[FF] Congkeulakeu

Note: ini Side story Se Hun dari Hyukhee Series. Mungkin next masih side story se hun karena masih ada yang kurang jelas di ceritanya (?) lanjutannya ditunggu ya..lagi banyak proyek nih #eaa Oh dan juga, makasih @rabbitpuding udah bikinin covernya

= =

“Sehunnie~” Seseorang memanggil namaku. Aku menoleh dan melihat Baekhyun hyung melambaikan tangan ke arahku dan menyuruhku menemuinya yang sedang berdiri di gerbang sekolahku. Aku tersenyum menyapanya dan bergegas berlari menghampirinya.

“Ada apa, hyung?” tanyaku.

“Kamu kan bilang butuh kerja sambilan, aku ada tuh! Kafe yang baru di daerah Myeongdong membutuhkan karyawan baru. Ikutan ya?”

“Oh jinja?” Mataku berbinar saking senangnya. “Tapi…bosnya gimana? Baik gak? Ntar yang ada judes lagi. Malesin.”

“Baik kok! Bosnya masih muda! Usianya baru sekitar 25-an lah..cewek lagi.”

“Oh ya? Wah boleh tuh! Ayo kita ke sana sekarang!”

Itulah awal mengapa aku bisa berdiri di belakang stan cake ini sambil memakai seragam karyawan Einfach café. Aku menggerak-gerakkan mulutku untuk melatih senyumku. Sunghee Noona bilang, senam mulut itu penting sebelum menyapa pelanggan. Sekarang hari Minggu, seluruh karyawan berkumpul di sini untuk bekerja. Tidak seperti hari biasa. Yang datang hanya satu-dua orang karena pasti ada saja yang sibuk dengan kegiatan sehari-hari.

Inilah hebatnya Einfach café, kita ini bekerja tapi serasa sedang les. Hari ini absen, besoknya masuk. Sekarang masuk, minta tambahan pelajaran, besoknya boleh absen. Sunghee Noona, bos kami, yang menerapkan sistem seperti itu. Dia tidak suka keterikatan dan dia juga tidak mau mengikat orang lain. Jadi kami bisa bebas datang dan pergi di sini. Begitu kata Sunghee Noona. Tapi, tetap saja kami bertiga – aku, Baekki hyung, dan Chanyeollie hyung – tetap datang ke kafe ini. Kami sama sekali tidak merasa terikat.

Aku membuka mulutku lebar-lebar dan kemudian memanyunkan bibirku. Chanyeol hyung yang baru keluar dari staff room menatapku heran. Tapi, sedetik kemudian ia terbahak. Aku menatapnya kesal masih sambil memanyunkan bibirku.

“Kau juga harus melakukannya, Hyung. Senam mulut sebelum tersenyum pada pelanggan,” ujarku setelah menyelesaikan kegiatanku yang baru saja ditertawakan olehnya.

“Ah, aku sih nggak butuh. Aku kan hobi tersenyum, jadi mukaku nggak bakalan kaku karena jarang tersenyum.” Chanyeol hyung cengengesan.

Pintu kafe terbuka. Terlihat Baekhyun hyung yang sedang memegangi pintu, mempersilakan Sunghee Noona masuk.

“Huaahmm..annyeong!” Sunghee Noona memasuki kafe sambil menguap. Di kedua tangannya terdapat dua buah kantung kresek yang besar-besar. Tampaknya itu bahan-bahan untuk kafe kita hari ini. Kelihatannya stok bahan-bahan kami memang sudah habis, di tangan Baekhyun hyung juga terdapat satu kantung kresek ekstra besar.

Aku dan Chanyeol Hyung segera mengambil alih kresek tersebut. Sunghee Noona tampak sangat-sangat kelelahan. Padahal jam masih menunjukkan pukul setengah 8 pagi.

“Noona masih ngantuk?” ujarku. Sunghee Noona mengangguk. Matanya terlihat sayu.

“Sekarang hari Minggu, siapa juga yang nggak ngantuk jam segini?” Sunghee Noona tersenyum.

Iya, dialah Sunghee Noona. Pemilik Einfach café ini. Kalau bisa kukatakan, dia ini seperti mesin. Mesin yang bekerja tanpa lelah. Dia selalu berkilah kalau dia sedang merasa lelah. Dia tidak pernah bilang bahwa dia kelelahan. Dia selalu menutupinya dengan sangat baik.

Dia selalu tersenyum. Pancaran matanya terlihat teduh. Padahal menurutku, dia itu sedikit kekanakan. Terlihat dari postur tubuhnya yang terhitung pendek dan mungil. Tingginya hanya sekitar 164-165an. Tapi, perkataannya, sikapnya, semuanya menunjukkan bahwa dia adalah seorang wanita dewasa. Sedikit membingungkan. Mirip seperti Chanyeol Hyung yang mempunyai wajah usia 3 tahun dengan suara usia 30 tahun.

Tapi…pernahkah ia menangis? Apakah dibalik senyumnya itu terselip suatu kesedihan?

= = =

Ada seorang gadis di sekolah yang menarik perhatianku. Namanya Hwang Minkyo. Dia sekelas denganku. Minkyo orangnya baik, ramah, tapi dia sedikit pemalu dan cengeng. Tapi..dia tetap manis. Banyak laki-laki yang menyukainya dan ingin memeluknya kalau ia sedang menangis. Termasuk aku.

“Annyeong, Sese.” Begitu sapanya padaku pagi ini. Sese memang panggilan sayangnya untukku. Dia juga punya julukan untuk sahabat-sahabatnya yang lain. Hanya sahabatnya saja.

Kalau begitu, aku juga termasuk.

