[FF] Invisible Communication


Sunghee memandang keluar jendela. Rintikan hujan tanpa absen mengguyur rumahnya setiap hari. Maklum, musim hujan. Tapi meski begitu, Sunghee sering lupa membawa payung. Akibatnya ia harus rela menunggu di kampusnya sampai hujan reda. Tapi Sunghee bersyukur kali ini ia berada di dalam rumahnya, mengerjakan tugas, jadi ia tidak perlu menunggu hujan reda karena ia tak berencana mau pergi ke manapun.

Sunghee melangkah ke arah meja belajarnya dan mulai mengetik kembali. Hampir setiap 5 menit sekali ia menguap. Sunghee tahu ia belum tidur sejak jam 12 malam tadi. Dan sekarang sudah jam 4 sore. Pantas saja Sunghee mengantuk.

Saat Sunghee hendak membuka halaman buku referensi tugasnya, ponselnya berdering. Ia meraih ponselnya dengan malas dan menjawab telepon.

“Yobeo?” ujar Sunghee singkat.

“Aku bukan suamimu! Sunghee yah, aku minta bantuanmu ya?” kata suara di seberang.

“Bantuan apa?”

“Hyukjae sakit. Tolong rawat dia sementara aku pergi kuliah.”

“Kamu kuliah sore?” Sunghee mengernyitkan kening.

“Nggak, mau ke rumah dosen minta tambahan nilai.”

“Dosen mana?”

“Itu si Jaehee Ahjumma. Nilaiku kan jelek terus di mata kuliahnya. Makanya aku disuruh bimbingan bersama anak-anak yang lain.”

“Oh si Jaehee. Ya sudah hati-hati, kamu tidak sendiri kan ke sananya?”

“Tidak kok. Kibum juga ada.”

“Lah dia kan asdos? Ikut bimbingan juga?”

“Bukan, dia yang bantu Jaehee Ahjumma.”

“Oke, Donghae. Aku akan ke apartemenmu secepatnya.”

“Sekarang ya. Kasihan dia panasnya tinggi. Kalau saja aku tidak ada bimbingan, aku tidak akan merepotkanmu.”

“Tidak,tidak. Sebagai kekasih yang baik, aku harus melakukannya. Terima kasih, Donghae.”

“Ya. Makasih ya, Sunghee.”

Telepon dimatikan Sunghee. Ia meregangkan ototnya. Ia menarik napas dalam.
“Baiklah, Jaehee Ahjumma, kau mengganggu hari liburku.” Sunghee mematikan notebook-ya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia merapikan penampilan alakadarnya dan bergegas pergi ke apartemen Donghae dan Hyukjae. Sungmin yang berpapasan dengannya di lantai bawah menyapanya.

“Mau kemana?” tanyanya.

“Ke apartemen kekasih tercinta.”

“Hujan lho. Bawa payung?”

“Bawa mobil.”

“Ya tapi kan harus bawa payung juga. Pabo! Nih, pakai payungku. Kamu ini selalu saja lupa bawa payung. Sekalinya bawa pasti ketinggalan.” Sungmin menggerutu sambil menyerahkan payung basah yang baru dipakainya. Sunghee nyengir dan menerima payung tersebut.

“Thank you, my lovely brother. Muah.” Sunghee mengedipkan sebelah matanya dan bergegas pergi. Sungmin menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.

“Oh ya, Oppa, aku baru ingat! Tadi aku menyalakan air di kamar mandi kamarku dan aku lupa mematikannya, tolong kamu matikan ya. Annyeong!” Sunghee melambai.

“YAH! Dasar pelupa!” gerutu Sungmin. Dia cepat-cepat berlari ke kamar mandi dan mematikan keran air.

Di perjalanan, Sunghee menyempatkan diri untuk membeli obat-obatan dan bahan-bahan untuk membuat Sup Ayam Jamur. Hyukjae suka sup buatannya. Dia pasti senang jika Sunghee memasakkannya untuknya.

Sampai di apartemen, Sunghee langsung masuk ke rumah. Ia sudah tahu kode apartemen kekasihnya, jadi dia tidak perlu merepotkan Hyukjae.

Sunghee menatap ke sekeliling. Dia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendecak.

“Berantakan. Khas cowok. Kalau Hyukjae sehat, dia pasti tidak akan tinggal diam.” Sunghee meletakkan belanjaannya di dapur dan berjalan menuju kamar Hyukjae. Ia membuka pintu yang sudah terbuka sedikit. Hyukjae ada di sana. Di atas kasurnya. Hyukjae sedang tertidur, tapi wajahnya terlihat tidak tenang.

