[FF] Don’t Say Goodbye

Note: Lanjutan Hello Goodbye, Run Away

= = =

“Aku…masih punya…waktu 20 detik..Hyukjae sshi…aku..masih..mencinta..imu..”

“SUNGHEE YAH!! IREONA!! BANGUNLAH!!”

“Selama 4 tahun ini, ia selalu membohongi diri sendiri..”

“Benarkah? Sunghee selamat?”

= = =

Lee Sunghee membuka matanya. Ia mengerjap sebentar. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya. Napasnya memburu.

“Mimpi itu lagi..” Helaan napasnya terdengar berat. Sunghee beranjak untuk duduk dan menoleh ke arah jam weker di meja kecilnya. Sudah waktunya bersiap-siap dan kembali bekerja.

Sunghee melangkah masuk ke kamar mandi. Ia melepas bajunya dan menyalakan shower. Ia membiarkan tubuhnya basah sambil melamun. Kejadian tiga bulan lalu masih teringat jelas di otaknya. Bahkan selalu datang di mimpi-mimpinya. Sunghee ingin sekali melupakan kejadian itu, tapi tidak bisa. Bayangan wajah Hyukjae yang khawatir, suaranya yang terdengar panik, semuanya masih terekam jelas di sudut memori Sunghee.

Setengah jam kemudian, Sunghee siap untuk bekerja kembali. Ia menyiapkan barang bawaannya dan berjalan keluar kamar. Ia berjalan menuju basement apartemen dan mengendarai mobilnya menuju kantor.

Di sana, Kris sudah menunggu. Dia adalah rekan kerjanya sekaligus kekasihnya.

“Pagi.” Kris tersenyum padanya. Sunghee mengangguk sambil membalas senyumnya.

“Hari ini aku bawa naskah novelku sendiri. Kisah nyata. Kira-kira laku gak ya?” kata Sunghee.

Benar, kini Sunghee bukanlah seorang agen rahasia lagi. Ia sudah mengundurkan diri dan melamar pekerjaan di sebuah perusahaan percetakan.

“Kisah nyata? Itu yang paling dicari! Entah kenapa, membaca kisah orang lain lebih mengasyikkan daripada membaca novel imajinasi. Ya, kan?”

“Iya juga ya.” Sunghee tertawa.

Kris tersenyum. “Nah, nona editor, silakan mulai pekerjaanmu. Aku ke ruanganku dulu ya.”

“Siap, bapak direktur!”

Kris mengacak rambut Sunghee sekilas sebelum masuk ke ruangannya. Sunghee tersenyum dan meletakkan tasnya di meja kerjanya. Ia menghela napas. Ia masih ingat saat-saat mengundurkan diri dua bulan yang lalu.

“Aku mau mengundurkan diri.”

“Apa? Frau Reinhart, baru saja terluka sedikit sudah mau mengundurkan diri. Hah?!” Kaufmann menatap Sunghee marah.

“Bukan luka ini yang membuatku ingin berhenti. Aku ingin menghidupi sisa hidupku dengan normal, dengan bahagia. Aku ingin menikah dan punya anak. Aku tidak mau membahayakan keluargaku.”

Kaufmann menggeram. “Baiklah, keluar saja!”

Sunghee tersenyum tipis. “Ini surat pengunduran diriku.” Ia meletakkan sebuah amplop putih di atas meja Kaufmann.

“Ya sudah. Sana keluar.” Kaufmann mengibaskan tangannya. Sunghee tersenyum dan berjalan keluar ruangan. Di luar, Kyuhyun sudah menunggunya. Dia menatap Sunghee dengan pandangan nanar.

“Kau sudah yakin dengan keputusanmu?” tanyanya. Sunghee mengangguk. Kyuhyun tak bisa menyembunyikan raut kecewanya.

“Jangan pasang tampang begitu. Gak cocok, tau!” Sunghee terkekeh dan memukul lengan Kyuhyun pelan. Kyuhyun menangkap tangan yang memukul lengannya dan menggenggamnya erat.

“Setelah ini mau pergi kemana?”

“China.” Sunghee tersenyum mantap. “Mungkin aku akan menulis buku atau…yeah something ‘bout that.”

