[FF] My Rainbow Prince

Side story from The Stubborn Autumn Leaf

Cast: Jessica Jung, Kang Minhwan

Genre: Romance

= = =

Musim gugur. Bentar lagi musim dingin. Hari ini, Jessica Jung, a.k.a aku, kembali masuk ke sekolah setelah liburan musim panas. Sebagai murid kelas 3, aku sedang mempersiapkan ujian kelulusan.

Sica, wake up! Breakfast is ready!” seru ibuku.

Yes, Mom! I’ll be there in 3 minutes!” Aku balas berseru. Aku merapikan rambutku sekali lagi. Rambut cokelat terangku tampak berkilau seperti biasa. Aku memutar tubuhku, memastikan seragamku sudah rapi. Setelah yakin bahwa penampilanku oke seperti biasa, aku tersenyum. Aku mengambil tasku dan berjalan ke bawah.

Eonnie, you’re late. I woke up earlier today.” Krystal, adikku, menjulurkan lidah.

Not hear it, not hear it.” Aku menutup telingaku. Dasar cerewet!

I bet you read comics again last night, didn’t you?” Krystal nyengir dan duduk di ruang makan. Di hadapannya sudah tersedia setangkup roti isi. Aku duduk di sebelahnya.

Is that true? Sica, you have to enter the university soon. Don’t read comics all day!” nasihat Mom.

“Arasseo..” gumamku pelan. Aku mendelik ke arah anak kecil usia 15 yang entah kenapa ditakdirkan jadi adikku. Krystal hanya tersenyum-senyum sambil menggigit roti isinya.

Aku menghela napas dan mulai menggigit roti isi bagianku. Aku memang suka komik, lantas kenapa? Di cerita komik, tokoh cewek dan cowoknya pasti pertama ketemu, terus ada masalah, udah gitu bahagia deh. Aku tidak pernah bosan membaca komik yang seperti itu. Bagiku, cerita-cerita di komik selalu romantis dan menyentuh. Aku ingin kisah cintaku juga romantis seperti di komik. Salah ya? Enggak, kan? Setiap orang kan punya mimpinya masing-masing.

Di sekolah, tidak ada yang berubah. Aku masuk ke kelasnya dan duduk dengan lesu. Aku menghela napas dan menelungkupkan wajahku di meja.

“Kenapa, Sica?” tanya Taeyeon, sahabat dekatku. Aku mengangkat wajahku. Wajahku kutekuk sedemikian rupa sampai orang-orang mengerti bahwa aku sedang kesal. KESAL!

“Biasa, Mom menasihatiku untuk tidak baca komik lagi.”

“Yah..kalau aku jadi ibumu, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama.” Taeyeon tersenyum. Aku menoleh dan cemberut.

“Jangan cemberut gitu dong! Ceria dong, ceria! Hari ini kan Changmin ulang tahun, dia mau nraktir tuh!” ujar Taeyeon riang.

“Changmin? Shim Changmin?” tanyaku. Taeyeon mengangguk.

“Dia suka sama kamu, kan?” kata Taeyeon. Aku hanya diam.

“Sudahlah, terima aja, Sica. Dia kan ganteng, pinter, kaya lagi!”

“Aku nggak nilai seseorang dari itunya kok.”

“Terus apa dong?”

Aku melanjutkan aksi diamku.

“Eii..jangan bilang kamu mau menemukan seseorang yang mirip sama karakter di komik ya?” JLEB. Ternyata…dia tahu banyak tentangku ya..

“Nggak! Bukan itu!” Aku memalingkan wajah ke luar jendela. Padahal tebakannya tepat.

“Terus…?”

“Aku ingin seseorang yang mengerti aku apa adanya,” kataku  pelan. Taeyeon tersenyum.

“Oke, aku ngerti. Oh itu, Kangta saem udah dateng.” Taeyeon menepuk pundakku. Aku menatap ke depan dan rutinitas membosankan di sekolah dimulai.

“Hari ini saya akan membagikan kertas masa depan untuk kalian. Tolong diisi dengan baik ya, bicarakan dengan orang tua kalian.” Kangta saem membagikan kertas ‘masa depan’ tersebut.

“Heran, Kangta saem memang aneh. Masa angket begini dibilang kertas masa depan sih?” Aku memegang ujung kertas dengan jari telunjuk dan jempolku, seakan-akan kertas itu adalah sampah basah yang kotor dan bau.

“Nggak salah juga sih. Di kertas ini kan kita harus menuliskan tentang masa depan kita. Mau kuliah dimana, kerja apa, dan lain-lain.” Taeyeon mengambil pulpennya dan mulai menulis.

“Bukannya harus dirundingkan dengan orang tua?”

“Ah, aku sudah merundingkannya sejak lama kok. Udah fix, Universitas Seoul!” Taeyeon tersenyum mantap dan melanjutkan menulis.

“Pekerjaan..?” Aku menatap kertas angket Taeyeon.

“Penyanyi.” Taeyeon tersenyum. Aku mengangguk-angguk. Taeyeon memang bersuara emas. Nilai bernyanyinya memang selalu paling bagus di antara anak-anak sekelas. Dia juga cantik dan manis, cocok untuk jadi artis.

