[FF] Different Point of View

Note: Chanyeol’s side story

= = =

“Hyung, lagi butuh uang, kan?”

“Hah? Memangnya wajahku semenyedihkan itu sampai kamu tiba-tiba nanya hal begitu waktu kita sedang latihan band?”

“Aish, bukan itu! Maksudnya, kau pasti butuh uang tambahan untuk kuliah dan sebagainya, ya kan?”

“Sebenarnya ada apa, Oh Se Hun? Kau aneh sekali.” Aku kembali mengecek stik drum-ku.

“Hyuuung..kau butuh uang kaan?” Se Hun menatapku dengan puppy eyes-nya.

“Nggak juga tuh.”

“Ayolah Hyung…butuh uang dooong, ya?” Kini Se Hun memelintir ujung kemeja yang sedang kukenakan dengan gaya yang manja. Ini membuatku mual.

“Lah malah maksa?”

“Aku lagi butuh uang niiih…”

“Terus?” Aku memukul-mukul drum-ku dengan perlahan, mengecek suaranya.

“Kerja di kafe bareng yuuk..”

Aku menoleh pada Se Hun yang masih asyik membujukku. Bisa kulihat binar di matanya. Matanya bercahaya karena terpantul cahaya lampu studio.

“Ogah.”

“Hyung jahat!”

“Biarin.”

“Kalo jahat gak akan dapet cewek loh!”

“Bodo ah.”

Se Hun cemberut. Bibirnya dimonyong-monyongin. Aku meliriknya sekilas sebelum kembali memainkan drum-ku. Se Hun menghela napas.

Fine! Aku pulang duluan, Chanyeol Hyung.” Se Hun melakukan penekanan pada namaku dan bergegas mengambil tasnya yang tergeletak di kursi dan berlalu pergi. Kim Jongdae, vokalis band kami, menoleh padaku. Dia menunjuk ke arah Se Hun menghilang sambil mengangkat alisnya. Aku hanya mengedikkan bahu.

DEENG..Do Kyungsoo, juniorku di Kyunghee, menekan tuts keyboardnya, memberi soundtrack pada ketegangan ini.

“Minta maaf, Chanyeol,” kata Jongdae, atau panggilannya Chen. Aku menatap Chen, membuka mulutku tapi tidak mengucapkan sepatah katapun. Chen adalah ketua band ini, dan dia juga member paling tua di sini jadi semua orang menghormatinya. Termasuk aku.

Geez.” Aku bangkit berdiri dan bergegas mengejar Se Hun. Aku terus berjalan menyusuri trotoar dan sampai akhirnya aku berhenti di halte bus. Se Hun tidak ditemukan dimanapun. Mungkin dia sudah pulang naik bus, atau mungkin hari ini dia bawa motor. Entahlah.

Aku menghela napas. Gerimis mulai turun. Akhir-akhir ini hujan memang sering turun. Tapi meskipun begitu, aku selalu lupa membawa payung.

Aku bahkan lupa membawa tas hari ini. Aku hanya membawa ponsel dan dompet yang dimasukkan ke saku jins.

Aish..kenapa pula aku harus minta maaf pada Se Hun? Anak itu menyebalkan. Dia sendiri yang merengek seperti anak kecil, gak sadar apa dia sudah kelas 3 SMA?

“KAI! Aku peringatkan sekali lagi, jangan buka-buka lemariku sembarangan! YAH! Lemari buku aja gak boleh gimana lemari baju! Berkas-berkas sekolahmu kan ada di kamarmu! Hah? Ilang? Ada kok! Kamunya aja lupa nyimpen?” Seorang gadis berjalan masuk ke halte sambil berbicara di telepon. Aku sontak menoleh mendengar perkataannya yang cukup…aneh.

“YAH, KIM JONGIN!” seru gadis itu. Aku nyaris melompat karena terkejut. Gadis itu tampaknya menyadari bahwa dirinya berisik dan dia menoleh padaku, meminta maaf sambil terus berbicara di telepon. Tunggu dulu…dia itu kan..Park Eun Neul? Dia juniorku di Kyunghee, seangkatan dengan Kyungsoo.

