[FF] Stepbrother part 3

A/N: Kembali setelah mandet ide lagi. wakwak. enjoy ^^

Jung Daehyun

Jung Daehyun

= = =

Naeun berlari menyusuri jalanan ke sekolahnya dengan cepat. Sesekali ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sial, sebentar lagi bel berbunyi. Ia menolak tawaran Yongguk untuk pergi bersama. Alhasil, ia memutuskan untuk naik bus dan ternyata keputusannya itu salah.

Naeun melihat gerbang sekolahnya di depan mata. Seorang satpam sedang menutupnya. Naeun segera mempercepat larinya.

“Tunggu!!! Jangan ditutup dulu!” teriaknya. Namun sayang, ia terlambat. Gerbang sudah ditutup. Itu berarti Naeun tidak bisa mengikuti pembelajaran hari ini. Naeun mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Sia-sia saja dia berlari dari ujung jalan hingga kemari kalau ujung-ujungnya tidak bisa masuk juga.

“Ah, sial!” Naeun menoleh melihat seseorang yang berdiri di sebelahnya, ngos-ngosan juga. Itu Jung Daehyun. Seragamnya basah oleh keringat, rambutnya acak-acakan. Pasti dia juga berlari ke sini.

“Oh, kau gadis yang waktu itu!” seru Daehyun saat melihat Naeun. Naeun hanya bisa mengangguk, terlalu capek untuk bicara.

“Oke, aku tahu jalan rahasia untuk masuk ke sekolah. Ikut aku.” Daehyun menarik tangan Naeun dan berlari ke sisi lain sekolah. Naeun membelalakkan matanya. Wajahnya memerah. Ia bersyukur hari ini lalu lintas padat dan suara klakson dimana-mana, meredam suara degup jantung Naeun yang kencang.

“Tembok di sini lebih pendek. Aku biasa memanjat dari sini.” Daehyun melepaskan genggamannya dan melihat ke atas. Ia lalu berlutut. Naeun menatapnya dengan kaget.

“Ayo, naik. Di sebelah tembok ini ada bangku, kau bisa menjejakkan kakimu ke sana. Jangan khawatir, tidak akan jatuh.” Daehyun tersenyum meyakinkan. Naeun menatapnya ragu. Ia lalu menelan ludah dan menginjakkan kakinya ke pundak Daehyun. Perlahan, Daehyun berdiri. Ia hendak melihat ke atas namun Naeun langsung memprotesnya.

“YAH!”

“Ma-maaf aku lupa. Aku hanya ingin memastikan kau menggapainya….” Daehyun menunduk. Naeun menggigit bibir bawahnya dan berusaha melewati tembok yang tinggi tersebut. Berhasil, namun tembok itu masih terlalu tinggi. Ia menginjak ujung bangku, kehilangan keseimbangan, dan terjatuh. Dia mengaduh kesakitan.

“Kamu nggak apa-apa?” seru Daehyun dari seberang.

“I…iya..” rintih Naeun. Tak berapa lama kemudian, Daehyun melompat dari seberang tembok. Gerakannya sangat lincah dan sepertinya dia memang sudah biasa memanjat tembok ini. Ia lalu mengulurkan tangannya pada Naeun. Naeun menyambutnya. Daehyun membantu Naeun berdiri dan kembali berlari, menarik Naeun di belakangnya. Naeun menggenggam tangan Daehyun erat, seakan tidak mau kehilangannya. Daehyun tersenyum.

= = =

Lagi, Naeun mendengus melihat Yongguk berdiri di sebelah mobilnya yang diparkirkan di dalam gerbang sekolah. Ia memakai kacamata hitam, kepalanya menoleh ke arah kiri, tempat para siswa bermain bola. Kedua tangannya dimasukkan ke saku. Kalung berbandul peluru berwarna kuningan tergantung dengan keren di lehernya. Mulutnya terlihat sedang mengunyah sesuatu. Mungkin permen.

Dan lagi, Minah terpesona dibuatnya.

“Yongguk oppa jjang!!” pekiknya tertahan. Naeun memutar bola matanya.

