[FF] Use Your Heart

Seorang gadis sedang asyik memotret pemandangan di sekelilingnya. Ia menggunakan kamera mahal pemberian orang tuanya. Sesekali gadis itu tersenyum, pemandangan indah Namsan Tower sudah diabadikan.

Namanya Lee Ji Eun. Dia sangat menyukai fotografi. Sengaja dia mengikuti klub fotografi untuk meningkatkan kemampuannya di bidang ini. Cita-citanya adalah untuk menjadi fotografer terkenal. Awalnya, orang tuanya tidak setuju. Ji Eun gadis yang pandai, ia bisa saja menjadi dokter atau professor sekalipun. Namun, ia malah memilih fotografi. Karena Ji Eun adalah anak satu-satunya, maka keinginannya pun dikabulkan. Orang tuanya mendukungnya untuk menjadi fotografer terkenal. Bahkan ia bisa dikuliahkan di luar negeri hanya untuk mendalami fotografer. Itulah enaknya lahir di keluarga kaya yang serba mudah.

Tapi kekayaan saja tidak cukup. Ji Eun tumbuh menjadi gadis yang manja, dan tidak mandiri. Kemana-mana ia diantar, mau ini mau itu dibelikan. Kadang Ji Eun  merasa bosan. Ia ingin mandiri.

Ji Eun memotret ke arah kanan. Terpotretlah seorang lelaki yang sedang memotret juga. Kamera yang dipakai lelaki itu juga sama dengan miliknya. Ji Eun kesal. Ia kira hanya dirinya yang punya kamera itu. Pasalnya, itu kamera yang baru dipasarkan di Paris. Sementara di Korea kamera itu belum dipasarkan.

Ji Eun pun memutuskan untuk menghampiri lelaki itu.

“Suka fotografi?” tanya Ji Eun.

“Bukan suka lagi, cinta!” Lelaki itu terkekeh. Ji Eun mengangguk-angguk.

“Oh, kamu punya kamera ini juga?” Lelaki itu menunjuk kamera yang digenggam Ji Eun.

“Iya. Memangnya kamu aja yang punya?” ketus Ji Eun.

“Ini kamera oleh-oleh dari pamanku yang baru datang dari Paris. Aku tidak tahu kalau kamera ini belum dipasarkan di Korea.”

“Seharusnya fotografer tahu dong.”

“Aku bukan fotografer kok. Fotografi itu hobiku saja.”

“Begitu..”

“Ngomong-ngomong namaku Kim Sung Hyuk. Kamu?”

“Lee Ji Eun.”

“Sudah foto Sungai Han?”

“Sudah berpuluh-puluh kali. Apalagi yang harus difoto?”

“Hm…pernah ke Donghae City? Di sana pemandangannya indah.”

“Aku juga pernah ke sana.”

“Sudah foto taman kota?”

“Belum.” Ji Eun heran. Kenapa pula Sung Hyuk menanyakan hal seperti ini padanya.

“Nah, kalau begitu kita coba foto yuk. Ada hal yang menarik di sana.”

Sung Hyuk tersenyum dan berjalan mendahului Ji Eun. Gadis itu menatap Sung Hyuk ragu lalu mengikutinya. Entah ada magnet apa. Sesekali Sung Hyuk berbalik ke arahnya, memastikan Ji Eun mengikutinya.

Taman kota siang itu ternyata cukup ramai. Banyak orang berdatangan ke sana. Ji Eun tidak melihat hal yang istimewa di sini. Hanya taman dan orang. Itu saja.

“Aku bertaruh kau tidak melihat hal yang istimewa di sini, kan?”

“Iya. Apa bagusnya? Pemandangan biasa kok.” Ji Eun mengangkat bahu.

“Tunggu, tunggu. Hal istimewanya ada di sini.” Sung Hyuk berjalan mendahuluinya lagi. Ji Eun penasaran. Maka ia mengikuti cowok itu.

“Nah, ini dia.” Sung Hyuk merentangkan tangannya. Ji Eun mengerutkan kening. Pasalnya, di hadapan mereka hanya ada orang-orang berseliweran. Latar belakangnya juga pertokoan.

“Aku tidak mengerti apa yang bagus.”