Memang aku juga dekat dengannya. Dia sering curhat padaku tentang berbagai hal dan lain-lain. Katanya, aku satu-satunya sahabat cowok yang ia punya. Katanya lagi, curhat sama cowok itu lebih asyik karena curhatanmu pasti didengar. Nggak kayak cewek yang kadang sibuk mengutak-atik HP-nya ketika temannya sendiri sedang curhat.

Aku benar-benar menyukai gadis ini. Gadis yang menganggapku sahabat terbaiknya. Aku tahu, menembak sahabat sendiri itu bisa merusak hubungan persahabatan. Tapi…bagaimana ini? Perasaanku sudah tidak bisa ditahan lagi. Aku selalu cemburu jika melihatnya dekat dengan orang lain.

Tiba-tiba aku teringat Sunghee Noona. Baekhyun hyung sering curhat padanya, Noona juga sering memberikan saran untuk Chanyeol hyung, jadi..sekarang tinggal aku yang harus meminta jasanya!

= = =

“Jadi dia hanya menganggapmu sahabat?” tanya Sunghee Noona sambil menjilat es krim vanilanya. Aku mengangguk sambil cepat-cepat menjilat lelehan es krim yang nyaris mengenai tanganku.

“Ooh…agak sulit. Memecahkan hubungan persahabatan sama saja membuang benda yang paling berharga dalam hidupmu.”

“Aku tahu, Noona. Tapi…mau bagaimana lagi? Aku berusaha untuk melupakannya, tapi tidak bisa. Dia masih terekam jelas di otakku..” Kulirik Sunghee Noona yang masih asyik menjilati es krimnya.

“Oh, di bawah pohon sana ada bangku! Duduk sana yuk!” Sunghee Noona tidak menanggapi perkataan terakhirku. Mungkin benar, curhat ke cewek itu kadang didengar kadang tidak.

“Cuacanya bagus nih.” Sunghee Noona tersenyum. Ia sudah duduk di bangku tersebut. Aku mengangguk samar dan duduk di sampingnya. Aku melirik Sunghee Noona. Dia masih asyik menjilati es krimnya. Aku menghela napas. Curhat sama cewek memang percuma. Dimana-mana sama saja. Pasti omonganku tadi cuma sekedar angin lalu.

“Mau kuceritakan sesuatu yang menarik?” tanyanya. Aku mengangguk pelan. Tuh kan, dia tidak mendengarkanku. Malah dia yang balik cerita. Tapi kenapa Baekyeol (untuk mempersingkat Baekhyun dan Chanyeol) hyung senang sekali curhat padanya?

“Dulu…ada seorang gadis yang sering ditindas teman-temannya. Dia selalu disuruh, dipukul, dihina.  Tapi, dia ternyata tidak sendirian. Ada seorang bocah laki-laki yang selalu melindunginya. Anak itu menganggap gadis itu sahabatnya. Tapi, setelah lulus sekolah, anak laki-laki itu menghilang.”

“Kemana?” tanyaku penasaran.

“Entahlah. Gadis ini menderita amnesia waktu itu karena kecelakaan kecil. Dia tidak ingat siapa anak laki-laki yang menjadi sahabatnya dulu.” Sunghee Noona menghabiskan es krimnya dan membersihkan bibirnya dari noda es krim. Aku melakukan hal yang sama.

“Lalu..apakah mereka bisa bertemu lagi?”

“Iya. Mereka bertemu kembali dalam situasi yang benar-benar berbeda. Gadis itu sudah memiliki kekasih, dan kebetulan, anak laki-laki itu adalah sahabat pacar si gadis.” Aku terdiam. Kini aku menatap Sunghee Noona yang sedang menatap lurus ke depan. Tatapannya terlihat menerawang.

“Gadis ini..awalnya tidak mau menerima cinta siapapun karena dia masih berharap anak laki-laki itu akan datang menjemputnya dan kembali seperti dahulu. Tapi, ada satu perkataan dari cowok ini..kusamarkan namanya Anger, yang membuka hati si gadis…namanya kusamarkan menjadi Smile.”

“Tunggu sebentar, aku bingung dengan penamaannya. Jadi, Anger ini..pacarnya Smile?”

“Ah, benar. Biar lebih jelas, kunamai gadis itu Smile, pacarnya Anger, sedangkan sahabat kecilnya adalah Cry. Kau mengerti?” Sunghee Noona menoleh padaku untuk melihat responku. Aku mengangguk. Dia kembali melihat ke depan.

“Jadi, sampai mana tadi?”

“Sampai kata-kata Anger pada Smile.”

“Oh, jadi Anger berkata pada Smile, ‘Menangislah dihadapanku, tersenyum pada mereka’. Dia sering mengatakan hal itu pada Smile. Itu yang membuat Smile membuka hatinya untuk orang lain. Untuk Anger.” Aku mengangguk-angguk. Kata-kata yang bagus. Penuh makna.

“Artinya, Anger bersedia menyerap kesedihan Smile. Anger tidak mau Smile menderita di depan orang lain. Dia siap menanggung kesedihan Smile..” ujarku. Sunghee Noona terdiam.

“Begitukah?” Sunghee Noona tersenyum.

“Lalu apa yang terjadi pada Cry? Apakah Cry dan Smile bisa bertemu lagi?”

“Ya, mereka bertemu kembali. Smile yang sempat melupakan Cry pun kini teringat kembali padanya. Perasaan rindunya, sayang, cintanya pada Cry sudah tidak bisa ditutupi lagi. Semuanya terbaca dari matanya. Cry juga sama. Perasaannya terbaca dari matanya. Sayangnya, Anger bisa membaca perasaan mereka berdua.”

Aku tertegun. Kasihan Anger.