“Ayo cepat pergi. Aku tidak mau bertemu dengannya.” Naeun menarik tangan Minah dan menyeretnya pregi dari tempat itu. Secepat mungkin sehingga Yongguk tidak menyadarinya. Dan mereka berhasil. Yongguk tetap tidak bergeming. Naeun menoleh ke belakang. Aneh. Biasanya Yongguk selalu menyadari kedatangannya. Atau malah…dia datang ke sini bukan untuk menjemputnya?

Sudahlah, Naeun tidak mau tahu. Itu bukan urusannya.

Sementara itu, Yongguk terus memperhatikan satu orang yang sedang menggiring bola. Itu anak yang ditemuinya kemarin. Ia harus bicara padanya sekarang juga.

Tak lama kemudian, latihan sepak bola itu selesai. Para anggotanya langsung melepas lelah. Ada yang tiduran di lapangan, minum, duduk di bangku penonton, bahkan ada yang membuka bajunya karena kegerahan. Yongguk menegakkan tubuhnya. Anak itu hanya mengelap keringatnya sebentar dan meminum air mineral, lalu langsung pergi dari tempat itu.

Ketika anak itu sudah ada di depan mata, Yongguk menghadangnya. Cowok itu menatapnya bingung.

“Kau masih ingat aku?” kata Yongguk. Cowok itu mengerutkan kening.

“Maaf, Anda siapa?”

“Ini aku, Daehyun-ah.” Yongguk melepas kacamata hitamnya. “Sudah lupa ya?”

Daehyun membelalakkan matanya. Dia nyaris menjatuhkan tas yang disampirkan di pundaknya. Ia tidak percaya melihat siapa yang berdiri di hadapannya kini. Dia pahlawannya. Orang yang sangat disanjungnya. Penerus Bangsters, Bang Yongguk.

“Hyung…” Hanya kata itu yang bisa terucap dari mulut Daehyun.

“Yeah, kau ada waktu? Bisa kita mengobrol sebentar?”

“Oh, tentu.” Daehyun pun masuk ke dalam mobil. Yongguk membawanya ke sebuah perumahan lama. Daehyun tahu dimana itu. Dia sudah tahu kemana Yongguk akan membawanya pergi.

Yongguk memarkirkan mobilnya di pinggir sebuah taman kecil. Ia lalu turun dari mobil dan berjalan mendekati wahana permainan anak-anak yang sudah berkarat. Tempat ini sudah lama ditinggalkan. Wajar saja bila keadaannya tidak terawat. Dedaunan kering yang jatuh dari pohon ek tua yang ada di sebelah ayunan menutupi tanah.

Yongguk membersihkan ayunan tua itu dari daun dan mendudukinya. Meski sudah lama, permainan-permainan ini masih bisa digunakan. Ia lalu menatap ke arah Daehyun yang sibuk memperhatikan sekitarnya.

“Sudah lama ya?” ujar Yongguk. Daehyun mengangguk.

“Rasanya sudah berapa tahun aku tidak kemari. 10? Aku meninggalkan tempat ini saat umur 5 tahun. Berarti 13 tahun sudah berlalu.”

“Ya…13 tahun. Bagaimana kabarmu?” Yongguk mulai mengayun pelan.

“Baik. Aku yakin kau juga. Kau kelihatannya tidak pernah sakit.” Daehyun menatap hyung-nya itu.

Yongguk tersenyum tipis. “Sakit kok. Cuma gak kelihatan aja.”

“Ada apa? Kau kemana saja hyung…”

“Dengar, aku tidak punya banyak waktu untuk bertele-tele, aku hanya ingin tahu satu hal. Kau menyukai Son Naeun?” Yongguk menatap Daehyun tajam. Daehyun membalas tatapan itu dengan mata yang tak kalah tajam.

“Kalau iya kenapa?”

“Kalau begitu jangan pernah sakiti dia. Aku mempercayakannya padamu.”

Daehyun mengangkat kedua alisnya. “Maksud hyung?”

“Naeun tampak bahagia denganmu. Aku senang melihatnya. Dia bisa tersenyum-senyum sendiri sambil melihat foto seseorang. Itu fotomu, Dae. Jadi…kalau kau benar-benar menyukainya, jangan pernah menyakitinya. Kalau tidak, kau akan berhadapan denganku.”

