[FF] Special Police PART 3

Testing

V-RASE dan SJ sedang berkumpul di lapangan belakang rumah. Di sana tersedia lapangan luas untuk berolah raga. Raeki memain-mainkan bola basket di tangannya. Ia lalu melemparnya ke arah Yoonmin.

“One on one?” tantangnya.

“Tentu.” Yoonmin menangkap bola tersebut dan mulai bermain.

“Enak saja one on one! Ikut!” seru Hyukjae. Yang lain mengikuti jejaknya. Chaerin dan Sunghee berdiri di samping lapangan bersama Sungmin. Sunghee sedang meregangkan ototnya, Chaerin pun melakukan hal yang sama. Sungmin hanya duduk-duduk santai sambil memijat kakinya.

“Tidak ikut main?” tanya Sunghee.

“Aku tidak terlalu suka basket.” Sungmin mengangkat bahu. “Kau sendiri?” Dia mendongak.

“Aku lebih tertarik pada arena pacuan kuda di sana.” Sunghee menunjuk ke suatu tempat. “Dulu aku sering sekali mengendarai kuda. Tapi, sekarang sudah jarang. Aku ingin menungganginya lagi.” Sunghee tersenyum dan berlari ke tempat arena pacuan kuda. Chaerin hanya tersenyum dan duduk di sebelah Sungmin. Sungmin tersenyum menyapa.

“Jadi…apa kau sudah siap mengerjakan misi dari Leeteuk?” Chaerin membuka percakapan.

“Siap. Ya..meskipun aku tidak terlalu ahli dalam beberapa hal, aku siap.” Sungmin tersenyum.

“Benar-benar aneh. Memangnya tidak ada barang dagangan lain apa? Manusia pun ikut dijual! Menurutmu bagaimana asal mulanya?”

“Ehm…kurasa yang dimaksud dijual di situ adalah pekerja-pekerja seks komersial yang disewakan pada para lelaki. Meskipun tingkat kemiskinan negeri ini kecil, tapi masih ada saja orang-orang miskin yang kita tidak ketahui keberadaannya. Mungkin mereka ditawari oleh seseorang untuk menjadi PSK, mereka mau saja karena tidak punya uang. Analisisku seperti itu.” Chaerin mengangguk-angguk mendengar penjelasannya.

“Kurasa memang soal PSK kalau dibicarakannya di kelab-kelab malam.” Chaerin melirik jam tangannya. 10 menit telah berlalu. Mereka diberikan waktu 30 menit untuk berolah raga.

“Hey, kalian! 20 menit lagi kita harus kembali!” seru Chaerin.

“Oke!” balas Raeki. Kyuhyun berjalan ke sisi lapangan dan duduk di sebelah Sungmin. Napasnya tersengal-sengal. Keringat membanjiri tubuhnya. Sungmin tersenyum.

“Kyuhyun ini tidak boleh terlalu capek, nanti sakit.” Chaerin ber-oh ria.

“Aku tidak capek! Hanya ingin istirahat sejenak,” sangkal Kyuhyun.

“Namanya apa kalau bukan capek? Lihat nih, keringatmu banjir sekali.” Tanpa sadar, Sungmin membersihkan peluh Kyuhyun dengan handuk kecil yang dibawanya. Kyuhyun menepis tangannya.

“Oh, maaf. Aku tidak sengaja, hehe. Habis kamu mirip sekali dengan adik sepupuku, aku jadi memperlakukanmu seperti adikku.”

Setelah selesai berolah raga, anggota V-RASE dan SJ berkumpul di markas rahasia mereka yang terletak di bawah tanah. Di hadapan mereka terhampar sebuah peta yang besar. Donghae mengamati peta tersebut. Sunghee sedang menunjukkan lokasi kelab malamnya, tempat orang-orang sibuk membicarakan tentang perdagangan manusia tersebut.

“Jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor polisi, tapi kenapa masih ada kasus seperti itu?” kata Henry.

“Kasusnya memang tersembunyi. Kudengar, siapapun yang kedengaran sedang membicarakan tentang kasus itu, pulangnya ditodong oleh anak buah si oknum agar tidak membicarakan hal itu kepada siapapun. Makanya, aku tutup mulut. Untuk sekarang saja aku memberitahu kalian karena kita akan menyelesaikan misi ini,” ucap Sunghee.

“Jadi anak buahnya tersebar di berbagai tempat?” tanya Sungmin.

“Bisa dibilang begitu.” Sunghee melipat tangannya di depan dada. “Pengawalnya banyak.”

“Tapi, aku punya satu hal yang mengganjal di pikiran. Akan dijadikan apa gadis-gadis yang dijual itu?” Hyukjae membuka suara.

“Pekerja seks?” Chaerin berkata sambil melihat wajah-wajah disekelilingnya satu persatu.

“Atau mungkin menjadi budak?” Shindong memberikan opininya.

“Kurasa lebih tepat jika disebut pelayan, sekarang sudah bukan zamannya perbudakan,” kata Siwon.

“Oke, aku sudah memutuskannya. Bagaimana kalau salah seorang anggota tim SJ menyamar menjadi laki-laki yang hendak membeli gadis-gadis itu, sedangkan salah satu dari V-RASE berpura-pura menjadi gadis yang akan dijual? Dari situ kita bisa menelusuri siapa dalang di balik semua ini. Nah, setelah kita mengetahui siapa yang melakukannya, kita langsung menangkapnya. Setuju?” usul Donghae.

“Ya, itu bisa diterima. Tapi, siapa yang akan menyamar?” Yoonmin menatap Donghae. Donghae terdiam sejenak.

“Untuk gadis yang dijual, aku serahkan pada Sunghee. Laki-lakinya Kyuhyun.”

“Aku?” Kyuhyun tampak tidak terima.

