[FF] Stepbrother part 4

A/N: Aaaaa long time no see you guys! Sorry for the late update, kinda busy nowadays, kk. Enjoy part 4! Things are getting complicated.😉

Kata-kata yang di bold itu bahasa Jerman ya.

PART 4

-Gone-

Nana, Bangster

Nana, Bangster

Seperti virus yang berkeliaran bebas di udara, kabar Daehyun-Naeun yang semakin dekat menyebar ke seluruh sekolah dengan cepat. Bahkan guru-guru pun sampai mengetahui hal ini. Kebanyakan tidak setuju mengenai kedekatan Daehyun-Naeun. Daehyun anak yang aktif dan disegani di sekolah, sedangkan Naeun anak yang pendiam dan nyaris anti-sosial. Kemana-mana dia hanya berdua dengan Minah, sahabatnya dari SMP. Banyak yang menyesali hubungan mereka. Daehyun pantas mendapatkan gadis yang lebih baik, begitu kata-kata mereka.

Daehyun hanya berdecak mendengarnya.

“Wae? Naeun gadis yang kusukai, aku yang memiliki perasaan ini kenapa kalian yang repot?”

Sedangkan Naeun, reaksi gadis itu..biasa saja.

“Gosip hanya bertahan selama 75 hari,” katanya sambil mengangkat bahu. Namun, harus dia akui, di lubuk hatinya yang terdalam bunga-bunga cintanya telah mekar. Dia hanya menutupinya dengan topeng dingin yang selama ini dia pakai. Hanya Minah dan Yongguk yang tahu bahwa dia menyukai Daehyun.

“Boleh aku duduk di sini?” tanya Daehyun. Naeun yang sedang asyik menyantap makan siangnya sendirian menengadah. Seperti biasa, dia selalu memasang tampang dinginnya. Tapi, matanya melirik ke sekitar. Semua seakan memandang ke arah mereka. Kebanyakan sambil berbisik-bisik.

“Tentu, kursi itu bukan milikku.” Naeun lanjut melahap sandwich-nya.

“Terima kasih.” Daehyun tersenyum hangat. Naeun hanya mengangguk, tidak berani menatap wajahnya.

“Aku kenal dekat dengan kakakmu. Dia orang yang sangat hebat.” Daehyun berkata sambil membuka plastik pembungkus sandwichnya.

“Benarkah?” Naeun menatapnya, menunggu perkataan Daehyun selanjutnya.

“Yap. Kau mau mendengarkan ceritanya?” Naeun mengangguk.

“Ceritanya begini…”

= =

Daehyun’s POV

“Aku pulang!” seruku sambil melepas sepatu. Saat melangkah masuk ke dalam rumah, aku melihat pemandangan tidak menyenangkan itu lagi. Orang tuaku sedang bertengkar. Lagi. Mereka saling teriak dan memaki. Aku hanya diam menatapnya. Apa yang bisa dilakukan olehku? Bocah 4 tahun yang tidak tahu apa-apa.

“Dasar brengsek!”

“Diam kau wanita jalang!”

Aku tidak tahu pasti apa yang mereka bicarakan. Kata kakakku, itu kata-kata yang keren. Hmm…memangnya memuji harus sambil teriak-teriak seperti itu? Kan capek. Kupingku juga jadi sakit.

“Daehyunie, ayo kita main ke luar. Di rumah berisik.” Yunho hyung menarik tanganku dan membawaku keluar rumah. Padahal aku baru saja pulang bermain bersama teman-teman. Tapi tak apalah, daripada di rumah terus, kupingku bisa meledak.

Yunho hyung menghempaskan tanganku. Aku sedikit terhuyung dibuatnya. Dia lalu menaiki sebuah ayunan dan menyuruhku untuk mendorongnya. Aku menurut. Katanya, seorang adik harus menuruti apapun kata kakaknya. Itu berarti kau adik yang keren. Wow, aku keren.

Aku mendorong kakakku sampai tanganku pegal. Aku capek. Tapi Yunho hyung terus memaksaku untuk mendorongnya. Tapi tak kusangka, ia berayun lebih cepat hingga dudukan ayunan itu mengenai wajahku. Aku terjungkal ke belakang dan mengaduh kesakitan. Aku menangis keras.