“Baiklah. Aku tidak akan menyakitinya.”

“Kau janji?”

“Ya. Aku janji.”

“Oke. Aku memegang ucapanmu. Itu saja yang ingin kukatakan.” Yongguk berdiri dan berjalan menuju mobilnya. Ia lalu membuka pintu mobil.

“Apa yang kau tunggu? Ayo kita beli makanan. Aku lapar.”

Daehyun tersenyum cerah. “Cheesecake, hyung.”

“Boleh. Setelah ramen.”

“Asyik!” Daehyun melompat ke dalam mobil.

= = =

Naeun melahap roti coklatnya sambil duduk manis di ruang TV. Ia sedang memerhatikan berita yang disampaikan untuk keperluan tugas sekolahnya. Sesekali tangannya menulis sesuatu di buku catatannya. Ketika sedang asyik menulis, Yongguk membuka pintu dan melangkah masuk. Naeun meliriknya. Kakaknya itu tampak lebih letih dari biasanya. Ia bahkan tidak memberi salam dan langsung melangkah ke kamarnya.

Naeun menggigit rotinya lagi. Firasatku saja atau….pipi Yongguk memang memar? Bekas tonjokan? batinnya dalam hati. Ia menelan rotinya dan merenung. Sebenaranya…apa pekerjaan Yongguk? Ia sendiri tidak pernah mencari tahu. Setahu dia, Yongguk selalu keluar rumah di atas jam 9 malam. Pulang ke rumah sekitar jam 3, lalu jam 6 dia sudah menyiapkan keperluan pagi hari Naeun.

Naeun lalu berjalan perlahan ke kamar Yongguk. Sepi. Sepertinya Yongguk langsung tertidur. Naeun mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Ya, benar saja. Yongguk tertidur dengan posisi telentang. Bajunya dibuka, seakan sedang memamerkan abs dalam tidurnya. Naeun menyipitkan matanya, berusaha melihat lebih jelas.

Luka? Badannya penuh luka?

Naeun lalu menutup pintu kamar Yongguk. Ia lalu terdiam. Ia mulai penasaran pekerjaan apa yang sebenarnya dilakukan Yongguk untuk membiayainya. Jadi brandalan? Rampok? Penculik? Berbagai pekerjaan buruk terlintas di otak Naeun. Lagipula, pekerjaan baik apa yang dilakukan oleh mafia di malam hari? Pasti Yongguk merampok. Kalau tidak, darimana uang sebanyak itu.

Naeun menjatuhkan tubuhnya di kursi. Matanya lurus ke arah TV namun tatapannya terlihat kosong. Ia lalu meraih remote dan mematikan TV. Hening. Sangat hening sampai suara nafas Yongguk yang teratur terdengar sampai sini. Naeun menghela napas. Ia membereskan peralatannya dan berbaring di sofa. Ia termenung selama beberapa saat sebelum akhirnya jatuh tertidur.

Malamnya, Yongguk terbangun. Ia melihat sekeliling dengan bingung. Nampaknya kemarin ia kecapekan dan langsung jatuh terlelap. Ia membelalak ketika melihat jam dindingnya menunjukkan pukul 8 malam. Astaga, ia belum memasak untuk makan malam. Yongguk langsung melompat turun dari tempat tidurnya dan bergegas menuju dapur. Meja makan tampak kosong.

“Astaga aku lupa..” Yongguk segera membuka lemari pendingin dan mengambil bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat spaghetti carbonara. Namun, ia tertegun. Rumah tampaknya sepi. Biasanya, selalu ada suara musik yang terdengar dari kamar Naeun. Ia lalu mendengar suara nafas Naeun yang teratur. Yongguk berjalan menuju sofa ruang TV dan tersenyum melihat Naeun sedang tertidur pulas di sana. Yongguk lalu mengambil selimut dari kamarnya dan menyelimuti Naeun. Ia lalu termenung lama menatap sosok adiknya yang sangat manis ketika terlelap.

“Maafkan oppa….oppa tidak bisa memberikan apa yang kamu mau. Tapi, oppa selalu berusaha untuk membahagiakanmu. Oppa mencintaimu, saengie.” Yongguk tersenyum dan mencium kening Naeun sekilas sebelum kembali ke dapur dan menyiapkan makan malam.