“Hey, aku meminta maaf kan gara-gara kamu juga!” ucapnya lagi di telepon. Setelah mendengus kesal, Eun Neul mematikan sambungan teleponnya. Dia lalu menoleh padaku yang tanpa sadar memperhatikannya terus. Ketika menyadari siapa cowok yang sedari tadi berdiri di sampingnya, dia terkesiap. Mulutnya menganga dan matanya membelalak.

“Yah Park Eun Neul, aku bukan hantu. Ngapain kamu melotot begitu?” ujarku.

“Omo, Chanyeol Sunbae! Ngapain kamu di sini?” Eun Neul menunjukku. Aku menatap jari telunjuknya yang mengarah padaku dengan sinis.

“Heh, memangnya Korea Selatan ini punya nenekmu? Biarin aja dong aku mau di sini kek, di sana kek, terserah.”

“Jeeeh gitu doang marah. Lagi PMS ya?” Eun Neul tertawa lepas.

“Dasar hoobae kurang ajar!” Aku berlagak hendak memukulnya. Gadis itu malah makin terbahak.

“Hyuuuung!” seru Se Hun dari arah kiriku. Aku menoleh dan melihatnya berlari ke arahku.

“Apa?”

“Aku minta maaf udah marah sama hyung.” Se Hun membungkuk padaku. Aku jadi salah tingkah.

“Eh..harusnya aku yang minta maaf..”

“Ya udah kita saling memaafkan ya!” Se Hun tersenyum hangat. Dan dia benar-benar manis seperti anak usia 11 tahun. Inilah hebatnya maknae. Tch.

= = =

Aku berjalan memasuki rumahku sambil mengucapkan, “Aku pulang,” namun yang kuterima hanyalah keheningan. Aku menghela napas dan melangkah menuju kamarku.

“Sore, Eomma,” ujarku.

“Hmm..” Sebagai balasan, Eomma hanya menggumam. Ia masih serius dengan laptopnya. Aku menghentikan langkahku dan memperhatikan Eomma. Semakin hari ia semakin kurus. Ia terlalu banyak bekerja.

“Appa masih belum pulang ya..” gumamku. Eomma menoleh. Dia menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan.

“Chanyeol, appa-mu kan bekerja di pelayaran, otomatis dia akan jarang pulang. Mungkin dua kali dalam setahun. Kau merindukannya?”

“Hm.” Aku tersenyum dan melanjutkan langkahku menuju kamar. Aku lalu menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur. Aku memikirkan tawaran Se Hun tadi. Kerja di kafe? Part time? Lumayan juga. Aku bisa meringankan beban Eomma-ku yang memenuhi kebutuhan sehari-hari selagi appa berlayar. Memang gaji appa besar, tapi jarang sekali appa bisa mengirimkan uang pada kami. Dan sekarang, uang yang appa kirimkan sudah hampir habis, maka eomma harus bekerja ekstra keras di saat seperti ini. Dia akan bekerja jadi apa saja. Penulis, penjahit, apapun itu.

Aku mengambil ponselku dan mengontak seseorang.

“Se Hun-ah, soal kafe yang kau bicarakan tadi itu…bolehkah aku bergabung?”

= = =

Tidak kusangka sekarang aku bekerja di sebuah kafe. Tapi, ternyata pekerjaan ini menyenangkan juga. Gajinya juga lumayan. Bos kami sangat baik dan ramah. Manajer juga sangat baik dan seringkali humoris. Suasana kafe jadi menyenangkan.

“Yah, Byun Choding, ini resep baru yang kutemukan kemarin, coba kau buat. Aku ingin tahu rasanya bagaimana.” Sunghee Noona memberikan selembar kertas pada Baekhyun, manajer yang notabene seumuran denganku.

“Siap, Choding Noona!” Baekhyun memberikan hormat ala tentara dan pasukan paskibra sebelum mulai beraksi membuat kopi.

“Oh Choding, bagaimana sekolah hari ini?” Sunghee Noona bertanya pada Se Hun.

Baiklah, jadi..apa-apaan dengan semua kata CHODING di sini?!

“Noona, kenapa semua orang dijuluki choding?” Akhirnya aku bertanya. Sunghee Noona menoleh.

