[FF] Run Away

Run Away
Cast: Sunghee, Kyuhyun, Hyohyuk
Genre: Romance, Angst, One Shot

= = =

Sunghee menjejakkan kakinya di tanah Jerman. Ia menghirup udara di sana dalam-dalam. Seulas senyum tipis khasnya tersungging di bibir. Lelaki yang sedari tadi selalu menemaninya menatapnya dalam.

“Tidak usah menatapku seperti itu, Cho Kyuhyun. Aku yakin kau juga menikmati udara Jerman malam ini.” Sunghee melangkah maju. Kyuhyun mengikutinya.

“Well, yeah. Tapi..apa kau baik-baik saja?” Nada suara Kyuhyun terdengar khawatir.

“Kau sendiri?” Sunghee balik bertanya.

“Kurasa aku tidak perlu menjawabnya.”

“Begitupun denganku.”

Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam. Mereka menyewa dua buah kamar di hotel yang termurah di sana. Besok, mereka baru mencari markas agen TRX di Jerman. Sunghee memang berkata pada Hyukjae bahwa ia akan bekerja di Jerman, dan inilah pekerjaannya. Ia diterima menjadi agen TRX dan harus bekerja di sana. Makanya Sunghee meninggalkan Hyukjae, dengan berat hati.

Jika ditanya apakah ia masih mencintai Hyukjae, tentu saja jawabannya masih.

Sesampainya di hotel, mereka langsung beristirahat. Sunghee terlentang di atas tempat tidurnya. Matanya menatap langit-langit. Pandangannya kosong. Senyum tipis khasnya kembali berkembang.

 “Jadi, apa kita tidak bisa mencoba LDR?”

“Long Distance Relationship? Untuk apa?”

“Agar tidak ada kata ‘selamat tinggal’ yang terucap..”

Sunghee mendengus. Selamat tinggal. Kenapa mengucapkannya seribu kali lebih sulit daripada mengucapkan halo dan seratus kali lebih sulit daripada mengatakan sampai jumpa?

Suara pintu diketuk membuyarkan kegalauan Sunghee. Ia bangkit berdiri dan membuka pintu. Ternyata Kyuhyun yang mengetuk pintunya. Ia tidak tersenyum, tidak menyapa, hanya menatap Sunghee. Tapi itu cukup untuk membuat Sunghee memutar kembali kejadian masa lalu. Terlebih ketika Kyuhyun yang mengingatkannya.

“Jadi…cokelat yang kuberikan waktu itu..langsung kau makan?” ujar Kyuhyun.

“Cokelat itu..”

“Sunghee yah, aku lagi suka dengan seseorang. Kira-kira…kalau orang itu aku kasih coklat, suka ga ya?” tanyanya.

“Hm…suka-suka aja mungkin,” ucapku acuh tak acuh sambil meminum teh yang baru kubeli.

“Kalau begitu…” Kyuhyun menyodorkan coklat padaku. “Kamu mau tidak menjadi pacarku?”

“Hm…gimana ya…” ucapku pura-pura berpikir. Sebenarnya aku mau kok.

Kyuhyun terus menatapku. Senyumnya terus mengembang.

“Hm.. oke.” Aku menerima coklat darinya.

“Ya, aku memakannya sendirian. Aku tidak mau orang tuaku bertanya macam-macam dari siapa aku mendapat cokelat itu, siapa dia, apa hubunganmu dengannya dan bla bla bla.” Sunghee melebarkan pintu kamarnya, mempersilahkan Kyuhyun untuk masuk. Kyuhyun melangkah masuk sambil tersenyum.

“There she is, my cool girlfriend.” Kyuhyun menepuk kepala Sunghee sekilas sambil melangkah masuk.

Sunghee tertegun. Itu kata-kata khas Hyukie-nya. Hanya untuknya. Sunghee ingat, waktu dia berusaha tampil centil untuk memperbaiki tariannya, Hyukjae sempat uring-uringan dibuatnya. Hyukjae menasehatinya untuk menjadi diri sendiri. Dan itu yang terjadi. Inilah Sunghee yang sebenarnya, yang memendam perasaannya. Yang menangis di belakang. Yang menjerit di dalam hati.

“Kau boleh bertingkah cute dan sexy, tapi hanya di hadapanku saja. Arachi?” Sunghee tersenyum dan mengangguk.

