[FF] Strawberry Chocolate Vanilla

Aku tidak tahu apa aku. Aku tidak tahu jenis kelaminku apa. Aku tidak tahu namaku siapa. Aku tidak tahu terlahir sebagai apa. Apakah aku tumbuhan? Karena aku hanya bisa terdiam di sini, tapi aku hidup. Apakah aku hewan? Aku tidak punya akal tapi aku bisa merasakan lapar, haus. Apakah aku manusia? Karena aku bisa merasakan senang, sedih, marah. Ataukah…aku ini udara? Aku hanya berdiam diri di ruangan ini. Atau malah ini bukan ruangan? Entahlah aku tidak tahu. Rasanya aku sudah kehilangan otakku.

“Queen? Kau sudah bangun?” Suara yang berat. Tapi itu suara apa? Suara siapa? Rasanya aku pernah mendengar suara seperti itu di suatu tempat. Mungkin di kehidupanku yang lain? Ataukah aku memang belum mati?

Cahaya yang sangat terang menyilaukan mataku. Aku terpaksa memejamkan mataku.

“Silau ya?” kata suara itu lagi. Aku tidak yakin apakah dia manusia ataukah hewan? Yang jelas aku mengerti bahasanya.

“Buka matamu, Queen.”

Aku mengikuti perintahnya. Semula, mataku belum terbiasa. Butuh tangan untuk menghalangi mataku. Tapi, lama-kelamaan mataku sudah terbiasa. Aku menurunkan tanganku dan melihat sosok yang berbicara padaku sedari tadi. Dia..manusia. Berarti aku juga manusia. Dan dia..dari tubuhnya yang tegap, lengannya yang berotot, rambutnya yang pendek, aku yakin dia laki-laki. Jenis yang bertugas untuk membuahi sang wanita. Dan aku…aku apa?

“A…” Aku mencoba mengeluarkan suara. Berhasil. Suaraku lebih ringan daripada suaranya. Suaraku juga lebih lembut. Mungkin saja aku perempuan.

“Kau mau bicara, Queen? Ayo bicaralah!” Laki-laki itu berkata dengan semangat.

“Aku…aku..apa?” Berhasil. Meski masih perlahan dan nyaris tak terdengar.

“Kamu manusia, dan kamu perempuan. Aku juga manusia sedangkan aku laki-laki. Aku memberimu nama Queen Vanilla. Karena kau hanya terdiam seperti mannequin, tapi kau sungguh cantik seperti ratu. Kau juga manis dan putih seperti vanilla.” Laki-laki itu menjelaskan dengan panjang lebar. Kurasa ia memujiku. Karena perutku bergolak senang mendengar kata-katanya. Pipiku juga memanas. Aku sedang malu. Tubuhku berkata bahwa aku sedang malu.

“Kamu..siapa?”

“Panggil saja aku Strawberry. Di luar tampak menggoda, tapi di dalam asam.” Strawberry tersenyum. Aku hanya diam. Iya, aku mannequin. Aku hanya bisa diam. Menggerakkan tangan pun rasanya sulit. Mengenal anggota tubuhku sendiri pun susah. Apa yang terjadi padaku? Apa dunia sudah gila?

“Apa…y-yang..t-terjadi?” tanyaku. Suaraku gemetaran. Strawberry duduk di sampingku, di atas sesuatu yang empuk yang ada di ruangan itu.

“Aku sendiri kurang tahu, Queen. Aku dan Chocolate menemukanmu tergeletak di pinggir jalan raya dekat rumah kami. Kami memutuskan untuk membawamu ke sini. Aku bersyukur kamu sudah siuman.”

“Ini aneh…a-aku..t-tidak..aku tidak tahu..ini apa…aku tidak tahu aku siapa sebenarnya..aku juga..tidak tahu aku dimana. B-bahkan..aku sempat mengira aku tumbuhan, hewan, atau udara..aku seperti…kembali menjadi bayi..t-tidak tahu..apa-apa..” Butuh waktu lama untuk mengucapkan semuanya. Aku berkali-kali berusaha untuk menemukan kata yang tepat.

“Aku dan Chocolate akan mengajarimu. Kamu tenang saja.”

“Chocolate..siapa?”

“Dia kekasihku. Sekarang sedang bekerja. Tunggu sampai ia pulang ya.”

