[FF] Milk

Milk

Genre: Romance, Fluff

Cast:

min hyosun3

Min Hyosun

yu ha min 36

Yu Ha Min

= = =

Pukul 6 pagi hari, Min Hyosun sudah siap berdiri di dekat jendela. Ia menatap ke arah jalanan, menanti seseorang yang akan datang sebentar lagi. Pukul 6 lewat 15 menit. Hyosun melirik jam dengan tidak sabar. Masih lima belas menit lagi. Tanpa sadar, dia menggigiti kukunya.

Tepat sesuai jadwal, pemuda itu datang. Dia meletakkan botol-botol susu di depan pintu rumah Hyosun dan mengambil botol yang kosong. Dia lalu menengadah ke atas, menatap ke arah jendela kamar Hyosun. Gadis itu tertegun. Dia hanya bisa menatap pemuda itu sebelum dia berbalik dan kembali mengayuh sepedanya menelusuri rumah demi rumah untuk mengirim susu.

Ya, pemuda itu adalah pengantar susu. Si pengantar susu – begitu Hyosun menyebutnya karena dia tidak tahu namanya – sudah mencuri hati Hyosun semenjak pandangan pertama. Hyosun tenggelam dalam tatapannya yang tajam. Matanya sipit, membuat tatapannya semakin menarik. Pemuda itu hanya menatapnya sekilas, dan Hyosun pun langsung jatuh hati.

Setelah si pengantar susu itu pergi, Hyosun bergegas mandi dan melakukan rutinitasnya setiap pagi. Itu sudah terjadi sejak sebulan yang lalu. Sejak Hyosun pindah ke rumah barunya. Awalnya dia enggan pindah kemari, tapi setelah melihat si pemuda pengantar susu, dia jadi bersemangat. Dia pun berangkat ke sekolah sambil tersenyum. Kejadian ini pun terus berlangsung sampai dua minggu ke depan.

Pagi itu, Hyosun sudah berdiri di tempat favoritnya sambil menatap ke arah jalanan kompleks yang tampak sepi. Ia melirik jam, sudah pukul 6.15 tapi yang ditunggu belum menunjukkan batang hidungnya juga. Hyosun menghela napas. Ia akan terus menunggu. Kembali dia melirik jam dindingnya. Sudah pukul 6 lewat 25 menit tapi si pemuda pengantar susu itu belum juga datang. Hyosun menggigit bibirnya. Ia gelisah tanpa sebab. Ia merasa gelisah karena lelaki yang tak dikenalnya tidak datang pagi ini.

“Hyosun-ah! Bangun!! Nanti kau terlambat!” seru ibunya dari luar kamar. Hyosun terperanjat. Dia bergegas mandi dan berangkat ke sekolah.

Min Hyosun tampak murung malam itu. Ia menelungkup di meja belajarnya. Buku pelajarannya terbuka lebar di depannya. Lampu belajar menyorotnya seakan sedang mengintrogasi. Tapi dia tidak mempedulikan itu semua. Ia merindukan si pengantar susu itu. Sudah sebulan dia tidak datang ke tempatnya. Memang ada pengantar susu lain yang menggantikan tugasnya, tapi dia hanya mau lelaki itu. Lelaki bermata tajam yang membuang satu detiknya untuk menatap ke arahnya.

“Kemana dia…” lirih Hyosun. “Apa dia baik-baik saja?”

Seminggu, dua minggu, hingga tak terasa sudah tiga bulan lelaki bermata tajam itu tidak datang lagi. Hyosun sudah putus asa. Lelaki itu tidak akan pernah kembali. Mungkin dia sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Hyosun tak lagi berdiri di depan jendela selama lima belas menit. Dia sengaja bangun lebih siang dari biasanya agar tidak tergoda untuk melihat keluar jendela. Dia tahu bukan lelaki itu yang datang. Buat apa repot-repot bangun pagi.

Setelah sarapan, ia menggendong tasnya dan melangkah keluar. Ia membuka pintu dan tertegun. Seseorang sedang mengambil botol-botol susu yang kosong dan menggantinya dengan botol lain yang masih terisi penuh. Lelaki itu lalu berdiri tegap dan menatap Hyosun. Dia tersenyum tipis sebelum berbalik dan kembali mengayuh sepedanya. Hyosun mengerjapkan matanya. Itu dia, dia si lelaki bermata tajam itu. Dia kembali!