“Well, semua orang di sini kekanakan. Maksudnya, we often do some immature things but it’s fun. Kenapa? Oh ya, ngomong-ngomong julukanmu berarti Park Choding ya? Hahahaha!” Sunghee Noona, dan dua choding lainnya tertawa. Lebih tepatnya menertawaiku. Aku menghela napas. Park Choding? Tsk. Aku kan tidak kekanakan.

“Ayolah, Yeol! Ini kan hanya bercanda! Dulu waktu kamu pertama melamar kerja di sini kamu imut-imut sekali, makin kemari auramu makin gelap saja. Park Choding, kamu pundungan ya? Hahahahhaa!” Perkataan Sunghee Noona barusan sontak membuat mereka bertiga terbahak kembali. Melihat mereka tertawa selepas itu, aku akhirnya tertawa juga. Well, Park Choding tidak masalah.

“Aku kan tidak kekanakan!” bantahku.

“Kelakuanmu memang tidak, tapi wajahmu! Kamu punya wajah usia 3 tahun dan suara usia 30 tahun. Park Choding jjang!” Lagi-lagi Sunghee Noona berceloteh. Dua choding lainnya terbahak sampai menitikkan air mata. Baekhyun malah memegangi perutnya dan bertumpu pada meja kafe. Aku tertawa lagi. Baiklah, kafe ini menyenangkan.

= = =

Aku mendengus kesal ketika hujan deras turun lagi mengguyur kota Seoul. Bagaimana aku bisa pergi ke kafe kalau belum keluar kampus saja sudah hujan deras? Tapi, tiba-tiba aku ingat bahwa hari ini aku bawa payung. Aku mengeluarkan payung hitam dari tasku dan membukanya. Aku lalu berjalan menyusuri jalanan, menembus hujan.

Sampai di halte bus, aku melepaskan payungku. Bajuku sedikit basah karena kecipratan air. Tapi tak apalah, segini sih gak akan bikin masuk angin.

Bus datang dan menurunkan penumpang. Aku menunggu semua penumpang turun, sampai akhirnya aku bisa naik bus itu. Tiba-tiba, seorang yang aku kenali turun dari bus itu dan cepat-cepat berteduh di halte. Ia terlihat gelisah. Sesekali ia melirik jam tangannya dan menatap langit yang masih menangis.

“Eun Neul?” panggilku. Eun Neul menoleh.

“Oh, sunbae!” ujarnya. Dia terlihat terkejut lagi. Merasa kesal melihatku di sini. Aku dan Eun Neul memang sering bertengkar. Waktu dia MOS, aku kakak pembimbingnya. Aku memperlakukannya dengan semena-mena karena semua orang juga begitu. Tapi, ternyata Eun Neul bukanlah tipe adik kelas yang pasrah. Dia balas dendam padaku. Waktu para junior disuruh membuat surat cinta untuk kakak pembimbing mereka, Eun Neul malah menjelek-jelekanku. Dia membaca suratnya dengan lantang di tengah lapangan, dilihat semua orang. Dan pada akhirnya aku terkenal menjadi Chanyeol Si Jahat. Karena, Eun Neul menggunakan sekitar 40 kata jahat di surat bencinya itu.

“Kau mau kemana?” tanyaku dengan suara agak keras, mencoba mengalahkan suara hujan.

“Ke perpustakaan umum di sebelah sana. Aku harus mengembalikan bukunya sebentar lagi. Kalau tidak, aku didenda.”

“Pakai payungku saja! Tapi ingat, balikin! Keadaannya musti mulus seperti sedia kala!”

“Tau gitu gak usah minjemin! Payung aja pake syarat dan ketentuan berlaku. Dasar Chanyeol Si Jahat! Huuu!!” Eun Neul memandangku kesal. Aku menjulurkan lidah dan bergegas naik ke bus yang siap berangkat.

Sampai di kafe, bajuku basah kuyup. Untung saja aku mengenakan jaket parasit, jadi airnya tidak akan tembus ke T-shirt yang kukenakan.

“Maaf aku terlambat!” ujarku pada Baekhyun yang sedang berjaga di balik meja kasir.

