[FF] The Wings that You Gave to Me

Cast: Donghae, Shin Min Gi

= = =

Something took my wings

I cannot fly anymore

I’m waiting for someone who can give me the wings

A pair of new wings, that’s no problem

I need wings, to fly with someone I love

= = =

Sore itu, langit tampak cerah. Hari ini tidak ada hujan sama sekali. Tumben, padahal kemarin hujan deras sekali. Tapi, cuaca ini sangat menguntungkan bagi Lee Donghae. Ia bisa menerbangkan pesawatnya hari ini. Pesawat yang akan diterbangkannya adalah pesawat model Double Eagle Airplane, bukan pesawat besar yang dipakai bepergian ke tempat yang sangat jauh. Donghae hanya menekuni hobinya saja. Ia suka terbang. Karena ia tidak punya sayap, maka ia terbang dengan memakai perantara pesawat.

“Terbang lagi?” tanya Shin Min Gi, kekasihnya yang sedari tadi setia menemaninya mengutak-atik pesawat.

“Hm,” gumam Donghae senang. “Hari ini cerah, mau terbang bersamaku?”

“Kau tahu aku takut ketinggian,” Min Gi merengut. Donghae terkekeh dan mencubit pipi gadisnya pelan.

“Kalau begitu tidak seharusnya kau berpacaran denganku. Karena aku suka membawa gadisku pergi ke tempat yang tinggi, tinggi dan tinggiiiii sekali.” Donghae tersenyum. Min Gi makin cemberut.

“Arasseo, pacari saja gadis lain. Yang tidak takut ketinggian.” Min Gi berbalik, namun Donghae menahannya. Cowok itu terkekeh.

“Mianhae. Kalau begitu, mau tunggu aku?”

“Bukannya dari tadi sudah menunggu?” balas Min Gi kesal.

“Ah, benar. Maaf ya?”

“Hm. Biasanya juga begini, kan? Kalau ada pesawat, aku pasti dilupakan.”

“Aniyo.” Donghae menyentuh kedua pipi Min Gi. Ia menatap mata gadisnya. “Makanya, ayo terbang bersamaku.”

“Ah, lagi-lagi itu.” Min Gi melepaskan tangan Donghae. Donghae tertawa. Ia lalu mengangguk paham.

“Oke, lihat aku ya.” Donghae pun naik ke pesawat. Bersama seorang temannya, Kim Kibum, ia menerbangkan pesawat itu ke udara. Min Gi memperhatikan pesawat berwarna merah itu lepas landas. Min Gi tersenyum.

“LEE DONGHAE OPPA SARANGHAE!!” seru Min Gi. Ia tahu Donghae tak akan bisa mendengarnya. Tapi, ia masih suka berteriak seperti itu jika Donghae sedang menerbangkan pesawatnya. Min Gi tertawa. Ia merasa setiap masalah terangkat seiring dengan kata-kata cinta untuk Donghae keluar dari mulutnya. Ia merasa bebannya berkurang karena mengatakannya. Ia terlalu malu untuk mengatakannya ke orangnya langsung, makanya ia berteriak di sini, saat Donghae tak bisa mendengarnya.

Setelah selesai menerbangkan pesawatnya, Donghae mengajak Min Gi untuk makan malam di restauran seafood. Donghae memang sangat menyukai seafood, dia juga suka laut.

“Kalau kamu suka laut, kenapa nggak coba selancar aja? Kan lebih dekat dengan laut?” tanya Min Gi. Sebenarnya ia sudah lama memikirkan hal ini, tapi baru tersuarakan sekarang.

“Kenapa ya? Karena aku ingin melihat laut dari atas, mungkin?” Donghae memperlihatkan tatapan menerawangnya. Tangannya sibuk mencocolkan ebi furai-nya ke mayonnaise.

“Pemandangan laut dilihat dari atas itu pemandangan paling indah yang pernah ada! Permukaan laut terbiaskan oleh cahaya matahari, jadi seperti ada bintang-bintang kecil di permukaannya. Seperti melihat bintang di siang hari. Kurasa lagu “bintang kecil di langit yang biru” mengarah pada pemandangan laut,” jelas Donghae.