“Kamu  mau jadi apa? Model? Penyanyi? Aktris?” tanya Taeyeon.

“Entahlah..aku masih bingung..” Aku menatap kertas angket menjijikkan ini. Aku menelusuri kata-kata ‘Universitas Tujuan’ dengan jariku yang lentik.

= = =

“Aduuuh…mau masuk mana ya? Konkuk? Shinhwa? Atau Seoul juga?” Aku merenung di atas ranjangku yang empuk. Aku tiduran sambil menatap kertas angket yang masih kosong. Aku sudah merundingkannya baik-baik dengan orang tua. Mereka bilang aku lebih baik masuk ke Universitas Seoul. Itu universitas terbaik di Korea Selatan. Tapi, aku tidak yakin dengan nilai-nilaiku.

Aku tidak mau masuk ke Shinhwa. Ayahku adalah seorang rektor di Universitas Shinhwa. Aku tidak mau dibayang-bayangi julukan ‘Anak Rektor’ di sana. Memang, statusku di sana akan terangkat, tapi aku tetap tidak mau. Ayahku pasti akan marah kalau nilaiku jatuh. Pasti ujung-ujungnya komik lagi, komik lagi.

“Kalau gitu..Seoul aja..” Aku mendekatkan pulpenku ke kertas, tapi gerakanku terhenti.

“Universitas Seoul kan isinya anak-anak pinter semua..” gumamku. “Kalau aku ketinggalan, gimana?” Aku melempar pulpennya ke sembarang arah.

“Aish..aku butuh refreshing!” Aku mengambil tas berisi buku agenda dan berlalu pergi. Aku mengambil sepeda dan mulai bersepeda ke taman kota. Di sana ada air terjun, kalau habis hujan suka ada pelangi. Meskipun cuaca hari ini cerah-cerah saja, aku tetap ingin melihat pelangi. Siapa tahu ketika aku sampai di sana tiba-tiba hujan dan muncul pelangi.

Aku meletakkan sepedaku di dekat sebuah gazebo. Telingaku menangkap sebuah melodi yang indah. Aku menatap ke sekitar, tidak ada orang yang memainkan alat musik di sini. Aku menatap ke atas, suaranya berasal dari sana. Aku lalu menaiki puluhan anak tangga yang menuntunku ke air terjun. Aku suka tempat ini. Di sini, aku bisa berdekatan dengan alam, mendengarkan suara alam yang bisa memberiku inspirasi. Dan tentu saja air terjun itu.

Aku tertegun ketika melihat seorang laki-laki di sana. Dia duduk di selongsong kayu tanpa takut terjatuh ke sungai di bawahnya. Cowok itu sedang meniup sebuah harmonika. Aku tertegun. Ternyata masih ada yang memainkan harmonika di zaman globalisasi ini.

Jadi dia yang memainkan melodi indah seperti tadi.

Aku hanya bisa terdiam di sana. Aku terpana melihat pemandangan punggung lelaki itu, di sebelahnya ada sebuah air terjun yang berkilauan terkena cahaya matahari. Punggung laki-laki itu juga jadi bersinar. Apalagi rambut cokelat tuanya. Aku bisa merasakan wajahku memanas.

Ini pasti cowok yang ditakdirkan untukku! Settingnya pas! Tuhan pasti mempertemukan aku dengannya untuk membuat cerita yang baru! Seperti di komik. Pangeranku..

Aku perlahan melangkah maju. Jantungku berdegup kencang. Aku menyatukan kedua tanganku dan memain-mainkan jariku dengan gugup. Aku tidak peduli kalau kuku yang bercat pink itu rusak. Aku sekarang sangat gugup.

Tanpa sadar, tubuhku menabrak selongsong kayu yang menjadi pengaman di sana. Aku terpaku. Aku baru sadar ternyata aku sudah berdiri di sebelah lelaki ini dari tadi, tapi kakiku terus melangkah. Wajahku memerah.

Memalukan! Memalukaaan!!! Bagaimana kalau dia lihat? Dia pasti mengira aku ini aneh!

Aku menunduk dalam. Aku memain-mainkan jariku lagi. Jantungku berdegup makin kencang ketika suara harmonika itu tidak terdengar lagi. Kini yang terdengar hanya suara air terjun.

Ya ampun bagaimana ini, bagaimana ini!! Jangan menatap ke arahku!! Tidaaaaak!!!

“Hey, kukumu rusak tuh.” Aku nyaris tersedak ludahku sendiri. Hatiku berbunga-bunga. Laki-laki itu baru saja berbicara padaku! Ya, setidaknya tidak ada orang lain selain kami berdua di sini.

Aku menoleh. Aku semakin terkejut ketika melihat lelaki di sebelahku ternyata sangat tampan. Matanya berwarna cokelat muda, sipit, tapi tidak terlalu sipit. Rambut depannya menutupi sedikit matanya, tapi aku kira itu benar-benar keren. Seperti melihat tokoh komik. Apalagi latarnya air terjun. Ini benar-benar surga..