“Itu karena kamu melihatnya tidak pakai perasaan. Pakai hatimu.” Sung Hyuk memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam. Ia menghembuskan napas dengan perlahan. Sung Hyuk membuka matanya dan menoleh menatap Ji Eun.

“Coba kau lakukan hal yang sama.”

Ji Eun pun melakukan hal yang sama. Ia membuka matanya dan terdiam. Entah karena tersugesti atau apa, ia melihat hal yang berbeda. Ada seorang kakek-kakek tua yang sedang susah payah  berjalan dengan tongkatnya. Seorang pelajar laki-laki berlari ke arahnya dan membantunya berjalan. Ji Eun tertegun. Ia lalu melihat ke arah yang lain. Seorang gadis sedang asyik mengetik di notebook-nya. Sesekali matanya mengarah pada kakek-kakek tua itu dan tersenyum. Ia lalu kembali mengetik. Seorang laki-laki berlari ke arahnya dengan membawa sepasang kruk. Ia tersenyum menyapa gadis itu. Gadis itu menutup notebooknya dan berusaha berdiri. Laki-laki itu memberikan sepasang kruk padanya. Ji Eun ternganga.

“Ada cerita ya?” ucap Sung Hyuk.

“Iya..”

“Di sini kamu bisa potret berbagai hal. Semuanya bisa menjadi sebuah cerita.”

“Itu..aku merasa kasihan dengan gadis itu. Dia masih muda, cantik, tapi kakinya..”

“Tua muda sama saja, ya. Kelumpuhan bisa menyerang siapa saja.”

“Iya..” Tanpa sadar, Ji Eun menitikkan air mata. Sung Hyuk cepat menghapusnya.

“Coba lihat ke arah sana.” Sung Hyuk menunjuk ke suatu tempat. Ji Eun mengikuti arah tunjukannya.

Ternyata, ada sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Si cowok menarik tangan gadis itu dan sepertinya meminta maaf. Gadis itu menepis tangannya dan berjalan  menjauh. Si cowok mengejar gadis itu dan berlutut di hadapannya. Ia melamar gadis itu. Gadis itu tersentuh dan menerimanya.

“Yang tadi sedih, sekarang romantis. Siapkan kameramu dan kita potret genre-genre kehidupan lainnya.”

Ji Eun tersenyum dan mengangguk. Ia tidak pernah memotret hal-hal seperti ini sebelumnya. Sejauh ini ia hanya memotret benda mati. Tapi ternyata, memotret hal seperti ini juga mengasyikkan.

Dua jam berlalu. Sung Hyuk dan Ji Eun memutuskan untuk duduk di bangku taman. Mereka  sedang melihat-lihat hasil jepretan kamera masing-masing.

“Sepertinya kalau digabungkan, gambar-gambar kita bisa menjadi sebuah cerita,” kata Sung Hyuk.

“Iya bisa juga.” Ji Eun setuju.

“Kalau begitu foto-foto ini nanti kita cuci ya? Lalu kita buat cerita.”

“Oke!” Ji Eun tersenyum.

= = =

Ji Eun datang ke taman itu lagi. Sudah berapa hari sejak pertemuan pertamanya dengan Sung Hyuk. Hari ini mereka akan membuat cerita dari foto-foto yang mereka ambil.

“Halo! Sudah menunggu lama?” sapa Sung Hyuk.

“Tidak kok, aku baru datang.” Ji Eun tersenyum.

“Bagaimana? Kau bawa fotonya?”

“Bawa dong. Kan sudah janji.” Ji Eun membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar foto.

“Baguslah. Ayo kita buat ceritanya.”

Ji Eun mengeluarkan buku jurnal. Ia berdua dengan Sung Hyuk membuat cerita dari foto tersebut. Sesekali mereka tertawa ketika membuat cerita lucu.

Hari sudah mulai malam. Ji Eun harus cepat pulang. Mobilnya sudah menunggu di seberang jalan.

“Besok kita memotret lagi ya.” Sung Hyuk melambaikan tangan. Ji Eun mengangguk.

“Oke!”