Hyosun ingin sekali mengejar lelaki itu, tapi kakinya tidak bisa diajak kompromi. Ia mematung di depan pintu sambil menatap ke belokan tempat lelaki itu menghilang. Perlahan, sebuah senyum mengembang di bibirnya. Dia melangkahkan kakinya sambil tersenyum. Seakan-akan separuh hidupnya telah kembali.

Rutinitas Hyosun kembali seperti biasa. Dia bangun pukul 6 pagi, berdiri selama 15 menit di dekat jendela sambil menatap jalanan. Tepat waktu, lelaki itu datang pukul 6.15 tepat. Ia turun dari sepedanya dan mengambil sebuah keranjang berisi 4 botol susu. Lelaki itu lalu mengambil secarik kertas dari saku jaketnya lalu menengadah ke atas. Ia menunjukkan kertas itu pada Hyosun dan menyelipkannya di keranjang. Lelaki itu lalu meletakkan keranjang tersebut ke depan pintu rumah Hyosun dan mengambil botol-botol kosong.

Setelah lelaki itu pergi, Hyosun bergegas turun dan mengambil kertas yang tadi diselipkan lelaki itu. Hyosun membuka lipatannya dan bergegas membaca.

“Hi, aku Yu Hamin,” baca Hyosun. Seketika wajah Hyosun memerah. Yu Hamin. Itu nama lelaki bermata tajam itu. Yu Hamin. Hamin. Hamin oppa? Hyosun tersenyum sendiri.

“Kenapa kamu senyum-senyum? Bukannya sekolah ckck.” Ibunya menggeleng-geleng melihat kelakuan anak semata wayangnya itu.

“You are my sunshine of my life~ my sunshine of my heart~” Hyosun mendekap kertas tersebut di dada dan menari-nari sampai ke kamarnya.

“Dasar gila,” lirih ibunya.

Keesokan paginya, Hyosun bangun jauh lebih pagi dan bergegas mandi lalu bersiap-siap. Ia lalu menulis sesuatu di kertas dan menggenggamnya. Pukul  6 lewat 15, Hyosun sudah stand by di ruang tamu. Ia menatap keluar jendela sambil menyantap rotinya. Ketika lelaki itu datang, Hyosun bergegas membuka pintu dan berjongkok di depan lelaki yang sedang mengambil keranjang botol tersebut. Hyosun lalu menyelipkan kertas tersebut ke keranjang. Hamin menatapnya Hyosun dan tersenyum.

“Selamat pagi,” sapa Hyosun sambil tersenyum manis. Hamin hanya mengangguk dan bergegas pergi. Hyosun agak kecewa dengan balasan yang ia dapat, tapi tak apa. Melihat Hamin tersenyum saja sudah lebih dari cukup.

Malam itu, bulan bersinar dengan terang. Hyosun duduk di samping jendela, menatap ke arah langit. Ia lalu menggambar indahnya malam bertabur bintang itu ke buku sketsanya. Tanpa sadar, ia menggambar sosok lain. Ia menggambar sosok Yu Hamin di atas sepedanya, melayang di depan bulan yang bersinar terang. Hyosun tertegun. Ia lalu mengacak rambutnya frustrasi.

“Kenapa selalu teringat dengan dia…” bisiknya.

Tok…sesuatu menabrak jendelanya, menimbulkan suara yang bagi Hyosun, mengerikan.

Tok…suara itu lagi. Hyosun menoleh. Ia lalu membuka jendelanya dan melihat ke bawah. Ia terkejut melihat Hamin berdiri di sana dan tersenyum lebar padanya. Ia melambaikan tangannya, mengisyaratkan agar Hyosun turun untuk menemuinya. Hyosun, tentu saja menyanggupi.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Hyosun heran. Hamin hanya tersenyum dan mengedikkan kepalanya, menyuruh Hyosun mengikutinya. Hyosun, seperti dihiptonis, kembali menurut. Hamin menaiki sepedanya, Hyosun pun duduk di boncengannya. Hamin mengendarai sepedanya menuju sungai Han.

Pemandangan sungai Han pada malam hari memukau Hyosun. Air sungai yang jernih memantulkan cahaya lampu perkotaan. Mata Hyosun berbinar.

“Aku jarang ke sungai Han pada malam hari…aku tidak tahu kalau pemandangannya seindah ini.” Hyosun lalu menatap Hamin. Lelaki itu tidak pernah berbicara padanya. Hamin hanya menatap ke hamparan sungai Han yang indah sambil tersenyum tipis.

“Kamu sering ke sini?” tanya Hyosun. Hamin mengangguk.