“Kalau aku tempatkan Hyukjae, nanti dia malah keenakan.” Donghae menatap Hyukjae penuh arti. Yang ditatap hanya mendengus.

“Kenapa aku menarik kesimpulan kalau Kyuhyun tidak suka perempuan ya?” celetuk Raeki tiba-tiba. Kontan seisi ruangan riuh oleh tawa. Kecuali tawa Kyuhyun tentunya.

“Raeki-ssi, perlu kubuktikan kalau aku suka perempuan?” Kyuhyun menatap Raeki nakal. Wajah Raeki memerah. Dia cepat-cepat mengalihkan wajah.

“Jadi, bagaimana? Apa ada ide lain?”

“Boleh aku minta seseorang untuk mendampingiku nanti? Takutnya karena ketampananku, gadis-gadis itu malah menyerangku habis-habisan.”

“Oke, Shindong temani dia.” Shindong mengangguk. Kyuhyun tersenyum puas.

“Malam ini kita telusuri lokasi perdagangan itu. Berarti aku butuh satu orang sukarelawan lagi untuk menanyai lokasinya. Hyuk, giliranmu.” Donghae menunjuk Hyukjae.

“Oke!” Hyukjae mengacungkan jarinya.

“Henry, tunggu di depan kelab, jangan sampai terlihat dari luar mobil. Awasi keadaan sekitar, kalau-kalau ada tangan kanan si oknum.”

“Baik.” Henry mengangguk.

“Zhou Mi, kamu dan aku menunggu di mobil van yang berada agak jauh dari lokasi nanti. Kita akan memasang kamera tersembunyi pada Sunghee dan Kyuhyun, tugas kita adalah mengawasi dari balik layar. Dan sisanya, kalian menyamar menjadi orang biasa dan menyebar di sekitar lokasi. Beberapa di dalam kelab, beberapa orang lagi di luarnya, lalu yang lainnya di sekitar lokasi. Siwon, kau membawa beberapa mobil polisi yang diletakkan agak jauh dari lokasi, misalkan di dekat van. Sunghee dan Kyuhyun akan memberi kalian kode lewat radio dan kalian cepat memberi Siwon kode.” Donghae mengangguk puas setelah sibuk menjelaskan panjang lebar. Yang lainnya tidak terlihat menyangkal.

“Kalau sudah, sekarang kita cek peralatan untuk tempur nanti. Let’s go!”

Mereka pindah ke ruangan sebelah, tempat senjata dan peralatan lainnya disimpan. Zhou Mi mengecek fungsi radio, sedangkan Raeki mengecek fungsi senjata-senjata di sana. Kyuhyun mengambil dua buah kamera tersembunyi. Dua-duanya berukuran sangat kecil dan bentuknya seperti manik-manik.

“Sunghee-ssi, pakai kamera ini di pita lehermu nanti,” kata Kyuhyun sambil menunjukkan kamera kecil tersebut.

“Hah? Pita leher?” Sunghee mengerutkan kening.

“Biar lebih mudah melihat wajah-wajah oknumnya. Kalau pakai kalung kan posisinya agak di bawah, paling hanya sebatas leher yang terlihat. Makanya kamu harus sebisa mungkin merekam wajah-wajah si oknum.”

“Ah, tapi kan mereka pasti lebih tinggi dariku. Bagaimana merekamnya?”

“Kalau begitu kau harus berada di atas si oknum.”

“MWORAGO?!” seru Sunghee. Kyuhyun mengerling nakal.

“Kenapa? Ini demi misi kita, Hee. Tidak usah macam-macam, yang penting wajahnya terlihat. Aku mau sebarkan gambarnya di internet, agar kejadian ini tidak terulang lagi.”

“Aish jinja..” Sunghee terduduk lemas di kursi. Yoonmin menertawakannya. Sunghee memberikan lirikan kesal pada Yoonmin.

“Yang sabar ya..” Chaerin menepuk-nepuk pundak Sunghee. Dengan kesal, Sunghee menepisnya.

Pukul 7 malam, mereka semua bersiap-siap untuk melaksanakan misinya. Sebuah mobil INFINITI hitam metalik dan van yang berwarna sama sudah siap. Radio dan kamera tersembunyi pun sudah terpasang. Mereka sudah menggunakan kostum masing-masing, sedangkan Sunghee masih sibuk di ruang ganti.

“Sunghee-ssi, sudah belum?” tanya Donghae gusar. Berkali-kali ia melirik jam tangannya.

“Tunggu! Ya Tuhan, baju ini benar-benar memalukan!” seru Sunghee dari dalam ruangan.

“Sudahlah, bagus kok! Ayo cepat keluar!” Suara Yoonmin terdengar.

“Aku malu!”

“Yang penting pakai baju, ayo cepat!” Terdengar suara Chaerin yang gusar. Pintu dibuka oleh Raeki dari luar ruangan. Sunghee melangkah keluar ruangan dengan mengenakan sebuah gaun malam yang pendeknya 20 cm di atas lutut dan tanpa lengan berwarna merah darah. Di lehernya terdapat sebuah pita leher berwarna senada yang dipasangi kamera tersembunyi. Sunghee menggunakan sepasang sepatu stiletto berwarna senada.

“Aku tahu ini memalukan, jangan tertawakan aku.” Sunghee salah tingkah.

“Ehm.” Hyukjae berdeham singkat dan cepat-cepat mengalihkan wajah. Donghae menganga. Tangannya terhenti di udara dengan posisi seperti saat dia melirik jam tangannya. Lelaki-lelaki lain yang berada di ruangan itu bereaksi kurang lebih sama.

“Well..yeah, sem-sempurna.” Donghae tergagap. Seketika hening tercipta. Donghae segera memecahkan keheningan itu.