Sambil menunggu, Strawberry mengajariku banyak hal. Ternyata benda empuk yang kududuki sekarang ini namanya kasur, dan aku sedang menyandar di tembok. Aku berada di dalam kamar Strawberry. Kamar Chocolate ada di sebelah. Di depanku itu namanya pintu. Pintu itu menghubungkanku ke ruang makan. Yang kami tinggali adalah rumah. Rumah yang kecil namun nyaman, begitu kata Strawberry.

Suara pintu terbuka terdengar. Suara langkah kaki kemudian menyusul. Ekspresi Strawberry berubah cerah.

“Itu pasti Chocolate,” ujarnya senang. Aku hanya terdiam. Posisiku aneh. Kakiku terlipat kaku, dan tanganku terkulai di sisi tubuhku. Kepalaku menyandar ke tembok. Pandangan mataku terus mengarah pada ruang makan. Lama-lama dua sosok pria menghalangi pandanganku. Mereka tersenyum.

“Ini kekasihku, Chocolate. Chocolate, dia sudah siuman. Kuberi dia nama Queen Vanilla. Diam seperti mannequin, cantik seperti ratu, manis dan putih seperti vanilla. Bagaimana?”

“Bagus. Cocok sekali. Hai, Vanilla! Aku Chocolate.” Chocolate tersenyum dan mengulurkan tangannya. Apa ini? Apa yang dia minta dariku?

“Jabat tangan, Queen. Manusia biasa melakukan itu ketika pertama bertemu,” ujar Strawberry. Aku mengulurkan tangan kiriku.

“Yang kanan, Vanilla. Yang ini.” Chocolate menunjuk ke tangan yang kugunakan untuk menghalangi pandanganku ketika silau tadi. Oh ini kanan. Aku mengangkat tanganku. Chocolate menggenggamnya dan mengguncang-guncangnya sekilas.

“Senang bertemu denganmu, Vanilla. Aku sudah membawa makanan, ayo kita makan.” Chocolate lagi-lagi menjulurkan tangannya. Aku menyambutnya dan mengguncang-guncangnya. Chocolate dan Strawberry tertawa.

“Chocolate mengajakmu ke ruang makan, Queen. Ayo kita makan.” Strawberry meninggalkan ruangan ini terlebih dahulu. Chocolate menarik tanganku, memaksaku berdiri. Aku terjatuh ke pelukannya. Kakiku rasanya mati rasa.

“Kau tidak bisa berjalan, Vanilla?” Nada khawatir bisa kutangkap di perkataan Chocolate. Aku masih terdiam. Tubuh Chocolate wangi. Wanginya seperti…ah aku tidak tahu. Pokoknya aku pernah mencium wangi seperti ini di suatu tempat. Wanginya sangat menyenangkan.

Sepertinya Chocolate sadar aku menciumi tubuhnya. Dia hanya terkekeh geli.

“Sudahlah, Vanilla. Ayo kugendong kau ke ruang makan.” Chocolate mengangkat tubuhku dan menggendongku ke ruang makan. Aku terkejut, tubuhku berkata begitu. Aku bisa menatap wajah Chocolate dari dekat. Sangat tampan. Indah. Aku senang melihat wajahnya.

Di ruang makan, Strawberry sudah menunggu. Ia tersenyum ramah menyambut kedatanganku. Gusinya sedikit terlihat. Strawberry lucu dan manis. Aku suka melihatnya.

“Ini namanya Sup Ayam Jamur. Bagus untuk kesehatanmu, Vanilla.” Chocolate mengaduk benda cair yang disimpan di wadah di hadapanku. Aku hanya menatap sup itu bingung.

“Kamu makan saja, Chocolate. Aku yang akan menyuapi, Queen,” kata Strawberry. Sekarang aku sadar, mereka berdua memanggilku dengan nama yang berbeda. Strawberry memanggilku Queen, sedangkan Chocolate memanggilku Vanilla. Strawberry Chocolate. Kombinasi yang pas. Rasa asam stroberi bisa dileburkan oleh rasa manis campur pahit dari cokelat.

Strawberry menyuapi sup itu ke mulutku. Rasanya enak. Asin dan hangat. Kata Strawberry begitu. Kalau yang membuat kita keringatan dan bercucuran air mata ketika memakannya, itu pedas. Kalau yang kecut, itu asam. Yang sangat tidak enak, pahit. Manis adalah rasa yang paling baik, katanya. Tapi jika terlalu banyak bisa menimbulkan berbagai penyakit.