“Hey bodoh, jangan menangis! Masa segitu saja sudah mewek? Kamu gak keren!” Bukannya menolongku, Yunho hyung malah mengejekku. Aku tidak bohong, rasanya sakit sekali.

“Tidak apa-apa. Anak laki-laki tidak boleh menangis.” Sepasang tangan terulur padaku. Orang yang baik hati itu menolongku dan membantuku untuk duduk. Ia menarik tanganku yang menutupi wajah. Aku melihat tanganku sendiri. Ada darah.

“Kamu mimisan,” kata kakak yang baik itu. Aku terdiam. Mimisan itu apa? Aku tidak tahu, yang pasti hidungku sakit sekali.

“Hyung, apakah ini perlakuanmu terhadap adikmu?” katanya lagi. Aku menatapnya di sela tangisku. Pandanganku menjadi tidak jelas karena air mata yang terus keluar membasahi pipiku. Tapi, aku tahu, kakak baik yang menolongku itu adalah Bang Yongguk, tetangga kami. Dia berdiri dengan tegap di depanku, berhadapan dengan Yunho hyung.

“TIdak usah ikut campur! Kamu tidak punya urusan di sini!” bentak Yunho hyung.

“Tentu aku ada urusan. Kalau hyung tidak mau menjadi kakak Daehyunie, biar aku saja yang menjadi kakaknya.”

“Cih, mau jadi pahlawan ya? Ya sudah, ambil saja anak kucing itu. Aku tidak butuh.” Yunho hyung mengangkat bahu dan pergi meninggalkan taman bermain ini dengan langkah arogan.

Yongguk hyung menoleh ke arahku. Ia lalu membersihkan darah mimisanku dengan kausnya. Tanpa sadar, tangisku sudah berhenti. Aku hanya menatapnya dengan wajah tidak berdosa.

“Kamu anak kuat, jangan gampang nangis,” katanya. Nadanya terdengar tidak bersahabat, tapi aku tahu dia tulus mengatakannya.

“Hyung, gomawo,” ucapku. Yongguk hyung hanya mengangguk.

“Aish darahnya keluar terus..”

“Darah?” Aku menatap kaus Yongguk hyung yang penuh darah. Sedetik kemudian, tangisku meledak kembali.

“Eommaa!! Aku takut darah!!!”

= =

“Y..ya begitulah kenapa aku bisa dekat dengan kakakmu.” Daehyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Naeun hanya menganga.

“Sunbae…benarkah kau dulu seperti itu?”

“I…iya aku dulu memang cengeng dan lemah dan pecundang dan…apapun itu namanya. Tapi sekarang tidak kok..” Daehyun salah tingkah. Naeun tidak bisa menyembunyikan senyumnya.

“Sunbae lucu.” Naeun tersenyum manis. Untuk sedetik, jantung Daehyun seakan berhenti. Detik kemudian, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

“Err…jangan panggil aku sunbae. Daehyun atau oppa saja.”

“Oke…Daehyun oppa.” Naeun menatap Daehyun malu-malu. Yang ditatap hanya tersenyum.

“Oh, kau tidak memakan kentangmu?” Daehyun mengalihkan pembicaraan.

“Yah..aku kurang suka kentang. Oppa mau?”

“Boleh.” Daehyun mengulurkan tangannya untuk mengambil kentang Naeun. Di saat yang bersamaan, Naeun mendorong nampannya ke arah Daehyun. Alhasil, tangan Daehyun mendarat di punggung tangan Naeun. Kembali, mereka salah tingkah. Tapi, alih-alih menyingkirkan tangannya, Daehyun malah menggenggam tangan Naeun dengan erat. Ia tersenyum. Naeun membalas senyumannya dengan wajah memerah.

= = =

“Aku mencari Bang Yongguk. Dimana dia?” Jung Yunho menyandarkan tubuhnya pada meja resepsionis kantor tempat Yongguk bekerja di siang hari.

“Bang Yongguk? Dia sudah keluar lima bulan yang lalu.” Resepsionis itu menatap layar komputernya dengan serius.

“Benarkah?”

“Iya. Dia mengundurkan diri lima bulan yang lalu.”

“Ah..sayang sekali. Aku mencarinya. Ini penting sekali. Ngomong-ngomong, kamu punya nomor teleponnya?”

