[FF] Special Police Part 2

Introducing

Siang itu, gedung markas utama kepolisian Korea Selatan terlihat berdiri dengan gagahnya. Orang-orang berbadan tegap dan berseragam tampak berlalu-lalang di sana. Kang Raeki menatap gedung itu dan menghela napas. Ia melihat ke arah lampu penyebrangan. Lampu yang tadinya menunjukkan warna merah berganti menjadi warna hijau, Raeki pun menyeberang. Di sebelahnya, seorang gadis berambut pendek sebahu berjalan dengan santai sambil mengunyah permen karet. Raeki melirik gadis itu sekilas sebelum memfokuskan pandangannya ke depan.

Ternyata mereka berdua sama-sama memasuki gedung kepolisian itu. Sesaat mereka terdiam dan berpandangan. Gadis berambut sebahu tampak menilai Kang Raeki dari ujung kepala hingga ujung kaki. Raeki menatapnya canggung.

“Kamu polisi di sini?” Raeki berusaha menyapa sambil tersenyum ramah. Gadis itu mengangkat bahu.

“Aku didatangi dua orang paman yang aneh. Mereka menawariku pekerjaan sebagai polisi spesial. Kau sendiri?”

“Aku juga!” Tanpa sadar, Raeki berseru. “Kenalkan, namaku Kang Raeki.”

“Aku Lee Yoonmin. Jadi kita satu tim, huh?” Yoonmin lanjut melangkah. Raeki mengikuti di sebelahnya. Mereka berjalan ke arah lobby utama.

“Sepertinya.” Mereka duduk di sofa yang tersedia di sana. Seorang gadis berambut pendek seleher sudah duduk dengan santai sambil membaca-baca majalah yang tersedia. Gadis itu menghela napas dan melemparkan majalahnya ke atas meja. Yoonmin dan Raeki meliriknya kaget.

“Aish…kenapa aku harus datang ke sini?” gerutunya.

“Kamu..direkrut jadi polisi spesial juga?” kata Raeki. Gadis itu menatap Raeki dan Yoonmin bergantian. Dia lalu mengangguk.

“Kalian?”

“Sama. Aku Kang Raeki, dia Lee Yoonmin.”

“Choi Chaerin.” Mereka berjabat tangan.

“Jadi, tinggal satu orang lagi ya?” kata Chaerin. Raeki dan Yoonmin mengangguk.

Pintu utama terbuka lebar. Seorang gadis berambut panjang sepunggung masuk. Gadis itu melihat sekeliling, seakan menilai dekorasi interior gedung ini. Raeki, Chaerin, dan Yoonmin menatap ke arahnya bersamaan. Gadis itu menatap ke arah mereka. Ia lalu menghampiri mereka.

Belum sempat gadis itu duduk di sofa yang kosong, Chaerin sudah menyapanya.

“Polisi spesial?”

“Ya.” Gadis itu terlihat agak terkejut sebelum akhirnya mendudukkan dirinya di sofa yang nyaman. Raeki tersenyum menyapa. Gadis itu membalas senyumnya. Ia lalu menatap Yoonmin yang asyik memakan permen karet sambil sesekali melirik ke arahnya.

“Sepertinya aku harus mengenalkan diri lagi. Namaku Kang Raeki, dia Lee Yoonmin, dan dia Choi Chaerin. Kami semua polisi spesial yang ditunjuk Park Jungsoo.”

“Yah…aku Lee Sunghee. Senang bertemu kalian.” Mereka berempat saling berjabat tangan dan tersenyum.

“Kemana paman itu?” ujar Sunghee. Raeki mengangkat bahu.

“Aku tidak tahu.”

“Yah…kita tunggu saja.” Chaerin mengubah posisi duduknya, mencari posisi yang nyaman. Untuk sekian lama mereka saling terdiam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka sama-sama ragu. Apakah ini keputusan yang terbaik atau tidak.

“Kenapa aku merasa seperti ditipu?” Sunghee berbisik pelan. Chaerin yang duduk di dekatnya bisa mendengarnya.

“Kenapa?” tanya Chaerin.

“Apa kalian pernah berpikir, ada mantan penjahat yang direkrut menjadi polisi?” Sunghee menatap tiga orang di depannya bergantian. Tiga orang itu berpandangan.

“Kau benar. Sebenarnya, aku agak ragu datang ke sini. Apa sebaiknya aku pulang saja?” ucap Yoonmin.

“Tapi…menyelesaikan misi sepertinya seru.” Raeki mengangguk-angguk sendiri.