Sunghee melangkah masuk dan menyentuh kening Hyukjae perlahan. Ia menggeleng pelan lalu berjalan ke kamar mandi. Dia kembali sambil membawa sebuah baskom air hangat dan sehelai handuk. Ia mengompreskannya ke kening Hyukjae. Sunghee mengelus rambut Hyukjae lembut, menyingkirkannya dari kening Hyukjae.

“Keringat dingin..” lirih Sunghee sambil membersihkan tangannya dari keringat Hyukjae.

Sunghee meletakkan obat dan segelas air di meja samping tempat tidur Hyukjae. Ia pergi ke dapur dan mulai memasak. Sebenarnya Sunghee tak pandai memasak. Sehari-hari ia hanya membeli makanan pesan antar atau kalau sedang hemat, hanya memakan ramen. Sungmin memang suka memasakkan makanan untuknya, tapi itu hanya dua kali seminggu. Sungmin juga sibuk, sama sepertinya.

Maka dari itu Sunghee belajar memasak saat kesehatannya mulai terganggu karena terlalu sering mengonsumsi junk food. Masakan pertama yang Sunghee bisa buat adalah Sup Ayam Jamur. Dan Hyukjae menyukainya.

Setelah selesai, Sunghee belum menghidangkan sup-nya ke mangkuk. Ia menunggu Hyukjae untuk bangun dan memakannya hangat-hangat. Ia masih bisa menghangatkan sup-nya nanti, kalau dihidangkan ke mangkuk kan jadi lebih cepat dingin.

Sunghee melangkah masuk ke kamar Hyukjae. Cowok itu masih tertidur pulas. Wajahnya terlihat lebih tenang. Sunghee tersenyum dan mengambil handuk basah yang sudah mulai dingin. Dia mengganti kompresannya dengan yang baru.

“Tidur yang nyenyak ya. Cepat sembuh.” Sunghee tersenyum dan berjalan ke luar. Ia duduk di sofa ruang TV dan menyalakan notebook-nya. Sekarang sudah jam 5 dan tugasnya belum selesai juga. Merangkum 1 buku referensi memang melelahkan. Apalagi bukunya tebal, namanya juga buku referensi.

“1 jam sudah terbuang. Ayo, Sunghee, himnae!” Sunghee mengepalkan tangan dan memosisikan jemarinya di atas tombol-tombol huruf itu. Tapi, Sunghee tertegun. Ia lupa membawa bukunya.

“Yah! Aku baru saja bersemangat!” Sunghee terkejut dan segera menutup mulutnya dengan tangan. Ia melirik ke arah kamar Hyukjae. Tenang. Sepertinya Hyukjae tidak terbangun karena mendengar seruannya.

“Oke..ayo kita positive thinking. Donghae satu jurusan denganku, dia pasti punya buku referensi itu.”

Sunghee melangkah ke arah rak buku dan mencari-cari buku yang dicarinya. Namun tiba-tiba, ia teringat sesuatu.

“Sialan! Bukunya pasti dibawa Donghae tadi. Aish..” Sunghee mengacak rambutnya kesal. Tugas yang sedang ia kerjakan tadi juga merupakan tugas dari Jaehee, dosennya. Nilai tesnya jelek, makanya dia harus membuat tugas perbaikan. Tapi hanya satu kali nilainya jelek, makanya dia tidak perlu mengikuti bimbingan.

Sekarang apa yang mau dilakukannya? Berdiam diri dan menunggui Hyukjae? Tapi Sunghee tidak bisa melakukannya. Ia harus melakukan sesuatu. Apalagi masih ada satu bab yang tersisa. Hanya satu bab tapi itu bab yang paling tebal.
Sunghee menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan posisi rebahan. Ia menatap langit-langit dengan kosong. Ia melirik notebook-nya. Gadis itu mendecak kesal sebelum menyalakan musik instrument lembut dari notebook-nya.

“Aku butuh rileks..” Sunghee menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Dari kaca besar di belakang TV, Sunghee bisa melihat hujan rintik-rintik belum berhenti juga. Sunghee melamun. Matanya masih mengarah ke jendela. Sunghee kembali menguap. Kali ini kantuknya tak tertahankan. Ia tertidur di sana.

= = =

Hyukjae membuka matanya perlahan. Peningnya sudah mulai hilang karena tidur. Hyukjae bangkit untuk duduk. Sehelai handuk basah terjatuh di pangkuannya. Hyukjae mengambil handuk itu sambil mengernyit. Rasanya tadi Donghae tidak mengompresku, pikirnya.

