[FF] Special Police PART 4

Suspect

Lembayung senja mulai terlihat menghiasi langit. Matahari belum sepenuhnya tenggelam. Di bawah naungan langit oranye itu, para member SJ baru saja menyelesaikan latihan menembak. Mereka beristirahat di sisi lapangan. Member V-RASE masih asyik latihan.

“Donghae-yah, kita melupakan alat pelacak itu!” seru Yesung tiba-tiba. Semua member SJ menatap ke arahnya. Donghae tertegun.

“Kau benar! Zhou Mi, ayo!” Donghae langsung beranjak berdiri dan menarik tangan Zhou Mi. mereka berlari ke dalam markas. Member V-RASE menyelesaikan latihan mereka. Mereka menghampiri anggota SJ yang tersisa 7.

“Donghae dan Zhou Mi?” tanya Raeki.

“Mereka lari ke markas. Kita melupakan alat pelacak yang ditempelkan ke ponsel Jaejoong.”

“Ah, benar alat pelacak nista itu. Gara-gara itu aku harus mencium bibir cowok laknat itu! Puih!” Sunghee berpura-pura sedang meludah.

“Bagaimana rasanya?” tanya Kyuhyun yang sudah diperbolehkan pulang. Tapi, untuk sementara ia tidak diperbolehkan ikut latihan karena pundaknya masih cedera.

“Seharusnya kau datang lebih cepat!” Sunghee kesal. Ia menjatuhkan dirinya di tempat kosong antara Hyukjae dan Yesung. Ia menghela napas kesal.

“Kau tahu? Gara-gara adegan panasmu itu, kami semua syok! Di layarnya tiba-tiba muncul gambar leher Jaejoong! Hahahaha…” Henry tertawa. Sunghee mengerucutkan bibirnya kesal.

“Gara-gara itu aku harus mencuci bibirku tujuh kali! Aaargh aku kesal!” Sunghee menutup wajahnya dengan dua tangan. Hyukjae mendengus dan beranjak berdiri. Ia pergi tanpa suara ke dalam rumah SJ. Yang lain berpandangan heran, sedangkan Henry tersenyum penuh arti.

“Kenapa dia?” tanya Siwon.

“Oh, kamu tidak melihat tayangannya ya? Sayang sekali. Mungkin Zhou Mi punya salinannya. Kurasa Hyukjae Hyung cemburu.” Henry tersenyum.

Donghae kembali ke tempat mereka yang sedang duduk-duduk santai dengan wajah lesu. Zhou Mi menghela napas di belakangnya.

“Kenapa?” tanya Chaerin.

“Tidak terlacak. Kurasa Jaejoong merusak alat pelacak itu.” Zhou Mi mengangkat bahu. Donghae bersandar di dinding, di sebelah Chaerin yang menatapnya iba.

“Cih, apa dia sadar kalau ponselnya dipasangi alat pelacak?” gerutu Donghae.

“Apa mungkin Jaejoong ada kaitannya dengan kasus pengeboman itu?” ujar Sunghee tiba-tiba.

“Bisa jadi. Leeteuk orangnya tidak terduga, bisa saja dia menempatkan kita di sana untuk menangkap Jaejoong karena dia adalah petunjuk kita mengenai kasus pengeboman itu,” kata Sungmin.

Chaerin mengangguk setuju.

“Kurasa itulah kenapa tugas kita dinyatakan berhasil, padahal kita tidak menangkap Jaejoong,”seru Chaerin.

“Benar! Dia pasti ingin kita menelusuri Jaejoong lagi, mungkin saja dia pelaku pengeboman itu?” Raeki memberikan opini.

“Siapa tahu?” gumam Yoonmin.

= = =

Hyukjae memutar lagu McLean – Broken dari ponselnya. Ia menari dengan lincah di kamarnya yang luas. Ekspresinya menyiratkan kesedihan. Namun, ia tetap melanjutkan tariannya yang mempesona siapapun yang melihatnya.

Sunghee menghela napas. Ia hanya bisa berdiri di balik pintu, menunduk. Dia tidak mengerti kenapa Hyukjae tiba-tiba murung seperti ini. Tapi, yang dia tahu, Hyukjae pasti sedang punya masalah. Sunghee ingin sekali masuk ke dalam dan meminta cowok itu bercerita. Tapi dia tidak bisa. Siapa dia? Hanya rekan kerjanya dan…mentor.

“Masuk sana!” Henry menepuk pundak Sunghee. Gadis itu terlompat kaget dan menatap Henry dengan tatapan aku-mati-kamu-kuhantui. Henry tersenyum.

“Ayolah, pintunya tidak terkunci kok.” Henry menekan handle pintu dengan mudahnya. Seakan dia tidak mempertimbangkan apa yang akan terjadi setelahnya. Sunghee menatap Henry kesal, cowok muda itu hanya terkekeh tanpa suara.

