[FF] I Am a Girl?! Part 5 (END)

Summary: Ketika tubuh Hyukjae semakin lemah, harapan baru kembali muncul. Ia diberi satu kesempatan lagi oleh Ryo. Bersama orang yang dicintainya, ia menghabiskan waktu terakhirnya di dunia. Kira-kira, dengan siapa?

= = =

Sampai di pantai, Donghae menuntun tanganku menyusuri pantai. Tubuhku semakin melemah. Aku nyaris tidak bisa berjalan. Untung ada Donghae. Kalau tidak, mungkin aku sudah terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi.

“Sunghee-nya mana sih?” Donghae menoleh ke kanan dan ke kiri. Aku berusaha mengatur napasku yang tersengal. Langkahku semakin berat. Sekitarku rasanya berputar.

“Hyukjae?” Donghae menoleh, tapi pandanganku keburu gelap.

= = =

Saat aku membuka mata, hal yang paling ingin kutemukan ada di hadapanku.

“Hyukjae, kau sudah sadar?” Suara itu. Suaraku sendiri.

Bukan, itu suara Sunghee.

Aku mengerjap kaget melihat Sunghee melayang di hadapanku. Apa aku berhalusinasi? Ryo bilang kalau sakitnya makin parah bisa disertai halusinasi. Gawat, bahkan aku mulai berhalusinasi tentang Sunghee.

“Hyukjae! Ini aku Sunghee!”

Bagus. Bahkan halusinasinya bisa bicara..

“Ini beneran aku! Kok kamu bengong gitu sih? Gak suka ya ketemu lagi sama aku? Ya udah aku pergi deh.”

Aku membelalakkan mata melihat dia hendak pergi.

“Andwae! Jangan pergi lagi!” Aku menyentuh tangannya, tapi tanganku menggenggam udara. Sunghee menoleh dan terkekeh. Aku tertegun. Bahkan senyumnya saat menjadi arwah manis sekali.

“Aku kasihan melihatmu menderita begitu. Makanya aku datang. Ckckck, kau memang tidak bisa hidup tanpaku.” Sunghee melipat tangannya di depan dada. Tatapannya terlihat mengejek. Aku mencoba duduk, kepalaku masih terasa pusing, tapi tidak seperti tadi.

“Kamu kemana saja?” tanyaku.

“Mencari cinta sejatiku.” Sunghee mengangkat bahu.

“Ketemu?”

“Mungkin.” Sunghee tersenyum misterius.

“Kenapa mungkin?”

“Aku yakin dia cinta sejatiku, tapi kita tidak tahu kenyataannya, bukan?”

Aku terdiam menatap gadis ini. Pandangannya terlihat menerawang ke tempat yang jauh. Ke lautan yang terbentang di depan sana. Ah, benar. Lautan. Kami sedang berada di pantai. Jadi..tadi aku pingsan ya? Lalu kemana Donghae dan Ryo?

“Sudah sadar?” Kehadiran Donghae di sini menjawab pertanyaanku. Dia kembali bersama Ryo. Di tangan Donghae terdapat sebuah gelas minuman. Ia memberikan gelas itu padaku. Aku meneguk air putih itu dengan rakus. Tenggorokanku berasa seperti pasir.

“Sungguh cara minum yang tidak anggun,” komentar Sunghee.

“Persetan dengan anggun. Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang? Membantu Sunghee, kan?” Aku menatap Ryo. Anak itu mengangguk.

“Baiklah. Jadi, kira-kira siapa cinta sejatimu? Ada beberapa opsi kurasa..” Aku duduk bersila di pasir. Donghae duduk di hadapanku. Ryo dan Sunghee ikut duduk.

“Siapa aja?” Sunghee mengerutkan kening.

“Er..Ryeowook?” tebakku.

“Kenapa?” Kening Sunghee makin berkerut.

