[FF] Stepbrother part 2

A/N: Part 2 yang akhirnya jadi setelah mandet ide. Enjoy.

apink naeun 15

Son Naeun

= = =

Tok tok tok.. ketukan suara pintu membangunkan Naeun dari tidurnya. Ia menggeliat dengan malas di dalam selimut. Hari ini dingin sekali, tiduran sambil selimutan kan enak..

“Naeun-ah, bangun! Kau harus ke sekolah. Ini hari Senin.” Suara Yongguk terdengar dari luar pintu.

“Geez…” Naeun mendengus. “Perlu dipertegas kalau sekarang itu Monster Day?” lirihnya.

“Naeun-ah! Nanti kau terlambat!” Suara berat kakaknya itu terdengar lagi.

“Iya bawel,” balas Naeun kesal. Ia lalu menyeret langkahnya ke pintu dan membukanya. Terlihatlah Yongguk yang berdiri tegak di hadapannya. Ia mengenakan kaus putih polos tanpa lengan dan celana training hitam. Kalung berbandul kampak tergantung di lehernya yang jenjang. Rambutnya yang berwarna coklat masih berantakan, tanda belum disisir.

“Aku sudah menyiapkan sarapan. Kau cepat mandi,” katanya sebelum pergi ke lantai bawah.

Naeun menghela napas. Ia lalu segera mandi dan bersiap-siap. Setelah memastikan bahwa penampilannya oke, ia pun menghampiri Yongguk yang sedang menonton TV, menunggu Naeun sarapan. Makanannya belum disentuh sama sekali.

Naeun langsung duduk dan menyantap sarapannya tanpa menyapa Yongguk sama sekali. Yongguk mematikan TV dan mulai melahap makanannya. Suasana sangat sepi. Mereka berdua terhanyut dalam pikiran masing-masing. Diam-diam, Naeun melirik Yongguk. Sebenarnya lelaki itu tampan, dia juga tinggi dan tubuhnya tegap. Tapi, ekspresi wajahnya yang biasa datar dan terkesan menyeramkan membuat Naeun kadang-kadang takut dengan kakaknya ini. Apalagi ia anak dari mafia kelas kakap, Bang Yonghwa.

Sekilas Naeun pernah melihat berita tentang mafia itu. Ia mati terbunuh ketika sedang menyerang J Company. Dari dulu, Bangsters – begitu panggilan anggota mafia Bang – dan J Company memang tidak bersahabat. Mereka seringkali terlibat konflik. Dan saat sedang terlibat konflik. Bang Yonghwa terbunuh oleh Jung Daeryong, ketua J Company.

“Kenapa menatapku seperti itu?” Suara Yongguk membuyarkan lamunan Naeun. Ia segera tersadar dan meneguk susu hangatnya.

“Tidak ada apa-apa. Aku berangkat sekolah dulu.” Naeun mengambil tasnya dan bergegas keluar rumah.

“Ayo kuantar.”

“Tidak usah, aku naik bus saja.”

“Naik bus lama.” Yongguk mengambil kunci mobilnya dan berjalan mendahului Naeun. Gadis itu hanya bisa menurut.

Sampai di sekolah, Yongguk hendak memarkirkan mobilnya di dalam sekolah tapi dilarang oleh Naeun. Maka ia terpaksa menepikan mobilnya di depan gerbang. Naeun keluar dari mobil dan langsung pergi, tanpa mengucapkan terima kasih sedikitpun.

“Naeun-ah!” seru Bang Minah, teman dekat Naeun. Ia langsung memeluk Naeun erat. “Kamu udah nggak apa-apa?” tanyanya.

Naeun mengangguk. “Gapapa.”

“Kamu diantar siapa?” Minah melongok ke arah mobil sedan hitam yang masih terparkir di depan gerbang. Terlihat Yongguk yang sedang menatap tajam ke arah mereka. Memastikan Naeun aman. Yongguk lalu memutuskan untuk pergi dari tempat itu.

