[FF] Strawlate Cheese PG-15

A/N: Sekuel dari Strawberry Chocolate Vanilla. Dikasih PG-15 karena ada adegan berdarah-darah dan disgusting. Saran dari saya, jangan baca ff ini sambil makan. Enjoy ^^

Sungguh tragis. Sore ini, langit menangis. Seakan turut berduka cita atas kepergian adikku, Lee Sunghee. Kenapa saat aku baru bertemu dengannya, dia langsung pergi meninggalkanku? Sudah 2 tahun aku tidak bertemu dengan adik kecilku itu. Usianya 17 saat dia menghilang, dan usianya 19 saat dia meninggal. Ini bahkan lebih mengerikan daripada penculikan. Otaknya dicuci. Semua ilmu pengetahuan yang ia punya, semua kenangannya hilang. Dia bahkan tidak mengenaliku. Dia bahkan takut bertemu denganku. Padahal dulu dia begitu semangat jika bertemu denganku.

Aku sedih. Kenapa Engkau harus mempertemukan kami, jika ia takut padaku? Mengapa harus mempertemukan kami, jika ia tidak mau bertemu denganku?

Kematian Sunghee tidak bisa kupercaya. Ia mencakari tubuhnya sendiri. Menggigiti tangannya, kakinya. Ia bahkan merobek perban bekas lukanya dan mencabuti rambutnya. Tubuhnya sudah berlumuran darah ketika dokter dan para perawat mengecek keadaannya. Kenapa tidak melihat dari CCTV? Mereka punya CCTV, kan? Kenapa membiarkan adikku menyiksa diri?

Strawlate. Sunghee memanggil-manggil terus nama itu. Siapa Strawlate? Apa mereka laki-laki yang bersama dengan Sunghee di pusat pertokoan itu? Apa mereka yang mencuci otak Sunghee? Kurang ajar. Mereka sudah membuat adikku menderita. Aku tidak bisa mengampuni mereka.

Harus kucari siapa itu Strawlate. Strawlate itu singkatan dari Strawberry Chocolate. Apakah ada hubungannya dengan toko cake? Di sana ada banyak ‘strawlate’. Atau toko kue? Es krim? Atau bahkan tak ada hubungannya sama sekali?

Aku ingat wajah Strawlate. Yang satu berambut pirang, satunya lagi cokelat tua. Kurasa si pirang lebih tinggi daripada si cokelat tua. Aku lebih ingat pada si pirang. Karena, warna rambut seperti itu jarang kutemui di sini.

Aku mencoba mencari informasi tentang Strawlate. Sulit, karena aku tidak punya foto mereka, tidak tahu siapa mereka. Waktu Sunghee kutemukan di pusat pertokoan itu, ia hanya mengenakan sepotong dress selutut berwarna putih motif stroberi dengan warna coklat di ujung dress-nya. Tidak membawa apapun.

Kenapa tidak mencari toko dress itu? Mungkin saja aku bisa menemukannya.

Aku berlari menuju kamar Sunghee. Kubuka lemari bajunya dengan sebuah hentakan keras. Aku segera menemukan baju tersebut karena diletakkan di paling atas. Aku menarik baju tersebut dan melihat merek bajunya. Cheri. Cepat-cepat aku pergi ke meja komputer dan duduk di depan komputer. Aku mencari informasi tentang penjualan merek baju ini. Ternyata di Seoul dan sekitarnya ada 5 outlet yang menjual merek baju tersebut. Aku mencetak informasi tersebut dan kumasukkan ke dalam saku jaket.

Aku bergegas menjelajahi Seoul sendirian. Sudah 4 outlet kudatangi, namun hasilnya tidak memuaskan. Tidak ada pembeli berambut pirang atau cokelat tua yang kumaksud yang mampir ke outlet-outlet tersebut. Outlet ke-5 terletak cukup jauh dari Seoul. Di Kyonggi-Do. Semoga aku menemukan mereka di sini. Sudah berjam-jam aku menempuh perjalanan ini demi mencari kalian, Strawlate. Aku yakin kalian tidak mau mengecewakanku.

Aku melangkah memasuki outlet itu. Tanpa ba-bi-bu, aku segera bertanya pada kasir yang menyapaku ramah.

“Apakah belakangan ini ada dua orang laki-laki yang membeli baju di sini? Bajunya seperti ini.” Aku menunjukkan dress Sunghee. “Yang satunya beramput pirang, satunya lagi cokelat tua. Ada?”

Kasir itu tampak bingung mendengar pertanyaanku. Tapi, dia mencoba mengingat-ingat.

“Kalau yang pirang…iya aku tahu. Tapi kalau yang cokelat tua, entahlah. Memangnya ada apa, Tuan?” Jawaban kasir itu melegakanku.

“Kamu tahu siapa si pirang itu?” tanyaku antusias. Kasir itu mengangguk, membuatku nyaris melompat saking senangnya.

“Namanya Lee Hyukjae. Kakaknya bekas pegawai di sini, jadi aku tahu.”

“Kamu tahu dimana rumahnya?”

“Maaf, aku tidak tahu. Sejak kakaknya meninggal, Hyukjae hidup di rumah tantenya. Tapi kata tantenya Hyukjae tiba-tiba menghilang. Sekitar tiga minggu yang lalu dia datang, aku agak pangling karena ia mencat rambutnya. Aku jadi tidak bertanya lebih lanjut karena ia selalu tampak terburu-buru.”

“Selalu?” Aku mengernyitkan kening. Berarti cowok itu sudah beberapa kali pergi ke sini.

“Iya. Aku pertama melihatnya lagi sekitar 2 tahun yang lalu, waktu hujan deras.”

“Baiklah. Informasi itu sudah cukup. Terima kasih banyak.”

“Sama-sama.”

Aku merasakan lapar yang sangat menyiksa. Aku baru ingat sejak pagi aku belum memakan apapun. Baiklah, di seberang jalan ada restauran kecil. Aku makan di sana saja sebentar.

“Annyeonghasaeyo!” sapaan ramah dari si pelayan membuatku tertegun. Itu pasti salah satu dari Strawlate. Rambutnya cokelat tua.

“Kamu..” ucapku tertahan. Lelaki itu menatapku bingung. Sedetik kemudian, ia tertegun.