“Karena dia orangnya pintar, berasal dari keluarga kaya juga, jadi kurasa dia tidak akan melihat siapa kamu. Dia pasti mencintaimu apa adanya. Ya kan?” Aku menulis nama Ryeowook di pasir dengan jariku.

Sunghee menggeleng. “Ryeowook hanya teman dekatku kok. Meskipun pintar, dia sulit bergaul. Makanya dia meminta bantuanku. Katanya karena aku populer, dia pasti bisa punya teman banyak juga.”

“Berarti Ryeowook coret.” Aku mencoret nama Ryeowook yang tertulis di pasir.

“Kedua…Kim Jongwoon?”

“Yesung?” Kini Donghae yang mengerutkan kening. Ryo memandangi kami bertiga dengan heran.

“Aduh, Hyukie, dia itu kan abnormal! Maksudku, dia bukan tipe cowok yang mau memacari cewek sepertiku. Tipenya..agak kolot.”

“Oke Yesung coret.” Aku mencoret nama Yesung. “Cho Kyuhyun?”

“Dia cuma teman belajar. Dulu dia pernah pacaran denganku tapi hanya 3 minggu. Kami sama-sama bosenan dan dia membosankan. Pacar pertamanya adalah game, dan aku nomor 2.”

“Kibum?”

“Tidak berbeda jauh dengan Kyuhyun. Lagipula, dia sering bepergian keluar negeri. Aku tidak bisa menjalani LDR karena kau tahu sendiri alasannya.”

“Minho?”

“Terlalu muda.”

“Heechul?”

“Kau bercanda?”

“Shindong?”

“YAH!”

“Hm…Choi Siwon?”

Semuanya terdiam. Aku memandangi mereka bertiga bergantian. Lalu, aku menulis nama Choi Siwon di pasir. Senyumku merekah.

“Lihat, Choi Siwon ini anak pemilik department store terbesar di Korea. Dia juga pintar, ganteng, populer. Dia tidak akan mengincar hartamu dan kepintaranmu. Dia pasti mencintaimu apa adanya. Ya kan?” Aku tersenyum lebar. Sunghee terdiam, seperti sedang berpikir. Donghae mengelus dagunya dengan tangan. Ryo menguap lebar.

“Dia memang baik sih..tapi..” ucapan Sunghee menggantung.

“Kenapa? Kamu juga suka dia, kan?” Entah kenapa, saat mengucapkannya dadaku terasa sesak.

“Iya sih..tapi hanya sebatas suka. Dia tidak membuatku berdebar kencang dan membuatku merasa kehilangan jika dia tidak ada.”

“Jadi siapa? Rasanya semua cowok sudah disebutkan satu-satu..”

“Lee Donghae?” Kini Ryo buka suara.

“Hah?” Aku dan Donghae menatap Ryo. Ryo mengangkat bahu.

“Aku hanya menyebutkan nama cowok yang belum kesebut kok.”

“Lee Hyukjae juga belum kesebut,” kata Donghae.

“Hah? Aku? Mana mungkin. Hahaha..ada-ada saja..” Deg deg deg deg…apa-apaan ini? Jantung Sunghee berdetak kencang. Atas suruhanku. Apa mungkin aku jatuh cinta dengan pemilik tubuh ini? Tidak mungkin.

“Haha..ha..” Aku melihat 1 orang dan 2 arwah di hadapanku. Kenapa mereka diam? Sunghee memalingkan wajahnya ke arah laut, Donghae dan Ryo menatapku tajam. Aku menelan ludah dengan susah payah.

“Mari kita analisis. Hyukie, kau meninggal dunia, meminjam tubuh Sunghee dan SEHARUSNYA menyelesaikan masalahmu di dunia. Tapi, kau malah PERGI dan memutuskan untuk MENYELESAIKAN MASALAH Sunghee. Kalau kau tidak MENCINTAINYA, mana mungkin kau mau merelakan kesempatanmu untuk dipakai Sunghee? Hm?” Donghae memberiku tatapan menyelidik.

“Eh..tapi..”