“Aku suka asin,” ujarku. Strawberry mengangguk paham.

“Chocolate membeli cake vanilla. Nanti kamu coba ya?” kata Strawberry lagi. Aku menatap Chocolate. Ia masih berkutat dengan makanannya. Dari samping, dia tampak keren. Aku suka Chocolate, tapi Strawberry membuatku nyaman.

Mereka berdua laki-laki, tapi kata Strawberry, mereka adalah sepasang kekasih. Aku bingung. Bukannya laki-laki harusnya berpasangan dengan perempuan? Denganku? Seperti jantan dan betina. Iya, kan? Kalau mereka sama-sama bertugas untuk membuahi, siapa yang mau dibuahi?

“Sudah selesai makannya, Vanilla? Mau kubereskan.” Aku mengangguk. Chocolate membereskan meja makan dibantu dengan Strawberry. Aku masih duduk di kursi dan menonton mereka mencuci piring. Tangan Strawberry tidak mau diam. Sedikit-sedikit, ia pasti menyentuh Chocolate. Chocolate tidak merasa terganggu. Ia malah terlihat menikmatinya.

Melihatnya, aku jadi ingat sentuhan Chocolate tadi. Rasanya masih berbekas di tubuhku. Waktu dia menjabat tanganku, menggendongku. Sentuhan Strawberry juga tak bisa kulupakan. Waktu ia melap bibirku yang kotor, membersihkan wajahku dari keringat dingin. Sentuhan mereka berdua membuatku nyaman.

Tapi tatapan Chocolate lebih bersahabat. Kalau Strawberry seringkali menatapku…ehm…apa ya? Agresif? Nafsu? Pokoknya ia seperti menginginkanku. Ia seperti serigala yang melihat mangsa mulus di depan mata.

Seringkali, tangan Strawberry merayap masuk ke rokku ketika Chocolate pergi. Bibirku juga sudah berapa kali dikulumnya. Leherku sudah menjadi tempat jajahannya. Tubuhku apalagi. Sudah sering tubuhnya yang lebih berat dari tubuhku menindihku. Dia tidak hanya melakukan itu di kamarnya yang diberikannya untukku, tapi di sofa ruang TV, di dapur, di bath tub kamar mandi. Tangannya terus-menerus menggerayangiku.

Waktu Chocolate pulang, Strawberry merubah sikapnya menjadi sangat manis. Dia selalu menggoda Chocolate, menghibur Chocolate.

Dia benar. Strawberry tampak menggoda di luar, tapi asam di dalam.

Lalu bagaimana dengan Chocolate? Apakah dia juga punya sisi pahit? Aku tidak terlalu mengenalnya karena dia selalu pergi ke luar rumah. Hanya pada hari Sabtu dan Minggu dia ada di rumah. Katanya bekerja. Strawberry juga bekerja, tapi shift-nya ringan. Dia hanya bekerja part time karena harus menjagaku. Mereka bergantian menjagaku. Chocolate tidak banyak bicara. Sikapnya lembut, menganggapku kawan. Tapi, Strawberry lain.

Strawberry Chocolate. Disingkat jadi Strawlate. Perpaduan yang pas. Rasa asam stroberi yang dipudarkan oleh rasa manis pahit cokelat, lalu apa peran vanilla? Menyatukan rasa manis dengan cokelat dan menghilangkan rasa asam stroberi? Aku tidak mau. Manis bertemu dengan manis, kata Strawberry, terlalu banyak mengonsumsi makanan manis bisa menimbulkan berbagai penyakit.

Kalau begitu, kita bertiga tidak bisa bersama.

Malam ini, Chocolate tidak akan pulang. Dia lembur, besok pagi baru pulang, katanya. Strawberry tampak senang. Saat jam menunjukkan pukul 9, ia memasuki kamarku dan mengunci pintunya. Aku hanya bisa terdiam di posisi yang sama saat Strawberry pertama membuka pintu di hadapanku. Terduduk di kasur, kaki terlipat, tangan terkulai, kepala disandarkan ke tembok. Mataku menatap Strawberry dengan pandangan hampa. Kosong.