Kyuhyun terdiam. Ia menatap tangan Sunghee yang digenggam erat oleh tangannya.

“Bagaimana dengan Hyukjae?”

“Hah?” Sunghee tertegun. Nama itu sempat membuat jantungnya berhenti sedetik.

Kyuhyun menatap mata Sunghee.

“Dia akan menikah dengan Hyoyeon. Kau mau datang?”

“Ya, kalau dia mengundangku.”

“Hyukjae tahu kamu pindah ke China?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, kalau nanti di China kamu bertatap muka denganku, itu artinya aku membawa undangan pernikahan Hyukjae.”

“Oke.” Sunghee tersenyum dan hendak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Kyuhyun, namun cowok itu menolaknya. Ia malah menarik Sunghee ke pelukannya.

“Aku sudah gak punya kesempatan lagi ya? Boleh aku ikut ke China?” kata Kyuhyun.

“Ikut-ikutan aja,” canda Sunghee. Namun ia mengatakannya sambil menitikkan air mata.

“Jaga dirimu baik-baik.”

. .

“Sunghee, ada tamu yang mencarimu,” kata Yi Xing, rekan sesama editor yang baru datang.

“Siapa?”

“Entahlah. Cowok. Orang Korea mungkin.” Yi Xing mengangkat bahu.

“Korea?” Sunghee mengerutkan kening. Ia menduga kira-kira siapa yang akan berkunjung ke China untuk menemuinya.

“Dia menunggu di lobby,” kata Yi Xing lagi. Sunghee mengangguk berterima kasih dan bergegas berjalan ke lobby. Sunghee menunggu dengan resah di dalam lift. Ia tidak sabar untuk melihat siapa yang akan ditemuinya nanti.

Pintu lift terbuka. Sunghee mendongak. Ia tertegun ketika melihat siapa yang berdiri di depan meja resepsionis. Saking terkejutnya, ia malah lupa melangkah keluar lift. Pintu lift nyaris tertutup lagi ketika Sunghee cepat-cepat tersadar dan menahan pintu lift dengan tangannya. Ia cepat-cepat melangkah keluar lift.

Langkahnya terasa berat. Kakinya serasa kaku. Tangan Sunghee lemas sampai lupa mengayun. Jika lelaki itu datang, berarti ada kabar penting yang harus Sunghee terima.

Cowok itu menoleh. Ia hanya terdiam menatap Sunghee melangkah ke arahnya dengan perlahan. Cowok itu tidak tahu, entah ia harus tersenyum menyambut gadis yang masih dicintainya atau murung karena ia datang membawa kabar buruk untuknya.

“Kamu sudah tahu kan, kalau aku datang ke sini artinya apa?” kata cowok itu.

“Kyuhyun. Si pembawa kabar buruk.” Sunghee terkekeh pelan.

“Julukan apa itu?” Kyuhyun tersenyum. Ia lalu merogoh jaketnya dan mengeluarkan sebuah undangan dari saku dalam. Ia menyodorkan undangan itu pada Sunghee. Gadis itu menerimanya.

“Lee Hyukjae dan Kim Hyoyeon.” Sunghee tersenyum. Ia membuka pembungkus undangan dan membuka lembaran undangan itu. Terlihatlah foto mantan kekasihnya sedang berdiri di belakang calon istrinya yang duduk di sebuah sofa yang mewah. Di foto itu, Hyukjae tersenyum bahagia. Sama dengan Hyoyeon, mereka berdua tampak sangat bahagia. Di foto itu.

“Pernikahannya dilaksanakan lusa. Berarti aku harus pergi hari ini,” gumam Sunghee.

“Aku sudah mem-booking tiket penerbangan nanti malam. Hari ini pulang jam berapa?”

“Biasanya jam 5 sore.”

“Jangan. Pulang sekarang aja, kita harus siap-siap. Pesawat berangkat jam 7.”

“Sebentar, aku bilang dulu ke bosku.”

“Biar aku saja yang bicara dengannya.” Kyuhyun melangkah mendahului Sunghee menuju lift. Gadis itu cepat mengejarnya.

“Gila! Aku aja!” seru Sunghee.

“Biar bosmu makin yakin. Dia gak akan berkutik kalau agen rahasia ini menculik bawahannya untuk tiga hari.”

