[FF] The Stubborn Autumn Leaf

Sequel of I Am a Girl?!

Cast: Lee Donghae

Genre: Romance, Angst

= = =

Aku menatap pantulan diriku di cermin. Benda perak bersinar terpantul cahaya lampu menarik perhatian mataku. Aku meraba benda tersebut di leherku dan menariknya. Aku meraba bandul benda tersebut. Jemariku meraba permukaan huruf H-nya yang dihiasi dengan batuan perak yang indah. Setiap menyentuhnya, aku selalu teringat akan perkataan mendiang sahabatku.

This H stands for happiness. Berikan kalung ini pada orang yang kau cintai, niscaya kau akan bahagia dengannya.

Tapi siapa yang kucintai?

Aku melirik foto kelulusan SMA-ku. Tidak ada dua orang yang membuatku iri di sana. Jemariku masih memainkan bandul huruf H itu. Entah kenapa, aku masih bisa merasakan kehadiran mereka di sini. Di kalung ini.

Aku tersenyum dan meraih tas selempangku. Aku meraih kunci mobil dan berjalan keluar apartemen yang kusewa dengan gaji pas-pasanku di sebuah perusahaan percetakan. Aku kuliah sambil bekerja. Cuma part time, lagipula perusahaannya juga masih baru, jadi masih coba-coba.

Aku tertegun di depan pintu. Ah, aku lupa kartu identitas mahasiswaku! Aku berlari ke dalam apartemen dan meraih kartu atas nama Lee Donghae di atas ranjangku dan bergegas turun ke lantai 1. Tak banyak orang yang kutemui selama perjalanan menuju parkiran. Ini apartemen sepi, harganya paling murah se-kota Seoul.

Universitas Seoul. Itu tujuanku sekarang. Syukurlah jalanan tidak macet, kalau tidak, aku bisa terlambat. Padahal belum seminggu aku menjadi mahasiswa di sana, masa aku sudah terlambat lagi? Kan nggak lucu.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba aku melihat seorang gadis cantik yang tampak kebingungan di depan kap mobilnya yang terbuka. Aku melewatinya begitu saja. Tapi, mataku melirik lewat spion. Gadis itu tampak frustrasi dan sesekali melihat jam tangannya. Aku menghentikan mobilku di pinggir jalan dan mundur mendekati mobil gadis itu. Aku berhenti tepat di depan gadis itu. Ia berbalik dan menatapku heran.

Aku turun dari mobil dan menghampirinya.

“Ada apa?” tanyaku ramah.

“Entahlah..mobilku tiba-tiba mogok. Padahal bensinnya masih ada.” Terdengar sekali nada pasrah dan putus asanya.

“Hm, coba kulihat.” Aku meneliti mesin mobil sedan itu. Aku memang kurang paham soal mobil, tapi kalau kerusakan standar bisa kuperbaiki.

Aku mengernyit begitu melihat bahwa mesin mobilnya baik-baik saja.

“Mesinnya bagus kok. Coba starter lagi?”

“Tidak bisa. Aku sudah mencobanya daritadi tapi tetap tidak membuahkan hasil. Mobilnya tidak mau maju, malah ada suara berdecit.”

Aku berjalan ke sisi mobil dan menghela napas. Masalahnya ada di ban yang pecah, bukan di mesin.

“Punya dongkrak dan ban serep kan? Biar kuganti bannya.”

“Oh? Jadi masalahnya bannya ya? Hehehe..maaf ya aku tidak tahu. Sebentar ya.” Gadis itu membuka bagasi mobilnya dan aku mengambil dongkrak dan peralatan dari sana. Aku lalu mulai mengganti ban mobilnya yang pecah. Gadis itu memperhatikanku dengan serius. Aku terus mengoceh tentang bagaimana caranya mengganti ban, gadis itu mengangguk-angguk, tampaknya paham dengan penjelasanku.

“Selesai.” Aku membereskan peralatan dan memasukkannya kembali ke bagasi. Gadis itu berterima kasih berulang kali sampai aku bosan mendengarnya.

“Tidak usah terima kasih terus. Aku senang membantu.” Aku tersenyum tulus. Gadis itu tersenyum.

“Namaku Kang Minhyo. Senang sekali bertemu denganmu..err..”

“Lee Donghae. Mau melamar kerja?” tanyaku. Wajar saja, karena Minhyo mengenakan pakaian yang sangat rapi.