“Astaga, tampannya!!” Minah nyaris menjerit. “Siapa dia, Na? Pacarmu? Ya ampun tampan sekali!!”

Naeun menghela napas. “Dia kakakku.” Ia lalu berjalan mendahului Minah yang masih terpesona.

“Kakak?” Minah mengerutkan kening. Ia lalu mengejar Naeun dan merangkulnya. “Hey, aku tidak tahu kau punya kakak. Kamu kan anak tunggal.”

“Kakak tiri,” balas Naeun dengan malas. Minah semakin bingung.

“Naeun-ah aku nggak ngerti.”

“Aku juga,” balas Naeun datar.

= = =

Yongguk menepikan mobilnya ke depan sebuah toko bunga. Ia terdiam selama beberapa saat. Ia ragu-ragu antara menginjak kembali pedal gas atau turun dan menemui pemilik toko tersebut. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di kemudi. Lalu ia melongokkan kepalanya, berusaha melihat ke dalam toko bunga tersebut. Namun, tidak terlihat apa-apa.

“Ah, terserah.” Yongguk lalu memutuskan untuk turun dan melangkah ke dalam toko bunga tersebut. Ia mendorong pintu kacanya, membuat lonceng di atas pintu tersebut bergemerincing.

“Selamat datang,” sapa si pemilik toko dengan riang. Yongguk hanya terpaku di tempatnya berdiri. Pintu kaca tertutup dengan perlahan di belakangnya. Ia terpana melihat sosok gadis di hadapannya. Gadis yang sudah lama tidak ditemuinya. Gadis yang pernah dan masih menempati hati Bang Yongguk hingga sekarang. Gadis yang dulu pernah dimilikinya.

“Ah, Yongguki..” katanya. Suaranya bagai alunan musik surgawi yang memanjakan telinga Yongguk saat itu. Gerlingan matanya bagai berlian paling indah di muka bumi. Sepasang mata itu menatapnya bingung. Yongguk tidak tahan melihat ekspresi itu. Ia ingin sekali merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.

“Jieun, kamu masih ingat padaku?” Kata-kata itulah yang keluar dari bibir Yongguk. Gadis yang dipanggil Jieun itu mengangguk.

“Tentu. Bagaimana bisa aku melupakanmu?” Hati Yongguk serasa digores pisau tajam. Gadis ini tidak bisa melupakannya, begitupun dengannya. Tapi, mereka tidak boleh bersama. Karena kebodohannya di masa lalu, Jieun harus merelakan pekerjaannya dan menjadi penjual bunga.

“Kau tidak banyak berubah.”

“Kau juga. Tapi sekarang kamu makin tampan hahahaha.” Yongguk tersenyum. Sudah lama tidak mendengar tawa gadis itu. Tawa yang sempat hilang setahun lamanya.

“Ji, aku ingin meminta bantuanmu,” kata Yongguk setelah mereka duduk berdua di taman belakang toko.

“Bantuan apa?” tanya Jieun sambil mengaduk tehnya.

“Ng..mungkin kedengarannya aneh. Er…bagaimana caranya mendekatkan diri pada adik?”

“Ha?” Jieun menatap lelaki di hadapannya dengan bingung. Setahu Jieun, Yongguk terlahir sebagai anak tunggal. Dari kecil ia hanya mengenal ayahnya yang memperlakukannya secara semena-mena. Jieun bahkan tidak tahu menahu soal ibunya. Dia tidak pernah mendengar kabar mengenai ibunda Yongguk. Dan sekarang lelaki ini tiba-tiba meminta saran padanya tentang bagaimana mendekatkan diri pada adik. Adik siapa?

“Oke, ceritanya panjang. Kau mau mendengarkan?” kata Yongguk akhirnya. Jieun mengangguk. Ia lalu menumpukan dagunya pada kedua tangan. Serius mendengarkan. Maka, Yongguk pun menceritakan semuanya dari awal sampai akhir, tanpa melewatkan sedikitpun detail. Jieun mengangguk paham.