“Menurut hasil pengamatanku, kamu lari-lari sambil nangis waktu mencari Sunghee kemarin. Kamu berteriak-teriak memanggil nama Sunghee sampai orang-orang menganggapmu aneh. Tapi kamu melakukannya demi Sunghee. Bisa mendefinisikan itu sebagai apa? Cinta, bukan?” Ryo buka suara.

“Tunggu dulu itu..”

“Ah, ini dia yang paling penting! Kamu sudah memahami Sunghee luar dalam. Dan kamu masih mencintainya. Bukankah itu artinya kamu mencintai Sunghee apa adanya?” cecar Donghae.

“Sebentar! Itu kan…”

“Sudah…ngaku sajalah Hyukjae. Tadi waktu kamu sadar juga kamu bilang ‘Andwae, jangan pergi lagi!’ pada Sunghee. Itu berarti kamu tidak mau kehilangan dia kan?” Ryo mengangkat sebelah alis.

Aku menelan ludahku. “Baiklah, baiklah! Sunghee, saranghae,” ucapku malu-malu. Ya ampun ini benar-benar memalukan!

Sunghee tersenyum haru. “Dugaanku benar kan? Kamu cinta sejatiku.”

“Ne?!” Aku menatapnya kaget.

“Hm..waktu aku mencari cinta sejatiku, aku selalu memikirkanmu. Aku selalu mengkhawatirkan keadaanmu. Aku selalu ingin tahu kamu sedang apa. Berpisah denganmu rasanya sangat menyiksa. Dan aku juga bohong waktu bilang kamu dan Hyoyeon cocok. Maaf, tapi aku berpikir…seharusnya aku yang ada di sampingmu. Maaf..”

“Gwaenchana, Sunghee.” Aku tersenyum.

“Baiklah! Ini benar-benar menyenangkan! Aku akan beri kalian satu kesempatan untuk berkencan selama satu hari sebagai sepasang kekasih. Bagaimana?” Ryo bertepuk tangan.

“Hah?! Cuma satu hari?!” seruku.

“Ya sudah, 12 jam.”

“Andwae!”

“Oke, 9 jam.”

“Baiklah, baiklah! Jangan dikurangi lagi!”

“Oke, 9 jam. Kalian diberi waktu sampai matahari terbenam nanti sore. Bagaimana?”

“Oke.” Aku dan Sunghee mengangguk.

“Tapi, Ryo, bagaimana denganku? Masa aku masih menjadi arwah sih?” tanya Sunghee.

“Tenang saja. Kamu akan mendapatkan tubuhmu kembali.”

“Tapi, Hyukjae?”

“Pakai tubuhku saja,” tawar Donghae.

“Eh? Serius nih?”

“Iya. Cuma 9 jam kok. Demi kalian juga. Asal jangan lecet sedikitpun ya?” Donghae tersenyum.

“Gomawo!” Aku menghambur ke pelukannya. Donghae tertawa. Ia menepuk kepalaku lembut.

“Oke, kalian bertiga ayo bentuk segitiga,” perintah Ryo. Kami segera menuruti perintahnya. Ryo memejamkan matanya dan membukanya kembali. Ia menjentikkan jarinya. Pasir di sekeliling kami mengelilingi kami. Mengaburkan pandangan kami. Kembali Ryo jentikkan jarinya. Pasir terjatuh.

“A.” Aku membelalakkan mata. Ini suara Donghae!

“Hyukie!” Suara Sunghee memanggilku. Aku menoleh. Dia benar-benar Sunghee. Sunghee yang manusia. Yang tidak melayang dan transparan.

“Sunghee!” Aku memeluknya erat. Dia membalas pelukanku. Sama eratnya.

“Sudah sana cepat bersenang-senang. Waktu kalian hanya 9 jam lho.” Donghae memperingatkan. Dia sekarang menjadi arwah untuk sementara.