“Lalu? Apa yang terjadi?”

“Anger mengakhiri hubungannya dengan Smile. Semuanya agar Smile dan Cry bahagia. Tapi, itu tindakan bodoh. Anger menderita, dia merasa hatinya sakit melihat Smile bersama dengan Cry. Smile sendiri merasa bingung. Ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi, dia senang bisa kembali bersama Cry, lelaki yang bertahun-tahun dinantinya. Tapi, ia juga merasa kehilangan Anger, orang yang selalu menampung kesedihannya.”

“Jadi Smile hanya butuh Anger untuk melampiaskan kesedihannya? Bukankah itu jahat? Memangnya Smile tidak memikirkan perasaan Anger yang hanya dibutuhkan ketika Smile sedang sedih?” Tiba-tiba aku melontarkan pertanyaan itu.

Sunghee Noona terdiam lama. Tampaknya sedang memikirkan jawaban yang tepat.

“Sehunnie, ketahuilah. Ketika seseorang mau menampung kesedihanmu, itu berarti seluruh hidupnya telah ia berikan padamu. Dan juga, ketika kau mau menumpahkan kesedihanmu pada orang itu, berarti kamu telah memberikan seluruh kepercayaanmu padanya. Kamu percaya dia akan selalu ada untukmu, kamu percaya dia akan mendengarkan keluh kesahmu, kamu percaya…dia tidak akan pergi meninggalkanmu..” Sunghee Noona menunduk. Aku terdiam. Sudah kuduga, ini pasti kisahnya.

Kalau Sunghee Noona itu Smile, lalu siapa Anger dan Cry? Aku penasaran.

“Sehunnie, menurutmu..senyuman itu lebih pantas disandingkan dengan apa? Marah atau tangisan?” Sunghee Noona bertanya masih sambil menunduk. Aku terdiam sejenak.

“Keduanya membutuhkan senyuman,” jawabku, “Senyuman dibutuhkan untuk meredakan amarah, dan senyuman juga diperlukan untuk menghilangkan tangisan.”

“Itu dia.” Sunghee Noona tersenyum tipis. Ia mengangkat kepalanya dan kembali menatap lurus ke depan dengan pandangan menerawang.

“Senyuman juga membutuhkan keduanya.” Sunghee Noona tersenyum dan beranjak berdiri. Aku menatapnya.

“Jadi?” ujarku.

“Jangan lakukan sesuatu yang membuatmu dan orang lain menyesal.” Sunghee Noona tersenyum dan berjalan pergi. Aku terdiam di bangku ini sendirian.

Aku menyandarkan punggungku pada sandaran bangku. Kalau cerita itu dikaitkan dengan keadaanku saat ini, bisa jadi akulah Anger. Anger melepaskan kekasihnya agar ia bahagia. Aku sendiri, aku sengaja memendam perasaanku agar hubungan di antara kami tetap dekat. Tapi..menyiksa. Melihat Minkyo selalu dikelilingi cowok-cowok, selalu dikejar cowok-cowok. Aku sendiri hanya bisa memendam perasaan sesak ketika Minkyo memanggilku sahabatnya.

Membuatmu dan orang lain menyesal. Kembali kuingat-ingat kata-kata Sunghee Noona tadi. Apakah Anger menyesal telah melepaskan Smile? Apakah Smile juga menyesal telah kembali pada Cry?

Ah..kisah ini begitu rumit..

TRING. SMS masuk. Aku membukanya. Ternyata dari Sunghee Noona.

Aku lupa bilang. Coba kau katakan apa yang Anger katakan pada Smile kepada orang yang kau sukai. Pasti orang yang kausukai akan balik menyukaimu juga.

Aku terdiam. Mengatakan bahwa aku siap menampung segala kesedihannya? Mengatakan bahwa dia hanya boleh menangis dihadapanku, tidak di depan orang lain? Sanggupkah aku melakukannya?

Aaah aku tidak mengerti. Tak kusangka perasaan suka itu begitu rumit.

= = =

Aku menggoyang-goyangkan cangkir kopi di tanganku, membuat isinya berputar-putar. Lalu, aku menghentikan gerakanku. Kopi di dalam cangkir karton itu pun lama-kelamaan berhenti berputar-putar mengelilingi bagian dalam cangkir. Sekarang noda kecokelatan terlihat di dinding cup.

“Kamu ngapain?” Sunghee Noona duduk di kursi depan meja bar, menatapku sambil menopang dagu.

Aku menatapnya, lalu menatap cangkir di genggamanku lagi.

“Percuma nyuci gelas pake air kopi, yang ada malah tambah kotor, Oh Choding.”

“Aku nggak lagi nyuci cangkir, Noona.” Aku menatapnya kesal. “Aku cuma lagi berpikir.”

“Mikir apaan sih?” Sunghee Noona membetulkan posisi duduknya.

“Soal yang kemaren.”

“Kenapa?”

“Aku nggak yakin bisa bilang gitu ke cewek yang kusukai. Rasanya…terlalu..berat.”

“Yah..kalau perasaanmu terhadapnya masih seperti itu, jangan coba-coba tembak dia deh.” Sunghee Noona tersenyum simpul. “Bahkan kamu bukan sahabat yang baik kalau begitu.”

“Hah?” Aku menatap Sunghee Noona tak percaya. Ia tersenyum dan mengambil alih gelas karton kopi di tanganku. Dia mengambil sebuah gelas kosong lain. Kemudian, ia menumpahkan kopi dari gelasku ke gelas kosong itu. Kembali ia melakukan hal yang sama. Ia memindahkan isi kopi dari gelas yang tadinya kosong ke gelasku. Aku mengerutkan kening.

