[FF] It’s Not a Forbidden Love

“Kau tahu, Yoonji? Dulu, ada mitos bahwa jika dua orang kembar laki-laki dan perempuan lahir, mereka harus dipisahkan sesegera mungkin.”

“Kenapa?”

“Karena mereka bisa saling jatuh cinta satu sama lain. Bahkan mereka bisa pacaran. Kau percaya?”

“Hahaha, tentu saja tidak. Yang namanya saudara pasti saling mencintai, sebagai saudara. Seperti kakak-adik. Mereka tidak saling jatuh cinta, kan?”

“Iya sih. Itu kan hanya mitos.”

“Tapi mungkin ceritanya lain jika mereka dipisahkan.”

“Maksudmu?”

“Iya, waktu mereka lahir, mereka langsung dipisahkan. Lalu, mereka bertemu lagi dalam bentuk remaja mereka dan akhirnya saling jatuh cinta. Pernah kan ada kasus seperti itu?”

“Memang ada. Apa kau tidak berpikir bahwa kita ini kembar?”

“Apa maksudmu? Kita tidak mungkin kembar. Dari marga saja kita sudah beda. Margamu Lee dan margaku Shin.”

“Itu hanya pikiranku. Karena, kita bisa saling jatuh cinta sekarang. Apakah kita salah satu dari mereka? Kembar laki-laki dan perempuan?”

“Kamu ini bicara apa? Tentu saja bukan!”

Yoonji POV

Aku membawa cangkir berisi cokelat panas ke meja kerjaku. Layar notebook-ku mengancamku dengan menampilkan Ms-Word yang bertuliskan naskah yang belum selesai. Padahal deadline-nya lusa. Sialan. Tidak bisakah kau tenang sedikit, Toshiba? Jangan memelototiku dengan naskah itu. Aku tahu aku lamban mengerjakannya karena aku sedang tidak niat mengerjakannya. Ah, bukan. Aku tidak niat melakukan apapun. Apapun. Hidup segan, mati tak mau.

Di luar masih hujan. Sejak 1 jam yang lalu apartemenku diguyur hujan. Dari kaca besar, aku bisa melihat tetes-tetesnya yang menyerbu tanah tanpa izin. Orang-orang yang tidak ingin kebasahan cepat-cepat berteduh. Yang nekad, terus saja berlari menembus hujan. Yang tidak peduli, tetap tenang berjalan meksi hujan sedang besar-besarnya.

Kalau aku ada di sana, mungkin aku akan memasuki kategori yang tidak peduli. Sayangnya, aku tidak bisa ke sana. Aku harus duduk di depan notebook-ku, mengerjakan naskah-naskah drama musikal yang tak kunjung selesai.

Aku harus mengakui, bahwa kali ini sisi kekanakanku sedang muncul. Aku ingin berlari ke jalan raya yang sedang sepi itu. Menengadahkan kepala ke atas sambil menadahkan tangan. Menyambut hujan. Tertawa, berlari, berputar. Sayangnya, tidak akan asyik jika dilakukan sendirian.

Dulu, ada laki-laki yang setia menemaniku menyambut hujan. Anak tetangga sebelah. Tapi, sekarang dia sedang kuliah di Jerman. Katanya, dia ingin jadi aktor. Makanya dia sekolah akting di sana. Hari ini, dia akan pulang ke Korea. Tapi aku tidak tahu dia akan sampai kapan.

Apakah di Jerman juga hujan? Apakah langit yang menaungi kami benar-benar langit yang sama?

Aku ingin sekali menjemputnya di bandara. Katanya, perkiraan sampai di Korea sekitar jam 4. Sekarang jam 4.35. Sialan. Naskah-naskah ini masih saja memelototiku. Aku tahu aku harus menyelesaikannya, tapi jika ada sesuatu yang lebih penting, kau tidak boleh egois, naskah.

Ponselku berdering. Paling dari editorku. Aku mengambil ponselku yang kuletakkan di sebelah cangkir cokelat panas dan langsung menjawabnya tanpa melihat nama penelepon.

“Yobosaeyo?” sapaku malas.

“Yoonji-ya, bagaimana? Naskahnya sudah sampai mana?”

Aish. Benar, kan? Editor-ku yang satu itu sangat cerewet dan menyebalkan.

“Ne, Oppa. Masih on the way..”

“Masih on the way?! Kamu ini…aish..”

“Kan masih ada hari esok, Yesung Oppa-ku sayang,” ujarku gemas.