“Kenapa kau tidak pernah bicara padaku?” tanya Hyosun lagi. Hamin menoleh padanya. Ia lalu menggerakkan jarinya. Hyosun tertegun. Itu bahasa isyarat. Hamin tidak bisa bicara, itulah mengapa dari awal pertemuan ia tidak pernah mendengar suaranya.

Hamin menaikkan alis. Ia kembali menggerakkan jarinya. Hyosun berusaha keras menangkap maksudnya.

“Leherku tertembak, pita suaraku putus.”

Hyosun merasakan sesak di dadanya. “Jangan bilang…waktu itu, kau tiga bulan tidak datang ke rumahku karena..ini?”

“Iya. Saat aku sedang berjalan-jalan di sini, ada peluru nyasar…suatu keajaiban aku tidak mati.”

Hyosun menitikkan air mata. Ia menatap lelaki di hadapannya. Hamin sedang menatapnya dalam. Hyosun lalu mengalihkan tatapannya pada leher lelaki itu. Benar, ada bekas jahitan di sana. Hyosun menggigit bibir. Hamin pasti kesakitan. Tidak mudah menerima takdir yang pahit memang. Hyosun tahu itu. Maka dari itu, ia ingin membahagiakan Hamin. Ia ingin menghiburnya di kala sedih, membagi air matanya.

Hyosun mengulurkan tangannya, menggapai bekas jahitan di leher Hamin dan merabanya. Hamin menggenggam tangan Hyosun.

“Masih sakit?” tanya Hyosun. Hamin menggeleng.

“Kau tahu….aku sangat merindukanmu. Mungkin ini aneh, tapi aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Kau selalu menatap ke arahku dengan matamu yang tajam itu. Aku…aku…” Hamin menaruh telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan agar Hyosun diam. Hyosun menurut. Hamin lalu menggerakkan tangannya lagi. Hyosun membacanya.

“Aku mencintaimu.”

Hyosun menutup mulutnya tak percaya. Cintanya terbalaskan. Yu Hamin juga mencintainya. Tidak ada yang lebih indah dari itu. Saking bahagianya, air mata Hyosun sampai menetes. Hamin menghapusnya dengan kedua ibu jari. Hyosun lalu menghambur ke pelukan lelaki itu. Hamin mengelus rambut Hyosun dan mengecup puncak kepalanya lembut.

= = =

Hyosun melirik jam. Yap, waktu sudah menunjukkan pukul 6.15. Gadis itu membuka pintu rumahnya dan tersenyum menyambut kekasihnya. Hamin menunjuk dirinya sendiri lalu menunjuk Hyosun, mengisyaratkan kita. Kemudian dia menunjuk botol-botol susu yang ada di lantai.

“Aku dan kamu botol susu?” Hyosun mengerutkan kening. Hamin menggeleng.

“Kita berdua suka susu!” tebak Hyosun lagi. Hamin menggeleng lagi. Senyumnya mengembang.

“Lalu apa?” Hyosun berpikir keras sambil menatap ke bawah. Hamin lalu menepuk pundaknya. Hamin membuat bentuk hati dengan tangannya.

“Kita cinta susu?” Hyosun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hamin membuat gerakan memutar dengan tangannya.

“Oh susunan kalimatnya diputar? Susu cinta kita? Cinta kita susu?” Hamin menyatukan jempol dan telunjuknya, yang berarti OK.

“Cinta kita susu?” Hyosun makin tidak mengerti. “Aahhh..cinta kita semurni susu?” tebak Hyosun. Hamin mengangguk. Ia lalu mengacak rambut Hyosun gemas.

“Hehe aku pintar. Mana hadiahnya?” Hamin menunduk dan mencium bibir Hyosun lembut, membuat Hyosun terpaku di tempatnya. Hamin melepaskan ciumannya dan mengambil botol-botol kosong. Ia melambai pada Hyosun dan berlalu pergi.

Hyosun menyentuh bibirnya. Mukanya merah padam bak kepiting rebus.

“Hamin sialan…” ia tersenyum.

THE END

5 thoughts on “[FF] Milk

  1. aminocte says:

    aaaakkk…fluffy banget, manis kayak susu *eh*
    tapi hamin-nya kasian, mataku sampai berkaca-kaca pas hyosun tahu hamin ga bisa bicara gara-gara lehernya tertembak..
    tapi itu ibunya hyosun setuju ga ya? *plot ala sinetron* *eh*

  2. vidiaf says:

    sunbaeeee suka banget ceritanyaaa~ so sweet uuuu >///<
    Sedih pas tau leher hamin ketembak u,u
    suka endingnya hohoho~
    Btw tumben castnya ulzzang .-.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s