“Baiklah, ayo berangkat.” Donghae bersama beberapa orang lain berjalan keluar.

“Ya ampun, dingin sekali!” Sunghee memeluk tubuhnya sendiri. Hyukjae melepaskan jaketnya dan menyampirkannya pada pundak Sunghee. Gadis itu mendongak menatap Hyukjae heran. Cowok berambut pirang itu hanya berjalan menjauh tanpa menatapnya. Bisa Sunghee lihat wajahnya yang memerah. Sunghee tersenyum.

“Dia pasti menyukaimu.” Raeki berbisik di telinga Sunghee.

“Apaan? Dia cuma meminjamkan jaketnya karena aku kedinginan. Itu saja.”

“Ya sudah lupakan.” Raeki mengibaskan tangannya.

Di luar, Leeteuk menunggu mereka dengan tenang.

“Kulihat persiapannya sudah matang.” Leeteuk mengangguk senang. “Tapi, hasilnya tergantung kalian. Selamat berjuang.”

“Baik!” koor semuanya.

“Ah, tunggu! Leeteuk-ssi, apa aku bisa melepaskan alat ini sekarang?” Sunghee menunjuk alat pelacak di kakinya. Leeteuk mengangguk. Ia lalu berlutut di depan Sunghee dan melepaskan alat tersebut. Ia menjatuhkan alatnya dan menembaknya dengan pistol. Semua orang yang ada di situ terkejut.

Leeteuk tersenyum sambil meletakkan pistolnya ke tempat semula.

“Terima kasih..”

“Sama-sama, Sunghee-ssi.”

= = =

Malam semakin larut namun kelab malam itu malah semakin ramai. Hyukjae memasuki kelab malam itu dan menajamkan pendengarannya. Beberapa kali Hyukjae menghindari gadis-gadis yang mendekatinya. Hyukjae berjalan ke sudut kelab, mencari orang-orang yang membicarakan tentang perdagangan manusia tersebut. Ia melirik ke suatu tempat dimana beberapa gadis dan dua orang pria sedang duduk sambil berbincang-bincang. Mereka semua berpakaian mahal. Untung saja Hyukjae sedang mengenakan pakaian semi formal, ia bisa bergaul dengan mereka. Hyukjae pikir orang-orang kayalah yang biasanya membeli gadis-gadis itu.

“Permisi, boleh bergabung dengan kalian?” Hyukjae tersenyum ramah. Mereka menatapnya, para gadis langsung mempersilahkan. Yang laki-laki tersenyum ramah.

“Silakan saja.” Salah seorang lelaki menunjuk tempat yang kosong. Hyukjae menduduki tempat tersebut. Gadis di sebelahnya langsung menempel padanya.

“Kau mau Vodka atau anggur merah?” tawar gadis itu sambil berbisik di telinga Hyukjae. Tangan gadis itu meraba dada Hyukjae.

“Ehm…aku sedang tidak niat minum-minum. Terima kasih.” Hyukjae menjauhkan telinganya dan menepis tangan gadis itu dengan lembut.

“Oh, man! Lalu kalau tidak minum untuk apa kesini?” tanya lelaki yang lain.

“Sebenarnya aku sedang mencari tempat penjualan gadis-gadis. Apa kalian tahu?”

“Jangan membicarakan hal ini di sini, kawan. Bagaimana kalau kita sewa sebuah kamar saja?” tanya lelaki yang pertama menyapanya.

“Aku tidak masalah.” Hyukjae mengangkat bahu. Gadis di sebelahnya sudah mabuk, dia bersandar ke pundak Hyukjae. Hyukjae mencium bau alkohol dari mulutnya, baunya membuat Hyukjae mual. Dari dulu dia memang anti alkohol dan rokok.

“Yo, Jay! Ada kamar kosong, tidak?” seru cowok itu pada seorang pelayan yang lewat.

“Ada, ada. Satu kamar itu pasti disisakan untukmu, Micky. Yunho, kau juga pesan kamar?”

“Tidak, tidak. Malam ini aku hanya berniat minum-minum.” Yunho mengangkat gelas anggur merahnya. Jay mengangguk-angguk.

“Micky, ini kuncinya.” Jay melemparkan sebuah kunci ke arah Micky. Micky menangkapnya dan beranjak berdiri. Ia lalu menatap gadis yang menyandarkan kepalanya ke pundak Hyukjae. Hyukjae menatap Micky, meminta pertolongan.

“Aish..gadis ini. Sudah diberi tahu jangan minum banyak-banyak.” Micky menarik lengan gadis itu dan membopongnya. Hyukjae beranjak berdiri dan mempersilakan Micky keluar terlebih dahulu. Micky berjalan mendahuluinya. Hyukjae mengikuti sambil sesekali melihat sekeliling. Banyak sekali pasangan-pasangan yang asyik bercumbu, asyik meminum minuman keras, dan juga menari. Hyukjae menggeleng-gelengkan kepalanya.

Mereka sampai di sebuah kamar yang luas. Micky menjatuhkan tubuh gadis itu ke atas tempat tidur. Gadis itu menggeliat tanpa sadar.

“Hah, selalu seperti ini.” Micky menghela napas. Ia lalu berjalan menghampiri Hyukjae yang masih berdiri mematung di sana.

“Aku tahu lokasinya, kawan. Jenny juga aku beli dari sana.” Micky mengedikkan kepalanya ke arah gadis yang mabuk berat itu. Hyukjae meliriknya sekilas sebelum menatap Micky kembali.

“Aku tuliskan alamatnya saja.” Micky menyobek secarik kertas dari buku yang tergeletak di atas meja. Ia mengambil pulpen dari sakunya dan menuliskan alamatnya. Ia lalu memberikan potongan kertas itu pada Hyukjae.

