[FF] I Am a Girl?! PART 4

Summary: Sunghee masih menghilang. Keadaan bertambah buruk ketika tubuh Sunghee mulai melemah. Kata Ryo, itu karena kesalahan Hyukjae. Sebenarnya ada apa?

“Perantara?”Aku mengerutkan kening. Donghae tersenyum.

“Aku bisa melihat arwah, tentu aku bisa melihat Sunghee. Dia sempat berbincang padaku. Mau dengar ceritanya?”

Aku terdiam sebentar, berusaha mencerna kata-katanya. Kemudian, aku mengangguk. Donghae tersenyum dan menarik tanganku. Ia menyuruhku duduk di bangku dekat kami. Hyo hanya menatap kami heran.

“Hyo, kau mau mendengar ceritanya juga?” tawar Donghae. Hyo akhirnya mengangguk. Ia duduk di sampingku.

“Jadi, ceritanya..”

FLASHBACK ON

Sunghee melayang ke arah lapangan. Matanya tertuju pada Choi Siwon, kecengannya. Ia berteriak-teriak mendukung Siwon. Namun, ia tak tahu bahwa ada manusia yang mendengar teriakannya yang aduhai sungguh keras.

Donghae menoleh ke pinggir lapangan tempat Sunghee melayang. Ia mengernyit menatap Sunghee. Saking asyiknya menatap pemandangan mengejutkan itu, bola yang melayang ke arahnya mendarat di pelipisnya dengan mulus. Pendaratan sempurna.

Saat istirahat, Sunghee menghampiri Donghae yang sedang asyik makan dengan teman-temannya. Ia melayang di hadapan Donghae –yang sedang mengompres pelipisnya dengan es – tepat di atas piring cowok itu. Donghae terdiam. Ia menghela napas.

“Aku tidak bisa makan ini.” Donghae melemparkan garpunya ke piring.

“Eh, kenapa?” tanya Shindong.

“Ada yang menghalangi.” Donghae menatap mata Sunghee. Sunghee terbelalak kaget. Ia terkejut bahwa Donghae kelihatannya bisa melihatnya. Shindong menengadah. Keningnya berkerut heran.

“Apaan?”

“Ada lalat.” Donghae mengulurkan tangannya ke udara, meraih pundak Sunghee dan pura-pura sedang menepuk lalat. Sunghee menatap Donghae takjub.

Donghae tersenyum lemah.

“Aku mau ke toilet dulu.” Donghae beranjak berdiri dan menatap ke arah Hyukjae yang notabene bertubuh Sunghee sedang ‘bermesraan’ dengan Choi Siwon. Ia menatap Sunghee penuh arti. Ia menyuruh gadis itu untuk mengikutinya. Sunghee yang masih takjub hanya bisa menuruti perintah Donghae.

Donghae ternyata tidak pergi ke toilet. Ia pergi ke atap gedung tempat ia bisa leluasa bicara dengan Sunghee. Well, arwah Sunghee. Donghae duduk melantai. Sunghee melayang di depannya. Donghae menengadah menatap Sunghee. Ia lalu menepuk lantai di sebelahnya, menyuruh Sunghee untuk duduk di sebelahnya. Sunghee menurut.

“Aku tahu arwah juga masih bisa duduk kok.” Donghae tersenyum.

“Kamu…kok..kamu bisa melihatku?” Sunghee terbata.

“Dari kecil juga aku bisa melihat arwah. Tapi ini ada untungnya juga. Aku bisa melihat arwah ayahku setiap hari.” Donghae tersenyum sedih. Sunghee menangkap pandangan sedih dari mata Donghae yang selalu tampak sedih.

“Donghae-ssi..”

“Jadi apa masalahmu? Mungkin aku bisa membantumu.”

“Er…masalahku adalah..aku ingin Hyukjae kembali dengan Hyoyeon. Aku ingin mereka bersatu lagi. Aku tidak mau punya musuh, aku ingin pergi dengan tenang. Dan juga..aku ingin menemukan laki-laki yang benar-benar mencintaiku seutuhnya, tanpa melihat siapa aku.”

“Jadi tubuhmu dipakai Hyukjae?”