“YAH! Kau apakan adikku, hah?! Karena kamu, adikku mati!!” Aku meraih kerah kemejanya dan mendorongnya ke tembok. Dia memandangku kaget. Tapi dia tidak berontak.

“Maaf, bisa kujelaskan..” katanya.

Aku menggeram marah dan melepaskan kerahnya. Ia menatapku sambil merapikan kerahnya yang sedikit berantakan.

“Kamu mau pesan apa, kakaknya Vanilla?”

“Vanilla?” Aku heran. Sejak kapan adikku berganti nama menjadi Vanilla?

Lelaki itu tersenyum misterius namun hangat. Ia mengajakku duduk di pojok yang nyaman. Katanya biar tidak ada orang yang mendengar percakapan kami. Aku menurut saja. Toh ini tempat kerjanya. Dia tidak akan membuat ribut di tempat kerjanya sendiri.

Dia menceritakan semuanya. Aku tidak tahu apa cerita itu benar atau tidak. Tapi dari sorot mata lelaki bernama Donghae ini, aku bisa menemukan kejujuran. Dia bilang adikku ditemukan terkapar di pinggir jalan raya dekat rumah mereka. Mereka berdua memutuskan untuk menyelamatkan Sunghee. Mereka merawat Sunghee, mengajarinya banyak hal, menyayangi Sunghee seperti keluarga.

“Tapi ketika melihat kau datang dan memeluk Vanilla waktu itu, kami sadar bahwa tugas kami sudah selesai. Sudah saatnya Vanilla kumpul kembali bersama keluarganya yang sesungguhnya. Makanya kami pergi.” Donghae mengambil jeda. Aku dengan sabar menunggu.

“Tapi kami tak menyangka bahwa Vanilla, ugh maksudku Sunghee, akan membunuh dirinya sendiri.” Donghae tampak sangat sedih.

“Mau bagaimanapun dia sudah kuanggap sebagai adik sendiri. Atau bahkan anak sendiri karena saat pertama menemukannya, ia tidak bisa apa-apa.”

“Boleh aku bertemu dengan temanmu?” tanyaku.

“Hyukjae? Boleh.” Donghae mengangguk. “Tapi aku baru pulang jam 5. Aku beri kamu alamat rumahku saja ya.”

“Tapi ingat, panggil dia Strawberry. Kalau kau memanggil nama aslinya, kau tidak akan dibiarkan masuk. Percaya padaku.” Nasihat Donghae membuatku bingung. Tapi diam-diam kucatat dalam hati.

Alhasil, aku berdiri di hadapan sebuah rumah yang sangat sederhana. Dari luar, rumahnya tampak kecil. Di halamannya banyak rumput liar dan bunga-bunga layu. Aku yakin tadinya taman kecil ini dirawat dengan baik sekali dan sangat indah. Tapi ada sesuatu yang membuatnya layu.

Aku membuka pagar yang berkarat dan berjalan menuju pintu. Aku lalu mengetuk pintunya. Lama tak ada jawaban. Aku mengetuk lagi sambil mengucapkan salam. Masih juga tak terbuka. Saat aku hendak mengetuk pintu lagi, pintu itu sudah terbuka terlebih dahulu. Hanya sedikit, namun aku bisa melihat wajah Hyukjae yang mengintip.

Aku berusaha tersenyum ramah. Kata Donghae, mental Hyukjae sedikit terganggu dengan kematian Sunghee. Ia merasa sangat-sangat bersalah sampai-sampai depresi dan mencoba bunuh diri juga. Tapi untunglah Donghae selalu menyelamatkannya.

“Bagaimanapun, dia adalah keluargaku,” kata Donghae sambil tersenyum sedih saat aku menanyakan soal Hyukjae. Keluarga? Katanya teman?

“Hai, Strawberry!” sapaku ramah. Hyukjae tertegun. Matanya kelihatan terkejut. Alisnya terangkat sedikit.

Ia lalu membuka pintu lebar-lebar. Ia melangkah mundur 3 langkah, membiarkanku masuk ke rumah. Tatapan matanya terus menatapku hampa. Aku jadi takut. Donghae bilang Hyukjae jadi sedikit berbahaya. Jauhkan benda tajam darinya. Baiklah. Lagipula aku bukan polisi dan pembunuh bayaran. Dia pasti aman-aman saja. Mungkin. Tergantung bagaimana ia menjawab pertanyaanku.

Tapi aku tidak yakin apa dia bisa menjawab pertanyaan.

“Ehm…Strawberry, apa kabar?” Aku mencoba berbasa-basi dulu.

“Baik,” ujarnya singkat. Ia lalu pergi ke belakang dan mengambil satu dus susu stroberi. Ia lalu meletakkannya begitu saja di meja. Ia tidak menyediakan gelas.

“Silahkan diminum,” katanya. Aku menelan ludahku. Cowok ini gila!

“Terima kasih, Strawberry, tapi aku lebih nyaman bila meminumnya dari gelas.”

“Chocolate membuang gelas-gelas kaca. Kau mau memakai gelas plastik?” tawarnya. Suaranya datar, seperti datang dari robot, bukan manusia. Aku hanya mengangguk. Hyukjae menatapku agak lama sebelum beranjak berdiri dan mengambilkanku gelas plastik berwarna putih. Aku berterima kasih dan menuangkan susu stroberi itu ke dalam gelas. Kulirik Hyukjae. Ia memperhatikan setiap gerak-gerikku dengan serius.

Saat aku hendak meminum susu stroberi itu, tangan Hyukjae yang kekar menahanku sekuat tenaga. Aku terkejut sekaligus takut. Cengkeraman tangannya begitu kuat. Aku tidak tahu jika di balik ekspresi kosong itu terdapat segunung kekuatan.

“Jangan pernah minum susu stroberi di gelas putih tanpa cokelat,” desisnya geram. Ia lalu meraih sebatang cokelat yang sedari tadi tergeletak di atas meja ruang tamu dan memasukkan dua potongan cokelat ke dalam susu stroberiku. Ugh, aku mual. Bagaimana rasanya? Dari warnanya yang tercampur saja sudah membuatku kehilangan selera.

“Uhm…terima kasih..tapi..”

“Minum!” serunya. Aku terlonjak kaget dan sontak meminum minuman itu. Eneg. Aku mual.