“Aku sarankan kau pilih yang umurnya masih 17 tahun.” Micky mengedipkan sebelah mata. Hyukjae tersenyum dan memasukkan kertasnya ke dalam saku.

“Terima kasih banyak, kawan.”

“Ya, tidak masalah.” Micky tersenyum.

= = =

Hyukjae menghampiri mobil INFINITI hitam yang diparkir di seberang kelab. Ia membuka pintu penumpang dan memasuki mobil tersebut. Henry menyambutnya dengan tatapan antusias.

“Dapat?” tanyanya. Hyukjae tersenyum dan mengambil kertas dari sakunya. Henry nyengir.

“Siiiip!” Henry mengacungkan ibu jarinya. Hyukjae menyalakan radio yang dipasang di mobil.

“Donghae-ssi?”

“Ya? Bagaimana? Dapat?”

“Dapat. Alamatnya ada di….” Hyukjae menyebutkan lokasi perdagangan manusia tersebut.

“Oke, terima kasih. Sungmin, Chaerin, cepat pindah ke lokasi. Ikuti mobil Henry.”

Sungmin yang menyamar sebagai berandalan pun menghampiri mobilnya yang diparkir 20 m dari kelab. Sementara Chaerin yang menyamar sebagai anggota geng menghampiri motornya dan mengendarainya mengikuti mobil INFINITI hitam metalik tersebut.

= = =

“Sunghee-ssi, kamu masuk terlebih dahulu. Bilang mau bertemu dengan Mr. Kim. Dia oknumnya.” Donghae melihat kertas catatannya.

Sunghee menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Baik, aku siap.”

“Hati-hati.”

Sunghee keluar dari van dan berjalan mendekati sebuah gedung yang ramai. Banyak laki-laki berjas dan perempuan-perempuan berbaju minim di sana. Dari luar, gedung ini tampak seperti hotel. Sunghee memasuki pintu utama dan menghampiri meja resepsionis. Resepsionis laki-laki yang ada di sana menatap Sunghee dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sunghee menopangkan dagunya dengan tangan kanan di atas meja. Sebisa mungkin ia merekam wajah si resepsionis.

“Ada perlu apa ke mari, gadis cantik?” sapa si resepsionis.

“Well, aku sedang butuh uang untuk membayar hutang-hutangku. Seorang temanku yang bekerja di sini merekomendasikan tempat ini. Bisa aku bergabung?”

“Oh, tentu! Masih ada lowongan di sini. Tapi, kamu harus menemui bos dulu. Mari kuantar.” Resepsionis itu keluar dari mejanya dan meraih pinggang Sunghee. Gadis itu menggerutu dalam hati, namun dia hanya bisa menurut.

Sunghee melirik nametag si resepsionis.

“Jonghyun-ssi?” Sunghee menyebutkan nama si resepsionis. Jonghyun menoleh.

“Ya, Sayang?”

“Nama yang bagus.” Sunghee tersenyum.

Such a sweet girl.” Jonghyun mengelus dagu Sunghee sekilas sebelum membuka pintu ruangan bos. Seorang lelaki tampan yang tampaknya masih muda menatap mereka tanpa ekspresi. Jonghyun tersenyum dan membungkuk sopan.

“Bos, aku membawa orang baru.”

“Aku tahu.” Cowok itu memajukan posisi duduknya. “Hai, namaku Kim Jaejoong, namamu?”

“Han Kyuna.” Sunghee sengaja menyamarkan namanya. Sebelumnya Sunghee sudah memberitahu Kyuhyun nama apa yang akan dipakainya. Jaejoong tersenyum. Dia beranjak berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiri Sunghee.

“Kyuna..nama yang unik, tapi manis.” Jaejoong menyentuh dagu Sunghee dan menengadahkan kepala gadis itu. Perlakuan yang tepat, karena wajahnya bisa terekam.

“Kau pernah melakukan pekerjaan ini sebelumnya?” tanya Jaejoong. Sunghee menggeleng.

“Kalau begitu…” Jaejooong tersenyum penuh arti. Sunghee menelan ludahnya takut. “Aku harus mencobamu terlebih dahulu.” Jaejoong menarik Sunghee ke sebuah pintu kamar. Keringat dingin mengaliri kening Sunghee.

Di mobil INFINITI hitam, percakapan tersebut terdengar jelas.

“MWORAGO?!” seru Hyukjae. Henry sampai terkejut dan nyaris oleng.

“Yah! Jangan teriak-teriak!” teriak Henry.

“Kamu sendiri teriak.” Hyukjae mendengus.

“Donghae-yah, apa yang harus kita lakukan? Kau mau membiarkan Sunghee menjadi korban?”

“Tenang, Hyuk. Kyuhyun sudah masuk ke lokasi. Yesung dan Shindong juga sudah masuk. Yesung akan menyamar sebagai pelayan di sana, sementara Shindong akan membebaskan gadis-gadis yang diculik.”

“Baiklah, lakukan semaumu.” Hyukjae menyandarkan punggungnya ke sandaran jok. Henry meliriknya. Dia lalu tersenyum penuh arti. Hyukjae menatapnya sadis.

“Apa?”

“Tidak.” Henry pura-pura serius menyetir.

Di mobil van, Donghae dan Zhou Mi sedang serius memperhatikan layar laptop yang menampilkan hasil rekaman Sunghee dan Kyuhyun. Di sana terlihat Kyuhyun dan Shindong baru memasuki lokasi. Sedangkan dari kamera Sunghee terlihat sebuah kamar yang bernuansa klasik.

“Not good, not good.” Zhou Mi menggeleng-gelengkan kepalanya.

= = =

Kyuhyun dan Shindong menghampiri meja resepsionis. Jonghyun sudah berada di sana. Dia menilai penampilan Kyuhyun dan Shindong. Dua cowok itu berpura-pura asyik melihat-lihat gadis-gadis seksi yang berseliweran di sekeliling mereka. Jonghyun paham tujuan mereka datang kemari.