“Tepat.” Sunghee takjub dengan kecerdasan Donghae.

“Dan masalah dia?”

“Dia ingin memberikan kalung sebagai hadiah ulang tahun untuk Hyoyeon. Tapi, kalau setelah itu mereka harus terpisah, rasanya aku tidak rela. Mereka pantas bersama.”

Donghae mendengus. Senyuman tipis terbentuk di bibirnya yang pucat.

“Tapi kamu nggak sakit hati melihat mereka bersama?” Pertanyaan Donghae membuat Sunghee terpekur lama.

“Aku udah nggak punya hati. Aku suka melihat mereka,” jawab Sunghee.

“Baiklah. Jadi yang harus aku lakukan adalah meyakinkan Hyoyeon bahwa Sunghee itu Hyukjae dan membantumu menemukan laki-laki yang mencintaimu seutuhnya. Oke itu pekerjaan mudah.” Donghae bangkit berdiri dan berjalan menjauh.

“Donghae!” panggil Sunghee.

“Ne?” jawab Donghae tanpa menoleh.

“Tolong rahasiakan ini. Aku ingin kamu pura-pura tidak bisa melihatku.”

“Oke. Bisa diatur.” Donghae melanjutkan langkahnya dengan santai. Jemarinya membentuk simbol oke.

FLASHBACK OFF

“Baiklah, jadi kamu adalah perantara agar Hyo bisa memercayaiku dan aku bisa menyelesaikan urusan di dunia. Begitu?” ujarku. Donghae mengangguk.

“Jadi selesaikanlah urusanmu, biar aku bisa membantu Sunghee menyelesaikan masalahnya.”

DEG. Entah kenapa aku kurang suka mendengar kalimat itu. Aku ingin membantu Sunghee. Hanya aku yang bisa membantunya. Argh baiklah! Aku tidak mau Sunghee dibantu orang lain! Harus aku yang membantunya!

Tapi, kalau aku menyelesaikan urusanku sekarang, di sini, aku akan pergi. Dan Sunghee akan dibantu Donghae…aku tidak rela!

Aku beranjak berdiri. Hyoyeon menatapku heran.

“Hyo, maafkan aku! Kita…kita sudah berbeda dunia. Kita putus saja ya?” Aku berlari menjauh.

“Ne?! Yah, Hyukjae!” Teriakan Hyoyeon tidak kuhiraukan. Entah apa yang membuatku begini. Kakiku, maksudku kaki Sunghee berlari ke suatu tempat.

Aku tidak tahu kemana. Mulutku, mulut Sunghee juga, memanggil nama Sunghee tanpa kusuruh. Otakku memikirkannya. Sekarang aku menyadarinya. Aku tidak mau kehilangannya!

Padahal baru 3 hari yang lalu aku bertemu dengannya, kemarin aku berada bersamanya seharian, dan sekarang dia menghilang. Tapi aku benar-benar merindukannya. Apa karena ini tubuh Sunghee? Makanya tubuh ini yang membawaku ke pemiliknya? Bukan aku yang menginginkannya? Aku tidak mengerti! Seseorang tolong aku! Aku tidak bisa mendeskripsikan perasaan ini. Aku tidak tahu ini apa.

“Sunghee-ssi! Lee Sunghee!! Yah! Lee Yadong!” Nick yang terakhir aku yang membuatkannya. Karena, dibalik wajahnya yang sok inosen, Sunghee ini yadongnya beuh. 11 12 sama aku. Dia 11 dan aku 12.

“SUNGHEE-SSI!!” jeritku. Namun, rasanya jeritanku tidak membuahkan hasil. Sunghee tidak ada dimanapun. Aku terduduk di kursi plastik depan kedai permen kapas. Keringatku bercucuran membasahi tubuhku. Aku tidak akan mempermasalahkan tubuh siapa ini sebenarnya. Karena aku sudah merasa, tubuhnya adalah tubuhku juga. Aku dan Sunghee adalah satu. Dan tidak ada yang bisa memisahkan satu. Angka 1 kalau dipatahkan akan terbagi menjadi dua bagian. Jadi 11. 11 itu berdampingan. Dan tetap berdampingan selamanya. Itulah aku dan Sunghee. Jadi, dia pasti tidak akan jauh-jauh dariku. Dia selalu mendampingiku. Ayo Hyukjae, pejamkan mata, ketika kau buka mata, Sunghee ada di depanmu.