Musik berhenti. Sunghee, entah kenapa, berdebar. Henry menepuk pundak Sunghee sekilas dan menerapkan langkah seribu, alias kabur.

Pintu terbuka sedikit, tampak wajah Hyukjae yang muncul di celah kecil antara pintu dengan kusen. Ekspresinya nampak terkejut ketika melihat Sunghee yang ada di depan pintunya.

“Sekarang sudah waktunya makan. Kamu ngapain di sana?” ujar Sunghee berusaha setenang mungkin. Hyukjae tersenyum. Untuk sejenak Sunghee tertegun.

“Aku hanya sedang menari saja. Well, ini hobiku.” Hyukjae mengusap belakang kepalanya dengan senyum salah tingkah. Sunghee mengangguk-angguk sambil menatap lurus ke depan. Kamar Hyukjae sangat tertata dengan rapi dan bersih. Sepertinya bakteri pun ogah-ogahan bersarang di sana.

“Itu kamar tidur atau kamar rawat inap? Bersih sekali..” komentar Sunghee. Hyukjae tertawa.

“Aku suka kebersihan dan keteraturan. Well, mungkin ini berlaku bagi kamarku saja. Soalnya, aku merasa tidak nyaman kalau tidur di kamar yang berantakan.”

“Kalau begitu kau tidak akan nyaman tidur di kamarku,” celetuk Sunghee. Hyukjae menatapnya penuh arti.

“Lupakan kata-kataku.” Sunghee mengibaskan tangannya. “Ayo makan.”

= = =

Menu makan malam hari itu membuat Yoonmin dan Kyuhyun tak berselera. Hidangan utamanya adalah nasi goreng Beijing dengan menu penutup chicken salad mayonnaise. Yoonmin sibuk menyingkirkan sayuran-sayuran di nasi goreng ke piring tiga rekan setimnya sambil menggerutu.

“Sial! Hanya orang bodoh yang menyediakan chicken salad di malam hari. Apa kokinya tidak berpikir lebih jauh? Salad kan biasanya dimakan di siang hari! Dan salad itu makanan untuk orang-orang gendut yang kerjaanya pengen diet tapi gagal terus! Kurasa kokinya gendut, jadi dia berniat menurunkan berat badan dengan menyeret kita ke dalam program dietnya. Huh!” dumel Yoonmin panjang lebar.

“Hey, ucapanmu bisa membuatnya tersinggung.” Yesung menunjuk Shindong yang duduk manis di sampingnya sambil melahap chicken salad itu dengan gaya khas orang kelaparan selama satu minggu.

“Apa?” tanya Shindong tidak jelas masih sambil mengunyah makanannya. Yesung menatapnya datar.

“Lupakan.”

“Well, ini bagus karena porsinya tidak terlalu banyak dan menyehatkan. Kita butuh banyak serat.” Raeki melahap saladnya dengan lahap. Yoonmin menatapnya jijik, seakan Raeki sedang mengkonsumsi makanan hasil mengorek tong sampah.

“Kenapa kamu benci sekali dengan sayuran? Mirip Kyuhyun saja.” Siwon mengambil sebuah apel yang tersedia di hadapannya dan menggigitnya.

“Karena sayuran tidak enak!” kata Kyuhyun dan Yoonmin bersamaan. Orang lain yang ada di sana saling berpandangan dan menggeleng-gelengkan kepala.

“Lagipula aku kan sudah memesan menu bebas sayur! Kenapa masih ada daun-daun menyebalkan ini?” Yoonmin menusuk-nusuk salad yang masih utuh di mangkuknya. Ia menusuknya seakan sedang menusuk boneka voodoo.

“Karena persediaan sayurannya melimpah karena tidak dimakan oleh kau dan Kyuhyun, makanya spesial malam ini menu kita penuh dengan sayuran.” Sunghee mengangguk puas setelah memperdengarkan hipotesisnya.

“Teori dari mana itu?” Yoonmin mencibir. Sunghee menunjuk ubun-ubun kepalanya.

“Dari mana? Kepala?” ujar Yoonmin ketus. Sunghee hanya menghela napas dan meraih secangkir teh hijau.

“Dibanding membahas soal sayuran, lebih baik kita membahas soal Leeteuk yang akan memperkenalkan dua orang yang akan mendampingi kita. Memangnya tiga belas orang tidak cukup, sampai harus didampingi segala?” kata Donghae.

“Ayo kita main tebak-tebakan! Kira-kira siapa yang akan diperkenalkan pada kita?” ujar Raeki semangat.

“Alaah palingan juga polisi baru.” Kyuhyun mengibaskan tangannya acuh tak acuh.