“Di sini ada datanya, tapi semua rahasia, Tuan. Kami tidak bisa mem…”

BRAK…Yunho menggebrak meja. Dia menatap gadis resepsionis itu dengan tajam.

“Beritahu aku, atau kau mati,” ancamnya.

“Ba..baiklah, Tuan. I…ini nomornya.” Resepsionis itu segera menyobek secuil kertas dan menuliskan nomor handphone Yongguk di atasnya. Dia lalu memberikannya pada Yunho.

“Okay. Kerja bagus. Bos-mu seharusnya menaikkan gajimu. Haha.” Yunho mengetukkan tangannya pada meja resepsionis sebelum berlalu dari tempat itu. Baru berjalan beberapa langkah, 2 meter di depan pintu utama, seseorang sudah berdiri menghadangnya.

“Masih ingat padaku, Yunho-ssi?” kata orang itu. Yunho menatap pemuda itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Ia mengingat-ingat. Kemudian, sebuah nama terlintas di otaknya. Ia lalu menyeringai.

“Mana mungkin aku melupakanmu, Kwon Jiyong,” kata Yunho sambil menyeringai. Pemuda itu tersenyum.

“Sudah lama tidak dipanggil seperti itu. Semuanya memanggilku G-Dragon.”

“Apa yang kau lakukan disini ha?” Yunho merangkul GD seperti layaknya teman lama.

“Aku sudah menyiapkan pesta untukmu. Untuk merayakan kebebasanmu. Nanti malam, kutunggu kau di penthouse-ku.” GD tersenyum.

= = =

“We got the power..I got the power..” Himchan bersenandung ringan sambil melap mobilnya yang baru saja dicuci. Setelah selesai membersihkan mobilnya sampai tampak mengkilap, Himchan bersiul senang. Yongguk yang duduk di sofa hanya menatapnya bosan.

“Dia tidak bisa diganggu jika dia sedang asyik bersama Elena.” Zelo berkata sambil melap tangannya yang penuh noda oli.

“Elena?” Yongguk menaikkan alis.

“Mobilnya.” Zelo berdecak perlahan. “Semua mobil miliknya punya nama. Lamborghini itu favoritnya. Dia beri nama Elena.” Dia lalu menoleh pada Hyundai milik Yongguk.

“Mau sekalian dicuci, hyung?” tanyanya. Yongguk mengangguk. Zelo mengambil selang air dan mulai membersihkan mobil Yongguk. Tepat saat itu, ponsel Yongguk berbunyi.

“Youngjae-ya, ada apa?”

HYUNG HYUNG GAWAT!!

Yongguk menjauhkan ponselnya. “Ada apa?”

Jung Daeryong melarikan diri!

“Apa maksudmu?”

Aish, cepat ke kantor!” Sambungan telepon pun terputus. Yongguk mendengus kesal dan langsung bergegas menuju mobilnya yang sedang dicuci. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan mengendarainya menuju PT. TS Korea. Dia tidak peduli mobilnya masih basah.

Himchan dan Zelo saling bertatapan dengan bingung.

“Hyung, kurasa kau harus menyusulnya.” Zelo mengedikkan kepalanya.

“Ah, benar.” Himchan bergegas masuk ke dalam mobil dan menyusul Yongguk.

= = =

Yongguk berjalan dengan tergesa memasuki kantor. Beberapa orang menyapanya. Ia tidak fokus sehingga tidak membalas sapaan mereka. Ia lalu menekan tombol lift dan menunggu. Setelah lift terbuka, ia melangkah masuk. Ketika pintu nyaris menutup, sebuah kaki menahannya. Pintu lift terbuka lagi.

“A…aku tidak tahu kalau itu rasanya sakit…” Yongguk melotot menatap Himchan di hadapannya. Dengan sedikit terpincang, Himchan melangkah masuk ke lift. Dia mengaduh kesakitan.

“Bodoh.” Yongguk mendengus dan menekan tombol lift. Lift pun naik ke lantai paling atas.