“Entahlah. Aku sampai merelakan pekerjaanku untuk datang kemari. Seperti ada magnet yang menarikku ke sini.”

“Menarik kita,” ralat Raeki. “Aku sampai bolos kerja dan meninggalkan pasien-pasienku untuk datang kemari.”

“Jadi kau bekerja sebagai dokter?” tanya Sunghee. Raeki mengangguk.

“Aku bekerja sebagai kepala koki di The Coffeen. Kalian harus datang ke sana lain kali,” promosi Chaerin.

“Asalkan gratis,” canda Yoonmin. Mereka terkekeh.

“Bagaimana denganmu, Yoonmin?” tanya Chaerin.

“Aku baru saja menyelesaikan studiku di Jepang. Sekarang aku bekerja sebagai desainer.”

“Kau, Sunghee?” Giliran Raeki bertanya.

“Well, aku pemilik sebuah klub malam di pusat kota. Kadang aku juga menulis novel.”

“Dilihat dari pekerjaan kita, sepertinya tak ada yang spesial. Maksudku, untuk menjadi polisi,” kata Yoonmin. Tiga orang lainnya setuju. Seketika hening tercipta. Mereka terdiam lagi.

Suara langkah kaki memecahkan keheningan. Leeteuk berdiri di dekat mereka sambil tersenyum menyapa.

“Selamat siang, Ladies. Maaf membuat kalian menunggu. Jadi, kalian sudah memantapkan hati untuk bergabung bersama kami?” sapa Leeteuk.

Yoonmin mendengus, “Tidak, aku tidak akan ikut. Hah! Tentu saja aku ikut! Kalau tidak mana mungkin aku berada di sini?”

Sunghee tersenyum. “Well, ahjussi, apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Tolong panggil aku Leeteuk. Sekarang kalian akan diperkenalkan dengan calon-calon polisi. Ayo ikuti kami.” Leeteuk tersenyum dan berjalan lebih dulu. Empat gadis itu berpandangan sekilas dan beranjak mengikuti Leeteuk.

“Kuakui gedung ini cukup bagus,” komentar Yoonmin. Chaerin mengangguk setuju.

Leeteuk memasuki lift. Empat gadis itu mengikutinya. Leeteuk menekan tombol P3. Sunghee yang ada di sebelahnya meliriknya.

“Basement?” tanyanya. Leeteuk menoleh dan tersenyum sambil mengangguk.

“Kenapa basement?” Raeki penasaran.

“Karena calon-calon polisi itu ada di sana.”

“Apa mereka juga mantan penjahat?” Chaerin buka suara.

“Ya dan tidak. Ada yang baru mendaftar. Mereka semua harus dilatih dulu agar menjadi polisi yang hebat.”

“Dan tujuanmu mengenalkan mereka pada kami?” kata Yoonmin.

“Well, kita lihat nanti.” Leeteuk tersenyum penuh arti.

“Oh, jangan bilang…” Sunghee mendengus.

Pintu lift terbuka. Mereka disambut oleh udara yang cukup panas. Leeteuk berjalan mendahului empat orang itu. Mereka mengikuti Leeteuk seakan tak ada pilihan lain.

Leeteuk tersenyum menyapa beberapa orang yang kebetulan berpapasan dengannya. Orang-orang yang menyapa Leeteuk juga ikut menyapa empat orang itu. Seakan mereka sudah tahu kehadiran mereka di sana untuk apa.

Ah, pasti sudah tahu. Mana mungkin Leeteuk membuat keputusan seenak jidatnya sendiri.

Mereka sampai pada bagian basement yang sepi. Di sana sudah tersedia dua buah mobil mewah. Yang satu Bugatti Veyron hitam biru, dan satunya lagi Ferrari berwarna emas. Di dekat mobil-mobil itu berdiri 10 orang lelaki berbadan tegap. Satu diantaranya sudah mereka kenali, Kim Heechul. Sunghee menatap mobil-mobil itu gembira. Ia ingin sekali cepat-cepat mengendarainya.

“Oke, guys, selamat datang di markas utama kepolisian Korea Selatan. Sekarang aku akan memperkenalkan empat kawan baru kita. Mulai dari sini adalah Kang Raeki,” Leeteuk menepuk pundak Raeki, membuatnya maju selangkah, “dia adalah polisi spesial kita, ahli di bidang komputer. Pernah menerobos server CIA.”