“Hai, Queen,” sapanya sambil tersenyum menggoda. Aku hanya diam. Tanpa ba-bi-bu lagi, ia langsung menerkamku. Bibirnya menghisap bibirku dengan paksa. Aku hanya diam. Aku kan mannequin.

“Aku minta untuk hari ini, bersikaplah seperti manusia, Queen! Seperti ratu! Dan anggaplah aku rajamu. Kau harus mematuhi perintahku!”

Pahit. Sikap Strawberry hari ini sangat pahit. Sangat tidak enak. Sangat menyiksa. Aku ingin menghilangkan rasa pahit ini. Tapi Chocolate juga punya rasa pahit. Hanya vanilla yang bisa menghapusnya. Itu berarti harus aku sendiri yang melakukannya.

“Strawberry busuk,” desisku. Strawberry mengentikan aktifitasnya dan tercengang menatapku. Aku menatapnya marah.

“Strawberry harusnya asam, tapi menyegarkan dan menyenangkan. Strawberry harusnya terasa manis, bila dicampur Vanilla. Hanya Strawberry busuk yang rasanya pahit,” ujarku lagi. Tampaknya kata-kataku tepat menusuk jantungnya. Jadi Strawberry hanya bisa terdiam. Terduduk di samping tempat tidur. Membiarkan tali dressku yang turun sebelah. Dan rambutku yang acak-acakan.

“Bagaimana dengan Chocolate?” tanyaku lagi. Gaya bicaraku sudah lancar, meski kadang harus memperbaiki penyusunan kalimat. Aku masih belum bisa berjalan, tapi aku sudah bisa makan sendiri. Semuanya butuh waktu. Aku yakin Strawberry juga butuh waktu untuk mencerna kata-kataku.

“Kamu tahu apa itu biseksual, Queen?” Nada suara Strawberry melembut. Tidak sepahit tadi.

“Hah?” Aku hanya menganga. Kata yang asing.

“Aku menyukai Chocolate yang laki-laki, dan aku juga menyukaimu, Queen yang notabene adalah perempuan. Aku bisa jatuh cinta pada laki-laki ataupun perempuan. Chocolate homoseksual, ia hanya bisa mencintaiku, tidak bisa mencintaimu sebagai kekasih. Dan kamu. Kamu apa, Queen?” Pandangan mata Strawberry menusukku.

“Aku..” Aku terdiam. “Aku menyukai kalian berdua.”

Strawberry tersenyum.

“Tentu saja, karena hanya kami yang kau lihat selama ini. Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Queen? Kenapa kau jadi tidak bisa apa-apa?”

“Aku tidak tahu.”

“Baiklah. Aku mengerti keadaanmu. Jadi..Queen, kau tidak menyukai sentuhanku?”

“Aku suka, tapi jangan terlalu keras. Sakit.”

“Aku akan melakukannya perlahan.” Strawberry kembali merayap ke atas tubuhku. Kali ini sikapnya manis. Aku menikmatinya. Aku senang dia menyentuhku seperti itu. Dengan cara yang lembut, cara yang manis, yang Vanilla suka.

“Queen…Vanilla…hh..suka..Strawberry.”

“Strawberry juga menyukaimu…Queen.”

Chocolate pulang mendadak. Ia menerjang pintu kamar dan menganga melihat kami. Surat kabar di tangannya terjatuh.

“Lee Hyukjae!” seru Chocolate. Aku mengernyit. Siapa Lee Hyukjae?

“Donghae yah..” lirih Strawberry. Donghae? Siapa Donghae?

“Se-seharusnya aku sudah menyadarinya dari awal. Kau menyukai dia kan? Kau menyukai Lee Sunghee, kan?!” seru Chocolate. Aku rasa sisi pahit Chocolate sedang keluar. Dia tampak sangat marah dan menakutkan.

“Aku biseks, Donghae.” Pandangan Strawberry tampak berbeda. Terluka.

“Jadi namanya Lee Sunghee?” Strawberry menunjukku. Aku bingung. Chocolate menggeram marah dan melemparkan surat kabar itu ke arah Strawberry. Ia menghindar dan korannya jatuh di atas perutku yang telanjang. Aku meraihnya dan mulai membaca. Aku bisa membaca, Strawlate selalu mengajariku. Kebanyakan Strawberry yang ambil peran.