“Ne! Gomawo, jagiya..” Sunghee mengecup pipi Hyukjae sekilas dan membuat tanda V dengan jarinya.

“There she is. My lovely cute Sunghee.” Hyukjae mencubit pipi Sunghee gemas.

“Aaaah sakit!” rajuk Sunghee. Hyukjae tersenyum.

“Ayo balas aku!” Hyukjae memeletkan lidahnya dan segera berlari.

“YAH! Tunggu!!” Sunghee mengejar Hyukjae. Mereka berlarian di arena parkiran sampai mereka puas.

“Kejar aku, naui kiyeo yeojachingu..” seru Hyukjae.

“Hentikan! Aku tidak suka dipanggil kiyeo!”

“There she is, my cool girlfriend is back.”

Tiba-tiba Sunghee merasa ingin menangis. Kenangan yang dibuat terlalu banyak. Tidak bisa dihapuskan begitu saja.

“Sangat disayangkan, Hee-chan. Hubungan kalian sudah bertahan selama 3 tahun. Sedangkan kau dan aku hanya 3 minggu.”

Hee-chan..

Sunghee ingat panggilan dia dan Hyukjae saat masih sekolah dulu. Awal-awal masuk SMA, saat mereka masih bocah, masih polos. Mereka berdua sangat menyukai manga. Makanya Hyukjae memanggilnya Hee-chan, dan Sunghee memanggilnya Hyuk-gun.

“Teringat masa lalu, Hee-chan?” Kyuhyun menatap Sunghee tajam.

“Hentikan, Kyu.” Sunghee memalingkan wajahnya.

“Ayolah. Kau selalu menangis di belakang. Aku ingin kau menangis saja kalau memang itu bisa melegakanmu. Ada aku di sini.”

Sunghee menggigit bibir bawahnya.

“Jangan buat aku menangis. Menangis tidak ada gunanya,” ucap Sunghee bergetar.

“Benarkah? Tapi aku melihatmu menangis saat kau meninggalkan Hyukjae di bandara. Lalu untuk apa tangis itu?” ucapan Kyuhyun menusuk jantung Sunghee. Tepat. Sunghee kembali mengingat kejadian itu lagi.

“Pesawatku sudah mau pergi. Sebaiknya aku berangkat sekarang.” Ucapan Sunghee memecahkan keheningan di antara mereka.

“Pelukan terakhir?” Hyukjae merentangkan tangannya.

“Tentu.” Sunghee menyambutnya.

“Aku tidak akan melupakanmu.”

Sunghee mengangguk. “Aku juga.”

“Saranghae.”

“Arasseo.”

“Kajima..”

Sunghee tersenyum. Ia melepaskan pelukannya. Helaan napasnya terdengar berat.

“Jadi…selamat tinggal.”

“Goodbye,” lirih Hyukjae. Begitulah. Sunghee pergi meninggalkannya sendirian di sana. Tapi Hyukjae tidak tahu, bahwa Sunghee melangkah sambil meneteskan air mata. Dan Sunghee tidak menghapusnya. Hyukjae akan menebak bahwa ia menangis jika ia mengangkat tangannya untuk menghapus air mata. Biarlah. Ada banyak hal yang perlu dirahasiakan.

Sesungguhnya, Sunghee berharap, kejadian saat itu bisa diputar balik.

“Kau sendiri dengan Hyoyeon, bagaimana?” Sunghee mengalihkan perhatian. Kyuhyun menatapnya agak lama sebelum menjawab.

“Biasa saja. Tidak ada chemistry.”

“Kau! Kau memainkan perasaan gadis itu!” Sunghee menatap Kyuhyun marah.

“Kenapa? Bukankah dia gadis yang mengambil Hyukjae-mu?”

“Tapi dia pernah menjadi pacar Hyukjae lebih dahulu. Aku hanya nomor dua.”

“Dan kau lihat sekarang Hyoyeon mengambil Hyukjae-mu, kan?”

“Dia bukan milikku.”

“Selalu begitu. Bisakah kau buang sifat cuekmu itu dan bertingkah centil seperti waktu SMA dulu?”

Sunghee menatap Kyuhyun tajam. Yang ditatap hanya memamerkan cengirannya.

“Aku melihatmu saat di arena drift, Sunghee sayang.”

“Oh, Gosh. Baiklah waktu itu aku memang bertingkah cute, tapi itu demi memperbaiki tarianku. Dan jangan panggil aku sayang, namaku masih Lee Sunghee.”