Ji Eun menyeberangi jalan. Tiba-tiba dari arah kiri, sebuah mobil oleng dengan kecepatan maksimum mengarah padanya. Ji Eun tak sempat mengelak. Suara tabrakan keras pun terdengar.

= = =

Ji Eun tersadar. Terdengar suara alat-alat rumah sakit di sekitarnya. Namun, ruangan ini gelap. Ji Eun mengerutkan kening.

“Ji Eun, kamu sudah sadar?” Itu suara ibunya.

“Eomma? Itu Eomma, kan? Kenapa ruangannya gelap? Kenapa tidak menyalakan lampu?”

Terdengar isakan. Ji Eun mengerutkan kening.

“Eomma kenapa menangis?”

“Ruangannya terang, Sayang. Tapi, kamu sudah tidak bisa melihat. Karena kecelakaan itu.”

“Apa?” Jantung Ji Eun berdebar kencang. Tidak mungkin, batinnya.

“Buta? Aku buta? Mana mungkin? Aku kan akan menjadi fotografer terkenal! Bagaimana bisa memotret jika aku tidak bisa melihat?! Eomma, nyalakan saja lampunya! Jangan bercanda!!” Ji Eun histeris. Terdengar suara tangisan ibunya yang juga semakin kencang.

“Ji Eun, terimalah kenyataannya…”

“Tidak!!!”

= = =

Ji Eun terdiam di kamar rawatnya. Ia sudah tidak bisa melihat. Jadi dia tidak ada keinginan untuk melakukan sesuatu.

Terdengar suara pintu terbuka disusul oleh suara langkah kaki. Ji Eun menoleh ke sumber suara.

“Halo, Ji Eun.”

“Sung Hyuk?”

“Wah, ternyata kamu mengenali suaraku ya?” Sung Hyuk terkekeh. “Aku membawa buku jurnal kita. Tadi pagi aku baru saja memotret kejadian baru. Aku bacakan ya..”

“Tidak usah! Kamu mau pamer kalau kamu masih bisa melihat, hah?! Mau pamer kalau tadi pagi baru memotret? Begitu?! Kalau begitu keluar! Aku tidak ingin mendengar kata fotografi lagi, aku tidak ingin mendengar kau datang ke sini lagi dan membawa buku jurnal itu. Pergilah!”

“Tapi maksudku bukan begitu..”

“Pergi!!” jerit Ji Eun.

“Baik aku pergi.” Sung Hyuk melangkah menjauh. Ji Eun menangis. Ia mengacak rambutnya geram. Ia ingin memotret juga. Ingin melihat lagi.

= = =

Esoknya, Sung Hyuk mengendap-endap ke kamar rawat Ji Eun. Ia meletakkan buku jurnal mereka di samping Ji Eun yang tertidur. Sung Hyuk berbisik pelan di telinga Ji Eun.

“Selamat malam. Mimpi indah ya.”

Sung Hyuk tersenyum dan mengendap-endap keluar lagi. Ia menutup pintu dengan amat pelan.

= = =

Paginya, Ji Eun terbangun. Entah kenapa ia harus terbangun. Ji Eun ingin pergi saja daripada hidup tapi tidak bisa melihat. Ji Eun meregangkan ototnya, tak sengaja tangannya menyenggol sesuatu. Ia meraihnya dan merabanya. Sebuah buku. Ji Eun membuka buku itu dan meraba permukaannya. Ia tertegun. Huruf braile.

Ji Eun mencoba membacanya. Awalnya memang sulit, namun lama-kelamaan ia mulai terbiasa. Ji Eun tertegun. Itu buku jurnalnya dengan Sung Hyuk. Cerita-cerita mereka tercantum di sana dengan menggunakan huruf braile. Setetes air mata menuruni pipinya. Lalu tetesan berikutnya mengikuti. Ji Eun menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. Betapa baik Sung Hyuk itu. Ia bersyukur punya teman sebaik Sung Hyuk.

= = =

“Ji Eun? Aku boleh masuk?” Suara Sung Hyuk menyapa telinga Ji Eun.

“Silahkan,” ujar Ji Eun ketus.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Menurutmu buta itu baik-baik saja?”