“Ada yang baru tidak?” tanya Kyuhyun langsung.

“Barusan ada yang mendaftar. Namanya Han Kyuna.”

“Bagaimana orangnya?”

“Cantik. Rambutnya bergelombang berwarna hitam. Dia pakai baju merah. Kau pasti akan puas!” Jonghyun mengacungkan ibu jarinya.

“Benarkah? Baik, aku mau dia,” kata Kyuhyun.

“Maaf, kawan. Bos sedang mengetesnya dulu.”

“Aku bayar dua kali lipat.” Kyuhyun melemparkan dua gepok uang ke atas meja.

“Ini masih kurang. Bos langsung memilihnya begitu melihatnya, jadi harganya mahal.”

“Baik, baik, sekaya apapun bosmu pasti tidak lebih kaya dariku.” Kyuhyun mletakkan tiga gepok uang ke atas meja. Jonghyun menelan ludahnya melihat uang berpecahan paling tinggi yang bertumpuk-tumpuk di sana.

“Kau bahkan belum melihat Kyuna. Ya ampun, S-line-nya..” Jonghyun bersiul sambil membentuk siluet tubuh wanita dengan tangannya. Kyuhyun tersenyum dan meletakkan satu gepok uang lagi. Jonghyun menyeringai.

“Mata cokelatnya membuat siapapun tenggelam! Oh, dan lehernya yang jenjang..dihiasi pita leher berwarna merah darah..”

“Yah! Memangnya segini masih kurang, hah?” Kyuhyun mulai geram. Jonghyun terkekeh.

“Baiklah, Tuan. Terima kasih banyak. Temanmu juga mau, tidak?” Jonghyun mengambil tumpukan uang di meja dan mengedikkan kepalanya ke arah Shindong yang sedari tadi memainkan ponselnya, tentu saja mengirimi kabar pada Donghae.

“Tidak, aku menunggu saja.” Shindong menoleh dan tersenyum. “Punya minum?”

“Tentu.” Jonghyun meletakkan gelas di atas meja dan menuangkan wine ke dalamnya.

“Terima kasih.”

“Kalau begitu, ayo kita ke ruangan bos, Tuan.” Jonghyun tersenyum. Kyuhyun mengikutinya setelah melirik Shindong penuh arti.

Sementara itu, di bagian belakang gedung, Yesung sedang mengendap-endap untuk mencuri seragam pelayan. Ia melirik ke dalam ruangan dapur. Di sana pelayan-pelayan terlihat sedang beristirahat setelah lama bertugas. Yesung mengeluarkan pistolnya. Pelurunya hanya diisi oleh peluru yang membius selama 3 jam.

Yesung mendobrak pintu. Orang-orang di dalamnya terkejut dan sontak mengangkat tangan ketika melihat Yesung bersenjata. Yesung menatap seorang pelayan yang tubuhnya seukuran dengannya.

“Kamu, lepas bajumu.”

“Ne?!” Pelayan itu terkejut.

“Cepat lakukan!” Tanpa bicara apapun lagi, pelayan itu melepaskan bajunya. Teman-temannya yang terdiri dari 3 orang menatapnya ngeri.

Yesung mengambil bajunya dan menembaknya dengan peluru pembius buatan Raeki. Tiga pelayan yang tidak terima pun menyerang Yesung. Mereka terlibat perang satu lawan tiga. Yesung menjegal kaki pelayan yang menyerangnya dan cepat menembakkan pelurunya. Pelayan itu pun tak sadarkan diri. Dalam waktu yang singkat, Yesung membuat dua orang lainnya tak sadarkan diri. Yesung meletakkan pistolnya di tempat semula dan menepuk-nepukkan tangannya seperti sedang membersihkannya dari remah. Yesung mengganti bajunya dengan baju pelayan itu dan hendak berjalan keluar ketika intercom di sana berbunyi.

“Pelayan, bawakan anggur merah ke ruanganku.” Itu suara Kim Jaejoong. Yesung mengambilkan pesanannya dan berjalan keluar. Dia tidak tahu dimana ruangan bos itu. Kebetulan seorang pelayan berjalan ke arahnya.

“Maaf, aku baru di sini. Ruangan bos ada dimana?” tanya Yesung.

“Di lantai dua, ruangan paling kiri.”

“Baik, terima kasih.” Yesung tersenyum dan melangkah pergi. Ia melewati Shindong yang memberinya kode. Yesung mengangkat alis. Shindong pun berjalan keluar gedung.

= = =

“Tuan, kamu tidak akan menyesal telah memilih Kyuna. Meskipun baru, kurasa dia sudah professional.” Jonghyun terus berceloteh. Kyuhyun hanya mengangguk-angguk. Dalam hati ia merasa kasihan pada Sunghee.

“Ruangannya dimana?” tanya Kyuhyun.

“Dari sini tinggal lurus saja. Ruangan paling kiri.”

“Oke.” Kyuhyun menembakkan pistol berisi pembiusnya pada Jonghyun. Jonghyun pun langsung terjatuh tak sadarkan diri. Kyuhyun berlutut di sampingnya dan menyatukan kedua pergelangan tangan Jonghyun dengan borgol.

“Terima kasih, kawan.” Kyuhyun menepuk pundak Jonghyun dan berjalan menuju ruangan Jaejoong.

Saat Kyuhyun sampai di depan pintu, Yesung sudah ada di sana dengan nampan di tangan.

“Aku masuk dulu, lalu kau ikut di belakangku,” bisik Yesung. Kyuhyun mengangguk paham. Yesung mengetuk pintu.