“Shin Yoonji! Harusnya hari ini kamu sudah menyelesaikan naskahmu, besok kamu tinggal membaca ulang dan memperbaikinya, tapi kalau sekarang masih on the way…TUUT..TUUT…TUUUT..” Aku memutuskan sambungan telepon. Susah kalau bicara dengannya. Lebih baik matikan telepon. Kalau tidak, bisa-bisa kupingmu yang menjadi korban karena mendengar ocehannya selama 2 jam non-stop.

Aku melemparkan ponselku kesal ke atas meja. Saat aku memosisikan jari-jariku di atas huruf-huruf itu, sepasang tangan menghalangi mataku. Aku terlonjak kaget dan spontan menepis tangan tersebut.

“Aaaah, kau memang tidak bisa diajak romantis.” Tunggu dulu. Ini kan suara Sungmin?

Aku menoleh ke belakang, dan benar saja. Laki-lakiku sedang berdiri di belakangku sambil tersenyum menyapa.

“Oh, hai Sungmin,” sapaku sekilas sebelum kembali menghadap Toshiba. Well, aku menyebut barang-barang elektronikku dengan mereknya. TV saja kusebut LG. Orang-orang bilang aku aneh. Karena jika aku ingin menonton TV, aku pasti bilang, “Aku ingin menonton LG”.

“Apa hanya ini sambutanmu?”

“Sambutan? Pede sekali kau ini. Kamu kan memang sering pulang ke Korea setiap ada liburan.”

“Tapi kan liburan nggak setiap hari,” ujarnya sambil cemberut.

“Memangnya aku mau bertemu denganmu setiap hari?”

“Dasar!” Sungmin tertawa. Aku ikut tertawa bersamanya.

“Shin Yoonji, naskah drama lagi?” Sungmin merangkulku dari belakang dan menatap layar Toshiba.

“Hm. Yesung Oppa tercinta itu sudah menagih dari tadi. Menyebalkan. Kau tahu kan kalau ocehannya bisa sampai 2 jam non-stop? Telingaku bisa gatal mendengarnya.”

“Yesung Oppa tercinta?” Sungmin mengernyitkan kening. Raut wajah tak senangnya terlihat. Tapi entah kenapa, aku menikmatinya. Aku menikmati kecemburuannya.

“Yap. Kalau tidak dipanggil dengan embel-embel ‘tercinta’, ocehannya bisa sampai 3 jam. Aku sekarang sedang berpikir embel-embel apa lagi yang harus kupakai agar bisa mengurangi total waktu ocehannya.”

“Daripada memikirkan itu, bagaimana kalau kita jalan-jalan?”

“Kau cemburu ya?”

“Tidak. Mengajak jalan-jalan kok dibilang cemburu?”

“Habisnya kau selalu mengalihkan pembicaraan. Hehe, tidak apa kok cemburu juga. Aku menikmatinya.”

“Baiklah. Aku akan cemburu untukmu.”

= = =

“Apa kita memang berjodoh, Sungmin? Tanggal lahir kita bahkan sama. Kita jadi merayakan hari ulang tahun kita bersamaan.”

“Hm. Pasti begitu. Saking jodohnya kita, orang-orang bahkan bilang wajah kita mirip.”

“Iya. Tapi…kita bukan salah satu dari mitos anak kembar itu, kan?”

“Iya. Kan marga kita berbeda.”

Sungmin POV

Kenapa jadi kamu yang tidak yakin, Yoonji? Dulu-dulu kamu selalu berpikir dengan logika, selalu tidak percaya dengan mitos. Tapi, akhir-akhir ini kau malah meragukannya.

Aku menatap foto keluargaku yang tidak sengaja kutemukan di bawah tempat tidurku di kamar yang lama. Kamarku di Korea. Ada ayah, ibu yang tak pernah kutemui, dan seorang saudara perempuan. Adikkah? Kakakkah? Aku tidak tahu. Kecelakaan yang menyebabkan kedua orang tuaku meninggal dunia, dan aku kehilangan memoriku menyebabkanku tidak tahu siapa gadis kecil itu.

Siapa namanya? Dimana dia sekarang?

Aku tinggal bersama dengan bibiku di daerah Mangwon-district. Hanya berdua saja. Itu juga dulu. Sekarang aku tinggal di Jerman untuk menyelesaikan studiku tentang akting. Kenapa aku ingin mendalami akting? Karena Yoonji-ku adalah seorang penulis naskah drama musikal, dan aku ingin menjadi aktornya.

Yoonji-ku. Aku tidak pernah menyatakan cinta dan memintanya untuk menjadi kekasihku. Dia pun sama. Namun kami saling mencintai, saling mengerti, dan saling mengikat janji untuk selalu bersama.