“Hai! Senang bertemu kalian, semoga kita bisa menjadi teman yang baik.” Raeki membungkuk. Ia tersenyum ramah. Seorang laki-laki tinggi kurus berkulit putih menaikkan alisnya. Ia tampak tertarik dengan Raeki dan keahliannya.

“Sebelahnya adalah Choi Chaerin. Dia adalah mantan pembunuh bayaran, seorang sniper handal. Bisa menembak dengan jitu dari jarak yang sangat jauh.” Chaerin tersenyum menyapa 9 orang laki-laki di depannya.

“Yah…senang bertemu kalian.” Chaerin menyapa mereka sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

“Di sana ada Lee Yoonmin. Dia adalah mantan ketua gangster, ahli di bidang bela diri. Hati-hati kalau mau mendekatinya, salah-salah lehermu bisa patah.” Leeteuk terkekeh. Yoonmin meliriknya kesal. Dia lalu menatap ke arah calon polisi itu sambil tersenyum.

“Tidak apa-apa mendekatiku, asal jangan menyentuhku.” Yoonmin bersidekap.

“Yang di sana adalah Lee Sunghee.” Leeteuk menunjuk Sunghee yang asyik melihat-lihat mesin mobil Bugatty Veyron. Leeteuk tak kuasa menahan senyumnya. “Kalian pasti tahu sendiri, dia seorang driver handal. Sering mengikuti balapan liar, namun karena tertangkap, semua mobil hasil impor illegalnya disita.”

“Ya! Dan aku jadi tidak punya mobil!” Sunghee mendengus kesal. Ia lalu menutup kap mesin dan menghadap ke arah 9 lelaki itu. Sunghee tersenyum.

“Hai! Kuharap kita bisa bekerja sama!” Sunghee melangkah ke samping Yoonmin.

“Baik, empat gadis cantik ini sudah kukenalkan pada kalian. Giliran kalian mengenalkan diri. Mulai darimu.” Leeteuk menunjuk lelaki berambut pirang. Cowok itu maju dan tersenyum ramah.

“Namaku Lee Hyukjae, aku driver yang belum sehandal Nona Sunghee.”

“Hahaha..apa-apaan itu?” Sunghee terkekeh.

“Aku Cho Kyuhyun, ahli IT.” Kini giliran si cowok tinggi kurus berkulit putih. Raeki menatap Kyuhyun, sekilas mereka saling tatap.

“Kenalkan, namaku Lee Donghae. Aku seorang ahli strategi.” Cowok berambut hitam pendek itu tersenyum.

“Hah? Ahli strategi?” tanya Chaerin.

“Kalian tidak akan menyerang tanpa strategi, bukan? Donghae ini otak kalian. Jadi, perlakukan dia dengan baik.” Leeteuk menjelaskan. Chaerin mengangguk-angguk.

“Otak katanya..” Yoonmin berbisik pada Sunghee. Sunghee terkekeh.

“Selamat siang, aku Choi Siwon. Sniper yang masih belajar.” Lelaki yang berperawakan layaknya model tersenyum.

“Perkenalkan, namaku Lee Sungmin. Aku ahli bela diri.” Cowok bertubuh pendek itu tersenyum menyapa. Wajahnya tampak masih sangat muda. Yoonmin tidak percaya bahwa cowok imut di hadapannya ini pandai bela diri.

“Nama asliku Kim Jongwoon, tapi panggil aku Yesung. Aku seorang sniper. Tidak ahli, tapi juga tidak payah.” Yesung tersenyum. Empat polisi spesial itu terkekeh mendengarnya.

“Sebelahku namanya Shin Donghee, tapi panggil dia Shindong.” Yesung menunjuk cowok bertubuh gemuk namun tegap di sebelahnya.

“Yah! Biar aku mengenalkan diri sendiri!” Shindong protes. Tingkah mereka mengundang senyum orang-orang yang ada di sana.

“Oke, aku Shin Donghee, panggil aku Shindong. Aku ahli bela diri juga seperti Sungmin. Senang bertemu kalian.” Shindong membungkuk sedikit.

“Ehm..selamat siang, namaku Zhou Mi. Spesialis komputer.” Lelaki China yang bertubuh paling tinggi memperkenalkan diri.

“Hahaha spesialis! Kamu pikir dokter?” Raeki terkekeh.

“Menurutku lebih seperti tukang servis komputer.” Sunghee menahan tawanya. Chaerin dan Yoonmin terbahak.

“Setuju!” ucap mereka bersamaan.

“Aku magnae Henry Lau. Yang termuda, yang terkeren, dan yang tertampan. Driver yang masih perlu belajar.”

