[FF] The Kidnapper

“Happy 5th anniversary!” Sorak sorai teman-teman Lee Hyukjae membuatnya mengembangkan senyum. Ia merangkul istrinya yang sedari tadi tersenyum  gembira. Hyukjae menoleh dan mencium bibir istrinya lembut.

“Aigoo…semoga langgeng ya!” kata Sungmin, kakak istrinya, Lee Sunghee.

“Tentu. Kamsahamnida!” seru Sunghee ceria.

“Berapa umur Eunhee sekarang? Tidak ada rencana untuk memberikannya adik?” ucap Raeki, sahabat Sunghee.

“Dia sekarang umur 4 tahun. Adik? Bagaimana, Sunghee?” Hyukjae mengerling nakal. Sunghee memukul lengannya pelan. Semua undangan yang ada di sana tertawa. Hyukjae dan Sunghee memang sedang merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Mereka merayakannya di restauran mereka pertama kali bertemu.

Malam semakin larut, pesta pun selesai. Hyukjae menuntun istrinya menuju mobil. Ia terlihat tidak terlalu sehat hari ini.

“Kau kenapa?” tanya Hyukjae.

“Entahlah, kepalaku pusing. Mungkin anemiaku kambuh.” Sunghee memijat pelipisnya pelan.

“Baiklah kau istirahat saja di mobil. Sebentar, aku beli obat dulu.” Hyukjae melangkah menuju apotik terdekat. Sunghee melihat sekeliling. Jalanan di malam ini begitu sepi. Sunghee menghela napas dan menyalakan radio. Ia mencari saluran radio yang bagus dan mulai mendengarkan sambil memejamkan matanya. Kepalanya terasa berat, padahal dia tidak minum-minum.

Dengan ditemani musik klasik, Sunghee perlahan tertidur. Dia sangat kelelahan hari ini. Dia mendengar suara pintu dibuka, dan seseorang masuk ke dalam mobilnya. Ah, pasti Hyukjae, pikirnya. Namun ternyata, yang datang bukan suaminya.

Sunghee merasakan benda dingin menyentuh pelipisnya. Ia membuka matanya pelan. Jantungnya berdebar karena takut. Napasnya mulai memburu, tubuhnya gemetaran.

“Hai, sayang.” Suara itu. Suara yang tidak asing baginya. Sunghee melirik lewat ujung matanya, takut salah membuat gerakan. Sedikit saja salah bergerak, moncong pistol itu pasti sudah mengeluarkan pelurunya.

Sunghee terkesiap.

“O..Oppa…”

“Aku tidak akan menyakitimu asalkan kau mengikuti perintahku.”

Sunghee menelan ludah dengan susah payah.

“Pergi bersamaku, dan tinggalkan Hyukjae.”

“Andwae…aku tidak mau!”

“Kau mau mati?!” gertak lelaki itu. Sunghee menahan napas. Lelaki itu mengambil handuk kecil dari tangannya dan membekap mulut Sunghee. Sunghee berusaha menjerit namun suaranya tertahan. Terlebih ia sedang berada di dalam mobil yang tertutup rapat. Lelaki itu mengambil tali tambang dan mengikat tangan dan kaki Sunghee dengan kuat. Ia membuka pintu belakang dan melemparkan tubuh Sunghee ke sana. Lampu dalam mobil ia padamkan dan mulai mengemudi. Sunghee terus memberontak. Ia memanggil nama Hyukjae.

Hyukjae baru melangkah keluar dari apotik sambil menenteng kantung berisi obat ketika ia melihat mobilnya sudah tiada. Ia mengernyit heran sekaligus panik. Hyukjae berlari ke tengah jalan dan melihat ke arah kanan. Benar saja. Mobilnya baru saja pergi.

“Sunghee yah!!” Hyukjae melemparkan obat itu ke sembarang arah dan segera berlari secepat mungkin.

“SUNGHEE YAH!!” teriak Hyukjae. Dulu, ia adalah pelari tercepat di sekolahnya. Sekarang, ia harus bisa mengejar mobil itu. Namun sayang, mobil itu sudah terlalu jauh. Hyukjae melihat sekeliling, mencari taksi. Tidak ada taksi. Sekarang tepat tengah malam, jalanan pun sepi.

“SUNGHEE YAAA!!” jerit Hyukjae frustrasi. Hyukjae berusaha mengatur napasnya.

