[Friends FF] Last Kiss

Okee, ini dia Friends’s Fan Fiction yang pertama.😄 Silakan dibaca, di like, dan komen yaaaa? ^^

Title      : Last Kiss

Nama author: Mademoiselle Fleur

Genre: Romance, sad

Rating: general (?)

Casts     : Choi Minho (SHINee), Hwang Sungmi (OC’s)

Ps           : I suggest you to listen to Taylor Swift’s song, “Last Kiss”. This story inspired by that song. What a wonderful song J

I still remember the look on your face

Been through the darkness at 1:58

The words that you whispered for just us to know

You told me you loved me so why did you go away, go away

 Aku terduduk lagi disini, sendiri. Di sudut kamar yang sepi. Pandanganku terarah pada tempat tidur yang seharusnya ditiduri oleh 2 orang itu. Kasur yang dilapisi dengan bed cover berwarna biru, warna kita. Dan otakku mulai memutar kembali memori manis dengannya..

“Sungmi-ya..”

Aku menggeliat kecil untuk menjawab panggilannya. Sebenarnya aku ingin membuka mataku. Apa lagi untuk melihat wajah tampannya itu. Tapi apa daya, rasa kantuk benar-benar mengambil alih semua kesadaranku.

“Sungmi-ya..”

Dia memanggil lagi. Suaranya, suara berat yang paling kusukai di dunia. Aku mendengarnya. Tentu saja. Tapi aku masih belum bisa membuka mata. Kurasakan tangan besar yang tadi memeluk pinggangku hilang. Aku mulai panik. Apa dia pergi?

Aku mulai membalikkan tubuhku dengan gelisah. Apa dia tidak tau kalau aku lelah? Entah sudah berapa kali aku menggerakkan tubuhku tak tentu arah. Hingga akhirnya aku berhenti karena sebuah kecupan mendarat lembut di bibirku. Ah, dia tau kelemahanku.

Kubuka mataku pelan. Dan sekarang yang kulihat adalah mata bulatnya yang terpejam, lekuk hidung mancungnya yang kini menempel di wajahku. Benar-benar tak ada jarak diantara kami. Dia menindih tubuhku dan kembali mengecup bibirku.

“Mi..Minho-ya..” ucapku pelan. Akhirnya Minho melepaskan ciumannya.

Aku tersenyum takjub memandang wajahnya. Jantungku berdebar keras, seperti akan keluar dari tempat dimana seharusnya ia berada. Sampai kapan jantungku akan terus berdebar seperti ini jika berhadapan dengan namja didepanku ini?

Jariku meraba setiap inci wajahnya. Dari dahi, mata, hidung, pipi, dan berhenti di bibirnya. Kulihat kedua ujung bibirnya juga terangkat. Membentuk sebuah lengkungan yang sangat kusukai.

Kedua tangan besar Minho yang tadi berada disamping kepalaku kini beralih ke bagian punggungku. Dan Minho langsung menarikku kedalam dekapannya yang hangat itu. Tempat paling nyaman untuk bersandar. Minho mengusap puncak kepalaku dengan lembut.

“Kau lelah, sayang? Tidurlah, aku disini menemanimu.”

Aku mengeratkan pelukanku di dada Minho. “Kajima..”

Bisa kurasakan sesuatu yang lembab menyentuh kepalaku. Minho mengecup puncak kepalaku. “Gokjeongma, I won’t go anywhere.”

Dan Minho mulai menyenandungkan lagu favoritku sebelum tidur, Quasimodo.

Sebelum aku benar-benar terlelap, Minho berbisik tepat ditelingaku, “Sungmi-ya, saranghae.. Yeongwonhi..”

*****

I do recall now the smell of the rain

Fresh on the pavement, I ran off the plane

That July 9th the beat of your heart

It jumps through your shirt, I can still feel your arms

Aku berjalan disepanjang jalan setapak yang dipenuhi dengan daun-daun kering, mungkin baru saja jatuh dari pohonnya. Aku merapatkan mantel yang kupakai. Angin sore di penghujung musim gugur memang dingin.