Hana..dul..set! Aku memejamkan mata dan membukanya kembali. Tapi keadaan tetap sama. Tidak ada arwah cewek yang katanya ke sepuluh tercantik di sekolah yang suka muncul tiba-tiba. Tidak ada arwah yang memandangi cowok-cowok keren. Tiba-tiba saja aku merasa kehilangan.

Aku termangu di tempat. Suara di sekitar tidak kuhiraukan. Aku mencoba menajamkan pandanganku, berusaha mencari arwah transparan itu. Tapi, hasilnya tetap sama. Dia tidak ada dimanapun.

“Nan eottokhae?” Aku menghela napas putus asa.

“Gwaenchanasaeyo?” tanya cowok pemilik kedai.

“Oh? Ne, nan gwaenchana.” Aku mencoba tersenyum. Tapi, aku tahu senyumku pasti terlihat aneh.

“Kamu kelihatannya sedang mencari seseorang. Sedang mencari siapa?”

“Aku sedang mencari temanku. Aku harus mengatakan sesuatu padanya. Ini penting.” Aku meremas jemariku dengan resah.

“Apa dia temanmu?” Cowok yang kelihatannya hanya lebih tua 3 tahun dariku itu menunjuk ke arah jam 3. Aku melihat ke arah yang ditunjuk. Glek. Mampus. Kenapa Choi Siwon harus datang di saat seperti ini?! Dari kejauhan, aku bisa melihat pandangannya yang penuh minat. Dan juga, ketika aku membalas tatapannya, ia melambaikan tangan. Aku harus bagaimana? Tidak  mungkin aku melayaninya sekarang.

“Siapa? Dia bukan siapa-siapa. Aku tidak mengenalnya.” Aku beranjak berdiri dan cepat-cepat berlari.

“Sunghee yah! Tunggu!”

Sialan. Aku terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Aku tidak boleh tertangkap. Tapi, kaki Sunghee yang tidak sepanjang kakiku membuat lariku menjadi lamban. Siwon yang tinggi dan berkaki panjang tentu dapat mengejarku tanpa perlu bersusah payah. Ia menarik tanganku dan menarik tubuhku mendekat padanya. Oh Gosh!

“Aduuh!! Apa lagi sih?! Aku ada urusan nih!” Aku mencoba melepaskan tanganku, tapi genggaman Siwon terlalu kuat.

“Sunghee-ssi, aku ingin mengatakan sesuatu. Aku suka..”

“ANDWAE!!” seruku. Siwon terkejut. Ia terdiam sambil menatapku. Mulutnya menganga dan matanya membelalak kaget.

“Ke-kenapa?” ujar Siwon setelah ia bisa menguasai dirinya sendiri.

“Aku bukan Sunghee. Aku Lee Hyukjae. Kamu pasti mengenaliku. Aku Hyukjae yang anak dance, yang kelas 12-8. Tahu kan?”

“Kamu Hyukjae yang…omo! Hyukjae sudah meninggal! Sunghee, gwaenchana?”

Aku mendengus. “Sudah kubilang aku bukan Sunghee! Aku Hyukjae! Aku tidak bisa menceritakan lebih lanjut, sekarang aku harus mencari arwah Sunghee secepatnya.”

Siwon terpaku menatapku. Kurasa dia sedang mencerna kata-kataku. Aku tidak bisa menungguinya lebih lama lagi, maka aku meninggalkannya di sana. Aku berlari lagi. Mataku nyalang ke sana ke mari. Sunghee tetap tidak ditemukan dimanapun. Dimana dia? Kenapa meninggalkanku?

“Mianhaeyo, Sunghee yah..aku salah..” Tak terasa setetes air mata jatuh menuruni pipiku. Aku merasa sangat bersalah. Aku menyabotase tubuh Sunghee, aku mengambil kebahagiaannya, dan aku bahkan mengusirnya! Aku tidak peduli pada masalahnya! Sunghee yah, mianhae…

Baru kali ini aku merasa benar-benar bersalah. Dan baru kali ini aku benar-benar menginginkan kehadiran seseorang. Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini, bahkan terhadap Hyoyeon. Ini lain. Rasanya seperti kehilangan arah. Kehilangan diri sendiri.