Mereka berjalan berdampingan menuju ruangan paling ujung. Yongguk membuka pintunya dengan sekali hentakan. Ia lalu menarik sebuah buku dari rak. Rak itu pun bergerak memutar. Yongguk dan Himchan masuk ke ruangan di balik rak tersebut. Rak tersebut kembali tertutup. Itu memang pintu rahasia. Tampilan depan dan belakang sama agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Di dalam ruangan itu, Youngjae terlihat sedang berbicara via webcam dengan seseorang di luar sana. Yongguk dan Himchan langsung berdiri di sampingnya, ikut menatap ke arah monitor.

Oh, hello there, Jepp, Himi.” Nana, bangster yang kuliah di Jerman sekaligus menjadi mata-mata, menyapa mereka.

“Himi…?” Himchan mengerutkan kening.

“Kemana Daeryong?” Yongguk langsung bertanya to the point.

Dia sekarang sedang berada di Jerman, kemarin dia baru datang dengan jet pribadinya, dia punya rumah di daerah Pattensen, Kreuzberger Str. Rumahnya cukup sederhana jika dilihat dari luar, tapi di dalam, dia menggunakan rumah itu untuk berjudi bersama gambler-gambler handal dari seluruh dunia.”

“Gambler…otakku langsung mengarah pada GD.” Himchan mengusap dagunya.

G-Dragon? Well yeah, GD dan Daeryong pernah berjudi bersama. GD pasti tahu sesuatu tentang dia.”

“Oke, Nana, kau awasi Jung Daeryong, kami akan mengawasi Jung Yunho.” Nana tersenyum meremehkan mendengar kata-kata Himchan.

“No need to, sweetheart. Mereka berdua sudah dipasangi chip.” Nana mengedipkan sebelah mata.

“Chip?” Himchan mengerutkan kening.

Yap. RFID atau Radio Frequency Identification, kalian seharusnya tahu.” Nana menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Tatapannya seakan meremehkan tiga lawan bicaranya.

Apa kalian hanya bisa merampok, berjudi, dan mengedarkan narkoba? Ckck.

“Bye, Nana.” Yongguk memutuskan hubungan webcam. Dia lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi kosong di sebelah Youngjae.

“Mereka terlalu pintar,” kata Youngjae. Dia memutar-mutar kursi komputernya sambil berpikir.

“Aku tahu mereka. Anak buahnya tersebar di seluruh dunia. Di luar, mereka hanya sekedar J Company, perusahaan biasa, tapi di dalamnya…well, jangan tertipu dengan tampilan mereka.” Yongguk berkata sambil menatap ke langit-langit.

“Bahkan supir taxi pun bisa jadi anak buah mereka.” Yongguk menghela napas.

“Kalau begitu…sudah pasti ada anak buahnya yang menyamar jadi polisi dan membebaskan Jung Yunho. Ya kan?” kata Himchan tiba-tiba. Youngjae dan Yongguk langsung menatapnya. Mereka bertiga saling bertatapan.

“Kau pintar, Himi.”

Don’t calleu me likeu thateu..” sahut Himchan dengan aksen Korea-nya yang kental.

“Oh, Jae, kita tidak memasang chip pada Daehyun?” Yongguk menoleh pada Youngjae yang sedang asyik mengutak-atik komputernya.

“Yah…apa kita membutuhkannya?” Youngjae menaikkan alis. Yongguk hanya terdiam.

“Ayolah, Yong…Daehyun itu tidak lebih dari sekedar anak mami, anak manja. Dia melihat pistol saja takut, apa yang bisa ditakuti darinya?” Himchan meremehkan.

“Dia masih punya otak.” Yongguk menatap Himchan tajam.

= = =

Bel pulang yang ditunggu-tunggu seluruh murid Myungdae High School akhirnya berbunyi juga. Tak terkecuali siswa-siswi kelas 2-A. Mereka bergegas membereskan barang-barangnya dan berhamburan keluar ruangan, seakan jika mereka terlambat satu menit saja, pintu kelas akan tertutup selamanya.

Naeun keluar kelas paling terakhir. Minah harus latihan dance terlebih dahulu jadi terpaksa Naeun pulang sendirian. Dia melangkah dengan santai menuju gerbang sekolah. Dia tahu, banyak mata yang menatapnya sinis. Dia hanya tersenyum tipis. Mereka cemburu melihat kedekatannya dengan Jung Daehyun, salah satu cowok paling populer di sekolah. Naeun menghela napas. Dia sama sekali tidak tertarik dengan reputasi Daehyun di sekolah, dia hanya tertarik dengan…Daehyun.

