Sweet Souvenir

Hujan rintik-rintik membasahi tanah kota Daegu sore itu. Langit yang seharusnya berwarna oranye digantikan oleh awan gelap yang sedang menurunkan air yang selama ini ditampungnya. Apartemen Lee Eun Hee terlihat kosong, gelap. Itu sedetik sebelum pintu apartemen terbuka, si pemilik dan seorang cowok melangkah masuk.

“Wah, hujannya deras sekali! Kita jadi basah semua, kan?” Park Sang Min melepaskan blazernya yang basah kuyup.

“Mobilmu kan sedang menginap di bengkel, wajarlah kalau kita kehujanan.” Eun Hee tersenyum dan melangkah ke kamar mandi. Sang Min mengikuti di belakangnya. Ia menjemur blazernya di gantungan handuk yang tersedia.

“Sepertinya hujannya bakal lama.” Eun Hee mengusap kulitnya yang basah dengan handuk. Sang Min mengangguk setuju. Ia berdiri di belakang kekasihnya yang sedang bercermin sambil mengeringkan tubuh.

“Kau pakai saja handuk yang itu.” Eun Hee menunjuk handuk putih yang menganggur sekilas. Sang Min mengangguk samar.

“Eun Hee-ya, kau mau mendengarkan sesuatu?” Sang Min maju selangkah. Eun Hee bergumam.

“Apa?”

“Itu..anu…aku…”

“Ah, ya Tuhan! Aku lupa membuat cokelat panas. Lihat, tubuhmu gemetaran begitu. Kau tidak kuat dingin kan? Tunggu sebentar ya, Sayang.” Eun Hee meletakkan handuknya sembarangan dan bergegas menuju dapur. Sang Min menghela napas. Ia lalu memutuskan untuk mandi.

Selesai mandi, Sang Min berjalan ke ruang TV. Di meja, sudah terhidang secangkir cokelat panas. Di sofa, Eun Hee duduk sambil menyeruput cokelat panasnya pelan. Ia sedang serius menonton TV.

Eun Hee menoleh begitu menyadari kehadiran Sang Min di sampingnya.

“Kau sudah selesai? Baiklah, aku mau mandi.” Eun Hee tersenyum dan beranjak berdiri. Sang Min hanya terdiam. Ia menyeruput cokelat panasnya yang terasa hambar.

Sore telah berganti menjadi malam. Sang Min dan Eun Hee masih duduk terdiam di hadapan TV. Suasana canggung mengelilingi mereka.

“Eun Hee..”

“Apa?”

“Kau mau mendengarkan sesuatu?”

“Boleh.”

“Aku akan pergi.”

Eun Hee tertegun. Untung saja cangkirnya sudah diletakkan di atas meja. Jika tidak, mungkin cangkir itu sudah berubah menjadi kepingan-kepingan hancur.

“Pergi kemana?”

“Ke Bali.”

“Indonesia?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Aku harus melakukan penelitian di sana. Berkaitan dengan kuliahku.” Sang Min mengangkat bahu.

“Baiklah, aku mengerti.”

“Tidak apa-apa?”

“Ya. Aku tidak apa-apa.” Eun Hee memaksakan seulas senyum. Tapi, Sang Min tahu itu bukan senyuman tulus.

“Aku akan membawakanmu oleh-oleh. Apa yang kau inginkan?”

“Hm…bawakan aku pasir dari pantai di sana. Di sana banyak pantai bagus, kan?”

“Itu saja?” Sang Min mengerutkan kening.

“Ya, pasirnya dimasukkan ke botol kaca. Lalu kau isi dengan kerang-kerangan juga ya? Aku hanya meminta itu saja. Itu lebih bermakna.” Eun Hee tersenyum. Sang Min membalas senyumnya.

“Oke, nanti aku bawakan. Ada lagi?”

“Aku ingin kamu kembali dengan selamat. Bisa?”

“Pasti.”

“Berapa lama aku harus menunggu?”

“Hanya 3 bulan.”

“Baik.” Eun Hee mengangguk. Perlahan, ia menyandarkan kepalanya ke pundak Sang Min. Cowok itu melingkarkan lengannya ke pundak Eun Hee. Mereka terdiam hingga jam menunjukkan pukul 8 malam.

3 bulan kemudian, Eun Hee menunggu kedatangan kekasihnya di bandara. Ia meremas tangannya sendiri dengan tidak sabar. Matanya terus tertuju pada rombongan orang-orang yang baru saja mendarat. Nah, itu dia. Eun Hee ingin memekik girang saat melihat kedatangan kekasihnya. Sang Min tersenyum dan melangkah cepat mendekati kekasihnya.