“Kesedihan itu seperti air kopi di dalam gelas. Ketika gelasnya dipenuhi kopi, gelas pun menambah beban. Ketika dibawa, pasti berat. Tugas sahabat adalah gelas kosong ini. Ia menampung kesedihan sahabatnya. Seperti ini.” Sunghee Noona kembali memindahkan isi gelas dari gelasku ke gelas miliknya.

“Kau bisa melihat noda kopi di gelas pertama kan? Tapi bagaimana bobotnya? Jadi ringan kan? Lega, kan?” Aku mengangguk. Sunghee Noona tersenyum. Ia lalu memindahkan kopi dari gelas kedua ke gelas pertama.

“Memang masih ada bekasnya, tapi setidaknya perasaanmu menjadi lega. Padahal tugas sahabat yang ini hanya menampung kesedihan. Tugas sahabat belum selesai sampai di situ. Dia harus mencuci kesedihan sahabatnya.” Sunghee Noona mengambil segelas air putih dan menuangkannya ke gelas yang kosong. Ia lalu memutar-mutar gelas tersebut dan menumpahkan isinya ke gelas yang tadinya berisi air.

“Memang tidak bersih sempurna karena tidak memakai sabun. Tapi setidaknya, sahabatmu bisa melupakan masalahnya. Tahu dengan cara apa?” Sunghee Noona menatapku.

“Menghiburnya.”

“Tepat.” Dia tersenyum puas. “Jadi, bagaimana perasaanmu sekarang?”

“Aku jadi semakin mengerti. Aku sendiri belum mencapai tahap sahabat yang seperti itu…sepertinya aku harus membenahi diriku dulu sampai aku siap menanggung kesedihan orang lain.”

Sunghee Noona mengangguk-angguk.

“Noona, maaf kalau aku bertanya seperti ini, tapi aku benar-benar penasaran. Noona, kamu pernah menangis?” Sunghee Noona terdiam mendengar pertanyaanku yang aneh.

“Eh er…maksudku, Sunghee Noona selalu terlihat ceria, suka bercanda, dan juga dewasa. Aku tidak pernah melihat Sunghee Noona marah ataupun menangis.”

“Karena Anger dan Cry tidak ada di sini. Mana bisa aku marah atau menangis?” Sunghee Noona tersenyum tipis. Aku terdiam.

“Sehunnie, orang yang berkata bahwa aku hanya boleh menangis di hadapannya sudah menghilang dari kehidupanku. Aku tidak bisa menangis lagi. Tidak ada dia di sini.”

“Tapi…siapa yang menampung kesedihan Noona? Apa Noona tidak pernah bersedih?”

“Tentu saja pernah, Sehunnie.” Sunghee Noona terkekeh. “Kadang kalau aku sendirian, aku menangis. Hanya kalau aku sendirian. Aku tidak bisa menunjukkan tangisanku.”

“Sendirian? Jadi tidak ada yang menampung kopi Noona? Jadi Noona membiarkan gelas Noona terisi penuh dan terasa berat?” Tanpa sadar, nada suaraku terdengar khawatir sekaligus kasihan. Padahal aku tidak bermaksud.

“Memangnya kenapa? Kamu mau menemaniku menangis?”

“Aku tidak akan membiarkan Sunghee Noona menangis! Aku memang belum bisa menampung kesedihan orang lain, jadi biarkan aku mencegah kesedihan itu! Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan Noona sendirian! Kalau Noona sendirian kan Noona menangis…”

Sunghee Noona mengerjapkan matanya berkali-kali. Dia menatapku takjub. Sedetik kemudian, ia tertawa.

“Sehunnie…kau lucu sekali! Aigoo…tak salah aku merekrutmu! Kamu dongsaeng yang sangaaaat lucu!” Sunghee Noona tersenyum gembira. Aku hanya terkekeh.

Apa..kata-kataku tadi kekanakan ya?

“Cieee seru banget nih ngobrolnya?” Baekhyun hyung tiba-tiba berdiri di sebelahku dan mendorongku ke samping dengan badannya. Tubuhku pun menabrak sesuatu. Aku menoleh ke arah kanan dan mendapati Chanyeol Hyung sudah berdiri di sebelahku. Ia ikut mendorong tubuhku. Alhasil tubuhku jadi seperti kok bulu tangkis yang dipukul raket dari kedua sisi yang berbeda.

“Astaga kalian ini apa-apaan sih?! Kekanakan!” seruku kesal. Duo Baekyeol itu tertawa dan saling ber-high five ria.

“Sejak kapan kalian jadi sedekat ini? Bahkan mandi pun bersama..ckckck..” Sunghee Noona menggeleng-geleng. Aku tertegun. Aku menoleh ke arah Baekhyun Hyung dan mencium wangi tubuhnya, aku melakukan hal yang sama pada Chanyeol Hyung.

“Mengerikan, bahkan wangi sabun kalian juga sama..”

“Benar-benar kayak suami istri ya,” celetuk Sunghee Noona.

“Bukan suami istri, tapi sepasang sahabat yang sudah seperti keluarga sendiri!” Chanyeol Hyung mengangguk mantap. Aku terdiam. Sahabat..

“Oh ya, Sehun-ah, nanti malam, boleh kupinjam tubuhmu?” ujar Sunghee Noona.

Aku terdiam. Mulutku terbuka lembar dan mataku membelalak. Baekhyun Hyung menganga dan menatap Sunghee Noona tak percaya. Chanyeol Hyung menatap ke arah Sunghee Noona, lalu memandangku, lalu memandang Noona lagi.

“Mau…ngapain?” tanyaku perlahan. Sunghee Noona hanya tersenyum misterius.