Aku bertemu dengan Yoonji di sekolah. Kami satu SMA. Setelah lulus, aku pergi ke Jerman, dia tetap di Korea, kuliah sambil menjadi penulis naskah. Pasti sangat berat baginya. Tapi dia melakukannya demi menghidupi dirinya sendiri.

Makanya aku sangat berat meninggalkannya sendirian di Korea. Tapi mau bagaimana lagi?  Bibiku pindah ke Jerman, serumah dengan suaminya. Dan aku pun sudah mendapat beasiswa untuk sekolah akting di Jerman. Jadi aku tidak akan menyia-nyiakannya.

Tapi mungkin aku salah. Aku menyesal telah meninggalkan Yoonji-ku sendirian. Mungkin dia sudah membenciku. Makanya dia tidak mau menjemputku saat di bandara tadi. Sikapnya juga menjadi sedikit dingin saat berjalan-jalan bersamaku. Apa dia tidak merindukanku?

= = =

“Kita ini kembar, Yoonji.”

“Hah? Candaan April Mop-mu sangat tidak lucu.”

“Aku serius. Ini buktinya. Akta lahir kita. Margamu Lee juga, seperti ayah kita. Bukan Shin seperti marga ibu.”

“…”

“Benar, kan?”

“Bohong…”

“Aku..”

“Lelucon apa ini, Sungmin? Ini sama sekali tidak lucu. Apa maksudmu membuat akta kelahiran palsu? Tanggal lahir kita memang sama, tapi kita bukan anak kembar.”

“Kita anak kembar, Yoonji. Kalau tidak percaya lihat saja foto ini, aku yakin kau juga memilikinya.”

“Tapi kata Eomma itu foto bersama kakakku yang sudah meninggal, bukan denganmu. Kamu ada-ada saja…”

“Tapi aku masih hidup. Kakakmu masih hidup.”

“Tidak…ini pasti bohong…leluconmu sama sekali tidak lucu, Sungmin!”

“Sekarang tanggal 2 April, April Mop sudah lewat kemarin. Kau terlalu capek bekerja sampai lupa waktu, ya?”

“Tidak mungkin! Apa-apaan sih?! Aku bukan adikmu! Kamu kekasihku, Lee Sungmin! Setelah lulus kuliah kita akan menikah, kan? Itu janjimu, kan?!”

“Mianhae. Aku tidak bisa menepati janji itu.”

“Pecundang..”

= = =

Yoonji POV

Sungmin sudah kembali ke Jerman. Ia hanya menghabiskan waktu dua minggu di sini. Mungkin suatu saat aku bisa bertemu dengannya lagi. Kakak kembarku, Lee Sungmin. Iya, Sungmin berhasil meyakinkanku bahwa aku adalah adik kembarnya. Bibinya, maksudku bibi kami, akhirnya mengakuinya. Ia bercerita sambil menangis. Ia tak henti memelukku dan mengusap rambutku. Mulutnya tak henti mengeluarkan kata-kata penuh penyesalan.

Katanya orang tua kami bercerai saat kami berusia 3 tahun. Appa menghilang, tidak meninggal, ia masih hidup. Tapi Eomma benar-benar meninggal karena aku selalu mengunjungi abunya setiap aku punya kesempatan. Aku hidup sendiri, sementara Sungmin dibesarkan oleh bibiku. Katanya, Appa sering mabuk-mabukan. Sungmin tidak aman hidup bersamanya.

Kurasa kekhawatiran kami selama ini terbukti. Kami adalah sepasang anak kembar yang saling jatuh cinta dan menjadi sepasang kekasih. Lantas kenapa? Apakah cinta yang kami rasakan ini salah?

= = =

“Saranghae, Sungmin-ah. Perasaanku padamu tidak akan pernah berubah.”

“Tidak akan? Setelah kau mengetahui bahwa aku adalah kakak kembarmu?”

“Ya…tidak akan..”

“Na ddo saranghae. Oh, bukan. Aku lebih mencintaimu.”

= = =

Salju pertama yang turun disambut hangat oleh banyak orang. Tak terkecuali oleh Yoonji dan Sungmin. Bergandengan tangan mereka menyusuri jalanan sekitar rumah Sungmin di Jerman.

“Apa di Korea sudah turun salju ya?” Yoonji menadahkan tangannya untuk menangkap salju.

“Entahlah. Mungkin belum.” Sungmin menangkap tangan Yoonji yang terangkat dan menggenggamnya. Es yang mencair membasahi tangan mereka berdua. Seharusnya dingin, tapi mereka malah merasa hangat.

“Kenapa? Padahal langit yang menaungi kita adalah langit yang sama.”

“Karena kita berada di belahan dunia yang berbeda.”