“Aku merindukanmu.” Sang Min memeluk kekasihnya erat. Eun Hee terkekeh.

“Aku juga. Jadi, kau bawa oleh-olehnya?”

“Hei, masa baru datang langsung tanya oleh-oleh? Jadi kamu tidak sabar menungguku di sini hanya karena oleh-oleh? Payah.” Sang Min pura-pura kesal. Eun Hee tertawa pelan.

“Kalau kamu kan sudah sering ketemu. Aku ingin pasir Bali!”

“Nih.” Sang Min menyodorkan kantung kertas kecil pada kekasihnya. Eun Hee melirik isinya dan tersenyum senang.

“Jangan lupa, oleh-oleh kedua yang kamu inginkan itu kan aku.” Sang Min tersenyum lebar. Eun Hee mencibir. Tapi kemudian ia tertawa.

“Iya deh, yang itu juga benar.” Eun Hee berjinjit dan mencium pipi kekasihnya sekilas. Sang Min tertawa dan mengacak rambut Eun Hee.

Sesampainya di apartemennya, Eun Hee bergegas mengeluarkan botol kaca berisi pasir dari kantungnya. Ia mengernyit ketika melihat ada secarik kertas yang digulung-gulung di dalamnya. Ia membuka tutup botol dan mengeluarkan kertas tersebut dengan susah payah. Sedikit pasir berjatuhan ke atas meja.

“’Maukah kau menikah denganku?’ Apa maksudnya? Bahasa apa ini? Indonesia?” Eun Hee mengerutkan kening, heran.

Ponselnya bordering,  mengacaukan keheranannya. Ia segera menjawab teleponnya.

“Ya, Sang Min?”

“Kau dimana?”

“Di apartemen. Kenapa?”

“Ayo datang ke taman kota. Sekarang ada pertunjukkan air mancur.”

“Oh, oke!”

Eun Hee bergegas berganti pakaian dan sedikit berdandan. Ia meraih kertas itu dan berjalan keluar apartemen.

Di taman kota, Eun Hee menajamkan pandangannya ke sekeliling. Ia mencari sosok Sang Min. Ketemu. Cowok itu berdiri persis di depan air mancur. Eun Hee bergegas menghampirinya.

“Sang Min-ah!” panggilnya. Sang Min menoleh dan tersenyum.

“Ada yang ingin kutanyakan. Apa maksud kertas ini?” Eun Hee menunjukkan kertasnya. Sang Min tersenyum penuh arti.

“Nanti dulu, Sayang. Kita nikmati acaranya dulu.” Sang Min merangkul pundak Eun Hee tepat ketika pertunjukkan air mancur dimulai. Air mancur itu memancarkan warna serta pola yang berbeda. Mata Eun Hee berkilau melihatnya. Meskipun ini bukan kali pertama ia menonton pertunjukkan tersebut, namun Eun Hee selalu senang melihatnya. Ia tidak pernah  bosan.

Pertunjukan berakhir. Eun Hee bertepuk tangan gembira. Ia menoleh untuk menatap Sang Min, namun lelaki itu luput dari pandangan. Eun Hee tertegun dan menunduk. Tepat. Sang Min berlutut di hadapannya dan menyodorkan sebuah cincin emas.

“Maukah kau menikah denganku?” Sang Min mengucapkan kata yang tertulis di kertas. Eun Hee merasa jantungnya berdebar.

“Artinya, will you marry me?” ucap Sang Min. Eun Hee mengangguk. Air mata menuruni pipinya.

Sang Min menyematkan cincin tersebut ke jari Eun Hee dan memeluknya erat.

“Terima kasih. Aku mencintaimu.”

“Aku juga.” Eun Hee tersenyum.

“Kau tahu? Ini oleh-oleh yang terindah yang pernah kudapatkan.” Eun Hee berkata.

“Dan ini sambutan terhebat yang pernah kudapat. Hahaha..” Sang Min tertawa kecil. Eun Hee tersenyum gembira.

THE END

14 thoughts on “Sweet Souvenir

  1. specialshin says:

    walaupun aku susah dapetin visualisasinya, tapi sweet deh xD
    tapi yakali oleh oleh pasir hahah xD
    sering2 bikin ficlet beginian ya, yang ga pake konflik. unyuu bacanya hahahah xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s