[FF] I Am a Girl?! Part 3

Summary: Masalah semakin runyam! Ketika Hyoyeon mulai percaya pada Hyukjae, muncul lagi masalah baru. Sunghee menghilang! Benar-benar menghilang! Ryo bilang, Hyukjae harus menyelesaikan masalah Sunghee baru bisa pergi ke alam sana. Lantas mau menyelesaikan apa kalau Sunghee-nya saja menghilang?

= = =

Hankyung sialan. Berkali-kali dia sengaja ngerem mendadak. Terpaksa badanku nubruk badannya dia. Dasar cowok.

Eh, tapi kan aku juga cowok? Iuh..

Donghae sama Hyoyeon pergi ke toko CD musik. Aku dan Hankyung mengikuti. Diam-diam tentunya. Well, meskipun tidak diam-diam juga mereka berdua tidak akan tahu bahwa yang mengikuti mereka adalah Hyukjae. Tapi ya sudahlah.

“Mau beli apa, Hee?” kata Hankyung. Aku menyimpan telunjukku di bibir, memberikan isyarat padanya agar diam. Hankyung mengangkat sebelah alis. Aku mendekatkan mulutku ke telinganya.

“Aku sedang memata-matai Hae dan Hyo tahu,” bisikku. Hankyung melirik ke arah mereka berdua yang sedang asyik memilih CD. Dia lalu mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik,

“Memangnya kenapa dengan mereka?”

Iya juga. Sunghee kan tidak punya masalah apa-apa pada Donghae. Urusan Hyoyeon, Sunghee dengan dia kan sedang musuhan. Jadi untuk apa Sunghee memata-matai Donghae dan Hyoyoen?

“Er…aku..”

“Jangan bilang kau menyukai Donghae.”

Alasan yang bagus, Hankyung!

“Maaf, tapi..ya aku menyukai Donghae.” Dulu, waktu dia masih menjadi sahabatku yang terbaik. Sekarang aku tidak menyukainya.

“Begitu..” Hankyung tersenyum tipis. Aku mengerutkan kening. Kenapa nggak kecewa? Dia suka sama Sunghee kan?

Seakan membaca pikiranku, Hankyung menjawab, “Aku tahu kamu itu playgirl, Miss Sunghee. Jadi aku tidak menaruh harapan penuh padamu.”

Ini membuatku terkejut. Apa jangan-jangan semua cowok yang mendekati Sunghee berpikiran sama? Semuanya tidak ada yang betul-betul menyukai Sunghee? Mencintainya?

“Apa..cowok lain juga berpikiran begitu?” tanyaku pelan. Hankyung terdiam sebentar.

“Kurasa iya. Tapi aku berbeda dibanding yang lain. Mereka mendekatimu karena menginginkan popularitasmu, dan aku tidak.”

Aku tertegun. Apa memang tidak ada yang benar-benar mencintai Sunghee? Apa gadis ini tidak punya pacar? Satupun? Meskipun dia playgirl?

“Jadi kurasa percuma kamu menyukai Donghae. Sulit membedakan mana yang mencintaimu seutuhnya, dan mana yang tidak. Kau tidak tahu Donghae masuk kategori yang mana,” kata Hankyung lagi. Tidak, Donghae bukan orang seperti itu. Dia tipe orang yang akan mencintai seseorang seutuhnya.

Mungkin. Setidaknya, setahuku begitu. Tapi begitu melihatnya tertawa bersama Hyoyeon, aku tidak yakin.

Tapi, ngomong-ngomong, aku belum bertemu Sunghee lagi. Dia kemana ya? Tapi, ada bagusnya dia tidak ada di sini. Setidaknya dia tidak tahu apa yang kami perbincangkan barusan.

Setelah sekitar 15 menit aku dan Hankyung ada di toko itu, kami memutuskan untuk pergi. Mengikuti Hyoyeon lagi tentunya. Ternyata Donghae membawanya ke café tempat aku menembak gadis itu. Okey, jadi kau benar-benar mau merebutnya dariku, Hae? Tidak akan pernah! Meskipun aku sudah mati, aku tidak akan melepaskannya!