“Pasti kamu suka.” Ia lalu mengedipkan matanya.

Bisa kalian tebak bagaimana reaksi cowok-cowok di sini. Semuanya melongo, dengan berbagai pikiran kotor di otak masing-masing.

= = =

“Temani aku main ya?” kata Sunghee Noona sambil memencet-mencet tombol password apartemennya. Aku menelan ludah. Main apa malam-malam begini, berdua saja?!

Aku tidak menyangka…Sunghee Noona yang selama ini dewasa, bijaksana, manis, dan sekaligus kekanakan, bisa berbuat seperti ini!! Aku masih 18 tahun! Ciuman pertama aja belum pernah! Tidaaaaaak!!!

Klek..pintu apartemen Sunghee Noona terbuka. Ia menoleh padaku dan mengajakku masuk. Aku melangkah masuk dengan kaki gemetar. Jemariku saling bertautan. Aku melihat sekeliling takut-takut ada hal yang mencurigakan.

“Anggap aja apartemen sendiri. Kamu bebas mau ngapain aja di sini.” Sunghee Noona tersenyum. Ia meletakkan tasnya ke kursi depan meja komputer dan membuka kancing kemejanya. Aku membelalakkan mataku dan mundur dua langkah.

“AC-nya lagi rusak, jadi maaf ya kalau agak panas.” Dia tersenyum lagi. Aku hanya bisa mematung. Ya Tuhan, aku gugup sekali!

“Noona..se-sebenarnya..kita ke sini mau apa?” ucapku gemetaran.

“Main congklak,” jawabnya enteng.

“Hah? Cong…apa?” Aku mengerutkan kening. Semua pikiran negatif di otakku buyar. Digantikan oleh sebuah kata yang benar-benar asing di telingaku.

“Congklak,” katanya lagi sambil tersenyum geli. Aku memiringkan kepala. Heran.

“Congkeu..lakeu?”

“Ahahahaha!” Sunghee Noona terbahak. Aku mengerucutkan bibir.

“Apa yang lucu? Apa itu congkeulakeu?”

“Congklak, Sehun-ah. Hm..kamu orang Korea asli sih ya jadinya susah juga ngucapinnya. Congklak itu permainan tradisional dari Indonesia. Waktu aku ke Indonesia, aku beli ini.” Sunghee Noona berjalan ke arah lemari tempat hiasan dan mengambil sebuah benda panjang yang di atasnya terdapat sekitar 16 lubang. Di ujung kanan-kirinya terdapat sebuah hiasan naga. Aku kira itu hiasan, ternyata itu permainan tradisional. Bentuknya indah sekali.

Noona meletakkan benda bernama congkeulakeu itu di karpet ruang TV dan duduk bersila di hadapannya. Aku masih mematung di sini.

“Ayo, Sehun-ah, kita main!” Sunghee Noona mengajakku duduk di hadapannya. Aku pun mengikuti perintahnya. Aku menatap congkeulakeu itu dengan takjub.

“Rasanya aku pernah melihat permainan semacam ini di Korea.”

“Benarkah?” Sunghee Noona menatapku sekilas lalu kembali sibuk dengan membagikan biji cemara tujuh-tujuh ke setiap lubang kecil. Aku mengangguk.

“Tapi tidak seindah ini. Yang kulihat itu cuma plastik aja.”

“Oh..permainan anak-anak emang kadang-kadang sama sih di setiap negara, cuman namanya aja yang beda.”

“Oh, aku mau tanya, memangnya Noona bukan asli orang Korea?” tanyaku. Sunghee Noona mengangguk masih sambil membagikan biji cemara. Ia terlihat seperti anak kecil.

“Hm. Ibu orang Korea, ayah Jerman.”

“Oh ya? Pantas saja..”

“Pantas apanya?”

“Noona pandai bahasa Jerman, Inggris-nya juga jago.”

“Err…ya..aku bisa sekitar..5 bahasa. Coba kuhitung, Korea, Jerman, Inggris, China, Jepang, Indonesia. Berapa tuh? 6 ya?”

“Woaaah!” Aku terperangah. “Banyak sekali! Noona jenius!”

“Hehe gak juga kok. Gak semuanya fasih tapi kalau percakapan sehari-hari masih bisa lah. Oh ya, aku juga lagi belajar bahasa Prancis dan Arab.”

“Noona hebat!” Aku mengacungkan dua jempol.

“Gak juga ah,” Sunghee Noona tersipu. Aku tertegun. Jarang sekali ia tersipu. Hal ini membuatku tersenyum. Aku berhasil menguak sisi Noona yang lain. Selama ini dia seperti mesin. Hanya bisa tersenyum, bijaksana, ceria, namun dewasa. Dia tidak pernah tersipu, marah, menangis, mengeluh. Ingin rasanya mengetahui sisinya yang lain. Dia membuatku penasaran.

“Nah, ayo kita mulai. Peraturannya akan kujelaskan sambil jalan. Yang mati bisa mengajukan pertanyaan ke yang kalah dan yang kalah wajib jawab.”

“Oke.” Kami memulai permainan dengan suit. Sunghee Noona menang. Ia mengambil tujuh biji cemara yang ada di lubang kecil yang terdekat dengan lubang yang besar. Lubang yang besar ia sebut rumah, yang kecil sawah. Penamaan yang bagus.

“Tembak!” Sunghee Noona berseru ketika satu biji cemara diletakkan di sebuah lubang kosong, di hadapan delapan biji cemara milikku. “Nah, kalau begini kamu bisa ambil biji punya lawanmu.” Dia mengambil delapan biji cemara milikku dan menyimpannya di ‘rumah’nya. Aku menganga. Aku terancam kalah. Pasalnya, dalam permainan ini, yang menang adalah dia yang mendapatkan biji cemara paling banyak di rumahnya.