“Sampai habis,” lanjut Hyukjae. Aku hanya bisa mengikuti perintahnya. Sialan. Seharusnya aku yang memarahinya, tapi kenapa malah aku yang disiksa?!

Sebentar. Ingat, Sungmin..meskipun  dia seperti ini, dia adalah orang yang merawat Sunghee selama 2 tahun terakhir. Dia dan Donghae adalah orang-orang yang berjasa untuk Sunghee. Aku tidak boleh memarahi mereka. Seharusnya aku berterima kasih pada mereka.

“Bagaimana rasanya? Apa stroberi dan cokelat benar-benar tidak bisa disatukan?” Pertanyaan Hyukjae membuatku terdiam. Apa maksudnya?

“Rasanya…membuatku mual,” ujarku jujur.

“Benarkah?” Hyukjae memastikan. Aku mengangguk.

“Jadi begitu.” Hyukjae tersenyum getir, membuatku takut.

“Kalau kamu apa?” tanyanya lagi.

“Hah?”

“Aku Strawberry, Donghae Chocolate, Sunghee Vanilla, dan kamu?”

“Aku..er..aku..” Ya Tuhan, apa-apaan ini?! Sudah tahu Hyukjae mentalnya terganggu, masih juga mendatanginya! Bodoh sekali aku ini!

“Cheese!” seru Hyukjae.

“Ne?”

“Kamu Cheese. Dibuat dari susu dan fleksibel untuk setiap rasa. Chocolate Cheesecake, Strawberry Cheesecake, Vanilla Cheesecake, ada, kan? Hm..kalau begitu kau bisa bersatu denganku.” Hyukjae menjilat bibirnya sendiri. Aku hanya menganga. Psikopat! Aku harus pergi, aku tidak bisa berada di sini terus!

Aku beranjak berdiri dan berlari menuju pintu. Namun Hyukjae sudah mengunci pintunya. Sejak kapan?!

Ya Tuhan, aku tidak ingin mati di sini!

Hyukjae menyeringai dan menatapku sambil berkacak pinggang.

“Kau tidak akan bisa kabur, Cheese. Bibirmu mengingatkanku pada bibir Queen. Aku ingin mencobanya lagi. Boleh?”

Aku menggeleng kuat-kuat. Mau kabur kemana? Di rumah sekecil ini, aku pasti tertangkap! Ya ampun, Sungmin. Kamu kan jago bela diri! Ayolah kalau hanya menghadapi dia, kamu pasti bisa. Iya. Pasti bisa.

Hyukjae mengunciku dengan kedua tangannya. Namun, aku masih bisa lolos. Ia menarik tanganku dan aku dengan mudah menepisnya. Hyukjae tertawa. Tawanya membuatku merinding.

“Kenapa kau ini? Adikmu diam saja diperlakukan seperti itu olehku. Kenapa kau berontak?”

“Kau berbuat apa pada adikku?”

“Aku menidurinya. Masalah?” ujarnya enteng. Aku menggeram marah. Aku ingin sekali membunuh makhluk di hadapanku ini! Aku tidak marah pada Donghae, tapi aku benci pada si pirang ini!

Baru saja aku akan menghajarnya, pintu diketuk. Suara Donghae terdengar dari luar.

“Strawberry? Aku datang!” seru Donghae. Hyukjae tersenyum.

“Aku Strawberry, menggoda di luar, asam di dalam.” Hyukjae mengedipkan sebelah mata sebelum membuka pintu. Donghae melangkah masuk dan tersenyum menyapa Hyukjae. Tiba-tiba, Hyukjae mencium bibir cowok berambut cokelat tua itu. Aku terkejut. Aku hanya bisa memandang mereka dalam diam.

Donghae menatapku sambil tersenyum tipis. Sedangkan Hyukjae menatapku dengan seringainya.

“Bagaimana, Cheese? Apa kau mual melihat Strawberry mencium Chocolate?” ujar Hyukjae.

Ya ampun, pantas saja Sunghee jadi gila. Bayangkan saja, dua tahun bersama orang-orang seperti ini?! Tidak bisa kubayangkan..

Terlebih lagi dengan si Hyukjae itu. Mentalnya benar-benar terganggu.

“Bolehkah kami mengunjungi makam Sunghee?” tanya Donghae. Hyukjae menatapku dengan tatapan kosongnya lagi. Tangan kanannya bertengger di pundak Donghae. Entah kenapa, aku mengangguk. Padahal otakku berkata lain. Aku tidak mungkin membawa mereka ke makam adikku!

Dan di sinilah aku. Di hadapan makam Sunghee yang masih baru. Donghae meletakkan bunga mawar putih di atas makam adikku. Sedangkan Hyukjae hanya memandangi makam itu datar. Aku terus menatapnya was-was. Takut-takut dia tiba-tiba menghancurkan makam adikku dan mengeluarkan mayatnya.

Hyukjae melangkah maju. Tubuhku menegang. Donghae menepuk pundakku. Entah kenapa, karena sentuhan itu, aku merasa tenang. Aku seakan mengerti apa yang Donghae pikirkan. Hyukjae tidak akan merusak makam adikmu. Mungkin itu yang Donghae katakan lewat sentuhannya.

Gila. Bagaimana mungkin aku mengerti Donghae hanya karena sentuhannya? Mereka pasti membawa virus gila. Mungkin saja aku korban berikutnya.

Hyukjae berlutut di samping makam adikku. Dia terdiam agak lama sebelum mencium nisan adikku. Aku tertegun. Setetes air mata menuruni pipi Hyukjae yang putih pucat. Ekspresi wajahnya yang biasanya datar, nakal, sekarang berubah menjadi sedih. Amat sedih sampai air mata lain menyusul menuruni pipinya.

Hyukjae tidak bicara apa-apa. Tapi dari sikapnya barusan, aku yakin ia sangat mencintai adikku. Aku melirik Donghae. Dia hanya menatap Hyukjae datar. Tatapannya terus tertuju pada laki-laki yang sedang menangis itu. Ia lalu melangkah mendekat, merangkul Hyukjae. Air mata ikut menuruni pipi Donghae. Mereka berdua menangis tanpa suara. Membuatku termangu di tempatku berdiri.