Aku menyuruh Hankyung untuk pulang duluan dan kami terlibat dalam perdebatan singkat selama 5 menit. Dia bersikeras untuk menemaniku dan mengantarku pulang, tapi jelas aku menolak. Kalau yang menemani cewek sih ya oke aja tapi ini Hankyung. Aku sudah sekelas dengannya sejak kelas 10 dan aku bosan melihat wajahnya terus menerus. Perdebatan dimenangkan olehku, jadi Hankyung pulang duluan dengan berat hati.

Aku duduk agak jauh dari mereka. Sekitar selisih 5 meja. Aku menajamkan pendengaran, mencoba menguping apa yang mereka bicarakan. Tapi, suasana café tentu tidak sesepi itu. Polusi suara kerap bermunculan.

“Kalau kamu terus-terusan mengamati mereka, kamu bisa kehabisan waktumu.”

“OMO!” Aku memekik kaget. Sunghee – lagi-lagi – melayang tepat dihadapanku. Orang-orang menatapku heran. Aku melirik ke arah Donghae dan Hyoyeon, sial, mereka menatapku.

Aku – lagi-lagi – melirik Sunghee sadis. Bocah itu terbahak melihatku – lagi-lagi – menderita.

“Lain kali jangan muncul sembarangan!” desisku.

“Kau harus terbiasa,” ujar Sunghee acuh tak acuh sambil menatap ke arah Donghae dan Hyoyeon.

“Sunghee-ssi?” panggil Donghae. Aku menelan ludahku dengan susah payah. Bocah sialan. Kalau Sunghee masih hidup, sudah kubunuh dia.

“Emh..Annyeong…hehehe…” Aku nyengir dan membentuk huruf V dengan telunjuk dan jari tengahku. Mataku melirik Hyoyeon. Aura kemarahannya mulai menghilang. Sekarang, tatapannya..entahlah. Sulit kuterjemahkan.

“Ada apa? Kamu sendirian di sini?” tanya Donghae.

“Er…keliatannya?” Aku tersenyum salah tingkah. Donghae tersenyum. Senyum yang bisa membuat cewek meleleh seperti es krim. Sayangnya, aku bukan cewek. Jadi aku tidak akan meleleh melihat senyumnya.

“Mau bergabung dengan kami?” Donghae mengedikkan kepala ke arah Hyoyeon yang kini sedang menyesap minumannya.

“Ah, tidak usah. Nanti mengganggu kencan kalian.”

“Kami tidak berkencan, Sunghee-ssi.” Kini Hyoyeon yang berbicara. Dia berjalan mendekatiku. Matanya menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dia lalu tersenyum tipis.

“Maaf sudah bersikap kasar kemarin. Donghae meyakinkanku bahwa kecelakaan itu murni kesalahan pengemudi truk.”

“Oh iya.. tidak apa-apa.” Aku hanya bisa terpana melihat Hyoyeon kembali tersenyum. Aku suka senyumnya. Selalu suka.

“Jadi, kalau bukan kencan apa namanya? Berduaan ke toko musik, lalu ke café ini.”

“Kamu mengikuti kami?” Hyoyeon mengangkat sebelah alis. Aku tertegun. Keceplosan deh.

“Er..”

“Kenapa?”

“Eng..”

“Kamu suka Donghae?”

“Eh nggak..”

“Terus?”

“Karena ada yang ingin kubicarakan denganmu, Hyeoni.” Hyoyeon tertegun mendengar kalimat terakhirku. Dia menatapku lama. Aku balas menatapnya dalam.

“Kurasa kalian harus menyelesaikan masalah kalian.” Donghae tersenyum dan berlalu pergi. Aku menatap punggungnya sampai ia keluar café. Donghae masih baik. Dan selalu baik.

“Apa yang harus dibicarakan?” Hyoyeon melangkah ke mejanya. Aku mengikuti di belakangnya.

“Soal omonganku tadi siang di sekolah, kamu masih tidak mempercayainya?”

Aku duduk di seberangnya. Hyoyeon hanya terdiam menatap gelasnya yang sudah kosong.

“Dengarkan aku, Hyeoni. Sudah kubilang, ini memang gila, tapi aku benar-benar Lee Hyukjae. Aku tahu kamu suka dipanggil Choding karena kamu lucu dan heboh. Kamu pandai membuat orang tertawa. Lalu, dari SMP kamu sudah suka ngedance. Kita sering menari bareng kan? Ingat lagu I Wanna Love You? Itu lagu tarian kita waktu kelas 11. Terus, aku juga tahu kalau –”

“Hentikan, Hyukie,” potongnya. Aku tertegun. Aku menatapnya lama. Jantungku berdebar kencang. Hyoyeon menatapku tepat di manik mata, dan aku membalas tatapan itu. Rasanya air mataku ingin mengalir saking bahagianya.

