[FF] Stepbrother part 1

A/N: I’m making my comeback yeay!!😄 Efek udah lama ga nulis, maklum jelek. Hope you enjoy~

Stepbrother

Cast: Bang Yongguk, Son Naeun

Genre: Family, Angst

yongguk 98

= = =

Son Naeun menatap kosong keluar jendela kamarnya yang ia buka lebar-lebar. Pemandangan taman belakang rumahnya terlihat dengan jelas dari sini. Banyak bunga mawar yang ditanam di sana, mawar dengan berbagai jenis dan warna. Mawar itu kesukaan ibunya. Beliaulah yang menata taman ini, memenuhinya dengan berbagai mawar.

Mawar itu cantik, tapi berduri. Seperti ibunya. Cantik, tapi menusuk. Membuat hati ayahnya tercabik-cabik.

Naeun menopang dagunya. Ia menatap ke arah langit yang mulai mendung. Tatapan matanya menerawang. Pikirannya kembali ke dua minggu yang lalu.

“Naeun, kenalkan ini kakakmu, Yongguk. Bang Yongguk.” Son Nayoung menepuk punggung seorang lelaki yang tinggi menjulang di hadapannya. Lelaki itu tampak sangar dengan tampilan gangster-nya. Tapi, ia tersenyum pada Naeun. Naeun tidak membalas senyumnya.

“Aku tidak punya kakak,” katanya. Dia menatap Yongguk dengan tatapan penuh kebencian.

“Naeun…” lirih ibunya.

Naeun menatap Yongguk. Lelaki itu hanya menatapnya datar. Naeun mengulurkan tangannya. Dengan bingung, Yongguk menyambutnya.

“Thank you so much for causing so much trouble, Yongguk-ssi.” Naeun tersenyum sinis. Ia lalu pergi meninggalkan koridor rumah sakit itu. Ia pergi ke kamar rawat ayahnya.

“Appa,” sapa Naeun. Ia duduk di kursi kecil sebelah tempat tidur ayahnya. “Bagaimana keadaanmu sekarang?”

“Jauh lebih baik, nak.” Son Kyungwon menoleh dan tersenyum lemah melihat putrinya.

Naeun menatapnya sedih. “Appa, aku tahu bagaimana perasaanmu dikhianati orang yang dicintai..”

“Tidak apa-apa, nak. Itu bukan kesalahan ibumu ataupun Yongguk. Maafkanlah mereka. Lelaki itulah yang telah memaksa ibumu.”

“Tapi…”

“Yongguk anak yang baik. Dia bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Aku butuh seseorang untuk menggantikan posisiku..”

“Appa, jangan bilang yang aneh-aneh. Appa tetap di sini kan menjaga Naeun?” Mata Naeun mulai berkaca-kaca.

“Iya, nak. Appa tetap di sini.” Kyungwon tersenyum. “Maafkan ibumu ya?”

“Iya, Appa.” Naeun tersenyum dan mengecup pipi ayahnya. Ia pun pergi keluar ruangan.

Di sana, ada Yongguk yang sedang terduduk di kursi tunggu. Naeun menatapnya. Haruskah ia memaafkannya? Anak laki-laki yang seharusnya tak pernah lahir dari rahim ibunya. Anak haram yang lahir sebelum ibunya menikah dengan ayahnya. Anak yang selama ini disembunyikan ibunya.

Ayahnya baru tahu seminggu yang lalu bahwa istrinya pernah memiliki anak dengan mafia kelas kakap, Bang Yonghwa. Waktu itu, Kyungwon tidak sengaja melihat Nayoung sedang berjalan dengan seorang lelaki di supermarket. Mereka tampak sangat dekat. Kyungwon memperhatikan mereka dari jauh.

Karena penasaran, Kyungwon mendekati mereka dengan diam-diam. Ia mengambil dua botol minuman dan segera membayar ke kasir. Ia sengaja memilih kasir sebelah Nayoung dan Yongguk berada, jadi ia bisa mendengar percakapan mereka.

