[FF] The Taste of the Coffee

Note: Side story of A New Hello

= = =

ZZRSSSS…

Suara hujan deras itu terdengar dari dalam Einfach café. Dari dalam, aku bisa melihat jutaan tetesan air hujan berlomba-lomba mendarat ke tanah. Beberapa menjadi genangan, sisanya masuk ke parit. Bisa kulihat ada sekitar tiga orang yang berteduh di bawah atap kafe ini. Di depan kaca bertempelkan flyer lowongan pekerjaan.

Aku mengernyit. Kenapa flyer itu masih ada di sana? Kafe ini sudah memiliki tiga karyawan, ditambah bos kami satu orang yang sering membantu. Untuk ukuran kafe yang tidak terlalu besar, rasanya jumlah karyawannya sudah cukup.

Einfach, bos kami yang memberi nama. Itu bahasa Jerman, artinya sederhana. Tapi, meskipun artinya sederhana, kedengarannya berkelas. Seperti bos kami, orang yang sederhana namun menyukai segala sesuatu yang berkelas.

Aku diam-diam menyukai bosku. Dia yang menawariku pekerjaan ini. Dia mengajakku membangun kafe bersama-sama. Dia benar-benar orang yang ramah, tidak sombong, dan sangat baik hati. Dia mengerti aku. Aku yang butuh uang untuk membiayai kuliah, namun tak kunjung mendapatkan pekerjaan part time. Aku nyaris di drop out dan frustrasi ketika bosku itu mengulurkan tangannya untukku.

Ya, dia benar-benar mengulurkan tangan. Dalam artian harfiah.

=

Waktu itu, aku sedang berjalan-jalan di sekitar Myeongdong untuk mencari pekerjaan part time, ketika tiba-tiba aku menabrak tubuh seseorang.

“Maafkan aku!” Aku membungkuk dalam.

“Tidak apa-apa.” Wanita yang baru kutabrak tersenyum. Aku langsung terpana melihat senyumnya. Senyum  yang sungguh dewasa, berwibawa, namun tetap terkesan manis.

“Kau sedang mencari pekerjaan?” tanyanya. Aku mengangguk. Apakah dengan sekali lihat orang bisa tahu aku sedang mencari pekerjaan?

“Aku melihatmu keluar masuk toko di sini. Orang yang tanpa kebutuhan khusus tidak akan membeli setiap menu makanan di setiap toko.” Wanita itu tersenyum. Tanpa sadar, sudut bibirku bergerak membentuk sebuah lengkungan.

“Aku memang sedang butuh uang untuk membiayai kuliahku. Mungkin kerja part time.”

“Part time? Aku bisa saja menawarimu pekerjaan tapi aku tidak yakin itu kerja part time.”

“Ne?”

“Ayo kita buat kafe.” Wanita itu tersenyum dan mengulurkan tangannya. Aku tertegun. Wanita itu mengedikkan kepalanya, seakan memintaku untuk menjabat tanganya.

Dan aku melakukannya.

“Bagus, aku akan buat kafe di daerah sini, ini lokasi yang strategis. Kau akan jadi karyawan pertamaku dan langsung kuangkat jadi manajer. Bagaimana?”

“Manajer?” Aku membelalakkan mata. Belum apa-apa sudah ditawari menjadi manajer.

“Ya, manajer. Sampai aku menemukan pegawai full time, aku akan memintamu untuk menjaga kafe kita dari pagi sampai sore. Tentu saja aku juga bekerja. Waktu jadwalmu kuliah, kau boleh pergi.”

“Apa tidak akan kewalahan? Kebetulan aku punya adik kelas yang butuh pekerjaan part time. Kurasa dia bisa menggantikanku karena aku sering kuliah sore.”

“Oh, itu bagus!” Wanita itu tersenyum cerah. “Aku juga bisa meminta tetanggaku untuk menjaga kafe ini kadang-kadang, hehehe. Jadi, kau setuju? Mau bekerja denganku?”

“Tentu saja!” Aku mengangguk mantap.

“Kalau begitu, akan kunamai kafe kita Einfach. Bahasa Jerman, artinya sederhana. Tapi, kedengarannya berkelas, ya kan?”

“Ya..”

“Oh ya, ngomong-ngomong, siapa namamu?”

“Aku Baekhyun.”

“Aku Lee Sunghee.” 

=

Kring..suara lonceng yang berada di atas pintu terdengar, menandakan ada pelanggan yang masuk. Aku menoleh dan tersenyum hangat menyambutnya. Ternyata yang datang adalah seorang pria yang berpakaian ala geng motor. Maksudku, jins hitam, T-shirt putih, jaket kulit hitam, dan sebatang rokok yang terselip di bibirnya. Rokoknya tidak dinyalakan, mungkin ia hanya menikmati rasa manis rokok tersebut. Pria itu sangat tinggi,  mungkin melebihi 185 cm.

“Mau pesan apa?” ucapku seramah mungkin.