“Naeun-ah!” Sebuah suara familier memanggil namanya. Naeun menoleh ke sumber suara. Jung Daehyun tersenyum sambil melambaikan tangannya. Seragam sepak bolanya banjir oleh keringat. Rambutnya basah dan rambut depannya menempel ke kening. Dia terlihat sangat tampan dan keren.

Naeun tersenyum dan menghampirinya. Ia melewati beberapa anak lelaki anggota klub sepak bola dengan percaya diri. Mereka menatapnya tak berkedip. Naeun memang cantik, rambutnya panjang sepunggung, tubuhnya tinggi langsing dan ekspresi wajahnya yang kaku justru malah menambah daya tariknya. Jika Naeun tersenyum, ekspresi kakunya akan hilang. Dia akan menjadi sangat cantik. Sama seperti saat ini, ia tersenyum manis ke arah Daehyun.

“Hey..pulang sendiri?” Daehyun menyapanya begitu Naeun sudah berdiri di hadapannya. Gadis itu mengangguk.

“Minah ada ekskul dance, jadi aku terpaksa pulang sendiri.”

“Em…mau pulang denganku? Latihanku sudah selesai kok.” Daehyun tersenyum. Naeun mengangguk mengiyakan.

“Tunggu sebentar ya, aku mandi dulu. Sebentar saja, tunggu di sini.” Daehyun mengambil tas ranselnya dan berlari ke ruang ganti. Naeun duduk di bangku pemain cadangan dan meluruskan kakinya. Ia meletakkan kedua tangannya di paha dan menghela napas.

Seorang anak laki-laki menghampirinya dan tersenyum, meminta ijin untuk duduk di sebelahnya. Naeun hanya mengangguk. Lelaki itu duduk di sebelahnya sambil mengelap keringatnya menggunakan handuk kecil yang tergantung di lehernya.

“Aku Moon Jongup, murid kelas 1. Hehe, kau Naeun sunbae, kan?”

Naeun mengangguk lagi, entah untuk yang keberapa kalinya. “Bagaimana kau tahu?”

“Yah..semua orang tahu tentang kau, sunbae. Daehyun hyung juga sering cerita tentangmu.”

“Iya? Dia bilang apa saja?” Naeun mengubah posisi duduknya, jadi menghadap Jongup. Dia menatap Jongup tak sabar, menantikan jawaban lelaki yang lebih muda itu.

“Dia bilang sunbae orangnya baik, ramah, memang kelihatan dingin tapi kalau sudah kenal dekat, sunbae orangnya asik. Terus..hyung bilang sunbae cantik. Dia selalu memuji-muji sunbae. Aku rasa dia suka padamu, sunbae.” Jongup tersenyum, matanya hilang.

Naeun tersenyum malu. Wajahnya memerah. Jongup menangkapnya.

“Kenapa kalian tidak pacaran saja? Kalian cocok kok.” Jongup terkekeh.

“Aish..Jonguppie..” Naeun menyentuh kedua pipinya yang panas. Jongup tertawa dan menepuk pundak Naeun spontan.

“Sunbae lucu sekali! Mukanya merah!” Naeun menginjak kaki Jongup dan cemberut. Tapi sedetik kemudian ia juga tertawa bersama dengan adik kelasnya itu.

“Ehem.” Entah sejak kapan, Daehyun sudah berdiri di hadapan mereka. Mereka berdua langsung berhenti tertawa. Naeun tersenyum menyambut Daehyun.

“Pulang sekarang?” tanya Naeun hati-hati. Ia takut melihat ekspresi jengkel Daehyun. Dia melirik Jongup sekilas dengan sinis dan menarik tangan Naeun, agak kuat hingga membuat gadis itu berdiri.

“Ayo,” balas Daehyun singkat sambil menyeret Naeun pergi. Naeun menoleh ke belakang dan melambai pada Jongup.

“Kelihatannya kalian akrab. Kalian ada hubungan apa?” tanya Daehyun ketika mereka sudah sampai di parkiran sekolah.

“Gak ada hubungan apa-apa kok, Oppa…” Naeun menerima helm pemberian Daehyun dan memakainya. Ia lalu duduk di boncengan Daehyun. Lelaki itu menyalakan mesin motornya.

