[FF] Special Police Part 1

Part 1

Recruiting

Pagi hari ini, kota Seoul tampak damai. Kendaraan belum keluar dari garasinya. Orang-orang masih banyak yang menyantap sarapannya. Namun, tidak dengan Park Jungsoo atau akrab disapa Leeteuk. Lelaki berumur 28 tahun itu sudah berjalan-jalan di sekitar Seoul Hospital. Di sebelahnya, seorang laki-laki yang seumuran dengannya berjalan sambil sesekali melihat sekitar. Lelaki itu memakai kacamata hitam dan membawa sebuah koper di tangan kanannya.

“Kang Raeki, 24 tahun, mantan hacker kelas kakap,” kata lelaki di sebelahnya.

Leeteuk mengangguk sambil menghampiri sebuah ruangan dokter. Nama Kang Raeki tertera di pintunya. Leeteuk mengetuk pintu tersebut dan menunggu.

Pintu terbuka dan seorang dokter muda yang berusia sekitar 24 tahun melongokkan kepalanya. Leeteuk tersenyum ramah. Raeki heran. Jarang sekali ia mendapatkan pasien sepagi ini, dan nyaris tidak pernah ia menerima tamu di rumah sakit.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Raeki.

“Saya ingin berbicara dengan Anda sebentar. Bisakah?” tanya Leeteuk dengan ramah. Raeki mengangguk meskipun ragu. Ia melebarkan pintu ruangannya dan membiarkan dua lelaki itu masuk.

“Silahkan duduk.” Raeki menunjuk pada dua buah kursi di depan mejanya.

“Terima kasih.” Leeteuk dan lelaki itu pun menempati tempat duduk yang dipersilahkan.

“Jadi…apa yang membawa kalian kemari?”

“Ah, benar. Maaf kami telah mengganggu waktu luang Anda. Saya kemari karena ada hal yang sangat penting untuk disampaikan.” Leeteuk merogoh saku jasnya. Ia mengambil sebuah kartu identitas dan ditunjukkannya pada Raeki.

“Saya Park Jungsoo, kepala kepolisian Korea Selatan.” Mendengarnya, Raeki terperangah. Ekspresi yang telah diduga oleh Leeteuk.

“Po…lisi?”

“Saya tidak akan menangkap Anda, malah sebaliknya. Saya ingin merekrut Anda menjadi anggota kepolisian kami.”

“Apa?” Raeki mengerutkan kening tak percaya.

“Bukan polisi tetap, kalian hanya diberikan misi istimewa. Misi yang hanya bisa terselesaikan oleh kalian.”

“Maksudmu dengan ‘kalian’?” Raeki kebingungan mendengar kata bermakna jamak yang digunakan Leeteuk. Pria itu tersenyum.

“Saya akan merekrut tiga orang lainnya.”

“Dan kenapa saya harus menjadi polisi? Anda tahu sendiri catatan kejahatanku, bukan?”

“Saya tahu Anda mantan hacker kelas kakap. Anda pernah menerobos server CIA. Anda dibebaskan bersyarat. Bukan begitu, Kang Raeki-ssi?”

“Lantas kenapa saya harus bergabung menjadi polisi?”

“Karena Anda master IT. Anda bisa membantu kami untuk memecahkan misi ini.”

“Kalau saya boleh tahu, misi apa?”

“Pembunuhan presiden kita. Anda tahu kasus pengebomam kantor pemerintahan yang terjadi beberapa hari yang lalu, bukan? Saya yakin pelakunya bukan orang sembarangan, dan saya sangat yakin Anda dengan ketiga rekan Anda nantinya akan berhasil memecahkan siapa pelaku pengebomam tersebut.”

“Lalu apa yang saya dapatkan?”

“Ini.” Lelaki yang memakai kacamata menaruh koper hitam itu di atas meja dan membukanya. Tumpukan uang yang pastinya berjumlah sangat banyak pun terlihat.

“Kami juga menyediakan tempat tinggal khusus, mobil, dan kebutuhan lain yang diperlukan. Anda tinggal bergabung bersama kami dan menyelidiki kasus tersebut. Bagaimana?”

“Aku tidak mau,” kata Raeki tegas. “Aku tidak ada bakat dalam menyelidiki kasus, dan aku tidak mau terlibat dengan polisi.”

Leeteuk tersenyum. Ia lalu membetulkan posisi duduknya.

“Dengan bergabung bersama kami, catatan kejahatan Anda akan dibersihkan. Dan juga, Anda bisa memakai komputer canggih yang tersedia di markas kami sepuas Anda. Bukankah itu yang Anda inginkan?”