“Termuda? Punya SIM?” tanya Sunghee, tampangnya serius.

“Tentu saja!” Henry cemberut, merasa diremehkan oleh Sunghee.

“Memangnya yang termuda umur berapa?” Raeki bertanya.

“Aku 21.” Henry tersenyum bangga.

“Ah..lebih muda dariku.” Sunghee mengangguk-angguk.

“Baik, selanjutnya aku serahkan pada Heechul.” Leeteuk tersenyum dan mundur beberapa langkah.

“Oke. Hari ini, kita akan mempelajari beberapa atraksi menggunakan mobil-mobil ini. Kalian semua akan diajari oleh Sunghee.” Heechul membuka pelajaran hari itu.

“Kenapa harus di basement? Bisa di lapangan, kan?” Donghae menatap mobil-mobil mewah itu takut. Hyukjae tersenyum.

“Donghae ini paling payah dalam hal menyetir. Jika kau tidak mau mati muda, jangan naik mobil yang dikendarai Donghae.”

“Hyukjae, aku tidak separah itu.” Donghae menggeleng sedih. Yang lainnya tertawa.

“Berarti kau harus mendapatkan pelajaran ekstra.” Sunghee menepuk pundak Donghae sekilas. “Heechul-ssi, mobil-mobil ini untukku?”

“Bukan, Sunghee-ssi. Ini untuk latihan saja. Milikmu ada di rumah kalian.”

“Kita serumah?” Yoonmin menunjuk dirinya sendiri dan tiga orang di sebelahnya. Heechul mengangguk.

“Mwoya? Leeteuk bilang aku akan mendapatkan rumah khusus?” kata Chaerin.

“Tapi bukan berarti rumah pribadi, kan?” Leeteuk yang bersandar pada dinding basement tersenyum. Chaerin dan Yoonmin berpandangan.

“Tidak ada salahnya satu rumah, kok. Tidak untuk selamanya ini, kan?” Raeki mengangkat bahu.

“Well ya. Asal kita beda kamar.” Sunghee berkata sambil membuka pintu mobil Ferrari.

“Donghae-ssi, naik.” Sunghee mengedikkan kepalanya ke arah mobil tersebut. Donghae menelan ludah.

“Sudah cepat maju!” Kyuhyun mendorong punggung Donghae.

“Tidak mau! Bagaimana kalau mobilnya rusak? Nanti aku disuruh ganti. Aku kan bukan orang kaya.” Donghae mundur kembali.

“Ayolah.” Sunghee menarik tangannya. Donghae menolak, dia tetap berdiri di tempat. Sunghee mendengus.

“Heechul-ssi, kalau mobilnya rusak, Donghae harus menggantinya?” Sunghee menoleh pada Heechul. Cowok itu menggeleng. Sunghee tersenyum senang.

“Tuh, kan? Ayolah!” Donghae mulai pasrah ditarik Sunghee.

“Tapi gajinya akan dipotong selama 6 bulan.”

“Ha? Andwaeyo!” Donghae menarik tangannya kembali. Sunghee menghela napas dan melepaskan tangannya. Ia lalu berkacak pinggang.

“Hyukjae, kau saja!”

“Oke.” Hyukjae maju. “Mobil yang mana?”

“Coba pakai Bugatti. Lakukan drift,” perintah Sunghee. Hyukjae mengangguk dan menaiki mobil Bugatti hitam dengan hiasan biru. Hyukjae menyalakan mesin mobil berinterior biru itu. Sunghee tersenyum senang. Dia rindu sekali dengan raungan mobil mewah itu. Bugatti adalah mobil favoritnya.

Mobil itu melaju dengan kencang. Hyukjae melakukan drift di beberapa kelokan. Sunghee mengangguk senang. Hyukjae tampaknya sudah cukup mahir. Bugatti hitam itu mendekati Sunghee. Hyukjae membuka jendela mobilnya. Ia tersenyum.

“Bagaimana?”

“Bagus. Sekarang J-turn.”

“Ikut denganku, guru.” Ucapan Hyukjae membuat delapan cowok lainnya berseru.

“Jangan, Sunghee! Dia playboy!” seru Henry.

“Diam kau, mochi!” balas Hyukjae.

“Playboy atau tidak, aku ikut.” Sunghee mengedipkan sebelah mata dan berjalan ke arah pintu penumpang. Hyukjae menatap teman-temannya lalu mengedipkan sebelah mata. Teman-temannya terkekeh.