Hyukjae mengeluarkan ponselnya, hendak menelepon polisi ketika sebuah telepon masuk terlebih dahulu. Dari nomor tidak dikenal. Dengan tangan gemetaran, Hyukjae menerima panggilan tersebut.

“Yobosaeyo?”

“Yobosaeyo. Istrimu sedang bersamaku sekarang.”

“Di-dimana?! Kau apakan istriku?!”

“Hahaha…tenang, bung. Aku hanya ingin bersama dengannya selama beberapa saat. Tenang, dia baik-baik saja. Aku akan merawatnya dengan baik.”

“Lepaskan istriku! Kalau kau melukainya sedikit saja, kau mati!” Hyukjae menggertakkan giginya geram.

“Kau ingin aku melepaskannya? Baiklah. Tapi, kau harus memberiku 100 juta won.”

“Baik! Asalkan kau lepaskan istriku.”

“Oke. Besok pagi, bawa uangnya ke puncak Namsan Tower. Tinggalkan tas berisi uangnya di sudut yang sepi. Aku mengawasi setiap gerak-gerikmu. Jangan coba-coba untuk menelepon polisi.”

= = =

Hyukjae berjalan ke apartemennya dengan lesu. Ia membuka kamar Eunhee. Gadis kecil itu masih tertidur dengan lelap di kasurnya. Di sampingnya, Sora – kakaknya – tertidur. Sora memang menawarkan diri untuk mengurus anaknya sementara ia dan Sunghee berpesta. Namun siapa sangka, pesta yang bahagia diakhiri dengan kepedihan.

Sora yang merasakan kehadiran Hyukjae, membuka matanya. Ia menatap Hyukjae yang bermandikan peluh dengan heran. Ia bangkit berdiri dan mendekati adiknya. Hyukjae menatap kakaknya sendu dan mengajaknya keluar kamar Eunhee. Hyukjae mengecup kening Eunhee sekilas sebelum berjalan keluar kamar dan menutup pintu.

“Ada apa?” tanya Sora. Hyukjae tidak menanggapi. Ia berjalan ke arah ruang TV. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa dan menghela napas. Tatapannya kosong.

“Mana Sunghee?” Hyukjae menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Darah segar mengalir dari bibirnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pundaknya naik turun. Suara isakan tangis terdengar. Sora terkejut dan segera merangkul adiknya, menenangkannya.

“Ada apa?” tanyanya mulai panik.

Tapi Hyukjae belum bisa menjawab. Ia masih menangis. Akhirnya Sora hanya bisa diam. Menunggu adiknya melepaskan emosinya. Sora beranjak berdiri, membuatkan secangkir teh hangat dan kembali ke sisi Hyukjae.

“Minumlah. Tenangkan dulu dirimu sejenak.” Hyukjae menurut. Ia mengambil cangkir teh itu dan meneguknya perlahan. Lama-lama kondisinya sudah semakin membaik.

“Apa yang terjadi?” tanya Sora lembut. Hyukjae menghela napas berat.

“Sunghee diculik,” katanya serak. Sora terkejut. Ia menutup mulutnya, matanya membelalak.

“Penculik itu membawa kabur mobilku dengan Sunghee. Ia tadi meneleponku. Katanya, aku harus memberikannya 100 juta won agar aku bisa mendapatkan Sunghee kembali. Besok, aku harus pergi ke Namsan Tower untuk memberikan uangnya.”

“Ya Tuhan..” Sora menatap Hyukjae tak percaya. Setetes air mata menuruni pipi Hyukjae. Ia menoleh pada kakaknya.

“Bagaimana keadaan Eunhee? Demamnya sudah turun?”

“A-ayo kita telepon polisi!” Sora mengambil telepon rumah di meja. Hyukjae menahan tangannya.

“Jangan. Penculik itu ada di sekitar kita, ia memperhatikan kita dari jauh. Aku tidak ingin nyawa Sunghee melayang.”

“Tapi..” Sora nyaris menangis. Ia tidak tega melihat adiknya semenderita itu. Ia langsung memeluk adiknya.

“Tenang saja, Hyukkie. Sunghee pasti kembali dengan selamat. Arraseo?”

“Ne…”

“Sekarang tidurlah. Atau kau mau mandi dulu? Aku siapkan airnya ya.”

“Tidak usah. Aku baik-baik saja.”

“Kau mau tidur di sini? Kuambilkan selimut ya.”

“Tidak perlu. Pergilah, temani Eunhee.” Sora menatap adiknya sedih. Ia lalu berdiri dan beranjak ke kamar Eunhee.