Kyuhyun tersenyum.

“Justru ini yang membuatku jatuh cinta padamu, Lee Sunghee. Kau berusaha tegar, tapi kau rapuh. Kau tampak apatis, tapi sebenarnya kau menangis.”

“Hentikan. Sebaiknya kau kembali ke kamarmu. Kau tidak ada gunanya di sini.” Sunghee menyelimuti tubuhnya dengan bed cover. Kyuhyun mendengus.

“Ck. Lagi-lagi kau membohongi perasaanmu. Baik, selamat tidur.” Kyuhyun melangkah keluar dan menutup pintu.

Sunghee menghela napas. Napas yang berat lagi. Setetes air mata menuruni pipi Sunghee. Ia tidak menghapusnya. Ia malah membiarkan tetesan yang lain terjatuh.

= = =

4 tahun kemudian..

“Autumn, pergi ke ruangan saya sekarang.”

“Baik, Herr Kaufmann!” Sunghee mengikuti atasannya memasuki ruangannya.

“Dimana Marcus?” tanya Kaufmann begitu mereka menginjakkan kaki di ruang kerjanya.

“Dia sedang latihan menembak. Haruskah aku memanggilnya?”

“Tidak usah. Tapi, setelah ini kau harus memberitahu Marcus Cho, okay?”

“Baiklah.” Sunghee mengangguk. Kaufmann duduk di kursinya yang nyaman, sementara Sunghee memilih berdiri di hadapannya.

“Besok kau dan Marcus akan dikirim ke Korea Selatan. Di sana kau harus menangkap pelaku penyerangan roket di Turki dua hari yang lalu. Pelakunya kabur ke Korea, kau harus menangkapnya. Ini berkas-berkasnya.” Kaufmann menyerahkan map berisi biodata si tersangka. Sunghee menerimanya.

“Baik. Permisi.” Sunghee undur diri dari hadapan Kaufmann. Ia melangkah keluar ruangan dan membiarkan pintu menutup otomatis. Sunghee tidak berniat untuk membuka map itu sekarang. Ia tidak berniat untuk kembali ke Korea. Negeri penuh kenangan, baik manis maupun pahit.

Kyuhyun benar. Ia berusaha tampil tegar, namun sebenarnya dia pengecut. Dia berusaha lari dari kenyataan, tidak mau menghadapi kenyataan pahit.

“Korea, huh?” Sunghee terlonjak kaget. Kyuhyun terkekeh.

“Kau mengagetkanku..” Sunghee mengelus dadanya kaget. Kyuhyun merebut map yang dipegang Sunghee dan membaca isinya.

“Jadi kita harus menangkap Volkan?” kata Kyuhyun masih sambil membaca.

“Ya.”

“Aneh sekali. Kabur ke Korea segala. Ya, nggak?”

“Ya..” lirih Sunghee.

“Aku tahu kau tidak mau melakukannya. Tapi apa daya, ini perintah bos, Sunghee. Dan kita sebagai agen professional tentu saja harus melakukannya.”

“Ya, aku tahu. Aku hanya sedikit syok saja.” Sunghee mendesah dan mengambil mapnya kembali. Ia melanjutkan langkahnya, diikuti oleh Kyuhyun di sampingnya.

“Siap untuk besok?” tanya Kyuhyun.

“Harus.” Sunghee menelan ludahnya susah payah.

= = =

Incheon Airport, 15:00 KST.

Sunghee berjalan di samping Kyuhyun dalam diam. Gadis itu terus menunduk. Ia tidak tergoda untuk melihat sekeliling, seperti yang Kyuhyun lakukan sedari tadi.

“Tidak banyak berubah. Masih sama seperti dulu,” komentar Kyuhyun. Sunghee menghela napas.

“Tempatnya sama, keadaannya sudah berbeda.” Sunghee memberanikan diri untuk melihat sekeliling juga. Ia sedikit terkejut. Sebuah perasaan haru dan rindu timbul di hatinya. Ia sangat sangat merindukan negeri ini. Sangat merindukan apa yang terjadi di sini.

“Ayo cepat ke hotel. Malam ini kita harus mencari keberadaan Volkan.”

Sudah 3 hari mereka berada di Korea, namun yang dicari belum ketemu juga. Kyuhyun dan Sunghee sudah berputar-putar kesana kemari. Dari kota ini ke kota itu, desa ini ke desa itu. Namun, tetap saja usaha mereka belum membuahkan hasil.