Sebuah artikel yang sudah ditandai sebelumnya membuatku tercengang. Ada artikel tentangku. Katanya, aku ini korban pencucian otak. Nama asliku Lee Sunghee, usiaku 17 saat menghilang. Aku baru saja lulus SMA dan diculik waktu aku sedang merayakan kelulusanku dengan teman-temanku. Otakku dicuci. Setelah itu, aku dikabarkan hilang. Begitu kesimpulan dari artikel yang kubaca.

Tapi penyebab aku tergeletak begitu saja di jalan, aku tidak tahu. Cuci otak untuk hal apa, aku tidak tahu.

“Ini kasus 2 tahun yang lalu. Jadi usiamu sekarang 19, Sunghee,” kata Chocolate. “Aku dengan susah payah mencari koran 2 tahun yang lalu. Di internet tak kutemukan artikelnya. Kasus ini sengaja ditenggelamkan. Entah apa alasannya. Semua orang sudah menganggapmu mati, Sunghee.”

“Apa aku juga punya orang tua, seperti orang lain?” kataku. Chocolate mengangguk.

“Mereka bunuh diri saat mengetahui kabar kematianmu. Tapi ternyata kau masih hidup.”

“Bagaimana dengan kalian? Dimana orang tua kalian? Berapa usia kalian? Nama asli kalian?”

“Kami anak yatim piatu yang kebetulan bertemu. Karena senasib, kami memutuskan untuk hidup bersama dan menghidupi kehidupan berdua. Tapi karena itu kami jadi menyimpang. Usia kami sama, 25 tahun. Nama asliku Lee Donghae, dia Lee Hyukjae.” Chocolate menjelaskan dengan panjang lebar. Kulirik Strawberry yang memungut bajuku dari lantai. Ia lalu memberikannya padaku.

“Pakailah. Maafkan perbuatanku.” Strawberry tampak sangat menyesal. Aku hanya terdiam dan mengenakan kembali pakaianku.

“Kau masih ingin tinggal di sini, Sunghee? Atau kau mau mencari kehidupan yang lebih baik?” tanya Strawberry, atau Hyukjae. Aku ingin terus memanggilnya Strawberry saja.

“Apa ada kehidupan yang lebih baik dibanding bersama kalian?” Aku menatap Strawlate bergantian. Mereka berpandangan. Kompak, pandangan mereka teralih padaku. Senyuman tersungging di bibir mereka.

“Kau boleh menganggap kami kakakmu, Queen.”

“Hm. Kau juga boleh menganggap kami sebagai orang tuamu, sahabatmu, kekasihmu, apapun yang kau mau, Vanilla.”

“Queen Vanilla…nama itu lebih baik daripada Lee Sunghee,” gumamku.

“Strawberry Chocolate Vanilla. Perpaduan yang pas, bukan?” Strawberry tersenyum.

“Benarkah begitu, Strawberry?” Chocolate memberikan tatapan menggoda pada Strawberry. Strawberry merespon.

“Vanilla, makanan sudah kusiapkan. Kau makan duluan ya.” Chocolate menarik Strawberry ke kamarnya.

“Bodoh! Queen belum bisa berjalan! Biar aku bawakan makannya ke kamar. Tunggu sebentar, Chocolate sayang.” Strawberry melepaskan tangan Chocolate dan bergegas membawakanku makanan. Mereka berdua tersenyum sebelum keluar kamarku dan menutup pintu. Aku makan dalam keheningan. Dari kamar sebelah, suara desahan-desahan kerap terdengar. Aku mual. Mereka mengganggu.

Aku meletakkan makananku di meja yang terletak persis di sebelah tempat tidur. Aku menatap keluar jendela. Aku ingin jalan-jalan. Mereka berdua selalu melarangku. Alasannya takut kasusku terkuap kembali. Takut aku merasakan kesepian. Takut aku terluka.

Tapi…apa salahnya pergi keluar rumah? Aku ingin melihat dunia luar. Besok aku akan meminta Strawberry untuk mengajakku jalan-jalan. Strawberry lebih lunak daripada Chocolate yang keras. Dia pasti mau.