“Giliranmu,” katanya. Aku mengambil biji cemara dari sawahku dan mulai membagikannya satu-persatu.

Kami terus bermain, kadang Sunghee Noona menjelaskan peraturan permainannya.

“Yah..aku mati..” ujar Sunghee Noona begitu biji cemaranya jatuh di lubang yang kosong. Sesuai peraturan, ganti giliran.

“Oke, kamu mau nanya apa?” Sunghee Noona menatapku. Aku terdiam sejenak.

“Hm…kapan Sunghee Noona menangis? Dan dimana?”

Sunghee Noona terdiam. Agak lama, sebuah senyum terlukis di bibirnya.

“Di sini, sendirian, kalau sedang sendiri. Tapi, akhir-akhir ini jarang karena sudah tidak ada Anger dan Cry. Aku memusatkan perhatianku pada congklak ini agar aku tidak menangis.”

“Noona memainkan permainan dua orang ini sendirian?”

“Ya. Aku bermain dengan kepribadianku yang lain.”

“Smile?”

“Hm.”

“Bedanya kalian berdua apa?”

Kembali ia terdiam. Ia menunduk sebentar lalu menatapku kembali. Ia menjawab,

“Lee Sunghee adalah seorang gadis egois, pemalas, santai, tapi punya rasa solidaritas dan kesetiaan yang tinggi. Lee Sunghee adalah pribadi yang tertutup, berbeda dengan Smile. Smile adalah seorang yang dewasa, bijaksana, bertanggung jawab, dan membingungkan. Sunghee itu apatis tapi dia juga cengeng. Sementara Smile…dia tidak pernah menangis.”

“Lalu siapa yang ada dihadapanku sekarang?” Aku menatap orang di hadapanku ini dengan dalam. Mataku langsung tertuju pada matanya. Ia terlihat sedikit gelagapan mendengar pertanyaanku. Kelihatan dari gerakan kedipan matanya yang cepat.

Dia menunduk, lalu menatapku lagi. Aku terkejut melihat tatapannya yang…terluka. Seperti hendak menangis..

“Ini Lee Sunghee,” katanya dengan suara gemetar. “Sudah lama Lee Sunghee terkurung di dalam tubuh ini..”

Aku menunduk menatap congkeulakeu di hadapanku. Kekuatannya benar-benar besar. Lee Sunghee saja sampai keluar karena bermain ini.

“Aku capek, Sehun-ah.”

Aku mendongak. Mataku membelalak. Tak percaya seorang Sunghee Noona bisa mengatakan hal itu.

Tapi aku baru ingat, yang di hadapanku sekarang Lee Sunghee. Gadis kekanakan yang egois dan cengeng.

“Aku berusaha berubah menjadi lebih dewasa..tapi…sulit. Mungkin aku mengidap Peter Pan syndrome? Aku tidak mau beranjak dewasa. Aku masih ingin menikmati hidupku seperti anak-anak. Padahal usiaku sudah 25. Aku pasti terlihat bodoh.” Sunghee Noona tertawa getir.

“Sunghee-ssi, kalau mau menangis, menangislah. Di sini, di hadapanku. Jangan menutupi perasaanmu lagi. Itu memuakkan.”

Sunghee Noona menatapku. Ia terlihat terkejut melihat aku bisa mengatakan hal seperti ini.

“Aku siap menampung kesedihanmu,” lanjutku. Sunghee Noona menutup mulutnya dengan punggung tangan. Tetes-tetes air mata mulai berjatuhan dari matanya. Suara isak tangisnya terdengar semakin keras. Ia akhirnya menangis sesenggukan. Aku menyingkirkan congkeulakeu yang memisahkan kami. Aku memajukan dudukku dan memeluk Sunghee Noona. Aku meletakkan kepalanya di pundakku, membiarkannya membasahi bajuku dengan air mata.

“Gwaenchana…uljima, Noona. Uri Sunghee Noona adalah seorang yang kuat. Dia tidak akan menangis..” Mendengar kalimatku, tangisannya semakin kencang. Aku tersenyum dan mengusap kepalanya dengan lembut namun kaku. Aku tidak pernah melakukan hal seperti ini kepada siapapun. Ini yang pertama kalinya untukku. Aku sendiri jadi deg-degan, takut menyinggung perasaannya.

“Sehun-ah..selama ini aku selalu membohongi diri sendiri..membohongi kalian..aku bukan Smile, aku Lee Sunghee. Aku gadis yang cengeng, egois..maafkan aku..maafkan aku..”

“Gak apa-apa…gak apa-apa, Sunghee Noona..”

Sunghee Noona kembali menangis. Mataku berkaca-kaca. Rasanya..aku bisa merasakan apa yang dia rasakan.

Yang kupeluk sekarang bukanlah sebuah mesin. Mesin tidak mungkin menangis. Yang ada di hadapanku adalah seorang manusia. Manusia biasa yang punya banyak kekurangan. Manusia biasa yang selama ini membohongi dirinya sendiri. Manusia biasa yang masih tidak mengerti makna kehidupan. Yang tidak mengerti apa arti cinta.

Dihadapanku sekarang, adalah seorang gadis yang simpel.

“Ah..makasih banyak sudah nampung air mataku.” Sunghee Noona menyeka air matanya. Aku tersenyum.

“Nggak masalah..aku senang bisa menampung kesedihan orang lain.”

Sunghee Noona tersenyum. Ia menghela napas.

“Habis menangis rasanya lega juga ya..”