“Kamu percaya?” ujarku tersendat.

“Kamu berpikir begitu?”

“Tapi kamu tadi..”

“Buat aku percaya,” tantangnya.

“Oke. Kamu lahir tanggal 22 September. Kamu mantan kidal, makanya kamu bisa menggunakan tanganmu secara seimbang. Kalau marah, kamu menjadi pendiam, tapi kamu pernah mengajak Sooyoung berkelahi padahal teman-temanmu sedang mengerjaimu. Kamu jago masak dan senang cuci baju sendiri. Kamu juga suka beres-beres rumah, seperti halnya aku. Kamu lancar berbahasa China, bisa bahasa Inggris dan Jepang juga. Zodiakmu Virgo. Golongan darah AB. Butuh bukti lain?”

Hyoyeon terdiam lama. Dia menatapku tidak percaya.

“Ini memang sulit dipercaya. Aku tahu itu, Hyeoni. Tapi, apa kamu tidak mau mencoba untuk percaya? Waktuku tidak lama. Aku harus pergi setelah urusanku selesai.”

“Apa urusanmu?”

“Besok akan kuberitahu.”

“Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?”

“Akan kuantar kau pulang.”

“Pakai apa?”

Eh, benar juga. Aku kan ke sini numpang Hankyung, sekarang Hankyung sudah diusir pulang, berarti aku pulang sama siapa?

Hyoyeon tertawa. Aku lagi-lagi terpana melihatnya. Tawanya membuatku bahagia.

“Aku akan minta Donghae mengantarmu. Aku dijemput adikku kok.”

“Oh, baiklah. Sebaiknya kamu pulang sekarang. Sudah mulai malam.”

“Aku tahu.” Hyoyeon tersenyum. Dia lalu menatap ke luar. “Adikku sudah datang. Aku duluan ya.” Hyoyeon bangkit berdiri dan menepuk pundakku sekilas. Aku ingin sekali meraih tangannya dan menariknya untuk mendekat, tapi aku tidak bisa. Semua butuh waktu. Besok adalah waktu yang tepat.

“Pulang sekarang, Sunghee?” Donghae tersenyum. Aku mengangguk.

“Kamu marah padaku tidak?” tanyaku.

“Marah kenapa?”

“Er…kecelakaan yang menewaskan Hyukjae.”

“Tidak itu bukan salahmu, jadi kenapa aku harus marah padamu? Justru niatmu baik, kamu mau mengantarkan Hyukie, seharusnya aku berterima kasih.”

Donghae membawa motornya ke depanku. Aku duduk di boncengannya. Aku menyentuh jaketnya dan dia tidak mempermasalahkannya, tidak seperti Hankyung.

“Kalau kamu tidak merasa nyaman, kamu bisa pegangan pada bagian belakang motor.”

“Eh?” Jujur saja, ini mengejutkanku. Kebanyakan cowok, termasuk aku, suka dipeluk waktu membonceng seseorang. Cewek tentunya. Tapi Donghae berbeda. Aku tidak bilang dia itu melenceng atau sebagainya, tapi ini benar-benar agak mencurigakan. Meskipun segentle apapun cowok, rasanya jarang sekali ada cowok yang bakal mengatakan hal seperti itu. Err mungkin pikiranku terlalu yadong. Donghae ini orang baik, dia sangat menghargai perempuan.

Aku tidak memegang bagian belakang motor dan malah mempererat genggamanku pada jaketnya.

“Aku tahu kamu tidak terlalu suka dekat-dekat laki-laki, aku hanya memberimu tawaran dan sepertinya tawaranku ditolak. Baiklah.” Donghae mengenakan helm-nya. Aku mengerutkan kening. Sunghee tidak terlalu suka dekat laki-laki? Lah bukannya dia itu playgirl? Playgirl kan dekat sama laki-laki dong. Ah…Sunghee is unpredictable, huh?