“Oke! Gomawoyo, Hae, Ryo!” Aku menarik tangan Sunghee dan membawanya pergi. Kami berlari menyusuri pantai sambil sesekali bermain air.

“Sunghee, kamu mau pergi kemana?”

“Ke taman ria.” Saat mengucapkannya, bisa kulihat wajahnya bersemu merah.

“Oke! Let’s go!” Aku menuntun tangannya. Sunghee tertawa. Rasanya bahagia sekali. Belum pernah aku merasakan kebahagiaan seperti ini.

Aku menariknya, nyaris menyeretnya masuk ke taman ria ini. Setelah masuk, Sunghee yang gantian menyeretku. Ia membawaku menaiki wahana roller coaster, pontang-panting, kora-kora, tornado, giant swing, dan permainan mengerikan lainnya. Baiklah, ini membuatku mual.

Aku turun dari wahana giant swing dan melangkah dengan sempoyongan. Sunghee tertawa di sebelahku.

“Gwaenchana?” tanyanya di sela tawanya.

“Ye, gwaenchana..”

“Ayo bangun! Kita beli permen kapas sama susu stroberi dulu.” Sunghee menarik tanganku dan membantuku berdiri. Aku menatapnya dalam. Permen kapas dan susu stroberi kan kesukaanku.

“Kamu suka permen kapas?”

“Suka.” Sunghee tersenyum dan menggenggam tanganku. Ia menarikku ke kedai yang menjual permen kapas. Aku merogoh sakuku dan bersyukur ada uang di sana. Aku membeli satu permen kapas ukuran besar dan memakannya berdua bersama Sunghee.

“Hm…enak!”

“Bukannya kamu nggak suka yang manis-manis?” tanyaku.

“Suka kok. Kata siapa?”

“Kata Eun Neul. Makanya waktu aku beli makanan manis-manis, dia curiga.”

“Nggak kok. Aku nggak benci makanan manis. Aku suka kok.” Sunghee mencubit secuil permen kapas dan memakannya. Aku terus memperhatikannya hingga dia merasa risih. Aku tersenyum dan mengacak rambutnya.

“Jangan rusak rambutku. Aku kan cewek kesepuluh tercantik di sekolah.” Dia menjulurkan lidahnya yang merah bekas makan permen.

“Cih.” Aku mencibir.

“Eh salah ya. Hyoyeon lebih cantik dariku kan?” Aku terdiam.

“Bukan. Bagiku, kamu nomor satu paling cantik,” ucapku akhirnya.

“Hah? Eh tunggu sebentar! Hubunganmu dengan Hyo bagaimana? Kenapa kamu malah berkencan denganku di sini? Aku baru ingat!”

“Aku sama Hyo sudah putus kok. Kan aku sukanya sama kamu.”

“YAH! Kalau gitu sia-sia dong kamu meminjam tubuhku!”

“Nggak juga. Kalau aku nggak meminjam tubuhmu, aku tidak akan menemukan cinta sejatiku, kan?” Aku mengedipkan sebelah mata. Sunghee menonjok lenganku perlahan. Aku mengacak rambutnya lagi. Kali ini, ia tidak berkomentar. Rambutnya ia biarkan acak-acakan. Malah aku yang merapikannya kembali.

3 jam sudah berlalu. Sisa 6 jam lagi.

Aku dan Sunghee memutuskan untuk pergi berbelanja. Oke, window shopping. Kami pergi ke pusat pertokoan yang murah. Di sana kami hanya membeli sedikit barang, dan melihat-lihat banyak barang.

2 jam berlalu. Sisa 4 jam lagi…

Aku mengajak Sunghee makan di restauran sushi. Dia pecinta sushi. Aku sendiri alergi seafood, tapi hey, ini tubuh Donghae. Dan dia pecinta seafood. Kurasa aku bisa makan seafood sekarang.

Dia memesan sushi yang berisi ikan salmon, sedangkan aku udang. Kami saling mencicipi makanan satu sama lain. Kata Sunghee, ini cara hemat untuk mencoba menu-menu yang ada. Makanya kalau datang ke restauran dengan orang lain harus pesan makanan yang berbeda-beda. Biar bisa saling icip.