“Langit yang biru itu maksudnya laut ya?”

“Iya. Lagipula kalau malam kan langit hitam, bukan biru. Lagunya ada-ada saja.” Donghae terkekeh. Min Gi ikut tertawa.

“Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana perlombaan baletmu nanti? Kau sudah siap?”

“Hm, lumayan. Masih ada beberapa gerakan yang sulit, tapi aku pasti bisa. Waktunya seminggu lagi, fiuh…tak terasa ya. Aku tegang sekali.”

Donghae menggenggam tangan Min Gi. “Tenang saja, kalau kamu, aku yakin pasti bisa. Fighting!”

“Gomawo! Tapi…hey..tanganmu kan kotor bekas pegang ebi! Duh tanganku ikut kotor juga kan?”

“AH! Maaf ya aku lupa! Hahahaha..” Donghae tertawa lepas. “Gampang, nanti aku cuciin tanganmu deh.”

“Dasar..” dengusku pelan.

Donghae mengantarkan Min Gi pulang dengan selamat. Min Gi langsung masuk ke kamarnya dan bergegas mandi. Ia lalu menatap kalender. Seminggu lagi acara perlombaannya, sekaligus hari ulang tahunnya. Donghae ingat tentang lomba itu, tapi sepertinya ia melupakan ulang tahun Min Gi.

Min Gi lagi-lagi mengerucutkan bibirnya.

“Apa perlu aku menandai kalendernya ya? Cih, kecintaannya pada pesawat sudah berlebihan.”

Min Gi merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk. Ia menatap langit-langit yang digantungi miniatur pesawat. Sebenarnya ini bukan suruhan Donghae, Min Gi saja yang ingin menggantungnya. Sebenarnya miniatur pesawat itu ada dua, tapi satu diberikan pada Donghae. Min Gi sengaja menggantungnya di atas tempat tidur, agar ketika bangun di pagi hari, ia langsung teringat pada Donghae.

Tapi juga pada kecelakaan itu.

Dulu, Min Gi suka naik pesawat. Ia sering bepergian naik pesawat bersama keluarganya. Tapi, suatu hari, pesawat yang ditumpangi Min Gi dan sekeluarga kecelakaan. Min Gi dan ibunya selamat, sedangkan ayah dan adiknya tewas di tempat. Min Gi memang selamat, tapi salah satu kakinya cedera. Sampai sekarang kaki kirinya masih kaku jika digerakkan. Ia terpaksa menggunakan sendi buatan.

Min Gi sangat mencintai balet. Dulu, ia adalah seorang ballerina handal. Badannya lentur sekali. Tapi, karena kecelakaan itu, kaki kirinya jadi kaku. Untuk menghafal gerakan pun jadi sulit karena kakinya yang kurang bisa diajak kompromi. Min Gi sempat nyaris putus asa dan memutuskan untuk berhenti menari.

Untuk apa? Toh aku sudah tidak punya sayap yang membantuku. Sudah tidak ada lagi..

Tapi, justru Donghae muncul di kehidupannya. Dia bilang dia sudah lama memperhatikan Min Gi.

“Kau tampak seperti bidadari bersayap saat berada di atas panggung.”

Itulah kata-kata Donghae waktu pertama kali bertemu dengan Min Gi. Donghae mengucapkannya dengan tersenyum polos dan tulus. Min Gi langsung menyukainya dan langsung bersemangat untuk menari lagi.

Donghae adalah sayap barunya. Ia adalah sayap yang membantu Min Gi. Kenapa Min Gi masih bisa menjadi ballerina dengan kaki yang kaku, tentu saja karena Donghae. Karena dia punya sayap. Sayap yang diberikan oleh Donghae.

Min Gi tersenyum. Donghae-lah yang menyembuhkan traumanya pada pesawat terbang. Awalnya Min Gi memang ragu untuk memilih Donghae menjadi pasangannya. Tapi, cinta memang buta, tidak pilih-pilih. Min Gi jatuh cinta pada seorang Lee Donghae. Dan ia tidak bisa berpisah dari Donghae. Lelaki itu sangat baik. Ia menolong Min Gi menghadapi ketakutannya. Tapi, masih ada satu ketakutan Min Gi: ketinggian. Donghae tidak habis pikir bagaimana caranya untuk menghilangkan ketakutan yang itu.