Tak terasa, ternyata sepanjang perjalanan pikiranku tertuju pada Sunghee, bukannya Hyoyeon. Gadis itu memang menarik perhatianku, tapi karena dia unpredictable. Itu saja. Baiklah sifatnya juga menarik, dan tubuhnya juga menarik, tapi aku tidak menyukainya. Aku hanya mencintai Hyoyeon seorang. Camkan itu.

Aku turun dari motor Donghae. Dia melepas helm-nya dan tersenyum.

“Rumahmu sepi.”

“Orang tuaku masih di Indonesia dan Sungmin Oppa masih sibuk kuliah.”

“Mau kutemani sampai Oppamu pulang?”

“Tidak usah, terima kasih.”

“Oh ya, sudah ada yang menemanimu ya.” Donghae tersenyum dan memakai helm-nya lagi. Aku tertegun. Sudah ada yang menemaniku? Siapa?

Aku terpaku menatap Donghae yang melambai dan langsung pergi dengan motornya. Yang menemaniku? Siapa lagi kalau bukan Lee Sunghee! Aku berbalik menatap Donghae yang menjauh. Apa dia bisa melihat Sunghee? Harus kucari tahu!

“The way you look at him, ah it’s suspicious.” Lagi-lagi, Sunghee muncul dengan tiba-tiba. Aku meliriknya kesal.

“Oke, oke, aku harus terbiasa dengan ini,” desahku pelan. “Hey, tadi kamu bilang apa?”

“I said the way you look at him, it’s suspicious.”

“Apa artinya itu? Kamu kan tahu aku tidak bisa bahasa Inggris, pabo!” Aku menghentakkan pagar rumah dengan kesal. Sunghee terkekeh.

“Caramu melihat Donghae mencurigakan, tahu.”

“Orientasi seks-ku normal, kalau kamu pengin tahu.” Aku mendengus. Sunghee terbahak di belakangku.

“Sunghee yah, Donghae bisa melihatmu?” tanyaku sambil membuka pintu.

“Hm? Entahlah. Aku belum berinteraksi dengannya.” Sunghee mengangkat bahu. “Kenapa? Dia mengatakan hal yang aneh?”

“Dia seperti bisa melihatmu. Dia bilang sekarang ada yang menemaniku di rumah. Siapa lagi kalau bukan kamu?”

“Sungmin?”

“Sungmin kan belum datang, Sayangku!” dengusku kesal. Sunghee  hanya terkekeh.

“Sudah cepetan masuk rumah nanti disangka gila ngomong sendiri.”

Aku mengikuti sarannya. Ada benarnya juga cepat-cepat masuk ke rumah. Kalau disangka gila, urusan bisa runyam. Sekarang, urusan mandi sudah tidak ada perdebatan lagi. Seperti kali ini. Aku mandi dengan sejahtera tanpa diganggu oleh arwah gentayangan Sunghee. Kayaknya dia sudah pasrah tubuhnya digrepe-grepe olehku. Hehehe, kasihan sih tapi ya gak ada pilihan lain.

Selesai mandi, aku tertegun. Handuk masih melilit tubuhku. Sunghee memandangku heran.

“Ada apa?”

“Hee, kalungnya gak ada.”

“Kalung apa?”

“Kalung untuk Hyo.”

“Lah? Kamu simpan dimana?”

“Di rumahku.”

“BODOH! Ya sudah sekarang cepetan berangkat kita ambil dulu kalungmu. Ppali!” jerit Sunghee. Aku mendadak gugup. Aku berlari ke arah lemari, tidak memedulikan handuk yang terjatuh dan cepat-cepat mengambil baju alakadarnya.

“JANGAN PAKAI ROK MINI DONG! INI MALAM TAHU!!”

“Maaf, salah ambil!”

“PABO! EH EH EH, PAKE KAUS TANGAN PANJANG DONG, SAYANGKU!” Sunghee memandangku gemas.

“Bisakah kau diam?! Aku panik!”

“Kau juga membuatku panik! Kalau pakai baju serba terbuka begitu malam-malam gimana nasib tubuhku nanti hah?!”

“SUT DIEM! Kalem, rileks coy…tenang..” Aku menarik napas dalam dan membuangnya. Sunghee menghentakkan kakinya ke udara dengan geram.

“Ini sudah jam 8 malam! Kamu mandi apa nguras bak sih?! Lama banget! Makanya sekarang cepetan keburu kemaleman!”