“Hot Blend Cappuccino,” ujarnya singkat. Suaranya berat dan dalam. Aku mengangguk dan mencatat pesanannya. Lalu, aku segera berjalan ke dapur dan membuat pesanannya sendiri. Maklum, Se Hoon sedang istirahat. Dia sedang melahap makan siangnya. Untuk saat ini aku yang menangani kafe ini sendirian. Chanyeol..entahlah dia pergi kemana. Mungkin dia ada tambahan kuliah.

“Silakan menikmati.” Aku meletakkan secangkir Hot Blend Cappuccino di atas meja lelaki itu. Dia hanya mengangguk tanpa melihatku. Aku sendiri tidak ambil pusing dan memutuskan untuk kembali berjaga di balik meja kasir.

Kring…suara itu lagi. Aku menoleh ke arah pintu dan bersiap tersenyum ketika yang kulihat ternyata bukanlah pelanggan. Itu Park Chanyeol. Tubuhnya basah kuyup. Oh, ralat, bajunya. Dia membuka tudung jaketnya dan mengusap-ngusap lengan jaket parasit-nya, seolah sedang mengenyahkan air hujan.

“Maaf aku terlambat!” ujarnya. Aku hanya mengangguk. Park Chanyeol seumuran denganku. Dia berteman baik dengan Se Hoon yang notabene anak sekolahan karena dia adalah anggota band Se Hoon. Chanyeol alumni SMA Se Hoon, jadi mereka pasti berteman baik.

“Aigoo…bajumu basah, Chanyeol. Cepat buka!” titahku. Aku tidak mau lantai kafe jadi kotor gara-gara dia.

“Maaf..” Chanyeol bergegas membuka jaket basahnya dan menggosok-gosokkan kakinya ke keset. Setelah merasa bersih, ia bergegas masuk ke staff room.

Se Hoon menyelesaikan acara istirahatnya dan kembali ke balik meja bar.

“Hyung, kau istirahat saja. Sekarang giliranku,” katanya.

“Oke.” Aku baru saja melangkah ke dapur ketika pria geng motor (oke karena aku tidak tahu dia siapa) memanggil Se Hoon.

“Hey kau, sini!” panggilnya. Se Hoon bergegas menghampirinya.

“Kopinya tidak enak,” kata pria itu. Aku tertegun. Masa? Kata Sunghee Noona, setiap kopi buatanku enak-enak. Lagipula, resep itu Sunghee Noona sendiri yang buat. Aku sudah mengikuti resepnya sebaik mungkin. Tidak mungkin rasanya tidak enak.

Penasaran, aku kembali berdiri di balik meja kasir. Aku mengawasi gerak-gerik pria itu.

“Apa ada yang kurang memuaskan?” tanya Se Hoon ramah.

“Tentu saja ada. Kopi ini rasanya tidak enak. Judulnya sih Blend, tapi kenyataannya rasanya nggak nge-blend.

Aku jelas merasa tersinggung. Ini resep Sunghee Noona. Kalau kopi itu resep buatanku sendiri, aku masih bisa terima. Tapi, ini resep Sunghee Noona. Aku tidak bisa membiarkan orang lain berkata bahwa kopi Sunghee Noona tidak enak.

Se Hoon kelihatan tidak siap menghadapi situasi seperti ini, maka aku, sebagai manajer pun turun tangan. Aku mendekati pria itu dan menyuruh Se Hoon berjaga di balik kasir.

“Kau yang membuat kopi ini, kan?” tanyanya ketus.

“Ya.” Aku mengangguk mantap. “Apakah rasanya tidak enak?”

“Hm. Bagaimana ya menjelaskannya…rasanya sudah cukup, tapi hanya cukup. Belum mencapai taraf enak. Rasanya masih terlalu manis, dan kurang bercampur. Padahal ini kopi mahal, tapi rasanya aku sedang meminum kopi instan.”

Aku nyaris ingin memukul pria ini. Tapi, aku harus menguasai diri sendiri.

“Ini resepmu?”

“Bukan, ini resep bos kami.”

“Bosmu pasti sedang depresi ketika membuat resep ini. Rasanya terasa mati.”

Apa maksudnya? Terasa mati? Ini kopi, bukan manusia! Kopi tidak bisa mati!

Tak kusangka, pria itu tersenyum.

“Rasa kopi yang dibuat oleh seseorang mencerminkan perasaan si pembuatnya. Terkadang kau merasa rasa kopinya agak berbeda padahal kau memesan menu yang sama. Itu tergantung mood si pembuat. Kalau rasanya enak, pembuatnya pasti sedang bahagia. Tapi kalau rasanya kurang, pembuatnya pasti sedang kesal, kecewa, atau depresi.”

Aku tertegun. Kurekam jelas perkataan pria ini di otakku. Sebenarnya, kata-katanya ada benarnya juga. Kadang rasa kopi bisa berbeda meskipun kopinya sama.

Pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di meja. Ia lalu bangkit berdiri. Tiba-tiba, ia menepuk pundakku. Aku menatapnya dengan terkejut.

“Aku akan datang lagi kalau kopimu sudah enak.” Ia tersenyum dan kemudian berjalan keluar. Ia tidak peduli hujan mengguyur tubuhnya. Aku terpana. Orang yang misterius. Pastinya dia bukan anggota geng motor. Mungkin..

