Forever

Semua yang hidup, pasti mati. Tak ada yang abadi. Begitupun dengan cinta. Tidak ada cinta yang abadi.

Aku selalu meyakini kata-kata itu. Aku tidak mau mencintai seseorang terlalu dalam. Karena…jika kita berpisah dengan orang tersebut, rasa sakitnya pasti sangat dalam, bahkan lebih dalam daripada cinta kita terhadapnya. Tapi, jika kau sudah bersama dengan orang itu selama kurang lebih 18 tahun, apa yang akan kau rasakan? Rasa cinta? Itu pasti, bukan?

Ini terjadi kepadaku. Dan orang yang kucintai adalah si tetangga sebelah, Josephine Foster. Aku dan dia sudah bersama sejak lahir. Mengerti maksudku? Jadi, dia lahir dua bulan lebih lama dariku, dan orang tua kami begitu dekat hingga kemana-mana selalu bersama. Otomatis, kami pun dibawa juga. Nah, dari situlah kami mulai dekat.

Saat TK…

Kami selalu pergi ke sekolah bersama dan pulang sekolah bersama. Berangkat sekolah, tangannya selalu menggenggam tanganku. Rasanya hangat. Sampai-sampai, kalau dia sakit atau berhalangan hadir, aku pasti merasa kesepian di kelas. Tidak ada yang menjahiliku. Tidak ada yang menemaniku.

Saat SD…

“Scarlette! Scarlette Harrison!” Josh, begitu aku memanggilnya, memanggil namaku dari jauh. Aku berhenti melangkahkan kakiku menuju kelas dan berbalik. Josh berlari ke arahku sambil membawa dua botol minuman dingin. Wajahnya memerah karena kelelahan. Itu memang cirinya. Capek sedikit, wajahnya pasti merah.

“Ini minuman yang baru diiklankan kemarin. Aku sengaja membelinya karena penasaran rasanya bagaimana. Ayo kita coba.” Josh menyodorkan sebotol padaku dan aku menerimanya. Kami membuka tutupnya bersamaan dan meneguknya bersamaan pula. John memeletkan lidahnya.

“Wueks, ini tidak enak!” ucapnya. Aku terkekeh.

“Enak kok. Rasanya manis.” Aku meneguk minuman itu lagi. Josh menatapku ngeri. Ia lalu menatap botol minuman itu lagi.

“Masa sih?” Ia lalu meneguknya lagi. Bisa kulihat dengan jelas raut wajahnya yang menunjukkan bahwa dia tidak suka minuman itu. Tapi, kenapa dia meminumnya sampai habis?

“Katanya tidak enak. Kenapa menghabiskannya?” tanyaku.

“Habis katamu ini enak. Kan sayang kalau dibuang.” Josh mengedikkan bahu dan membuang botol kosong itu ke tempat sampah. Aku terdiam.

“Kenapa? Gak enak ya? Benar kan kataku!” Josh menunjuk wajahku dengan telunjuknya.

“Kata siapa? Enak kok.” Aku memeletkan lidah dan kembali meneguk minuman itu.

“Aku mau menyimpannya sampai nanti.” Aku tersenyum. Josh mengedikkan bahu.

“Well, terserah.”

Bel berbunyi, pertanda murid-murid wajib memasuki kelasnya masing-masing.

“Aku ke kelas sekarang,” kataku.

“Oke. Aku juga mau pergi. Dag, aku mencintaimu!” Josh berlari menjauh. Aku terkikik. Dia pasti pergi ke lapangan dan bermain bola. Itu memang hobinya.

Saat SMP…

“Hey, Scarlette! Kau mau kemana?” Josh menyapaku dengan riang.

“Aku mau ke perpustakaan.”

“Sudah menemukan pasangan untuk pesta prom?” Josh melangkah mendekatiku. Beberapa meter di belakangnya, teman-temannya menatap ke arah kami sambil cekikikan.

“Barusan Kim menawariku, tapi aku meminta waktu untuk memikirkan jawabannya. Kenapa?” Saat itu jantungku berdebar. Aku berharap Josh memintaku untuk menjadi pasangannya.