“Iya bawel! Diem dulu napa! Bikin rusuh aja sih! Mendingan kamu pergi dulu deh!”

“Hah?! Kamu ngusir aku? Heh, itu tubuhku ya! Aku harus mengawasi tubuhku 24 jam! Kamu nggak tahu gimana rasanya melayang-layang begini, melihat tubuh sendiri dipakai cowok mesum! BALIKIN TUBUHKU SEKARANG!”

“Aku nggak mau berdebat denganmu sekarang, jadi diamlah! Kau membuatku pening.” Aku mengambil celana jins longgar hitam dan sweater merah. Sunghee terdiam menatapku. Tatapannya sarat akan kemarahan.

“Baik. Aku pergi. Tapi jangan panggil aku lagi.”

“Oke, oke, itu membuatku senang, Lee Sunghee, karena kau pengganggu.”

“Kau tidak usah mengembalikan tubuhku. Biar saja aku gentayangan selamanya.”

“Ya ya ya itu ide bagus.”

“Aku pergi.”

“Silakan.”

“Hati-hati.”

“Ya ya..”

“Jaga tubuhku.”

“Iyaaaa…”

“Aku pergi ya..”

“IYA! Mau pergi aja susah banget sih!” bentakku geram. Sialan, udah tahu lagi panik tingkat dewa, masiih aja ganggu. Dasar polusi suara!

“Cih.” Sunghee pun menghilang. Baiklah, sekarang si pengganggu sudah lepas landas pergi entah kemana, sekarang aku bisa berpikir dengan tenang. Oke, aku akan berlari menuju halte bus agar tidak terlambat. Aku meraih uang seadanya dan berlari ke halte bus. Karena menggunakan tubuh Sunghee, lariku jadi agak lamban. Padahal biasanya lariku kencang sekali. Seandainya tubuhku tidak hancur. Hh…

Sampai di halte bus, aku tidak sempat mengatur napas. Bus sudah datang dan aku segera naik. Aku menghempaskan tubuhku di kursi masih sambil ngos-ngosan.

“Sunghee kamu usir?”

“OMO!” Aku memekik kaget melihat Ryo duduk di sampingku entah sejak kapan.

“Ya?” Ryo mengangkat alis.

“Dia yang pingin pergi sendiri kok.”

“Bohong.”

“Bener!” Tak terasa, nada suaraku meninggi. Orang-orang menatapku heran.

“Yah, Eun Neul-ah, kan sudah kubilang Min Gi sendiri yang pengen pergi! Aku gak ada urusan apa-apa sama dia. Suer.” Untung saja aku sedang menggunakan headset. Orang-orang jadi mengira aku sedang menelepon.

Untuk Eun Neul dan Min Gi yang kusebutkan namanya di atas, terima kasih.

“Tapi kalau dia benar-benar pergi bisa bahaya loh. Nanti kamu tidak bisa kembali ke sana,” kata Ryo lagi.

“Masa? Kenapa? Aku punya nomor teleponnya Donghae nih, coba tanya sama dia. Dia kan dekat sama Min Gi.” Ya Tuhan sebenarnya apa yang kubicarakan. Aku melirik Ryo. Seandainya saja dia kasat mata, aku tidak akan disangka gila.

“Karena ini tubuh Sunghee, dan kamu harus membantunya menyelesaikan masalahnya dulu, baru kau bisa tenang.”

“Loh? Kesepakatan awalnya kan nggak gitu! Eun Neul ah, aku benar-benar gak tahu menahu soal ini. Sekarang catat aja nomornya Donghae terus kamu tanya sama dia, oke?”

“Aku bukan Tuhan yang tahu segalanya. Mana aku tahu kalau Sunghee juga punya masalah. Kayaknya arwahnya kelempar keluar mobil ambulans dan nyasar di suatu tempat, makanya kukira dia langsung pergi, ternyata tidak.”

“Eottokhae? Kalau dia benar-benar menghilang gimana? Masa aku yang harus menanggung resikonya? Aku kan tidak terlibat!” Kayaknya aku bisa membuat cerita kisah cinta segitiga antara Eun Neul, Min Gi, dan Donghae. Untuk kalian bertiga, terima kasih. Tanpa kalian, cerita bualan ini tidak akan ada.

“Tentu saja kau terlibat!”