“Aku rasa, Naeun tipe yang tidak suka didekati secara terang-terangan, jadi yang harus kau lakukan adalah perhatikan dia secara diam-diam. Hmm seperti memberikan dia kejutan-kejutan kecil yang tidak ia sadari. Nantinya dia akan sadar dan menjadi baik padamu. Sedikit demi sedikit.”

Yongguk mengangguk paham. I mengingat-ingat dalam hati apa saja yang dikatakan oleh Jieun.

“Yongguk-ah, kau masih menjadi bagian dari mereka?” tanya Jieun ketika ia selesai memberikan saran. Yongguk terdiam. Ia takut untuk menjawab pertanyaan tersebut. Takut melukai perasaan gadis itu.

“Masih ya..” Jieun menggumam. Yongguk mengangguk pelan.

“Apa mereka masih..membenciku?”

“Kurasa tidak.”

“Kau membenciku?”

“Tidak akan pernah.”

= = =

Naeun berusaha memfokuskan dirinya pada materi yang sedang diajarkan oleh Mr. Kang di depan kelas, namun ia selalu gagal. Compound sentences, complex sentences, tidak bisa diserapnya dengan baik. Pikirannya melanglangbuana ke satu orang. Jung Daehyun, kakak kelas yang selama ini ditaksirnya. Naeun terus memperhatikan Daehyun yang sedang asyik bermain bola di lapangan sekolah, yang letaknya kebetulan berada di sebelah kelas Naeun. Hanya saja kelasnya berada di lantai 2, namun tetap saja masih kelihatan sangat jelas dari sini.

Naeun menopang dagu dan menatap keluar jendela. Ia sungguh terpesona dengan pemandangan tersebut. Daehyun cukup mahir bermain bola. Bagi Naeun, itu sangat keren. Saking terpesonanya, ia bahkan tidak sadar bahwa sedari tadi Minah menyikut lengannya.

“Son Naeun, apa ada yang menjelaskan tentang materi ini di luar sana?” kata Mr. Kang dengan lantang. Naeun akhirnya tersadar. Ia menelan ludah.

“Nope, Sir.” Naeun menatap gurunya tersebut.

“Kerjakan soal nomor 5-10 di depan.” Naeun membelalak. Ia sama sekali tidak mengerti. Ia lalu menoleh pada Minah. Gadis itu menatapnya dengan tampang polos…ah, bukan. Tampang bloon. Naeun mendengus. Percuma bertanya pada Minah, nilai gadis itu selalu dibawah dia. Apalagi dia paling bodoh soal bahasa Inggris.

Naeun menghela napas lalu beranjak ke depan kelas. Bisa tidak bisa yang penting maju sajalah.

Minah menatap keluar jendela. “Woaah…Son Naeun mulai jatuh cinta rupanya. Tapi siapa orang yang gak beruntung itu?” bisiknya. Ia lalu terkekeh.

“Bang Minah, ada yang lucu?” seru Mr. Kang.

“Ti-tidak ada, mister!”

“Kerjakan nomor 11-15 di depan!”

“Aish..”

= = =

“Naeun-ah, tadi kamu ngeliatin siapa?” Minah menggamit lengat Naeun sambil berjalan di sisinya. Naeun meliriknya.

“Bukan siapa-siapa.”

“Ah masa sih? Jangan bohong, Na, aku tau kamu pasti lagi ngeliatin sunbae kita tadi. Siapa siapa? Ayoo kasih tauuu!!” paksa Minah.

“Nggak dih, seriusaaan.” Naeun mengulum senyum.

“Aaaah masa? Kalo bukan siapa-siapa sih gak bakal kamu sampai senyum-senyum gak jelas gitu..dih..”

“Mau tau banget emang?” Naeun menoleh pada Minah, namun tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang.

“Ah, maaf,” ucapnya dingin pada orang yang ditabraknya barusan. Orang itu menatapnya. Naeun tertegun. Itu kan..

“Dae-Daehyun sunbae! Omo, maafkan aku, aku nggak sengaja!” Naeun membungkuk. Daehyun mengedipkan matanya. Bingung.