Hyukjae, dengan sedikit arahan dari Sunghee, pun berhasil melakukan J-turn dengan sempurna. Terlihat sekali senyum Sunghee yang menandakan dia sangat bahagia. Leeteuk yang menonton pun tersenyum.

Bugatti Veyron itu berhenti di depan orang-orang yang menunggu. Pintu mobilnya terbuka dan mereka turun dari mobil. Sunghee menyandar pada body mobil tersebut dan bersiap mengajarkan teknik-tekniknya.

“Pertama-tama, aku akan mengajarkan kalian teori dasar dulu, setelah itu satu persatu kalian praktek.”

“Oh, tidak..” gumam Donghae.

= = =

Pelajaran selanjutnya, giliran Chaerin yang memberikan pengarahan. Mereka semua dibawa ke sebuah lapangan tembak yang besar. Chaerin berdecak kagum. Hasrat menembaknya muncul kembali. Ia sudah tak sabar untuk menggenggam pistol lagi.

“Chaerin-ssi?” Heechul memanggilnya.

Chaerin menoleh, “Ne?”

“Tempatmu di sini.”

“Oh, oke!” Chaerin berseru semangat dan menghampiri Heechul. Ia mengambil alih pistol di tangannya dan mengambil sebuah pistol yang tergeletak di meja. Chaerin memutar pistol itu sekaligus menembakkan pelurunya ke arah papan berbentuk siluet manusia di depannya. Dua peluru meluncur sekaligus, satu mengenai jantung, satunya lagi mengenai ulu hati. Orang-orang yang melihatnya berdecak kagum. Chaerin tersenyum senang.

“Wow! Darimana kau belajar teknik itu?” Siwon menghampiri Chaerin. Matanya berbinar. Chaerin menoleh ke arahnya.

“Aku belajar sendiri.” Chaerin membidik leher papan itu, tembakannya pun tak meleset.

“Benar-benar…pantaslah kamu mantan pembunuh bayaran,” kata Kyuhyun.

“Apa kamu bisa menembak target dari puncak gedung ke lantai dasar?” tanya Yesung.

“Gampang. Aku pernah menembak seseorang di taman kota, sedangkan aku berada di puncak menara.”

Siwon dan Yesung kehilangan kata-kata. Begitupun dengan sepuluh orang lainnya.

“Aku kurang suka teori, jadi aku mau langsung ke praktek saja. Masing-masing pegang pistol kalian!” Perintah Chaerin diikuti oleh para calon polisi dan tiga orang polisi spesial lainnya. Mereka lalu menunggu arahan berikutnya dari Chaerin.

“Sekarang bidik papan itu, kenai leher, dada, dan perut. Konsentrasilah. Bayangkan papan itu hidup dan akan menyerang kalian jika kalian tidak menembak tepat pada sasaran.”

“Siap? One..two…FIRE!!” Suara tembakan menggelegar bersamaan. Chaerin tersenyum senang. Bahkan nyaris menyeringai. Ia sangat rindu suara-suara ini. Chaerin meraih teropong dan melihat hasil tembakannya. Seperti biasa, sempurna.

“Bagaimana hasilnya?” Chaerin menatap ke arah murid-muridnya. Tampak wajah-wajah takjub dan terkejut yang membuat senyum Chaerin semakin lebar.

“Tepat sasaran?”

“Iya. Mungkin karena kita membayangkan papan itu akan bergerak. Agak mengerikan, makanya aku langsung tembak,” kata Sungmin. Chaerin mengangguk.

“Aku yakin tidak semuanya tepat sasaran, itu karena kalian baru belajar. Dengan banyak latihan, kalian pasti bisa. Sekarang, akan aku ajarkan teknik-teknik menembak yang baik.”

= = =

Sambil bersantai, Raeki mengajak murid-muridnya untuk mempelajari tentang komputer dan tetek bengeknya. Ia juga membawa beberapa senjata hasil ciptaannya untuk diajarkan pada murid-muridnya bagaimana cara membuatnya.

“Sekarang aku hanya akan memberikan dasar-dasar cara membuat senjata saja. Di depan kalian ini sudah terdapat sebuah senapan. Agak berbeda karena senapannya mempunyai empat lubang, kan? Aku sengaja membuatnya seperti ini agar bisa dibongkar pasang. Lihat, ini bisa dilepas.” Raeki melepas salah satu moncong senapannya. Murid-muridnya ber-oh ria. Wajah-wajah penuh minat jelas terlihat di sana.

“Kalau dilepas bisa menjadi senjata kalian jika pelurunya habis. Bagaimana?”