1 jam berlalu. 3 jam lagi..

Kami pergi ke karaoke dan menyanyikan banyak lagu. Sangat menyenangkan.

2 jam lagi..

Sunghee mengajakku berfoto bersama. Tentu saja aku terima tawarannya. Kami berfoto ala sepasang kekasih. Fotografer bilang kami pasangan yang cocok.

1 jam lagi..

Haisl foto sudah selesai. Aku agak sedikit kecewa karena yang tertangkap oleh kamera adalah tubuh seorang Lee Donghae, bukan aku. Meskipun di dalam tubuh itu ada aku, tapi tetap saja rasanya cemburu melihat Sunghee berdekatan dengan tubuh orang lain.

10 menit lagi…

Kami berdiri di pinggir pantai. Matahari sudah mulai terbenam. Di menit-menit terakhir kebersamaan kami di dunia ini, aku ingin menyatakannya.

“Sunghee, aku mencintaimu.”

“Ya, aku tahu. Aku juga mencintaimu.”

“Setelah ini..apakah kita bisa bersama lagi?”

“Entahlah..”

“Kalau misalkan kita harus berpisah di suatu hari nanti, tolong jangan lupakan aku ya?”

“Mana mungkin aku bisa melupakan laki-laki yadong yang merebut tubuhku,” Sunghee tersenyum setengah.

“Agak gak enak ya ngedengernya tapi ya..sudahlah..”

“Hahahaha! Tapi emang kenyataannya gitu kan??”

“Iya sih..”

Kami terdiam agak lama. Aku melirik jam tangan Donghae. Sebentar lagi kami harus berpisah dari tubuh ini.

Aku memakai kalung yang kubeli dari hasil jerih payahku sendiri. Aku akan memberikannya pada Donghae. Percuma saja kuberikan pada Sunghee, toh dia tidak bisa memakainya lagi.

Aku menggenggam tangan Sunghee erat.

“Aku akan tetap mencintaimu selamanya.”

“Ya, aku juga.”

Aku mengeratkan genggaman. Matahari pun tenggelam sempurna. Waktu kami sudah habis. Pasir mengelilingi kami. Tiba-tiba aku merasa tubuhku sangat ringan. Aku melayang. Jauh.

= = =

Donghae berjalan menelusuri koridor sekolah. Langkah-langkahnya terdengar mantap. Dia tidak terlihat sedih, meskipun baru saja kehilangan orang-orang yang dicintainya. Donghae meraih lehernya. Akhir-akhir ini lehernya terasa gatal. Ia menggaruk lehernya lagi, entah yang keberapa kali. Donghae tertegun ketika tangannya menyentuh sesuatu. Ia menarik benda tersebut. Ternyata sebuah kalung berbandul H.

Donghae tertegun. Ia merogoh saku celananya. Ia menemukan secarik kertas di sana. Tulisan tangan Hyukjae.

This H stands for Happiness. Berikan kalung ini pada orang yang kamu cintai, niscaya kamu akan bahagia dengannya.

Donghae tersenyum. Ia memasukkan kertas itu kembali ke sakunya. Pandangannya menabrak sesuatu. Choi Siwon sedang berjalan dengan kebingungan ke sana ke mari. Donghae berinisiatif untuk menghampirinya.

“Kamu lihat Sunghee?” tanya Siwon. Donghae melirik tangan cowok itu. Ada setangkai mawar merah di sana.

“Sini, biar kuberikan padanya.” Donghae merebut mawar itu tanpa persetujuan Siwon dan melangkah ke dalam studio dance. Siwon terpaku di tempatnya.

“Hei itu..”

Donghae pura-pura tidak mendengar. Ia terus berjalan ke arah seorang gadis yang sedang sibuk latihan. Gadis itu menghentikan tariannya ketika melihat Donghae menghampirinya sambil membawa setangkai bunga mawar.