“Baiklah, Kyuhyun, kau ada ide kita harus kemana lagi?” Sunghee menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Kyuhyun duduk di sebelahnya. Ia membuka kemejanya yang basah oleh keringat.

“Entahlah, Sunghee. Ini sudah hari ke-8. Kaufmann sudah marah-marah.” Kyuhyun rebahan di samping Sunghee. Mereka berdua terdiam. Sibuk oleh pikiran masing-masing.

“Malam ini, bagaimana kalau kita mencari si Volkan itu?” ujar Sunghee pelan, nyaris berbisik.

“Hah?” Kyuhyun menoleh. “Kau yakin? Seharian ini kita berputar-putar mencarinya, dia tetap tidak terlacak. Kita bahkan baru istirahat sekarang.”

“Yakin 100%. Aku yakin ia bergerak di malam hari. Entah kenapa aku punya feeling dia akan kita temukan malam ini.”

“Baik, baik. Kuharap feeling-mu benar, Sunghee.”

“Kau mandi duluan. Setelah makan kita siap-siap berangkat.”

“Oke.” Kyuhyun bangkit berdiri dan mengambil bajunya dari lemari yang ada di kamar hotel mereka. Mereka memang sengaja menyewa satu kamar hotel untuk mempermudah pencarian. Kyuhyun tidak perlu pergi ke kamar Sunghee jika suatu hal penting terjadi. Ia cukup membangunkan gadis itu saja. Hemat waktu dan energi.

Sementara Kyuhyun mandi, Sunghee disibukkan dengan pikirannya sendiri. Selama ia berada di Korea, pikirannya tak henti tertuju pada Hyukjae, lelaki yang sempat dan masih dicintainya hingga sekarang. Sunghee meraih ponselnya, melihat-lihat kontak. Gerakan tangannya terhenti ketika nama Hyukjae terlihat. Sunghee terdiam lama. Ia sangat merindukan lelaki ini. Amat sangat rindu sampai-sampai melihat namanya saja membuat jantung Sunghee berdebar tak menentu.

Entah berapa lama Sunghee terdiam seperti itu sampai-sampai Kyuhyun sudah menyelesaikan mandinya.

“Sunghee, mandi sanah!” katanya.

Sunghee yang terkejut tak sengaja menekan tombol call. Sunghee gelagapan dan segera memutuskan sambungan sebelum Hyukjae mengangkatnya. Sunghee menggigit bibir bawahnya. Tangannya tiba-tiba lemas, gemetaran.

“Kamu kenapa?” tanya Kyuhyun heran. Tangannya sibuk menghanduki rambutnya yang basah.

“T-tidak apa-apa. A-aku akan mandi sekarang.” Sunghee bergegas mandi. Kyuhyun meraih ponsel Sunghee. Ia tersenyum tipis melihat nama Hyukjae di riwayat panggilan.

“Aish, pabo.” Kyuhyun menghapus riwayat tersebut dengan kesal.

= = =

Hyukjae yang sedang asyik berkencan dengan Hyoyeon terpaksa merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya yang bergetar. Tapi, baru saja ponselnya berhasil dikeluarkan dari saku, panggilannya sudah berhenti. Hyukjae tertegun melihat nama pemanggil. Langkahnya terhenti. Hyoyeon yang berjalan di sampingnya menatapnya heran.

“Telepon dari siapa?” tanyanya.

“Salah sambung kali.” Hyukjae mengedikkan bahu dan memasukkan ponselnya ke saku celana. Ia kembali melanjutkan langkahnya. Tapi otaknya langsung tertuju pada gadis itu. Gadis yang sulit sekali dilupakannya.

Mungkinkah ia ada di Korea sekarang? Bersama siapa? Ada dimana dia?

Jujur, Hyukjae masih menyimpan setitik rasa untuk Sunghee. Ia masih mengharapkan gadis itu untuk kembali. Kembali berjalan di sisinya, tertawa bersamanya, menangis di pelukannya. Meskipun hal yang terakhir hanya dilakukan satu kali, ketika mereka berhasil lulus SMA dengan nilai memuaskan. Tapi itu air mata bahagia. Sunghee tidak pernah menangis sedih di hadapannya.