“Kalau bukan polisi baru ya paling detektif.” Hyukjae mengangkat bahu.

“Atau mungkin anak presiden?” ucapan Donghae membuat semuanya terdiam.

“Anak presiden?” koor semuanya serentak.

“Bisa saja dia dendam karena Ayahnya dibunuh lalu bekerja sama dengan kita untuk menangkap pelaku pengeboman tersebut. Ya, kan?” Donghae menatap wajah teman-temannya satu persatu. Semuanya tampak setuju.

“Kalau begitu satunya lagi siapa?” tanya Zhou Mi.

“Pengawalnya?” celetuk Yesung. Semua menatapnya heran.

“Eh, kalau anak presiden kan dikawal terus..” Yesung terkekeh.

“Tapi tidak sampai diperkenalkan juga, kan?” ujar Henry kesal.

“Ya, maaf.” Yesung mengangkat bahu.

“Hehe, jawaban kalian cukup memuaskan. Ada lagi?” Raeki mengangguk puas.

“Pasti saksi kejadian. Aku yakin karena saksilah yang terpenting!”

“Tidak juga, Shindong-Hyung. Bisa saja saksi itu disogok untuk merubah cerita.” Kata-kata Sungmin membuat Shindong mengangguk-angguk setuju.

“Atau mungkin tersangkanya?” Sunghee membuka suara. Ucapannya disambut tatapan aneh.

“Ehm..Hee, aku menghargai pendapatmu tapi rasanya tidak mungkin..” kata Hyukjae. “Meskipun Leeteuk orangnya tak terduga, masa dia sampai memperkenalkan tersangkanya pada kita? Lalu untuk apa kita di sini?”

“Kurasa Hyukjae benar. Sebodoh-bodohnya Leeteuk, dia tidak mungkin melakukan hal sebodoh itu,” ucap Kyuhyun tajam.

“Kenapa tidak? Bisa saja ternyata ini semua hanyalah sandiwara yang dibuat-buat olehnya. Bisa saja dia punya obsesi menjadi sutradara tapi tidak kesampaian, makanya dia memperalat kita untuk memerankan skenarionya dengan baik. Setelah dia puas, dia pasti akan menjebloskan kita ke penjara karena catatan kejahatan kita yang belum bersih.” Sunghee berkata tanpa melihat para lawan bicaranya. Ia menatap mangkuk kosong di hadapannya dengan tatapan yang kondisinya sama dengan mangkuk tersebut. Kosong.

“Kamu terlalu sering membaca cerita fiksi,” desah Chaerin iba.

“Otaknya otak psikopat.” Raeki memutarkan telunjuknya di depan pelipis, seakan sedang mengatakan bahwa Sunghee itu gila.

“Dia tidak bisa membedakan yang mana khayalan dan yang mana kenyataan.” Yoonmin mendengus.

“Dari perkataan kalian, sepertinya kalian sudah berteman sejak lama?” Donghae mengerutkan kening. Empat gadis itu berpandangan.

“Tidak. Kami baru kenal beberapa hari yang lalu,” ujar Chaerin.

“Tapi, aku merasa kalian sudah akrab.”

“Itu karena kami orangnya supel,” ujar Yoonmin membanggakan diri.

Percakapan mereka terpaksa terhenti sementara. Leeteuk dan Heechul memasuki ruangan dengan dua orang di belakang mereka. Otomatis, tiga belas orang yang sedang asyik bercengkerama langsung terdiam dan melihat ke arah mereka. Leeteuk, seperti biasa, tersenyum menyapa. Sedangkan kali ini Heechul tampak berbeda. Ia mengubah gaya rambutnya, menjadi lebih keren. Ia juga tersenyum menyapa, hal yang jarang dilakukannya.

“Selamat malam, semua!” sapa Leeteuk.

“Malam,” koor V-RASE dan SJ.

“Seperti yang sudah kukatakan kemarin, kalian akan kedatangan dua orang yang akan mendampingi kalian selama menjalankan misi. Sudah tahu siapa orangnya?”

“Aku tahu! Itu yang di belakangmu!” kata Kyuhyun. Raeki yang duduk di seberangnya menginjak kakinya. Mengisyaratkan pada Kyuhyun untuk menjaga sikap. Kyuhyun menatap Raeki kesal.

“Apa salahku?” bisiknya.

Leeteuk terkekeh. Lesung pipinya terlihat.

“Tamu kita kali ini sangat spesial. Aku yakin kalian semua sudah pernah melihat wajahnya. Ya, dia adalah Kim Kibum, anak presiden kita, Kim Yoon Shik. Kibum-ssi, silakan perkenalkan dirimu.”

Kibum maju selangkah dan tersenyum tipis.