“Tolong tolak dia! Jadilah pasanganku untuk prom nanti. Please…” Josh menatapku dengan tatapan puppy eyes­-nya. Aku menghela napas.

“Bukan karena teman-temanmu yang ada di belakang sana, kan? Kau tidak disuruh melakukan ini, kan?”

“Hah? Tidak kok! Ini tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam. Maukah kau menjadi pasanganku untuk pesta prom nanti?”

Seandainya. Seandainya tiga kata terakhir ia ganti dengan kata ‘selamanya’…

“Tapi…aku tidak bisa menolak Kim..”

“Kenapa?”

“Aku merasa tidak enak padanya..”

“Ya ampun! Bilang saja kau sudah menemukan pasangan yang lebih baik. Ya?”

“Memangnya kau lebih baik darinya?”

“Kenapa tidak?”

“Kau sombong.”

“Apa?”

“Jangan pernah berpikir bahwa kau lebih baik dari orang lain.” Aku melengos pergi. Entahlah. Aku hanya tidak suka sikapnya yang semakin hari semakin nakal. Aku yakin, itu suruhan teman-temannya di belakang. Dia mulai terpengaruh teman-temannya.

Alhasil, aku menerima ajakan Kim. Cowok Korea itu tampan kok. Dia juga pintar dan baik. Dari segi nilai, ia lebih baik dari Josh. Tapi…pintar saja tidak cukup, bukan? Josh lebih memperlakukanku seperti perempuan. Sementara Kim selalu mengoceh tidak jelas tentang Fisika, Kimia, Sejarah. Dia selalu mengoceh tentang keluarganya yang kaya raya.

Ini membuatku berpikir bahwa Josh memang lebih  baik darinya.

Saat SMA…

Kami sudah tumbuh menjadi remaja. Aneh. Dulu ia lebih pendek dariku. Tapi sekarang ia menjulang di hadapanku. Badannya tegap, lengannya berotot namun tidak terlalu menonjol. Mungkin karena olahraga yang terus digelutinya. Ia sekarang tampan. Sangat tampan. Bahkan ia menjadi anak paling populer di sekolah. Sedangkan aku? Aku hanya murid biasa. Tak banyak yang mengenal namaku. Bahkan aku tidak punya nama panggilan. Semua hanya memanggilku Scarlette. Jika dipanggil Scar, tidak enak. Artinya luka. Kalau Lette, kedengarannya aneh. Beda dengan Josephine. Dia sudah punya banyak panggilan. Josh, Jo, Joseph, Si Tampan, Cowok Idola, dan sebagainya.

“Scarl? Kau melamun?”

“Hah? Siapa yang kau panggil?” Aku mengernyit.

“Tentu saja kau, Scarl. Scarlette, Scarl. Kau butuh nama panggilan. Aku bosan memanggilmu Scarlette terus menerus. Terlalu panjang.”

“Scarl….bagus juga.” Aku mengangguk-angguk.

“Oh ya, untuk pesta prom minggu depan…belum ada yang mengajakmu, kan?”

Aku menggeleng.

“Bagus!” Josh tampak kegirangan. “Kau lihat, di sini hanya ada kita berdua. Tak ada teman-temanku yang cekikikan. Jadi, kau bisa percaya kalau aku mengajakmu ke pesta prom tanpa suruhan siapa pun. Murni dari hatiku.”

“Jadi..”

“Maukah kau menjadi pasanganku?”

“Oh, oke. Tidak masalah.”

“Tidak masalah?” Josh terlihat sedikit kecewa.

“Ya. Memang tidak masalah. Kenapa?”

“Tidak ada jawaban lain seperti… ‘Ya, tentu saja! Aku sudah mengharapkan ini sejak lama!’ atau sebagainya?” Josh memiringkan kepala. Aku dengan tenang menggeleng. Bisa kulihat guratan kecewa di wajahnya.

“Baiklah. Nanti kujemput kau jam 7. Okay?”