Tapi ternyata dugaanku salah. Strawberry melarangku pergi. Alasannya, kakiku belum bisa digunakan untuk berjalan. Aku benar-benar tidak ingat bagaimana caranya berjalan. Aku ingin berjalan. Melihat Strawlate berjalan, kelihatannya mudah. Tapi waktu aku mempraktekannya, aku pasti terjatuh.

“Ayolah, Strawberry…aku ingin jalan-jalan..aku bosan di rumah..” Aku menarik-narik baju Strawberry. Strawberry menghela napas.

“Lalu aku harus memapahmu sepanjang perjalanan? Aku harus menggendongmu terus?”

“Strawberry..” rengekku.

“Baiklah, Queen. Aku akan mengajakmu jalan-jalan asalkan kamu bisa berjalan. Aku akan mengajakmu ke lapangan di luar rumah, kita belajar berjalan di sana. Oke?”

“Oke!” Aku mengangguk senang. Strawberry manis sekali. Aku suka. Akhir-akhir ini dia tidak pernah menjamah tubuhku lagi. Ia hanya memberikan kecupan manis dan sentuhan ringan yang hangat. Strawberry baik.

Sedangkan Chocolate, sikapnya jadi kurang bersahabat. Dia masih baik, tapi dia tidak selembut dulu. Mungkin dulu Chocolate masih dalam bentuk cairnya, belum dimasukkan ke freezer. Sekarang Chocolate sudah keluar dari freezer, sikapnya jadi keras. Seperti batang cokelat yang mengeras, membeku. Butuh sesuatu untuk menghangatkannya dan mencairkannya. Semacam..vanilla? Cream vanilla yang masih hangat? Berarti aku punya tugas baru. Dulu aku meleburkan rasa pahit Strawberry menjadi manis dan asam. Sekarang aku harus melelehkan Chocolate. Baiklah.

Aku mencoba berdiri. Kakiku gemetaran. Tanganku menggenggam lemari dengan kuat. Aku berhasil turun dari tempat tidur, dan aku berdiri! Ini membuatku optimis aku bisa melangkah maju. Senyum mengembang di bibirku. Aku mencoba melangkah. Berhasil! Aku mengigit bibirku dan mencoba melangkah lagi. Tanganku bertumpu pada dinding. Langkahku tertatih, namun aku tetap melangkah.

Susah payah, aku berhasil sampai di depan pintu kamar Chocolate.

“Strawlate?” panggilku. Aku tahu, tidak sopan mengganggu mereka saat mereka sedang melakukan hal itu. Tapi, aku ingin memberitahu mereka bahwa aku sudah bisa berjalan! Aku akan keluar rumah!

“Strawlate?” panggilku lagi. Terdengar erangan di dalam ruangan. Suara langkah kaki terdengar dan pintu pun terbuka. Strawberry terpana menatapku berdiri di hadapannya yang hanya mengenakan boxer. Aku sendiri tidak terkejut melihatnya setengah telanjang. Dia sering bertelanjang bulat di hadapanku, dulu.

“Queen? Bagaimana kau bisa berdiri di sini? Kau berjalan, Sayang?”  Luapan gembira jelas terlihat di raut wajah Strawberry. Aku mengangguk senang. Terdengar suara ribut dari dalam ruangan, sepertinya Chocolate terjatuh dari ranjang. Ia langsung bangkit dan berlari ke hadapanku, menyingkirkan Strawberry.

“Vanilla…” ucapnya. Dia tampak takjub melihatku.

“Queen!”

“Vanilla!”

Mereka berseru bersamaan dan memelukku. Aku tertawa. Aku senang merasakan kehangatan mereka. Ya, mereka memang benar-benar hangat, bahkan panas. Mereka bertelanjang dada dan berkeringat.

“Besok kita jalan-jalan! Ya, besok kita harus jalan-jalan!” seru Strawberry antusias. Aku tersenyum.

Strawberry menepati janji. Aku sudah bisa berjalan dan kami bertiga sekarang sedang berada di pusat pertokoan yang ramai di Seoul. Kami membeli banyak barang. Strawlate menawariku banyak makanan untuk kucicipi. Semuanya enak-enak. Strawlate juga mengajariku banyak hal yang belum kuketahui, mungkin sudah kuketahui tapi kulupakan.

“Lee Sunghee?” seru seseorang. Laki-laki. Aku tertegun. Apa ada orang yang mengenalku lagi?