“Tidak. Aku mahasiswi baru di Universitas Shinhwa.” Shinhwa..berarti dia orang kaya. Universitas Shinhwa adalah sebuah universitas swasta yang elit. Hanya kalangan bangsawan dan anak-anak orang kaya yang bisa berkuliah di sana.

“Oh? Aku juga mahasiswa baru di Universitas Seoul.”

“Wah, kau pasti pintar!” Minhyo tampak bersemangat. Ia lalu mengeluarkan secarik kertas dari sakunya dan mulai menulis di atasnya. Setelah selesai, ia memberikannya padaku.

“Aku agak bermasalah dengan pelajaran, mohon bantuannya!”

Dia memberiku nomor telepon dan alamat e-mailnya. Benar-benar gadis yang tak biasa. Aku menerima kertas tersebut dan menyimpannya baik-baik di sakuku.

“Akan kuhubungi kamu nanti. Tapi jangan kecewa kalau ternyata aku tidak sepintar yang ada di bayanganmu.”

“Aniyo! Hanya lulusan-lulusan terbaik yang bisa masuk ke sana. Aku tidak meragukan kepintaranmu.” Minhyo tersenyum. “Ngomong-ngomong..kamu masuk jam berapa?”

Aku melirik jam. Gawat! 10 menit lagi dosen pasti masuk kelas!

“Aku harus pergi sekarang! Duluan ya, dah!” Aku bergegas menghampiri mobilku dan kembali mengemudi. Dari spion, bisa kulihat Minhyo melambaikan tangannya. Aku tersenyum.

Aku datang terlambat 3 menit. Tapi untunglah, dosennya baik. Dia tidak menghukumku. Dia menerima alasanku begitu saja. Padahal setahuku, dosen-dosen di Universitas Seoul itu pada ketat menjaga peraturan. Kurasa itu hanya rumor belaka.

Sepulang kuliah, aku segera pergi ke tempat kerja. Pikiranku disibukkan oleh buku-buku yang menungu untuk dicetak sampai lupa bahwa aku menyimpan nomor telepon Minhyo di saku kemejaku.

Sepulang ke apartemen, aku ketiduran di ruang TV saking lelahnya.

Pagi harinya, aku terbangun dengan badan yang pegal-pegal. Rupanya, saking capeknya, posisi tidurku tidak berubah sama sekali. Ugh, leherku rasanya berputar 180o . Benar-benar menyiksa. Tidur saja malah bikin tambah capek.

Aku memasukkan baju-baju kotor di dalam keranjang ke mesin cuci. Aku menekan tombolnya dan membiarkan mesin itu bekerja secara otomatis. Aku membuat sarapan untuk diriku sendiri sambil menunggu baju selesai dicuci. Saat aku mengunyah roti sandwich-ku, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Nomor telepon Minhyo!

Aku bergegas mematikan mesin cuci dan mencari baju yang kupakai kemarin. Aku mengambilnya dan mengeluarkan secarik kertas basah yang luntur dari saku kemeja.

“Oh, man..” desahku. Sekarang aku tidak punya nomor teleponnya. Pabo! Kenapa kemarin tidak aku save langsung saja ya? Bodoh bodoh bodoh!!

Haish. Aku terduduk di sofa dan melamun. Bagaimana kalau aku tidak akan bertemu dengannya lagi? Apa aku harus meminta maaf? Tapi, kenapa dia tidak minta nomorku saja kemarin? Tapi..cewek itu kan gengsian. Tapi, dia gak gengsi tuh waktu ngasih nomor teleponnya. Terus, kenapa dia tidak meminta nomorku? Lalu, kenapa aku tidak memberikannya secara cuma-cuma padanya? Kan dia sudah memberikan nomornya! Jadi yang bodoh siapa?!

Yah..lagipula aku tidak apa-apa jika tidak bisa bertemu dengannya lagi. Aku juga tidak mengenalnya. Ya sudah, tidak masalah.

Tapi..bayangan wajahnya masih terekam jelas di otakku. Seperti kejadian yang baru berlangsung 5 menit yang lalu. Aish, ada apa ini? Kenapa senyumnya terekam jelas di otakku?

= = =

3 hari kemudian, aku menjenguk Appa-ku yang sakit. Aku sudah membawakan buah-buahan kesukaannya. Aku sangat merindukan Appa-ku. Makanya aku tidak bisa menyembunyikan senyum. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya.

“Appa, apa kabar?” sapaku ramah. Appa menoleh dan tersenyum.