“Okay.”

Oh, Josh…seandainya kamu tahu bahwa hatiku sudah mengatakan apa yang kau katakan sebelumnya. Ya, aku sudah menginginkan ini sejak lama.

Pesta prom berjalan lancar. Ya, seharusnya sih begitu. Tapi, Josh lebih sering mengobrol dengan teman-temannya. Ya…meskipun tangannya terus menggenggam tanganku. Namun rasanya, aku kesepian. Meskipun Josh ada, aku merasa dia jauh. Aku takut. Takut dia benar-benar menjauh.

Pesta selesai. Josh menarikku ke taman belakang gedung.

“Kau ini kenapa sih?” tanyanya.

“Kenapa apanya?” tanyaku, tidak terlalu mengerti kemana arah pembicaraan ini.

“Sejak kita SMP, kamu jadi berubah. Dulu kita senang-senang saja bermain bersama, tapi waktu SMP kamu seakan menjauh dariku. Istilahnya jaim. Kenapa? Aku tidak suka kamu begitu.”

“Memangnya aku suka kamu yang sekarang? Kamu juga berubah! Kamu menjauh dariku!” Oh tidak. Jangan menangis di sini..

“Aku? Itu karena kamu yang berubah duluan! Aku merasa mungkin aku tidak pantas untuk bersanding denganmu makanya aku ikut segala macam klub, organisasi, aku bergaul dengan orang-orang eksis yang kau sukai. Hanya karena apa? Agar kau melihatku untuk sekali saja!” Aku terkejut. Josh tidak pernah semarah ini sebelumnya. Ia tampak marah, campur kecewa. Lihat raut wajahnya. Tampak sangat menderita.

Aku tidak bisa menjawab. Hanya bisa diam.

“Aku ingin kau selalu melihatku, Scarl. Aku ingin kau kembali di sisiku. Karena aku mencintaimu.”

DEG.

“Sejak…kapan?” tanyaku pelan. Bisa kurasakan wajahku memanas. Untung sekarang malam, jadi rona merahnya tidak akan terlihat.

“Tentu saja sejak kita masih kecil! Ini bukan rasa cinta antar saudara, tapi rasa cinta antara dua insan manusia.” Tatapan Josh perlahan melembut. Aku merasa jantungku berdebar dua kali lebih cepat. Aku rindu tatapan itu.

“Waktu aku mengajakmu ke pesta prom saat SMP, itu sungguhan. Teman-temanku memang berkata padaku bahwa jika aku ingin menjadi pasanganmu di pesta prom, aku harus cepat-cepat mengajakmu. Takut keduluan orang lain. Saat itu mereka hanya bercanda, tapi aku tidak peduli. Aku langsung menghampirimu dan mengajakmu ke pesta prom. Teman-temanku tidak percaya aku langsung melakukannya. Makanya mereka cekikikan di belakangku. Tapi, sungguh. Waktu itu aku serius.” Kini tatapan serius Josh tepat menusuk jantungku. Ya ampun, jadi aku saja yang tidak peka..

“Ma-maaf…aku terlalu polos…”

“Hahaha…tak apa. Aku suka kok.” Josh tersenyum hangat. Aku hanya bisa terpana menatapnya.

“Jadi…bagaimana jawabanmu?” tanya Josh.

“Jawaban apa?”

“Memangnya aku belum bertanya?” Josh mengerutkan kening. Aku terkekeh dan menggeleng.

“Ohaha baiklah. Maafkan aku sebelumnya. Jadi, maukah kau menjadi belahan jiwaku selamanya?”

“Belahan jiwa…” ucapku pelan.

“Salah ya? Kalau pacaran untuk selamanya, kapan nikahnya? Kekasih juga sama. Terus kalau aku langsung melamarmu, kita kan masih harus kuliah, terus cari kerja..”

“Iya, iya! Kamu betul kok!”

Josh tersenyum. Tampan sekali.

“Jadi jawabannya?”

“Aku mau.” Aku mengangguk malu. Josh tersenyum senang.