Aku sadar. Mereka orang baik. Mereka menyayangi Sunghee seperti seorang kakak menyayangi adiknya, seperti orang tua yang membimbing anaknya, seperti kekasih yang mencintai kekasihnya. Sekarang aku mengerti. Mereka adalah segalanya bagi Sunghee. Sayangnya bukan aku. Kakak kandungnya sendiri malah tidak dianggap apa-apa oleh Sunghee. Ironis.

“Pelaku pencucian otak itu musuh orang tuamu, Sungmin,” kata Donghae ketika kami kembali ke mobilku.

“Hah?” Tahu apa dia tentang orang tuaku?

“Pelakunya adalah pamanku. Masih ingat Lee Dongwook?” Donghae tersenyum tipis. Aku terpaku sampai langkahku terhenti. Hyukjae yang berjalan di belakangku menabrakku. Dia mendengus dan berjalan ke sisi Donghae.

“Lalu..darimana kau tahu bahwa pelakunya adalah pamanmu?”

“Pamannya seorang ilmuwan. Kau tidak tahu, Cheese? Ia baru saja menemukan alat untuk mencuci otak manusia. Queen jadi kelinci percobaannya yang pertama.” Hyukjae menimpali. Donghae mengangguk.

“Aku menemukan alat-alat pencucian otak di rumahku di Mokpo. Karena gagal, sepertinya pamanku meninggalkan Sunghee di jalan..” Tatapan Donghae menerawang, seperti sedang mengingat sesuatu.

“Aku tidak tahu persis kejadiannya seperti apa..” gumam Donghae.

“Aku tahu,” ucap Hyukjae. Aku dan Donghae sontak memandangnya. Hyukjae tersenyum sambil menendangi kerikil yang menghalangi jalannya.

“Sunghee memberitahuku lewat mimpi. Jadi…”

“Aku lulus! Aku lulus, Chaerin-ah!!” Sunghee melompat-lompat senang. Chaerin memeluknya sambil ikut melompat-lompat. Dua sahabatnya yang lain ikut bergabung dan bersuka cita.

“Kita semua lulus! Kita harus merayakannya!” seru Raeki.

“Go go go!!” seru Yoonmin.

Mereka berempat pergi ke sebuah mal di Seoul. Mereka makan bersama, bermain bersama, foto-foto, dan terakhir karaoke. Mereka memesan camilan dan minuman di sana. Namun ternyata makanan dan minuman mereka telah diberi racun. Mereka tak sadarkan diri. CCTV dimatikan oleh seseorang. Jadi petugas tidak ada yang tahu ketika Dongwook masuk dan menggendong Sunghee keluar.

“Ini anakku, dia pasti mabuk lagi! Kalian tolong tangani tiga orang temannya ya? Aish..benar-benar merepotkan!” Begitu sandiwara Dongwook pada petugas karaoke. Petugas-petugas yang tidak tahu apa-apa hanya mengikuti perintah Dongwook. Mereka memanggil orang tua ketiga sahabat Sunghee dan mereka bertiga dibawa pulang oleh orang tua mereka masing-masing.

Tapi lain halnya dengan Sunghee. Gadis itu dibawa ke Mokpo, tanpa bilang terlebih dahulu pada orang tuanya. Ia tiba-tiba tersadar ketika tubuhnya sudah diikat ke kursi dan kepalanya ditempeli berbagai macam alat. Sunghee berontak, tepat ketika alat dinyalakan. Salah satu alat yang menempel di kepalanya terlepas.

“Ah, kau mengacaukannya!!” seru Dongwook geram.

Sunghee kembali tak sadarkan diri. Dongwook mendengus kesal. Ia melepas alat-alat yang menempel di tubuh Sunghee dengan paksa.

“Kalau kau kehilangan fungsi otakmu, itu bukan salahku. Salahmu saja yang berontak!” Begitu kata-kata Dongwook sebelum membawa Sunghee ke Kyonggi-do. Ia meletakkan Sunghee di pinggir jalan.

“Kalau bukan karena ayahmu yang membunuh kakakku, aku tidak akan menggunakanmu sebagai kelinci percobaanku.” Itu kata-kata terakhir sebelum Dongwook pergi. Meninggalkan Sunghee yang tergeletak tak berdaya di pinggir jalan. Terguyur hujan deras.

Saat itu, Hyukjae dan Donghae baru pulang dari bekerja. Mereka melihat sesosok gadis tergeletak di jalanan.

“Ya ampun!” seru Hyukjae. Ia lalu berlari ke arah tubuh itu dan memangkunya. Tubuh gadis itu dingin, kaku, tak bergerak.

“Hyukie, jangan sentuh! Kalau dia mati dan ada sidik jarimu di tubuhnya, kau bisa disangka pembunuh!” Donghae mengingatkannya. Tapi Hyukjae masih saja memangku tubuh gadis itu. Ia mendekatkan telunjuknya ke hidung Sunghee. Ia lalu mendekatkan telinganya ke dada Sunghee. Masih belum yakin, ia memeriksa denyut nadi Sunghee. Wajahnya berubah cerah.

“Dia masih hidup, Hae! Ayo kita bawa pulang! Kasihan dia,” seru Hyukjae, berusaha mengalahkan suara petir yang bergemuruh.

“Kau yakin, Hyukie? Kalau kita disangka penculik, bagaimana?” Donghae tampak ragu.

“Sudahlah kita bicarakan di rumah saja. Kasihan dia!” Hyukjae segera menggendong tubuh Sunghee yang kaku dan berlari ke rumahnya. Donghae mengikuti di belakangnya.

Hyukjae meletakkan tubuh Sunghee di kasurnya. Kasurnya jadi basah. Napas Hyukjae tersengal-sengal. Capek karena menggendong Sunghee sambil berlari.

“Bajunya basah, Hae badanmu kan lebih kecil daripadaku, punya baju yang sudah kekecilan tidak?”

“Ada sih tapi pasti masih kebesaran jika dipakai di tubuh gadis ini.”

“Ya sudah ayo cepat!” perintah Hyukjae. Donghae segera berlari ke kamarnya dan mencari baju yang pas. Ia kembali dengan membawa sebuah kaos putih.

“Tidak ada celana yang kekecilan..” kata Donghae.

“Baiklah terserahmu. Sekarang tolong kau ganti baju gadis itu dengan bajumu.”

“Kenapa tidak kau saja? Kau juga kan..”