Tenagaku sudah habis. Sudah seharian ini aku mencari Sunghee namun yang dicari belum muncul juga. Sekarang sudah jam 9 malam. Dia kemana?  Masa dia benar-benar meninggalkanku? Aku kan tidak sengaja mengusirnya!

Aku membuka pintu rumah dengan lesu. Sungmin yang sedang membaca buku melirikku. Ia terlihat terkejut melihat penampilanku yang kusut.

“Gwaenchana?” katanya. Bisa kutangkap nada panik di suaranya.

“Ne.” Aku hanya mengangguk. Tapi tatapan Sungmin masih melekat padaku. Aku jadi merasa tidak enak ditatap seperti ini.

“Hyung, Sunghee tidak bisa kutemukan dimanapun.” Aku menyeret langkahku dengan lesu. Sungmin menatapku dalam diam.

“Lalu apa konsekuensinya kalau dia tidak bisa ditemukan?” Akhirnya Sungmin buka suara juga. Aku terdiam. Iya juga. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya merasa bersalah.

“Molla.”

“Sudahlah, tidak apa-apa. Toh dia memang sudah pergi.” Sungmin tersenyum pahit. Pandangannya ia tujukan pada bukunya lagi. Aku semakin merasa bersalah. Kenapa Sungmin tidak memarahiku saja? Kenapa dia tidak mengusirku? Kalau aku diperlakukan dengan baik seperti ini, aku malah merasa bersalah!

“ANDWAE! Aku pasti bisa menemukannya! Pokoknya aku harus menemukannya!”

“Untuk apa?” balas Sungmin santai.

“Untuk..” Aku terdiam sebentar.

“Aku sudah tidak punya urusan dengannya.” Sungmin menutup bukunya dan berlalu ke kamarnya. Aku menganga. Sebenarnya ada apa di antara kakak beradik ini? Kenapa Sungmin kelihatannya baik-baik saja? Kenapa dia tidak khawatir? Tidak marah padaku? Atau pukul aku juga tidak apa-apa daripada seperti ini. Aku tidak tahu kemana jalan pikirannya.

Aku mengerutkan bibirku dan berjalan ke arah kamar Sunghee. Kalung untuk Hyoyeon masih ada di genggaman tanganku. Aku tidak sadar sedari tadi aku menggenggam kalung ini. Aku menatap juntaian kalung emas putih itu erat-erat. Bandulnya berinisial H. H untuk Hyoyeon. Kalau aku berikan ke Sunghee, H ini bisa menjadi inisial untuk Hyukjae.

Tunggu sebentar. Aku mikir apaan sih? Ini kalung mahal kan hasil kerja kerasku menabung selama ini. Kenapa pula aku mau memberikannya pada cewek yang baru kutemui beberapa hari yang lalu dan bahkan sekarang sudah tidak ada di dunia ini. Aku menghela napas. Aku membuka pintu kamar dan menjatuhkan tubuhku di atas kasur yang empuk. Aku melirik jam di dinding. Masih jam 9 lewat 15 menit. Penampilanku kusut sekali. Tapi aku malas mandi. Udah malam gini. Tidur aja ah..

Tapi, tiba-tiba aku ingat sesuatu. Ini bukan tubuhku. Aku harus merawatnya. Aku mendengus. Sialan kau, Lee Sunghee. Bahkan saat kau tidak ada di sini, kau masih bisa mengatur hidupku. Hebat. Pengaruhmu terhadap kehidupanku sangat besar.

= = =

Aku terbangun di hari selanjutnya. Kepalaku rasanya berat sekali. Badanku pegal-pegal. Mungkin karena kemarin kecapekan. Aku mendudukkan tubuhku dan sekitarku seperti berputar. Rasanya seperti sedang menaiki wahana komedi putar, tapi dalam versi ngebutnya. Aku memejamkan mata dan memegangi kepalaku. Pusing, sakit, jadi mual.

Ugh..ini benar-benar menyiksa!