“Gapapa kok.” Daehyun tersenyum sambil menepuk pundak Naeun. Ia lalu melangkah pergi. Naeun terpaku di tempatnya. Sepertinya, darah di sekujur tubuhnya pindah ke wajah. Wajahnya sangat merah saat itu. Minah yang melihatnya langsung berseru senang.

“Ternyata itu Jung Daehyun! Ahahaha gotcha, Naeun-ah! Baiklah, aku akan membantumu!” Minah menggulung lengan jaketnya.

“Bantu apa?” Naeun mendengus dan melanjutkan langkahnya dengan cepat.

“Ya bantu mendekatkanmu dengan..OMO!” Minah menghentikan langkahnya. Naeun yang digamit lengannya otomatis berhenti juga. Ia menatap Minah dengan kesal.

“Ada apa?”

“Itu….kakakmu!” seru Minah sambil menunjuk ke satu titik di depan. Naeun melihat ke arah yang ditunjuk. Ia mengerutkan kening. Benar saja, Bang Yongguk berdiri dengan tenang di gerbang sekolah. Ia menyandar ke tembok gerbang. Kedua tangannya dimasukkan ke saku, kepalanya menunduk dan sedikit mengangguk-angguk mengikuti alunan lagu yang terdengar dari headset-nya.

“Kerennyaaa…” Minah melepaskan gamitannya ke lengan Naeun dan menyatukan kedua tangannya di atas dada. Matanya berbinar-binar. Naeun menatapnya aneh. Ia lalu melangkah mendekati kakaknya itu.

“Yah, Son Naeun! Tunggu!” Minah berlari mengejarnya.

Merasakan sekitarnya mulai ribut, Yongguk melepas headsetnya dan menoleh. Ia tersenyum melihat Naeun menghampirinya dengan wajah kusut. Ia lalu berdiri tegap, bersiap menyambut Naeun yang tampak tidak senang melihatnya berdiri di situ.

“Ngapain kamu di sini?” Benar saja, Naeun menyapanya dengan dingin dan penuh kebencian.

“Menjemputmu,” ujar Yongguk enteng.

“Aku bukan anak kecil, aku bisa pulang sendiri.”

“Aku tadi habis ada urusan, gak sengaja lewat sini, sekalian saja menjemputmu. Ayo.” Yongguk membukakan pintu mobilnya.

“Nggak mau.” Naeun menatap Yongguk tajam. Yongguk hanya diam.

“Kamu sudah makan? Ayo kita beli makan dulu.”

“Udah. Nggak usah.” Naeun melangkah pergi. Yongguk terpaku di tempatnya. Minah menatap mereka bergantian dengan bingung.

“Eh..Naeun, tunggu! Oppa, maafkan Naeun ya dia pasti lagi PMS. Permisi!” Minah berlari mengejar Naeun yang sudah hilang di belokan. Yongguk lalu menutup pintu mobilnya dengan perlahan. Matanya masih menatap ke arah utara, tempat Naeun menghilang tadi.

Tiba-tiba seseorang menarik perhatian matanya. Yongguk menyipitkan matanya, berusaha melihat lebih jelas pada anak laki-laki yang baru saja keluar dari gerbang. Yongguk terkesiap. Tidak salah lagi. Itu pasti dia.

= = =

“Mwoya? Are you stupid, Jepp? You can’t quit you mother*cker!” Sebuah tonjokan kencang mendarat di pipi Yongguk sebagai sapaan bos malam ini. Yongguk menatap bosnya dengan datar.

I don’t wanna do this anymore, boss. It’s just not right..”

“Kita tidak membutuhkan kebenaran, tolol. Kau tidak akan membalaskan dendam ayahmu? Kita serang J Company, bunuh Jung Daeryong maka ayahmu akan tenang.”

“Tidak. Bukan ini yang ayahku inginkan. Kau tidak tahu apa-apa, bos.” Lagi, sebuah tonjokan mendarat di pipinya. Sudut bibirnya mengeluarkan darah.