“Keren!” koor murid-muridnya. Raeki terkekeh.

“Senjata apa saja yang pernah kamu ciptakan?” tanya Zhou Mi.

“Bazooka, pistol tanpa suara, senapan bongkar pasang, dan masih banyak lagi. Kalian harus mengunjungi gudangku kalau mau lihat senjata apa saja.” Raeki tersenyum. Ia lalu menatap laptopnya.

“Aku sudah membawakan kalian materi-materi dasar pembuatan senjata. Membuat senjata dari bahan-bahan alami pun sudah tersedia. Kalau-kalau kalian tersesat dan tidak punya senjata, mungkin ini bisa membantu.”

“Aku baru mendengar hal seperti ini. Ini hebat..” gumam Kyuhyun.

= = =

“Oke, hari sudah mulai malam dan sekarang kalian harus belajar bela diri. Berbahagialah!” Yoonmin tertawa. Murid-muridnya menghela napas.

“Kurasa aku tahu kenapa aku direkrut oleh Leeteuk. Kalian semua polisi, harus pandai bela diri. Jangan bergantung pada senjata saja! No offense, Chaerin-ssi.” Yoonmin melirik Chaerin. Yang dilirik hanya mengangguk.

“Maksudku adalah, kalau senjata kalian tiba-tiba kehabisan peluru, kalian tidak boleh lari begitu saja karena musuh kalian pegang senjata. Oh, no itu tidak boleh!” Yoonmin menggeleng-gelengkan kepala sambil menggerak-gerakkan jarinya.

“Yang jago bela diri…Sungmin dan Shindong ya? Coba kalian maju. Aku mau pakai kalian sebagai model.” Sungmin dan Shindong pun maju. Yoonmin mengangguk puas.

“Baiklah, sekarang aku akan mengajarkan teknik mencuri senjata lawan. Kedengarannya asyik ya.”

“Tapi mencuri kan dosa, Bu Guru,” celetuk Hyukjae.

“Diam!” Yoonmin menatap Hyukjae sadis. Hyukjae membungkuk sopan.

“Maafkan aku.”

“Perhatikan gerakanku.” Yoonmin menghadap pada Shindong. Shindong berpura-pura sedang memegang senjata. Yoonmin menjegal kaki Shindong hingga ia jatuh tertelungkup. Dengan gerakan kilat, Yoonmin mengambil alih senjata yang ceritanya berada di tangan Shindong dan menindih punggung cowok itu. Yoonmin berpura-pura sedang menodongkan senjata ke leher Shindong. Murid-muridnya bertepuk tangan. Yoonmin bangkit berdiri.

“Nah, gerakannya seperti itu. Sekarang kita coba.”

= = =

Malam mulai larut, latihan pun berhenti sampai situ. Setelah berganti baju, mereka menaiki dua buah mobil van dan kembali ke rumah khusus mereka, dengan arahan dari Heechul tentu saja.

Mereka tiba di sebuah rumah yang bisa dikatakan sangat besar. Di tanah berluaskan 6 hektar itu, terdapat dua buah bangunan. Yang satu rumah untuk empat polisi spesial, dan satunya lagi untuk calon polisi.

Dua buah mobil van memasuki gerbang dan berhenti di depan bangunan yang paling depan. Mereka semua turun dari van. Ekspresi takjub jelas terlihat dari wajah-wajah di sana.

“Ini rumah untuk para calon polisi. Di belakang rumah ini ada rumah untuk empat polisi spesial kita.”

“Apa namanya tidak bisa disingkat? Sepertinya nama ‘empat polisi spesial’ agak terlalu panjang,” kata Sunghee.

“Kalian akan diberi nama tim, tapi nanti. Pukul setengah 10 malam kumpul di ruang makan rumah ini. Leeteuk akan memberikan nama untuk tim kalian.” Heechul menjelaskan.

“Baiklah.”

“Sekarang para calon polisi silakan masuk dan merapikan barang kalian. Kami sudah membawa barang-barang kalian ke dalam. Untuk kalian gadis-gadis, mari saya antar ke rumah kalian.” Heechul membuka pintu van, mempersilakan orang yang dimaksud untuk naik terlebih dahulu. Setelah semuanya siap, Heechul pun mengendarai van-nya ke bagian belakang.

Sembilan orang lainnya masih terkagum-kagum dengan bangunan di depannya.

“Benar-benar hebat..” gumam Donghae.