“Aigoo…bajumu basah, Chanyeol. Cepat buka!” suruhnya. Aku menuruti perintahnya. Aku cepat-cepat membuka jaket parasit itu dan bergegas masuk ke staff room setelah meminta maaf terlebih dahulu. Aku cepat-cepat mengganti bajuku dengan seragam kafe ini dan mulai melaksanakan tugasku di etalase cake. Tak lama kemudian, Se Hun mendatangiku dengan wajah yang pucat. Aku mengernyitkan kening padanya.

“Kenapa?” tanyaku. Sebagai jawaban, Se Hun hanya mengedikkan dagunya ke arah Baekhyun yang sedang menghadapi seorang pria yang berdandan ala geng motor.

“Dia bilang kopi Baekhyun hyung tidak enak.” Se Hun mendengus. Aku terdiam. Aku lalu melihat sekeliling. Benar juga, tidak ada Sunghee Noona di sini.

“Sunghee Noona kemana?” tanyaku.

“Dia sedang tidak enak badan. Dari kemarin kok.”

“Oh ya? Kemarin aku gak kebagian shift jadi nggak tahu.”

= = =

“Pagi semuanya!” sapa seseorang yang sangat kukenal.

“Noona!” koor kami bertiga kompak. Sunghee Noona terkekeh.

“Aigoo…lama sekali tidak datang ke sini. Semua baik-baik saja kan?”

“Yep. Semuanya aman terkendali!” Baekhyun mengacungkan jempol.

“Bagus, Byun Choding. Nah, kalau begitu ayo kita bekerja!” Sunghee Noona tersenyum riang. Tapi, aku menyadari sesuatu. Senyumnya tidak seriang dulu. Dia..sedikit pucat.

Singkat cerita, aku telah menyelesaikan pekerjaanku di sini. Di luar sedang gerimis, sejak dua jam yang lalu hujan terus mengguyur daerah Myeongdong. Nah, mumpung gerimis, aku ingin langsung pulang.

Aku sudah bersiap di depan dekat pintu kafe.

“Se Hun, ppali! Nanti hujannya tambah deras lagi!”

“Iya sebentar!” Se Hun berseru dan berlari menghampiriku. Aku menatap keluar pintu kaca.

“Yaaah hujannya mulai deras lagi. Kamu sih lama!” gerutuku.

“Yeeey napa jadi nyalahin aku?”

“Ya udah, kita lari aja sampe halte bus. Gimana?” usulku. Se Hun mengangguk setuju.

“Oke, satu…dua..TIGA!” Kami berdua bergegas berlari keluar kafe. Di kejauhan, aku mendengar Baekhyun berteriak.

“Dasar choding! Mau lari ke halte aja pake aba-aba!”

= = =

Tak terasa, sudah sekitar tiga bulan aku bekerja di kafe ini. Rasanya aku betah sekali bekerja di sini. Kafenya nyaman, orang-orangnya menyenangkan, dan aku juga belajar banyak hal dari mereka. Mulai dari cara membuat kopi yang enak, membuat cake, manajemen kafe, dan bahkan tentang hidup. Untuk poin yang terakhir, aku banyak belajar dari Sunghee Noona. Dia sering bicara tentang hidup jika ada waktu luang.

Misalnya, waktu aku mengelap kaca pagi itu. Ketika yang lain sedang sibuk mempersiapkan kafe Einfach ini untuk buka 15 menit lagi. Sunghee Noona menghampiriku dan memperhatikan pekerjaanku. Dia mengangguk-angguk puas.

“Chanyeol-ah, sebentar lagi kamu lulus kuliah, kan?” tanyanya.

“Iya. Kenapa memang?” Aku balik bertanya sambil membereskan peralatan mengelap kacaku.

“Nanti, kamu jadi manajer kafe ini ya?”

“Loh? Memangnya Baekhyun mau kemana?” Tiba-tiba aku berdebar. Aku tidak mau kehilangan teman yang baik seperti Baekhyun. Dan aku juga belum siap menjadi manajer.

“Dia nggak kemana-mana kok. Dia akan kuangkat jadi pemilik kafe ini. Kamu jadi manajer ya?” Sunghee Noona menatapku serius. Aku terdiam.