“Benarkah?” Daehyun menoleh. Naeun mengangguk meyakinkan. Daehyun tersenyum.

“Oh bagus deh.” Daehyun mengendarai motornya keluar gerbang sekolah.

“Kenapa? Oppa cemburu?” Naeun terkekeh.

“Iya mungkin,” balas Daehyun ringan.

“Haha tenang oppa, aku tidak akan merebut Jonguppie-mu.”

“Haha, aku normal, Naeun-ah.”

“Terus? Cemburu kenapa?” Daehyun tidak menjawab. Ia fokus menyetir motornya sampai di suatu café. Dia lalu memarkirkan motornya dan melepas helm.

“Karena aku suka kamu?” Daehyun terkekeh. Dia lalu menatap Naeun lewat kaca spion. “Jadi, kau mau tetap duduk di sini atau turun dan minum kopi?”

“Ehm..maaf.” Naeun tersenyum malu dan beranjak turun dari motor. Daehyun menyusul dan membimbingnya memasuki café itu. Mereka memilih tempat di pojok, dekat jendela.

“Tolong bawakan pesananku.” Daehyun mengangguk pada pelayan.

“Oh? Kau sudah memesannya sebelumnya?” Naeun menganga. Daehyun mengangguk. Ia lalu tertawa melihat ekspresi terkejut Naeun.

“Kenapa? Kau terkejut?” kata Daehyun di sela tawanya.

“Ne…”

Tak lama kemudian, pelayan datang membawakan pesanan Daehyun. Ia meletakkan kedua cangkir di depan masing-masing pelanggannya dan beranjak pergi. Naeun menatap kopi di hadapannya. Ia lalu mengalihkan tatapannya pada Daehyun yang tersenyum.

“Be mine?” Naeun membaca tulisan yang tertera di permukaan kopi.

Daehyun tertawa kaku sambil mengusap tengkuknya. “Ya..sudah lama aku memerhatikanmu dari jauh. Kau orangnya menarik dan tidak sekaku yang orang lain pikiran tentangmu. Dan juga…sikap dinginmu itu membuatku penasaran. Aku tidak tahu sudah berapa lama, tapi…aku mencintaimu, Son Naeun. Be mine?”

Naeun hanya bisa mengangguk. Ia terlalu bahagia sampai-sampai tidak bisa bicara. Ia terharu, ternyata orang yang dicintainya juga mencintainya.

Daehyun tersenyum lega. Ia menatap Naeun dalam.

“Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.” Naeun tersipu.

“Ehm…sayang, setelah ini, mau mampir ke rumahku?”

“Huh?” Naeun menatap mata Daehyun. Seketika dia tidak bisa membantah. “Tentu saja.”

Naeun terpaku. Tatapan mata Daehyun telah menghipnotisnya. Ia mau melakukan apa saja untuk lelaki yang dicintainya ini.

= = =

Brandenburg, Germany.  19:30 PM

Nana meletakkan cokelat panasnya di meja lalu duduk di depan laptopnya yang menyala. Ia menaikkan satu kaki ke kursi dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang empuk. Dia mengklik spasi dan tertegun.

Gone?” Nana menegakkan tubuhnya dan mengetikkan sesuatu di keypad. Ia terpaku ketika layar laptopnya hanya menampilkan warna hitam.

“Dia menyadarinya…” Nana langsung meraih blazernya dan memakainya dengan tergesa-gesa. Ia menyambar ponselnya yang tergeletak di meja dan menghubungi Bang Yongshik. Ia bicara pada bosnya sambil berlari menuju pintu apartemennya. Ia membuka pintunya dan terpaku melihat tiga pria berbadan besar sudah berdiri di hadapannya. Mereka semua memegang pistol dan ketua mereka menodongkan pistolnya tepat ke wajah Nana.

Nana? Kau di sana? Ada apa? Siapa yang menyadari apa?” Suara Yongshik terdengar dari ponsel Nana.

Jatuhkan ponselnya,” kata pria berbadan besar itu dalam bahasa Jerman. Nana menurut. Ia melepaskan genggamannya pada ponsel, menyebabkan ponsel itu terjatuh dengan keras ke lantai. Ia lalu mengangkat kedua tangannya.