Aku menoleh ke arah meja. Di cangkirnya, masih tersisa setengah cangkir kopi. Dia tidak menghabiskan kopinya tapi malah membayar lebih.

Mengherankan.

= = =

“Huaaahmm…I’m sleepy!” Sunghee Noona menguap sambil menutup mulutnya dengan tangan. Ia menelungkupkan wajahnya di salah satu meja kafe. Kafe memang sudah tutup 10 menit yang lalu. Di luar hujan deras, padahal tadi sempat berhenti, tapi sekarang deras lagi.

Then get some sleep! You worked extra hard today,” ujarku.

“Se Hoon dan Chanyeol sudah pulang?” Sunghee Noona menolak untuk membalas saranku.

“Ya. Mereka pulang waktu hujan masih gerimis. Semoga mereka tidak kehujanan di jalan,” kataku sambil melap cangkir-cangkir dan meletakkannya di meja bar.

“Baekhyun, apa kau haus?”

“Hng? Tidak juga..” Aku meletakkan cangkir terakhir dan mulai melap meja.

“Kalau begitu aku akan membuatkanmu sesuatu..” Sunghee Noona bergumam sambil berjalan mendekati dapur. Aku terkejut.

“Eh, tidak usah, Noona! Aku baik-baik saja! Noona istirahat saja!” Aku berusaha mencegah. Sunghee Noona terkekeh.

“Aku tidak apa-apa, Baekhyun ah. Kau bertingkah seakan aku sedang sakit keras atau apa.” Noona terkekeh dan kembali melanjutkan aktifitasnya membuatkan kopi untukku. Aku hanya terdiam. Akhir-akhir ini Sunghee Noona memang terlihat pucat. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya.

Tak lama kemudian, ia menghidangkan secangkir Hot Blend Cappuccino di hadapanku yang duduk di salah satu kursi kafe. Melihat kopi ini, tiba-tiba aku jadi teringat pria pagi tadi.

“Seorang temanku bilang, rasa kopi menentukan perasaan si pembuatnya,” kata Sunghee Noona sambil menarik kursi untuk duduk di hadapanku. Aku menghentikan kegiatanku mengaduk-aduk kopi.

“Dia bilang, kalau si pembuatnya bahagia, rasa kopinya enak. Sebaliknya, kalau si pembuatnya sedang kecewa atau marah, rasa kopinya pasti tidak enak. Atau bahkan pahit,” lanjutnya. Aku kembali mengaduk kopiku dengan perlahan. Kalau begitu, pria tadi adalah temannya Sunghee Noona?

“Aku hanya ingin tahu, bagaimana rasa kopiku itu?”

“Hmm..” Aku menyesap kopi tersebut. Aku terdiam sejenak sambil menilai rasanya. Sunghee Noona menopangkan kedua tangannya di atas meja. Ia menatapku sambil menunggu komentar.

“Rasanya…” Aku terdiam.

“Berikan saja komentar yang jujur. Aku tidak akan memecatmu meski kau bilang kopiku rasanya pahit, kok! Yang kubutuhkan sekarang hanyalah kejujuran.”

Aku masih terdiam. Aku menunduk menatap cangkir berisi kopi di genggaman tanganku. Aku merasa ragu untuk mengatakannya.

“Ayolah, katakan saja!” desak Sunghee Noona.

“Rasanya..agak pahit,” ujarku akhirnya. Aku menatap Sunghee Noona takut-takut. Tapi, dia malah tersenyum.

“Agak pahit atau pahit sekali?”

“Err..pahit. Nggak pahit banget, haya pahit.”

“Jinja?” Sunghee Noona tersenyum tipis. Dia lalu mengangguk-angguk. “Oke, terima kasih jawaban jujurnya.”

“Tapi kenapa rasanya pahit? Ada apa?”

“Baekhyun, kau bisa jaga rahasia,  kan?”

“Ya, tentu saja!”

“Er..sebenarnya ini bukan hal yang terlalu penting. Kamu tahu kalau dulu aku adalah seorang agen rahasia?”

“Benarkah?!” Mataku membelalak.

“Ah, jadi kau belum tahu ya.” Sunghee Noona terkekeh. “Aku dulu agen Jerman, tapi aku berhenti karena satu dua hal. Aku lalu bekerja sebagai author sekaligus editor di salah satu perusahaan di China, tapi hanya setahun di sana, aku berhenti. Dan barulah aku membuka kafe ini.”

“Kenapa kau memberitahu hal ini padaku?”

“Karena kau sahabatku yang sangat baik. Aku senang sekali waktu kau menerima tawaranku untuk menjadi manajer kafe. Sebentar lagi, mungkin jabatanmu akan kunaikkan. Mungkin suatu saat aku akan memberikan kafe ini padamu.”

“Kenapa?” Aku mengernyitkan kening, bingung dengan percakapan ini.

It’s just..the matter of time, and how this coffee tastes like.