Hyukjae bangkit berdiri dan berjalan ke jendela besar di hadapannya. Ia menyibakkan gordennya dan melihat kota Seoul dari atas. Mata Hyukjae nyalang ke sana ke mari. Seperti sedang mencari sesuatu. Tahu yang dicarinya tidak akan ditemukan dengan cara seperti itu, Hyukjae memukul jendela dengan perlahan. Kekuatannya telah habis. Air mata Hyukjae kembali menuruni pipinya.

= = =

Sunghee di bawa ke sebuah rumah besar yang kusam. Rumah itu seperti sudah lama tidak terpakai. Bercak darah kering menempel di dindingnya. Si penculik menarik Sunghee dengan paksa. Sunghee berusaha menjerit, namun sia-sia. Dini hari seperti ini, tidak akan ada yang mendengarnya.

Si penculik membuka pintu rumah dan menyeret Sunghee masuk. Tubuh Sunghee terbentur lantai yang keras dan licin. Gesekan antara kulitnya dan lantai menimbulkan bunyi yang memilukan. Si penculik membuka pintu kamar mandi. Ia menyeret Sunghee masuk dan mengunci pintu. Ia melepaskan kausnya dan celana panjangnya. Kini ia hanya mengenakan celana boxer. Sunghee menjerit ketakutan.

“Diamlah! Aku akan memotong lidahmu jika kau terus berteriak!” bentaknya. Sunghee terdiam, namun isak tangisnya masih terdengar.

Si penculik membuka lemari P3K yang dipasang di atas cermin wastafel. Ia mengambil sebuah tas berisi perkakas. Ia melemparkan tas itu ke lantai, menimbulkan bunyi benturan antara besi dan keramik. Sunghee meringis. Si penculik berjongkok di depan tas tersebut dan mulai mengeluarkan isi tasnya. Mata Sunghee membelalak ketika melihat palu, paku, tang, pisau, kawat, bahkan gergaji kecil dari dalam tas. Si penculik menatap Sunghee dengan seringainya.

“Kau masih berpakaian lengkap. Tidak seru.” Si penculik meraih cardigan Sunghee dan merobeknya. Sunghee menjerit ketakutan. Ia berusaha memberontak. Si penculik geram dan meraih sebuah palu dan mengacungkannya ke arah Sunghee. Ia langsung terdiam. Tatapannya menyiratkan ketakutan yang amat sangat.

“Diamlah!” bentak si penculik. “Aku belum selesai menelanjangimu.”

Napas Sunghee memburu. Ia berteriak memanggil Hyukjae dalam hati. Si penculik merobek dress yang dikenakan Sunghee. Ia melumat bibir Sunghee dengan penuh nafsu. Ia menggigit bibir Sunghee hingga bibir itu mengeluarkan darah segar. Si penculik menjilat darah Sunghee sambil menyeringai.

“Lezat.” Ia lalu melanjutkan aktifitasnya. Ia membenamkan wajahnya ke dada Sunghee. Gadis itu tidak bisa berontak. Kepalanya terasa berat. Terlebih lagi, tangan dan kakinya diikat kencang.

Si penculik melepaskan handuk kecil yang membekap mulut Sunghee.

“Punya kata-kata terakhir?”

Sunghee terdiam.

“Yah! Aku sedang bertanya padamu!”

“Hyukjae, saranghae..” ucap Sunghee lirih. “Eunhee, saranghaeyo…”

“Itu saja? Baiklah.” Ia lalu melanjutkan aktifitasnya. Sunghee menjerit minta tolong. Ia kembali berontak.

“Aish, shikureo!! (diam)” Si penculik meraih leher Sunghee dan mencekiknya kencang. Sunghee terbatuk mencari udara. Si penculik menatapnya geram dan memukulkan kepala Sunghee ke tembok hingga gadis itu tak sadarkan diri. Si penculik tertegun. Tubuh Sunghee terkulai tak bergerak.

“Aish..padahal aku baru mulai bermain.” Si penculik menginjak perut Sunghee dan menggerakkan tubuh gadis itu.

“Hey, kau mati?”

Tidak ada jawaban.

“Payah.” Si penculik melepaskan seluruh pakaiannya dan menyalakan shower. Ia mulai membersihkan dirinya sambil bersenandung ringan.

= = =

Hyukjae terduduk di kursi meja makan dengan tatapan kosong. Makanan di depannya sudah hampir dingin. Sora sibuk menyuapi Eunhee.