“Kalau Baekhyun jadi manajer, Noona mau kemana?” Pertanyaanku ini tidak dijawab. Sunghee Noona hanya tersenyum.

Tiba-tiba seorang pria berjalan dengan cepat ke arah kami. Aku meliriknya. Dia lebih tinggi sekitar 2 cm dariku. Rambutnya cokelat, dan tubuhnya tegap. Dari wajahnya, sepertinya dia bukan orang Korea asli.

Cowok itu menarik pundak Sunghee Noona, menghadapkan gadis itu padanya. Dia marah-marah pada Noona dan membanting sebuah map cokelat ke meja di sampingku. Cowok yang bernama Kris itu mencium Sunghee Noona. Aku terkejut. Aku segera mengalihkan pandangan dan menatap map cokelat tersebut.

Map rumah sakit. Tulisannya pakai bahasa Jerman, aku tidak mengerti bagaimana cara membaca tulisan itu, tapi aku tahu itu map rumah sakit karena ada tulisan Medical Check-Up di atasnya.

Aku berjalan ke arah Baekhyun yang menatap mereka dengan pandangan nanar. Aku menghela napas.

“Itu map rumah sakit,” kataku setelah berada di dekat Baekhyun. Aku menoleh pada Baekhyun yang sedang menatap cangkir di genggamannya. Ekspresinya terlihat murung. Apa dia mengetahui sesuatu? Apa dia sudah tahu kemana Sunghee Noona akan pergi?

Pergi, map rumah sakit, pucat. Sunghee Noona akan…meninggal? Aniyo, aniyo, Park Choding, jangan mikir aneh-aneh!

Park Choding? Kenapa aku jadi memanggil namaku Park Choding?

= = =

ZRRSS…awan gelap kembali hadir menumpahkan air yang ditampungnya ke Seoul, tak terkecuali Kyunghee University. Hari ini aku tidak membawa payung karena payungku masih ada di hoobae sialan itu. Siapa lagi kalau bukan Eun Neul? Cuma dia satu-satunya hoobae sialan yang ada di kampus ini.

Aku melipat tanganku di depan dada. Mataku menatap lurus ke depan. Aku berdiri di koridor utama Kyunghee, menunggu hujan reda. Jarak kyunghee dengan halte bus memang sedikit jauh. Aku tidak mau kebasahan dan ujung-ujungnya sakit. Besok ada ujian, aku tidak mungkin melewatkan ujian itu. Kalau tidak, bisa gawat urusannya.

Dari gerbang utama, sebuah mobil sedan berwarna biru terlihat sedang dikemudikan ke arah koridor utama. Aku mengangkat alis. Itu kan mobil Sunghee Noona? Kenapa dia ada di sini?

Mobil itu merapat pada pintu kampus. Aku menuruni tangga dan menghampirinya. Kaca mobil dibuka, terlihatlah Sunghee Noona yang tersenyum dari balik kemudi.

“Park Choding, come in!”  seru Sunghee Noona. Aku tersenyum dan melangkah masuk ke dalam mobil. Aku agak kesulitan masuk ke dalamnya, karena ini mobil sedan yang kecil, dan kakiku panjang.

“Oh, maaf, sebentar kursinya mundurin dulu.” Sunghee Noona memundurkan jok penumpang agar aku bisa duduk dengan leluasa. Aku berterima kasih dan memperbaiki posisi dudukku. Aku memasang sabuk pengaman dan Sunghee Noona mulai mengendarai mobilnya.

“Tinggimu berapa sih?” tanyanya.

“185 cm.”

“Pantas saja. Tinggiku hanya 165. Kita beda 20 cm. Aku jadi merasa pendek kalau berdiri di dekatmu.” Sunghee Noona tertawa. Aku terkekeh.

“Bagaimana rasanya melihat dunia dari tinggi 185 cm?” tanyanya lagi. Aku mengerutkan kening. Ini pertanyaan baru bagiku. Pertanyaan yang baru sekali ini kudengar.

“Bagaimana rasanya?” Aku balik bertanya.

“Kau bisa melihat sesuatu yang orang lain tidak bisa lihat dari tinggi segitu, kan? Jadi, bagaimana rasanya?”