Pukul 9 tepat, Yongguk keluar rumah. Setengah jam kemudian, Naeun terbangun. Ia menyentuh keningnya.

“Sepertinya…ada yang mencium keningku ..ah mungkin hanya mimpi.” Naeun duduk dan matanya langsung mengarah ke meja makan. Spaghetti carbonara kesukaannya sudah tersedia dengan rapi di atas meja. Ia lalu melirik jam. 21:30 KST. Yongguk pasti sedang bekerja. Naeun mendengus. Dia tidak peduli. Atau…dia pura-pura tidak peduli.

= = =

Yongguk menekan klakson mobilnya, mengisyaratkan seseorang untuk membukakan pintu garasi untuknya. Tak lama kemudian, garasi itu terbuka secara otomatis dan Yongguk pun meluncur ke dalam basement. Hingar bingar suara musik langsung menyapanya. Dari luar, ini memang hanya rumah biasa dengan sebuah garasi kecil. Tapi ketika kau membuka garasinya dan masuk ke basement, kau akan langsung disambut dengan huru-hara kehidupan malam.

Ini biasa bagi Yongguk. Markas Bangsters ini memang miliknya. Ia dan sahabatnya, Himchan, yang memutuskan untuk membuat markas ini. Markas ini hanya untuk bangsters yang masih muda. Istilahnya, tempat para muda-mudi bangsters bersenang-senang. Bang Yongshik dan tetua lainnya tidak tahu ada tempat ini.

“Hey-yo, Jepp!! Wussup?” Zico langsung menyalaminya. Yongguk mengangguk dan menepuk pundaknya. Ia terus berjalan ke sudut basement, tempat seorang lelaki sedang asyik mencumbu beberapa wanita. Yongguk berdiri di hadapan lelaki yang asyik dikelilingi para wanita cantik tersebut. Sadar ada yang memperhatikan, lelaki itu melepaskan ciumannya dan leher seorang wanita dan menatap Yongguk.

I need your help, G-Dragon.” G-Dragon, yang biasa dipanggil GD, mengangkat sebelah alisnya.

What can I do?” GD melepaskan dirinya dari sentuhan-sentuhan para wanita tersebut dan melangkah mendekati Yongguk. Mereka berhadapan.

“Informasi.”

“Uh-huh.” GD melangkah ke sebuah ruangan kaca yang ada di sudut ruangan lain. Mereka menyebutnya ruang control karena berisi berbagai macam gadget yang bisa dipakai untuk menyusun strategi, mata-mata, radar, dan sebagainya.

Yongguk menoleh pada Himchan dan Hyeri – kekasihnya – yang sedang asyik berciuman di sofa.

You two, get a room.” Yongguk tersenyum setengah sebelum menyusul GD ke ruang control. Himchan langsung melepaskan ciumannya. Dia terkekeh.

“Tunggu sebentar, sayang.” Himchan mengecup pipi Hyeri sebelum berlari menyusul Yongguk. Di sana, sudah ada Yoo Youngjae yang sedang asyik merancang senjata dengan komputernya. GD sendiri duduk di kursi lain dan mulai serius dengan komputer di hadapannya.

“Yo, Brain Jae, kau membuat senjata apalagi kali ini?” sapa Yongguk.

“Aku ingin membuat senjata yang tidak menimbulkan suara, Hyung. Jadi kita bisa menembak dimanapun tanpa ketahuan oleh orang lain. Orang-orang bisa saja mengira dia terkena serangan jantung.” Youngjae mengangkat bahu. Yongguk mengangguk-angguk.

“Anak itu sudah seharian ini berada di depan komputer. Aku khawatir matanya langsung minus seratus.” GD berkata sambil mengetikkan sesuatu di keyboardnya.

“Tenang, Hyung. Aku sudah menciptakan kacamata anti radiasi.” Youngjae menunjuk kacamata yang dikaitkan di kerah kausnya dengan bangga.

“Itu dia. Brain Jae dengan alat-alat anehnya.” GD mengklik mouse-nya dan layar komputer langsung menunjukkan sebuah daftar.

“Kau mencari apa, Yong?” tanya Himchan. Hanya dia yang berani memanggil Yongguk dengan nama aslinya. Yang lain memanggilnya Jepp Blackman.