Sampai di lantai atas, Kyuhyun langsung melangkah ke ruangan Kris dengan cepat. Sunghee mengikutinya dengan susah payah. Langkah Kyuhyun panjang-panjang, dia harus berlari agar bisa sejajar dengan cowok itu.

Kyuhyun mengetuk pintu ruangan Kris. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka. Kris tampak terkejut melihat seorang lelaki Korea berdiri di hadapannya, dan lebih terkejut lagi ketika ia melihat Sunghee yang ngos-ngosan berdiri di samping cowok itu.

“Aku pinjam anak buahmu untuk tiga hari. Bisa? Ini urusan mendadak.”

“Hah?” Kris tampak bingung. Ia menatap Sunghee, meminta penjelasan.

“Tiga hari aja, aku ada urusan mendadak. Ya?” Sunghee mengacungkan tiga buah jarinya. Ia menatap Kris dengan pandangan memelas. Kris menatap Kyuhyun lagi, lalu kembali menatap Sunghee.

“Kemana?”

“Korea,” Kyuhyun yang menjawab. Kris menatap Kyuhyun tidak suka.

“Aku bertanya pada gadisku,” desis Kris.

“Oh, kamu pacarnya?” sahut Kyuhyun enteng. “Ya sudah, aku pinjam pacarmu sebentar. Ayo, sayang, kita pergi.” Kyuhyun menarik tangan Sunghee dan menyeretnya pergi. Tak lupa Sunghee menyambar tasnya yang tergeletak di atas meja.

Kris terpaku. “Sayang?”

= = =

Korea Selatan, malam itu. Sunghee kembali terpana. Ini seperti déjà vu. Bandara Incheon masih sama seperti dulu. Nyaris tak ada satupun yang berubah. Kecuali suasana. Suasana hatinya.

“Setiap kali menjejakkan kaki di bandara ini, hatiku pasti diselubungi kesedihan. Yang pertama, sedih karena meninggalkan orang yang dicintai, kedua, sedih karena mengingat masa lalu, dan yang ketiga sedih karena ditinggal pergi.” Sunghee berkata. Kyuhyun hanya terdiam di sampingnya.

“Aku hanya akan mengantarkanmu ke lokasi, setelah itu silakan selesaikan urusan kalian berdua.”

“Baik.”

= = =

Pagi itu, Kyuhyun menepikan mobilnya di pinggir gereja lokasi pernikahan Hyukjae dan Hyoyeon. Ia melirik jam di dashboard mobilnya.

“Jam 7, mereka masih bersiap-siap. Ayo, Sunghee, kita ke backstage.”

Sunghee menghela napas sebelum keluar dari mobil dan mengikuti Kyuhyun memasuki gereja. Gereja itu tampak megah. Memang cocok untuk pernikahan dua dancer yang sangat terkenal itu. Sunghee menyusuri karpet merah dengan Kyuhyun di sampingnya.

Di depan altar, Hyukjae sudah menunggu. Ia sedang latihan untuk mengucapkan janji sehidup sematinya. Ketika mendengar langkah kaki, Hyukjae menoleh. Mendadak hatinya kembali goyah. Gadis yang dicintainya kini datang menghampirinya yang sedang menunggu di depan altar. Ia nyaris lupa bahwa ia akan menikahi Kim Hyoyeon, bukan Lee Sunghee.

Sunghee berhenti berjalan. Ia berdiri tepat di hadapan Hyukjae. Mereka saling bertatapan dalam diam. Kyuhyun pergi tanpa suara.

Tanpa sadar, Hyukjae mengulurkan tangan. Dan Sunghee menurunkan tangan Hyukjae perlahan. Ia menolak uluran tangan itu.

“Aku Sunghee lho, Hyukjae. Bukan Hyoyeon. Ulurkan tangan itu untuknya nanti.” Sunghee tersenyum. Hyukjae terpana.

“Maaf..aku..”

“Tidak apa-apa. Kamu pasti tegang menunggu saat-saat yang paling bersejarah untukmu.”

“Kau datang?” Hyukjae tampak tidak percaya.

“Tentu saja.” Sunghee terkekeh. “Aku merindukan Korea.” Mata Sunghee tepat menatap mata Hyukjae.