“Rasanya..” Aku terdiam. Benar juga. Aku bisa melihat sesuatu yang orang lain tak bisa lihat. Dengan tinggi badanku ini, seharusnya aku bisa melihatnya.

“Kamu berpotensi, lho, Chanyeol. Dengan tinggi badan segini, wajah tampanmu, dan suaramu yang berat itu, kamu bisa jadi selebriti. Model atau rapper, mungkin?” Sunghee Noona menoleh padaku sekilas dan kembali memfokuskan pandangannya ke depan.

Aku terdiam memikirkan ucapannya. Aku mengerti maksud tersendiri ucapan Noona. Aku diberi kelebihan, aku harus bisa melihat potensiku. Aku bisa melihat sesuatu yang orang lain tidak bisa lihat. Itu maksudnya potensi, kan? Yah, sesuatu seperti itulah.

Atau mungkin, aku harus bisa melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.

“Cowok dibuat lebih tinggi dari cewek agar dia bisa mengantisipasi bahaya apa yang akan menghampiri ceweknya. Jadi, dia bisa mencegah bahaya tersebut muncul dan melindungi gadisnya.” Sunghee Noona menghentikan mobilnya di taman kota. Hujan deras masih terus mengguyur.

“Aku mau main air,” katanya. Dia lalu membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Aku terkejut. Aku bergegas mengambil payung yang berada di jok belakang dan mengejar Noona. Dia sedang merentangkan tangannya sambil menengadah ke atas. Dia menyambut hujan dengan gembira. Sementara aku menjadikan payung biru yang kutemukan sebagai tameng.

“Noona, nanti kau sakit!” Aku berlari ke arah Noona dan memayunginya. Namun, dia malah menghindariku.

“Aku ingin menikmati hujan ini untuk terakhir kalinya! Siapa tahu aku tidak bisa menikmatinya lagi, ya kan?” Sunghee Noona tersenyum manis dan kembali menikmati hujan. Aku tertegun. Benar, Sunghee Noona akan pergi. Dia sedang menikmati hari-hari terakhirnya di dunia ini.

Aku menunduk. Tangan kananku yang menggenggam payung gemetar. Genggamanku pada gagang payung tersebut melonggar. Aku kembali menatap Sunghee Noona. Gadis itu, ia melihat dunia dengan sudut pandangnya sendiri. Ia menentang kebiasaan orang lain. Dia dengan enaknya bermain hujan padahal dia sudah bukan anak-anaka lagi. Gadis itu dengan entengnya merekrut siapapun menjadi karyawan kafenya. Dia tidak butuh beribu-ribu syarat yang biasanya diajukan oleh bos. Gadis itu berbeda, dan aku mengaguminya.

“Sudah kuputuskan, Noona!” seruku. Sunghee Noona menoleh. Dia menungguku melanjutkan ucapanku.

Aku melempar payung biru itu ke tanah. Aku tersenyum mantap dan menegakkan tubuhku.

“Aku sudah memutuskan, akan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda! Aku tidak akan menjadikan siapapun menjadi tamengku!” Aku tersenyum, rasanya lega sekali entah kenapa. Seperti, beban yang selama ini disimpan di pundakmu terlepas begitu saja. Mungkin ini yang dinamakan kebebasan. Mungkin ini rasanya menjadi diri sendiri. Selama ini aku selalu berusaha menjadi yang terbaik, selalu berusaha membanggakan orang lain dengan nilai akademisku. Tapi, kalau aku berpotensi di bidang lain, kenapa tidak? Kenapa aku harus memaksakan diri di bidang yang tidak aku suka?

Sunghee Noona tersenyum. Ia berlari ke arahku dan menghambur ke pelukanku. Aku membalas pelukannya dengan sangat erat.

“Noona lihat saja, suatu hari nanti aku akan menjadi model yang sangat terkenal!” seruku.

“Tentu saja! Tentu saja hari itu akan datang, Park Chanyeol!” Sunghee Noona balas berseru. Orang-orang yang kebetulan berada di sini menatap kami aneh. Mereka semua mengenakan payung untuk melindungi diri mereka. Beberapa berlari menghindari hujan. Yang lain bersikap pasif dengan menunggu hujan berhenti.