Aku terus menarik koperku sepanjang jalan. Ya, seharusnya aku pergi sekarang. Meninggalkan kota Seoul menuju kota mode dunia, Paris. Meninggalkan sejuta kenangan manisku dengannya. Dan juga meninggalkan banyak luka pahit dan airmata disini.

Tapi pada akhirnya aku memutuskan untuk tetap tinggal. Bahkan ketika aku hanya melihat bayangannya saja, aku tak bisa pergi. Walaupun aku tau kalau aku tidak akan bersamanya lagi, aku tetap tidak bisa melangkah.

Jalanan setapak ini kembali mengingatkanku pada kencan pertama kami. Tepat 5 tahun yang lalu. Hari dimana aku berharap kalau aku tidak akan pernah melihat matahari tenggelam di hari itu.

Senyum tak berhenti terlukis diwajahku. Apalagi karena genggaman erat tangan seorang namja disampingku. Dan juga tatapan iri dari orang-orang yang melihat kami.

Bagaimana tidak? Kini aku digandeng oleh seorang namja kapten basket sekolah yang pastinya punya banyak fans. Dan sekarang berstatus sebagai namjachingu-ku!

Aku menoleh dan melihat senyum juga terlukis diwajahnya. Wajah tampannya yang seperti malaikat.

“Wae, jagi?Ada yang salah?”

Aku menggeleng. “No, you’re absolutely perfect, Mr. Choi Minho!”

Minho tertawa pelan. Tangannya kemudian mengacak poniku. “Ada-ada saja kau ini, Sungmi-ya..”

Aku ikut tertawa. Tapi tawaku seketika terhenti ketika melihat apa yang Minho lakukan.

Minho melepas genggaman tangannya dan berjalan ke arah jembatan Sungai Han. Ia berhenti dan berbalik menghadap ke arahku yang berada sekitar 3 meter dari tempatnya berdiri sekarang.

“SARANGHAEYO HWANG SUNGMI!”

Minho berteriak lantang. Membuat orang-orang yang berlalu lalang melihat kami dengan tatapan aneh. Ada yang iri, ada yang tertawa, ada juga yang tidak perduli.

“Ya! Apa yang kau lakukan barusan, Mr. Minho?!” ucapku sambil memukul pelan lengannya ketika ia menghampiriku.

Minho hanya tersenyum lebar. Dia menangkis pukulanku dengan mudah. “Mengatakan pada semua orang kalau aku mencintaimu.” ucapnya polos.

Aku menggelengkan kepalaku. “Aish, kau ini ya..”

“Tapi kau suka kan? Ya sudah, kajja!” Minho merangkul bahuku dan segera menarikku pergi.

Aku melingkarkan tanganku di lengannya. Aku bisa merasakan jantungnya yang berdebar keras. Dan aku yakin rona merah itu pasti sudah menghiasi pipiku sekarang.

Apa dia benar-benar merasakan perasaan yang sama denganku?

*****

But now I’ll go sit on the floor wearing your clothes

All that I know is I don’t know

How to be something you miss

Never thought we’d have a last kiss

Never imagined we’d end like this

Your name, forever the name on my lips

Aku membuka pintu flat tempat dimana aku tinggal. Ya, aku memutuskan untuk kembali. Atau lebih tepatnya, tidak pernah pergi.

Tanpa diperintah, kakiku melangkah kedalam kamar. Semua sudah tertata rapi. Pandanganku tertuju pada kemeja putih dan celana panjang hitam yang terlipat diatas bantal. Dan lagi-lagi, tanganku bergerak tanpa menunggu perintah dari otakku.

Aku mendekatkan kemeja itu ke hidungku. Mencoba menghirup aroma tubuhnya yang tertinggal disana. Kupeluk kemeja putih itu. Sangat erat. Seolah itu adalah dia. Namja yang seharusnya bertanggungjawab karena membawa pergi semua bagian hidupku.

Entah sejak kapan air bening itu mengaliri kedua pipiku. Tubuhku merosot ke bawah. Terduduk di lantai kayu yang bernuansa minimalis dikamarku. Bukan, kamar kami.