“Semakin hari semakin baik. Kamu, Nak? Bagaimana rasanya tinggal di apartemen sendirian?”

“Menyenangkan. Aku jadi bisa membuat peraturanku sendiri. Hehehe…”

“Dasar kau ini. Asal jangan masukin cewek ya? Awas lho..”

“Yah…gak apa-apa dong, Appa? Kan biar aku nikah lebih cepat.”

“YAH! Jangan ikut-ikutan temanmu yang playboy itu! Siapa namanya? Lee Hyukjae ya?”

Aku tersenyum tipis. “Dia sudah meninggal.”

“Jinja?” Appa terlihat terkejut. “Kenapa tidak memberitahu Appa?”

“Maaf, aku ingin sekali memberitahu Appa, tapi aku tidak punya waktu.”

Appa menghela napas. “Ya, Appa mengerti. Kamu kuliah sambil bekerja. Jangan sampai kecapekan dan sakit ya?”

“Ne.” Aku tersenyum.

Aku menatap jendela yang terbuka. Aish, ini kan sudah mulai musim gugur, angin mulai dingin. Tidak baik untuk kesehatan.

“Appa, jendelanya aku tutup ya. Anginnya dingin.”

“Ya.”

Lalu, aku menutup jendela. Tapi, gerakanku terhenti. Di bawah sana, di taman rumah sakit, ada sesosok gadis yang baru saja kukenal. Kang Minhyo. Sedang apa dia di sini?

“Appa, aku ke bawah sebentar ya.” Aku bergegas keluar ruangan.

= = =

Appa Donghae menatap ke bawah. Ia menggeleng sedih melihat putranya menghampiri gadis bernama Kang Minhyo itu.

“Kisah cintamu akan rumit, Nak.”

= = =

“Minhyo-ssi!” panggilku. Yang dipanggil menoleh. Dia tampak terkejut melihatku.

“Donghae-ssi! Tak kusangka akan bertemu denganmu di sini!” Minhyo tersenyum senang.

“Maaf tidak bisa menghubungimu. Nomormu hilang, kecuci…hehehe..” Aku menggaruk belakang kepalaku.

“Dasar.” Minhyo mendengus.

“Ngomong-ngomong, kenapa kamu di sini?” tanyaku.

“Kamu sendiri?”

“Aku menjenguk ayahku.”

“Well, aku juga menjenguk seseorang.”

“Siapa?”

“Kembaranku.”

“Wah, kamu kembar?” seruku. Minhyo tersenyum.

“Sakit apa?” tanyaku. Minhyo hanya menggeleng. Wajahnya terlihat sedih. Aku mengerti dan tidak mau membahas topik ini.

“Jadi…minta nomormu.” Aku menyodorkan ponselku. Minhyo menerimanya dan mengetikkan nomor ponselnya di sana.

“Simpan loh, awas hilang lagi,” sindirnya. Aku terkekeh dan segera me-missed call Minhyo. Ia mengangguk ketika nomorku muncul di layar ponselnya.

“Oke, kalau nomorku hilang lagi, aku yang akan menghubungiku. Jangan kabur!” ancamnya. Aku mengangguk sambil tertawa.

Kami berbincang sebentar. Rasanya memang sebentar, namun ketika kulirik jam tanganku, benda berkilau itu menunjukkan pukul 6 sore. Itu artinya, sudah satu jam aku berbincang dengannya.

Aku mengajaknya masuk ke rumah sakit. Minhyo terlihat menggigil kedinginan. Padahal tubuh mungilnya sudah ditutupi oleh mantel tebal berwarna hijau tosca. Tapi, memang, anginnya dingin sekali. Musim dingin tinggal 3 bulan lagi, daun-daun mulai berguguran.

= = =

Rutinitasku masih sama seperti biasa. Bangun, sarapan, kuliah, kerja, tidur, lalu bangun lagi. Tidak ada yang menarik. Tapi, dua minggu terakhir ini, Minhyo sering menanyakan soal pelajaran padaku. Kebetulan dia satu jurusan denganku, jadi aku bisa membantu sebisanya. Entah kenapa, aku menikmatinya. Maksudku, membantunya belajar memang kadang melelahkan, tapi aku masih menikmatinya.

Hari ini, jalanan sudah mulai dipenuhi oleh daun-daun kering yang gugur. Daun-daun yang sudah seharusnya pergi dari rantingnya. Aku penasaran, apakah mereka pergi dengan ikhlas, atau dengan berat hati. Kau tahu, berpisah dengan sesuatu yang sudah melekat denganmu sejak lahir, bagaimana rasanya? Pasti sedih sekali, bukan?