“Tapi kita menghidupi Bumi yang sama..”

“Perbedaan itu indah, Yoonji. Tidak semuanya harus sama.”

“Seperti kita?” Yoonji menoleh.

“Hm?”

“Kita berdua. Sepasang anak kembar yang saling jatuh cinta dan berpacaran?”

“Kau berpikir kita berbeda?”

“Tentu saja. Bukankah ini cinta terlarang? Sepasang saudara kembar tidak seharusnya saling jatuh cinta seperti ini, kan?”

“Aku tidak sependapat. Tidak ada yang namanya cinta terlarang. Semua cinta boleh ada. Tidak ada cinta, hidup dipenuhi kebencian.”

“Tapi mereka membenci kita yang saling mencinta. Benar, kan?”

“Tidak. Asalkan kita bisa bahagia dengan cinta itu, kenapa tidak?”

“Tapi menurut hukum..”

“Apa cinta memerlukan hukum?”

Yoonji terdiam. Tertegun menatap Sungmin-nya.

Sungmin tersenyum.

“Percayalah. Aku mencintaimu, dan aku ingin selalu bersamamu. Baik sebagai kekasih, atau sebagai kakak kembarmu.”

“Aku juga mencintaimu, Sungmin. Haruskah kupanggil Oppa?”

“Tidak perlu. Aku hanya lahir 15 menit lebih awal darimu.”

As you wish.”

“Jadi, selamat ulang tahun, Yoonji.”

“Selamat ulang tahun juga, Sungmin.”

Hening tercipta agak lama. Mereka terdiam di sana, dihujani oleh salju. Mereka termasuk kategori yang tidak peduli. Yang hanya terdiam membiarkan diri mereka dihujani salju.

“Sebagai hadiah ulang tahun dariku, bolehkah aku memelukmu, Sungmin?”

“Tentu.”

Yoonji memeluk Sungmin erat. Pelukan yang berarti dalam.

“Hadiah dariku, bolehkah aku menciummu?”

Yoonji terdiam agak lama sebelum berkata,

“Tentu.”

Sungmin mencium bibir Yoonji perlahan. Ciuman yang berarti banyak. Yang bermakna dalam. Hanya mereka yang mengerti arti ciuman itu sebenarnya. Karena batin mereka terhubung, sejak mereka masih berada di dalam kandungan.

THE END

11 thoughts on “[FF] It’s Not a Forbidden Love

  1. vidiaf says:

    aku suka idenyaaaa :3
    sungminnya pas dateng ke tempat yoonji itu so sweet aaaa /gigit bantal
    suka banget dialog ini:
    “Tidak. Asalkan kita bisa bahagia dengan cinta itu, kenapa tidak?”

    “Tapi menurut hukum..”

    “Apa cinta memerlukan hukum?” waaaaaa /blush

    narasi di endingnya bikin merinding XDD keren~~~~

  2. specialshin says:

    Aiiih unyuuuuuw :3
    YOOLOH ITU CIUMAN DI SALJU APA GA DINGIN YAK xDD
    Ahhh gitu jadi ternyata kembaaar
    Kalo orang mah langsung panik kalo kembar malah saling naksir
    Kalo aku mah seneng muahahah
    Udah saling suka, ikatan batin, muka mirip, ultah bareng, pasti unyu deh itu huhuhu *ketauan belakangan ini hobi baca inses yaoi jo twins *ditabok
    Aku juga suka konsep kalo semua cinta itu ya sama aja gaada yang forbidden atau allowed ♥
    Yah pokoknya gue makasih banget yaaaaa udah dibikinin ff unyu kayak gini ♥ thankyooooouu~

    • sungheedaebak says:

      kan ciumannya panas jadi salju gak berasa #eh #yadongkumat

      hahahaha dasar..

      INSES JO TWINS?!! DIMANAAAAA??? #bukaaib

      hehe itu curahan hati pribadi. ga ada yg forbidden atau allowed ^^
      iya sama-sama. makasih juga ya udah bikinin yang sunghee-hyukjae yang sad ending dan bikin nyesek tapi keren hahaha

  3. dhila_アダチ says:

    aaaaaaaaa…sukaaaaa….
    dalem..dalem…dalem…
    jadi inget akai ito…beda sih…yg sama cma lahir di tanggal yg sama…haha..
    #jauh_men

    playlist juga muter lagu The Reason -shinee. pas banget…hahaaa…😀

  4. Kiki says:

    Hahahah,romancenya kena bngt…ekekek,selama ini aku mencari2 yg seperti ini di google!akhirnya ketemu juga..ceritanya juga bagus.dapet ide dari mana nih?ajarin dong;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s