“Terima kasih.” Josh menarikku ke pelukannya. Hangat, sungguh hangat. Aku tidak merasa kesepian lagi.

Memasuki universitas…

Aku termangu di pintu rawat inap Josh. Ya, rawat inap. Pastinya di rumah sakit. Aku tidak menyangka Josh yang selama ini tampil segar bugar sekarang hanya bisa terkapar tak berdaya di ranjang rumah sakit. Dia kecelakaan. Sangat parah hingga menyebabkan hampir seluruh tubuhnya ditutupi perban. Tulang-tulangnya banyak yang remuk dan patah hingga membutuhkan operasi. Hidupnya sekarang hanya tinggal 1%. Kenyataan itu membuatku menangis.

Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin seorang pria gagah yang selalu melindungiku, selalu menjagaku, selalu ada untukku, sekarang bahkan untuk membuka mata pun sulit. Untuk menggerakkan satu jari saja susahnya minta ampun.

Bagaimana bisa?

Hidup memang tak ada yang abadi. Ya, seperti yang aku yakini selama ini. Kegagahan seseorang pun pasti lenyap juga. Tapi itu juga berarti…Josh akan pergi? Sekarang?

Jangan.

Kumohon jangan.

Aku melangkah masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Josh. Wajahnya sudah tak kukenali lagi. Kecelakaan mobil yang menyebabkan kedua orangtuanya meninggal dan dirinya yang luka parah itu terjadi tepat kemarin. Tepat setelah ia merayakan hari ulang tahunku yang ke 19. Dia dan orang tuanya sedang dalam perjalanan pulang dari rumahku. Namun naas, sebuah truk gandeng menghantam mobil yang dikendarai Josh. Kontainer yang dibawa truk itu menimpa mobil sedan Josh dengan sempurna.

Aku menghela napas, berusaha menahan air mata yang kian menderas. Apakah ini akhir dari kisah cintaku dengannya? Kami baru berpacaran selama 2 bulan. Terlalu cepat jika ia pergi sekarang.

Mungkin tak akan pernah ada kata ‘anniversary’ bagi kami berdua.

Mungkin tak akan pernah ada perayaan ulang tahun Josh dua bulan lagi.

Mungkin juga tak akan ada kencan-kencan lain.

Aku terduduk ke kursi dan menangis tersedu-sedu. Aku hanya bisa berdoa semoga Josh diberikan yang terbaik.

Aku menangis sampai tertidur di sana. Saat aku terbangun, tubuh Josh sudah mendingin. Kaku. Aku terkejut dan segera melihat detector detak jantung. Ya Tuhan..

“Josh! Josephine!! Joseph!! Dokter! DOKTER!!” jeritku. Sedetik kemudian dokter dan para perawat datang.

Setelah menunggu beberapa saat, dokter keluar dengan kata-kata yang tak ingin kudengar.

“Maaf, kami sudah berusaha..”

Aku tidak mendengar kelanjutan kata-katanya. Aku terlanjur pingsan.

Sudah dua bulan sejak kepergian Josh. Sekarang tepat hari ulang tahunnya. Aku memberikan sebuket bunga Orange Blossom. Aku tertawa pelan. Lucu juga. Selama ini aku tidak meyakini adanya cinta abadi. Namun, aku baru saja meletakkan sebuket bunga yang berarti cinta abadi.

Aku mengelus nisannya lembut. Menelusuri setiap huruf ukiran namanya. Nama yang begitu indah..

Aku tersenyum ketika mengingat kata-kata terakhir Josh.

“Aku akan mencintaimu sampai akhir khayatku. Percayalah, aku bukan pria yang ingkar janji.”

THE END

8 thoughts on “Forever

  1. vidiaf says:

    sunbae tanggung jawab aku nangis nih huaaa ;___; (?)
    sunbaeeeeee ampun lah ampun (?) setiap baca FF one shot di sini selalu nangis ;__;

    asli bacanya merinding._.V aku sukaaaaaaa~
    diksinya makin bagus~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s