“Tapi ini kan salahmu juga! Mana aku tahu kalau arwah Sunghee masih ada di dunia? Kamu sendiri yang memasukkan arwahku ke tubuh ini!”

Hening. Ryo mendadak menghilang. Orang-orang menatapku aneh. Baiklah, dialog terakhir memang sangat mencurigakan.

“Eh, Eun Neul-ah, kamu sudah menghapalkan bagianmu belum? Drama sekolahnya kan sebentar lagi.” Aku menggigit bibir bawahku. Orang-orang yang menatapku heran mendengus dan kembali ke aktifitas masing-masing. Aku menghembuskan napas lega. Dasar Ryo sialan. Datang tak diundang pulang tak diantar. Kayaknya dia fanboy Jelangkung deh.

Akhirnya, sampai juga. Aku berjalan sebentar hingga menemukan rumahku. Aku menelan ludah dengan susah payah. Semoga aku tidak diusir. Amin.

Tok tok tok..aku mengetuk pintu. Tapi aku lupa, aku punya bel. Jadi aku memencet bel.

Ting Tong~

Pintu dibuka, ibuku menatapku heran.

“Loh? Kamu anak yang waktu itu, kan?”

“Eh iya, Omonim. Annyeonghasaeyo.” Aku membungkuk.

“Ada perlu apa? Lagi-lagi malam ke sininya. Gak dicari orang tuamu?”

“Ini sudah dapat izin kok. Begini, Omonim, aku dapat pesan dari Hyukjae untuk memberikan kalung emas untuk hadiah ulang tahun Hyoyeon. Sekarang aku mau mengambilnya karena ulang tahun Hyoyeon besok.”

“Kamu dapat pesan darimana?” Eomma mengernyitkan kening. Mampus! Masa aku bilang dari tukang pos atau dari milis sih? Gak banget.

“Temanku ada yang indigo, mereka berinteraksi dengan arwah Hyukjae dan Hyukjae bilang aku harus mengambil kalung itu.”

“Temanmu? Siapa?”

“Lee Hwangri.” Alah, siapa pula itu.

“Hm…tapi kamu bener-bener mau memberikannya pada Hyoyeon, kan?”

“Iya, Omonim!”

“Baiklah, tunggu sebentar.” Eomma hendak masuk ke dalam, tapi aku mencegahnya.

“Anu…biar aku saja yang mengambilnya.”

“Eh?”

“Hyukjae menyimpannya di tempat rahasia. Hanya aku yang tahu.”

“Oke.” Eomma sepertinya sedang kelelahan dan tidak mau berdebat lama-lama. Maka ia berjalan ke atas, berhenti di depan pintu kamarku dan membukakan pintu.

“Terima kasih, Eomma.” Aku tersenyum dan melangkah masuk ke kamarku.

“Eomma?” Eomma memiringkan kepala dengan heran.

Aku menerjang lemariku dan membuka kuncinya. Ah…aku rindu baju-bajuku! Aku ingin sekali mengambil semuanya dan membawa ke rumah Sunghee. Ah ani, aku ingin sekali MENGINAP di sini. Seandainya orang tuaku tahu bahwa gadis ini adalah Hyukjae, anak mereka.

Aku mengambil kotak kalung yang tersimpan di sudut yang paling dalam. Aku membuka isinya. Masih bagus, masih sama. Syukurlah.

“Gomawo, Eomma! Saranghae!” Aku mengecup pipi Eomma sekilas dan berlari pergi. Sekarang sudah jam setengah 10, jarak rumahku dengan rumah Sunghee memang jauh. Kembali ke rumah membutuhkan waktu setengah jam. Mana tugas sekolah belum selesai. Sunghee pasti marah-marah. Eh, tapi kan dia udah nggak ada. Jadi aku bebas! Gak akan ada yang marahin. Hohohohoho.

Sampai di rumah, Sungmin mencegatku. Tatapannya datar.

“Darimana aja?”

“Rumah temen.”

“Malam begini? Ngapain aja?”

“Er…” Aduh, alasan apalagi! “Kerja kelompok.”

“Kerja kelompok? Tapi gak bawa tas? Dan itu kotak apa?”

“Ini…ini tugasnya. Udah ah Hyung, aku ngantuk nih.” Aku menerobos tubuh Sungmin dan bergegas menuju kamar Sunghee.

“Hyung?” kata Sungmin. Aku terpaku. Sialan, aku pasti salah ngomong! Mampus!