“Eh..ehm…” Aku tidak bisa berkata apapun. Aku terlalu terpana.

“Untuk gadis cantik sepertimu, kukumu penting kan?” ujar cowok itu.

“Eh..er..tidak juga. Biasa aja kok. Gak apa-apa rusak juga, bisa diperbaiki.” Seseorang tolong aku, aku melayang jauuuuuh!! Dia bilang aku cantik! Matanya normal!! Seleranya tinggi!

“Oh, begitu.” Cowok itu mengangguk-angguk. “Biasanya cewek takut kalau kukunya rusak, kan?”

“I-iya sih, tapi..ini gak apa-apa kok…” Ya ampun, katakan sesuatu, Sica! Tanya namanya! Namanya!!!

“Kamu seorang penulis?” tanyanya.

“Hah?”

“Bawa-bawa buku agenda.” Ia menunjuk ke tasku yang terbuka sedikit.

“Enggak juga. Aku cuma cari inspirasi untuk lagu aja kok..”

“Lagu? Kamu suka menyanyi?” tanyanya. Bisa kutangkap nada penuh harapan di suaranya.

Aku mengangguk. Wajah cowok itu semakin cerah, matanya berbinar-binar.

“Ayo kita kolaborasi! Namaku Kang Minhwan, aku suka main alat musik tapi tidak bisa bernyanyi dan menciptakan lirik yang bagus. Kamu suka menyanyi dan suka bikin lagu. Kita cocok!”

Kita cocok..kita cocok..kita cocok..

Huwaaa…kata-katanya terngiang-ngiang di kepalaku! Gimana nih? Aku kesenengan..

“Namamu siapa?” tanya Minhwan.

“Aku Jessica Jung.”

“Jessica? Nama yang pas untuk orang sepertimu. Boleh kupanggil Jessie?” Aku mengangguk.

“Jessie masih sekolah?”

“Iya. Aku kelas 3 SMA di SMA Shinhwa.”

“Shinhwa? Benarkah? Aku kuliah di Universitas Shinhwa, jurusan psikologi.”

“Kamu masih main harmonika?”

“Iya. Ini harmonika pemberian mendiang kakekku. Katanya, kalau memainkan harmonika ini sambil memikirkan orang yang kamu cintai,  kamu akan bahagia bersamanya.”

“Itu kan mitos..”

“Kayak cerita di komik ya?”

“Kamu suka baca komik?”

“Suka! Kamu juga?”

“Iya!”

Mataku dan matanya berbinar. Tuh, kan! Dia pasti ditakdirkan untukku. Lihat aja, kami sama-sama Shinhwa! Shinhwa memang sekolah swasta yang terkenal. Dari TK sampai universitas semuanya ada. Gak mengejutkan banget sih. Yang lebih mengejutkan adalah, aku dan dia sama-sama pecinta komik!

“Mahasiswa? Wah…”

“Sebentar lagi kamu juga jadi mahasiswa, kan?”

“Iya. Tapi aku masih bingung mau masuk mana.”

“Hm..sama. Aku juga awalnya bingung. Tapi karena ada gadis yang kusukai kuliah di Shinhwa, aku jadi berjuang masuk Shinhwa deh. Hehe..untungnya dapat beasiswa, jadi biaya sekolahnya tidak memberatkan orang tua.”

DEG JLEB.

Jadi..dia sudah punya cewek yang disukainya. Yah…memang aku dari awal terlalu berharap. Aku tidak tahu kalau dia sudah punya seseorang.

“Kekuatan cinta itu besar ya?” Minhwan Oppa terkekeh. Aku hanya diam. Sica, tersenyumlah! Jangan nangis karena hal begini doang dong..

“Maaf, aku harus pulang sekarang.” Aku berlari menjauh darinya.

“Ah, hei! Ada pelangi lho!” seru Minhwan Oppa. Masa bodo! Mau ada pelangi kek, angin topan kek, gempa bumi kek, terserah! Aku patah hati!!

Aku nggak akan masuk Shinhwa! Gimanapun alasannya!!!

= = =

“Lagi-lagi cemberut. Kenapa? Komik lagi?” Taeyeon menopang dagunya dengan tangan. Sikunya menempel di meja.

“Bukan!” ujarku ketus.

“Apa dong? Ceritalah.”

“Tau ah!”

“Ish..dasar. Changmin kemarin nungguin kamu tau. Kamunya main kabur aja.”

“Bodo!”

“Dia pinter kan..”

“IIH!!” Aku berdiri dan berjalan keluar kelas sambil menghentakkan kaki. Taeyeon kadang pinter kadang o’on. Kalau o’onnya kambuh suka bikin bête.

= = =

Akhirnya bel pulang bunyi juga. Kenapa gak dari dua jam yang lalu aja? Hiks..

“Eh, siapa tuh? Keren banget!” ujar Tiffany, teman sekelasku.

“Eh iya, beneran! Ganteng!” Seohyun menimpali.