Raeki terlihat menimang-nimang ajakannya. Semenjak ia tertangkap basah telah menerobos server CIA, ia dilarang keras untuk menyentuh internet. Dan sekarang, ia bisa masuk kembali ke dunia maya sepuasnya. Itu yang ia inginkan.

“Jika Anda berubah pikiran, Anda bisa mengontak saya. Ini kartu nama saya.” Leeteuk menyimpan sebuah kartu di atas meja.

“Kami permisi dulu. Sampai jumpa.” Leeteuk dan lelaki di sampingnya membungkuk hormat lalu melangkah pergi. Raeki memijat pelipisnya pelan. Ia menghela napas.

= = =

Pukul 10 pagi, kafe dan restauran pasti masih bersiap-siap untuk menerima pelanggan. Begitu juga dengan The Coffeen, kafe yang berada di pusat kota ini terlihat masih bersiap-siap.

“Choi Chaerin, 24 tahun, mantan pembunuh bayaran. Tembakannya sangat jitu meski dalam jarak yang sangat jauh,” terang lelaki di sebelah Leeteuk.

“Terima kasih informasinya, Heechul-ssi.” Leeteuk tersenyum dan melangkah memasuki kafe bernuansa unik tersebut. Sesuai pengucapan nama kafenya, kafe ini dihiasi dengan dekorasi peti mati di sudut-sudut kafe tersebut. Nuansanya pun nuansa horror. Namun, kafe ini unik. Horror, tapi tidak menyeramkan. Sebaliknya, justru kafe ini banyak pelanggan. Diawali dari rasa penasaran, dan akhirnya malah menjadi pelanggan setia karena masakan kafe ini yang sangat enak.

“Choi Chaerin-ssi?” sapa Leeteuk pada seorang gadis yang sedang memotong daging ikan. Chaerin mendongak menatap Leeteuk. Agak heran juga melihat dua orang pria berdasi berdiri di hadapannya. Apalagi tempatnya di dapur.

“Ada apa?” tanya Chaerin langsung.

“Bisa bicara sebentar? Kami tidak akan lama.” Leeteuk tersenyum. Chaerin menatap dua orang itu bergantian. Ia mengangkat bahu dan melepas sarung tangan plastiknya. Ia mencuci tangan dan berjalan keluar dapur lewat pintu samping.

“Ikuti aku,” ujarnya. Leeteuk dan Heechul pun mengikuti Chaerin ke belakang kafe. Mereka duduk di sebuah bangku kafe yang kosong. Bangku ini diletakkan di belakang kafe, mungkin tempat untuk para karyawan makan dan beristirahat.

“Nama saya Park Jungsoo, dan dia Kim Heechul. Saya kepala kepolisian Korea Selatan. Ini kartu nama saya.” Leeteuk meletakkan kartu namanya di meja. Chaerin menaikkan alis dan mengambilnya.

“Kepolisian?” Chaerin mengerutkan kening. “Aku sudah dibebaskan, bukan?”

“Ya, dan tujuan kami kemari bukan untuk membahas tentang catatan kejahatan Anda, Chaerin-ssi. Saya sedang mencari polisi-polisi spesial untuk memecahkan kasus pengeboman gedung kantor pemerintahan yang menewaskan presiden kita.”

“Jadi maksudmu, kau memintaku untuk bergabung menjadi polisi?”

“Tepat sekali.”

“Tidak mau.” Chaerin melemparkan kartu nama Leeteuk ke arah lelaki itu. Leeteuk hanya tersenyum.

“Saya yakin, hanya Anda dan tiga orang rekan Anda nantinya yang akan bisa memecahkan kasus tersebut. Anda adalah orang spesial. Saya tahu bahwa Anda adalah sniper yang sangat professional. Anda tidak akan menjadi polisi tetap, hanya untuk memecahkan kasus ini saja. Bagaimana?”

“Apa untungnya bagiku?”

“Anda akan mendapatkan ini.” Heechul meletakkan koper itu di atas meja dan membukanya. Chaerin melirik uang-uang itu sekilas.

“Anda juga akan mendapatkan rumah, mobil, dan keperluan lainnya. Catatan kejahatan Anda juga akan dihapuskan. Dan yang Anda inginkan, pasti menembak kembali, bukan?”

Chaerin terdiam. Itu benar. Sudah lama ia ingin mendengar suara tembakan lagi. Sudah lama ia ingin merasakan bagaimana rasanya menembak sesuai target.

“Harap pertimbangkan ajakan saya, dan kontak nomor telepon saya jika Anda berubah pikiran.” Leeteuk mendorong kartu nama itu agar mendekat ke arah Chaerin. Gadis itu hanya memandangnya kosong.