“Nak, hanya ini yang bisa kuberikan padamu…maafkan eomma ya..”

“Ya, ini sudah cukup, eomma,” balas lelaki itu dengan suara beratnya. Setelah membayar, mereka pun beranjak dari tempat itu. Kyungwon segera mengejarnya.

“Son Nayoung!” ujarnya. Nayoung menoleh dan terkejut mendapati suaminya berada di sana. Ia lalu menatap Yongguk panik dan kembali menatap Kyungwon.

“Nak? Eomma? Apa maksudnya ini?” Kyungwon menatap mereka berdua marah.

“Ma-maaf…dia..”

“Kau punya anak dengan lelaki lain?” desis Kyungwon marah. Nayoung mengangguk perlahan.

“Aku..sudah lama menyembunyikan ini. Dia anakku dengan Bang Yonghwa. Maaf, aku…”

Kyungwon memegangi dada kirinya. Serangan jantungnya kumat. Ia pun pingsan di tempat.

= = =

Naeun tersadar dari lamunannya ketika tetes air hujan menjatuhi hidungnya. Ia menatap ke langit. Gerimis mulai turun. Ia pun segera menutup jendela. Tak lama kemudian, hujan deras pun turun. Tetes-tetes air hujan itu menjatuhi taman mawar buatan ibunya.

“Semoga mawar-mawar itu rusak.”

= = =

Esok paginya, Naeun membuka matanya. Ia menyipitkan mata, kamarnya silau sekali. Ia menoleh ke arah jendela, terbuka lebar. Rupanya semalam ia ketiduran. Naeun memutuskan untuk bangun dan menyeret langkahnya ke kamar mandi. Ia langsung mencuci muka dan menyisir seadanya. Ia lalu berjalan keluar kamar, masih menggunakan baju tidurnya. Ini hari Minggu, jadi dia bisa bersantai.

Naeun menuruni tangga menuju lantai bawah. Di ruang makan, berbagai jenis makanan favoritnya sudah tersedia di atas meja. Naeun melihat sekeliling. Tampak sepi. Tidak seperti biasanya. Tapi masa bodoh. Naeun mengangkat bahu dan mulai menyantap sarapan paginya.

Pintu terbuka. Yongguk masuk menenteng kantong belanjaan. Naeun menoleh.

“Oh, kau sudah bangun?” sapa Yongguk.

“Tidak, aku masih tidur,” balas Naeun dingin. Yongguk tidak membalas dan meletakkan kantong belanjaannya di meja dapur. Naeun memperhatikannya dalam diam. Rasanya aneh melihat lelaki tinggi bertubuh tegap dan bertampang gangster itu menenteng kantong belanjaan.

“Stok bulan ini sudah habis, terpaksa aku yang membelinya. Kau tidak akan mau jika disuruh.” Yongguk terkekeh.

“Mana eomma?” tanya Naeun, mengacuhkan candaan Yongguk.

“Dia sedang pergi reunian bersama teman-teman SMA-nya.”

“Reuni?” Naeun mengerutkan kening.

“Ya. Pancake-nya enak?” Yongguk mengalihkan pembicaraan.

“Hm. Lumayan.”

“Tapi kau baru saja menghabiskan tiga pancake.” Yongguk tertawa. Naeun mendengus kesal.

“Aku lapar.” Naeun mengelak.

“Ya, aku tahu kemarin kau hanya makan satu kali. Nanti tubuhmu makin kurus,” kata Yongguk sambil memasuk-masukan barang belanjaannya ke lemari makanan.

“Apa pedulimu.” Naeun mencibir.

Say, Naeun.” Yongguk duduk di hadapan Naeun yang sedang asyik meneguk jus jeruknya. “Kau masih membenciku?”

“Ya.”

“Tidak akan memaafkanku?”