“Ganteng? Emang dari jarak segini keliatan? Dia kan di gerbang sekolah..” Sooyoung mengernyit. Memang hanya dia yang kurang tertarik pada laki-laki. Dia lebih tertarik pada makanan.

“Mahasiswa ya?” Taeyeon ikut-ikutan.

Hah? Tunggu sebentar. Mahasiswa?!

Aku menoleh ke jendela. Rasanya aku akan tersedak ludahku sendiri lagi. Itu kan Minhwan Oppa! Ngapain dia ke sini? Jemput adik?

Dia mendongak. Tak terasa wajahku memerah.

“Sica, kamu kenal dia?” tanya Tiffany.

“Ehm…secara teknis..”

“Kereeen!! Kenalin dong!” rengek Seohyun.

“Dia punya restoran gak?”

“SOOYOUNG!!”

“Habis..” Sooyoung mengambil batangan pocky terakhir dan memasukkannya ke mulutnya. “Kan enyak kayauw punya pacawr pemilik restauwran, bisa makan gewratis tiap hawri..” ucapnya tidak jelas karena mulutnya masih mengunyah. Kalau diterjemahkan ke bahasa normal, artinya: Kan enak kalau punya pacar pemilik restoran, bisa makan gratis tiap hari.

“TELEN DULU!!”

Aku mengepalkan tangan. Biarin aja. Dia bukan siapa-siapa ini. Lewatin aja.

“Hai, Sica!” sapa Changmin ramah. Aku tersenyum.

“Mau pulang? Bareng yuk,” ajaknya. Aku mengangguk. Changmin tampak senang. Ia langsung berjalan bersisian denganku. Kira-kira 50 meter dari gerbang. Aku langsung menggenggam tangan Changmin. Cowok itu terkejut. Aku tetap melihat ke depan. Minhwan Oppa masih ada di sana, dia menatapku sambil terdiam.

Biarin aja. Lewatin aja.

Ketika sampai di depannya, suara Minhwan Oppa terdengar.

“Jessie,” panggilnya. Aku menghentikan langkah. Minhwan Oppa menatapku dan Changmin bergantian dengan kikuk. Ia mengusap belakang kepalanya.

“Er…aku cuma mau memberikan ini.” Ia menjulurkan tangannya yang terkepal. Ia lalu membuka kepalan tangannya. Aku terpaku. Di sana ada kutek warna merah, kuning, dan hijau, warna pelangi.

“Kukumu kemarin kan rusak. Kukira..kamu pasti butuh ini untuk memperbaikinya.” Minhwan Oppa tersenyum. Matanya tinggal segaris. Aku menerima tiga botol kecil kutek itu dengan tangan gemetar.

“Dipakai ya. Nanti hasilnya perlihatkan padaku. Maaf mengganggu kalian. Dag!!” Minhwan Oppa melambai dan berlari pergi. Ia masuk ke mobilnya yang diparkir di pinggir jalan dan bergegas pergi. Genggamanku di tangan Changmin terlepas.

“Kenapa..memberiku harapan..?” Aku menggigit bibir bawahku. Aku ingin menangis. Entah kenapa.

“Sica..” lirih Changmin.

“Maaf! Maafkan aku, Changmin! Aku menyukainya. Maafkan aku!” Aku menunduk dan menangis. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Botol-botol kutek itu basah oleh air mataku. Aku terus menangis. Aku tahu aku tidak bisa bersamanya, dia sudah punya seseorang yang disukainya. Tapi kenapa dia masih memberiku harapan? Dasar…

“BODOH!!” seruku.

“Eh..Sica..kenapa? Sudahlah jangan menangis..dilihatin orang tuh..”

“Aku gak peduli! Aku kesal!!” Aku menghentakkan kakiku dan berjalan pergi.

“Eh..tung..”

“Wah dia bikin ceweknya nangis tuh..”

“Iya, sampai diteriaki bodoh segala. Hahahah..”

“Kasian ceweknya. Cowoknya jahat banget ih, bikin nangis!”

“Tunggu dulu..ini tidak seperti yang kalian pikirkan..” Changmin terpaku di tempat.

= = =

Aku menjatuhkan tubuhku ke atas ranjang dalam posisi tengkurap. Aku benar-benar kesal. Tapi..aah sudahlah.

“Minhwan bodoh!! Minhwan bodooooh!!! Stupid! Idiot! Jerk!!” Aku meneriakkan semua kata-kata umpatan itu.

Sis, you okay?” tanya Krystal di depan kamarku. Ia mengetuk-etuk pintu kamar.

Shit! Minhwan you stupid!!! I hate you!!”

“Siapa Minhwan?” Krystal tiba-tiba masuk ke kamarku. Kebiasaan.

Didn’t I tell you to knock on the door first?!” seruku.

Well, I knocked.” Krystal mengangkat bahu. Aku tertegun. Iya juga sih. Tapi…Aaaah Minhwan stupid!

Just like a little child, crying over something’s irrelevant.” Krystal menggeleng-gelengkan kepalanya.

Irrelevant you say?!” Enak aja. Hal penting begini dibilang irrelevant.