“Maaf mengganggu waktu Anda, dan terima kasih. Sampai jumpa.” Leeteuk dan Heechul membungkuk sopan. Mereka lalu berlalu pergi. Chaerin masih terdiam. Dia lalu membentuk siluet pistol dengan tangannya dan berpura-pura sedang menembak. Chaerin melirik kartu nama yang tergeletak di meja. Dia lalu meraihnya.

“Park Jungsoo…” Chaerin menghela napas.

= = =

“Lee Yoonmin, 23 tahun, mantan ketua gangster. Ia pernah dipenjara selama 3 tahun karena mematahkan leher seseorang hingga tewas. Namun, dia ahli bela diri. Ia baru saja menyelesaikan kuliahnya di Jepang dengan jurusan desain.” Heechul memberi keterangan sambil melihat layar I-padnya. Leeteuk mengangguk.

“Kapan dia akan tiba di sini?”

“Lee Yoonmin akan tiba di bandara Incheon 30 menit lagi.”

“Baiklah, kita tunggu saja.” Leeteuk berjalan ke arah kursi tunggu. Heechul duduk di sebelahnya.

Sore ini, bandara Incheon tampak agak ramai. Banyak keluarga yang menunggu sanak saudaranya datang. Orang-orang banyak yang berlalu lalang. Leeteuk dan Heechul menajamkan pandangan mereka. Mereka mencocokkan sosok yang ada di foto dengan yang ada di realita.

30 menit kemudian, Leeteuk dan Heechul bersiaga di depan tempat keluarnya orang-orang yang baru datang dari luar negeri. Mereka mengamati satu persatu orang yang keluar dari pintu. Bingo, mereka menemukan seorang gadis yang memakai kacamata hitam, berambut lurus sebahu, celana panjang hitam dan blazer selutut berwarna biru. Ia menarik sebuah koper besar. Leeteuk dan Heechul segera menghampiri gadis itu.

“Lee Yoonmin-ssi? Bisa bicara sebentar?” sapa Leeteuk. Yoonmin menatap dua orang di hadapannya bergantian.

“Apa aku mengenal kalian?” ucapnya dingin. Leeteuk tersenyum dan menyodorkan kartu namanya.

“Saya Park Jungsoo, ketua kepolisian Korea Selatan.”

“Polisi?” Yoonmin mundur dua langkah. Heechul langsung menahannya.

“Kami tidak ingin menangkapmu, Yoonmin-ssi. Kami ingin merekrutmu menjadi anggota kepolisian kami.” Yoonmin menatap mereka berdua curiga.

“Apa aku bisa mempercayai orang yang baru kukenal, tidak, kutemui? Maaf, paman, aku diajarkan ibuku untuk tidak bicara dengan orang asing.” Yoonmin melemparkan kartu nama Leeteuk dan berjalan menjauh. Leeteuk tersenyum. Ia lalu mengejar Yoonmin dan berdiri di hadapannya.

“Jika kau ingin catatan kejahatanmu bersih, kau harus bergabung dengan kami.”

“Harus? Kenapa harus? Cari saja orang lain!” ujar Yoonmin kesal. Ia melangkah lagi, namun kini di tahan oleh Leeteuk. Ia ingin pergi ke samping, namun Heechul sudah menghalangi langkahnya. Ia akhirnya menghela napas.

“Baiklah, apa maumu?”

“Tolong bicarakan ini di tempat yang nyaman.” Leeteuk tersenyum.

Di kursi tunggu yang sepi, Yoonmin duduk diapit Leeteuk dan Heechul. Yoonmin menyilangkan kakinya dan bersidekap. Ekspresinya menunjukkan bahwa ia sedang dalam mood yang buruk.

“Begini, Yoonmin-ssi, Anda tidak akan menjadi polisi tetap kami..”

“Aish, hentikan kata-kata formal itu! Kau membuat kupingku gatal,” gerutu Yoonmin. Leeteuk tersenyum.

“Baik, aku akan menggunakan bahasa informal. Begini, Yoonmin-ah, kau tidak akan selamanya menjadi polisi kami, kau hanya akan dikontrak untuk memecahkan kasus pengebomam gedung kantor pemerintahan yang menewaskan presiden kita. Setelah kasus itu terpecahkan, kau bisa pergi. Bebas mau melakukan apapun yang kamu mau tanpa ada catatan kejahatan yang menghantuimu. Cukup adil, bukan?”

“Itu saja?” tanya Yoonmin enteng.