Sesampai di rumah sakit, aku tertegun di depan kamar rawat ayahku. Kenapa ramai sekali? Kenapa mereka semua panik? Kenapa ayahku dikerumuni? Kenapa ada alat kejut jantung?

Semua pertanyaanku terjawab ketika suara lengkingan yang memilukan telinga merasuk ke telinga. Raut-raut pasrah para dokter dan suster semakin memperkuat jawaban itu. Ayahku sudah tiada. Dia sudah pergi. Dia sudah lepas dari rantingnya. Atau justru aku yang lepas dari ranting?

Aku menangis meraung-raung. Aku benar-benar tidak menyangka ia akan pergi sekarang. Padahal hari ini aku sudah membawa buah-buahan kesukaannya. Padahal aku sudah membawa bunga Baby Blossom yang disukai ibu dulu. Padahal aku  ingin mengatakan bahwa… aku tidak ingin kehilangannya.

 = = =

Aku menggenggam bandul H di kalungku dengan erat. Aku hanya bisa tertegun di depan guci berisi abu kremasi ayahku. Tak terasa, genggaman tanganku semakin erat. Aku bisa merasakan genggaman tanganku dijatuhi air mata. Aku menunduk, menangis tanpa suara.

“Donghae-ssi?” Aku menghapus air mataku dan menoleh. Kang Minhyo. Dia menatapku dengan khawatir. Ia segera menghampiriku dan memelukku erat. Aku tidak tahan lagi. Air mataku kembali tumpah. Aku membenamkan wajahku ke pundaknya.

Minhyo selalu ada. Dia selalu ada saat aku kacau.

= = =

Minhyo tidak mendesakku untuk bercerita, tapi aku melakukannya. Aku bercerita padanya bahwa orangtuaku bercerai ketika usiaku 12 tahun. Ibuku menikah lagi dan memilih tinggal di Italia, bersama suami barunya yang berkewarganegaraan Italia. Ayahku jatuh sakit setelah bercerai dengan ibu. Tabungan ayah habis dipakai untuk berobat. Dan aku harus menopang keluargaku. Aku harus menabung untuk biaya pengobatan ayah. Kakakku tidak bisa diharapkan. Dia menikah dengan wanita Jepang dan tinggal di sana. Tak ada kabar lagi setelah itu.

Minhyo hanya memelukku. Dia tidak berkata apa-apa, tapi justru itu membuatku tenang. Aku senang dia bisa menghiburku. Aku senang bisa bercerita padanya. Aku senang dia ada.

= = =

Aku mengernyitkan kening ketika akhir-akhir ini Minhyo jarang menghubungiku lagi. Bahkan SMS dan teleponku tidak pernah dibalas. Minhyo seperti menghilang begitu saja. Dan itu membuatku takut. Aku tidak ingin ada daun yang jatuh lagi. Meskipun ini sudah penghujung musim gugur yang berarti pohon-pohon sudah gundul dengan sempurna. Semua daun sudah gugur ke tanah. Termasuk di ‘pohonku’. Semuanya sudah gugur. Ibu, Hyukjae, Sunghee, ayah. Tapi, aku ingat masih ada daun kecil yang bertengger di rantingku. Daun itu kecil, mungil, tapi kuat. Ia tahan dengan tiupan angin, ia tetap melekat di rantingku. Daun itu namanya Kang Minhyo.

Tapi, aku tahu semua daun harus gugur. Kalau tidak, nanti tertimbun salju. Itu berarti, suatu hari nanti, aku harus melepaskan Minhyo dari rantingku. Atau dia sendiri yang berinisiatif melepaskan diri.

Aku berjalan ke kampusku dengan lesu. Mobil sudah kuparkirkan sekenanya. Tinggal tunggu orang yang memarahiku dan menceramahiku tentang memarkirkan mobil di tempat yang benar. Tapi, biar saja. Aku butuh orang untuk diajak  bicara.

Dan orang itu muncul. Seperti biasa, selalu di saat kacau. Orang itu tersenyum menyapaku sambil melambaikan tangan. Tubuhnya makin mungil. Semakin kurus dan rapuh. Tapi senyumnya tetap secerah biasa.

“Aku akan mentraktirmu makan malam hari ini karena kau sudah banyak membantuku dalam pelajaran,” katanya. Aku tersenyum. Aku ingin menolaknya, namun ia tetap memaksa. Apa boleh buat. Aku menyetujui ajakannya.