“Iya. Tapi jangan keseringan nangis. Gak baik juga. Noona boleh nangis di depanku aja,” ucapku tegas. Noona menatapku. Ia lalu terkekeh.

“Hm..oke deh. Makasih ya, Sehunnie. Aku cinta kamu.”

Wajahku memerah. “Aku cinta Noona juga.”

“Tenang aja, kamu kuanggap adik kok.” Sunghee Noona tertawa.

“Oh ya, main congkeulakeu-nya belum selesai! Ayo lanjutin! Semoga Noona kalah lagi ya. Hahahaha..”

Sunghee Noona tertawa. Ah bukan, ini sih ngakak.

“Kenapa sih Noona?” Aku mendengus.

“Congkeulakeu…HAHAHAHAHA!”

“Cieee yang habis nangis langsung ketawa. Hahaaaay..” godaku.

“Aaah biarin daripada tenggelam dalam kesedihan? Hayooo..”

Aku tersenyum. Yang ada di hadapanku ini…Lee Sunghee atau Smile?

Tak terasa sudah sekitar satu jam setengah kami bermain congkeulakeu. Sunghee Noona 7 kali menang, sedangkan aku 5 kali menang. Yang kalah disuruh membereskan peralatan bermain. Yah gak apa-apalah.

“Makasih ya Se Hunnie, sudah menemaniku bermain.”

“Oh, gak masalah. Bukan apa-apa kok.” Aku tersenyum.

“Udah malem banget nih. Gak pa-pa pulang sendiri?”

“Gak pa-pa. Deket ini kok.”

“Aku anter pulang ya?”

“Gak usah ngerepotin. Noona istirahat aja, besok kan buka kafe pagi-pagi.”

Sunghee Noona tersenyum. Pancaran matanya terlihat teduh. Terlihat kejujuran di matanya.

“Makasih ya. Kamu sahabat yang baik, Se Hun-ah. Tanpa sadar, tadi kamu udah menampung air kopiku dan mencuci gelasku. Makasih ya.”

Aku tertegun. Iya juga ya. Kenapa aku baru sadar sekarang?

“Kalau gini caranya sih..siap dong nembak si Minkyo itu?” Ucapan Sunghee Noona membuatku tersipu.

“Ah Noona mah pake diingetin segala!” seruku sambil cemberut. Sunghee Noona tertawa.

“Tapi inget ya Se Hunnie, kalau mau nembak pake perhitungan juga. Kayak congklak. Kalau gak pake perhitungan malah kalah kan?”

“Siap deh, Noona!” Aku tersenyum riang. Rasanya bahagia sekali aku hari ini. Aku tidak pernah menyesal pernah bertemu dengan seseorang bernama Lee Sunghee.

= = =

Aku menatapnya dari kejauhan. Hwang Minkyo ada di sana! Dia sedang berjalan kemari bersama teman-temannya! Ya Tuhan aku gugup sekali bagaimana ini aaaarrrgghhh..

“Se Hun-ah?”

Aku terpaku. Itu kan suara Minkyo? Kenapa dekat sekali? Perasaan tadi orangnya masih jauh deh…

“Se Hun-ah, kamu kenapa? Sakit?” Minkyo menyentuh lenganku dan menatapku khawatir.

“Ah err…eng..enggak kok.. gak apa-apa!” Aku cengengesan. Pasti tampangku kelihatan bodoh sekali.

Minkyo masih menatapku khawatir. Aku memberi isyarat pada teman-temannya untuk pergi memberi ruang bagi kami berdua. Untungnya mereka mengerti. Aku tersenyum tipis dan menarik tangan Minkyo, membuatnya mendekat padaku. Aku ingin tertawa melihat wajah Minkyo yang penuh tanda tanya. Tapi kutahan tawaku karena aku akan menyampaikan sesuatu yang serius.

“Minkyo-yah, kalau kamu sedih, kamu ngapain?”

“Hah? Ya nangis lah!”

“Sama siapa?”

“Sendiri.”

“Kenapa sendirian?”

“Karena gak ada yang nemenin,” jawabnya enteng. Tapi, wajahnya tetap memperlihatkan kebingungan yang kentara.

“Kalau aku temenin, mau nggak?”

“Hah?” Minkyo memiringkan kepala, tampak tidak mengerti.

“Begini Minkyo-yah,” aku memegang kedua pundaknya, “Mulai sekarang, kamu hanya boleh menangis di hadapanku. Aku siap menanggung segala kesedihanmu dan berusaha selalu ada untukmu. Kamu hanya boleh memperlihatkan tangis sedihmu padaku, tersenyumlah pada mereka. Oke?”

“Jadi…?”

“Maukah kau menjadi kekasihku?” Ah..akhirnya aku berhasil mengatakannya. Minkyo tampak terkejut. Ia terlihat gelagapan.

“Er..aku tidak meminta jawabannya langsung kok. Aku tahu kita sahabat dan aku nggak mau tali persahabatan kita rusak gara-gara perasaan bodoh ini. Kalau kamu terima aku ya syukurlah kalau nggak ya nggak apa-apa. Tapi kalau kamu menolakku, anggap kejadian ini nggak ada. Jadi kita masih bisa tetap jadi sahabat. Gimana?”

“Aku..mau kok.”

“Mau apa?”

“Jadi pacarmu lah! Masa mau salto! Kamu kan lagi nembak aku!”

“Ya maap..habisnya..aku terpesona sama kecantikanmu sih..jadi gak konek kan?”

“Gombal!” Minkyo mendengus. Aku tertawa.

“Jadi…official ya?”

“Apanya?”

“SeKyo couple!” geramku. Minkyo menganga.

“Se Hun Minkyo! Duh kamu ini gimana sih? Niat gak jadi pacar aku?”