Hyukjae terdiam sejenak. “Mumpung kau ada di sini, aku ingin mengklarifikasi sesuatu. Ayo ikut aku.”

Hyukjae mengajak Sunghee berjalan keluar gedung. Mereka berjalan menuju taman sebelah gereja yang dilindungi dengan pohon-pohon rindang. Langkah mereka terasa lambat. Bahkan sangat lambat. Seakan dengan berjalan lambat, mereka bisa mengulur waktu yang akan terus berjalan.

“Masih bekerja sebagai agen?” Hyukjae membuka percakapan.

“Tidak.” Sunghee menggeleng. “Sekarang aku jadi editor di China.”

“China?” Nada suara Hyukjae meninggi karena terkejut. “Kenapa China?”

“Korea terlalu menyakitkan.” Sunghee tersenyum tipis. “Kau sendiri? Tampaknya sekarang kamu dan Hyoyeon terkenal sekali ya?”

“Ya. Kami bahkan dijuluki pasangan dancer. Haha..” Tawanya terdengar palsu.

“Hyukie, apa kau bahagia?” tanya Sunghee.

“Kenapa tanya begitu?”

“Di foto itu kau tampak sangat bahagia. Aku hanya ingin tahu, apakah kau benar-benar bahagia.”

“Ya, aku sangat bahagia.”

“Baguslah. Kini aku juga bisa bahagia.” Sunghee menghentikan langkahnya. Ia berdiri tepat di bawah pohon sakura. Hyukjae terdiam. Ia lalu mendongak mengikuti Sunghee.

“Sakura. Sakura di Korea indah sekali,” bisik Sunghee. “Padahal sakura itu bunga nasional Jepang, tapi entah kenapa sakura di Korea lebih indah.”

“Rumput sendiri lebih indah dibanding rumput tetangga, sebenarnya. Jadi, kenapa kamu masih betah tinggal di rumput tetangga? Kalau Korea terlalu menyakitkan, kenapa tidak beli obat saja?”

“Baiklah, jadi apa yang mau kamu klarifikasi, Hyukie?”

Hyukjae menatap mata Sunghee dalam, penuh arti. Sunghee membalas tatapan itu.

“Masihkah kau mencintaiku?”

Sunghee tersenyum. “Jawaban jujur atau bohong?”

“Jujur.”

“Sudah tidak lagi.”

“Ap..” Hyukjae tak bisa menyelesaikan kata-katanya.

“Cinta datang dan pergi, seiring waktu berjalan. Orang-orang baru berdatangan. Di China, aku bertemu lelaki yang baik.”

“Apa dia bisa membahagiakanmu?”

“Bisa.”

“Baguslah, aku bisa tenang.”

“Apa lagi yang ingin kau ketahui?” Sunghee berlutut dan memungut bunga sakura yang terjatuh.

“Lee Sunghee, apakah kau..selama ini menyembunyikan perasaanmu?”

“Ya.” Sunghee menjawab dengan cepat, tanpa keraguan.

“Kenapa?”

“Karena aku tidak ingin kau terluka.”

“Tapi sekarang aku terluka..”

“Tidak, Hyukjae. Kau bahagia sekarang.” Sunghee merapikan kerah jas Hyukjae. “Dan sangat tampan.”

“Lee Sunghee, apakah…masih ada tempat untukku di hatimu?” Sunghee terdiam lama. Hyukjae menanti dengan sabar.

“Ada.” Sunghee menjawab sambil menunduk. “Di sudut yang terdalam. Di tempat paling sempit sekalipun di hatiku, aku pasti menyisakan tempat untukmu.” Sunghee mendongak dan tersenyum sambil menatap Hyukjae.

“Aku juga…masih menyimpan tempat untukmu. Di sudut paling dalam, di tempat paling berharga. Tempat yang tidak bisa diisi oleh siapapun selain kamu.”

“Terima kasih. Sekarang aku yang bertanya. Lee Hyukjae, masihkah kau mencintaiku?”

“Masih,” jawab Hyukjae mantap. Sunghee tertegun. Ia menatap Hyukjae tak percaya. Ia lalu tersenyum tipis.

“Sejujurnya, aku masih mencintaimu, aku masih mengharapkanmu kembali. Aku masih ingin bersamamu. Aku ingin kamu.”