Ia membawaku ke rumahnya. Keluarganya menyambutku dengan ramah dan hangat. Aku merindukan suasana seperti ini. Makan malam bersama ayah, ibu, kakak.

Minhyo mempunyai seorang kakak laki-laki yang mirip sekali dengannya. Wajahnya ramah, menyiratkan kelembutan. Ketika tersenyum, matanya menyipit sampai hanya sebuah garis yang terlihat. Persis seperti Minhyo. Namanya pun mirip, Kang Minhwan. Dia masih kuliah tingkat akhir di jurusan psikologi. Aku tertarik dan karena itu obrolan diantara kami tidak pernah berhenti. Minhyo sampai cemberut karena aku terlalu asyik berbincang dengan kakaknya dibanding dengan dia.

“Yang mentraktir kan aku, bukan Minhwan Oppa!” katanya dengan ketus. Semua yang ada di sana tertawa lepas. Tanpa beban. Tanpa masalah. Tidak ada yang mengganjal. Aku senang bisa berada di sini. Aku senang bisa diterima oleh mereka.

Jam 10 malam, aku pamitan. Aku harus pulang sekarang karena besok bukan hari libur. Aku harus kuliah dan bekerja.

Saat aku hendak memasuki mobilku, tangan Minhwan Hyung menepuk pundakku.

“Jaga adikku baik-baik ya,” katanya sambil tersenyum hangat. Aku hanya mengangguk, belum terlalu mengerti maksudnya apa. Aku menginjak gas dan mobilku melaju membelah malam.

= = =

Sebentar lagi musim dingin datang. Mungkin 3 hari lagi, atau lusa. Udara menjadi sangat dingin. Uap air mulai keluar dari mulutmu ketika kamu bicara.

Ada yang kurang sekarang. Aku jarang berhubungan dengan Minhyo lagi. Kukira ia sibuk dengan tugas kuliahnya, sama sepertiku, makanya aku tidak mau mengganggunya. Sekedar mengucapkan selamat pagi, siang, sore, malam sudah kulakukan. Tapi tetap tak ada balasan. Mungkin dia benar-benar sibuk.

Tak ada yang bisa diharapkan dari Minhwan Hyung. Dia jauh lebih sibuk daripada aku. Biasa, mahasiswa tingkat akhir. Sudah harus mempersiapkan skripsi.

Aku melangkah masuk ke dalam tempat kerjaku. Kali ini, aku ‘naik pangkat’ jadi editor karena editor yang biasa sedang ada urusan pekerjaan di luar negeri. Editor yang bernama pena L ini sedang mempromosikan novelnya yang diangkat menjadi film di Amerika. Ya, dia juga seorang penulis. Aku berangan-angan, jadi terkenal pasti rasanya menyenangkan. Dikenal banyak orang, dicintai banyak orang.

“Donghae, ini kiriman naskah yang baru. Belum kubaca semuanya tapi kayaknya novel sedih. Tolong kamu edit ya. Kamu kan jurusan sastra.” Jongwoon Hyung, yang bersikeras ingin dipanggil Yesung, memberikan sebuah CD padaku. Aku menerimanya dan segera memasukkannya ke driver komputerku. Kutemukan sebuah file berekstensi .doc yang berjudul “The Broken Autumn Leaf”. Daun musim gugur yang rusak? Judulnya membuatku tertarik. Aku mulai membaca naskah itu sambil sesekali mengeditnya.

Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi ini kisahku sendiri. Aku yang mengalaminya, dan aku yang menuliskannya. Tidak semua perkataan bisa diucapkan lewat bibir. Ada yang harus dikatakan lewat tulisan atau gambar. Maka, aku mencurahkannya di buku ini. Semoga kalian menyukainya.

Kang Minhyo

Aku tertegun. Kang Minhyo yang mana? Kang Minhyo yang kukenalkah? Aku semakin penasaran. Minhyo juga berkuliah di jurusan sastra sih, kemungkinan besar dia menulis novel. Katanya ini kisah nyata kan? Ya sudah kubaca saja, siapa tahu muncul nama-nama yang kukenal lagi.

Dan memang benar. Ada nama Kang Minhwan, ada nama kedua orang tuanya, ada namaku. Ia mencantumkan kejadian saat kami pertama bertemu di pinggir jalan.