“Kami akan memberimu dua pilihan. Mati atau membongkar semua rahasia tentang Bangster?”

“Itu bukan pilihan..” Nana menelan ludah. Jujur saja, dia takut melihat orang-orang di hadapannya. Tapi, dia berusaha untuk bersikap santai.

Jawab saja, dasar wanita jalang!” bentak bodyguard itu.

Nana menyeringai. “Such an impatient pussy,” jeda sesaat sebelum melanjutkan, “Aku lebih memilih mati daripada berkhianat pada Bangster.”

“Baiklah kalau itu maumu.” Bodyguard itu menarik pelatuknya.

Tapi tidak semudah itu.” Nana menggenggam tangan pria itu dan memelintirnya tepat pada saat peluru keluar dari moncong pistol. Namun, Nana terkejut melihat pria itu hanya mundur beberapa langkah, tidak tertembak sama sekali.

“Kau pikir kami tidak menggunakan rompi anti peluru?” Bodyguard itu menembak dan Nana cepat menghindar. Ia meraih pistol yang tergeletak di meja dan balas menembak. Dia lalu menggulingkan meja dan melompat ke belakang meja. Dia terus balas menembak, namun targetnya tak kurung tewas. Pelurunya selalu terpantul. Tiba-tiba, seorang bodyguard menarik kerah bajunya dan memaksanya berdiri. Bodyguard itu menghempaskan tubuh Nana ke tembok dan mencengkeram lehernya. Dengan mudah, bodyguard itu mengangkat tubuh Nana.

“Ak…” Nana tercekik. Pria itu jauh lebih kuat darinya. Ia menendang-nendang dan mencakar tangan pria itu. Namun semua usahanya sia-sia. Nana melirik ke arah kiri tempat laptopnya terjatuh, masih dalam keadaan menyala. Ia lalu menembakkan pelurunya ke arah laptop, kena. Laptopnya mati.

Se..tidak..nya…kalian…tidak…men..da..pat…apa….apa…” Nana memejamkan mata. Ia sudah kehabisan napas.

Pria itu menggeram marah dan membanting tubuh Nana ke lantai. Ia lalu menembak tepat ke jantung Nana. Nana pun tewas seketika.

Ketiga bodyguard itu menggeledah apartemen Nana. Setelah mengambil barang yang sekiranya perlu, mereka meninggalkan apartemen itu.

= = =

Korea, 18:00 PM

“Ta-dah! Selamat datang di rumahku.” Daehyun membukakan pintu rumahnya untuk Naeun. Gadis itu menganga. Daehyun mendorong pundaknya lembut, membimbingnya masuk ke rumah.

“Wow! Rumahmu besar sekali…ah bukan, ini pasti mansion.” Naeun menatap sekeliling. Ia tidak bisa menyembunyikan antusiasmenya. Daehyun terkekeh.

“Tidak usah berlebihan. Ayo, kita langsung ke kamarku saja. Aku ingin meminta bantuanmu.” Daehyun menggenggam tangan Naeun, membawanya ke kamarnya yang besar dan nyaman.

“Aigoo..kamarmu rapi sekali.” Naeun lagi-lagi tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.

“Duduklah, sayang. Sebentar, aku mengambilkan minuman untukmu.” Naeun mengangguk. Daehyun bergegas keluar kamar.

“Wow…” Naeun lagi-lagi berdecak kagum. Dia duduk di atas tempat tidur Daehyun yang empuk. Tiba-tiba wajah Naeun memerah. Ia merasa malu duduk di sini. Tak seharusnya dia ada di sini. Naeun terkesiap. Ia seperti baru tersadar dari mimpinya.

Tapi, wangi khas Daehyun memenuhi ruangan ini. Naeun merasakan jantungnya berdebar tak beraturan. Otaknya menyuruhnya pergi tapi hatinya menyuruhnya menikmati suasana ini.

Ayolah, Daehyun itu pacarmu. Berada di kamar pacarmu itu adalah sebuah keuntungan. Kau bisa melihat album masa kecil Daehyun.

Naeun pikir, kata hatinya benar juga. Ia lalu berjalan ke rak buku, mencari album foto. Ia menelusuri tiap judul, namun tidak menemukan apa yang dicari. Mungkin Daehyun menyimpannya di tempat lain, pikirnya.