“Aku tidak perlu berkenalan lagi, Leeteuk-ssi. Tadi kau sudah menyebutkan namaku.”

“Baik, dan satu orang lagi adalah Kim Youngwoon atau biasa disapa Kangin. Dia adalah pengawal presiden pada saat pengeboman terjadi.”

“Senang bertemu dengan kalian.” Kangin membungkuk hormat. Yesung mengangguk puas. Tebakannya ternyata jitu.

“Dua orang ini akan membantu kalian semua, V-RASE dan SJ, untuk memecahkan kasus tersebut. Aku akan meninggalkan kalian sementara karena ada pekerjaan yang harus kulakukan. Jadi, selamat beristirahat. Mungkin dua hari ke depan kalian tidak akan melihatku. Heechul-ssi akan menggantikanku sementara.” Leeteuk menatap Heechul. Yang ditatap mengangguk sambil tersenyum. Mereka berdua berjalan keluar ruangan. Kini tinggallah Kangin dan Kibum yang berdiri kaku di sana.

“Kalian sudah makan?” Raeki berusaha mencairkan suasana dengan menyapa mereka.

“Sudah. Ya, untungnya sudah. Karena menu makanan ini benar-benar tidak berkelas.” Kibum menunjuk makanan di atas meja dengan jari telunjuknya. V-RASE dan SJ saling berpandangan, kurang suka dengan sikap Kibum. Namun, Sunghee ternyata berbeda. Ia bertingkah tidak peduli dan terus melahap saladnya yang belum habis. Kibum menatapnya dan tersenyum. Ia berjalan menghampiri Sunghee dan duduk di sebelahnya, menggusur Yoonmin terlebih dahulu.

Yoonmin menggerutu. Ia berjalan ke sebelah Siwon, di sana ada kursi kosong.

“Sial. Kenapa sih anak presiden itu? Cacat mental?” bisik Yoonmin.

“Hey!” Siwon menempelkan telunjuknya di bibir, mengisyaratkan agar Yoonmin menjaga perkataannya. Gadis itu hanya mendengus.

“Kulihat…sedari tadi kau tidak memperhatikanku. Apa salad ini lebih menarik dibanding aku?” Kibum menopangkan dagunya dengan tangan dan menatap Sunghee lekat-lekat.

“Bagiku salad lebih penting karena ia bisa dimakan. Sedangkan kau tidak.” Sunghee melirik Kibum dengan ujung matanya. Kibum tersenyum.

“Makanan lebih penting?”

“Tidak dengar kata-kataku?” Sunghee menatap Kibum tajam. Yang ditatap hanya tersenyum-senyum.

“Kamu kenapa?” Sunghee mengerutkan kening.

“Tidak apa-apa. Lanjutkan saja aktifitasmu. Saladnya belum habis tuh.” Kibum menunjuk salad yang masih tersisa di mangkuk Sunghee. Gadis itu menatapnya curiga. Kibum mengambil alih sendok di tangan Sunghee dan menyendok salad tersebut. Ia lalu menyodorkannya pada Sunghee.

“Aaaa…” katanya. Sunghee menatapnya datar. Ia menggenggam tangan Kibum dan balik menyuapinya.

“Kau membuat selera makanku hilang.” Sunghee mendengus.

“Kau mengatakannya saat makananmu habis, Hee..” kata Sungmin, tersenyum geli melihat tingkah gadis itu yang kadang-kadang aneh.

“Kita di sini untuk membicarakan kasus itu, kan? Jadi kenapa melenceng dari topik utama?” kata Hyukjae. Nada kesal jelas terdengar di suaranya.

“Oh, ya baiklah. Jadi, Kangin-ssi sebenarnya apa yang terjadi pada saat itu?” Raeki langsung memasang tampang serius. Yang lain mengikuti, kecuali Kibum yang masih asyik menggoda Sunghee. Namun, gadis itu tidak menanggapinya.

“Saat itu, sedang ada acara konferensi pers yang digunakan mendiang Kim Yoon Shik untuk membantah rumor-rumor negatif tentangnya yang tersebar luas di internet. Banyak orang penting dan wartawan yang datang. Puluhan bodyguard pun dikerahkan untuk menjaga lokasi tersebut, termasuk saya. Setengah jam pertama, acara berlangsung dengan lancar. Saya tidak menemukan hal-hal yang aneh. Tapi, di detik berikutnya, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang dasyat. Waktu itu saya baru datang habis menjaga di luar gerbang. Saya panik. Pemandangan saat itu sangat tidak terlupakan. Mayat bergelimpangan, bercak darah di sembarang tempat..” Kangin menghentikan ceritanya, seakan tidak mau mengingat keadaan saat itu.

“Rumor negatif itu…rumor tentang ketidakbecusan Kim Yoon Shik dalam melaksanakan pekerjaannya, bukan?” tanya Siwon. Kangin mengangguk.