Aku menyentuhkan kakiku ke lantai. Aku mencoba berdiri. Tubuhku sempoyongan, tapi aku cepat menangkap lemari. Ya Tuhan, pusing sekali. Sunghee punya penyakit apa sih? Kemarin-kemarin gak begini kok.

Aku menyeret kakiku keluar kamar. Dari tangga, aku bisa melihat Sungmin sedang menyiapkan sarapan. Wajahnya terlihat tidak mood, sama seperti kemarin. Benar-benar mengherankan.

“Selamat pagi,” sapanya. Nadanya terdengar riang, tapi tetap saja rasanya tidak diucapkan dengan tulus olehnya. Kenapa? Karena aku Hyukjae? Karena yang memakai tubuh adiknya adalah aku?

“Pagi.” Aku menjawab singkat dan duduk di kursi meja makan. Aku ingin sekali membantu Sungmin, tapi rasanya ini bukan waktu yang tepat. Auranya lagi gelap sekarang. Lebih seram daripada hantu mode on-nya Sunghee.

“Silahkan.” Sungmin menghidangkan sup asparagus yang wanginya langsung memanjakan hidungku. Aku menelan ludahku. Aku menatap gelas teh yang menyusul sup itu. Ada wangi mint dari teh itu. Pasti peppermint tea.

“Menu sarapan favorit Sunghee,” kata Sungmin tanpa diminta. Aku tidak tahu harus merespon apa. Kalau ini acara variety show, pasti ada tulisan AWKWARD termampang jelas di layar kaca.

Aku mengaduk sup-ku. Asap mengebul dari sana, menyapa wajahku yang dingin. Rasanya hangat, tapi tidak nyaman. Entahlah, tapi, perubahan Sungmin begitu drastis.

“Silakan nikmati makananmu. Aku pergi sekarang. Kuliah pagi.” Sungmin tersenyum sekilas dan memakai tas selempangnya. Aku hanya bisa bergumam sambil mengangguk samar.

Sungmin membuka pintu rumah.

“Hyukjae..” panggilnya.

“Ne?” Aku menoleh.

“Kalau kau mencari Sunghee, mungkin pantai bisa menjadi lokasi pencarianmu. Sampai jumpa.” Sungmin menutup pintu rumah. Aku ternganga. Sungmin baik sekali! Kalau aku cewek aku pasti naksir padanya!

Baiklah, aku akan bolos sekolah dan mencari Sunghee. Wajib!

Aku berlari ke kamarku. Aku masuk kamar tepat saat HP-ku berdering. Aku menjawab telepon yang ternyata dari Donghae.

“Hyuk, kau..”

“DONGHAE! Temani aku ke pantai hari ini ya?”

“He? Tapi kan sekarang sekolah!”

“Bolos aja! Aku mau cari Sunghee di sana. Sungmin kasih rekomendasi tadi.”

“Er..baiklah. Aku jemput di rumahmu 15 menit lagi. Siap-siap.”

“Oke!”

Aku beruntung punya sahabat sebaik Donghae. Baiklah, aku mengambil baju yang paling nyaman dan berlari ke kamar mandi. Aku mandi kilat dan buru-buru memakai baju dan berdandan seadanya. Aku berlari keluar rumah ketika klakson mobil Donghae terdengar. Aku melompat masuk ke dalam mobilnya dan Donghae cepat-cepat tancap gas.

Aku sudah tidak sabar ingin bertemu Sunghee lagi. Semoga di ada di sana.

Tapi, ada sedikit hambatan. Sepanjang perjalanan, aku terus-terusan merasa mual. Padahal aku tidak pernah merasa seperti ini. Ugh. Aku meneguk air mineral lagi. Ini sudah botol ke 2. Donghae melirikku heran.

“Gak kembung minum sebanyak itu?”

“Enggak.” Aku menutup mulutku yang mengeluarkan suara orang hendak muntah. Donghae menatapku panik.

“Hyukie…”

“Sudahlah lanjutkan. Aku tidak apa-apa.”

“Bener nih? Kamu kan nggak pernah mabuk kendaraan. Kenapa sekarang malah mabok hah?”

“Gak tau nih, Hae. Dari tadi pagi mual-mual terus tapi gak ada yang dimuntahin.”