“Aku curiga ada lapangan tembak dan lapangan-lapangan lainnya di bagian belakang. Bahkan mungkin lapangan pekerjaan pun ada.” Yesung berkata. Yang lain mengangguk setuju. Mereka memasuki rumah itu. Setelah semuanya menginjakkan kaki di ruang tamu, pintu besar di belakang mereka tertutup secara otomatis. Decak kagum memecahkan keheningan rumah tersebut.

“Siwonnie, apa rumahmu sebesar ini?” tanya Shindong pada Siwon yang notabene anak dari keluarga kaya.

“Tidak, tidak. Tidak sebesar ini.” Siwon menggeleng-geleng.

“Sungmin, rumahmu juga besar, kan?” tanya Hyukjae.

“Iya, tapi rumahku mungkin hanya setengahnya.”

“Kita ini polisi atau agen rahasia, sih?” celetuk Zhou Mi.

“Fasilitasnya seperti di film barat saja..” gumam Kyuhyun sambil mengutak-atik laptop yang diletakkan di sofa ruang TV.

“Kenapa ada laptop di situ?” Donghae yang penasaran menghampiri Kyuhyun. Henry ikut melihat ke arah layar laptop itu.

“Jauh-jauh, Hyung. Aku takut laptopnya rusak.” Kyuhyun berkata dengan santai sambil terus memainkan laptop itu.

“Jahat!” Donghae mengerucutkan bibirnya. Henry terkekeh.

“Aah..rupanya ini pengintai.” Kyuhyun tersenyum senang karena dia sudah mengetahui fungsi laptop tersebut.

“Ya..banyak kamera CCTV.” Zhou Mi melihat sekeliling. Di sudut-sudut ruangan diletakkan beberapa kamera CCTV.

“Hey, apa rumah yang di belakang juga punya kamera CCTV?” Hyukjae bertanya sambil tersenyum nakal.

“Aigoo..aku tahu apa maksudmu.” Yesung menepuk kepala Hyukjae.

“Ada. Aku sedang mengaksesnya.” Jemari Kyuhyun menari di atas tombol-tombol keyboard. Ia tak kuasa menahan cengirannya ketika berhasil mengakses kamera CCTV di rumah belakang.

“Oh, itu mereka!” Hyukjae berseru dengan semangat ketika melihat empat gadis itu berjalan-jalan di sekitar ruang tamu. “Hey, apa di kamar mandi juga dipasangi kamera CCTV?”

“Tidak mungkin, bodoh!” Donghae, Shindong, dan Yesung memukul kepala cowok itu.

“Kumat deh mesumnya.” Sungmin menggeleng-gelengkan kepalanya. Hyukjae hanya terkekeh.

= = =

“Ini bahkan lebih besar dari rumah nenekku.” Yoonmin melipat tangannya di depan dada.

“Ruang tamunya seperti lapangan saja,” komentar Chaerin.

“Kita tidur sendiri-sendiri, kan? Masa rumah sebesar ini hanya punya satu kamar?” Sunghee berkata sambil menaiki tangga ke lantai dua. Raeki melihat-lihat halaman belakang.

“Wow! Ada kolam renangnya. Di sebelah sana juga sepertinya ada lapangan tempat kita latihan.”

“Pantaslah disebut rumah khusus.” Yoonmin mengangguk-angguk dan berjalan ke lantai atas. “Kamarnya ada berapa, Hee?”

“Ada empat. Di pintunya sudah diberi nama. Yoonmin, kamarmu sebelahan denganku.”

“Oh ya?” Yoonmin menghampiri sebuah pintu kamar yang digantungi namanya. Sunghee sudah memasuki kamarnya terlebih dahulu. Yoonmin membuka pintu itu dan berdecak kagum. Warna biru kesukaannya menyambut matanya.

“Aku dapat warna biru. Kamu, Hee?”

“Cokelat kayu. Hiasan-hiasannya berwarna hitam. Wah, aku suka!”

“Raeki-yah, Chaerin-ah, ayo kemari. Lihat-lihat kamar kalian!” seru Yoonmin.

“Ne!”

Chaerin mendapatkan kamar bernuansa hijau sedangkan Raeki bernuansa merah. Semuanya dibuat sesuai karakter masing-masing. Mulai dari tempat tidur, meja, sofa, karpet, dan hiasan-hiasan dinding semuanya didasarkan oleh minat masing-masing.

“Leeteuk itu siapa sih? Kok bisa tahu kesukaan kita ya?” ujar Sunghee. “Lihat, aku diberi satu rak buku berisikan novel dan buku-buku pengetahuan.”