“Padahal..kurasa Kim Yoon Shik memimpin negeri kita dengan baik…” kata Shindong ragu.

“Rumornya mengatakan bahwa Kim Yoon Shik melakukan tindak kecurangan dalam pemilihan presiden. Seharusnya ia didiskualifikasi,” terang Raeki.

“Ayahku tidak seperti itu! Sejahat apapun dia, dia tidak akan melakukan hal seperti itu!” Kibum terlihat kesal.

“Aku meragukannya,” gumam Sunghee.

“Apa, Sunghee? Kau ingin berkata sesuatu?” tanya Raeki. Sunghee menggeleng.

“Tidak. Aku hanya ingin mendengar ceritanya lebih lanjut.”

“Baiklah.” Kangin membetulkan posisi duduknya. “Ketika saya hendak berlari ke dalam gedung, saya ditahan oleh seorang wartawan dan kameramennya. Mereka sepertinya terlambat datang. Mereka terlihat kebingungan dan bertanya ada apa. Saya sendiri tidak tahu. Maka dari itu saya menghindari mereka dan melihat situasi di sana. Banyak teman-teman saya yang tewas di tempat. Saya semakin kaget ketika mengetahui bahwa presiden tewas juga.”

“Apa kalian tidak memeriksa lokasi sebelumnya? Untuk memeriksa ada hal yang mencurigakan atau tidak?” Donghae terlihat kurang percaya dengan ceritanya. Ia anggap ini kurang masuk akal.

“Sudah, bahkan tiga kali. Tidak ada hal yang mencurigakan,” ucap Kangin mantap.

“Kalau boleh tahu siapa wartawan itu?” tanya Sunghee.

“Aku kurang tahu siapa. Ia agak pendek, tapi kameramennya tinggi. Aku kurang ingat wajahnya karena aku hanya melihat mereka sekilas.”

“Bagaimana denganmu, Kibum-ssi? Apa kau ada di lokasi kejadian saat itu? Atau apakah kau mengetahui rekan kerja atau siapapun yang punya dendam terhadap Ayahmu?” Raeki menatap Kibum serius. Kibum yang telah kehilangan mood bercandanya pun menanggapi keseriusan orang-orang di sana.

“Tidak, saat itu aku sedang berada di kampusku. Kalau soal dendam…aku pernah melihat seorang rekan kerja Ayah yang tampangnya menyebalkan. Maksudku, ia melihat Ayah seakan sedang melihat musuh bebuyutan.”

“Siapa dia?” tanya Chaerin.

“Lawan Ayah saat pemilihan presiden. Namanya… Jung Jaewon.”

“Apa ada informasi lain mengenainya?” tanya Donghae.

“Informasi lain? Hmm…kalau tidak salah dia teman Ayah waktu SMA. Dari SMA, mereka memang sering bertengkar. Kata Ibuku sih begitu.”

“Begitu ya..” Donghae mengangguk-angguk. Ia lalu melihat ke sekeliling. Wajah-wajah sayu terlihat di sekitarnya. Ia sendiri capek.

“Sekarang kita selesaikan saja diskusinya. Besok kita lanjutkan ya.” Donghae tersenyum lelah. Semua mengangguk dan membubarkan diri. Kibum mendapatkan kamar terbesar di rumah SJ, sedangkan Kangin cukup di kamar tamu.

Namun ternyata, V-RASE dan SJ tidak langsung tidur. Mereka saling berkomunikasi lewat webcam.

“Menurutmu cerita Kangin itu benar?” kata Chaerin membuka percakapan.

“Tidak. Betul-betul tidak benar.” Donghae mengangguk mantap.

“Kenapa kau seyakin itu?” Zhou Mi heran.

“Masa kau tidak merasakannya? Bodyguard punya tempatnya sendiri untuk berjaga. Bodyguard presiden itu kan banyak, dan kurasa shuffle tidak diperlukan. Jadi bagian cerita ketika Kangin kembali ke TKP karena habis berjaga diluar gedung itu mustahil. Banyak polisi yang berjaga di sana, dan bodyguard lebih melindungi ke orangnya, bukan tempatnya.”

“Aku bisa merasakan kebohongan di matanya.” Sungmin mengangguk setuju.

Sunghee hanya terdiam melihat layar laptop. Ia memeluk boneka dombanya. Ia tampak sangat mengantuk. Kebalikannya dengan Chaerin yang masih tampak segar. Yoonmin asyik memakan pudding-nya sambil sesekali menanggapi percakapan. Raeki sendiri terlihat sangat kelelahan. Namun, ia masih menanggapi opini-opini rekan timnya. Mereka harus memecahkan misi ini. Harus.