“Kau tahu apa yang pengkhianat dapatkan di sini? Mati. Kau mau mati sekarang, Blackman? Kalau itu maumu, aku siap membunuhmu sekarang juga.” Sang bos mengambil pistol dari saku celananya dan menodongkannya pada Yongguk, tepat di hadapan matanya. Yongguk tak bergeming. Ia menatap bosnya dengan berani.

Yongguk tertegun. Ia oke saja jika harus mati hari ini, tapi Naeun. Ia masih punya satu tanggung jawab. Bagaimana nasib Naeun kalau dia tidak ada? Gadis yang biasa dimanja itu pasti tidak akan bisa apa-apa. Apalagi, saudara-saudara Naeun tinggal di tempat yang berjauhan satu sama lain. Susah mencapai mereka.

Yongguk menghela napas. Ia lalu memegang moncong pistol tersebut dan mengarahkannya ke tempat lain bersamaan dengan suara tembakan yang terdengar dari pistol tersebut. Satu lemari kaca berisi tumpukan dokumen pecah. Bos menatapnya dengan marah. Yongguk membalas tatapan tersebut dengan penuh keberanian.

“Oke. Let’s do it, boss.

“Dasar plin-plan!” Bos berbadan besar itu melangkah maju, menabrak Yongguk di pundaknya, dan berseru pada anak buahnya yang lain untuk bersiap-siap.

“Ada apa denganmu hari ini hah? Kau aneh sekali..” Himchan berdecak kesal. Yongguk hanya terdiam sambil menimang pistol di tangannya, seakan sedang mengukur beratnya.

Nothing,” Yongguk berjalan menyusul rekan-rekan mafianya yang lain. Ia siap menembak lagi. Ia siap membunuh Jung Daeryong dengan tangannya sendiri. Karena itu satu-satunya cara agar ia terbebas dari kekangan Bangster ini. Bosnya, Bang Yongshik, yang notabene adalah pamannya sendiri, mendidik Yongguk dengan keras agar bisa menjadi penerus Bangster. Pamannya tahu Yongguk ingin sekali membalaskan dendam ayahnya. Maka ia membiarkan Yongguk sendiri yang membunuh Jung Daeryong. Padahal, Yongshik bisa saja melakukan hal itu kapan saja. Tapi ia membiarkan Yongguk sendiri yang melakukannya.

Pukul 22:00 KST, Bangsters sudah tiba di J Company. Jam segini, para pegawai baru selesai bekerja setelah jam lembur usai. Jung Daeryong selalu pulang paling akhir. Maka, mereka menunggu sampai Daeryong keluar dari kantornya.

Pukul 23:00, tampak Jung Daeryong keluar dari kantornya bersama tiga orang bodyguard. Yongguk tahu, bodyguard Daeryong tersebar dimana-mana. Mungkin saja jumlah mereka lebih banyak dari Bangsters. Maka, ia pikir ide menyerang J Company ini sangat gila. Yongguk mengenal J Company. Ia tahu seluk beluk perusahaan itu dan juga seluk beluk keluarga Daeryong lebih baik dari siapapun. Maka, ia enggan melaksanakan misi bodoh ini. Percuma. Yongguk tahu strategi mereka salah. Tapi pamannya tidak mau mendengarkan pendapatnya.

“Oke, sekarang tembak!” bisik Yongshik. Beberapa bangster mulai menembakkan senjatanya masing-masing. Semuanya tertuju pada       Daeryong. Hanya Yongguk yang tetap diam dan menyaksikan. Yongguk sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ketiga bodyguard itu langsung melindungi Daeryong. Mereka mengeluarkan senjatanya yang lebih canggih dari yang Bangster miliki. Ketepatan menembak mereka tidak perlu diragukan. Beberapa bangster terkena tembakan mereka, bahkan ada yang tepat mengenai jantung.

Bodyguard lain bermunculan dari berbagai tempat. Mereka langsung mengawal Daeryong ke mobil dan membawanya pergi. Bodyguard lain yang jumlahnya makin banyak, menyerang balik. Kini, Bangster kewalahan.