“Hae! Aku belum meyiapkan makanan!” Hyukjae tampak gelisah. Donghae akhirnya mengangguk. Hyukjae keluar dari kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat. Tangannya gemetaran. Mungkin karena hujan, pikir Donghae.

“Aneh. Biasanya juga aku yang menyiapkan makanan.” Donghae mendengus dan mulai membuka kancing kemeja seragam Sunghee. Donghae meletakkan pakaian Sunghee yang basah di lantai dan memakaikan kausnya ke tubuh Sunghee. Donghae lalu merebahkan tubuh Sunghee dan menyelimuinya dengan selimut yang kering. Untung saja seprei kasur tidak basah karena tertutupi bed cover.

Setelah memastikan gadis itu baik-baik saja dan merasa hangat, Donghae mengambil pakaian Sunghee yang tergeletak di lantai lalu berjalan meninggalkan kamar Hyukjae dan menutup pintunya. Ia tertegun ketika melihat Hyukjae tampak sangat gelisah di dapur. Tangannya tak berhenti mengetuk-ngetuk pinggiran meja. Hyukjae menggigiti bibirnya sambil menatap ramen yang sedang direbusnya.

“Hyukie? Kau kenapa?” tanya Donghae khawatir. Hyukjae tertegun dan menoleh. Ia langsung mendorong Donghae ke tembok dan melumat bibirnya. Donghae terkejut. Baju-baju Sunghee terjatuh ke lantai.

“Hae, aku..” Hyukjae tak bisa menyelesaikan kata-katanya. Matanya melirik baju-baju yang tergeletak di lantai.

“Hm?” tanya Donghae.

“Maafkan aku.” Hyukjae tiba-tiba berjalan ke luar rumah dengan terburu-buru. Donghae hanya menatap kekasihnya bingung.

“Dasar aneh.” Donghae memunguti baju Sunghee dan memasukkannya ke keranjang kotor. Ia lalu melanjutkan memasak ramen yang belum matang.

Esok harinya, hujan kembali mengguyur Kyonggi-do. Hyukjae memutuskan untuk membeli pakaian untuk Sunghee. Ia bergegas pergi ke outlet tempat kakaknya dulu bekerja. Ia membeli beberapa potong pakaian dan bergegas pulang. Ia menyerahkan belanjaannya pada Donghae. Donghae sudah mengerti tugasnya dan segera mengganti baju Sunghee dengan yang baru.

“Hyukie, kau tidak membeli pakaian dalamnya?” seru Donghae dari dalam kamar. Hyukjae tertegun.

“T-tidak..k-kau saja, Hae!”

“Aish kau ini bagaimana? Ya sudah aku beli dulu. Kasihan dia.” Donghae menatap Hyukjae heran sebelum pergi meninggalkan rumah.

“Jaga dia ya, Hyukie!”

“I-iya..” Hyukjae menggigit bibir bawahnya gugup. Matanya terus menatap pintu kamarnya sendiri.

“Aish, aku menyerah!” Hyukjae melangkahkan kakinya panjang-panjang dan membuka pintu kamarnya. Ia meraih tubuh Sunghee yang hanya terbalut sebuah dress selutut dan menciumi bibirnya.

“Hentikan! Kau mau menceritakan semuanya secara detail?” Aku segera menghentikan cerocosan Hyukjae. Cowok itu malah tertawa. Tak bisakah dia mengerti perasaan Donghae? Sedari tadi dia hanya diam dan dari wajahnya dia terlihat sangat terluka.

Tapi, kenapa malah aku yang mengkhawatirkan perasaan Donghae? Ya ampun, aku pasti sudah gila.

“Aku belum menceritakan bagian bagusnya. Kamu tidak penasaran apa yang kulakukan setelah mencium bibir adikmu?” Hyukjae menyeringai. Aku menatapnya marah.

“Baiklah..” Aku mencoba menenangkan diriku. “Lalu apa yang terjadi pada pamanmu, Donghae?”

“Dia meninggal.”

“Karena?”

“Kecelakaan saat baru saja meninggalkan Sunghee di jalan.”

“Begitu..” Aku terdiam. Kalau begitu aku tidak bisa menuntut siapapun. Pelaku sudah tiada, korban tiada, saksi mata juga tidak bisa diharapkan.

Aku menatap Strawlate. Mereka balas menatapku. Donghae dengan senyum lembutnya, dan Hyukjae dengan seringai jenakanya.

“Aku mau berterima kasih pada kalian, karena sudah menjaga Sunghee selama 2 tahun terakhir.”

“Tidak, tidak! Itu bukan apa-apa.” Donghae tersenyum.

“Aaah..tentu saja kau harus melakukannya.” Hyukjae tersenyum setengah. Meskipun aku masih merasa kesal pada makhluk yang satu ini, tapi mau bagaimanapun dia sudah mengkhawatirkan adikku. Dia sudah merawat adikku dan mengajarinya banyak hal. Ia bahkan keluar dari pekerjaannya dan melamar pekerjaan part time hanya untuk menjaga Sunghee.

Strawberry Chocolate. Disingkat jadi Strawlate. Perpaduan yang tidak pas. Strawberry yang asam dicampur dengan pahitnya cokelat. Jika mereka disatukan, hasilnya sangat tidak enak. Membuatku mual dan eneg.

Strawberry dan Chocolate memang seharusnya tidak bersama. Lain jika Chocolate dengan Vanilla, atau Strawberry dengan Vanilla. Hasilnya pasti lezat. Lalu bagaimana dengan keju? Cheese? Aku?

Ya ampun, aku pasti sudah gila. Rasanya aku ingin tertawa keras-keras. Bagaimana mungkin aku menganggap diriku sebagai keju? Yang bisa bersatu bersama rasa apapun? Hahaha, kau bodoh, Strawberry! Keju campur Vanilla rasanya pasti membuat eneg juga. Itu sebabnya Sunghee tidak mau dekat-dekat denganku, bukan? Karena jika disatukan, kami membuat orang mual. Seperti halnya Strawlate. Ya, kan?

Aku pasti sudah gila. Saking gilanya sampai-sampai aku melihat nama Hyukjae dan Donghae diukir di dua buah nisan yang berdampingan. Aku pasti gila. Karena..hey, aku baru saja berbicara dengan mereka. Aku baru saja berkelahi dengan si Hyukjae itu, ya kan? Aku baru saja merasakan apa yang Donghae rasakan. Betul?