“Donghae-ssi..” gadis itu tidak bisa berkata-kata. Donghae tersenyum.

“Dari Siwon. Dah, Hyoyeon.” Donghae memberikan bunga itu sekenanya dan berjalan pergi. Hyoyeon tertegun dengan bunga di tangannya. Di luar, Siwon menatap ke arahnya. Wajahnya memerah.

“Bukan maksudku..” ucapan Siwon terpotong.

“Terima kasih.” Hyoyeon tersenyum manis. Siwon tertegun sejenak dan membalas senyumannya.

Donghae kembali berjalan. Ia pergi ke atap sekolah, tempat ia bisa bersantai dengan tenang.

Donghae rebahan di lantai. Tangannya dilipat di belakang kepala.

“Aku akan mencintaimu sampai maut memisahkan.. ada kata-kata seperti itu.” Donghae menghela napas.

“Tapi kalau kasusnya untuk kalian, apa yang bisa memisahkan kalian, Hyukjae, Sunghee?” Donghae terdiam lama.

“Kurasa tidak ada. Bahkan maut pun tidak memisahkan kalian.” Donghae bangkit berdiri dan berjalan ke depan. Ia tersenyum menikmati belaian angin di rambutnya.

“H stands for Hyukjae, Hee, and Happiness. Kalian berdua membuatku iri.”

THE END

29 thoughts on “[FF] I Am a Girl?! Part 5 (END)

  1. amitokugawa says:

    and Hae?
    aww..endingnya bagus banget nis, bagussss banget..mengharukan, adegan mereka ngedate itu juga gimana gitu, asik dibayangin, tapi bikin nyesek juga, apalagi bagian mereka foto bareng…

    ryo ga asik banget pas adegan ini, ryo pelit ah:
    “Hah?! Cuma satu hari?!” seruku.
    “Ya sudah, 12 jam.”
    “Andwae!”
    “Oke, 9 jam.”
    “Baiklah, baiklah! Jangan dikurangi lagi!”

    hae kira2 mau ngasih kalungnya ke siapa ya? ehmm….

  2. hellomingi says:

    Waahhh udah nunggu ini lama bgt akhrnya muncul !!
    DAEBAK unnie itu ending nya keren tapi kenapa ya Donghae kok gak punya pasangan? Kasian amat :l

  3. kisaeternal says:

    nyahaha selesai juga bacanya😀
    sukasuka.. suka eunhyuk nya ><
    disini dia terlihat bodoh xD
    annyeong sungheedaebak ^^

  4. vidiaf says:

    endingnya aaaaaaa ga ketebak ;____;
    dan hasilnya terharu!! ;______;
    apalagi pas bagian nge-date itu.. bener-bener…. nyesek… aaa speechless!
    suka banget endingnya XDD :33

  5. Lee seung-jae says:

    Oppa..?!?
    Seung-jae udah baca ceritanya aku mau nangis…
    Tapi kata Dokter semenjak Eomma n Appa ku meninggal aku menangis selama 3hari tampa henti…
    Dan itu membuat ku tidak bisa menangis lagi……

  6. tianti_ says:

    Baru nemu ni ff,lsg tancap part 1 mpe 5.
    Wuaah,,idenya kuereen pake bangget!!
    Pas baca komen- komennya,cuma bisa ngangguk – ngangguk,,senyum2,dan tau tau ketawa sndri,,hahaha..
    Daebak nih ceritanya.. ada humornya,ada romannya,ada friendshipnya,ada quotesnya juga..bahasanya juga nyaman bgt,,enak bgt buat dibaca…
    Hahaha,,krna bacanya dirapel,udah gitu kok kayaknya comentsnya hampir sama yak ama pikiranku..jadinya,,aku angkat jempol aja deh buat Annisa…🙂
    Mo lanjut ff yg laen dehh…
    Love your ff,,keep writing yaaa,,, Himnae!! :^)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s