“Sunghee, akhir-akhir ini kamu aneh. Kamu bertingkah seperti orang lain, aku seperti serumah dengan orang asing. Dan lagi, mobilmu tidak ada di bengkel kan? Kamu kecelakaan, kan?”

“O-Oppa…”

“Aku baru membaca berita tadi pagi. Sunghee yah, apa salahnya bicara denganku? Kau tahu aku bisa menjaga rahasia, dan kamu tanggung jawabku selama orang tua kita ke Indonesia. Apa ada bagian tubuhmu yang terluka? Atau kepalamu, mungkin?”

“Tidak, aku baik-baik saja kok. Maaf, mobilnya memang hancur, tapi aku baik-baik saja.”

“Hyukjae meninggal ya?”

“…”

“Sunghee…”

“Ne..” Aku menunduk. Aku salah. Aku jahat. Aku merebut tubuh Sunghee, aku merebut hidupnya, aku merebut kebahagiaannya. Aku jahat sekali.

“Sudahlah, itu bukan salahmu. Lain kali, kalau ada masalah bicarakan padaku. Oke?” Sungmin menarikku ke pelukannya yang hangat. Aku menangis. Aku merasa jauh lebih jahat sekarang. Seharusnya Sunghee yang dipeluk, bukan aku. Seharusnya Sunghee ada di sini, di pelukan kakaknya, bukan aku! Dan dimana dia sekarang? Ya Tuhan, Sunghee-yah mianhae..

“Sunghee, lusa kan libur, kita jalan-jalan yuk?”

“Aku gak yakin..”

“Kenapa?”

“Er…Oppa, ada yang harus kita bicarakan.” Sungmin menatapku heran. Aku menariknya ke ruang TV. Di sana aku menceritakan semuanya sambil menangis. Aku menceritakan bahwa aku Lee Hyukjae, jiwaku dimasukkan ke tubuh Sunghee, aku harus menyelesaikan urusanku, dan aku baru saja mengusir adiknya. Sungmin terpana menatapku.

“Hyung!! Mianhae! Aku tidak bermaksud mengusirnya! Mianhae! Kau boleh melakukan apa saja padaku, terserah! Mianhaeyo!!! Huwaaaaa!!” Aku menangis seperti anak kecil. Memalukan memang. Tapi untung saja ini wajah Sunghee, bukan wajahku.

“I-ini memang gila..tapi..”

“Kumohon percayalah, Hyung! Aku bukan Sunghee, aku Lee Hyukjae! Maafkan aku! Maafkan aku!! Huwaaaaaa!!!”

“Iya iya, Hyukjae-ssi. Iya, aku percaya.”

“JINJA?!”

“Iya.”

“Gomawo!” Aku sontak memeluknya. Sungmin ragu-ragu membalas pelukanku. Tapi akhirnya dibalas juga.

“Aku akan pergi besok. Jadi Hyung tenang saja. Akan kuusahakan Sunghee kembali.” Aku tersenyum dan mengacungkan jempol. Sungmin mengangguk dan balas tersenyum.

= = =

Hari ini akhirnya tiba juga. Aku harus memberikan kalung ini pada Hyoyeon. Ya, ini dia.

“Hyo!” panggilku. Hyoyeon menoleh. Ia tersenyum tipis.

“Kita mabal yuk!”

“Hah?” Dia menganga. Lucu sekali.

“Ayolah, sekali ini saja. Ini hari terakhirku di dunia. Please…”

“Ergh..entahlah…”

“Ayolah!” Aku memasang wajah memelas. Hyoyeon menatap sekeliling dan mengangguk. Aku tersenyum senang dan menarik tangannya menjauh. Aku tahu tempat kabur dari sekolah ini karena aku pernah beberapa kali kabur. Tidak ada pilihan lain, aku harus menghabiskan waktu terakhirku dengan Hyoyeon.

Kami pergi bermain arcade, dance, foto-foto, makan, beli permen kapas, dan sebagainya. Hyoyeon selalu tertawa di sampingku dan itu membuatku bahagia.
Aku mengambil uang kembalian dari tukang es krim dan menyerahkan es krim pada Hyoyeon. Mataku tiba-tiba menangkap sosok yang sangat kukenal. Lee Donghae. Dan di depannya ada..RYO?!

