“Oh, kau sudah sadar?” Suara seorang lelaki terdengar disusul dengan suara langkah kaki yang mantap dan penuh percaya diri.

“Si..siapa kau?” tanya Naeun dengan suaranya yang parau. Lelaki itu tidak menjawab. Ia malah membelai pipi Naeun yang putih pucat. Tangannya kasar dan terasa sangat besar di wajah mungil Naeun. Gadis itu yakin, lelaki di hadapannya ini pasti sangat tinggi.

“Kau ingin tahu kenapa kau berada di sini?” tanya lelaki itu dengan suara yang berat.

“Ya..”

“Kau di sini..atas permintaan orang yang paling berharga untukmu.”

“Siapa..”

“Seharusnya kau tahu.” Lelaki itu membuka ikatan kain yang menutupi matanya. Naeun mengerjap, membiasakan matanya dengan kegelapan ruangan ini. Satu-satunya cahaya datang dari ventilasi kecil di dinding atas ruangan.

“Halo, aku Joker. Senang bertemu denganmu.”

“Jo…ker?” Naeun menatap bingung sosok lelaki di hadapannya. Lelaki itu punya bekas luka memanjang di pipinya.

Joker tersenyum sinis. “Kau sanderaku, ikuti aturanku, atau kau mati.”

Naeun menelan ludah. Siapa Joker ini? Apa-apaan dia? Dia bilang, orang yang paling berharga untuknya menyuruh Joker untuk menculiknya. Siapa? Orang yang paling berharga selain orang tuanya? Minah? Yongguk? Atau…Daehyun?

Tidak mungkin. Daehyun tidak mungkin melakukan hal ini. Kalau Yongguk, bisa jadi. Naeun sudah memperlakukannya dengan buruk, mungkin Yongguk punya dendam dan menyuruh orang untuk menculiknya. Ya…pasti Yongguk yang melakukannya.

Rasa benci Naeun terhadap kakak tirinya itu semakin besar. Aku tidak akan memaafkanmu, batinnya.

“Sudah memikirkan sebuah nama?” tanya Joker sinis.

“Hm.” Naeun menatapnya tajam. “Dalang di balik semua ini adalah Bang Yongguk, kan?”

“Aahh…terlalu cepat untuk menebak, anak manis. Tapi, tebakan yang bagus. Aku tidak bisa memberitahumu sekarang.” Joker mengedipkan mata. Naeun meringis.

To be continued

22 thoughts on “[FF] Stepbrother part 5

  1. aminocte says:

    Eh ternyata Daehyun baik..kebayang deh ditodong pistol, pasti keluar keringat dingin.
    Kasian Yongguk nih, nelangsa banget, mana Naeun udah nuduh dia jadi dalang dibalik penculikan itu pula.
    Daehyun kenapa nggak bisa dengar? Apa gara-gara mendengar bunyi tembakan?
    Lanjut nis, makin menegangkan nih

    • vidiaf says:

      kepotong masa -_-

      sebenernya daehyun mau ngapain naeun? ‘_’ *nunjuk bagian awal*
      terus itu…. sebenernya pistolnya ngarah ke mana? ._.
      kasian nasib daehyun di sini ;;;;;
      lanjutin sunbae! penasaran! ><

  2. kim hyun neul says:

    Itu daehyun kenapa? masa tuli? kasiaaaaan jangan dibikin tuli daehyunnya!!!! Aku suka cara daehyun manggil naeun seolah olah naeun itu bener bener milik dia, “naeun-ku, gadisku” yah, meskipun kesel juga sih, aku juga mau dipanggil begitu.. disini yongguk sama jieunnya semacem so sweet ya? cuma jieun yang bisa bikin yongguk nangis gitu. daebak! ditunggu next chapternya sunbae!

  3. Klee says:

    Finnaly, keluar juga part 5 nya. Aku nunggu pake banget ini. Penasaran, siapa orangnya? Terus kejadian masa lalu jieun sama yongguk apaan sih? ._. Pokoknya aku bakal setia baca ff ini ampe abis(?) Haha. Fighting!!

  4. smtownfans says:

    Author, jangan buat daehyun budeg doong😦 ,daehyun bias kesayangan ku di BAP selain zelo *nangis dipelukan zelo* tp bagus thor, lanjuut yaaa:) penasaran ama daehyun kalo ketemu ama yunho gmn yaa? Hehehe lanjuttt yaa

  5. mememefortoday says:

    Wow!! Aku suka kata kata Yongguk pas di makam tadi ‘aku terlalu spesial sampai sampai Tuhan tidak mau menyamakanku dengan orang lain’ , keren!!! Ngena banget kata katanya Thor!
    Tapi aku gak terlalu suka bahasamu Thor, kenapa gak pake bahasa baku aja biar lebih terasa serius gitu. Hehe🙂
    Sekedar saran sih. Semoga bisa direspon dengan baik🙂

  6. Agnes says:

    Aku baru baca… telat banget. maapin ya beb.-. kyaaaa! lanjutin! lanjutin! aku kepo akhirnya beb(?) semangat!!!!

  7. baddas says:

    Aaaaaaaaaaaaa!! Thor lanjutkan secepatnyaaaa kalo ngga nilai ukk gue bakal jeblok :((
    Sumpah ini ff keren banget buat gue senyum2 sendiri, sedih,penasaran aaaaaaaa dan cuma ff ini yg bisa ngerasa itu yongguk banget pokoknya lanjutin! Hahaha
    semoga daehyun sama naeun dan yongguk sama himchan (?) amin hahaha

  8. Daelova says:

    astagh ini ff bikin gue deg2an stengah mamposs..author emang kece deh (^^)9 jadi semakin cinta sama daehyun :**

  9. Han hyunki says:

    Kereeeen banget thor..😀
    kadang aku ngebayangin yang jadi naeun itu aku *somplak* lanjutannya manaaa thor.. Udah gasabar dan pengen benget menghakimi yang culik daeun (?) ^^

  10. neon says:

    hi^^
    mungkin aku agak telat baca ff ini tapi seriusan ini kereeen bgt.. thor plis di lanjutin yaah pliss

  11. farah says:

    yaa author, ini kapan diterusinnya ?😦 astaga aku lumutan nungguin ini dilanjutin
    oh iya, apakah Joker itu Junhyung? karena setau aku yg suka bilang “aku joker”nya dia hehehe *nebak aja*
    lanjutin yaa cerita ini daebak padahal :’)

  12. dorky Mint says:

    Huaaaaaa kenapa Daehyun jadi tuli?? Klo itu ulahnya bodyguard J Company, mereka kejam bangetngetnget😦 ceritanya makin seru nih. Part 6-nya ditunggu🙂

  13. summer says:

    ahh.. lama tak brkunjung..
    sjak terakhir baca diary’a si kunyuk.. sbenernya itu sh yg jdi fav q di’blog ini.. cuz bahasa’a santai ala anak muda. bukan pke bhasa formal macam drama dubbingan. over all smua ceritanya bagus.

  14. HyunMi89 says:

    Annyeong!! Mian ya part 1-4 aku siders, soalnya ribet pas itu pake handphone kakak. Ohya, itu daehyun tuli apa kenapa? Aku jadi DaeEun Shipper kayaknya >3<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s