“Appa, Eomma mana?” tanya Eunhee. Hyukjae menoleh perlahan.

“Eomma…dia sedang bekerja.”

“Heo? Pagi-pagi sekali?”

“Iya.”

“Hmm, kalau begitu kalau Eomma pulang nanti, kita pergi ke taman bermain ya, Appa. Eunhee mau naik bianglala!”

“Iya. Pasti.” Hyukjae berusaha tersenyum meski terasa sulit. Sora menengadahkan kepalanya, berusaha menahan tangis.

“Tapi kamu harus sembuh dulu, Eunhee. Nanti Eomma sedih lho, kalau badan kamu masih panas,” kata Hyukjae.

“Appa benar! Eunhee pasti sembuh kok sekarang, coba pegang kening Eunhee. Gak panas, kan?” Eunhee terkekeh. Hyukjae menatap anaknya sedih. Ia menyentuh kening anaknya perlahan, lalu mengusap rambutnya. Ia lalu menarik anaknya ke pelukannya.

“Appa kenapa?” tanya Eunhee khawatir. Hyukjae tidak menjawab. Ia terus memeluk Eunhee erat.

“Appa, sesak..”

“Ah, mian. Hahaha, Appa hanya terlalu mencintaimu, Eunhee.” Hyukjae tersenyum. Eunhee tertawa.

“Eunhee juga cinta Appa! Oh ya, Eomma juga!”

Ponsel Hyukjae berdering. Hyukjae menatap Sora penuh arti. Sora mengangguk dan mengajak Eunhee bermain keluar. Hyukjae meraih ponselnya dengan enggan dan menjawab teleponnya.

“Yobosaeyo.”

“Yobosaeyo. Bagaimana? Kau sudah dapat uangnya?”

“Ya.”

“Baik. Sekarang bawa ke Namsan Tower. Ingat, sendirian. Aku mengawasimu.”

“Arasseo.”

Hyukjae meraih tas berisi uangnya dan berjalan keluar apartemen. Ia mengetuk pintu apartemen sebelah. Seorang lelaki tampan membuka pintu.

“Oh, Hyukjae. Ada apa?”

“Leeteuk Hyung, boleh kupinjam mobilmu? Mobilku sedang di bengkel.”

“Oh, baiklah. Aku tidak akan pergi kemana-mana kok. Sebentar ya.” Leeteuk berlalu ke dalam dan kembali sambil menenteng sebuah kunci mobil sedan. Hyukjae menerimanya.

“Hyung, kau benar tidak akan pergi kemana-mana?”

“Ya. Aku akan menyelesaikan lukisanku di rumah. Kenapa?”

“Bisa minta tolong jaga Sora dan Eunhee selama aku tidak ada?”

“Oh, ya tentu. Tapi, memangnya kau mau kemana? Hanya bekerja kan? Tidak bersama Sunghee?”

“Sunghee sedang menginap di rumah orang tuanya di Daegu. Beberapa hari lagi ia akan kembali. Hari ini kemungkinan besar aku akan lembur, tolong jaga mereka.”

“Baiklah.”

“Terima kasih.”

“Ya, sama-sama.”

Hyukjae melangkah ke parkiran dan mulai mengemudi ke Namsan Tower. Tempat itu masih sepi karena ini masih pagi. Hyukjae bergegas menuju puncak Namsan Tower dan meletakkan tas itu di tempat yang sudah dijanjikan sebelumnya. Ponselnya berdering lagi.

“Kau boleh pergi. Aku akan mengambil uangnya.”

“Bagaimana dengan Sunghee-ku?!”

“Ada di mobilku.”

“Yang mana mobilmu?!”

“Mobil yang diparkir di belakang mobilmu.”

Hyukjae cepat-cepat berlari ke bawah. Ia melihat mobilnya sendiri diparkir di belakang mobil Leeteuk. Ia cepat-cepat menyeberangi jalan dan melihat ke dalam mobil. Namun mobil itu ternyata kosong. Hyukjae menggeram kesal. Ia cepat-cepat berlari kembali ke Namsan Tower.

Sementara itu, Lee Sunghee yang meringkuk di bagasi mulai kehabisan napas. Kemarin, ia hanya pingsan. Sunghee menarik napas dalam-dalam berusaha mencari udara. Selama ini ia masih bisa bernapas lewat celah antara bagasi dan jok, namun sekarang pasokan oksigen mulai habis.

“Hyukjae….saranghae..”