“Pacaran apaan nih?!”

“Ahahahaha bercanda!” Aku mengacak rambutnya. Minkyo ikut tertawa bersamaku.

“Pulang bareng?” Aku membuka sedikit lenganku.

“Tentu.” Minkyo menggamit lenganku. Kami berjalan di bawah langit sore, menuju matahari.

= = =

“Noona, ayo kita main congkeulakeu lagi…Noona…” Aku melipat tanganku di atas lutut. Aku sedang duduk sambil terus menatap makam Lee Sunghee. Ya, gadis ini sudah meninggal tiga bulan yang lalu. Paru-parunya rusak karena bekas operasi pengangkatan peluru. Benar, dulunya ia adalah seorang agen rahasia Jerman. Dulu dia pernah tertembak di bagian dada, tapi dia bisa diselamatkan. Tapi hanya beberapa tahun hidup, ia meninggal. Kurasa, ia beruntung karena diberi kesempatan untuk memperbaiki hidupnya.

Mungkin karena itulah Smile muncul. Smile mendominasi sosok Lee Sunghee, menjadi bijaksana dan mengubah orang-orang di sekitarnya agar tidak menyesali kehidupannya.

Hidup ini singkat, jadi gunakan sebaik mungkin.

Tapi ingat, hidup ini juga butuh perhitungan. Tanpa perhitunan, kau akan kalah. Seperti halnya bermain congkeulakeu.

Aku tersenyum dan menatap foto yang ada di genggaman tanganku sedari tadi. Ini hasil fotobox aku dengan Sunghee Noona 4 bulan yang lalu. Setelah ia menceritakan kepribadiannya yang sesungguhnya. Setelah ia mengenalkanku pada kehidupan yang baru.

Hm…tapi masih ada satu hal yang mengganjal. Yang berfoto bersamaku waktu itu…Lee Sunghee atau Smile?

THE END

19 thoughts on “[FF] Congkeulakeu

  1. amitokugawa says:

    KYAAAAAA
    congkeulakeu, agak aneh pas baca, tapi aku langsung ngeh, tapi penasaran, hubungannya apa? eh terjawab sudah dengan membaca cerita ini
    aku suka ffnya, banyak pesan moralnya😀 sunghee bijak banget, cocok jadi noona
    sekyo manis deh🙂

  2. hyohae says:

    sunghee keren, mau smile ataupun hee itu sosoknya disini wow banget, sampai se hun pun terpesona
    kayanya cerita semua ff kamu nyambung semua, suka deh🙂
    bacanya sedih tapi, ternyata sunghee itu sakit! terlalu banyak luka mau itu di tubuhnya ataupun di hatinya, huaa :((
    iya ya kalo di pikir pikir hidup itu kaya congklak juga
    nice ff :-bd

  3. dhila_アダチ says:

    lagi2 ternganga baca ff dirimu… :O
    aaah, sunghee emang daebak..bneran dah… di side story bijak mulu… *o*
    dan, slalu tokoh side storynya (yg klo di sini si sehun) itu bisa bikin sunghee terdiam karena jawaban dari mereka yang juga bijak *o*

    bneran, pengen deh ketemu sama orang yg kayak sunghee or smile ini *o*

    keren niis, lanjut yaa…ke side story…eum, kunyuk yah?
    #jejejeeeenng

    • sungheedaebak says:

      woaaah :O
      gatau kenapa yaa mungkin dia tau bakalan mati jadi berubah bijak
      aku lagi demam bijak -,-v

      ayo ketemu sama aku #eh #sayagabijak

      kunyuk atau kris? hayooo :p

      makasih yaaa :*

      • dhila_アダチ says:

        iya juga kali ya, org yg mau mati jdi rada bijak ._.

        mo sama author n tokoh fiksinya, kedua nya mau!!!
        #tereak2

        eh? #galau
        kris dulu aja deh, si kunyuk trakhir aja, biar rada misterius gitchu..haha. buat kunyuk 2 part ya #plakk

        sama2😀

  4. hyohae says:

    ohaa gitu bagus dong :-bd
    nyadar nyambung pas sunghee cerita di taman
    “… disuruh, dihina, dipukul…”
    ah inget ke ff yg tokohnya masih sd (?) dan anak cewe itu di tolongin hyuk
    ya ga sih?

      • hyohae says:

        jaaah apadong coba, adeuuh yang lagi fokus ulangan😄
        ayo semangat \m/
        iya yang the last memory, soalnya rada nyambung aja gitu
        kn sama sama di bully *kasiaan*

  5. hwang sungmi says:

    Congkeulakeu! *tunjuk se hun*
    Hee, tampaknya se hun bocah bgt disini haha :p
    Cieeee PJ ya hun! (Se hun : enak aja panggil ‘hun, hun!’, lu kate gua bihun?!)
    Langgeng deeeh sama minkyonya yah O:)

  6. rabbitpuding says:

    Uhuuuy, sunghee hareem~ banyak cowok yang ngefans…
    Awalnya aku bingung congkeulakeu teh naon… eh? ternyata Congklak toh! pake pembacaan korea itu feelnya weird..
    But the story is…. b(^o^)d

    Aku suka sama sifatnya sehun cuman… yang paling aku dapetin itu SUNGHEE HAREM….

  7. vidiaf says:

    suka kata-kata bijaknya *plus sunghee yang bijak banget* di sini~
    agak sedih pas bagian akhir yang sehun duduk di samping makam sunghee terus ngajak main congklak :’)
    pas baca bagian sunghee sama sehun di apartemen sehun rada kaget ternyata sunghee punya kepribadian lain o_o
    cerita yang sangat bagus dan keren~!! x)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s