“Masuk!” seru Jaejoong. Yesung menatap Kyuhyun sekilas dan membuka pintu. Kyuhyun mengikuti di belakangnya.

“Bos? Ini wine-nya.”

“Bawa ke kamarku.”

“Baik.” Yesung mengedikkan kepalanya ke arah pintu. Kyuhyun mengangguk. Yesung mengetuk pintu kamar dan membukanya. Kyuhyun menyandar ke dinding.

Yesung menelan ludahnya. Ia melihat Sunghee sedang duduk di pangkuan Jaejoong. Semua kancing kemeja cowok itu terbuka, memperlihatkan six-pack­nya. Sunghee menoleh pada Yesung, ia menatapnya dengan tatapan meminta pertolongan. Yesung tersenyum pasrah.

“Sedang apa kau? Cepat bawa kemari!” perintah Jaejoong. Yesung langsung melangkah ke meja di dekat tempat tidur.

Jaejoong menyentuh dagu Sunghee dan menyuruh gadis itu menatapnya. Tangannya lalu pindah ke pundak Sunghee, turun menelusuri lengan Sunghee. Jaejoong menarik Sunghee ke bawah, menukar posisinya. Sekarang Jaejoong berada di atas tubuh Sunghee. Gadis itu terkejut. Yesung tak kalah terkejut. Pasalnya, ia sedang mencoba menempelkan alat pelacak di ponsel Jaejoong yang tergeletak di meja. Namun karena posisi Jaejoong menghadapnya, ia bisa ketahuan. Yesung melirik Sunghee penuh arti. Sunghee meliriknya sekilas dan mengerti. Sunghee lalu menarik kerah kemeja Jaejoong dan mencium bibir cowok itu. Yesung cepat-cepat memasangkan alat pelacak di ponsel cowok itu.

Maafkan aku, Sunghee, batinnya.

Sementara itu, di dalam mobil van hitam, Donghae, Zhou Mi, Henry, dan Hyukjae terperangah.

“A-apa ini? Kenapa gambarnya jadi begini?” Henry membelalakkan matanya.

“Kim Jaejoong!” geram Hyukjae marah.

“I-ini..” Zhou Mi bergidik.

Layar laptop mereka menunjukkan gambar leher Jaejoong. Suara-suara yang terdengar juga suara yang tidak mengenakkan. Kuping Hyukjae sampai gatal mendengarnya.

“Cepat hentikan, Donghae-yah!” seru Hyukjae.

“T-tunggu dulu! Jangan teriak-teriak! Nanti bisa kedengaran!” Donghae berbisik.

“Aish jinja!” gerutu Hyukjae.

= = =

“Cepat hentikan, Donghae-yah!” Jaejoong mengerutkan kening. Rasanya ia mendengar sesuatu.

“Kenapa?” tanya Sunghee.

“Kau mendengar sesuatu?”

“Tidak.”

“Mungkin aku berhalusinasi. Karena kebanyakan minum?” Jaejoong tersenyum dan kembali melumat bibir Sunghee. Yesung yang melihat Sunghee diperlakukan seperti itu jadi tidak tega.

“Ehm..bos, maaf mengganggu, tapi ada seseorang yang memesan Kyuna.” Yesung memotong aktifitas mereka. Jaejoong melepaskan ciumannya dan mendongak menatap Yesung.

“Tapi aku belum selesai.”

“Aku yang akan menyelesaikannya.” Kyuhyun menyandar di ambang pintu. Dia tersenyum setengah.

= = =

Yoonmin dan Raeki berjalan mengendap-endap ke sebuah bangunan yang ukurannya lebih kecil di banding gedung utama di halaman belakang. Shindong sudah sampai di sana terlebih dahulu. Tempat itu adalah tempat untuk menampung gadis-gadis yang baru diculik.

“Bagaimana keadaan yang diculik?” tanya Raeki.

“Aku tidak tahu. Aku baru saja sampai.”

“Kita harus mendobrak pintunya..” Yoonmin mengetuk pintu yang terbuat dari besi tersebut.

“Coba panggil anggota yang menganggur,” kata Raeki.

“Donghae-yah, ada yang menganggur? Kami butuh tenaga untuk mendobrak pintu besi. Letaknya di halaman belakang gedung.”

“Ada, aku akan mengirim Hyukjae dan Henry ke sana.”

“Baik.”

Tak lama kemudian, Hyukjae dan Henry tiba di lokasi. Mereka membawa dua buah gergaji listrik. Raeki bersiul.

“Baiklah, mochi, let’s go!”  Hyukjae menyalakan gergaji listrik. Henry melakukan hal yang sama. Mereka membuat sebuah pola yang bisa dimasuki oleh mereka semua. Sentuhan terakhir, Shindong menendang pintu itu hingga rubuh. Yoonmin dan Raeki langsung berlari ke dalam dan mengamankan mereka.

“Siwon-ah, kirimkan polisinya sekarang!”

= = =

Siwon, Sungmin, dan Chaerin sedang mengatur strategi penyerangan ketika suara Shindong terdengar dari radio.

“Oke!” balas Siwon. “Sungmin Hyung, Chaerin-ssi, bersiap ke posisi!”

“Baik!” Chaerin yang beru saja mengganti peluru pistolnya dengan peluru asli mengangguk paham dan berlari menuju motornya. Sungmin menekan tombol di tongkatnya dan tongkat itu pun memendek. Sungmin langsung menaiki mobilnya. Siwon duduk di sebelahnya. 15 unit mobil polisi serta mereka bertiga pun berangkat menuju lokasi.

= = =

“Siapa kamu?” Jaejoong menatap Kyuhyun geram. Kyuhyun tersenyum setengah.

“Aku? Hanya orang kaya yang memesan Kyuna. Aku sudah bayar berkali-kali lipat. Jadi, hentikan kegiatanmu dan biarkan aku yang menyelesaikannya.”