“Kamu juga akan mendapatkan uang ini.” Heechul membuka koper hitamnya. Yoonmin meliriknya tidak niat.

“Juga, kamu akan mendapatkan rumah khusus, mobil, dan keperluan lain yang kamu mau. Minta apa saja pasti kami beri.”

“Bagaimana jika aku meminta makanan 3 kali sehari dengan menu bebas sayur dan pudding satu kali setiap hari. Cukup adil?”

Leeteuk tersenyum.

“Tentu. Ini kartu namaku. Datang saja ke markas kami jika kau benar ingin bergabung bersama kami.”

“Tunggu dulu! Apa aku akan bekerja sendiri?”

“Tidak, kau akan ditemani oleh tiga rekanmu.”

“Siapa saja mereka?”

“Kamu akan tahu nanti.” Leeteuk tersenyum dan beranjak berdiri. Heechul pun ikut beranjak berdiri.

“Nah, maaf mengganggumu waktumu, Yoonmin-ssi, dan terima kasih. Sampai jumpa.” Leeteuk dan Heechul membungkuk sebelum berjalan pergi. Yoonmin menatap kartu nama di tangannya.

“Kepolisian ya..”

= = =

Hingar bingar klub malam di hadapan Leeteuk dan Heechul seakan memecah keheningan malam. Malam yang seharusnya tenang menjadi ramai karena klub malam ini. Apalagi, tidak hanya satu klub malam. Di pinggir jalan, banyak wanita-wanita berbaju minim yang menunggu untuk disewa.

“Lee Sunghee, 23 tahun, mantan penyelundup barang-barang impor illegal. Dia driver handal yang sering mengikuti balapan liar. Pernah tertangkap polisi dan dipenjara selama 4 tahun. Ia masih dalam masa tahanan namun dibiarkan berkeliaran di luar. Di kakinya dipasangi alat pelacak yang akan berbunyi nyaring jika ia pergi lebih jauh dari 25 km dari kantor polisi.”

“Ayo masuk.” Leeteuk melangkah memasuki klub malam itu.

Dentuman musik langsung menyapa telinga Leeteuk dan Heechul begitu mereka melewati pintu. Pemandangan manusia-manusia yang berjubel dan berjoget ria langsung menyapa mata mereka. Lampu-lampu dengan aneka warna menyorot kesana kemari. Leeteuk harus menajamkan pandangannya untuk mencari sosok Lee Sunghee.

“Itu dia!” seru Leeteuk pada Heechul. Mereka melihat ke arah seorang gadis yang sedang duduk-duduk di sofa sudut klub. Di sisinya terdapat beberapa pria dan wanita yang berpakaian mewah. Gadis itu tampak tertawa-tawa dan sesekali menyandar pada lelaki di sebelahnya. Dia tidak mabuk. Leeteuk yakin itu.

“Lee Sunghee-ssi?” Leeteuk harus berteriak agar Sunghee bisa mendengarnya. Gadis itu menoleh pada Leeteuk. Matanya mengamati Leeteuk dan Heechul.

“Cari aku?” katanya.

“Ya, bisakah kita bicara sebentar? Di luar?”

“Bagaimana kalau di ruanganku saja?” Sunghee bangkit berdiri.

“Well, tidak masalah.” Leeteuk mengangguk sambil tersenyum ramah.

“Sunghee yah, mereka siapa? Tampannya…” seru seorang teman gadisnya.

“Apa mereka klien-mu?” tanya gadis lainnya.

“Klien apa? Aku tidak menerima klien apapun. Tidak seperti kalian.” Sunghee tersenyum dan berjalan mengikuti dua orang pria itu.

Mereka sampai di sebuah ruangan yang sangat mewah. Terdapat satu tempat tidur ukuran ekstra berseprai biru dan berhiasan emas yang pastinya tidak murah. Di depan tempat tidur itu, terdapat sebuah TV LCD 54 inchi berwarna emas. Sebelah TV itu, terdapat sebuah pintu berwarna hitam. Mungkin pintu kamar mandi. Di dekat pintu masuk, terdapat satu set sofa berwarna biru langit, di tengahnya terdapat meja berwarna hitam metalik. Dindingnya dihiasi wallpaper berwarna biru dan hitam. Ruangan ini kedap suara. Hingar bingar diluar tidak terdengar sama sekali di sini.

Sunghee mempersilakan dua lelaki itu duduk di sofanya. Leeteuk dan Heechul duduk di sofa yang panjang, sedangkan Sunghee duduk di sofa single di hadapan mereka.

Sunghee bersidekap.

“Siapa kalian?”