Ia menoleh ke meja di sampingnya. Sudah tersedia segelas air minum dan sebutir obat. Ia meraih kertas yang diletakkan di samping gelas.

Minum ini setelah makan Sup Ayam Jamur buatanku ya. ^^ Himnaeyo, Hyukie! Saranghae~

Senyum merekah di bibir Hyukjae. Rasanya sakitnya sudah sembuh seketika. Ia beranjak berdiri dan berjalan ke luar kamar. Senyumnya semakin lebar ketika melihat gadisnya sedang tertidur di sofa ruang TV. Hyukjae kembali ke kamar dan mengambil selimut. Ia lalu menyelimuti tubuh Sunghee yang kedinginan.

Hyukjae berjongkok di samping Sunghee. Ia menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Sunghee. Hyukjae tersenyum hangat.

“Gomawo.” Hyukjae mengecup pucak kepala Sunghee. Ia menoleh ke arah notebook Sunghee yang masih terbuka. Sekarang berada dalam keadaan stand by karena didiamkan terlalu lama. Hyukjae melihat-lihat hasil kerja Sunghee.

Ini kan tugas dari Jaehee-saem? Kalau tugas ini sih aku juga pernah membuatnya.

Hyukjae tersenyum dan mengambil notebook Sunghee. Ia duduk di sofa single dan mulai mengerjakan tugas Sunghee. Kebetulan ia punya cetakan tugasnya kemarin. Jadi tidak perlu merangkum lagi.

“Hanya satu bab. Tidak masalah kan, Sunghee?” Hyukjae tersenyum dan mematikan notebook Sunghee. Ia membiarkan notebook itu terbuka di meja, posisinya sama seperti tadi.

Hyukjae menoleh ke luar jendela. Hujan sudah berhenti, tapi awan masih mendung. Hyukjae tiba-tiba teringat sesuatu. Ada dua buah payung Sunghee yang tertinggal di apartemennya. Ia mengambil payung-payung tersebut dan meletakkannya di samping notebook Sunghee. Hyukjae lalu melihat sekeliling. Berantakan.

“Ah, aku rindu melakukannya.” Hyukjae mulai membereskan apartemennya. Barang-barang yang berserakan ia letakkan pada tempatnya. Hyukjae tidak habis pikir dengan Donghae. Tangan cowok itu selalu saja merusakkan barang, selalu saja membuat apartemen mereka berantakan. Kalau mereka bukan sahabat, dan mereka tidak sepakat untuk menyewa satu apartemen bersama-sama, Hyukjae pasti sudah menendang cowok itu jauh-jauh.

Bayangkan saja, aku baru saja merapikan ini kemarin. Sekarang sudah berantakan lagi. Ckckck..Donghae..Donghae..

Sampai di dapur, Hyukjae membuka panci yang diletakkan di atas kompor. Ia membuka tutupnya. Ternyata sup buatan Sunghee. Hyukjae ingin memakan sup ini bersama Sunghee, tapi gadisnya itu sedang terlelap. Ia pasti kecapekan. Makanya Hyukjae menghangatkan sup itu dan memakannya sendirian. Tapi rasanya tetap lebih enak, karena ia memakannya sambil terus menatap Sunghee yang tertidur.

Jam 7 malam, Donghae sampai di apartemen. Tadinya ia sudah mau heboh menyambut Hyukjae yang sudah sembuh, tapi mulutnya langsung dibekap Hyukjae.

“Ssst, Sunghee lagi tidur!” bisik Hyukjae. Donghae melirik ke arah sofa dan mengangguk paham. Hyukjae melepaskan bekapannya dan tersenyum.

“Kekuatan cinta memang besar ya?” bisik Donghae. Hyukjae nyengir.

“Sudah makan?” tanya Hyukjae. Donghae menggeleng.

“Di rumah Jaehee Ahjumma mana bisa makan?” ujarnya ketus.

“Kalau begitu, makan gih. Ada Sup Ayam Jamur buatan Sunghee, masih sisa dua porsi.”

“Bagus! Aku cinta Sunghee!” Donghae kabur ke dapur. Donghae yang biasa rusuh nyaris menjatuhkan tutup panci. Untung saja Hyukjae cepat menangkapnya.

“Yah, hati-hati!” Hyukjae menggeram kesal. Donghae hanya nyengir dan mulai melahap supnya.

“Sunghee pulas sekali tidurnya. Padahal dari tadi kita berisik,” ucap Donghae tidak jelas.