“Maksudnya?” Aku mengerti apa yang dia katakan, tapi aku tidak mengerti maksud dibalik perkataannya.

I’ll be leaving soon, so you have to take care of this café. Aku masih memajang flyer lowongan pekerjaan untuk membantumu. Kasarnya, menggantikanku.”

“Andwae! Tidak ada yang bisa menggantikan Noona!” seruku. Sedetik kemudian aku menutup mulutku. Bicara apa aku barusan?

Sunghee Noona tampak terkejut. Namun, sedetik kemudian ia terkekeh. Manis sekali.

“Tapi kalau cuma kalian bertiga yang menjaga kafe ini pasti merepotkan, kan? Apalagi makin kemari pengunjung kafe kita semakin banyak.”

“Noona mau pergi kemana? Kenapa harus pergi?” Aku tidak bisa menyembunyikan nada panik di suaraku.

“Ke tempat yang sangat jauh. Sangaaat jauh. Kau juga akan ke sana nanti.”

Apa maksudnya…

“Noona..” Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku.

“Baekhyun ah, aku mempercayakan kafe ini padamu. Tolong jaga baik-baik ya?”

“Noona, saranghae!” ujarku cepat.

“Ne?” Alis Sunghee Noona terangkat. Ia menatapku tak percaya. Aku menelan ludah dan bersiap melanjutkan kata-kataku.

“Aku tahu kita berbeda 4 tahun, tapi..aku benar-benar mencintai Noona. Aku terkesan dengan Noona yang selalu bekerja keras, pantang menyerah, dan selalu memberi dukungan untuk orang lain. Aku semangat bekerja di sini karena Noona. Apa jadinya kalau Noona pergi?” Mataku berkaca-kaca ketika mengatakannya.

Sunghee Noona tersenyum.

“Aku sudah bertunangan, Baekhyun. Mianhae..”

“Gwaenchana! Cinta tak perlu memiliki! Biarkan aku mencintaimu! Jadi, jangan pergi, Noona..kumohon..”

Sunghee Noona menatapku lama. Aku balas menatapnya. Dia tampak tidak menyangka aku berkata seperti ini.

Sunghee Noona tersenyum tipis.

You’ll find the reason behind all this, Baekhyun. The reason why my coffee tastes bad.”

Aku hanya terdiam melihat senyumnya.

= = =

Pagi ini, cuaca cukup cerah. Tidak seperti kemarin-kemarin yang terus hujan tanpa henti. Aku melirik Sunghee Noona yang sedang asyik menyusun cake-cake di etalase sambil bersenandung. Aku lalu memperhatikan Se Hoon yang sedang melap meja-meja kafe dan Chanyeol yang sedang membersihkan kaca. Apa aku harus mengurus mereka semua sendirian?

“Baekhyun ah, kau sudah mengecek peralatan memasak?” tanya Sunghee Noona membuyarkan lamunanku. Aku tersentak dan cepat-cepat mengecek peralatan memasak. Bisa kurasakan Sunghee Noona menatapku terus.

You’ll find the reason behind all this, Baekhyun. The reason why my coffee tastes bad.”

Kata-kata itu selalu terngiang di telingaku. Apa alasannya? Kenapa rasa kopinya tidak enak? Apa yang membuatnya kecewa, marah, depresi? Aarrghh ini membuatku frustrasi!

It’s 8 o’clock! Time to work!” Sunghee Noona membalikkan kata OPEN yang menghadap ke dalam kafe. Kini kafe telah buka, dan kami harus bekerja kembali. Aku memperhatikan Sunghee Noona yang sedang berbicara dengan Chanyeol. Entah apa yang mereka perbincangkan, aku tidak bisa mendengarnya. Sekelilingku seperti di-mute. Aku hanya bisa melihat sosoknya dari jauh.

KRING…pelanggan pertama datang. Aku membungkuk dan menyambutnya ramah. Ketika aku menegakkan tubuhku, betapa terkejutnya aku karena si pria yang kemarin yang datang.

Dia hanya terdiam. Auranya gelap sekali pagi ini.

“Silakan,” ucapku ramah, mempersilakannya duduk di salah satu kursi. Tapi, dia malah melihat ke arah Sunghee dan Chanyeol yang sedang mengobrol. Dia lalu berjalan ke arah mereka dengan langkah cepat dan tegas lalu menarik pundak Sunghee agar gadis itu menghadapnya.

“Bisa kau jelaskan apa maksudnya ini?” Cowok itu menunjukkan map cokelat di tangannya. Sunghee Noona hanya terdiam. Ia menghela napas.

“Bagaimana kau bisa tahu?” lirih Sunghee Noona.

Pria itu membanting kertasnya ke meja dan dengan gerakan cepat mencium bibir Sunghe Noona. Aku terkejut. Jantungku rasanya dipukul palu melihat gadis yang kucintai dicium pria lain.

Pria itu melepaskan ciumannya dan menatap Sunghee Noona tajam.

“Kau tega, Sunghee. Bagaimana bisa kamu merahasiakan hal sepenting ini dari tunanganmu sendiri!” Mataku membulat. Tunangan?