“Kamu pikir aku mau melakukannya?” Jaejoong mulai marah. Sunghee mengambil ponsel di atas meja dan memasukkannya ke saku celana Jaejoong. Cowok itu menoleh pada Sunghee. Sunghee tersenyum.

“Lihat, Kyuna sedang asyik bermain denganku jadi, keluar kau.”

“Kamu menolak uang jutaan yang aku berikan?” Kyuhyun mengangkat alis. “Aku tidak tanggung kalau kamu bangkrut.”

“Apa maksudmu? Aku masih punya banyak uang!”

“Ya..tapi uang itu akan habis.” Kyuhyun menarik tangan Sunghee, membantunya bangkit. Jaejoong menepis tangannya. Kyuhyun menatapnya malas.

“Sebaiknya kamu terima uangnya dan aku ambil Kyuna. Kamu tidak akan menyesal, aku jamin.”

Jaejoong mengepalkan tangannya marah. Ia melompat turun dan menyerang Kyuhyun. Kyuhyun cepat menghindar. Sementara Jaejoong disibukkan dengan Kyuhyun, Yesung membantu Sunghee berdiri dan membawanya keluar dari kamar.

Suara sirene terdengar samar-samar. Kyuhyun tersenyum.

“Katakan selamat datang pada penjara!”

“Tidak akan!” Jaejoong mendorong tubuh Kyuhyun keluar jendela. Kyuhyun terkejut. Ia segera menggapai tepi jendela dengan kedua tangannya. Jaejoong menginjak kakinya.

“Pergilah.” Jaejoong menggeser tangan Kyuhyun.  Kyuhyun yang kesakitan akhirnya melepaskan tangannya. Tubuhnya terjatuh menghantam tanah. Jaejoong melompat turun. Ia mendarat dengan sempurna dan bergegas kabur. Kyuhyun merintih kesakitan. Rasanya tulang belulangnya hancur semua.

Polisi-polisi berdatangan. Mereka langsung mengepung gedung tersebut. Beberapa polisi mengevakuasi korban penculikan. Yang lain menangkap bawahan Kim Jaejoong.

Donghae turun dari mobil dan berlari menghampiri Siwon.

“Kim Jaejoong kabur!” serunya.

“Kalian, ikuti kami berpencar mencari Jaejoong!” tunjuk Siwon pada enam orang polisi. Mereka mengangguk dan masuk ke tiga unit mobil polisi. Mobil itu pun beranjak dari tempatnya mengikuti mobil Ferrari merah dan motor Harley Davidson hitam.

Tak lama kemudian, Yesung dan Sunghee muncul. Mereka mengatur napasnya yang tersengal-sengal karena berlari. Donghae menyambut mereka.

“Terima kasih. Sunghee, terima kasih banyak.”

“Ya..sama-sama..” Sunghee tersengal. “Tapi…aku tidak mau melakukannya lagi!”

“Baiklah.” Donghae tersenyum dan menepuk pundak Sunghee. Yesung melepaskan jas pelayannya dan memakaikannya pada Sunghee.

“Nah, ini lebih baik.” Yesung mengangguk mantap. Sunghee tersenyum berterima kasih.

Korban-korban penculikan mulai berdatangan dari dalam gedung. Shindong, Hyukjae, Henry, Raeki, dan Yoonmin tersenyum senang.

“Semua korban selamat!” Shindong mengacungkan dua ibu jarinya. Donghae mengangguk puas.

“Tunggu dulu, Kyuhyun mana?” tanya Raeki melihat Kyuhyun tidak ada di sana.

“Terakhir aku meninggalkannya di ruangan bos. Kukira dia bersama kalian.” Yesung mengerutkan kening. Raeki tertegun. Dia berbalik dan berlari memasuki gedung. Tanpa memperdulikan teriakan teman-temannya.

Raeki melihat sekeliling dengan cepat. Ia berlari ke halaman belakang, mungkin saja Kyuhyun ada di sana. Instingnya mengatakan Kyuhyun ada di sana. Dan ternyata benar. Cowok itu sedang berusaha berdiri. Raeki terkejut dan langsung menghampirinya.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Raeki khawatir.

“Ya…aku..baik-baik saja..akh!” Kyuhyun merintih kesakitan. “Pundakku rasanya mau patah..”

“Tunggu, aku akan mendapatkan bantuan.” Raeki berlari mencari pertolongan. Kebetulan ada seorang polisi di sana dekat bangunan tempat korban penculikan.

“Ada yang terluka di sana, tolong bawakan tandu!” Polisi itu mengangguk dan bergegas mengambilkan tandu.

“Kyuhyun-ssi, tenang saja. Kau pasti akan baik-baik saja. Donghae sudah mempersiapkan hal ini sebaik mungkin, sudah ada ambulans yang tersedia. Kau pasti baik-baik saja..” Raeki berlutut di samping Kyuhyun yang merintih kesakitan. Raeki terlihat tidak tega melihatnya. Ia mengusap peluh di kening Kyuhyun.

“Nona, ini tandunya!” Dua orang petugas medis datang sambil membawa sebuah tandu. Kyuhyun pun dibawa ke ambulans dengan menggunakan tandu tersebut. Raeki mengikuti di sebelahnya.

Anggota V-RASE dan SJ lain yang melihatnya terkejut.

“Kyuhyun kenapa?” tanya Sunghee khawatir. Raeki hanya menggeleng dan mengikuti Kyuhyun masuk ke ambulans. Donghae tiba-tiba merasa bersalah. Dia yang menempatkan Kyuhyun pada posisi itu, mungkin sebaiknya malah Hyukjae. Setidaknya fisik Hyukjae lebih kuat dibanding Kyuhyun.