“Tentang anak sulung Jung Daeryong. Dia masih di penjara, kan?”

“Jung Yunho?” celetuk Youngjae. Ia menghentikan kegiatannya dan menatap Yongguk.

“Ya, dua tahun lagi dia baru boleh dibebaskan.” GD berkata sambil men-scroll mouse-nya. “Ada apa?” GD menengadah menatap Yongguk.

“Aku melihatnya di dalam mimpiku…dia membunuh adikku.” Yongguk berkata dengan pelan. Himchan langsung terbahak. Youngjae menganga menatapnya tak percaya, sedangkan GD hanya berdecak kesal.

Man, kau mengganggu waktuku yang berharga hanya untuk ini?” GD hendak mematikan komputernya, namun Yongguk langsung mencegahnya.

“Tunggu sebentar.” Yongguk mengambil alih mouse dan mengklik profil Jung Yunho. Ia lalu membacanya dari awal sampai akhir. Dia lalu membuka profil Jung Daehyun, anak bungsu Jung Daeryong.

Yongguk terdiam beberapa saat. “Entahlah….aku punya firasat buruk.”

“Tentang Daehyunie?” celetuk Youngjae lagi. Yongguk menatapnya.

“Daehyunie? Kau mengenalnya dengan baik?”

“Yah…dia sekelas denganku waktu SMP.” Youngjae mengedipkan matanya, bingung. “Dia orangnya sangat baik. Woman killer. Aku ingat dia pernah dapat puluhan cokelat saat hari Valentine. Semua gadis menyukainya kurasa.”

Youngjae mengambil jeda sebelum melanjutkan, “Aku tidak tahu dia punya kakak sebejat Jung Yunho. Aku pernah melihat Yunho sekali, dia kelihatannya baik kok. Hanya…sedikit sangar. Ya, seperti Jepp…” Youngjae melirik Yongguk dengan takut. Yongguk menatapnya tajam.

“A-aku hanya…menyampaikan opiniku.” Youngjae berdeham dan kembali serius dengan rancangan senjatanya.

Woman killer?” Himchan berbisik. “Yong, memangnya ada apa dengan Jung Daehyun?”

“Aku sedang memata-matainya.”

“Bukannya dia sudah kau anggap seperti adik sendiri?” tanya Himchan lagi.

“Ya. Tapi, dia adik Jung Yunho. Kau tahu dia berada di pihak mana.”

“Daehyun baik kok…dia suka menolong orang lain..” Youngjae berkata dengan pelan. Daehyun adalah sahabat baiknya semasa SMP, wajar saja dia tidak terima sahabatnya dibilang berbahaya. Yongguk kembali menatapnya tajam.

“Nak, sebaiknya kau diam,” saran GD.

“Apa yang perlu ditakuti dari seorang Jung Daehyun? Dia kelihatan lemah tak berdaya. Lihat, dia bahkan trauma melihat pistol. Ya Tuhan, adik seorang Jung Yunho takut pada senjata?”  Himchan mencemooh. GD hanya terdiam.

“Ah, aku lapar..” Youngjae menyimpan pekerjaannya dan berjalan keluar ruangan.

My Hyeri, I’m coming~” Himchan pun menyusul keluar ruangan. Tinggal Yongguk dan GD yang terdiam di ruangan itu.

“Hey..kalau kau butuh sesuatu, panggil aku saja.” GD kembali mengendalikan mouse-nya. Yongguk menatapnya. Ia menaikkan alis ketika melihat GD malah bermain games.

“Bagaimana dengan gadis-gadismu di luar sana?”

“Hey man, gara-gara kau aku jadi kehilangan gairahku. Aku ingin main game saja.” GD lalu serius bermain game. Yongguk terkekeh.

“Nanti kubelikan wine.” Yongguk melangkah keluar ruangan. GD hanya tersenyum.