“Kris..”

“Lee Sunghee! Bagaimana bisa kau menyembunyikan hal sepenting ini, hah?! Bahkan kau menyembunyikannya dariku! Aku calon suamimu! Kalau ada masalah, cerita padaku!”

“Aku hanya tidak ingin orang lain terluka..”

“Tapi kau sedang menyakiti mereka!” Nada suara Kris meninggi. “Kau sedang menyakitiku…”

Aku terdiam. Chanyeol langsung berjalan ke arahku.

“Itu map rumah sakit,” katanya setelah berada di dekatku. Se Hoon menoleh. Ekspresinya tampak tidak percaya. Aku menunduk, menatap cangkir kopi yang ada di genggamanku. Cangkir itu berdebu, belum sempat kubersihkan.

“Di sini tertulis paru-parumu rusak karena bekas operasi pengangkatan peluru. Tolong jelaskan,” pinta Kris. Sunghee Noona mengangguk.

“Peluru..” gumamku tanpa sadar. Noona menoleh padaku. Ia lalu duduk di salah satu kursi kafe. Kris mengusap wajahnya frustrasi sebelum beranjak duduk di hadapan Noona.

“Aku pernah bilang kan kalau dulu itu aku adalah seorang agen rahasia, Baekhyun? Waktu aku sedang menjalankan tugas, dadaku tertembak, tepat mengenai paru-paru. Fungsi paru-paruku sudah mulai menurun karena luka tembakan itu. Meskipun operasi pengangkatan peluru itu berhasil yang menyebabkan aku bisa hidup sampai sekarang, tapi tetap saja aku harus mati. Mungkin seharusnya dulu aku harusnya mati, tapi Tuhan memberikanku kesempatan untuk mengklarifikasi semuanya. Setelah semua selesai, aku bisa mati.”

“Apa..” Aku menatap Sunghee Noona tak percaya.

“Kris, kalaupun aku mati, aku pasti tetap mencintaimu. Aku masih hidup di hatimu.” Sunghee Noona menyentuh kedua pipi Kris dan menatap matanya dalam. Kris hanya menatap Sunghee Noona nanar. Ia lalu menggenggam tangan yang menyentuh pipinya.

“Bodoh. Kau masih akan tetap hidup 100 tahun lagi,” ucapnya.

“Untuk apa hidup selama itu?” Sunghee Noona terkekeh. “Semua urusanku sudah selesai, Kris.”

“Belum. Kau belum menikah denganku.”

“Kalau begitu kita menikah sekarang. Ya?” Noona tersenyum dan melepaskan tangannya dari pipi Kris.

“Wu Fan, apakah kau bersedia menjadi suami Lee Sunghee, menjaganya setiap saat, selalu ada bersamanya, mencintainya selamanya, dan tidak pernah melupakannya? Apakah kau bersedia?” ucap Sunghee Noona.

“Aku bersedia.” Kris menggenggam kedua tangan Sunghee Noona erat. “Lee Sunghee, apakah kau bersedia menjadi istri Wu Fan, selalu ada di saat suka dan duka, mencintainya selamanya, dan tidak pernah mengkhianatinya? Apakau kau bersedia?”

“Aku bersedia.” Sunghee Noona menitikkan air mata. Kris memajukan tubuhnya dan mencium bibir Sunghee Noona dengan lembut dan perlahan. Air mata Kris menetes, melebur jadi satu dengan air mata Sunghee Noona.

“Istriku, ayo hidup 100 tahun lagi.”

= = =

Dua minggu kemudian setelah kejadian itu, Sunghee Noona tampak semakin pucat. Dia sering batuk parah dan muntah darah. Aku sangat-sangat khawatir. Sering sekali kami bertiga (aku, Se Hoon, dan Chanyeol) menyuruhnya untuk beristirahat, tapi dia tetap keras kepala. Dia tetap ingin bekerja keras. Katanya, ini saat-saat terakhirnya. Dia ingin menggunakan tubuhnya untuk bekerja sampai akhir.

“Uhuk..uhuk! UHUK!” Sunghee Noona kembali terbatuk. Aku cepat-cepat berlari ke dapur dimana Sunghee Noona berada. Aku terkejut melihat Sunghee Noona terkapar di lantai dengan darah keluar dari mulutnya.

“NOONA!” Aku berlutut di sampingnya dan mengguncang-guncang tubuhnya. “NOONA! NOONA BERTAHANLAH!”

“PARK CHANYEOL, PANGGILKAN AMBULANS!”

Ambulans datang tak lama kemudian. Sunghee Noona segera dibawa ke rumah sakit. Aku bergegas menghubungi Kris. Dia terdengar sangat panik dan cepat-cepat pergi ke lokasi.

Selama Sunghee Noona ditangani, aku mondar-mandir di lorong rumah sakit dengan resah. Aku berdoa semoga Sunghee Noona selamat. Semoga..semoga..

Dia berhak hidup 100 tahun lagi.

Suara langkah kaki terdengar dari sebelah kiriku. Aku menoleh dan melihat Kris berlari ke arahku. Keringat membanjiri tubuhnya. Napasnya pun ngos-ngosan.