“Ya iyalah! Jadi gimana si Minhwan ini? Kamu suka sama dia, tapi dia suka orang lain, tapi dia ngasih kamu harapan. Gitu? Itu kan nggak penting. Bukan hal penting untuk ditangisi.”

“Ini masalah perasaan! Anak kecil pergi aja sana!”

“Yang masih anak kecil itu siapa sih? Eonnie, kamu tuh udah mau 18 tahun, masih aja bersikap kayak gini. Pantesan orang-orang ngira kamu itu adikku. Ckckck…”

“Habisnya..kalau kamu ada di situasiku kamu juga pasti nangis!”

“Kata siapa? Kalau aku sih pasti ngerebut tuh cowok gimanapun caranya. Bodo amat dia udah punya orang yang disukai, toh dia belum nikah kan? Kecuali kalau kamu suka sama om-om yang sudah berkeluarga, ya itu sih pasrah aja.”

“Kurang ajar! Aku sukanya sama mahasiswa kok!” Aku menutup mulutku. Keceplosan deh. Dia pasti bilang seleraku aneh.

“Mahasiwa? Keren dong.”

Heh? Diluar dugaan…

“Ya udah, kamu jangan bersikap kayak anak kecil lagi! Mahasiswa itu nggak suka cewek yang masih bersikap kayak anak kecil macam kamu ini! Jadi, ayo lebih dewasa dong!”

Aku masih terdiam. Ternyata ada gunanya juga dia jadi adikku.

“Makasih, Krystal!! Sini Eonnie cium.” Aku memanyunkan bibirku.

“IIH!! Dasar aneh! Pantas aja si Minhwan itu nggak suka sama kamu!! Menjijikkan!” Krystal begidik dan bergegas keluar kamarku. Aku tersenyum.

Aku menatap tiga botol kutek itu yang tergeletak di kasurku. Aku tersenyum mantap. Baiklah, Jessica! Perjuangan baru dimulai!

Aku duduk di meja belajar dan menyalakan lampunya. Aku mencat kukuku dengan tiga warna tersebut. Aku harus ekstra hati-hati, kalau nggak warnanya bisa kecampur. Huft..prosesnya memakan waktu lama. Tapi nggak apa-apa! Demi Minhwan Oppa!

= = =

Esok harinya aku terbangun. Untung hari ini hari libur, jadi bangun siang juga gak masalah. Aku menatap kukuku yang sudah tercat dengan sempurna. Aku tersenyum puas. Aku tinggal memperlihatkannya pada Minhwan Oppa.

= = =

SIP! Semuanya sudah beres. Aku mengayuh sepedaku ke taman kota. Aku meletakkan sepedaku sembarangan dan segera berlari menaiki puluhan anak tangga. Suara harmonika kembali terdengar. Minhwan Oppa pasti ada di sana. Bagus!

Aku sampai di puncak dengan napas ngos-ngosan. Minhwan Oppa menyadari keberadaanku. Ia menghentikan permainannya dan menoleh. Ia tersenyum ramah melihatku berdiri di sini. Dia menyambutku. Aku balas tersenyum dan menghampirinya.

“Oppa, lihat, sudah jadi.” Aku memamerkan kuku yang bercat pelangi itu padanya. Minhwan Oppa tampak takjub. Ia menyentuh kedua tanganku dengan bersemangat. Wajahku memerah. Gerakannya tiba-tiba.

“Wah..benar…kamu hebat! Bagus sekali, Jessie..” Ia mengusap punggung tanganku tanpa sadar. Jantungku berdegup kencang. Sentuhannya menghantarkan listrik berkekuatan tinggi.

“Eh, maaf!” Minhwan Oppa segera melepas tangannya. Aku menggeleng.

“Tidak apa-apa!” Aku tersenyum senang. Minhwan tersenyum.

“Oppa, maaf aku nanya hal ini tapi aku penasaran. Umur Oppa berapa?”

“Aku 22.”

“Oh..tingkat akhir ya?”

“Iya. Kalau Jessie?”

“Aku masih 17. Tapi tenang aja, seminggu lagi aku 18!” Hah? Aku ngomong apa? Kenapa kesannya aku berharap dia menungguku sampai umur 18?

Minhwan tertawa. Aku terpana. Dia tampan sekali.

“Berarti kita beda 4 tahun ya?” Dia tersenyum hangat. “Wah wah..kamu bahkan lebih muda dari adikku.”

“Oppa, aku…sudah bikin banyak lirik lagu,” ucapku malu-malu.

“Oh mana? Sini aku mau lihat.”

“Tapi jelek..” gumamku.

“Kalau buatan Jessie pasti bagus kok.” Ia menjulurkan tangannya yang terbuka. Tangannya besar. Kalau digenggam tangan itu pasti rasanya aman ya..

Eh aku mikir apa sih?

“Ini.” Aku mengeluarkan 5 lembar kertas. Tak sengaja, botol kutek warna merah terjatuh melewati selongsong kayu. Aku cepat-cepat menjulurkan tanganku untuk mengambilnya. Namun, tak kusangka, tubuhku melewati selongsong kayu itu. Aku jatuh!!