Hanya dengan melihat nama Sunghee, perasaan Hyukjae sukses dibuat campur aduk. Ia bahkan lupa ia sedang berkencan bersama tunangannya. Sebentar lagi mereka akan menikah, tapi yang Hyukjae ingat hanyalah Sunghee.

= = =

Kyuhyun menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Sekarang waktu menunjukkan pukul 10 malam. Sunghee mengamati dari dalam mobil.

“Itu si Volkan sialan, kan?” bisik Sunghee sambil menunjuk ke suatu arah. Kyuhyun memicingkan matanya. Ia lalu menyamakannya dengan yang di foto.

“Kelihatannya begitu. Postur tubuhnya mirip.”

“Kau siap, Kyuhyunnie?”

“Selalu.”

Mereka berdua keluar dari mobil. Pistol sudah siap di genggaman mereka. Mereka dengan cepat membekuk Volkan dan bawahannya. Mereka sempat terlibat perkelahian. Suara tembakan menggelegar membelah malam. Warga sekitar menjerit dan mencoba berlindung.

Para anak buah Volkan berhasil ditangani. Kyuhyun tersungkur di tanah, pundak kanannya terkena tembakan. Sekarang tinggal Sunghee yang sedang menodongkan pistolnya ke arah Volkan, dan Volkan yang menodongkan pistolnya ke arah Sunghee.

“Menyerah saja, Volkan.” Sunghee bersiap untuk menekan pelatuk pistolnya.

“Tidak semudah itu.” Volkan tersenyum setengah. Ia lalu menembakkan pistolnya. Sunghee berhasil menghindar. Mereka terlibat perkelahian satu lawan satu. Berkali-kali perut Sunghee terkena pukulan Volkan. Berkali-kali pula Sunghee berhasil membalas serangan.

“Lee Sunghee?!” seruan seorang pria membuat dunia Sunghee berantakan. Suara itu jelas sangat dikenalnya meskipun sudah 4 tahun lamanya ia tidak mendengarnya. Tentu saja ia ingat, suara itu melekat di otaknya.

Sunghee menurunkan senjatanya dan berbalik. Jantungnya serasa berhenti ketika melihat Hyukjae berada 50 meter di hadapannya, menatapnya. Tatapannya sulit diartikan. Antara terkejut, kagum, heran, rindu, senang, dan sebagainya.

Sunghee tersenyum.

“Hai, sepertinya ucapan selamat tinggalku dulu sia-sia ya?” ujar Sunghee santai. Atau berusaha santai. Sejujurnya, tubuhnya lemas dan gemetaran.

“Lee Sunghee, kenapa kau melakukannya? Sebenarnya…kau siapa?”

“Tidak penting.” Sunghee mengarahkan pistolnya ke leher. Kyuhyun terperangah. Hyukjae lebih-lebih. Ia berjalan cepat ke arah Sunghee.

“Jangan mendekat!” seru Sunghee. Setetes air mata terjatuh menuruni pipinya. Hyukjae terpaku di tempatnya.

“Sunghee, kumohon jangan! Aku..aku masih ingin bertemu denganmu!”

“Percuma.” Sunghee tersenyum. Tetesan air mata lainnya menyusul. “Seperti mencoba bercermin di pesawat berkecepatan cahaya. Percuma saja, tidak akan ada hasilnya.”

“Ada! Setidaknya kita tahu apa yang menyebabkan bayangan kita tidak terpantul. Jadi tidak ada yang sia-sia di antara kita, Sunghee.” Hyukjae menatap Sunghee sedih.

“Tapi sekarang keadaannya lain.” Sunghee menelan ludahnya. Tangannya bersiap menarik pelatuk pistolnya.

“Jadi…selamat tinggal..” Sunghee bersiap menarik pelatuknya, namun peluru lain sudah tertembak terlebih dahulu. Tepat mengenai dada Sunghee. Hyukjae terperangah. Sunghee berbalik, ia menembak Volkan, tepat mengenai kepala. Pria itu tewas seketika. Sunghee terjatuh, napasnya tinggal satu dua.

“Aku…masih punya…waktu 20 detik..Hyukjae-sshi…aku..masih..mencinta..imu..” Sunghee memejamkan matanya. Hyukjae sontak meraih tubuh mantan gadisnya dan merengkuhnya. Air matanya menetes.

“Sunghee yah…Sunghee yah..” Suara Hyukjae bergetar karena tangis.