“Bagaimana mungkin aku memaafkanmu. Kamu seharusnya tidak muncul di dunia ini. Ayahku meninggal gara-gara kamu!” seru Naeun. Air mata mulai memburamkan pandangannya. Ia memang sangat menyayangi ayahnya. Ayahnya yang meninggal karena serangan jantung akibat syok.

Yongguk menunduk.

“Kau tidak tahu bagaimana rasanya ada di posisiku..”

“Memangnya kau mengerti posisiku?!” bentak Naeun. Ia pun berlari ke kamarnya dan membanting pintunya keras. Yongguk tertegun. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata dari ibunya.

“Ne, eomma?”

“Benar ini putra Son Nayoung?” sapa suara lelaki tak dikenal di seberang sana.

“Ya, ini siapa?”

“Saya tidak sengaja melihat ibumu tertabrak mobil tadi. Saya segera membawanya ke rumah sakit, tapi sayang sekali nyawanya tak bisa diselamatkan.”

Yongguk serasa ditampar.

“Rumah sakit mana?” Ia sebisa mungkin membalas kata-kata lelaki itu. Meskipun suaranya bergetar.

“Seoul Hospital.” Yongguk memutuskan sambungan telepon dan bergegas berdiri mengambil jaketnya dengan tangan gemetaran.

“Eomma…Naeun…Naeun!” serunya. Naeun keluar dari kamarnya dan menatapnya malas.

“Kenapa ter…”

“Eomma meninggal.” Yongguk menatapnya. Setetes air mata menuruni pipi Yongguk. Naeun terdiam.

“Ini sama sekali nggak lucu.”

“Aku tidak sedang bercanda! Cepat, kita ke Seoul Hospital sekarang.” Yongguk menyambar kunci mobil dan berlari keluar. Melihat kakak tirinya begitu tergesa, Naeun tahu dia tidak bercanda. Naeun segera menyambar jaketnya dan berlari menyusul Yongguk.

Yongguk menyetir dengan tergesa-gesa. Suara klakson tak henti-hentinya menemani perjalanan mereka. Banyak orang yang terganggu dengan cara menyetir Yongguk yang ugal-ugalan. Naeun sendiri hanya terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Meskipun ia membenci ibunya, tapi wanita itu adalah wanita yang membawanya ke kehidupan ini. Dan sekarang, wanita itu telah tiada, rasanya ada sesuatu yang hilang dari diri Naeun.

Mereka sampai di Seoul Hospital. Yongguk mengenggam tangan Naeun dan menariknya. Mereka berjalan dengan tergesa –sedikit berlari – menuju ruangan UGD tempat ibunya berada.

“Eomma…” lirih Yongguk begitu melihat tubuh ibunya terbujur kaku di atas ranjang rumah sakit, ditutupi sehelai kain putih. Yongguk langsung merengkuh tubuh tak bernyawa itu dan menangis. Naeun hanya terpaku di tempatnya, di dekat pintu. Ia tak berani mendekat. Ia terlalu malu untuk mendekat dan menangis di depan jasad ibunya.

“Kau masih memikirkan egomu?” bisik Yongguk di sela tangisnya. Naeun tersentak. Ia lalu melangkah mendekati jasad ibunya dengan perlahan. Tangannya lalu meraih tangan mendiang ibunya yang dingin.

“Eomma…” bisiknya. Setetes air mata membasahi pipinya. Tetesan-tetesan lainnya menyusul. Ia lalu terisak.

“Eomma mianhae… eomma mianhaeyo, saranghaeyo eomma!!! Maafin Naeun, eomma!! Jangan tinggalin Naeun…EOMMA!!!” Naeun memeluk tubuh ibunya. Ia menangis tersedu-sedu. Yongguk menghapus air matanya, ia lalu memegangi pundak Naeun.

“Sudahlah, eomma sudah tiada.” Naeun memberontak. Ia berteriak-teriak memanggil ibunya. Yongguk langsung menariknya keluar ruangan.