“Jessie!!” seru Minhwan Oppa. Ia melemparkan harmonikanya ke sembarang arah dan meraih tanganku. Kertas-kertas berisi lirik lagu itu berterbangan ke segala arah. Tasku terjatuh ke sungai.

“Cepat panjat!” serunya. Wajahnya terlihat sangat panik. Aku mencari tempat pijakan. Aku tertegun ketika melihat harmonikanya hancur karena terbentur selongsong kayu.

“Harmonikanya..”

“Lebih penting kamu daripada harmonika! Ayo cepat panjat!!” serunya. Aku cepat-cepat memanjat dengan dibantu oleh Minhwan Oppa. Berhasil. Aku selamat.

“Ah..kuteknya hilang..tasku juga. Aduh..harmonikanya gimana? Itu kan benda yang sangat berharga..”

“Kamu jauh lebih berharga daripada barang-barang itu,” kata Minhwan Oppa perlahan.

“Eh..”

“Lupakan saja. Oh iya, minggu depan Universitas Seoul mengadakan pameran karya seni. Kamu mau ke sana?”

Ini…KENCAN??

“Aku mau.”

“Nanti kujemput di rumahmu. Berikan nomor telepon dan alamat rumahmu.”

Ini..dia memang pangeranku! Dia memang orang yang ditakdirkan untukku! Terima kasih, Tuhan!

= = =

“Kamu jauh lebih berharga daripada barang-barang itu! Hihihihi…kata-katanya masih terngiang di kepala.” Aku memeluk boneka beruangku sambil tersenyum-senyum. Aku jauh lebih berharga. Baginya aku jauh lebih berharga. Aduh..aku melayang lagi.

Minhwan Oppa, saranghae!

Aku melirik kalender. Besok, ulang tahunku sekaligus kencan pertama dengannya. Aku harus dewasa! Tidak boleh cengeng lagi! Tidak boleh merengek lagi! Besok aku akan membuktikan padanya bahwa perbedaan umur 4 tahun sama sekali bukan masalah!

= = =

Esok harinya, Minhwan Oppa menjemputku. Aku menyambutnya dengan ceria.

“Oooh..jadi ini cowok yang bikin kakakku nangis jerit-jerit dan senyum-senyum sendiri? Lumayan juga..” Krystal mengangguk-angguk.

“Hah?” Minhwan Oppa tampak bingung.

“Sudah, tidak perlu didengarkan.” Aku tersenyum.

Sampai di Universitas Seoul, Minhwan Oppa langsung menggandengku. Lagi-lagi jantung ini berdebar.

“Takut hilang,” katanya. Ia tersenyum.

“Emangnya aku anak kecil!” protesku. Dia hanya tertawa dan mengacak rambutku lembut. Aku cemberut.

“Ah, maaf, maaf!” Dia langsung merapikan rambutku. Kini aku yang tertawa.

Tiba-tiba, sesosok laki-laki yang tampan menghampiri kami. Dia memanggil Minhwan Oppa. Aku menoleh pada cowok di sampingku ini.

“Oh, Donghae!” seru Minhwan Oppa.

“Siapa?” tanyaku.

“Dia temanku. Kamu tunggu dulu ya, aku mau bicara padanya.” Minhwan Oppa mengelus kepalaku dan menghampiri cowok itu. Cowok yang dipanggil Donghae itu tersenyum sekilas padaku dan asyik mengobrol dengan Minhwan Oppa.

“Sekarang siapa yang lebih penting? Aku atau cowok itu?” Hah..rasanya aneh mengatakannya. Kesannya, Minhwan Oppa mengabaikanku demi cowok lain. Tapi, memang begitu keadaannya kan? Donghae itu cowok, dan Minhwan Oppa tampak sangat bahagia ketika bertemu dengannya.

Aku duduk di kursi plastik dekat stan lukisan. Masa aku diduakan karena seorang cowok? Masa aku harus cemburu sama cowok? Iih..

“Jagiya, lihat! Itu lukisan pelangi!” Hm? Pelangi?

Aku menoleh ke sumber suara. Ada sepasang kekasih yang sedang melihat ke arah lukisan pelangi di taman kota. Hah? Itu kan tempat aku pertama kali bertemu dengan Minhwan Oppa! Aku segera menghampiri lukisan tersebut, menggeser sepasang kekasih itu. Mereka pergi sambil menggerutu.

“Hai, nona manis. Suka pelangi ya?” Seorang perempuan menyapaku. Ia duduk di kursi kayu, di sebelah lukisan-lukisan itu.

“Iya..” ucapku. “Tempat ini bersejarah!”

“Hahaha..” Cewek itu tertawa. “Kalau begitu, mau membelinya? Cuma 10 won.”

“Hah? Murah sekali..” Aku menyentuh permukaan lukisan itu.

“Ini kan bazaar. Semua dijual murah. Tertarik?” Dia tersenyum.

“Tentu saja!” Aku segera mengeluarkan uang 10 won dan memberikannya pada cewek itu. Dia berterima kasih. Aku masih berdiri di sana, mematung sambil memandangi lukisan.