Lalu…kenapa di nisan makam yang letaknya agak jauh dari makam Sunghee ini tertulis nama Hyukjae? Dan di sebelahnya ada nama Donghae? Dan mereka meninggal di hari yang sama saat aku bertemu dengan Sunghee di pusat pertokoan itu? Ini pasti hanya halusinasi, kan? Mungkin saja susu stroberi yang diberikan oleh Hyukjae itu beralkohol. Dan aku sedang mabuk..hahaha..

Aku tiba-tiba merasa sangat mual. Aku berlari ke semak-semak dan memuntahkan isi perutku. Tubuhku lemas. Namun rasanya aku ingin tertawa. Iya, aku gila. Cheese sudah gila. Hahahaha..

Mungkin ini akibat depresi berkepanjangan. Orang tuaku meninggal, adikku meninggal, dan aku baru saja bertemu dengan orang-orang yang sudah meninggal!

Aku menampar diriku sendiri, mencoba mengembalikan akal sehatku. Aku berlari mendekati makam Strawlate lagi. Memang benar, mereka meninggal di hari yang sama. Hari ketika aku bertemu dengan Sunghee lagi. Apa yang terjadi saat mereka pergi dengan tiba-tiba?

Kalau benar mereka sudah meninggal, lalu siapa yang kutemui tadi? Apa yang kuminum? Kenapa perutku rasanya tidak enak? Sakit.

Aku berlari menuju mobilku dan segera mengendarainya menuju rumah Strawlate. Tidak mungkin. Tadi Strawlate berada denganku di mobil yang sama. Bahkan aku masih bisa merasakan kehadiran mereka berdua di sini. Masa aku dibuntuti arwah mereka? Yang benar saja!

Aku terpaku melihat rumah yang sudah tak terawat itu. Kini aku tahu apa yang menyebabkan taman kecil di halaman rumah mereka tak terawat. Banyak bunga layu dibiarkan begitu saja. Tentu saja. Itu karena pemiliknya sudah meninggal dua minggu yang lalu!

Pintunya masih tertutup rapat, aku masih ingat Donghae menguncinya tadi. Aku melangkahkan kakiku dengan ragu dan membuka pintu. Terbuka. Tidak dikunci.

Aku melangkah masuk. Bau yang tidak mengenakkan langsung memasuki hidungku. Debu-debu menumpuk di berbagai sudut. Bahkan kursi yang tadi kududuki juga berdebu. Termasuk gelas yang berisi air kotor dan sebatang cokelat yang sudah tidak layak untuk dimakan.

Tiba-tiba aku merasa mual. Aku menerjang kamar mandi dan memuntahkan isi perutku lagi. Hanya air yang keluar. Tentu saja, aku tidak makan apa-apa dari tadi.

Tunggu dulu, lalu bagaimana dengan restauran kecil di depan outlet? Bukankah aku bertemu dengan Donghae di sana?

Pantas saja.. pantas saja para pengunjung langsung menghindariku tadi. Karena aku menerjang tembok dan memarahi tembok itu. Aku memang sudah gila…

Aku berjalan perlahan keluar rumah. Di halaman yang sudah tak terawat, ada beberapa koran yang tergeletak. Aku meraih koran-koran tersebut dan mencari artikel tentang Strawlate. Ada. Ternyata mereka korban kecelakaan mobil. Saat mereka berlari menjauh waktu itu, mereka diterjang sebuah truk besar. Keduanya tewas di tempat. Dalam posisi tangan saling bertautan.

“Aaah..koran itu lagi.”

Aku terkejut. Itu suara Hyukjae.

“Sudahlah, Sungmin. Tidak usah membacanya lagi. Kami tidak suka artikel itu.” Donghae meraih koran tersebut dari tanganku dan melemparkannya keluar pagar. Tepat ketika seseorang sedang lewat sambil mengendarai sepeda. Koran itu tepat mengenai kepalanya. Ia terkejut dan terjatuh dari sepeda.

“YAH! Dasar gila!” umpatnya sebelum pergi. Aku masih menganga tak percaya. Matanya menyorot padaku. Padahal Donghae yang melemparnya.

“Bukan aku yang melakukannya! Donghae yang melakukannya!” seruku.

“Ngomong apa sih?! Pemilik rumah itu sudah meninggal dua minggu yang lalu! Kamu tidak membaca korannya?” Seorang Ahjumma menatapku kesal. Apa-apaan ini?!

“Tapi mereka masih ada di sini! Bersamaku dari tadi! Lihat!” Aku mencari-cari keberadaan Strawlate. Tapi mereka sudah menghilang.

“Tadi mereka ada di sini! Me-mereka pasti ada di dalam rumah. Ayo kutunjukkan!” Aku berlari ke arah Ahjumma itu dan menarik tangannya, menyeretnya masuk ke dalam rumah Strawlate.

“TOLONG!! TOLONG!! ADA ORANG GILA!!” jerit Ahjumma itu.

“Ahjumma! Sopanlah sedikit! Aku tidak gila! Lihat Hyukjae dan Donghae sedang makan ramen di ruang makan!” Aku menunjuk Hyukjae dan Donghae yang sedang asyik makan.

“Sungmin, tolong potongi sayurannya ya? Rasanya kurang lengkap tanpa sayuran.” Donghae menunjuk sayuran yang sudah siap potong di meja dapur. Aku mengangguk setuju. Bagaimanapun mereka adalah orang-orang yang sudah merawat Sunghee.

Aku meraih pisau dan mulai memotongi sayuran itu.

“Oh iya, buah stroberi juga ya? Setelah itu tolong buatkan jus stroberi,” ujar Hyukjae. Aku mengangguk. Aku meraih stroberi-stroberi itu dan mulai memotongi mereka. Agak susah. Mungkin pisaunya tidak tajam. Lalu cairan merah memenuhi tanganku. Aku menjilatnya. Rasanya asam tapi menyegarkan.

“AAAA!!!!” Ahjumma itu menjerit keras.

“Ada apa? Ahjumma, kau mau membantuku memotongi stroberi-stroberi ini?”

“KAU MEMOTONG JARIMU!! BUKAN STROBERI!!” jerit Ahjumma itu lagi.