Di lorong rumah sakit, Naeun terduduk lemas di kursi. Yongguk berdiri menyandar ke tembok. Ia menunduk. Lalu ia menoleh pada Naeun yang masih menangis sesenggukan. Yongguk lalu duduk di sebelah adiknya dan merangkulnya erat. Ia lalu membiarkan gadis itu membenamkan wajahnya ke dadanya.

It’s okay, Naeun-ah. It’s okay..” Yongguk mengusap lembut kepala Naeun.

= = =

Pemakaman itu dihadiri banyak orang. Banyak rekan keluarga Son yang datang melayat. Keluarga besar Naeun pun datang. Mereka menyemangati Naeun. Naeun merasa sedikit terhibur. Ia lalu menatap kakaknya. Yongguk berdiri agak jauh dari kerumunan pelayat. Naeun mengerti bagaimana rasanya. Ia anak haram, begitu orang lain bilang. Ia tidak diterima di keluarga ini.

Tiba-tiba, suara petir terdengar. Naeun menatap ke atas. Tetes hujan pertama menjatuhi hidungnya. Lagi.

“Ya…mawarnya telah rusak. Bahkan mati.”

Naeun dan Yongguk adalah orang terakhir yang berada di pemakaman itu. Mereka hanya saling tatap dalam jarak 3 meter. Tak ada kata yang terucap. Hanya suara tetesan air hujan yang menjadi latar suara kejadian itu.

Yongguk melangkah mendekati Naeun. Ia membuka jasnya dan menyampirkannya ke atas kepala gadis itu, melindunginya dari tetesan air hujan yang semakin lama semakin banyak.

“Ayo pulang.”

= = =

“Oke, sekarang kita tinggal berdua, aku ingin kita berkomitmen.” Yongguk meletakkan secangkir coklat panas di hadapan Naeun. Dia sendiri menikmati kopi hitamnya.

Naeun menatapnya, pertanda bahwa ia mendengarkan.

“Aku memutuskan untuk membagi tugas.” Yongguk mengambil secarik kertas dan pulpen. Ia lalu mulai menulis.

“Kau bagian cuci piring, cuci baju, setrika baju, menyapu, mengepel. Aku bagian membuang sampah, memasak, dan merawat taman. Aku tahu kau tidak mau melakukannya.”

“Biar aku saja…” Naeun menyentuh tangan Yongguk yang sedang menulis. “Biar aku saja yang merawat taman.”

“Hm…okay. Kau bagian cuci piring, mengurus baju, menyapu dan merawat taman. Aku membuang sampah, memasak, dan mencari uang. Adil?”

“Mencari uang? Uang orang tuaku masih banyak.”

“Kita tidak mungkin selamanya bergantung dari uang warisan itu. Aku akan mencari pekerjaan. Kau juga harus menyelesaikan sekolahmu.”

“Terus, pekerjaan rumah ini harus kita yang melakukannya? Kan bisa memperkerjakan pembantu.”

“Tidak, tidak. Mengeluarkan banyak biaya lagi. Mulai sekarang kita harus hemat, Naeunie. Uang yang kuhasilkan belum tentu banyak. Dan kebutuhanmu masih berlimpah.” Naeun hanya mengangguk.

“Ada pertanyaan?” tanya Yongguk, bertingkah seperti guru.

“Aku simpan pertanyaanku untuk nanti.” Naeun berdiri dan berlalu ke kamarnya. Yongguk menatapnya sampai Naeun menghilang dibalik pintu kamar. Ia lalu melirik jam. Pukul 9 malam. Saatnya bertugas.

= = =

Suasana malam itu tampak sepi. Bulan pun nampaknya enggan menyinari bumi. Atau mungkin, ia tertutup awan tebal yang gelap. Bang Yongguk menepikan mobilnya di sebelah rumah tua yang agak jauh dari pusat kota. Ia membuka bagasi mobilnya dan mengambil sebuah kotak kayu yang cukup berat. Ia lalu melangkahkan kakinya memasuki rumah tua itu.