Min Gi melirik jam dinding di kamarnya. Sudah larut malam, ia memutuskan untuk tidur.

= = =

Seminggu kemudian, Min Gi sudah bersiap tampil. Ia sudah memakai kostumnya dan wajahnya sudah didandani. Donghae berjanji akan memberinya semangat sebelum tampil, tapi orangnya belum kelihatan juga. Hanya ada pesan masuk berisi kata-kata penyemangat. Min Gi mendengus. Bahkan Donghae masih lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.

Min Gi memijat kaki kirinya. Ia berdo’a semoga kakinya bisa diajak kompromi. Semoga, semoga, dan semoga.

Waktu tampil pun tiba. Min Gi berdiri di tengah-tengah panggung. Musik belum dimulai, ini memberinya kesempatan untuk meneliti penontonnya. Donghae belum terlihat. Min Gi menghela napas.

Musik mulai bermain. Min Gi mulai menggerakkan tubuhnya mengikuti irama. Ia merasa ringan. Kaki kirinya bisa diajak kompromi. Senyum Min Gi mengembang. Ia ingin sekali tersenyum pada Donghae, tapi cowok itu belum kelihatan juga.

Tiba-tiba, hal yang tak diinginkan terjadi. Kaki kiri Min Gi tiba-tiba kram. Penyakit lama. Min Gi menggigit bibir bawahnya. Kenapa harus waktu berputar sih?! Min Gi membatin. Kontan saja, ia kehilangan keseimbangan.

Tiba-tiba saja, seseorang menangkap tubuhnya yang limbung. Min Gi terkejut. Ia ingin melihat siapa yang menolongnya, namun orang itu memutar tubuh Min Gi kembali, melanjutkan tarian. Min Gi berputar, ia menatap wajah si penolongnya, namun ia mengenakan topeng yang menutupi kening sampai hidung. Meskipun begitu, Min Gi tahu milik siapa mata almond itu. Min Gi ingin sekali bertanya, namun ia sedang berada di atas panggung. Maka, Min Gi tersenyum dan melanjutkan tariannya bersama si penolongnya.

Musik berakhir, semua orang bertepuk tangan dengan meriah. Min Gi tersenyum gembira. Cowok itu menarik Min Gi ke belakang panggung. Di sana ia membuka topengnya.

“Fiuh…tadi itu nyaris sekali loh..” katanya.

“Oppa!” Min Gi menghambur ke pelukan Donghae. “Gomawo…neomu gomawo, Oppa…”

“Cheonmanhaeyo.” Donghae tersenyum.

“Kenapa kau bisa tahu gerakannya? Kenapa bisa menselaraskannya dengan gerakanku?”

“Well, mungkin karena aku yang memberimu sayap?” Donghae mengangkat alis. Min Gi tertawa.

“Pengumuman pemenangnya nanti ya. Kalau begitu, aku pergi dulu ya, Min Gi? Masih ada yang harus kulakukan. Setelah diumumkan siapa pemenangnya datang ke tempat biasa ya? Aku mau menunjukkan sesuatu. Datang lho, awas kalau nggak!” Donghae pun berlari pergi. Min Gi menghela napas.

“Itu saja? Tidak ada ucapan lain?” lirih Min Gi.

= = =

“Dan juara pertama diraih oleh…Shin Min Gi!!” Begitulah suara MC yang mengumumkan pemenang perlombaan tersebut. Min Gi menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia merasa tidak percaya bahwa ia yang akan menjadi pemenangnya.

“Dengan sedikit kejutan kecil di tengah-tengah, Min Gi berhasil membuat kami semua terpukau. Aku bisa lihat tubuhmu sedikit limbung tadi, namun cowok itu cepat menangkapmu. Untung saja ya. Pertunjukkan yang hebat,” puji salah seorang juri.