Kupikir malaikat penolong itu tidak ada, ternyata ada. Dia malaikat bermata sedih. Bahkan ketika ia tertawa, mata sedihnya selalu ada. Apa yang menyebabkan kesedihan itu? Kenapa kesedihannya melekat seperti sudah menjadi bagian dari kehidupannya? Apa aku bisa menghilangkan kesedihan itu dari matanya?

Aku terdiam. Aku merasa, tidak ada yang perlu di-edit dari naskah ini. Ini sempurna. Pembendaharaan kata yang pas, alur yang jelas, perasaan yang mendalam. Naskah ini bisa membuat siapapun yang membacanya menjadi berdebar. Ada rasa sesak yang timbul di dada. Tapi sesak yang membuatmu ketagihan.

Tanpa sadar, aku terus membaca dan membaca. Aku sampai lupa waktu.

Sebenarnya..aku tidak ingin mengatakannya, tapi aku harus. Aku divonis mengidap penyakit gagal jantung kronis.

 Aku ingin menghabiskan sisa waktuku bersama orang-orang yang kucintai. Bersama orang tuaku, sama Minhwan Oppa, dan Lee Donghae.

Aku malu sekali mengatakannya, tapi, suatu hari, aku ingin margaku berganti menjadi Lee. Lee Minhyo, tidak kedengaran aneh, kan?

Air mataku menetes saat membacanya.

Kebahagiaan milik siapa saja. Yang kaya, yang miskin. Yang tua, yang muda. Yang sehat, yang sakit. Yang populer, dan yang penyendiri. Semuanya berhak untuk bahagia.

Aku tertegun membacanya. Lalu aku menyentuh bandul H di kalungku. H for Happiness…setiap orang berhak mendapatkan kebahagiaan. Aku mengangguk mantap.

= = =

Aku bertemu Minhwan Hyung di pameran karya seni kampusku. Tak kuduga ia akan datang. Dia datang bersama seorang perempuan yang cantik. Begitu melihatku, ia menyuruh perempuan itu untuk pergi ke tempat lain dan menunggunya. Ia lalu menghampiriku.

“Lama tak jumpa, Donghae!” serunya. Dia memang sudah menganggapku sebagai adiknya.

“Hyung..” Hanya itu yang bisa kuucapkan. Melihat wajahnya, aku teringat wajah Minhyo.

Minhwan Hyung tersenyum.

“Sepertinya kamu sudah tahu tentang adikku?” Aku mengangguk. Minhwan Hyung mengangguk-angguk paham.

“Sepulang dari sini, mau menjenguknya?” tawarnya. Aku kembali mengangguk.

= = =

Aku terdiam di samping ranjang Minhyo. Gadis mungil itu menatapku sambil tersenyum.

“Kenapa, Donghae?” tanyanya.

“Kenapa nggak bilang?” tanyaku tertahan.

“Maaf ya. Lagipula, rasanya aku tidak perlu bilang kok.” Minhyo tersenyum lagi.

“Baiklah. Jadi…”

“Apa?”

“Kalau kau butuh sesuatu, panggil aku. Aku akan selalu ada untukmu.”

Minhyo tersenyum. Secerah biasa. Seakan tak peduli ada yang ingin menghapus senyumnya selamanya.

= = =

Kali ini, aku yang harus ada untuknya. Selama ini, dia selalu ada untukku. Sekarang, aku sedang memproses penerbitan buku Minhyo. Dia pasti senang sekali kalau bukunya diterbitkan. Kurasa, hanya ini yang bisa kulakukan untuknya.

Ternyata, musim dingin datang lebih lambat dari biasanya. Sudah seminggu lewat sejak aku tahu Minhyo mengidap penyakit gagal jantung kronis. Namun, salju pertama belum turun juga. Neverending Autumn.

Persiapannya sudah matang. Buku Minhyo bisa beredar di pasaran besok.

= = =

Esok harinya, aku berlari ke rumah sakit sambil menenteng buku novel karya Minhyo. Bukunya sudah jadi, dan aku ingin menunjukkannya padanya. Aku menenteng buku di tangan kanan dan menyelipkan kalung berbandul H antara jempol dan buku. Aku ingin memberikan kalung ini padanya.

Senyumku menghilang begitu melihat Minhwan Hyung tertunduk di depan kamar rawat Minhyo. Aku mendekatinya. Ia hanya diam. Aku melihat ke dalam ruangan. Déjà vu. Suara lengkingan itu lagi. Ekspresi panik itu lagi. Raut-raut pasrah itu lagi.