“Istrimu menunggumu.” Sunghee melirik jam tangannya. Hyukjae mengangguk.

“Jadi, pelukan terakhir?” Hyukjae merentangkan tangannya.

“Kau tahu, ini seperti déjà vu. Waktu di bandara dulu. Kamu juga merentangkan tanganmu sambil mengatakan hal itu.”

“Oh, iya. Aku masih ingat waktu itu. Jujur saja, aku ingin sekali kejadian waktu itu diputar balik.”

“Sama.”

“Kalau begitu, sekarang kita putar balik saja. Pelukan terakhir?” Hyukjae kembali merentangkan tangannya.

Sunghee memeluk Hyukjae erat.

“Kajima,” kata Hyukjae.

“Arasseo.”

“Saranghae.”

Sunghee tersenyum. “Aku juga.”

“Aku tidak akan melupakanmu.”

“Begitupun denganku,” balas Sunghee.

Mereka melepaskan pelukan itu. Mereka berdua terdiam.

“Mau masuk? Acaranya sebentar lagi dimulai,” ajak Hyukjae.

“Kamu duluan saja, ponselku ketinggalan di mobil.”

“Oh, kalau begitu…” Hyukjae menyentuh kedua pipi Sunghee dan mencium bibir gadis itu lembut. Sunghee membalas ciuman itu. Ciuman terakhir dari Hyukjae.

“Ciuman terakhir..” lirih Hyukjae ketika ia melepaskan ciumannya.

“Ya, ciuman terakhir darimu. Sekarang pergilah, Hyoyeon menunggumu.”

“Kau pasti menonton kan?”

“Ya.” Sunghee tersenyum dan melambaikan tangannya. Hyukjae tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia lalu berbalik.

“Lee Sunghee, jangan pernah mengatakan ‘selamat tinggal’ lagi karena itu sia-sia!” Hyukjae tersenyum dan bergegas pergi. Sunghee tersenyum. Air matanya menetes kembali.

“Kalau begitu..sampai jumpa cukup,” bisik Sunghee di sela-sela tangisnya. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan ponsel. Sunghee berbohong lagi. Ponselnya tidak ketinggalan. Dan satu kebohongan lain, ia masih mencintai mantan kekasihnya itu.

Ia membuka kunci ponselnya dan melihat-lihat kontak. Sampai pada nama Hyukjae. Di sana masih tertulis ‘Hyukie Jagiya’. Ia harus mengganti namanya. Ia lalu mengganti nama kontaknya menjadi ‘Lee Hyukjae’.

“Lee Hyukjae. Lee Hyukjae. Lee Hyukjae…Lee Hyukjae..hh..dia benar-benar Lee Hyukjae. Nama paling indah di dunia, melebihi keindahan namaku sendiri.”

= = =

“Lee Hyukjae, apakah kau bersedia menjadi suami Kim Hyoyeon, bersedia selalu ada di saat senang dan juga sedih. Bersedia merawatnya saat ia sakit dan bersedia menjaganya sampai akhir hayat?”

“Aku bersedia.”

Ketika Hyukjae dan Hyoyeon dinyatakan sah sebagai sepasang suami istri, Sunghee kembali menitikkan air mata. Tapi kini, air mata itu berarti lain. Ini air mata bahagia. Ia benar-benar bahagia bisa melihat Hyukjae bahagia.

Sampai pada acara pelemparan bunga. Hyoyeon siap-siap melemparkan bunganya. Sunghee dan Kyuhyun berdiri berdampingan di belakang kerumunan. Mereka tidak tertarik untuk menangkap bunga tersebut.

Namun ternyata, takdir berkata lain bunga itu mengarah pada Sunghee. Gadis itu refleks menangkap bunga tersebut. Semuanya berseru dan bertepuk tangan. Hyukjae dan Hyoyeon tampak terkejut sekaligus senang.

Sunghee tersenyum senang. Ia menoleh pada Kyuhyun.

“Jadi, Cho Kyuhyun, kapan kau mau melamarku?” goda Sunghee.

“Apa?” Kyuhyun mengerjapkan matanya beberapa kali. Sunghee tertawa.