“Ahjumma itu memang gila, Cheese. Sudah terpotong semuanya? Sekarang tolong buatkan jus ya? Blendernya ada di sana.” Hyukjae menunjuk blender yang tersimpan di sebelah rak piring. Aku mengambilnya dan memasukkan potongan-potongan stroberi itu ke sana. Lalu aku menyalakan blender tersebut. Warna merah langsung mengisi blender itu.

Suara teriakan Ahjumma itu menyaingi suara blender yang nyaring.

“AAAAA!!!”

NGGRRRRR…

= = =

Aku dimasukkan ke dalam ruangan yang serba putih. Aku meraba dindingnya dengan tangan kananku. Karena tangan kiriku sudah tidak punya jari. Kata mereka aku memotong mereka semua. Tapi, aku kan hanya memotong stroberi. Bukan jari-jariku. Aku masih waras, tahulah yang mana jari yang mana stroberi.

Kalau aku gila, mungkin saja aku memotong jariku sendiri. Tapi aku waras kok.

Hm..kalau dipikir-pikir aku sedang dikelilingi oleh adikku sekarang. Vanilla.

“Hai, Vanilla! Aku kangen sekali padamu!” Aku memeluknya erat.

“Aku juga merindukanmu, Cheese.” Vanilla tertawa di pelukanku. Aku tersenyum dan mengusap rambutnya lembut.

“Tapi, maaf. Aku harus pergi. Annyeong, Cheese!” Vanilla pergi meninggalkanku. Aku berlari mengejarnya, namun tetap tak terkejar.

“Vanilla! Vanilla!!!” jeritku.

“Ya Tuhan! Dokter! Dokter! Pasien bernama Lee Sungmin menabrakan dirinya ke tembok!”

Perawat itu mengganggu saja. Siapa pula itu Lee Sungmin? Namaku kan Cheese.

Mereka menjauhkanku dari Vanilla. Mereka mempertemukanku dengan Chocolate. Dia tersenyum menyapaku. Entah kenapa aku sangat merindukannya.

“Chocolate!” Aku hendak memeluknya tapi ia menjauh. Ia tersenyum meledek.

“Ayo kejar aku, Cheese! Sebelum Strawberry datang!” Tentu saja! Tentu saja aku akan mengejarmu, Chocolate!

Aku tertawa-tawa bersama Chocolate. Kami bercanda. Dia merangkulku dan aku memeluknya. Dia mengecup pipiku sekilas dan aku mencium bibirnya. Jangan sampai Strawberry lihat, dia bisa marah.

“Cheese! Kau membawa Strawberry! Aku harus pergi!” Chocolate berlari menjauh dariku. Sama seperti cara Vanilla menghilang. Ia menghilang dibalik dinding berwarna cokelat yang empuk seperti bantal itu.

Tapi dimana Strawberry? Aku melihat sekeliling. Kulihat Strawberry berdiri di dekat pintu. Menunjuk tangan kiriku. Aku melihat tangan kiriku. Perbannya terbuka, cairan stroberi keluar.

“Annyeong, Cheese. Mau main bersamaku?” Strawberry tersenyum menggoda. Aku tergoda oleh senyumnya. Maka aku bermain bersamanya. Aku juga menciumnya. Menjilatnya. Yummy!

Ah..permainannya kurang seru. Aku menatap tangan kiriku yang mengeluarkan cairan stroberi. Aku ingin lebih. Aku mencakar tanganku. Menggigitinya. Strawberry terkekeh geli melihatku.

“Lihat, lihat…sekarang siapa yang menginginkan keberadaanku?” katanya.

“Aku!” seruku lalu mulai mencakari tanganku lagi. Rasanya mulai tidak enak. Aku mulai mual. Aku memuntahkan isi perutku lagi. Kali ini cairan stroberi yang keluar. Aku memuntahkan stroberi. Tidak, tidak! Aku harus menelannya lagi! Strawberry akan memarahiku…

“Hentikan, Cheese. Itu menjijikkan.” Strawberry melihatku jijik.

“Kenapa?” Aku melap mulutku yang belepotan stroberi. “Kau suka stroberi, kan?”

“Iya. Tapi tidak seperti ini. Pejamkan matamu, Cheese. Kami akan membawamu pulang.”

Aku menuruti perintahnya. Aku memejamkan mata dan menunggu. Tiba-tiba aku merasa tubuhku sangat lemas. Lalu sakit menyusul. Tapi tidak lama. Sakitnya hilang. Aku melayang. Bersama Strawberry, Chocolate, dan Vanilla.

= = =

“Sungguh tragis. Adik kakak itu meninggal dengan cara yang tidak jauh berbeda.”

“Iya.. Sungmin ditemukan sedang menggigiti tangannya sendiri. Ia sempat muntah darah dan hendak menelan muntahannya kembali…ugh..mengerikan.”

“Kabarnya ia meninggal karena keracunan air kotor?”

“Iya. Masa dia meminum air dari kamar mandi yang sudah mengenang selama dua minggu?”

“Ironis sekali..kenapa kakak beradik itu harus gila dulu sebelum meninggal. Aku kasihan pada mereka.”

“Iya. Untung saja anakku selalu kujaga dengan baik. Jangan sampai anakku mengalaminya.”

Perbincangan orang-orang di sekitar makam Sunghee dan Sungmin semakin ramai. Sementara di gerbang makam, Ahjumma yang menjadi saksi kegilaan Sungmin sedang diwawancarai oleh wartawan.

“Dia menyebut-nyebut nama Donghae dan Hyukjae, mereka berdua pemilik rumah itu yang sudah meninggal. Aku ditarik olehnya dan dibawa ke dalam rumah yang berdebu. Dia bilang Donghae dan Hyukjae sedang memakan ramen di ruang makan, tapi yang kulihat hanya dua buah mangkok plastik yang berisi air kotor. Tidak ada orang lain di sana. Lalu…cowok itu mulai memotongi jarinya sendiri dan memblendernya. Dia bilang itu stroberi dan Hyukjae menyuruhnya membuatkan jus stroberi..” Ahjumma itu bergidik ngeri ketika menceritakannya. Para wartawan serius mencatat dan mengangguk-angguk.

“Kumohon…tutup saja kasus ini. Aku tidak mau melihat artikel yang membahasnya..” mohon Ahjumma itu.