Daehyun masuk kedalam ruangan dan meletakkan dua cangkir jus jeruk di meja belajarnya.

“Mencari album fotoku?” katanya. Naeun terkesiap dan tersenyum canggung. Daehyun tersenyum dan menyodorkan segelas jus jeruk pada gadisnya itu.

“Tak apa, setiap pasangan pasti merasa penasaran seperti apa pasangannya itu. Itu wajar.” Daehyun meneguk jusnya sambil menatap Naeun.

“Minumlah. Habiskan ya.” Lagi-lagi, Daehyun menatap Naeun dalam. Gadis itu selalu merasa terhipnotis jika ditatap dengan tatapan seperti itu. Apakah setiap gadis selalu seperti itu? Terhipnotis jika ditatap dalam oleh kekasihnya?

Setelah berterima kasih, Naeun meneguk jusnya dengan perlahan. Menuruti kata-kata Daehyun, dia menghabiskan seluruh isinya. Tiba-tiba, sekelilingnya seakan berputar. Pandangan matanya menjadi buram. Genggamannya melonggar, membuat gelasnya jatuh ke lantai. Naeun menjambak rambutnya sendiri, berusaha menghilangkan rasa pusingnya. Ia ingin menjerit, namun ia terlalu lemas untuk melakukannya.

“Aku membakar album fotoku…karena isinya mengerikan.” Tepat setelah Daehyun menyelesaikan kata-katanya, Naeun terjatuh tak sadarkan diri.

To be continued

10 thoughts on “[FF] Stepbrother part 4

  1. aminocte says:

    Aaaakkk..baca part ini makin bikin deg2an dan emosi campur aduk, mulai dari masa lalu Daehyun, (omg yunho is so.. evil), sweet2 ga jelas pas adegan Daehyun-Naeun di kafe, misterius pas bagian bangster conference dgn nana, syok pas Nana ketemu lawan mereka di Jerman, dan itu, apa-apaan? Daehyun mau ngapain Naeun? Tegaaa

    Lanjut Nis, ah, ngiri nih sama ceritamu yang keren😀

    • sungheedaebak says:

      moodnya acak-acakan ya (?) wkwk aku seneng bikin part ini gatau kenapa…meskipun rada stuck pas pemilihan kata. tapi enjoy sama alurnya wkwk

      hayo daehyun mau ngapain~
      makasih nee-chan!! :*

  2. vidiaf says:

    pertama liat postingan ini, shock liat foto nana .___. /eh /apasih
    part ini geregetnya ada tegangnya juga ada >///<
    tapi kok naeun dikasih minuman aneh? *nunjuk bagian akhir*
    tegang pas nana didatengin orang asing sama adegan tembak-tembakannya o_o
    dan penasaran sama yunho, apakah bakal ada something pas di penthouse gd?
    i'm so curious yeah~~!! *nari sherlock*
    ditunggu next partnya~~

  3. Seorimlee says:

    Gilee si yunho jahat bgt ke adeknya sendiri.. Bayangan si dae kecil lucu bgt nih haha..
    Ganyangka nananya bakal mati secepat ini padahal dia keren banget ..
    Agak cemburu sama daehyun walau dae bkn bias aku bgt tapi disini dia ketjie bgtlah. (?) dan jongup… Dia ga jd bangster ya…

    Itu tbc nya ketjie bgt emg kayaknya si dae gabisa diremehin gitu aja tapi pleaseeeeee thor smg nantinya si dae gabung sama bangster ajakin jongup juga wkwk. Soalnya kalo dae dipihak bokapnya itu ……..bangster gapunya harapan lg dong.

    Thor semangaat aku tunggu next partnya

  4. kim hyun neul says:

    Foto nana nya… hot ya? hehehe part ini bikin emosi naik turun, pas daehyun berdua sama naeun so sweet sekali~ aku juga mau dipegang tangannya sama daehyun *jealous* next partnya aku baca langsung ya hyuk sunbae ><

  5. dorky Mint says:

    Apa ini?! Kepercayaan yang dikhianati? Sunghee benar-benar pandai meramu kata. Gregetan sama dynamic trio (yong, jae, himi). Semoga mereka bertindak cepat menyelamatkan Naeun (yang mungkin) dalam bahaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s