“Dimana dia?” sahutnya cepat.

“Dia sedang ditangani.”

“Keadaannya bagaimana? Apakah benar-benar kritis?”

“Aku tidak tahu..” Aku menggeleng lemah dan menjatuhkan tubuhku di kursi. Kris tampak terdiam. Ia bersusah payah mengatur napasnya. Tubuhnya gemetaran. Aku yakin dia sangat terguncang.

“Déjà vu.” Suara seorang laki-laki terdengar. Kris dan aku menoleh pada sumber suara. Seorang laki-laki usia 24 tahunan sedang berjalan ke arah kami. Lelaki itu bertubuh tegap dan terbilang tampan. Dia tinggi, meski tidak setinggi Kris. Tatapannya datar, namun terselip kesedihan di sana.

“Maaf, Anda siapa?” tanyaku.

“Aku Cho Kyuhyun. Aku adalah agen yang bekerja sama dengan Sunghee dahulu,” jawabnya tenang. Kris menoleh dengan cepat. Dia meneliti penampilan Kyuhyun.

“Ini benar-benar déjà vu. Dulu, waktu Sunghee tertembak di bagian dada, dia juga dalam kondisi kritis seperti ini. Dia berhasil diselamatkan karena sebuah keajaiban dan keinginannya untuk hidup. Tapi, aku tidak tahu apakah dia masih ingin hidup atau tidak.” Kyuhyun bersidekap dan menyandar di dinding koridor.

You’ll find the reason behind all this, Baekhyun. The reason why my coffee tastes bad.”

Tiba-tiba aku teringat perkataan Sunghee Noona. Jadi ini, alasan kenapa rasa kopinya tidak enak? Dia sedang menderita. Dan, pasti sudah lama karena Sunghee Noona tertembak sekitar dua tahun yang lalu, mungkin lebih.

Aku tidak tahu dia semenderita ini. Dia selalu tersenyum. Dia selalu tampil sederhana, seperti tidak memiliki masalah satupun.

Tapi, ternyata di balik senyumnya, ia menyembunyikan beribu masalah.

Dokter keluar dari ruangan, kami bertiga menoleh. Kris langsung memberondongnya dengan pertanyaan.

“Maaf..” Aku dan Kris tersentak. Kyuhyun tampak menunggu.

“..dia tidak bisa diselamatkan.”

= = =

Pagi ini, cuaca kembali cerah. Tapi berbeda sekali dengan suasana kami di sini, di pemakaman ini. Kami semua dirundung duka. Seorang pemimpin, teman, dan istri yang baik telah pergi.

Kris menghadiri pemakaman ini dengan mengenakan pakaian pernikahannya. Setelan jas putih yang rapi. Sangat kontras dibandingkan dengan hadirin lain yang berpakaian serba hitam.

Ketika peti mati Sunghee Noona mulai ditutupi tanah, air mataku menetes. Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menahan tangis. Namun, tidak bisa. Aku menangis tersedu-sedu. Aku menutup bibirku yang bergetar dengan sebelah tangan yang juga gemetaran.

Aku berjalan mundur, aku tidak sanggup melihatnya. Namun tiba-tiba tubuhku menabrak seseorang. Aku berbalik dan meminta maaf. Ternyata seorang lelaki. Dia mengangguk dan menatap ke arah kuburan Sunghee. Aku melihat sebuah bunga sakura tersemat di jas hitamnya.

“Hyukjae?” Kyuhyun mengerutkan kening. Ia menatap Hyukjae yang melepaskan sematan bunga sakura di jasnya dan meletakkan bunga tersebut keatas makan Sunghee Noona. Kris tampak terkejut dengan perlakuan lelaki itu.

Satu demi satu, para hadirin mulai pergi. Tinggal kami berempat di sana. Hyukjae dan Kyuhyun yang berhadapan, Kris di tengah mereka, dan aku di belakang Kris.

“Lee Sunghee. Born on May 5th 1988. A beautiful daughter, friend, boss, and wife,” Hyukjae membaca tulisan yang tertera di atas nisan.

You’re her husband?” tanya Hyukjae pada Kris. Kris mengangguk. Dia lalu tersenyum pada Kyuhyun dan aku, mengisyaratkan untuk memberi mereka ruang. Aku menurutinya. Aku berjalan pergi, tapi sesekali aku membalikkan tubuhku untuk melihat apa yang mereka lakukan.

Mereka berdua terlihat sedang berbicara. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi ketika Hyukjae menepuk pundak Kris, cowok itu menangis hebat. Pundak Kris berguncang dan dia sesenggukan. Hyukjae terus menenangkannya hingga tangisnya reda.

= = =

Kring…

Aku menoleh ke arah pintu dan menyambut pelanggan dengan hangat. Seorang gadis muda yang manis masuk dan tersenyum padaku dengan canggung. Ia membawa sebuah map di tangannya.

“Ehm..maaf di sini masih buka lowongan pekerjaan, kan?” tanyanya.