= = =

 “Tahanan 1293, ada yang ingin menemuimu.” Seorang sipir membuka pintu penjara dan menarik tahanan 1293 keluar. Dua sipir lain berdiri di masing-masing sisi tahanan tersebut dan menggiringnya ke tempat pertemuan. Sipir itu mendorong tahanan 1293 ke ruangan dan mengunci pintu. Tahanan 1293 menyeringai melihat siapa yang datang menjenguknya. Dia menduduki kursi di hadapan orang itu dan mengangkat telepon yang menghubungkan mereka, agar suara mereka bisa terdengar, tidak terhalang oleh kaca.

Hello, Dad, long time no see you…hahaha.” Tahanan itu tertawa seperti sedang mabuk. Lelaki paruh baya di hadapannya hanya diam menatapnya tajam.

“Benar-benar membuat malu keluarga,” katanya dari seberang kaca.

“Uh-huh, jadi apa yang membawamu kemari, old man? Your limosin? Bugatti? Ferrari? Taxi?” Tahanan itu kembali terbahak.

“Aku punya berita bagus untukmu,” katanya langsung ke inti.

“Apa? Kau membelikan Lamborghini lagi untukku?” Tahanan itu tersenyum sinis.

“Jauh lebih baik dari itu.”

“Kalau begitu apa?”

“Aku sudah mengatur semuanya. Mereka mengurangi masa tahananmu.”

“Oh ya? Berapa lama?”

“Seberapa lama kau bisa membereskan barang-barangmu?”

Tahanan itu terdiam. Sebuah seringai penuh kemenangan terukir di wajahnya. Dia menatap ayahnya dengan senang.

“Ini kabar terbaik yang pernah kudengar.”

Tahanan 1293 pun di bebaskan. Ia tertawa dengan senang. Ia melangkah keluar dari penjara sambil mengepalkan tangannya ke udara.

“YES! Freedom!” serunya. Ia tertawa lepas. Sedetik kemudian, tawanya terhenti. Raut wajahnya berubah bengis. Ia mengepalkan tangannya yang sudah ia turunkan dengan marah. Urat-uratnya sampai menonjol dibuatnya. Matanya menatap tajam ke satu titik. Ia tersenyum setengah.

You’re dead meat, Bang Yongguk.

To be continued.

11 thoughts on “[FF] Stepbrother part 3

  1. vidiaf says:

    tebakanku di part sebelumnya bener~ anak itu si daehyun kan .-.
    Makin ke sini jadi makin penasaran~
    Penasaran sendiri sama penyebab yunho di penjara, terus kenapa yunho semacam dendam sama yongguk ._.
    Ditunggu lanjutannya~ xD

  2. kim hyun neul says:

    Owowow sunbae, asli keren banget!!!! disini bias aku keluar semua~ daehyun sama youngjae x) itu yunho kenapa jadi kayak setengah gila begitu? ckckckck. aku suka karakter yongguknya. bertanggung jawab banget. mau deh punya kakak kayak gitu! kalo aku jadi naeun sih udah nosebleed duluan liat yongguk topless ㅋㅋㅋditunggu chapter selanjutnya~

    • sungheedaebak says:

      gatau ya si yunho ‘-‘ bias aku yongguk dong /gananya
      ih sama mau banget punya kakak kayak yongguk awawa makanya dibikin begini wkwk
      haha iya siap thanks yaaa :*

  3. aminocte says:

    udah lama gak mampir,. eh blognya nisa-chan udah ganti tema..
    ahh..adegan yongguk-naeun itu sesuatu…brother complex langsung kumat deh..
    dan apa-apaan itu yunho bebas gitu aja? ckckck…payah nih aparatnya bisa disumpel pake duit *eh*
    penasaran deh pertarungan yunho vs yongguk, dan kira2 daehyun di pihak siapa ya? lanjuutt

  4. seorimLee says:

    Searching ff BAP ketemu ini. Ampun keren banget serius!!!!

    Suka sama karakter yongguknya, keren banget jadi gila pengen punya abang(?). Suka sama karakter dahyun yang ampun deh minta dicintai dan dinikahi.. Naeun juga karakternya pas gitu. Suka banget sama ceritanya. Suka sama authornya /eh.

    Yunho semacem psycho huhu semoga daehyun mihaknya ke naeun dan yongguk. Ampunlah yongguk-daehyun juga sweet bgt itu hubnya. Terus daejae jg wow. HADUH THOR LANJUTIN YA. AYO SEMANGAT(?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s