“Aku juga dapat,” kata Chaerin.

“Mungkin dia sudah menelusuri kegemaran kita apa, apa yang disuka dan apa yang tidak disuka. Kali ini aku merasa spesial,” kata Raeki.

“Yah..lumayan.” Yoonmin menggumam tidak jelas.

= = =

“Selamat malam. Senang bertemu kalian lagi.” Leeteuk menyapa orang-orang di depannya sambil tersenyum. Mereka sedang berkumpul di ruang makan rumah para calon polisi. Piring-piring di hadapan mereka sudah kosong. Mereka sudah menghabiskan menu makan malam mereka. Yoonmin dan Kyuhyun mendapatkan menu yang sama, jjajangmyun. Mereka sudah meminta untuk tidak dimasakkan makanan yang bersayur, dan permintaan mereka dikabulkan.

“Alasan saya mengumpulkan kalian di sini adalah karena kalian akan diberikan sebuah tugas percobaan. Ini untuk mengetes apakah kalian benar-benar mampu atau tidak. Tugasnya adalah menangkap oknum perdagangan manusia. Yang dijual adalah gadis-gadis yang masih muda. Pelakunya biasa beraksi di pinggiran kota, dekat kelab malam. Mungkin Sunghee-ssi pernah mendengar kasus ini?” Leeteuk menatap Sunghee. Otomatis, semua orang yang hadir menatap ke arahnya.

“Ya, benar. Aku pernah mendengar orang-orang di kelabku membicarakannya,” jawab Sunghee.

“Bagus. Dengan begitu, kalian bisa menelusuri dan menangkap siapa oknumnya.”

“Leeteuk-ssi, bagaimana dengan penamaan tim kita?” Raeki bertanya.

“Oh, aku hampir lupa. Aku memberi nama V-RASE untuk tim polisi spesial, sedangkan untuk calon polisi, aku beri nama tim SJ. Bisa diterima?”

“Ya, bagus.” Yesung mengangguk-angguk.

“Tidak ada yang menyangkal?” Leeteuk memandangi satu persatu wajah-wajah yang ada di hadapannya. Semuanya menggeleng. Leeteuk mengangguk puas.

“Baik, silakan beristirahat. Besok kalian harus bangun pagi dan olah raga bersama. Selamat malam.” Leeteuk pun undur diri. Heechul keluar sambil menutup pintu. Tinggallah 13 orang lainnya di ruang makan itu. Mereka untuk sesaat terdiam.

“Kapan kita harus memulai misinya?” Raeki memecahkan keheningan.

“Entahlah..” gumam Sunghee.

“Ngomong-ngomong, siapa yang akan mencuci piringnya?” tanya Yesung tiba-tiba.

“Yang jelas bukan aku.” Sunghee melengos pergi.

“Bukan aku juga.” Yoonmin angkat tangan.

“Kau saja, Hyung.” Kyuhyun menepuk pundak Yesung dan pergi. Yang lain mengikuti jejak Kyuhyun. Mereka langsung pergi begitu saja.

“Aish! Dasar adik-adik kurang ajar,” gerutu Yesung.

“Oh, ya Kyuhyun-ah!” panggil Raeki. Kyuhyun menoleh.

“Jangan pernah mengintai kami lagi, kau pikir aku tidak bisa balas mengintai kalian?” Raeki tersenyum dan melangkah keluar rumah. Kyuhyun tersenyum setengah.

“Kyu…bantu aku..” mohon Yesung.

“Lain kali, Hyung.” Kyuhyun memeletkan lidahnya dan berlalu pergi ke kamarnya. Yesung mengerucutkan bibirnya kesal.

= = =

Tiga belas orang anggota tim spesial yang dibentuk Leeteuk tidak bisa memejamkan matanya. Mereka merebahkan diri mereka di tempat tidur masing-masing, dengan pikiran yang sama. Semuanya memikirkan tentang misi baru mereka.

“Perdagangan manusia ya..”

To be continued

11 thoughts on “[FF] Special Police Part 2

  1. vidiaf says:

    keren sunbae~ apalagi mobil-mobilnya…. /speechless
    member V-RASE keren2…. kemampuannya itu…. daebak~
    ayo ayo lanjutin sunbae~

  2. dhila_アダチ says:

    aaaah…..kereeen…
    bneran, kirain raeki itu namja loh…trnyata yeoja…wkwkwk…
    huft, ini masih pemanasan…
    lanjut kaak, penasaran gmna cara nyelesain misinya =D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s