“Er..iya..” Aku mengangguk. “Kau mau melamar pekerjaan?”

“Ya! Ehm..aku Park Eun Neul. Aku masih kuliah di Kyunghee University, jadi..bisakah aku kerja part time di sini?” Eun Neul tersenyum manis. Bisa kuakui gadis ini imut juga.

“Chanyeol, tolong ajari karyawan baru kita untuk membuat kopi yang enak!”

“Hah?” Eun Neul tampak tidak percaya. “Aku? Aku karyawan baru?”

“Iya. Bukannya kamu mau kerja di sini? Atau nggak jadi? Ya udah gak apa-apa sih masih bisa cari orang lain.”

“Eeeh iya iya! Terima kasih banyak…err..manajer?”

Aku tersenyum.

“Bukan, aku pemilik kafe ini. Park Chanyeol managernya.” Aku tersenyum pada Chanyeol yang tiba-tiba sudah berdiri di depan gadis itu.

“Hai, aku manajer kafe ini, Park Chanyeol. Karyawan baru harus ditrainee dulu.” Chanyeol tersenyum misterius dan mengajak Eun Neul masuk ke staff room.

“Hyuuung, kenapa kopi buatanku tidak pernah enak? Makanya Sunghee Noona membiarkan Chanyeol jadi manajer dan bukan aku!” Se Hoon mengeluh. Sedari tadi ia sedang berusaha membuat secangkir kopi yang enak, tetapi selalu gagal. Aku terkekeh.

“Chanyeol jadi manajer karena dia sudah lulus, kan? Kamu kan sedang sibuk mempersiapkan kelulusan, nanti malah jadi kewalahan kalau kamu yang jadi manajer.”

“Tapi kan..”

“Coba pikirkan sesuatu yang menarik, yang membuatmu bahagia. Seperti..misalnya kau lulus SMA dengan nilai super duper memuaskan. Rasa kopimu pasti lebih baik.”

“Ngaruh emang?” Se Hoon mengernyitkan kening.

“Ngaruh kok.” Aku mengangguk meyakinkannya. Se Hoon mengedikkan kepala dan mulai membuat secangkir kopi lagi. Setelah selesai, aku mencicipinya.

“Hmm…enak! Rasanya pas sekali! Apa yang kau bayangkan tadi?”

“Aku membayangkan menjadi seorang penyanyi, yang berdiri di atas panggung di hadapan ribuan penonton yang mengelu-elukan namaku. Rasanya sangat menyenangkan.” Se Hoon tersenyum. Aku mengangguk-angguk.

“Lalu bagaimana dengan rasa kopimu?” Aku tertegun. Itu suara yang sangat kukenali belakangan ini. Aku menoleh pada orang itu. Orang yang telah menasihatiku banyak hal.

“Kris.” Aku menyebut namanya.

“Aku mau cek rasa kopimu lagi.”

“Oke, tunggu sebentar.” Aku bergegas membuatkannya secangkir Hot Blend Cappuccino dan menghidangkannya di meja bar. Kris mencium bau kopi itu sebentar dan mengangguk-angguk. Dia lalu mulai menyesap kopi tersebut. Aku menunggu dengan gelisah.

“Hmm…butuh enam bulan untuk mengembalikan rasa kopimu ternyata. Baekhyun, rasa kopi ini pas! Enak sekali..sekarang aku serasa berada di kafe bintang tujuh dan menyesap kopi buatan chef dunia. Ini benar-benar lezat! Apa yang kau pikirkan?” Kris menatapku gembira.

Aku tersenyum tipis.

“Aku membayangkan Sunghee Noona hidup 100 tahun lagi. Dia berhak hidup 100 tahun lagi.”

THE END

27 thoughts on “[FF] The Taste of the Coffee

  1. amitokugawa says:

    ini..ini..lho kok *eh*
    kirain sunghee cuma kecapekan biasa, ternyata…..

    karakter kris keren di sini
    adegan kyu yang tiba-tiba nongol trus ngomong “deja vu” dengan ekspresi datar itu juga keren banget
    hyukjae..kirain bakal menangis di pemakaman, ternyata dia yang menenangkan kris, keliatan makin dewasa ya?

    jadi ceritanya sunghee di sini jadi ‘noona’ ya🙂
    walaupun endingnya nggak mengharu biru, tapi kalimat baekhyun itu jleb banget
    “Aku membayangkan Sunghee Noona hidup 100 tahun lagi. Dia berhak hidup 100 tahun lagi.”
    kayaknya kris yang gembira karena kopinya enak langsung terdiam deh setelah mendengar jawaban baekhyun😀

    pokoknya, sebagai melancholy-lover, aku suka ff ini!😀 Go CEO-nim!