“Aku bercanda! Lihat wajahmu! Hahahaha!!” Sunghee tertawa lepas. Sangat lepas.

Kyuhyun hanya menganga.

“Selamat ya, Sunghee!” Hyukjae mengacungkan jempol. Hyoyeon bertepuk tangan.

“Oh? Sudah jam segini! Aku harus pergi ke bandara lagi, selamat ya kalian berdua!” Sunghee mengacungkan jempol dan berjalan keluar gereja. Kyuhyun masih terdiam.

“Kyu sayang, ayo, nanti kita ketinggalan pesawat!” seru Sunghee.

“Kyu sayang? T-tunggu dulu, Sunghee, t-tadi itu apa? Hey!” Kyuhyun segera berlari mengejar Sunghee. Semua orang yang ada di sana tertawa.

“Aku bilang aku bercanda!” Sunghee tertawa lagi. Tawanya menghapus air mata yang melekat di hatinya. Kini hatinya sudah bersih dari segala kesedihan. Sunghee siap menjalani hidup barunya.

“Aku ingin tinggal di Korea,” gumam Sunghee mantap.

THE END

 

21 thoughts on “[FF] Don’t Say Goodbye

  1. shiinmingi says:

    Unni kenapa kok sedih ya aku bacanya, nyentuh :”) Bagus bgttt.. Huaaa kenapa mereka ngak bersatu. Mau sequel dong gmn ntr itu Sunghee sm siapa? Boleh ya sequel~

  2. amitokugawa says:

    aww..aww…
    menyentuh banget… adegan yang paling aku suka ya semua percakapan hyukjae-sunghee, dalem banget maknanya
    kasian kyu, udah ngarep gitu, eh, sunghee malah bercanda

    btw, aku ada kritik nih : “Sunghee bukanlah sebuah agen rahasia lagi.” harusnya seorang kan? hehe
    lanjut lanjut! penasaran sunghee ntar nikahnya gimana *eh*

  3. vidiaf says:

    huaaaaaa terharu, nyesek, nangi aku bacanya ;~~~~;
    aku kira masih ada kemungkinan hyukjae sama sunghee…
    sunghee-ya, kenapa masih bohong aja? ;AAAAAAA;
    yah memang bener ya.. cinta tak harus memiliki… (?) /eh /apasih vid /ganyambung
    itu… sama kris? gimana kalo kyu sama sunghee terus aku sama kris aja? /digampar /dilempar dari monas
    i like it sunbaenim~ ^^

    • sungheedaebak says:

      cup cup cup..jangan nangis *lempar hyuk, ambil lagi*
      mereka gak jodoh di sini..😦
      sunghee doyan bohong #eh
      iya betul banget! gak mau sunghee mau sama Kris!! *nangis guling-guling*
      gomawo ^^

      • vidiaf says:

        *lambai-lambai ke Hyuk, pergi bareng Kris*
        yah kayaknya ntar Eun Neul sama Sunghee berebut Kris deh ._. /apasih /sotoy
        ne, cheonmaneyo :3

      • sungheedaebak says:

        kamu suka Kris juga? ih kita teh sama wae bias-nya😄 tapi aku suka semua member EXO kok😉 gak ada Kris, Baekhyun gapapalah…Lay juga oke, Chen juga gak masalah, Chanyeol dengan senang hati, Se Hun bisa juga.. #sebutinajasatusatu

  4. dhila_アダチ says:

    pas baca the end, mata langsung berkaca-kaca…
    dalem banget niis :”’)
    apalagi bacanya sambil denger lagu The Reason :”’)

    gatau harus senang apa sedih baca kisahnya…gimana yaa…
    berat banget rasanya sunghee hyukjae nggak bareng lagi, ditambah pas baca percakapan mereka, pada sok tangguh smua😦
    aaaaa

    iya..iya…mo sequel ama ff baru #plakk
    ngarepnya sih hyeyonnya cere #gubrak
    tp, trserah aja…kyknya sama kyu ya? ato gimana trserah..wkwkwk…

  5. hyohae says:

    wiiih ikhlas ya sunghee :-bd
    dikirain sunghee sama hyuk yg bakalan nikah
    eeh ternyata lain. sunghee tinggal di kora lagi? wah dia bakalan nikah sama sapose?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s