“Yongguk, kejar Daeryong!” seru Yongshik. Yongguk tak bergeming.

“YAH!” Himchan berseru padanya. Yongguk hanya tersenyum miris.

I told you. I told you.” Yongguk lalu mengeluarkan pistolnya dan menembak para bodyguard itu dengan jitu. Semuanya tepat mengenai jantung dengan sekali tembakan. Ia lalu berlari mengejar mobil limosin Daeryong dan menembak bannya. Tidak mempan. Mobil itu anti peluru.

“F*ck.” Yongguk menghentikan larinya. Tidak bisa. Daeryong sudah terlalu jauh. Ia lalu menoleh ke belakang. Terlihat perselisihan masih terjadi. Ia mendengus dan menembakkan pistolnya ke tiang besi tak jauh dari situ. Bunyi yang nyaring pun terdengar, membuat orang-orang itu berhenti sejenak dan menatapnya kaget.

“Kita sudahi sampai di sini, bodoh. Para bodyguard Daeryong, kalian boleh pergi. Kami mengaku kalah dan tidak akan mengganggu kalian lagi. Tolong ucapkan itu pada bos kalian,” kata Yongguk lantang dengan suara beratnya. Yongshik dan Bangsters lain menatapnya marah.

Yongguk mengangguk ketika para bodyguard itu melewatinya. Kini tinggal ia yang berdiri sendirian di depan para bangsters yang menatapnya.

“Apa maksudmu kami mengaku kalah, hah?!” Yongshik berteriak marah dan menodongkan pistolnya ke arah Yongguk, lagi. Yongguk kembali menatapnya dengan datar.

“Gara-gara ulahmu, kita kehilangan beberapa jiwa. Aku sudah bilang ini ide gila, tapi kau tidak pernah mendengarkanku. Apa itu yang namanya mendidik, Bang Yongshik?” ucap Yongguk dengan tenang. Yongshik menggeram dan hendak menarik pelatuk pistolnya. Namun, gerakannya terhenti. Ia tidak bisa membunuh keponakannya ini. Keponakannya yang sangat mirip dengan kakaknya yang sangat dipujanya.

“AARGHH!!” Yongshik membanting pistolnya ke lantai dan mengacak rambutnya dengan frustrasi. Yongguk menatapnya jijik dan berbalik. Ia berjalan dengan tenang meninggalkan tempat itu.

“Sudah terlalu malam. Semoga nanti aku bisa bangun pagi. Naeun tidak akan bangun jika bukan aku yang membangunkannya.” Yongguk bergumam. Ia lalu memasuki mobilnya dan mulai menyetir pulang.

To be continued

14 thoughts on “[FF] Stepbrother part 2

  1. vidiaf says:

    hayah gereget sendiri sama yongguk pas nyerang J company ;__;
    part ini bikin penasaran~ >< apa pekerjaan asa jieun, terus kenapa pisah sama yongguk .____.

    Tiba-tiba seseorang menarik perhatian matanya. Yongguk menyipitkan matanya, berusaha melihat lebih jelas pada anak laki-laki yang baru saja keluar dari gerbang. Yongguk terkesiap. Tidak salah lagi. Itu pasti dia. w<

  2. aminocte says:

    nisaaa..aku berasa nonton apa ya? genre drama plus action emang seru untuk dinikmati
    aura gangster-nya kerasa banget, dan itu yang jadi target bukannya daeryong? kira-kira bakal ada serangan kedua yang direncanakan yongshik nggak ya? masa’ kalah gitu aja *eh* *evil*
    lanjuut

  3. kim hyun neul says:

    Hello, new reader here~
    Aku langsung buka blog hyuk sunbae setelah direkomendasiin sama eunjae dan eunneul soalnya katanya castnya anak anak b.a.p hehehe. Ga tau kenapa baca ff ini asa inget mv oneshot versi detailnya~ keren! keep writing ya sunbae xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s