“Kamu Sunghee, kan? Kamu adikku yang hilang, kan?” seru suara itu lagi. Adik? Aku adik Strawlate. Mereka kakakku. Mereka juga sahabatku. Mereka juga orang tuaku. Mereka juga kekasihku.

“Kamu siapa?” tanyaku pada lelaki itu. Kelihatannya ia seumuran dengan Strawlate.

“Aku Lee Sungmin, kakakmu, Sunghee yah! Ya Tuhan, akhirnya aku menemukanmu! Sudah lama sekali kau hilang! Bahkan orang-orang mengira kau sudah meninggal! Syukurlah kau masih hidup…” Lelaki yang mengaku Sungmin memelukku erat. Aku ketakutan. Aku berontak minta dilepaskan. Aku memanggil Strawlate, tapi mereka hanya diam. Mereka bahkan pergi menjauh dariku.

“Strawberry! Chocolate!! Tolong aku!” panggilku parau. Tapi mereka tidak mendengarkan. Mereka berlari menjauh.

“Kenapa, Sayang? Kamu mau stroberi? Mau cokelat? Sini Oppa belikan.”

“Tidak mau! Aku mau Strawlate! Aku tidak mau kamu! Strawberry dan Chocolate adalah kakakku, bukan kamu!” Aku berontak minta dilepaskan. Laki-laki itu menghela napas.

“Iya, Sunghee. Aku akan membawa mereka kembali asalkan kamu ikut denganku dulu ya? Kita pulang ya?”

“Tidak mau!!” Aku meneteskan air mata. Hal yang tidak pernah kulakukan 2 tahun terakhir.

“Lho? Itu Lee Sunghee yang korban pencucian otak, kan? Dia masih hidup?”

“Iya benar! Sunghee masih hidup!”

“Lee Sunghee! Bagaimana perasaanmu sekarang?”

“Sunghee, kau baik-baik saja?”

Orang-orang memberondongiku dengan pertanyaan. Aku tidak mengerti. Aku tidak mau mengerti. Aku hanya mau Strawlate. Aku mau kembali ke rumah Strawlate. Aku tidak mengenal orang-orang ini. Aku tidak mengenal dunia ini. Aku ingin kembali pada Strawlate!!

Sungmin membawaku ke suatu tempat yang namanya baru kudengar. Psikiater. Kata Sungmin, psikiater itu menyenangkan. Akan ada banyak stroberi dan cokelat. Vanilla juga. Aku hanya bisa pasrah.

Tapi lama-kelamaan, aku tahu apa fungsi psikiater.

Kenapa aku dibawa kemari? Aku tidak gila! Aku masih waras! Aku baik-baik saja! Aku hanya ingin Strawlate!

Aku berontak. Aku mencakar tangan mereka yang memegangiku. Aku menggigit mereka. Aku berteriak.

“AKU INGIN STRAWLATE!!”

“Iya, Sunghee, iya! Ayo kita pergi ke Strawlate sekarang, ya?” kata psikiater itu. Tanganku diborgol. Aku diseret ke dalam mobil. Mau kemana? Apa benar mau pergi menemui Strawlate? Kalau begitu kenapa aku harus diborgol? Kenapa kakiku diikat?

Mereka bohong! Aku tidak dibawa ke tempat Strawlate! Di sini tidak ada Strawlate! Hanya ada sebuah kasur putih dan ruangan yang sangat kosong berwarna sama. Hanya ada satu jendela. Tidak ada Strawlate!

Ini bukan rumah! Ini bukan tempat manusia! Aku seperti berada di dalam kandang! Tinggal tunggu orang-orang melempariku dengan kacang!

Aku kan hanya ingin Strawlate…aku tidak mau tinggal di dalam kandang..

Sungmin bukan kakakku. Mana ada kakak yang jahat seperti itu? Kakakku adalah Strawlate. Mereka berdua baik. Aku percaya pada mereka. Mereka bukan orang jahat. Sungmin yang jahat!

Aku tidak mau hidup di sini. Mungkin tembok itu bisa diruntuhkan. Aku mulai memukulkan kepalaku ke tembok. Tapi tembok itu tetap berdiri dengan kokoh. Justru sekarang ada warna merah menodai warnanya yang putih. Warna Strawberry, di atas putih Vanilla. Aku menyeringai. Tak apa, aku bisa melihat Strawberry. Tinggal memukulkan kepalaku lebih sering lagi, lebih keras lagi, mungkin Strawberry akan datang dan membersihkan wajahku.