“Tapi…” Salah satu wartawan hendak buka suara, namun Ahjumma itu tiba-tiba menjerit.

“AKU TIDAK MAU DIHANTUI OLEH MEREKA!!” Ahjumma itu menunjuk ke suatu arah. Sebuah pohon rindang di sudut pemakaman. Semua orang melihat ke arah yang ditunjuk. Tidak ada apa-apa.

“Tidak ada siapa-sia..”

Perkataan wartawan itu terpotong.

“Benar, kan? Kalian tidak melihatnya, kan?! Pasti aku…pasti aku yang akan dihantui nanti. Kumohon jangan publikasikan berita ini, aku tidak mau menjadi gila dan mati!” Ahjumma itu memegangi kepalanya dengan resah.

“Ahjumma, Strawberry Chocolate Vanilla dan Cheese. Perpaduan yang pas, bukan? Lezat, kan?” Ahjumma itu melihat sekeliling dengan panik.

“Kalian bicara apa?! Jangan konyol!”

“Ahjumma, kami tidak bicara apa-apa!” Seorang polisi berkata.

“Bohong! Aku dengar kalian berkata, ‘Strawberry Chocolate Vanilla dan Cheese, perpaduan yang pas, bukan?’ Ya, kan?!”

“Tidak, Ahjumma! Kami tidak bicara apa-apa!” ujar salah seorang wartawan dengan kesal.

“Ahahaha..tidak mungkin..ini berarti aku mulai gila…hahaha. Ahaahaha…HAHAHAHAHA!!”

“Ahjumma! Ahjumma sadarlah! Ahjumma!”

Sore itu, aku melihat kekacauan di pemakaman sambil tersenyum. Ahjumma itu sudah gila. Hahaha..

Strawberry dan Chocolate tidak enak, tapi mungkin rasanya lain jika dipadukan dengan Vanilla dan Cheese. Benar, kan?

THE END

18 thoughts on “[FF] Strawlate Cheese PG-15

  1. vidiaf says:

    satu kata. DAEBAK! eh bonus deh, SPEECHLESS! XDD aku suka banget sunbae~ mana udah lama lagi ga baca ff sadis :3 /eh
    asli aku heboh sendiri bacanya .____.
    untung ada peringatan “jangan makan” -_- kalo ngga udah deh sampe malem juga ngga akan makan /slapped

    gila, sadisnya kena banget! aku suka😄
    idenya bener-bener lah…. speechless
    alurnya itu loh, aku kaget kalo ternyata sungmin itu berhalusinasi dan ya… begitu… (ngga tega ngetik gila u___u)

    dan aku gatau mau comment apalagi… terlalu daebak nih ffnya ._.😄

  2. amitokugawa says:

    ff ini keren banget, saking kerennya aku jadi bingung mau komen apa, pokoknya keren lah, mulai dari adegan2nya, monolog sungmin, semuanya kebayang, kecuali adegan bikin jus stroberi… amit2!

    kalau difilm-in mungkin bisa dapat award skenario tersadis kali ya? *emang ada? hehe*

    cerita ini mengingatkan aku sama ff aku, persamaannya sungmin sama2 berhalusinasi tentang hyukjae dan donghae😀

    oya? emang skenario aslinya gimana? happy ending atau sad ending?

    daebak deh pokoknya!

    • sungheedaebak says:

      aduh aduh makasih banget hahaha jadi malu
      adegan jus stroberi itu..haha makanya dikasih warning jangan makan pas baca ff ini ya karena itu ^^

      kalau ada kayaknya bakal menang hahaha. jadi penasaran kalo dibikin film gimana jadinya *ngebayangin eunhae ngelakuin adegan itu, sungmin gila, brr*

      ff yang mana? aku dah baca belom?

      endingnya happy. jadi si dongwook itu gak kecelakaan dan ketangkep, kalo strawlate emang bneran meninggal tapi endingnya si sungmin hidup. lah ini melencengnya jauh banget hahaha

      gomawo ^^

      • amitokugawa says:

        udah deh kayaknya, yang judulnya Is It Your Fate, endingnya sungmin bunuh diri, tapi di pemakaman

        iya sih, adegannya…ehm… tapi aku suka adegan pas di rumah strawlate itu lho, yang pas sungmin disuruh minum susu stroberi campur cokelat

        ooo, jauh melenceng, disini semuanya meninggal, nggak dongwook, nggak sungmin…ckck

        cheonmane😀

      • sungheedaebak says:

        oh iya judulnya tau tapi ceritanya lupa MUAHAHA #mintadikemplang
        kapan2 baca lagi ah ^^

        iya aku juga suka. ngebayangin sungmin ngeliatin coklat yg dicampur ke dudu stroberi…asa keren. dan entah kenapa aku suka adegan ahjumma yg teriak barengan sama suara blender. #psikopat

        iya hahaha

  3. Hwang sungmi says:

    aaaaa~ sunghee sejak kapan kamu jadi psikopat gini hah?! Daebak! Kereeen. Tapi kasian sungminnya ikutan gila juga. Eh itu beneran halusinasi atau eunhaenya dateng?

  4. dhila_アダチ says:

    AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~~~~~
    baca siang hari panas2 gini aja udah merinding…cba klo baca malem2 ya…
    #hiiiiiiiiii

    aduh sunhee, utk rating bsikopat, dirimu dapet nilai 9 dari 10!!!
    bneran…ni masih mrinding pas ngetik komen…brrr…

    pas sungmin nyari toko baju, ketemu donghae, di rumah kunyuk..itu kukira bneran loh…aseli aku udah kebawa arus gila..bneran…
    bukannya sungmin yang halusinasi, aku juga ikutan halusinasi dong klo gitu ceritanya…XD
    #waduh

    jus strawberry nya yahud tuh kayaknya…ada zat besi, kalsium, air, garam, delele…
    #sudahcukupdilacukup

    GREAAT!!!! aku suka pas sungmin udah gila..
    #pletakkk

    • sungheedaebak says:

      wah nilai 9 dari 10 mendekati nilai sempurna dong
      hehe maaf bikin merinding ^^v

      berarti selain gila aku bisa hipnotis lewat tulisan ya #naooon
      hahaha

      iya. banyak gizi, menyehat..kan..
      #hentikan

      hahahaha😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s