“I-itu, Donghae, kan?” ujarku. Hyoyoen menatap ke arah yang kutunjuk.

“Ah, benar! Sedang apa dia disini? Dia kabur juga?”

“Entahlah. Ayo kita hampiri saja dia.” Aku berlari mendekatinya. Donghae yang sepertinya menyadari kehadiranku tersenyum dan melambaikan tangannya.

“Annyeong, Hyukie. Kau menikmati hidup barumu?” Donghae mengangkat alisnya. Aku tertegun.

Jadi benar! Donghae bisa melihat arwah! Kalau begitu dia bisa melihat Sunghee juga? Lalu kenapa dia diam saja? Kenapa dia merahasiakan ini? Dan lebih lagi, aku masih tidak tahu hubungannya dengan Hyoyeon!

“Aku hanya perantara.” Donghae membentuk huruf V dengan dua jarinya.

Perantara? Apa maksudnya?

To be continued

12 thoughts on “[FF] I Am a Girl?! Part 3

  1. sophiemorore says:

    AHHHHH KAU MEMBUATKU TERSIKSA AUTHORRRR
    APA MAKSUDNYA DONGHAE PERANTARA?
    DAN YA AMPUN KASIAN SEKALI SUNGHEE
    SETELAH PART KEMARIN AKU MATI2AN IRI SAMA TUH CEWEK
    SEKARANG MIKIR2 LAGI DEH
    HUHUHUHUHU

    YA AMPONN.. AKU BERHARAP HYUKJAE DAN SUNGHEE BAHAGIA DI ALAM SANA
    MAKSUDNYA MEREKA JADIAN GITU
    HAHAHA

    DAN PLIS PLIS PLIS BNGT
    UPDATENYA YANG CEPET
    TAU GA?
    AKUUUUU PENASARANNN…

    • sungheedaebak says:

      HUHUHU LANJUTANNYA GAK YAKIN CEPET, KAN AKU SEKOLAH, JADI KAYAKNYA MINGGU DEPAN DEH YAA MAAAAAFFF T_T

      IYA DIA KASIAN!😦 AKU TEGA!!!

      AKU JUGA BERHARAP GITU!

      SABAR MENANTI! HEHE

  2. amitokugawa says:

    makin seru… aih, hyukjae makin pinter ngarang deh di sini
    sunghee..dimana dirimu? beneran ngilang nggak ya?
    bagus deh hyuk nyadar… sungmin baik banget deh di sini

    donghae bisa ngeliat arwah? bisa ngeliat ryo nggak? perantara? wah, keren *eh*
    lanjuuttt

    • sungheedaebak says:

      otaknya pake otak sunghee sih. otaknya sunghee kan pinter ngarang *otak sunghee ngapung*
      iya dia ngilang asli loh #eh
      spesies kakak impian. pengen bgt punya kakak kayak dia.

      bisa dong! hahaha
      siap! ^^

  3. shinmingiii says:

    ini dgn saya yg kmrin2 comment atas nama min gi sm dees9..
    hehe map yak commentnya pk username yg mcem2.
    eh namaku ada diatas noh ya? -min gi- wkwkwk.
    udah lama ni nunggu lnjtan.a.
    eh aku pnasarn tngkt akut ni, cpt d post lnjutannya ya?
    btw, aku manggilnya apaan ni? aku ud bc page2 mu. kt sm2 kls 1 sma sprtinya hnya sj umurku lbh muda. ingat gk? kmrn 24 jan umurku 15😀 hehe

    • sungheedaebak says:

      oh ya ya ga papa kok ^^ yang penting komen hehehe
      iya kan aku sayang reader jadi aku pasang nama reader hahahaha😄
      iya kan aku sibuk sekolah jadi gak bisa update terus. maaf ya..
      Insya Allah ya kalo ada waktu luang aku coba lanjutin ff-nya =))
      hooo baru 15 tahun toh. ntar Mei kan aku 16 jadi panggil Unnie aja gak apa-apa hahaha dongsaeng~~ jarang punya dongsaeng wkwkwk

  4. vidiaf says:

    mhehe Eun Neul eksis lagi nih :-” /eh /digampar
    hyuk ngelesnya parah deh ._. ngalahin aku (?) /loh
    donghae perantara di sini maksudnya apa gyaaaaaaaah ;AAA; penasaran~! ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s