“Ke sini sama siapa?” tanyanya.

“Sama..teman.”

“Oh. Kamu kuliah jurusan apa?”

“Aku masih sekolah. Kelas 3 SMA di SMA Shinhwa.”

“Shinhwa? Benarkah? Aku kuliah di Universitas Shinhwa lho!” ujar cewek itu bersemangat.

“Oh ya? Temanku yang membawaku ke sini juga kuliah di Shinhwa! Namanya Kang Minhwan, jurusan psikologi, kenal dia?” tanyaku bersemangat.

Binar di mata gadis itu hilang.

“Ya, tentu saja. Dia mantan pacarku. Ngomong-ngomong, kenalkan, namaku Sandara Park. Panggil saja Dara. Namamu siapa?” Aku terpaku. Jadi ini..orang yang membuat Minhwan Oppa mati-matian belajar agar dapat beasiswa, hanya untuk satu kampus dengannya. Jadi ini, gadis yang dicintai Minhwan Oppa. Kenapa aku tidak menyadarinya? Bisa saja dia membawaku ke sini untuk memperkenalkanku dengan Dara. Bisa saja dia datang kemari karena ingin bertemu dengan Dara.

Aku mengeratkan genggamanku di lukisan itu.

“Aku..Jessica..Jung..”

“Jessica? Boleh kupanggil Jessie? Kedengarannya imut, cocok sekali dengan orangnya.” Bahkan cara  bicara mereka mirip. Sudah berapa lama mereka berpacaran? Kenapa mereka putus?

“Minhwan Oppa juga memanggilku Jessie..” gumamku.

“Ah, benarkah? Dari dulu kami memang sering sehati!” Hentikan..

“Tempat itu adalah tempat dimana kami pertama bertemu. Dia bilang, dia ingin menunjukkan pelangi di sana padaku. Tapi sampai sekarang belum kesampaian. Sedih ya..” Hentikan.

“Bagaimana kabar Minhwan sekarang? Apa dia masih suka bermain harmonika?” Hentikan!

“Meskipun satu kampus, kami jarang bertemu. Makanya kami putus saja, lagipula sekarang kami sedang mempersiapkan kelulusan. Jadi susah.”

“HENTIKAN! Jangan bicara tentang Minhwan Oppa lagi! Dia milikku!” jeritku. Dara tertegun. Aku menutup mulutku. Aku cepat-cepat berlari. Lukisan pelangi itu kujatuhkan begitu saja. Aduh, apa-apaan aku ini? Memalukan! Benar-benar kekanakan!!

Aku terduduk di belakang gedung tedo yang sepi. Lututku kulipat dan aku membenamkan wajahku di lipatan tangan yang kutempelkan ke lututku. Aku menangis. Aku masih cengeng. Aku tidak bisa bersikap dewasa. Padahal hari ini usiaku 18! Minhwan Oppa bahkan lupa hari ulang tahunku!

Menyebalkan..

Aku menatap langit. Gerimis mulai turun, bersamaan dengan daun yang berguguran. Aku menghapus air mataku. Benar-benar memalukan. Aku kekanakan!

“Uuh…Oppa…gelap…” Aku mengeratkan pelukanku ke diri sendiri. Hujan bertambah deras. Aku menggigil kedinginan. Aku terisak.

“BODOH! Sudah kubilang kamu jauh lebih berharga daripada hal lain! Kenapa tunggu di sini? Kenapa tidak memanggilku? Aku khawatir!” Minhwan Oppa berlari ke arahku dan berlutut di hadapanku.

“Tapi..Oppa ke sini hanya untuk menemui Dara eonni, kan? Oppa cuma mau melihat cewek yang Oppa cintai..”

“Ya, dan aku sedang melihatnya menggigil kedinginan sekarang.” Ia menatapku dalam. Aku terdiam. Aku? Orang yang dicintainya adalah aku?

“Memangnya kamu tidak sadar perlakuanku selama ini? Mana ada cowok membelikan kutek untuk cewek yang tidak disukainya hanya karena kuku cewek itu rusak sedikit? Mana ada cowok yang membuang benda berharganya demi menolong cewek yang tidak dia suka? Mana ada cowok yang ngebut dari rumah sakit dan berlari ke sini hanya untuk menjemput gadis yang tidak dia sukai?” ucapnya panjang lebar. Aku menutup mulutku. Aku menangis lagi. Kali ini tangisan bahagia.

“Oppa…”

“Dasar anak kecil!” Minhwan Oppa terkekeh dan memelukku. Meskipun tubuhnya basah karena air hujan, tapi rasanya tetap hangat.

“Oppa, saranghae.”

“Harusnya aku yang bilang tahu! Heh anak kecil, aku mencintaimu.”

“Pernyataan cintanya yang bener dong!”

“Oke. Jessie, saranghae.”

“Na ddo!” Aku membenamkan wajahku ke dadanya. Bisa kurasakan detak jantungnya yang berkejaran. Aku tersenyum.

Kami terus berpelukan sampai hujan reda. Baju kami sudah mulai kering meski masih dingin. Minhwan Oppa berdiri. Ia menarik tanganku.