Suara langkah kaki itu membuatku menoleh ke arah pintu. Dan senyum langsung terlukis diwajahku ketika melihatnya datang. Aku menghambur ke pelukannya, seperti biasa.

“Bagaimana keadaan kantor?” tanyaku sambil membantunya melepas dasi.

Minho tampak lelah. Setelah aku selesai melepas dasinya, dia segera menghempaskan tubuhnya ke sofa disamping tempat tidur. “Banyak yang harus kutangani sendiri. Para pegawai baru itu ternyata tidak becus mengerjakan apapun.”

“Arasseo.. Yasudah, sebaiknya kau mandi saja dulu. Aku siapkan air panasnya, ya?”

Kulihat Minho hanya menganggukkan kepalanya. Ia memejamkan matanya sambil bersandar di sofa.

Tak lama kemudian, Minho segera masuk kamar mandi setelah air panasnya siap. Sambil menunggu Minho selesai mandi, aku membaca buku di sofa. Baru saja sampai ke halaman ketiga, tangan besar itu menutup bukuku. Aku mendongak.

“Sudah selesai?” tanyaku.

Minho mengangguk. “Ne, Mrs. Choi.”

Aku meletakkan bukuku di meja dan berdiri. Detik berikutnya, aku memergoki Minho tengah menatapku intens. Dari ujung kepala sampai kaki. Memangnya ada yang salah denganku?

“Wae?”

Minho mendekat, sedangkan aku hanya bisa diam mematung. Tatapannya kali ini berbeda. Seperti meminta maaf. Bahkan aku juga bisa melihat ada rasa bersalah disana. Minho merengkuh wajahku dengan tangannya yang hangat. Dan dia menatapku lembut.

“Apapun yang terjadi, saranghae..” Minho kemudian memelukku. Erat, sangat erat.

Aku membalas pelukannya. “I know. You don’t have to say those words every single night. I know you love me. And I love you, too. More than you know. Nado saranghae..” ucapku pelan.

Minho melepas pelukannya. Awalnya kukira dia akan langsung tidur. Tapi ternyata Minho malah mengecup keningku. Lalu turun ke hidung, pipi, dan berhenti di bibir. Minho menciumku lembut, sangat lembut. Tidak ada paksaan didalamnya. Dia hanya menciumku seolah-olah ini adalah kali terakhirnya dia melihatku.

Minho kemudian menggendongku ala bridal style, tanpa melepas ciumannya. Dia menghempaskan tubuhku di tempat tidur dan menarik selimut sebatas dada.

“Tidurlah, I’ll always be with you.”

Minho memeluk pinggangku dan membelai rambutku, seperti biasa. Tapi kali ini terkesan berbeda. Aku balas memeluknya dengan lebih erat.

Esok paginya, aku sama sekali tak menemukan Minho disampingku. Yang kutemukan hanya setangkai mawar merah. Aku langsung bangun dalam posisi duduk dan bersandar di kepala tempat tidur. Kuperhatikan mawar merah itu. Tidak ada yang istimewa. Hanya mawar biasa.

Tapi aku tau apa artinya. Dan sedetik kemudian aku sudah menggenggam erat mawar itu. Titik-titik air bening mulai mewarnai pipiku. Setelah sekian lama tidak menangis, akhirnya aku kembali merasakannya lagi. Aku terisak keras. Hingga rasanya aku  seperti tak menemukan diriku sendiri. Kosong. Mati.

-FIN-

4 thoughts on “[Friends FF] Last Kiss

  1. amitokugawa says:

    paling suka bagian terakhir
    …. Aku terisak keras. Hingga rasanya aku seperti tak menemukan diriku sendiri. Kosong. Mati.
    deskripsi perasaan si tokoh di ff ini bagus🙂

  2. hwang sungmi says:

    Alohaaaa~ wah gomawo sunghee-ya udah ikutan dipost disiniii :))

    Amitokugawa : makasiiiih udah mau baca FF abal-abal punyaku ini eheheh🙂 disini sungminya depresi beneran *loh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s