“Kamsahamnida.” Min Gi membungkuk berterima kasih. Senyum tak pernah hilang dari wajahnya.

Setelah acara selesai, Min Gi cepat-cepat pergi ke tempat biasa, tempat Donghae biasa menerbangkan pesawatnya.

Di sana, dia tidak melihat Donghae. Tempat itu tampak lebih gelap dari biasanya. Min Gi berjalan ke tempat terbuka dekat pintu. Ia menatap sekeliling. Tiba-tiba, sebuah suara kencang mengagetkannya. Ia mendongak ke atas. Sebuah pesawat jet sedang melakukan atraksi. Min Gi terus memperhatikan pesawat tersebut sampai tersadar bahwa asap pesawat tersebut membentuk suatu kalimat.

HBD MIN GI

Min Gi menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia tidak percaya akan diberikan kejutan semeriah ini. Pesawat jet itu pun membentuk simbol hati di udara, membuat setetes air mata mengalir ke pipi Min Gi. Min Gi menangis karena bahagia. Ia terharu.

Pesawat jet itu pun mendarat. Pengemudinya keluar dari pesawat. Min Gi segera berlari ke arahnya. Ia lalu menghambur ke pelukan Donghae, orang yang baru saja memberinya kejutan.

“Selamat ulang tahun! Maaf ya cuma bisa tulis ‘HBD’ habisnya aku baru belajar sih. Hehehe…gimana?” Donghae mengusap kepala Min Gi.

“Joha! Neomu joha! Aku suka!! Oppa, gomawo…gomawo..”

“Ahahaha…kenapa nangis? Terharu ya?” Donghae mengusap air mata Min Gi. Gadis itu mengangguk. Ia lalu terkekeh.

“Terima kasih banyak…” ucap Min Gi di sela tangisnya. “Ini kejutan terindah yang pernah ada!”

“Aku senang kau menyukainya. Sudah lama aku melatih membuat huruf seperti itu. Makanya aku tidak bisa meluangkan waktu banyak untukmu. Maaf ya?”

“Gwaenchana. Terima kasih..”

“Sudahlah. Terima kasih terus.” Donghae mengacak rambut Min Gi.

“Mau terbang?” tanya Donghae. Min Gi mengangguk. Donghae membulatkan matanya.

“Jinja?”

“Ne. Ayo terbang!” seru Min Gi. Donghae tersenyum. Ia menarik tangan Min Gi menghampiri pesawat merahnya. Ia membantu Min Gi naik dan mulai mengendarai pesawat tersebut. Ia terbang membelah sore. Min Gi tidak bisa duduk dengan tenang. Tangannya gemetaran. Ia takut melihat ke bawah.

“Hey, lihatlah. Bintang di langit yang biru!” Donghae menunjuk ke bawah. Min Gi membuka matanya dan pelan-pelan menatap ke bawah. Benar. Sekarang mereka sedang terbang di atas lautan. Bintang-bintang kecil hasil biasan cahaya matahari membuat mata Min Gi berbinar.

“Wuaah…keren! Indah sekali, Oppa…” desah Min Gi kagum.

“Benar, kan? Makanya jangan takut dengan ketinggian. Banyak hal-hal yang tidak bisa kau lihat keindahannya dari darat.”

“Iya..” Min Gi berdecak kagum. Ia mulai menikmati ini. Pemandangan indah di sekelilingnya, di bawahnya. Angin sore hari yang memainkan rambutnya.

“Oh, lihat itu! Sunset!” seru Donghae. Min Gi langsung melihat ke arah Barat. Ia semakin kagum ketika melihat sunset dari ketinggian.

“Menakjubkan..”

“Sangat,” tambah Donghae.

“Oppa, saranghae..” ucap Min Gi pelan. Ia akhirnya bisa mengatakannya juga.

“Apa? Aku tidak dengar?”

“Oppa, saranghae!” kata Min Gi dengan suara yang lebih keras.

“Ulangi!”

“DONGHAE OPPA SARANGHAE!!!” seru Min Gi. Donghae tersenyum.