“Hm…” Sung Hyuk hanya menggumam. Ji Eun menoleh ke arahnya. Dalam hati ia sebenarnya masih tidak bisa menerima keadaan ini. Namun,  setidaknya Sung Hyuk sudah berbaik hati padanya. Itu sedikit menghibur.

“Ji Eun, ini kameramu. Coba potret pakai hatimu..”

Tiba-tiba Ji Eun merasa marah. Semenjak kehilangan penglihatannya, emosinya memang labil. Ia meraih kameranya dan melemparkannya. Kamera itu rusak. Sung Hyuk terkejut.

“Potret pakai hati? Lalu aku mau melihat hasilnya pakai apa? Hah?! Kau mau mengejekku lagi?! Aku buta, Sung Hyuk, dan aku sudah muak dengan hal seputar fotografi!”

“Seandainya aku bisa melihat lagi…” gumam Ji Eun. Sung Hyuk terdiam. Dia melangkah pergi.

= = =

“Ji Eun, kau akan bisa melihat kembali! Ada seseorang yang mendonorkan matanya untukmu!” seru ibu Ji Eun.

“Benarkah?” seru Ji Eun senang.

“Iya. Besok kita akan menjalankan operasinya.”

“Siapa yang mendonor?”

“Entahlah. Nanti kita akan diberi tahu.”

Operasi berjalan dengan lancar. Ji Eun terduduk di atas tempat tidur. Perban di matanya sedang dibuka oleh dokter. Ji Eun membuka matanya perlahan. Pertama masih buram, lama-lama matanya mulai terfokus. Ia kembali melihat dengan jelas. Rasanya ia ingin menjerit sambil melompat-lompat karena terlalu gembira.

“Eomma! Appa!” Ji Eun memeluk orang tuanya satu persatu.

“Kau pasti ingin mengetahui siapa donor matamu, kan?”

“Tentu! Siapa dia?”

“Ayo sini!” Eomma menarik Ji Eun ke suatu tempat. Ternyata ia membawanya ke kamar rawat lain. Ji Eun membuka pintunya dan tertegun. Sosok itu..sosok yang sangat ia kenal. Sosok yang akhir-akhir ini selalu bersikap baik padanya.

“Sung Hyuk?” Ji Eun nyaris kehilangan suaranya. Sung Hyuk tersenyum. Matanya tertutupi perban putih.

“Sekarang matamu ada di wajahku, Ji Eun. Aku pikir daripada aku tidak punya mata lebih baik aku pakai matamu saja.”

“Apa?” Ji Eun menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya menetes deras.

“Kamu ingin menjadi fotografer terkenal, kan? Pakai mataku dan hatimu untuk mewujudkannya.”

“Sung Hyuk…” Ji Eun berlutut di hadapan Sung Hyuk yang terduduk di atas tempat tidur. Ia menggenggam ujung celana Sung Hyuk dan membenamkan wajahnya ke kaki cowok itu. Ia menangis keras.

“Jangan menangis..” Tangan Sung Hyuk menyentuh kepalanya. Ji Eun meraihnya dan mendekatkannya ke pipinya yang basah. Tangisnya makin keras.

“Bodoh…kenapa kau melakukan hal seperti itu? Kau bodoh, Sung Hyuk..”

“Kenapa? Karena aku memakai hatiku untuk mencintaimu. Jadi, jangan sedih lagi. Aku tidak suka melihat gadis yang kucintai bersedih.”

Tangis Ji Eun semakin keras. Ia menyesal telah bersikap kasar pada Sung Hyuk. Tapi, ia juga bersyukur mempunyai teman sebaik Sung Hyuk.

“Aku juga mencintaimu..”

“Tapi sekarang lupakan. Aku tidak bisa melihat. Aku pasti akan merepotkanmu. Kau harus menikah dengan laki-laki yang baik, yang normal, yang bisa menjagamu dan mencintaimu lebih dari aku.”

“Tidak. Aku hanya mencintaimu.”

“Jangan. Jangan cintai aku. Aku hanya akan merepotkanmu.”

“Tidak..aku tidak mau…” Ji Eun menggeleng kuat.

= = =

Pagi-pagi buta Sung Hyuk sudah mengemasi barang-barangnya. Dibantu dengan adiknya, koper-kopernya dimasukkan ke bagasi mobil.