Aku tidak mau bersikap seperti mereka. Aku tidak akan menjadikan siapapun sebagai tamengku, aku tidak mau menghindari masalah, dan aku tidak akan menunggu nasib datang padaku. Aku akan terus berjalan ke depan. Aku tidak akan berhenti. Karena aku sudah melihat dunia dari sudut pandangku sendiri.

= = =

“Huatchih!!” Aku bersin lagi. Entah untuk yang keberapa kalinya. Sunghee Noona memberikan secangkir cokelat panas padaku. Aku menggenggam cangkir cokelat itu, merasakan kehangatannya menjalar di tubuhku.

Sunghee Noona terkekeh. Aku tersenyum sambil menatapnya. Kini, kami berdua sedang berada di apartemennya. Setelah adegan hujan-hujanan barusan.

“Aku dengar dari Se Hun, kau dijuluki Chanyeol Si Jahat ya?” tanyanya.

“Itu karena ada seorang hoobae yang menjelek-jelekanku di depan umum. Dia menulis surat benci, di dalamnya ada sekitar 40 kata jahat. Mulai dari situlah, legenda Chanyeol Si Jahat dimulai,” kataku sambil tersenyum.

“Kalau begitu ubah julukannya! Masa kau mau berdiam diri dan membiarkan kata ‘jahat’ menempel padamu seumur hidup?”

“Ya, selama ini aku memang pasif. Tapi, sekarang aku sudah sadar. Aku akan merubah julukan itu menjadi Chanyeol Si Tampan,” ujarku dengan penuh percaya diri.

Sunghee Noona tertawa. Tawanya menular padaku. Aku merasa sangat bahagia saat ini. Tapi, kebahagiaan yang aneh. Aku merasa bahagia, ketika Sunghee Noona sedang bersiap-siap untuk pergi meninggalkan dunia ini. Aneh. Kebahagiaan yang bercampur kesedihan, tapi ada kelegaan juga. Entahlah. Ini rumit.

“Kalau begitu, aku orang pertama yang memanggilmu Chanyeol Si Tampan, oke?” Sunghee Noona tersenyum. Aku tersenyum senang sambil mengangguk dengan bersemangat.

= = =

Aku menghirup udara pagi di dalam kafe. Aah…rasanya cukup menyegarkan. Aku menatap dapur kafe ini, setiap sudut kujelajahi. Sebuah tersenyum terukir di bibirku.

Aku adalah manajer Einfach Café. Setelah Sunghee Noona pergi, Baekhyun langsung diangkat menjadi pemilik kafe ini dan aku manajernya. Sementara Se Hun, dia hanya pekerja part time.

“Chanyeol, tolong ajarkan karyawan baru kita untuk membuat kopi yang enak!” seru Baekhyun. Hah? Karyawan baru?

Aku bergegas keluar dari dapur dan menghampiri Baekhyun. Dia sedang berdiri di sebelah seorang gadis yang perawakannya sangat kukenali. Park Eun Neul.

“Hai, aku manajer kafe ini, Park Chanyeol. Karyawan baru harus ditrainee dulu.” Aku tersenyum misterius pada gadis itu. Dia menelan ludah. Kurasa dia terkejut melihatku berdiri di sini, sebagai manajernya, dan siap membalaskan dendam padanya. HAHAHAHAHAHA!

“Ayo ikut aku.” Aku mengajaknya masuk ke staff room untuk berganti baju. Sambil menunggunya berganti baju, aku menyiapkan bahan-bahan dasar untuk membuat kopi dan cake.

Tak lama kemudian, Eun Neul keluar dari ruangan. Dia lalu menghela napas keras-keras.

“Jadi, apa yang akan kita pelajari?” tanyanya.

“Bikin kopi, sekarang juga. Nih, bahannya.” Aku menunjukkan bahan-bahan kopi yang sudah kusiapkan. Eun Neul menganga.

“Aku kan nggak tau caranya!” sahutnya kesal. Sepertinya dia masih dendam padaku.

“Ya bikin aja dulu. Ntar kalau udah selesai, baru aku nilai. Kalau hasilnya jelek, aku akan mengajarimu secara intensif, kalau lumayan, paling aku hanya memperbaiki kesalahanmu sedikit.”