“SHIN MIN GI NEOMU SARANGHAEYO!!!” Donghae balas berseru. Mereka berdua akhirnya tertawa bersamaan.

Lembayung sore itu menjadi saksi kisah cinta mereka yang bahagia. Oh, bintang di langit biru juga. Dan juga, sang sayap.

= = =

“Kibum-ah.”

“Ya, Donghae?”

“Video rekaman balet Min Gi kamu simpan dimana?”

“Kehapus..”

“YAH! PABO! Aku kan mau mempelajari gerakannya lagi!”

“Mi-mian, aku rekam lagi deh kalau dia ada pentas..”

“Andwae! Biar aku saja! Dasar menyebalkan!”

THE END

21 thoughts on “[FF] The Wings that You Gave to Me

  1. amitokugawa says:

    uwaaahhh..to tuiittt
    bagian ini kayak di ending drama romantis deh
    DONGHAE OPPA SARANGHAE!!!”
    “SHIN MIN GI NEOMU SARANGHAEYO!!!”
    jiah, videonya malah kehapus, hae, bongkar recycle bin-nya dulu deh, siapa tahu ada..hehe

    seru ffnya, bisa jadi naskah film pendek…😀
    kebayang donghae yang mati-matian latihan balet biar bisa menari bareng mingi
    like this!😀

    • sungheedaebak says:

      haha makasih ^^
      biasa, panik. mana kepikiran recycle bin? hahaha

      iya aku juga mikirnya gitu. pasti so sweet banget nget nget kalau dijadiin film pendek. pengen..
      aku pengen cowok kayak gitu!!😄
      gomawo😀

  2. hellomingi says:

    Halo unnie aku baru bisa comment hari ini karena internetnya edan banget kemarin -___-
    Jeongmal Gomawoyo buat FF ini. FFnya bagus banget. Romancenya itu kerennn~
    Tapi kenapa itu videonya ke apus ya? Ah Kibum nih minta dijitakin ._.v

    • sungheedaebak says:

      lah sama. kemarin internet rada-rada minta dihajar. masa lagi donlod, udah nunggu 4 jam, bentar lagi selesai, tiba-tiba mati coba? hilang deh semua. #curcol

      ne, cheonmanhaeyo ^^ gomawoyo~
      entahlah, tanyakan saja pada Kibum *seret Kibum*

  3. sophiemorore says:

    eitdah donge??si ikan ituu? dia belajar balet?

    buakakakakakakakak..ga bs byangn donge rela demi mingi

    tpi konflikny kyk g ad gni ya say?kesannya datar dan manis2 aj gt.
    aq pkir donge bkal jatuh dr pesawat *sindrom kbykn bc ff donge angst*

    eniwei,aq suka endingny,
    cute story

    • sungheedaebak says:

      ini kan ff request untuk ulang tahun, jadi masa saya tega bikin si donghae kenapa-napa -,-
      ada konfliknya, cuma konflik batin. itu loh pas si min gi ngira hae tiis ke dia, hae gak ada waktu buat dia, bla bla bla.
      eniwei, makasih komennya ^^

  4. dhinianggraeni says:

    Euh ..
    Romantis nyo si donghae ini ,
    jadi pengen jadi min gi ,
    suka bgd aku sama alur ceritanya ,
    simple , gq ribet ,

    apalagi cast nya keren bgd ,

    haha , bner juga yah ,
    lagu bintang kecil di langit yg biru maksud nya di laut kali yah ,

    • sungheedaebak says:

      iya. romantisnya keterlaluan -,-
      hehehehe
      makasih ^^

      eh itu hasil pemikiran selama 5 menit. kalau dipikir-pikir kan bintang itu adanya malam dan malam itu gelap, hitam. jadi lagunya merujuk ke laut hahaha *ngaco*

  5. vidiaf says:

    waaaaa so sweet banget ffnyaaaa XDD donghae-ya~~ >/////<
    singkat tapi aaaaa /blush /eh
    tau ga aku kira ini angst loh ._.v /diinjek /dikabar /dibuang ke kawah krakatau
    i like it like it like it!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s