= = =

Tas uang itu telah tiada, namun Hyukjae belum mendapatkan istrinya kembali. Hyukjae menonjok tembok di sampingnya dengan geram. Ia mengambil ponselnya dan menelepon si penculik.

“YAH! Dimana istriku?!”

“Aku sedang menidurinya.”

“MWORAGO?! YAH!!”

“Bercanda. Hahaha. Sudah kukatakan dia ada di mobil. Kau tidak menemukannya? Apa mungkin ia melarikan diri? Hmm…”

“Cepat beritahu aku dimana dia, bodoh!!”

Kau mulai berani membentakku? Kau ingin istrimu mati?!”

“Maafkan aku. Aku hanya ingin istriku kembali.”

“Baik. Datanglah ke pinggir sungai Han, dekat kolong jembatan. Aku akan memberikannya padamu di sana.”

= = =

“Hyukjae, sudahlah. Ayo kita panggil polisi saja, ini sudah tiga hari dia menghilang!” Sora membujuk adiknya. Hyukjae hanya terdiam.

“Jangan dulu, si penculik itu selalu mengawasi kita.”

“Tapi bukan berarti sekarang Sunghee masih hidup! Aku tidak percaya pada penculik itu! Makanya dia tidak mengembalikan Sunghee kemarin, bukan? Apa kau masih percaya..”

“Sunghee masih hidup! Dia tidak akan mati sekarang! Tidak akan!!” Hyukjae menggebrak meja dan menatap kakaknya marah. Sora hanya menangis.

“Tolonglah… jangan terlalu percaya pada penculik itu..”

Ponsel Hyukjae kembali berdering. Hyukjae menerima panggilannya dan mengaktifkan loudspeaker.

“Kulihat, kakakmu tidak percaya denganku. Apa dia memintamu untuk memanggil polisi?”

Hyukjae menekan tombol merah dan telepon pun terputus. Hapenya terjatuh ke meja.

“Kau lihat? Kau percaya sekarang? Si penculik itu selalu mengawasi kita!” Hyukjae menoleh ke arah jendela yang terbuka. Ia berjalan ke sana dan mulai mengamati. Tidak terlihat siapapun. Hyukjae menutup gorden dengan geram. Ruangan pun mendadak gelap.

“Mana Eunhee?” tanya Hyukjae.

“Dia sedang diajak jalan-jalan oleh Leeteuk. “

“Kau tidak bicara yang aneh-aneh kan? Kau tidak memberitahukan hal ini pada Leeteuk Hyung, kan?”

“Maafkan aku..”

“Jadi kau memberitahunya tentang hal ini?” Sora mengangguk perlahan. Hyukjae menghela napas.

“Aku tidak tahan melihatmu menderita seperti ini, Hyukkie. Jika aku tidak boleh memanggil polisi, biarlah orang di sekitar kita tahu agar mereka bisa membantu.”

“Siapa saja yang sudah kau beritahu?”

“Baru Leeteuk.” Hyukjae kembali menghela napas. Ia mengacak rambutnya geram.

“Hyukjae, kalau kau tidak menelepon polisi, kita tidak akan tahu siapa yang menculik Sunghee. Kita juga tidak akan tahu bagaimana nasibnya.”

“Lakukan sesukamu. Asal jangan sampai si penculik tahu. Kalau ia tahu, Sunghee bisa mati.”

“Baik.” Sora meraih gagang telepon dan mulai menekan tombol-tombol angka. Setelah beberapa saat, telepon pun terhubung.

“Yobosaeyo. Aku Lee Sora. Istri adikku sedang diculik. Kami minta bantuanmu.”

= = =

Seperti yang dijanjikan, Hyukjae berdiri di samping mobil Leeteuk di pinggir sungai Han. Ia melihat ke kanan dan ke kiri, mencari mobilnya. Lama menunggu, mobil itu tak datang juga. Telepon si penculik tidak aktif. Hyukjae menunggu sampai malam. Ia mengacak rambutnya frustrasi.

“SUNGHEE YAAA!!!” jerit Hyukjae.

Ponsel Hyukjae berdering. Hyukjae bergegas mengangkat teleponnya.

“YAH! Kau bilang kau akan mengembalikan Sunghee di pinggir Sungai Han!!”

“Hyukkie? Ada apa? Sunghee kenapa?”  Hyukjae tertegun. Ia melihat layar ponselnya. Ia menelan ludah. Ternyata yang menelepon adalah rekan kerjanya, Lee Donghae.