“Cih, dasar Chanyeol Si Jahat!” Eun Neul menggerutu, tapi dia membuat kopi juga. Aku hanya tersenyum dan memperhatikannya. Setelah kopinya selesai, aku langsung mencicipinya.

Aku terdiam lama.

“ASTAGA, PARK EUN NEUL! Ini kopi apa ramuan setan?! Rasanya benar-benar aneh!” seruku.

“Sudah kubilang aku nggak bisa bikin kopi beginian tapi masih aja dipaksa! Biasanya, orang lain akan mengajari cara membuatnya terlebih dahulu, baru suruh muridnya coba! Kau ini guru macam apa?”

“Hey, aku punya sudut pandangku sendiri, oke? Jadi ikuti saja perintahku kalau kau tidak mau dipecat!”

“Alat-alat rusak baru tau!” dengusnya sebelum mulai mengutak-atik bahan-bahan kopi tersebut.

“Biarin aja, punya Baekhyun ini.”

“Gak sopan sama bos!”

“Memangnya kamu sopan, hah?!”

“Ya ampun, di belakang rame sekali ya..” kata Baekhyun dengan suara agak dikeraskan, sengaja agar aku bisa mendengarnya.

“Hehe, benar juga,” balas Kris yang sedang berkunjung ke kafe hari ini.

“Double Park Choding~” komentar Se Hun.

Double Park Choding? Yang benar saja.

THE END

17 thoughts on “[FF] Different Point of View

  1. vidiaf says:

    omomo aku merinding bacanya~ pelajaran hidupnya itu loh… aku suka :3
    “Cowok dibuat lebih tinggi dari cewek agar dia bisa mengantisipasi bahaya apa yang akan menghampiri ceweknya. Jadi, dia bisa mencegah bahaya tersebut muncul dan melindungi gadisnya.” ///<
    sehun's puppy eyes? aaaa *melt*
    alah, Eun Neulnya pemberontak banget XDDD
    udah paling ngakak pas Eun Neul bikin kopi! =)))
    suka banget side storynya~~ x3

  2. amitokugawa says:

    ffnya ringan, lucu, tapi sarat pelajaran hidup juga
    sunghee bijak banget di sini, menginspirasi orang untuk berubah pula.. keren!
    jiah, pasti kafenya jadi heboh tuh gara2 double park choding😀
    like this yooo ….

  3. dhila_アダチ says:

    hahaha…ngebayangin si chanyeol ngomongnya ngebass berat banget ngalahin kibum gitu…wkwkwk..

    iya, dengan setinggi itu bisa ngelihat apa ajaa??? #mupeng

    pelajaran hidupnya juga keren, jangan biarkan ada tameng di dirimu…dan percaya diri..okeoke…

    dan sunghee keren ya di sinii..
    #sungheebeneranterbang

    okedoke..lanjut ke side story brikutnya😀

    • sungheedaebak says:

      suara dia kan emang berat banget. tapi justru itu menarik ><
      derita tinggi 158 cm ya..(sama angka ma yeol cuma beda posisi) haha

      hehe ^^ itu jadi pelajaran buat aku juga selaku penulis ff-nya

      iya banget…gara2 kisahnya ama hyukie, bikin dia jadi dewasa dan keren hha

      okeeeh! tengkyu yaa

      • dhila_アダチ says:

        huwee, 158!!!
        itu tinggi idaman saia…huwee…
        ni aja tingginya masih 149 TOT
        yupyupyup, plajaran bgi kita smua..hehe..
        sama2😀

  4. hwang sungmi says:

    itu sunghee makan apa sampe bisa bijak kaya gitu? seneeeeng banget sama kata katanya sunghee disini :’)
    tapi agak kesindir pas bagian tinggi itu, udah nasibnya kali ya sungmi dapet tinggi rata rata, ga nyampe 160 cm hiks *curcol* *gapenting*

  5. Ara says:

    duh sunghee, karyamu bagus semuaaaaaa!!
    aku terkesan loh,
    bagus banget~
    aku doain bisa jadi penulis terkenal^^
    keep writing^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s