“…” Donghae tampak berpikir. Semakin lama, wajahnya semakin pucat.

“Hyukie, kamu..”

“Hm?”

“Err…tidak, tidak. Tidak mungkin. Sudahlah lupakan.”

“Apa, Hae?”

“Tidak. Tapi…tubuhmu kan sekarang perempuan..bisa jadi…”

“Apa?”

“Kamu tidak melakukan hubungan apapun dengan laki-laki manapun, kan?”

“Tentu saja tidak! Gila!”

“Bukan kamu, tapi…Sunghee?!”

“Hah? Apaan sih?” Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“Aku nggak tega ngomongnya. Sudahlah lupakan.” Donghae terkekeh. Tapi bisa kulihat keringat dingin mengucur ke dagunya.

“Apa sih?”

“Dia nggak hamil, Hae. Itu memang gejala yang sering terjadi kalau arwah yang diberi kesempatan hidup tidak menyelesaikan masalahnya.”

“OMO!” Aku dan Donghae menjerit bersamaan. Gimana nggak? Ryo tiba-tiba duduk di kursi belakang. Gak Sunghee gak Ryo kalo muncul gak pake permisi. Apa semua arwah kayak begitu ya?

“Ryo, apa maksudmu ini gejala?” tanyaku.

“Biasanya, arwah yang dikasih kesempatan hidup di tubuh orang lain tapi tidak menyelesaikan urusannya bisa jatuh sakit. Gejala awalnya pusing, terus lanjut mual, udah gitu panas tinggi. Kalau panas semakin tinggi disertai halusinasi, segera beritahu aku. Bisa jadi penyakitnya makin parah.”

“Kok kayak gejala penyakit apaan ya..” gumam Donghae.

“Ini serius! Apalagi arwah pemilik tubuh ini hilang, sakitnya bisa tambah parah. Kalau begini, biasanya kamu akan merasa lemas, lemah, tidak bisa melakukan apapun sampai hanya bisa terbaring kaku di atas tempat tidur. Hidup, tapi seperti mati. Itu konsekuensi karena kau melanggar janji.”

Aku menelan ludah dengan susah payah. Hidup seperti mati itu lebih mengerikan dari mati itu sendiri.

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Temukan Sunghee secepatnya.”

“Kalau dia masih belum bisa ditemukan?”

“Ya…kau akan terus hidup tapi seperti mati. Sampai akhirnya kamu depresi dan memutuskan untuk bunuh diri. Nanti kamu akan mensyukuri kematianmu di awal.”

“Aku tidak mau itu terjadi!”

“Makanya cepetan! Sunghee harus ditemukan!”

Donghae menginjak pedal gas. Mobil melaju semakin kencang.

Sunghee, tunggu aku! Aku pasti menemukanmu!

To be continued

14 thoughts on “[FF] I Am a Girl?! PART 4

  1. amitokugawa says:

    part ini berasa cepet, mungkin karena hyuk ngejar2 sunghee kali ya? banyak aksinya… banyak konfliknya juga, jadi seru😀
    sungmin kenapa auranya berubah gitu? *sok mikir*
    ah.. kasian hyukjae jadi sakit gitu.. sunghee dimana sih?
    lanjutt..

  2. sophiemorore says:

    mianhae baru sempat baca
    baru balik dari jakarta
    omo
    ga tau napa aku sedih banget baca part ini
    pengin hyuk jadian ama sunghee
    ya ampun kok aku jadi sedih gini yaaa.. apalagi pas adegan donghae liat sunghee, kenapa aku terharu? aku klo berhubngn ama ikan itu pasti bawaannya nangis mulu
    hahaha
    aneh deh

    keren bgt ini say
    keren banget
    seru aku ampe terbawa bawa
    ohh apakah sunghee suka hyuk?
    huaaa

  3. vidiaf says:

    aura part ini suram sekali (?) ._____.
    sunghee-ya, betapa baiknya dirimu!! ;_____; terharu nih terharu aaaaaa TT^TT
    bagian pas hyuk nyari sunghee itu udah paling nyesek ;~~;
    sumpah aaa jadi ga tega sama sunghee ;____;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s