“Soal wartawan itu…aku merasa ceritanya agak janggal..” Zhou Mi memberikan opininya. Di pihak SJ, memang hanya Zhou Mi, Donghae, Sungmin, dan Kyuhyun saja yang online. Yang lainnya sudah tertidur dengan lelap.

“Yeah, jarang ada wartawan yang ketinggalan berita. Apalagi berita konferensi pers yang pastinya sudah diberitahu sejak kemarin-kemarin. Buktinya, hanya mereka yang terlambat. Jadi, aku merasa kasus itu ada kaitannya dengan si wartawan.” Masih dengan nada mengantuk, Sunghee berkata.

“Maksudmu wartawan itu yang melakukan pengeboman?” Kyuhyun akhirnya membuka suara.

“Ya. Dengan Kangin.” Sunghee mengangguk.

Hening tercipta. Mereka disibukkan dengan pikiran masing-masing. Sunghee yang sudah tidak kuat untuk berbicara lagi pun undur diri dan berlalu ke kamarnya. Kyuhyun hendak mencegahnya untuk memperjelas opininya, namun urung karena ia melihat Sunghee yang begitu kelelahan.

“K.O dia.” Chaerin terkekeh.

“Biasanya juga tidur paling malam,” gumam Yoonmin.

“Dengan Kangin…kurasa masuk akal. Menurutku, bisa saja Kangin pergi sementara dari lokasi dan meledakkan gedung tersebut, lalu ia berlari kembali dan berlagak terkejut melihat apa yang terjadi. Padahal ia yang meledakkannya.” Donghae berujar.

“Lalu apa peran wartawan itu?” tanya Yoonmin.

“Mengalihkan perhatian,” kata Donghae.

“Oh, aku mengerti! Mereka sengaja menciptakan sedikit kegaduhan agar orang lain tidak melihat Kangin pergi keluar gedung, bukan? Makanya Kangin bisa keluar dan meledakkan bom tersebut.” Yoonmin memberikan opini.

“Iya, kurang lebih begitu.” Donghae mengangguk-angguk.

Yoonmin bangkit berdiri sambil membawa mangkuk puddingnya.

“Sudah malam. Aku tidur dulu.” Yoonmin melangkah keluar ruangan. Zhou Mi dan Sungmin mengikuti jejaknya. Kini tinggal Kyuhyun, Donghae, Raeki dan Chaerin. Keheningan seketika tercipta. Donghae menatap Chaerin penuh arti. Ia memberi isyarat untuk pergi dari tempat itu. Chaerin tersenyum tipis dan setuju.

“Sepertinya kalian juga sudah kelelahan. Aku minggat dulu ya, novel-novel yang diberikan Leeteuk masih menunggu.” Chaerin undur diri.

“Malam, Raeki. Malam, Kyu.” Donghae menepuk pundak Kyuhyun sekilas dan berlalu pergi. Kyuhyun dan Raeki terdiam. Mereka baru menyadari bahwa tinggal mereka berdua di sana. Terpisahkan oleh jarak, namun terhubung dengan webcam.

“Kau tidak tidur, Kyuhyun-ssi?” tanya Raeki canggung.

“Aku menunggumu tidur.”

“Kenapa?” Raeki mengerutkan kening.

“Aku harus memastikan kau tidur sekarang. Nanti kalau aku offline duluan, kau tidak tidur bagaimana?”

“Tidak apa-apa kan? Memangnya kenapa? Kita kan hanya rekan kerja, tidak usah memastikan aku tidur duluan segala..”

“Aku ingin lebih dari sekedar rekan kerja. Panggil aku ‘Oppa’.” Wajah Raeki memerah mendengarnya.

“Baiklah…Oppa. Jaljayo.” Raeki tersenyum.

“Sweet dream.” Kyuhyun hendak memutuskan sambungan, namun Raeki menahannya.

“Tunggu, Oppa! Berapa usiamu?”

“23.”

“Ahahaha..kau lebih muda dariku tahu! Aku 24.” Raeki terkekeh. Kantuknya langsung sirna. Kyuhyun tertegun.

“Masa? Aku kira kau masih 22…”

“Wajahku lebih muda ya? Hahaha. Begini-begini aku yang paling tua di antara member V-RASE yang lain lho.”

“Oh ya? Memangnya yang lain usianya berapa?”

“Chaerin 24, hanya beda beberapa bulan. Yoonmin 23, Sunghee 23. Mereka berdua berbeda seminggu, Sunghee lebih muda.”

“Oh, kukira kau paling muda.”

“Wow, kuanggap itu sebagai pujian, dongsaeng-ah.”

“Jangan panggil aku dongsaeng! Aku tidak mau menjadi dongsaeng-mu!” Kyuhyun cemberut. Tawa Raeki semakin meledak melihat wajah cemberut Kyuhyun.