“Telen dulu!” Hyukjae mendengus dan duduk di seberang Donghae.

“Kayaknya dia kecapekan.” Donghae tidak menggubris dan terus mengunyah sambil bicara.

“Hm. Hae, toko cheesecake yang dekat perempatan jalan depan sana masih buka, nggak?”

“Kayaknya masih. Kenapa?”

“Titip Sunghee ya.” Hyukjae bergegas keluar apartemen.

“Mau kemana?” Pertanyaan Donghae tidak dijawab. Hyukjae sudah menghilang. Donghae tersenyum.

“Dasar…pasangan menggemaskan ini membuat iri saja.” Donghae melirik Sunghee yang masih tertidur.

“Sup-nya keasian, Hee.” Meski begitu, Donghae tetap melahap sup tersebut.
Setengah jam kemudian, Sunghee terbangun. Donghae menyapanya.

“Annyeong, Sunghee. Terima kasih ya sudah merawat Hyukie dan membuatkan sup. Sup-nya enak lho meski sedikit keasinan.”

“Oh, jinja?” Sunghee terduduk sambil terkejut. “Tapi nggak keasinan banget, kan?”

“Nggak kok. Mashida!” Donghae mengacungkan jempol. Sunghee tersenyum lega.

“Hyukie sudah makan?”

“Sudah. Dia sekarang lagi keluar.”

“Hah? Terus sakitnya gimana? Memangnya dia sudah sembuh?” Sunghee khawatir.

“Tenang saja. Dia sudah sembuh karena kekuatan cintamu. Hahaha.” Sunghee tersipu mendengarnya.

“Baguslah kalau begitu. Aku harus pulang sekarang.” Sunghee membereskan barang-barangnya.

“Lho? Gak mau menunggui Hyukie dulu? Sebentar lagi dia pasti datang.”

“Ah, nggak usah. Sekarang sudah malam, Sungmin Oppa pasti khawatir. Nanti juga pasti papasan sama Hyukie di jalan. Sudah ya, aku pulang dulu. Annyeong!”

“Baiklah. Hati-hati ya.”

“Oke!”

Tapi ternyata mereka tidak berpapasan di jalan. Ketika Hyukjae sampai di apartemen, ia kecewa karena Sunghee sudah pulang.

“Sudah cheesecake-nya buatku saja.” Donghae menadahkan tangannya.

“Enak aja! Kan bisa dikasihkan besok.” Hyukjae memeletkan lidahnya. Donghae mencibir.

“Segitunya deh. Pacar ada, sahabat ditinggal.”

“Tenang, tenang. Nih buat kamu.” Hyukjae memberikan sepotong Green Tea Cheesecake pada Donghae.

“Wah? Seriusan?” Donghae menerimanya dengan takjub. Pasalnya, Hyukjae adalah orang yang sangat pelit. Untuk pacarnya sendiri saja dia jarang sekali mentraktir. Apalagi untuk sahabatnya?

“Sebagai ucapan terima kasih sudah merawatku. Mau nggak? Kalau nggak mau ya sudah buatku saja.” Hyukjae hendak mengambil kembali kotak cheesecake di tangan Donghae, tapi cowok itu menepisnya.

“Mau mau! Makasih ya, tumben baik.” Donghae menjulurkan lidah dan kabur ke kamarnya.

“Bocah! Aku sudah baik-baik mau ngasih, balasannya malah begini!”

“Kalau kamu minta balasan berarti kamu nggak ikhlas ngasihnya. Gimana sih?”

“Iya terserahmulah.” Hyukjae tersenyum. Ia tertegun melihat tiga buah payung yang terletak di atas meja.

“Sunghee..Sunghee..lagi-lagi ketinggalan payung.”

= = =

“Aku pulang!” seru Sunghee.

“Darimana saja? Sekarang sudah jam setengah 9!” Sungmin berkacak pinggang.
“Tadi ketiduran di sana. Hehehe..”

“Payung yang tadi kukasih mana?” Sungmin menadahkan tangan ke arah Sunghee.

“Hah? Payung apaan?” Sunghee menganga. Wajahnya tampak blo’on.

“Ya ampun, Lee Sunghee! Jadi kamu ninggalin payung lagi?! Hah?!”

“Ya ampun, Lee Sungmin! Jadi payung yang itu?! Ahahaha…maaf aku lupa. Sori yaa hahahaha!”

“Dasar! Malah ketawa! Itu payung terakhir tahu! Kalau besok hujan gimana, hah?”