“Donghae yah..” Hanya itu yang bisa Hyukjae katakan. Ia menarik napas dalam-dalam.

Ada apa? Kau dimana sekarang? Sudah beberapa hari kau tidak masuk kerja.”

“Donghae yah…” Suara Hyukjae lirih, nyaris seperti sebuah bisikan.

“Kau dimana? Aku ke sana sekarang.”

“Jangan. Aku tidak mau kau terlibat, Hae.”

“Aku harus! Ada apa? Apa maksudmu seseorang akan mengembalikan              Sunghee di pinggir Sungai Han? Apa kau ada di Sungai Han sekarang? Aku ke sana sekarang juga, tunggu aku di sana!”

“SUDAH KUBILANG JANGAN, KAU BODOH!!”

“Hyukjae..”

“Maaf. Akhir-akhir ini emosiku sedang tidak stabil.”

“Maaf, jika aku terlalu memaksa. Tapi, aku hanya khawatir.”

“Aku mengerti.”

“Tunggu aku di sana, Hyukkie.”

Hyukjae memutuskan sambungan telepon. Ia duduk di pinggir mobilnya. Tubuhnya penuh keringat dan lengket. Namun tak terlintas sedikit pun pikiran untuk mandi. Hyukjae ingat ia belum makan apa-apa, namun bisakah dia makan di saat seperti ini?

Beberapa saat kemudian, Donghae datang. Ia terkejut melihat keadaan Hyukjae yang berantakan. Donghae berlutut di sebelah Hyukjae. Tubuh Hyukjae lemas. Donghae menggelengkan kepalanya. Ia berlari menuju mini market terdekat dan membeli dua bungkus ramen cup. Ia segera kembali dan menyodorkannya pada Hyukjae.

“Kau harus makan, tubuhmu lemas.” Donghae meniupi ramen yang masih panas itu dan menyodorkannya pada Hyukjae. Hyukjae menolaknya. Ia menyingkirkan tangan Donghae perlahan. Donghae terdiam.

“Aku tidak mau makan, Hae.”

“Kau harus makan.” Donghae menyodorkan ramen itu lagi. Hyukjae akhirnya memasukkan ramen itu ke mulutnya. Namun yang terasa hambar. Bahkan pahit. Hyukjae menyentuh bibirnya. Berdarah lagi. Pantas saja rasa ramennya bercampur dengan rasa darah. Hyukjae mual. Perutnya menolak.

“Sudah, Hae.”

“Kau baru makan sesuap.”

Hyukjae tidak menjawab. Ia cepat-cepat berlari ke semak-semak dan memuntahkan ramen yang belum selesai dilahapnya. Donghae menatapnya prihatin. Ia mengambil botol air mineral dan membuka tutupnya. Ia menyodorkannya ketika Hyukjae kembali. Hyukjae meneguk air mineral itu dengan cepat.

“Kau mau menceritakan padaku ada apa?” Donghae menatap sahabatnya sedih.

Hyukjae menarik napas sejenak dan mulai menceritakan semuanya. Secara detil.

Selesai bercerita, ponselnya kembali berdering. Ia menjawabnya dengan lesu.

“Hyukjae, Eunhee masuk rumah sakit. Demamnya semakin tinggi. Kata dokter, dia demam berdarah.”

Hyukjae meremas rambutnya. Donghae mengambil ponselnya dan berbicara pada kakaknya.

“Sekarang kita mau bagaimana? Ke rumah sakit, atau tetap di sini?” tanya Donghae sambil mengembalikan ponsel Hyukjae.

“Rumah sakit.”

= = =

Sudah tiga minggu semenjak Sunghee pertama menghilang. Masih belum ada kabar yang pasti dimana dia sekarang. Polisi sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun jejak si penculik seperti telah lenyap.

“Kami sudah mengidentifikasi suara si penculik. Kau kenal Han Sangwook?” Jieun, salah seorang polisi, menghampiri Hyukjae dan duduk di seberangnya. Hyukjae menatapnya.

“Sangwook?” ujarnya pelan. Ia berusaha mengingat-ingat. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu.

“Ya, ia musuhku saat SMA.”

“Musuh bagaimana?”

“Dia…dia sangat mencintai Sunghee, tapi Sunghee memilihku. Ia sering menindasku. Ia merasa terkalahkan olehku.”

“Selain itu?”

“Dia…” Hyukjae berusaha mengingat-ingat. “Ah iya, dia pernah bilang bahwa dia akan membalas dendam suatu saat nanti. Aku tidak tahu ada dendam apalagi yang ia miliki terhadapku, yang kutahu hanya itu.”