    • sungheedaebak says:

      lho kok? kenapa ya? ada yang bisa saya bantu? #bugh

      iya Kris tuh udah keren fisik keren karakter juga. jadi makin cinta #eh
      iyaaa pas ngetiknya juga sambil senyum senyum kegirangan😄
      oh itu..ntar aku bikin side story lagi, hyuk bakalan nangis #bocoran
      #gabosenbikinhyukheeseries

      ya Sunghee kan ceritanya usia 24an, Baekhyun 20.
      nah itu..jawaban Anda tepat sekali!

      huwaaa gomawo! danke! :))

  2. dhila_アダチ says:

    huwaaaaaaaaaaaaaa………..
    perasaan campur aduk pas baca setiap kalimat di sini…huhuhu…

    1. Sunghee side
    huwee, karena aku emang nggak baca *ato lupa ya?==’* seri utama erita ini, makanya aku baru tau klo sunghee pernah ditembak…hehe ^^v
    iih, sunghee keren ya di sini…bijaaaak banget…mau kayak dia..wkwk..
    #nisaterbang

    2. Eunhyukkyu side
    awww, lagi2 aura si kunyuk misterius di sini…aseeek…Pertama aku kira yg datang kayak geng motor itu si kunyuk, tpi gak mungkin tingginya segitu kan? trus aku kira itu kyu, tapi gak sreg juga…ternyata si Kris tooh…hohoho
    aku juga penasaran apa yg diomongin si kunyuk ke Kris di pemakaman. ==a

    3. Exo side
    huwaa…asiiik…gak kebayang si baekhyun berasa shinee *?* *maksudnya ke noona2 gitu..hehe*.
    dan, Chanyeol akhirnya jadi manager???!!!
    aseeeeek… #kelilinglapangan

    oke…kayaknya ini bner2 udah end ya…? :”(
    ato mau dilanjutin lagi #pletakkk
    atau bikin new ff?
    #toel2

    • sungheedaebak says:

      adegan sunghee ditembak ada kok di FF Run Away. keren pokoknya #promosi
      iya bijaknya sunghee overload sampe bikin aku terbang hahaha😄

      lagi-lagi? kapan si kunyuk misterius😄
      haha Kris tingginya kebangetan sih. soal itu aku rencananya mau bikin side story dari sisi Kris, tapi terserah masih mau baca atau nggak hehe ^^

      hahah si baekhyun..
      keliling lapangannya berapa kali bu? kayak dihukum aja keliling lapangan hahaha

      ya itu terserah anda sebagai reader hahaha

    • dhila_アダチ says:

      aah, okeoke…dalam waktu dekat aku coba baca…hihihi…

      mauuu,,,side story Kris, sehun, chanyeol juga boleh #eh

      haha, cuma 1/10 doang (kliling lapangan 3*3 meter)
      capek soalnya #gubrak

      *lirik2komendiatas*
      YAAA, HYUK SIDE STORY JUGA KUDU!!!
      yaaay.. #lebayoverload

      • sungheedaebak says:

        okeeey

        wkwkwk iya deh emang udah kepikiran mau bikinin mereka side story. plus side story kyuhyun😉

        ga usah keliling lapangan aja sekalian ._.

        okey okeeey
        #lebayoverload #maboklebay

  3. vidiaf says:

    sunbaenim~~! aku terharu bangetbangetbanget bacanya!!!! ;~~~;
    ini sampe nangis banget T-T
    huaaaa ngebayangin ekspresi baekhyun di sini jadi gemes sendiri (?) >///////< /blush/
    Daebak! Keren! Seriusan gatau mau bilang apa lagi… :-bd

    • vidiaf says:

      commentnya kepotong -.-

      itu… pas kris masuk cafe aaaaaa >///////< /blush/
      Daebak! Keren! Seriusan gatau mau bilang apa lagi… :-bd

      • vidiaf says:

        mhehe samasama :*
        commentnya kepotong lagi ;AAAA;

        adegan setelah sunghee ngasih tau rahasianya ke kris itu udah so sweet banget~ :”
        pas adegan dejavu itu berasa di film action ato anime gitu… huaaa disitu nangis makin-makin ;~~~~~~;
        hyuknya di sini udah mulai dewasa ya…

        lah itu kenapa ada Park Eun Neul? >////< /blush

      • vidiaf says:

        entahlah, notebooknya gabaleg -.-
        iya keren banget! ;~; kapan aku bisa biki ff sekeren sunbae u___u

      • sungheedaebak says:

        sunghee di sini melankolis hahaha
        aku nyesek sendiri pas mereka ‘nikah’ di kafe..asa..jleb
        iya dia belajar dewasa dari hubungan dia dengan sunghee ^^

        ada Park Eun Neul untuk side story Chanyeol. gapapa kan dipasangin sama Chanyeol? kalo ga mau gapapa sih~

    • sungheedaebak says:

      iyoo..harusnya kan dia mati waktu dulu, cuma dia masih pengen hidup buat klarifikasi..
      ngga ngga, masih ada terusannya. maksudnya side story gitu hehe ^^
      iya nih gatau kenapa sunghee jadi bijak. gara-gara pengalaman pahit mungkin haha
      gomawo :*

  4. hwang sungmi says:

    sedih, hee T-T
    Endingnya unpredictable banget. dikirain bakal happy ending, sunghee sama hyukjae lagi terus hyoyeon punya pacar baru terus sungheenya happily ever after gitu..
    tapi seperti biasa, daebak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s