“Ya Tuhan, Sunghee!!” seruan Sungmin tak kuabaikan. Dia, dokter, dan beberapa perawat masuk ke kandangku. Mereka menghalangiku dari aksiku mendatangkan Strawberry. Tapi, tidak ada Chocolate.

“Aku ingin Strawberry! Dia sebentar lagi datang dan membawaku kembali pulang! Hidup bersama dengannya dan Chocolate! Mereka baik, kalian jahat!”

Tapi apa yang kudapatkan? Mereka malah memasukkanku ke kandang yang dindingnya empuk. Warna dindingnya cokelat. Ada Chocolate di sini. Tapi tidak lengkap jika tak ada Strawberry. Aku melihat sekeliling, mencari cara untuk mendatangkan Strawberry. Aku tidak bisa melakukan teknikku yang kemarin karena dindingnya empuk. Aku harus mencari cara lain.

Oh iya, tangan Sungmin berdarah ketika aku mencakarnya dan menggigitnya. Baiklah. Datanglah, Strawberry. Kita bertiga..hidup di sini…selamanya!

Aku mulai mencakari tanganku, kakiku, perutku, dadaku, bekas lukaku. Aku menggigiti lenganku. Rasanya pahit. Aku sangat tidak suka. Tapi ada Chocolate, pahitnya jadi hambar. Cairan Strawberry juga mulai keluar dari tubuhku. Terutama dari luka di kepalaku yang melebar. Hm..asam tapi menyegarkan. Yummy!

Strawberry Chocolate Vanilla. Kombinasi yang pas, bukan? Menggoda namun asam Strawberry disatukan dengan manis namun keras Chocolate dan berpadu dengan manis dan putih Vanilla. Merah, cokelat, putih. Warna yang indah.

Cakaranku melemah, begitupun dengan gigitanku. Sakit, tapi menyenangkan. Aku rela melakukan apa saja asal bisa kembali bersama Strawlate.

Perlahan pandanganku buram. Aku mulai kelelahan. Mungkin Strawlate sedang membawaku pulang. Aku memejamkan mata dan menunggu tubuhku digendong oleh mereka. Ah..aku merasa ringan. Sakitnya hilang.

Strawberry Chocolate Vanilla.

Kombinasi yang pas, bukan?

THE END

16 thoughts on “[FF] Strawberry Chocolate Vanilla

  1. vidiaf says:

    awal-awalnya bingung sama kata-katanya, tapi lama-kelamaan ngerti~
    idenya ngga biasa. bagus, pake banget. dua kali. tambah keren, pake banget. /eh
    yah, walopun rada geli di tengah-tengah .__.
    asli merinding aku bacanya~ apalagi pas sunghee di bawa ke psikiater..
    tapi eunhyuk sama donghaenya ke mana? .__.
    daebak~~!!

    • sungheedaebak says:

      sama aku juga bingung kenapa bisa bikin ff kayak begini -_-
      makasih pake banget ditambah so much dikali banyak
      ehm..entah kenapa juga bisa bkin adegan seperti itu -.-
      aku aja merinding..
      mereka menjalani hidup mereka yang biasa lagi…
      gomawo ^^

  2. Hwang sungmi says:

    Keren! As always, dear😉
    Awalnya ga ngerti, tapi lama lama mulai loading dan akhirnya succesfull #eh #salah
    Iya maksudnya jadi ngerti gitu, tapi ceritanya serem. Eh ini thriller bukan sih, hee?

  3. dhila_アダチ says:

    aa…idenya…. #nganga
    pas liat tag thriller, langsung setel backsound yang pas…
    jadi smakin merinding…huwaa…

    unik..unik…
    endingnya juga UNIK…waw….
    ngebayangin di bikin pelem bneran (pake sensor ya..XD) kayaknya keren nih…
    lanjuuut baca sequelnya😀

  4. dorky Mint says:

    cerita ini murni thriller ya ._.v
    jadi ini awalannya Strawlate Cheese ya? jauh lebih dalem

    masa’ pas ngebayangin Strawlate, malah kebayang mereka pas perform Oppa Oppa di SS4 Seoul dengan rambut Strawberry yang masih bob pirang😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s