“SUNGHEE YAH!! IREONA!! BANGUNLAH!!” seru Hyukjae. Kyuhyun cepat-cepat menelepon ambulans. Hyoyeon melangkah mendekati Hyukjae. Ia menutup mulutnya ketika melihat tubuh Sunghee diguncang-guncang oleh Hyukjae yang menangis. Hyoyeon jatuh terduduk. Masih tak percaya melihat pemandangan di hadapannya.

“Hyo.” Kyuhyun menggenggam tangan Hyoyeon dan menariknya menjauh.

“Kyuhyun..dia..” Hyoyeon menatap Sunghee dari kejauhan.

“Biarkan saja. Dia memang bodoh. Berusaha tegar tapi lari dari kenyataan.” Ucapan Kyuhyun setenang matanya. Namun ketenangan itu hilang ketika setetes air mata terjatuh dari mata kanannya.

“Tapi dia tidak bunuh diri! Dia dibunuh, kan? Laki-laki itu yang menembaknya! Ya Tuhan, Sunghee..” Hyoyeon menutup mulutnya lagi. Masih merasa tak percaya.

Tak lama kemudian, ambulans datang. Sunghee segera ditangani. Hyukjae terus-terusan menggenggam tangan Sunghee, mengajak Sunghee bicara. Kyuhyun dan Hyoyeon menyusul ke rumah sakit. Hyoyeon tertegun melihat calon suaminya tampak sangat frustrasi. Ia duduk di bangku depan kamar, meremas-remas tangannya sambil berkomat-kamit memanjatkan do’a. Saat itu Hyoyeon tersadar, lelakinya masih mencintai Sunghee.

Hyoyeon duduk di sebelah Hyukjae, mencoba menenangkannya. Kyuhyun sedang ditangani oleh dokter. Ia harus dioperasi untuk mengeluarkan peluru yang masuk ke pundaknya.

“Hyo…kalau Sunghee pergi sekarang..bagaimana?” tanya Hyukjae. Hyoyeon hanya diam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

“Sepertinya, 4 tahun tanpa berkomunikasi dengannya juga merupakan latihan. Pertama, kami tidak berkomunikasi selama sehari, lanjut ke 3 bulan, lalu 4 tahun, dan sekarang mungkin puncaknya? Untuk selamanya?”

“Hentikan.” Hyoyeon menggigit bibir bawahnya, menahan tangis.

“Menangislah. Aku sudah melihatmu menangis beberapa kali. Tapi Sunghee…gadis itu hanya menangis karena sedih tadi. Barusan saja. Padahal aku sudah mengenalnya lama..”

“Aku bilang hentikan, Oppa!” Hyoyeon tidak bisa menahan tangisnya lagi.

“Mianhae.” Hyukjae meraih Hyoyeon ke pelukannya.

2 jam kemudian, operasi Sunghee belum juga selesai. Kyuhyun sudah bersama dengan mereka. Pundaknya diperban. Kyuhyun menolak untuk dirawat. Ia sudah biasa terluka seperti ini. Sudah sering. Seperti makanan sehari-hari.

“Kau tahu kenapa Sunghee memutuskanmu, Hyukjae?” tanya Kyuhyun. Hyukjae menatap Kyuhyun dan menggeleng.

“Karena dia mencintaimu,” lanjut Kyuhyun. Hyukjae terdiam.

“Dia tidak mau kau terseret ke kehidupannya sekarang. Dia tidak mau kau terlibat dalam bahaya. Makanya dia mengucapkan selamat tinggal, karena ia takut bertemu denganmu. Takut tidak bisa mengendalikan perasaannya dan mengacaukan semuanya.” Kyuhyun menatap Hyukjae. Yang ditatap hanya menunduk. Hyoyeon terdiam. Dia tidak suka pembicaraan ini.

“Kau tahu? Selama 4 tahun ini ia selalu membohongi diri sendiri. Bilang sudah tidak mencintaimu, hanya menganggapmu teman, tapi ketika ia salah menelepon nomormu, tangannya langsung gemetaran dan lemas. Dia ketakutan. Takut perasaan yang sudah rapi dipendamnya selama 4 tahun ini terkuak kembali.” Kyuhyun menghela napas.

“Dia memang tidak pernah menangis di hadapanmu, tapi di belakang, dia sering menangis untukmu.”

Air mata Hyukjae menetes kembali.

“Lalu kenapa..kenapa dia harus memilih pekerjaan yang berbahaya?” tanya Hyukjae akhirnya.