Akhirnya mereka berdua tidak jadi offline. Mereka asyik berbincang hingga malam semakin larut.

= = =

Yoonmin hendak meletakkan mangkuk kosongnya di dapur ketika tiba-tiba  matanya menangkap Sunghee dan Hyukjae sedang berjalan pelan di halaman belakang rumah. Yoonmin tersenyum jahil dan cepat-cepat menaruh mangkuknya asal. Ia lalu mengendap-endap ke dekat pintu kaca, berusaha mendengarkan apa yang kedua rekannya perbincangkan.

“Sunghee, kenapa belum tidur? Tadi katanya ngantuk berat.”

“Ya kan tadi, bukan sekarang.” Sunghee mengangkat bahu. Hyukjae terkekeh.

“Tidurlah. Tadi kan sudah capek mengajarkan kami semua teknik-teknik baru.”

Sunghee menguap. Matanya berair.

“Aku hanya sedang berpikir saja.”

“Apa?” Hyukjae memperhatikan Sunghee yang menyeka air matanya.

“Soal bintang di langit.” Sunghee menengadah. Langit tampak gelap, tanpa satupun bintang yang berkelip. Hyukjae mengikuti arah pandangannya. Ia mengangguk paham.

“Bintang-bintang mati. Padahal aku senang sekali melihat bintang. Aku ingin pergi ke bukit yang sepi, tiduran di atas rumput, dan memandangi bintang-bintang di langit sambil dibelai angin malam. Pasti menyenangkan.” Mata Sunghee berbinar terpantul cahaya bulan. Hyukjae memandang keindahan di depannya.

“Kalau aku ingin menari di pinggir pantai. Aku ingin membiarkan kakiku menghentak ombak. Aku akan menyatu dengan alam. Rasanya pasti sangat menyenangkan.”

Hening tercipta. Mereka berdua asyik dengan pikiran masing-masing.

“Tapi aku tidak ingin menari sendirian. Aku ingin seseorang menemaniku.” Hyukjae menoleh pada Sunghee. Sunghee membalas tatapannya. Sesaat mereka berdua terdiam, mendalami makna kata-kata yang baru meluncur dari mulut masing-masing.

“Kau mengantuk, Sunghee. Matamu sayu.” Hyukjae tersenyum. “Tidurlah. Aku juga mau pergi sekarang.”

“Pergi kemana?” tanya Sunghee cepat.

“Tentu saja ke kamarku. Kemana lagi?”

“Oh..pulang ya?” gumam Sunghee. Hyukjae terdiam. Ia mengangguk pelan.

“Iya…pulang.”

“Baiklah. Selamat malam.” Sunghee tersenyum.

“Malam, Sunghee.” Hyukjae membalas senyumnya. Ia menunggu sampai Sunghee menghilang dari pandangannya lalu berbalik dan berjalan ke gedung SJ.

Yoonmin buru-buru menyingkir dari tempat itu. Ia takut Sunghee memergokinya sedang asyik menguping. Dalam hati Yoonmin ingin sekali menertawakan Sunghee. Ia ingin mengejeknya habis-habisan.

Sunghee membuka pintu kaca dan menutup tirainya. Ia menguap lagi. Ia terdiam ketika melihat Yoonmin yang sedang mengambil minuman dari kulkas. Ia menggosok matanya dan menajamkan pandangan.

“Yoonmin?” katanya serak.

“Apa?” Yoonmin menoleh dengan sebotol jus buah di tangannya.

“Kenapa belum tidur? Kenapa di sini? Lagi ngapain?”  Sunghee menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Gak ngapa-ngapain. Udah cepet tidur.” Yoonmin menarik tangan Sunghee dan menyeretnya ke kamarnya.

= = =

“Kangin ah, kau tidak apa-apa? Yakin sudah memalsukan ceritanya?”

“Ya. Aku hanya tinggal di rumah ini selama beberapa hari. Kau tenang saja, aku sudah buat cerita yang berbeda.”

“Kau tidak membuat cerita yang mengundang curiga, kan?”

“Aku yakin tidak.”

“Kalau kau ketahuan mengarang cerita, nyawamu tak akan selamat!”

“Arasseo!”

Kangin memutuskan hubungan telepon dan meletakkan ponselnya ke atas meja. Ia melirik jam dinding dengan gelisah. Sudah pukul 1 malam. Ia yakin tak ada polisi yang mendengar percakapannya.

Namun ia melupakan CCTV yang di pasang di sudut kamar.

= = =

Markas bawah tanah V-RASE dan SJ tampak sepi dan gelap. Namun, seluruh member V-RASE dan SJ sedang berada di sana. Masing-masing masih dengan mata yang mengantuk. Tentu saja, ini masih pukul 4 pagi.