“Jepp Blackman!! Akhirnya kau datang juga,” sapa seorang lelaki bertubuh tambun yang sedang asyik menghisap rokoknya. Yongguk hanya tersenyum tipis dan meletakkan kotak kayu itu di meja depan lelaki tambun itu.

“Ini senjata yang kau minta, bos,” ucap Yongguk. Pria yang dipanggil bos itu tertawa dan membuka kotak kayu tersebut. Terlihatlah belasan pistol berbagai jenis dan ukuran.

“Bagus  bagus…ini yang kita butuhkan. Besok, kita serang J Company. Mereka sudah menyatakan perang…maka kita harus meladeninya.”

“Apa aku harus ikut dalam penyerangan itu?”

“Tentu saja, bodoh! Kau orang yang paling kita butuhkan…well, setidaknya kau ahli dalam menembak.” Bos menyeringai. Yongguk menelan ludah.

“Kau tidak mau membalaskan dendam ayahmu pada J Company?” pancing si bos. Yongguk mengepalkan tangan.

“Tentu saja aku mau,” bisiknya.

“Kalau begitu…sampai ketemu besok, Blackman.”

To be continued

27 thoughts on “[FF] Stepbrother part 1

  1. aminocte says:

    wahh..seruuu, kira2 naeun bakal akur nggak ya sama yongguk?
    kasian banget naeun ditimpa cobaan bertubi-tubi, dan itu yongguk anggota mafia atau apa? kok mau nyerang perusahaan orang?
    lanjuuutt

  2. vidiaf says:

    sunbaenim~ mian baru bisa ke blog sunbae sekarang ;;;;;;
    asik angst! xD
    tumben castnya bukan dari sj ato exo .-.
    penasaran sama kelanjutannya deh ><
    aku udah nebak-nebak endingnya, tapi kayaknya salah deh '-'
    ditunggu lanjutannya~
    *pergi ke post lain*

  3. Choi Eun Jae says:

    Blat, ngegantung gini ga asik. Ditunggu pesenan senjata punya aku ya, sekalian minta tambahan onion ring diatasnya. Thanks. Btw ditunggu ver 21+nya /kicked/

      • Choi Eun Jae says:

        Buruan post chap 2nya, aku sudah gakhwad liat yongguk
        btw nanti tambahin jiyeon ya
        Bae we atuh 21+paradise, open up ur gates cause i can’t wait to see the light
        goodluck!
        Nanti leher panjang guki tolong dideskripsikan ya

      • sungheedaebak says:

        kalem masih awal. ntar malem mereunan wkwk lagi nyari ide dulu
        muhun neng jiyeon bade ditambahin ngan ngke nya…
        one more night pokona mah. keur mnh mah spesial aya nc-an -_-

  4. sophiemorore says:

    pertama karena aku ga tau bang yongguk itu siapa, aku bayanginnya jay park *plak*
    kok wajahnya di cover mirip mirip gitu ya? hahaha
    aku suka sama naeun, berasa aja dia karakternya cocok jadi dingin2 galau gitu

    pas bagian ibunya meninggal, mungkin kalimat ini
    “Eomma mianhae… eomma mianhaeyo, saranghaeyo eomma!!! Maafin Naeun, eomma!! Jangan tinggalin Naeun…EOMMA!!!”

    diselipin sedikit deskripsi emosi lagi diantara dia teriak2nya, biar lebih dramastis *ditabok* xD

    aku suka karakter yonnguk di sini, walau aku ga tahu kenapa kayaknya dia sedikit terlalu lempeng sama kejadian setelah kematian ibunya. sedikit gambaran perasaan dari yongguk mungkin bisa lebih baikkk

  5. Ara says:

    ngena banget masa,
    pesannya bagus, terus gampang nyampe.
    pokoknya aku suka tulisan kamu, keren semua^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s