“Saya Park Jungsoo, ketua kepolisian Korea Selatan.” Leeteuk menunjukkan kartu identitasnya. Mendengar kata polisi, Sunghee tersentak.

“Kau tahu sendiri aku sudah tidak menyelundupkan barang impor illegal lagi. Ya, kan?”

“Saya tahu. Kami datang kemari bukan untuk membahas itu.”

“Aigoo…berhentilah menggunakan bahasa formal di depanku. Kelihatannya kalian lebih tua dariku.” Sunghee tampak tidak senang.

“Baiklah, Sunghee. Aku datang kemari untuk membicarakan suatu hal penting.”

“Hal penting apa? Hal penting bahwa aku kembali dipenjara untuk 8 tahun? Atau untuk seumur hidup?”

“Aku ingin merekrutmu untuk menjadi anggota kepolisian kami,” kata Leeteuk langsung ke tujuan utama.

“Apa? Kau mabuk, ahjussi (paman)?” Sunghee terkekeh. “Tentu saja tidak mungkin! Lihat ini, lihat! Aku masih dalam masa tahanan!” Sunghee menunjukkan pergelangan kakinya yang ditempeli alat pelacak.

“Jika kau bergabung dengan kami, catatan kejahatanmu akan dibersihkan dan kau juga akan dibebaskan dari masa tahanan. Juga, kau akan mendapatkan rumah khusus, mobil, fasilitas lain, dan juga ini.” Leeteuk menunjuk koper di tangan Heechul. Heechul membukanya dan terlihatlah bertumpuk-tumpuk uang dalam pecahan tertinggi.

“Shireo (tidak mau).” Sunghee menatap mereka tajam.

“Kau tidak akan menjadi polisi tetap, hanya menjadi polisi khusus yang menangani kasus pengeboman kantor pemerintahan yang menewaskan presiden kita. Setelah kasus itu selesai, kau boleh mengambil semua fasilitas yang kami berikan dan hidup bebas kembali tanpa ada alat pelacak yang menghantui.”

“Aku bekerja sendiri?” Sunghee terlihat sedang menimang-nimang.

“Kau akan bekerja bersama tiga orang rekanmu. Mereka orang-orang yang terbaik di bidangnya. Bagaimana?”

“…” Sunghee tampak masih bingung. Dia menatap botol-botol wine yang diletakkan di atas meja.

“Kau juga bisa mengendarai mobil mewah dan melakukan atraksi-atraksi seperti drift, J-turn, dan sebagainya. Kau tertarik?”

“Bagaimana jika misinya gagal?” tanya Sunghee. Leeteuk tersenyum.

“Semua fasilitas akan diambil, dan masa hukuman akan berlanjut.”

“Ah, itu tidak asyik!” Sunghee mengibaskan tangannya. “Aku tidak mau!”

“Beritahu aku jika kau berubah pikiran. Hubungi nomor teleponku atau datang langsung ke markas kami. Ini kartu namaku.” Leeteuk memberikan kartu namanya. Sunghee menerimanya dan membacanya sekilas.

“Maaf sudah mengganggumu, dan terima kasih. Sampai jumpa.” Leeteuk dan Heechul membungkuk dan beranjak berdiri. Mereka melangkah ke arah pintu.

“Ruanganmu sangat nyaman, Sunghee-ssi. Terima kasih. Sampai jumpa di markas utama!” Leeteuk tersenyum dan melambai. Mereka berdua membuka pintu itu dan melangkah keluar. Pintu tertutup secara otomatis.

“Mengendarai mobil mewah dan melakukan atraksi lagi?” gumam Sunghee. Ia lalu melihat kartu nama itu.

“Park Jungsoo..”

To be continued

Note: Ini sebenernya masih trailer aja, mau dilanjut atau nggaknya terserah pembaca sekalian. Di part berikutnya bakal muncul cast-cast baru kok tenang aja hohoho. Gimana? Lanjut ga?

11 thoughts on “[FF] Special Police Part 1

  1. dhila_アダチ says:

    waah…mesti lanjut ini kak…
    la suka banget ama cerita yg berbau beginian…
    semangaat!!! ayo terus lanjutkan ampe the end tersurat…haha…

  2. Rabbitpuding says:

    aku jadi ketua gang(ster). itu amin banget fasilitas… puding… oh puding….
    haduuh, 3 tahun penjara.. amit-amit *getok2 kepala ke meja

    sunghee i lop you *cium pake kaki

  3. evil_roo99 says:

    Chap 1 aja udh keren apa lgi chap selanjut’a…

    Wah debaekk thor cerita’a… Tpi kenapa harus hiatus sihh T^T…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s