“Karena ia ingin menggantikan kakaknya yang meninggal,” kata Kyuhyun datar.

“Lee Sungmin?”

“Ya. Dia sempat menitipkan Sunghee padaku, maka dari itu aku menjaganya. Maafkan aku, Hyoyeon.” Kyuhyun menatap Hyoyeon dengan pandangan penuh penyesalan. Hyoyeon hanya mengangguk.

“Sunghee pernah berkata padaku, ‘Putus hanyalah sebuah kata. Kata itu tidak berarti apa-apa bagiku. Karena, hanya statusnya saja yang berubah, tapi perasaannya tetap sama. Dan kita menikah karena perasaan, bukan karena status’. Artinya, ia masih mencintaimu dan mengharapkanmu. Hanya saja keadaannya tidak memungkinkan. Itu saja. Tampak sederhana.” Kyuhyun menatap pundaknya yang diperban.

Percakapan mereka terhenti ketika dokter keluar dari ruang operasi. Hyukjae segera memberondonginya dengan pertanyaan. Dokter itu tersenyum.

“Maaf..”

Hyukjae tersentak. Ia nyaris terjatuh saking lemasnya.

“…dia bisa diselamatkan.” Dokter itu menepuk pundak Hyukjae. Hyukjae menganga sepersekian detik. Senyumnya lalu mengembang.

“Benarkah? Sunghee selamat?” seru Hyukjae senang. Kyuhyun tampak takjub.

“Ya. Sunghee ingin hidup. Itu yang membuatnya selamat.” Dokter itu pun berlalu pergi. Hyukjae jatuh terduduk. Air mata bahagia menetes. Senyumnya masih mengembang. Hyoyeon berlutut dan memeluknya erat. Mereka berpelukan dalam haru.

“Syukurlah…syukurlah dia selamat,” ucap Hyoyeon.

Kyuhyun menatap pintu ruang operasi. Sunghee masih berada di sana.

“Kurasa kau tersindir, Sunghee. Makanya kau tidak mau lari dari kenyataan. Ya, kan?” Kyuhyun tersenyum.

THE END

31 thoughts on “[FF] Run Away

  1. vidiaf says:

    deminya sunbae aku bacanya tegang sendiri ;~~;
    apalagi pas sunghee dibawa ke rumah sakit..
    asli aku kira sunghee bakal sama kyu, tau-taunya…….. XDD
    aku suka. pake banget!!!!
    ada lanjutannya lagi ga sunbae?

  2. aminocte says:

    kya kya..bagus banget walaupun gantung, untung sunghee selamat😀

    kyu evil tapi bijak.. keren, pas awal2 ketemu sunghee dia annoying banget, makin ke belakang makin bijak aja

    doh, kasian sama hyuk nangis terus, cep cep cep

    oya, ada kritik dikit nis, harusnya hyuk-kun bukan hyukgun, soalnya kun artinya panggilan buat cowok, tapi gun artinya army/force/troops😀

    penasaran nih hyukhee balikan lagi nggak ya?

    • sungheedaebak says:

      ehe ehe kayaknya bakal ada lanjutannya. saya author labil, pengen hyukhee putus tapi begitu putus dibikin menderita wahahaha saya jahat sekali #evillaughsambilnangisnyesek

      iya aku suka kyuhyun di sini hahaha😄

      gun itu kalau gak salah bahasa korea da…ini kalau gak salah sih soalnya panggilan hyukjae itu emang hyukgun hehehe ^^v

      hmmm kita lihat nanti nyahahahaha

  3. MinGi says:

    Oke ini dengan yang diatas ‘dees9’ asli kok liat emailnya aja kekeke~
    iya 24 kmarin🙂 ah smaan sm ibumu? Bnrkah? Smpaikan slamat ultah untuk beliau dariku😀
    nama asliku ifit, namkornya Shin Min Gi🙂 gomawo

  4. Raechanyz says:

    Ini….
    Ini…..
    Ini….
    KEREEEEEENN!! :3 HAHAHHAAHHA~
    SAYA SUKA HYUKJAE MENDERITA!! muahahaha *bletak*
    suka bgt sama karakter sunghee yang dingin diluar, unyu di dalem (?) LOL xD
    aah, pingin bikin cerita angst yang mengharukan kayak gini deh u.u
    lanjuuuttsss!! *ketagihandehgue* huahahahhahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s