“Untuk sementara, kami masih mencari dimana Han Sangwook berada. Kemungkinan besar dia pelakunya. Suara dan sidik jarinya cocok dengan Han Sangwook.”

Hyukjae hanya mengangguk. Dia sudah nyaris putus asa. Eunhee masih dirawat di rumah sakit, dan istrinya tidak diketahui kabarnya.

Orang-orang terdekatnya sudah tahu. Mereka senantiasa membantu dan memberikan Hyukjae dukungan. Tapi, rasanya Hyukjae sudah putus asa. Si penculik tidak mengembalikan Sunghee. Padahal Hyukjae sudah melakukan semua yang diinginkan si penculik.

“Apa kau berpikir dia masih hidup?” tanya Hyukjae tiba-tiba. Jieun menoleh.

“Ya. Positive thinking saja.”

“Apa kau masih bisa berpikir positif ketika, misalnya, suamimu tidak kembali selama 3 minggu? Tanpa kabar?”

Jieun terdiam.

“Apa aku masih harus mengikuti perintah si penculik?” Hyukjae berjalan mendekati Jieun dan mendorongnya ke tembok. Jieun terkejut. Hyukjae menatapnya tajam. Ia mengunci Jieun dengan kedua tangannya.

“Apa yang harus kulakukan?” tanyanya lirih. Jieun terdiam. Hyukjae menarik napas dalam-dalam. Napasnya mulai memburu.

“Mungkin aku harus menikah lagi?” ujarnya. Ia lalu melumat bibir Jieun. Jieun terkejut. Gadis itu berusaha memberontak. Namun Hyukjae jauh lebih kuat darinya. Hyukjae melumat bibirnya. Tatapan matanya penuh kesedihan, keputusasaan. Jieun tidak bisa memberontak. Ia hanya bisa diam, tidak membalas ciuman Hyukjae.

Hyukjae melepaskan ciumannya. Napasnya tersengal-sengal. Tubuhnya melorot ke lantai. Kedua tangannya mencengkeram kaki Jieun. Isak tangis Hyukjae terdengar kembali. Jieun menengadahkan kepalanya, berusaha menghalau air mata.

“Sunghee yah…Sunghee yah…saranghamnida. Jeongmal saranghamnida. Tolong, kembalilah. Setelah Eunhee sembuh nanti, kita pergi mengajaknya bermain. Sunghee yah, kumohon…” ucap Hyukjae di sela isak tangisnya. Jieun tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia ikut menangis bersama lelaki yang baru melumat bibirnya. Ia ikut menanggung beban lelaki itu di pundaknya. Setelah ciuman itu, Jieun merasa ia harus menemukan siapa pelaku penculikan itu dan menyelematkan Sunghee. Karena dengan begitu caranya ia bisa melihat lelaki ini bahagia.

“Aku akan berusaha semaksimal mungkin, Hyukjae. Sunghee pasti selamat. Percayalah.”

“Aku harap begitu..”

= = =

Setelah sekian lama tidak berdering, ponsel Hyukjae kembali berdering. Ia menerima panggilan telepon. Sora menatapnya. Ia memberi isyarat pada Hyukjae untuk berbicara di luar, agar Eunhee yang masih terbaring di ranjang tidak mendengarnya. Hyukjae bergegas keluar kamar rawat Eunhee.

“Yobosaeyo…”

“Yobosaeyo! Lama tak mendengar suaramu, kawan lama. Aku sudah bosan melakukan hal ini, jadi sudah kuputuskan aku akan mengembalikan Sunghee padamu. Dia sangat membosankan. Kukira dia bisa memuaskanku. Baru kulumat bibirnya saja dia sudah pingsan. Hahahahaha..”

“Apa yang kau katakan?” Hyukjae terkesiap.

“Kau tidak mengerti? Bodoh. Dari nada suaramu, sepertinya kau juga sudah capek bermain. Baiklah, sore ini datang ke Mangwon district 389-1. Sunghee ada di sana. Bye.”

Telepon terputus. Hyukjae membelalakkan matanya. Ia segera berlari keluar rumah sakit, ia menghubungi polisi untuk segera pergi ke daerah yang dimaksud. Hyukjae cepat-cepat meraih mobil Leeteuk dan mengemudi ke Mangwon district.