“Pokoknya hari ini kita harus mendaftar orang-orang yang diperkirakan terlibat dalam kasus itu.” Donghae mengeluarkan selembar karton putih yang lebar. Ia mengambil sebuah spidol hitam dan mulai menulis.

“Di posisi pertama ada Kim Jaejoong.” Donghae menuliskan nama lelaki itu.

“Kenapa aku meletakkan Jaejoong di posisi pertama, itu karena kemungkinan besar dia adalah oknum yang bekerja sama dengan Kangin dalam pengeboman tersebut. Kurasa lawan bicara Kangin semalam adalah Kim Jaejoong. Raeki-ssi, sudah dapat hasilnya?” Donghae menoleh ke kanan, tempat Raeki masih sibuk dengan alat pelacak suara.

“Jika dibandingkan dengan suara Kim Jaejoong yang didapat dari hasil rekaman Sunghee, hasilnya positif. Itu suara Kim Jaejoong,” ujar Raeki tanpa menoleh dari layar alatnya.

“Bagus. Lalu, aku menempatkan Kangin di urutan kedua.” Donghae menulis nama Kangin di sebelah angka 2 yang dia tulis.

“Yang ketiga Kim Kibum.” Donghae kembali menulis.

“Aku setuju!” ujar Sunghee semangat.

“Hah? Kenapa?” Shindong kebingungan. “Bukankah Kibum anaknya? Mana mungkin ia membunuh ayahnya sendiri?”

“Dari data yang kudapatkan, hubungan Kim Yoon Shik dan Kim Kibum tidak terlalu baik. Mereka sering bertengkar. Dan juga, karena Kim Yoon Shik terlalu sibuk dengan pekerjaan, Kibum jadi terbengkalai. Terlebih ketika ibunya meninggal dunia setahun yang lalu. Jarak di antara mereka berdua semakin terbentang lebar.” Sunghee menatap Donghae, mengalihkan pandangannya dari kertas yang baru dibacanya. Donghae membalas tatapannya dan mengangguk.

“Kita harus menyelidiki apakah Kibum punya kelainan mental atau tidak. Banyak anak yang membunuh orang tuanya karena mereka cacat mental,” ujar Donghae pelan, seakan tidak tega mengatakannya.

“Kau punya rencana apa yang harus kita lakukan hari ini?” tanya Hyukjae.

“Ya. Aku ingin kalian menyelidiki setiap detil Kim Kibum. Bahkan sampai informasi personal seperti apa sampo yang ia pakai, berapa ukuran sepatunya, dan lain sebagainya.”

“Kenapa? Apa akan membantu?” Henry mengerutkan kening. Donghae mengangguk.

“Tentu membantu. Tapi, nanti.” Donghae tersenyum penuh arti. Yang lainnya berpandangan.

“Karena itu perkataan otak kita, aku setuju.” Yoonmin mengangguk.

“Setelah itu? Tugas apalagi?” Kini giliran Sungmin yang bertanya.

“Maunya apa? Kita kan masih harus melanjutkan pelajaran kita kemarin. Bukan begitu, V-RASE?” Donghae menatap empat gadis itu satu persatu.

“Ah, benar juga.”

“Lagipula mendapatkan segala hal tentang Kibum itu sulit,” komentar Yesung.

“Aku juga ingin sebagian dari kalian menyelidiki Kangin dan Jaejoong. Kita semua berjumlah 13, kalau begitu aku tugaskan Hyukjae, Kyuhyun, Sungmin, Siwon, dan Sunghee untuk menyelidiki Jaejoong. Untuk Kangin aku akan menugaskan Henry, Zhou Mi, Yesung, dan Yoonmin. Aku, Raeki, Chaerin, dan Shindong akan menyelidiki tentang Kibum. Bagaimana? Ada masalah?” Donghae berkata panjang lebar.

“Tidak, itu bisa diterima.” Zhou Mi mengangguk.

“Aku membolehkan kalian mencari sampai keluar kota sekalipun jika itu perlu. Semua dimulai hari ini. Sekarang pukul 5.30. Kita harus olahraga sebentar setelah itu lakukan misinya. Mengerti?”

“Mengerti,” koor semuanya.

“Bagus. Ayo olahraga.”

To be continued

21 thoughts on “[FF] Special Police PART 4

  1. Rabbitpuding says:

    ciken salad itu apa? makanan? aku kira makanan kuda *ups…

    Yoonmin… dikau cs banget sama sunghee… hahaha

    Lanjuuuuut~ aku nunggu part 5..
    Semangat NIs!

  2. amitokugawa says:

    chicken salad…mauuuu *?*

    ceritanya makin seru , itu kibum apa-apaan pake godain sunghee

    donghae disini pinter ya…
    lanjuuuttt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s