“Ada yang mau kutunjukkan padamu,” katanya. Ia lalu membawaku ke suatu tempat.

“Naik mobil?” tanyaku. “Tapi kan bajuku basah…”

“Sudah kubilang kamu jauh lebih berharga dibanding apapun!”

Aku tersenyum.

Ternyata dia membawaku ke air terjun. Jalanan agak becek bekas hujan tadi. Tapi aku tidak peduli. Minhwan Oppa berlari sambil menarik tanganku.

“Lihat! Ada pelangi!” serunya sambil menunjuk ke air terjun di hadapan kami. Pelanginya dekat sekali dengan kami. Persis di depan mata.

“Itu istimewanya pelangi di sini. Tampak dekat dengan kita. Ya kan?” Minhwan Oppa tersenyum.

“Iya..indah sekali..” gumamku takjub.

“Ini..lirik lagumu.” Minhwan Oppa mengeluarkan 5 lembar kertas dari dalam tasnya. Kertasnya tidak basah karena dimasukkan ke dalam map plastik.

“Ini kan sudah hilang waktu itu! Kenapa masih ada…”

“Aku mencarinya. Memang ada yang hancur, tapi aku coba baca baik-baik dan aku tulis ulang di kertas lain.”

“Oppa..gomawo..” Aku terharu. “Tapi..Oppa bisa sakit kalau mencari sampai ke sungai segala kan?”

“Sudah kubilang, kamu jauh lebih berharga dari apapun di dunia ini,” ujarnya. Aku terharu dan tak terasa setetes air mataku terjatuh.

“Nangis lagi?”

“Enggak..” Aku menghapus air mataku. Minhwan Oppa tersenyum dan memelukku.

“Nangis aja, nggak apa-apa kok.”

“Gomawo..neomu saranghae! My rainbow prince..”

“Hah? Rainbow prince? Haha..kalau begitu, kamu my childish princess. Atau crybaby princess lebih cocok?”

“Oppa!”

“Hehehe, maaf, maaf. My comic princess, saengil chukkhae.” Ia mengecup keningku.

“Hey..julukan itu juga gak terlalu bagus..”

“Ya sudah, my lovely princess? My cute princess? My jealous princess? Atau..” Minhwan Oppa terdiam ketika melihat wajahku cemberut. Ia tersenyum.

“My rainbow princess.” Ia mencium bibirku lembut. Aku tersenyum.

Ternyata, kisah nyata lebih seru daripada kisah di komik ya? Hehe.

“Tadi Dara bilang, kamu teriak kalo aku ini milikmu ya? Hoo jadi begitu..”

Wajahku memerah.

“Tapi sekarang emang gitu, kan?” ucapku. Minhwan Oppa tersenyum.

“Aku milikmu.”

THE END

22 thoughts on “[FF] My Rainbow Prince

  1. amitokugawa says:

    sekuelnya beda 180 derajat, kalau yang stubborn autumn leaf bikin nyesek, kalau yang ini ringan, bikin senyum2🙂
    iya, lebih dewasa krystal daripada jessica…
    ketawa pas baca perkenalan diri si minhwan :
    Namaku Kang Minhwan, aku suka main alat musik tapi tidak bisa bernyanyi dan menciptakan lirik yang bagus….
    ckckck… jujur banget sih nih orang
    love confession-nya juga lucu😀

  2. Lee Hyura says:

    aaaaaaaaaaaaaaaaa cute banget ceritanya :3 bikin ketawa, senyum dan menggerutu sendiri *itu sih karna lonya aja yg stres -_- *eh
    btw, kang minhwan itu siapa ya? pas baca tuh saya malah kebayangnya choi minhwan bukan kang minhwan😄

  3. lovelove says:

    Hallo sunghee saya suka FF ini!
    Kyyayaaaa~ Ini kok rasanya santai tapi kece ^^
    Oh iya saya mau bertanya boleh? Seputar masalah tampilan wordpress. Saya bingung cara bikin kaya yang di samping kanan itu gmn? mhn bantuan ya^^

    • sungheedaebak says:

      narsis itu kadang diperlukan..
      ya kan ada di kolom sebelah kiri tuh ada kotak-kotak berjudul. misalnya text, image, bla bla bla. tinggal diklik, tahan, seret ke kolom kosong di sebelah kanan. jatuhin di situ

  4. sophiemorore says:

    nah kalo yang ini aku sukaaa
    lucu dan unik
    jessica karakternya lucu sekali
    manja, kekanak2an
    dan ngegemesinnn jadi pengin nyeburin ke jurang deh *dilempar*
    hahahaha

    awalnya kukira sekuelnya yang autumn leaf ituuu kukira bakal haesica, hahaha
    ternyata beda cerita
    hihihii

    bagus banget sayyy!!!

  5. vidiaf says:

    omona…. ice princess jadi lucu gini kyaaaaaa XDD
    minhwannya aaaaaa >< sulit diungkapkan dengan kata-kata (?) x3
    suka idenya~ :3 endingnya juga muehehe :33

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s