Hujan deras turun begitu ia sampai di lokasi. Beberapa polisi sudah memulai pencarian. Hyukjae berlari kesana kemari, mencari Sunghee.

“Sunghee yah!! SUNGHEE YAH!!” seru Hyukjae.

“Hyukjae!” Jieun melambaikan tangan padanya. Hyukjae segera menghampirinya. Jieun menangis, Hyukjae tahu itu meskipun air matanya menyatu dengan air hujan. Hyukjae menoleh ke arah kanan. Ia tertegun. Ya, Sunghee ada di sana. Kaku, tak bergerak, tanpa nyawa. Tubuhnya cokelat, tertutupi tanah basah. Seperti bekas dikubur.

Hyukjae berlari menghampiri jasad istrinya. Beberapa polisi sudah berusaha untuk menahannya, namun ia berontak. Ia meraih tubuh istrinya yang mengenakan dress yang telah robek di bagian dada. Itu dress yang dipakai saat merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Hyukjae menangis meraung-raung. Ia terus memanggil nama Sunghee. Percuma. Istrinya telah tiada.

= = =

Hyukjae menghampiri Eunhee yang masih tertidur lelap. Ia duduk di kursi sebelah ranjang Eunhee, dengan tubuh yang masih basah habis terkena air hujan. Ia meraih tangan Eunhee yang panas, menggengamnya. Sebisa mungkin tidak membangunkan anak semata wayangnya.

“Eunhee ya, setelah kau sembuh, kita pergi ke taman bermain ya. Eomma juga akan ikut. Pasti menyenangkan.” Hyukjae mencium kening Eunhee.

“Eomma dan Appa mencintaimu.”

= = =

“Kenapa kau membunuh Sunghee?” Jieun menatap lelaki di hadapannya tajam.

“Karena rasanya menyenangkan.”

“Han Sangwook, kenapa kau membunuh Sunghee?!” Kali ini nada suara Jieun lebih tegas.

“Karena aku senang melihatnya menderita. Aku tidak suka melihatnya bahagia dengan si bangsat Hyukjae itu.”

“Dengan cara apa kau membunuhnya?”

“Aku mencekik lehernya dan membenturkan kepalanya ke tembok. Lalu dia kumasukkan ke bagasi dan kubiarkan mati lemas. Aku ingin memotong kepalanya dan memajangnya di kamarku, tapi aku merasa kasihan dengan Hyukjae. Biarlah dia melihat tubuh istrinya dalam keadaan utuh.”

“Kau punya kata-kata terakhir yang Sunghee berikan?”

“Ada. Aku merekamnya. Ada di alat perekamku.”

Jieun menoleh ke rekan kerjanya dan menyuruhnya membawa alat perekam itu. Ia mendengarkan isinya dan mengangguk.

“Baiklah.” Jieun berdiri. Dua polisi lain masuk dan menangani Sangwook. Jieun mengendarai mobilnya menuju apartemen Hyukjae. Sampai di sana, ia menekan belnya. Pintu dibuka, Sora berdiri di sana dengan tatapan sedih.

“Hyukjae ada?”

“Dia sedang pergi ke makam Sunghee.”

“Baiklah, terima kasih.”

Jieun bergegas pergi ke pemakaman. Ia mencari sosok Hyukjae di sana. Ketemu. Pemakaman tidak ramai, jadi ia bisa langsung menemukannya.

“Hyukjae ya..” Lelaki itu menoleh. Jieun terkejut melihat matanya yang kosong, sayu.

“Aku yakin kau ingin mendengarnya. Kata-kata terakhir Sunghee sebelum dia meninggal.” Jieun menyodorkan alat perekam itu dan Hyukjae menerimanya. Ia menekan tombol play dan terdengarlah suara Sunghee.

“Hyukjae, saranghae..Eunhee, saranghaeyo…”

THE END

12 thoughts on “[FF] The Kidnapper

  1. vidiaf says:

    sunbae~~ aku nangis bacanyaaaa ;____;
    feelnya dapet banget, aku sampe ikut tegang bacanya..
    aaaaaa /nangis lagi
    asli ini angstnya parah banget u___u

  2. amitokugawa says:

    hyuk…tabahkan hatimu
    eunhee, yang sabar ya…
    aku kebayang hyuk yang lagi kacau, galau, dan nangis terus
    endingnya bikin nyesek, aku kebayang hyuk dengerin rekaman suara sunghee sambil nangis tanpa suara, trus nutup mulutnya, trus nangis sesenggukan..

    angst nya kerasa banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s