“Hyung, kau yakin kita pergi ke Prancis sekarang?”

“Iya. Kau antar aku ya? Setelah itu kau boleh kembali. Aku akan tinggal di sana.”

“Bagaimana dengan Ji Eun?”

Sung Hyuk terdiam sejenak. Ia lalu tersenyum.

“Aku memang ingin meninggalkannya. Agar ia melupakanku.”

“Hyung, kau benar-benar terlalu baik.”

“Hahaha..benarkah?”

Sung Hyuk menaiki mobil milik adiknya. Dengan dikemudikan oleh adik Sung Hyuk, mobil itu pun meluncur menuju bandara.

= = =

5 tahun kemudian..

Ji Eun menggamit tangan suaminya sambil berjalan-jalan mengelilingi kota romantis, Paris. Mereka pasangan baru menikah yang sedang berbulan madu di kota ini. Ji Eun sudah menjadi fotografer terkenal. Suaminya adalah seorang sutradara. Cerita-cerita hasil jepretan dia dan Sung Hyuk sudah diangkat ke layar lebar dan mendapat respon positif dari khalayak.

Mereka berjalan dengan mesra ke taman kota. Di sebuah bangku putih, seorang laki-laki sedang bermain dengan seekor anjing. Ia melemparkan bola ke sembarang arah dan anjing putih miliknya langsung menangkapnya. Anjing itu kembali padanya dan memberikan bola itu padanya. Ji Eun mengerutkan kening. Rasanya ia mengenali sosok tersebut.

“Sayang, tunggu sebentar ya, aku melihat seseorang di sana.”

“Oke!”

Ji Eun berjalan menghampiri lelaki tersebut. Belum sampai pada lelaki itu, dia sudah berdiri dengan dituntun anjingnya yang ternyata adalah seekor anjing pemandu. Sebuah foto terbang ke arahnya. Ji Eun menangkap foto tersebut. Tangisnya pecah ketika melihat apa gambar yang tertera di sana. Itu adalah potret dirinya yang sedang tersenyum di depan pertokoan di taman kota.

Ji Eun berbalik menatap punggung lelaki itu yang semakin menjauh. Ia berlari ke arahnya dan menyentuh pundaknya.

“Kau menjatuhkan ini.” Ji Eun memberikan foto tersebut.

“Oh? Apa ini?”

“Foto yang kau bawa. Foto seorang gadis.” Ji Eun berusaha keras menahan tangisnya.

“Ah iya! Terima kasih banyak, Nona! Untung kau menemukannya.”

“Siapa gadis ini? Kekasihmu?”

“Bukan. Dia gadis yang sangat kucintai. Namun karena kekuranganku ini, aku terpaksa meninggalkannya. Kuharap ia menikahi orang yang lebih baik dariku. Kuharap ia bahagia sekarang.”

“…” Ji Eun hanya terdiam. Tangisnya pecah lagi.

“Maaf, Nona, aku harus pergi. Terima kasih banyak sekali lagi.” Sung Hyuk terkekeh dan berlalu pergi dituntun oleh anjing pemandunya. Ji Eun tak bisa berkata-kata lagi. Ia menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Tangisnya tak dapat berhenti. Terlebih ketika ia melihat Sung Hyuk menjinjing buku jurnal mereka.

“Tidak, Sung Hyuk. Gadis itu tidak sepenuhnya bahagia. Karena kamu tidak ada di sisinya…”

THE END

14 thoughts on “[FF] Use Your Heart

  1. vidiaf says:

    sunbaeee ficnya sedih banget ;~;
    Sung hyuk terlalu baik /nangis
    Endingnya di luar dugaan, alurnya juga beda dari ff yang biasa😀

  2. amitokugawa says:

    aww..
    angst yg tidak biasa
    walaupun udah ketebak kalau sunghyuk yang bakal ngedonorin korneanya buat jieun, tapi endingnya beda

    keren!

  3. dorky Mint says:

    HUWAAAAA! #kejer #capskepencetmochigege
    sedih banget, dikira sung hyuk bakal nyapa ji eun, tapi ternyata…😦

    ff-nya keren, feel-nya dapet banget.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s