Aku berjalan dengan lesu ke dalam kamar. Aku menghampiri tubuh gadis mungil itu yang sudah tak bernyawa. Kini daunku yang terakhir sudah gugur. Daun yang tegar pun harus lepas juga. Ini waktunya. Musim dingin tidak bisa menunggu satu daun untuk jatuh. Ia dipaksa jatuh. Ia lepas dariku.

“Kenapa harus pergi sekarang..” Buku novel itu terjatuh ke lantai bersamaan dengan kalung berbandul H itu. Tetes-tetes air mataku menyusul kemudian.

“Kang Minhyo…maukah kau menikah denganku? Akan kuubah margamu menjadi Lee. Lee Minhyo. Kedengarannya bagus…sangat bagus. Minhyo!!”

Aku menangis. Meraung-raung  lagi. Seperti déjà vu, tapi kini Minhwan Hyung yang menenangkanku. Bukan para suster dan dokter.

Aku melihat keluar jendela. Salju pertama turun hari ini. Sekarang juga. Daun terakhir sudah jatuh, musim dingin tidak bisa menunggu lagi. Kejam. Musim dingin kejam. Mereka mengharuskan daun-daun untuk jatuh berguguran.

Bukan, bukan musim dingin yang kejam. Ia melakukannya karena tidak ingin para daun tertimbun salju dan kedinginan hingga mati beku. Mereka ingin merelakan daun-daun itu dengan baik-baik. Agar nanti bisa tumbuh lagi daun yang baru.

= = =

Aku berdiri di hadapan guci berisi abu Minhyo. Bertahun-tahun sudah berlalu sejak kejadian itu. Sekarang, semuanya sudah banyak berubah.

“Novelmu jadi best seller dan akan diangkat ke layar lebar,” kataku.

Hening.

“Mereka memperbolehkan aku untuk menjadi sutradaranya,” lanjutku. Masih tak ada jawaban.

“Ini, silakan baca sendiri. Aku yang mendesain sampulnya.” Aku meletakkan sebuah buku novel di kotak kecil tempat guci itu diletakkan. Di samping guci-guci lain.

Aku melepas kalung berbandul H yang sudah bertahun-tahun bertengger di leherku. Aku lalu meletakkannya di sebelah novel.

“Kebahagiaan bisa dimiliki siapapun. Yang kaya, yang miskin. Yang tua, yang muda. Yang sehat, yang sakit, yang populer, dan yang penyendiri. Semua berhak mendapat kebahagiaaan.” Aku tersenyum dan mengelus bandul H tersebut.

“Termasuk kita. Aku dan kamu berhak mendapatkan kebahagiaan. Tapi, mitos kalung ini salah. Aku tidak bisa bahagia bersamamu selamanya. Aku dan kamu hanya bisa bahagia secara bersamaan. Kamu di sana, dan aku di sini. Selamat berbahagia.” Aku tersenyum dan berjalan menjauh. Aku berjalan ke arah mobilku diparkirkan. Di sana, seorang wanita sedang menunggu sambil menggendong anak berusia 1 tahun.

“Nah, itu Appa datang. Annyeong, Appa! Sekarang kita mau kemana?” ucap wanita itu sambil memain-mainkan tangan bayi umur 1 tahun itu.

Aku tersenyum.

“Lee Minhyo, kamu mau makan atau main?” tanyaku sambil mendekatkan wajahku pada anak itu. Anakku. Dari hasil perkawinanku bersama seorang gadis bernama Shin Min Gi.

Tiba-tiba, sebuah daun kering jatuh di atas kepala anakku. Minhyo kecil. Aku mengambil daun berwarna kuning kecokelatan tersebut. Min Gi mendongak. Daun-daun mulai berguguran.

“Sudah mulai musim gugur ya..” lirihnya. Aku mendongak.

“Yah..”desahku.

“Kalau gitu, kita ke taman kota yuk! Di sana jalan setapaknya pasti sudah dipenuhi daun musim gugur!” seru Min Gi. Aku mengangguk. Kami memasuki mobil dan pergi ke taman kota. Sampai di sana, kami bertiga menelusuri jalan setapak yang sudah dipenuhi daun kering. Daun-daun yang lain masih terus berguguran.

Aku menikmati suasana ini. Banyak daun musim gugur. Rasanya seperti…orang itu hadir kembali di sini.