“Donghae-yah, Jaejoong tidak ditemukan dimanapun.” Suara Siwon terdengar dari radio. Donghae menghela napas.

“Sepertinya kita gagal.” Donghae menyandar pada van. Zhou Mi keluar dari mobil dan menatap Donghae. Ia lalu menatap anggota yang lain. Ekspresi sedih dan putus asa terlihat jelas di sana.

“Tidak apa-apa jika kita gagal, yang penting kita sudah berusaha.” Zhou Mi meremas pundak Donghae, memberikannya ketegaran.

“Aku salah. Seharusnya bukan Kyuhyun yang aku letakkan di posisi ini. Seharusnya aku saja. Biar aku yang terluka. Aku gagal.” Donghae berlutut. Zhou Mi berdecak dan menarik Donghae berdiri.

“Jangan melankolis! Sudahlah, lagipula korban penculikan selamat dan tempat ini sudah diamankan. Jaejoong sudah tidak bisa berbuat apa-apa.”

“Ya, benar. Setidaknya kita sudah berhasil menyelamatkan korbannya.” Hyukjae tersenyum. Donghae menatap teman-temannya. Ia menarik napas dalam lalu tersenyum.

“Ya, setidaknya kita tidak gagal total.”

Sebuah mobil limosin hitam berhenti di depan mereka. Pintu terbuka dan Leeteuk keluar dari sana. Ia tersenyum, atau memang senyumnya tak pernah hilang, pada mereka.

“Selamat malam. Aku sudah melihat kerja keras kalian. Kalian bekerja dengan baik.” Leeteuk mengampiri bawahan-bawahannya. Ia menatap wajah-wajah di sana satu persatu.

“Meskipun Kim Jaejoong melarikan diri, kalian tetap saya nyatakan berhasil. SJ, mulai saat ini kalian adalah anggota kepolisian kami. Dan untuk V-RASE, terima kasih bantuannya.”

“Nah, kalian sekarang bisa fokus pada kasus pengeboman kator pemerintahan. Semoga berhasil. Sampaikan salamku pada lima orang yang absen di sini.” Leeteuk melambai dan berlalu pergi dengan limosinnya.

“Apa-apaan dia?” gumam Yoonmin.

“Entahlah.” Sunghee menggeleng.

Suara gerungan motor dan mobil terdengar di kejauhan. Sebuah mobil Ferrari dan motor Harley Davidson berhenti di dekat mereka. Chaerin melepaskan helmnya dan mendengus.

“Jaejoong kabur secepat kilat! Tiba-tiba menghilang begitu saja.”

“Tapi polisi-polisi lain masih mengejarnya. Semoga saja tertangkap,” kata Sungmin.

“Oh ya, Kyuhyun bagaimana? Ayo kita jenguk dia.”

= = =

Kyuhyun langsung ditangani dokter. Raeki ikut menanganinya. Tulang punggung Kyuhyun tidak apa-apa, hanya pundaknya yang sedikit retak karena menghantam tanah.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Raeki.

“Lumayan.” Kyuhyun menatap pundaknya. “Tidak sesakit tadi.”

“Baguslah. Untuk sementara kamu istirahat di sini dulu sampai kamu diperbolehkan pulang. Mau minum?”

“Boleh.” Raeki menuangkan air mineral ke dalam gelas dan membantu Kyuhyun meminumnya. Tangan kanannya untuk sementara tidak boleh digunakan.

“Terima kasih.”

“Ya, sama-sama. Kita kan teman.” Raeki tersenyum manis.

Tiba-tiba radio yang dipasangi di kerah kemeja Kyuhyun dan Raeki berbunyi.

“V-RASE, SJ, tes kalian dinyatakan berhasil. Misi selanjutnya adalah mencari tersangka pengeboman presiden kita. Besok saya akan memperkenalkan dua orang yang akan menemani kalian selama menjalani tugas ini. Selamat malam.”

“Leeteuk rupanya.” Kyuhyun mendengus. Raeki terkekeh.

“Kamu kira siapa?”

“Siapa kek, asal jangan si tua itu.”

“Hush, kamu ini! Dia masih muda kok dibilang tua?”

“Biarin. Aku tidak suka tingkahnya yang tiba-tiba muncul dan tiba-tiba menghilang seenaknya.” Kyuhyun cemberut. Raeki tertawa.

= = =

“Hankyung Hyung, ayo cepat!!” Seorang lelaki bertubuh kecil berseru tidak sabar. Lelaki yang menyetir di sebelahnya menggerutu.

“Sabar, Wookie-yah! Ini sudah kecepatan maksimum!”

“Pokoknya kita harus mendapatkan berita itu secepatnya! Jangan sampai keduluan wartawan lain!”

“Aku mengerti.”

To be continued

22 thoughts on “[FF] Special Police PART 3

  1. vidiaf says:

    oke… yang pertama yang mau aku tulis adalah….
    kenapa Micky terlibat sama hal yang begituaaaan??? ;AAA;
    ganyangka Sunghee bakalan ngelakuin hal senekat itu~
    seruu~ dikirain misi pertama langsung berhasil, tau-taunya ada gagalnya dulu.. suka ih~ jadi ada variasi hoho
    ditunggu next partnya sunbae~~

  2. dhila_アダチ says:

    aaah, kompleks…
    huwaaa….jeje mendadak jahat…haha…
    keren misinya..haha…

    btw, itu yang terakhir bikin penasaran banget…mengejar2 berita?
    lanjuuuuut =D

  3. Rabbitpuding says:

    ya, lanjutin dooong~ lagi seru.
    mau request : Yoonmin pake samurai
    aku lagicinta samurai gak tau kenapa *terbang

    berjuang annisa~ aku dukung ff mu ini denan segenap kelinci-kelinciku *what?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s