“Ya paling basah.” Sunghee mengangkat bahu sambil tersenyum mengejek. Sungmin gemas sekali dengan adiknya yang satu ini. Ia ingin mencubit adiknya, namun gadis itu sudah hilang dari pandangan.

Sunghee menyalakan notebook-nya kembali. Ia tertegun ketika melihat tugasnya sudah selesai.

“Siapa yang mengerjakannya? Masa Donghae?” Sunghee mengusap dagunya sambil berpikir keras. Ia membaca rangkuman-yang-tidak-tahu-dibuat-oleh-siapa itu sekali lagi. Ia mengobrak-abrik tasnya. Secarik kertas terjatuh. Ia memungutnya dan membacanya.

Gomawoyo, Lee Sunghee. Aku mengerjakan tugasmu. Hanya satu bab tidak masalah, kan? Saranghae ^^ Oh ya, tadi aku bermimpi indah sekali. Aku melihatmu di mimpiku, eh ternyata kau benar-benar datang. Hahaha, gomawo.
Sunghee tersenyum. Ia menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur dan membaca tulisan di kertas itu berulang-ulang. Nada dering ponselnya membuyarkan fantasi Sunghee. Ia menatap layar ponselnya. Sunghee tersenyum lebar.

“Yeobo?”

“Ahahaha kau tidak berubah, jagiya! Donghae bilang kau memanggilnya ‘yeobo’ juga.”

“Hyukie! Hehe, aku hanya menyingkat kata ‘yeobosaeyo’ kok.”

“Arasseo. Tadi kalau kau menunggu sedikit lebih lama saja, aku bisa bertemu denganmu di dunia nyata. Besok-besok kan kita sibuk sampai sulit bertemu. Aku kan masih merindukanmu.”

“Uhm well, terkadang kita tidak perlu menatap wajah orang yang kita rindukan untuk melepas rindu, kan? Ada hal-hal yang jauh lebih bermakna bila tidak ada dialog di dalamnya. Ya, seperti kita tadi. Aku rasa…tanpa bicara satu sama lain, tadi kita sudah berinteraksi.”

“Ya, kau benar. Meskipun hubungan timbal-baliknya tak kasat mata, tapi aku bisa merasakannya.”

“Aku juga. Dan..terima kasih sudah mengerjakan tugasku.”

“Tidak masalah. Itu kuambil dari tugasku sendiri. Kata-katanya ada yang kuubah sedikit, maaf kalau hasilnya tidak memuaskan.”

“Memuaskan kok. Bagus. Kata-katanya bagus, penulisannya rapi. Kau hebat.”

“Ah, bukan apa-apa. Oh ya, payungmu ketinggalan lagi.”

“Iya hehehe aku lupa.”

“Besok aku antarkan ya. Aku punya sesuatu untukmu.”

“Jinja? Gomawoyo.”

“Besok..pertemuan terakhir kita kah?”

“Hm…bukan.” Sunghee mendadak terdiam. Ia harus pergi ke Amerika untuk mengikuti pertukaran pelajar.

“Berapa lama?” tanya Hyukjae tiba-tiba. Namun, Sunghee mengerti.

“3 bulan.”

“Setelah itu kita bisa bertemu lagi, kan?”

“Tentu.”

“Arasseo. Himnaeyo. Aku pasti akan sangat merindukanmu.”

“Aku juga.”

“Seandainya saja tadi kita sempat mengobrol..”

“Jangan menyesal. Itu latihan, Hyukie. Kalau nanti kita berjauhan selama 3 bulan ini, kita masih bisa tetap berinteraksi tanpa berdialog. Seperti tadi. Ya, kan?”

“Baiklah. Sekali lagi, terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Semuanya.”

“Terima kasih juga untuk semuanya.”

“Ya.”

Hening tercipta di antara mereka. Pembicaraan telah selesai, namun tak ada satupun dari mereka yang berinisiatif untuk memutus hubungan telepon. Dengan begini, meskipun tanpa dialog, mereka tetap merasakan kehadiran si lawan bicara. Meskipun dialog tidak ambil peran, tapi hati mereka melakukannya. Mereka sedang berinteraksi, lewat hati dan pikiran.

“Haruskah aku mematikan teleponnya?” ujar Sunghee.

“Tidak usah. Biarkan seperti ini.”

“Arasseo…”

Kembali, hati dan pikiran mereka yang mengobrol. Dialog tidak ambil peran. Mereka menyebutnya sebagai invisible communication, percakapan yang tak terlihat.

THE END

11 thoughts on “[FF] Invisible Communication

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s