“Lihat, yeobo! Ada satu daun yang masih tersisa di pohon itu!” Min Gi menunjuk ke salah satu pohon yang sudah gundul. Hanya ada satu daun yang tersisa di puncaknya. Aku tersenyum.

“Daunnya tegar sekali ya. Minhyo, nanti kalau kamu sudah besar, kamu harus tegar seperti daun itu ya? Jangan goyah hanya karena sedikit tiupan angin!” Min Gi berkata pada anak kami. Minhyo kecil tertawa melihat wajah ibunya yang lucu. Aku tersenyum sambil memandangi daun itu.

Dasar keras kepala! Sudah tahu kena penyakit, sudah tahu menderita, masih saja tersenyum dengan cerahnya! Dasar kurang ajar! Karena senyum cerahmu itu malah membuatku mencintaimu selamanya! Sialan! Padahal aku sudah punya keluarga, tapi aku masih mencintaimu.

Dasar daun musim gugur yang keras kepala…kenapa tidak memperlihatkan bahwa kau sedang bersedih? Kenapa menyembunyikannya sampai akhir khayatmu?

Dasar daun musim gugur yang tegar…

Kau akan selalu tegar, Minhyo. Teruslah tersenyum dengan cerah. Karena ada aku yang mengagumi senyummu.

TAMAT

22 thoughts on “[FF] The Stubborn Autumn Leaf

  1. amitokugawa says:

    aaahhhhh..ini..ini..mengharukan
    banyak dialog dan narasi yang menyentuh di sini, saking banyaknya bingung mau milih yang mana

    tapi yang paling kusuka ya ini:
    Kebahagiaan milik siapa saja. Yang kaya, yang miskin. Yang tua, yang muda. Yang sehat, yang sakit. Yang populer, dan yang penyendiri. Semuanya berhak untuk bahagia.

    donghae pas ngeliat pohon yang daunnya tinggal 1 pasti langsung ingat minhyo deh🙂

    daebak lah pokoknya!!

  2. immacademy says:

    sedih banget…….
    aku nangis nih.
    tanggung jawab.
    .
    bener-bener menyentuh hati. alurnya terasa agak kecepetan. tapi nggak masalah.

    • sungheedaebak says:

      tanggung jawab gimana? -.-a
      well, ini kan one shot, one shot itu cerpen, cerpen itu habis dibaca sekali duduk, dan itu terdiri sekitar 3000 kata, dan cerpen itu alurnya rapat alias cepet. kalau alurnya renggang, baca novel aja😉
      gomawo udah baca dan komen yaaa :*

  3. hellomingi says:

    Aduh unnie ini bagus banget! Neomu neomu johaaaa!! DAEBAK!
    Ttp ditunggu karya selanjutnya. Ini nyentuh asli ^^
    Ahhh saranghae~

  4. hyohae says:

    kang minhyo sakit jantung kisah nyata bukan?
    kalo denger tntng penyakit jantung, inget kecengan deh. sedih bacanya, soalnya aku ngalamin yg kaya donghae oppa alamin di ff ini, cuma yang sakitnya ga meninggal :))
    keren saeng :-bd

  5. sophiemorore says:

    aku perhatiin kau itu sama denganku ya say,
    bikn ff cast donghae ga jauh2 dari galau sedih dan angst
    muka dia mendukung banget sihhh
    hahahahaha

    aku sedih lohh donghae banyak sekali ngalami cobaan akibat kisah cintanya
    mulai dari jaman hyukjae ampeeeee sekarang
    hiks
    ga rela ih dia nikah bukan sama minhyo
    aku padahal udah seneng bgt ada sekuel donghae

    tapi knapa harus melalui angst
    kenapa? kenapa?

    ini menyedihkan sekali
    nyesek juga baca pas appa nya meninggal, keingat jaman meninggalnya appa donghae
    huhuhu

    • sungheedaebak says:

      dan aku perhatiin, kebanyakan ff donghae itu angst lho
      dia punya daya tarik angst.
      bener kata minhyo dan kata shindong, matanya Hae selalu memancarkan kesedihan.
      hiks..

      dia itu..wajahnya mendukung banget buat angst!

      iya..bikinnya juga sambil ngebayangin jaman itu…

  6. vidiaf says:

    nangis sejadi-jadinya baca ni ff.
    sumpah nyesek banget :(((
    belum lagi diksinya huaaaaaa T.T
    apalagi pas bagian donghae baca novel minhyo…. /nangis lagi
    alur, diksi, sama idenya bener-bener daebak pangkat seratus :’) :bd

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s