[FF] Last Three Seconds

Casts: Lee Sungmin, Lee Hyora

Genre: Romance, Angst

= = =

Aku menatap Hyukjae yang menangisi kepergian adikku dengan pilu. Dia menangis lebih hebat dariku. Kenapa? Padahal aku kakak gadis itu. Kenapa malah ia yang menangis lebih keras?

Tentu saja. Hyukjae mencintai adikku, tapi dia tidak sempat mengutarakannya. Aku selalu berkata padanya untuk cepat menyatakan cinta, sebelum terlambat. Hyukjae selalu berkata nanti, tunggu waktu yang tepat, belum saatnya, dan alasan lainnya. Lihat sekarang, Hyukjae. Dia sudah tiada. Mau mengatakan “Aku mencintaimu” di makamnya sampai kapan?

Aku berjalan menghampiri Hyukjae dan meremas pundaknya.

“Hyung…aku menyesal. Aku benar-benar menyesal..” Hyukjae menggelengkan kepalanya. Aku mengangguk paham. Aku berlutut di sebelahnya dan meletakkan bunga yang sedari tadi kugenggam di atas makam adikku. Aku mengerutkan kening. Tidak, aku tidak benar-benar paham. Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Aku tidak punya janji pada Sunghee, adikku. Aku tidak punya hal yang harus diselesaikan dengannya. Jadi, aku tidak tahu bagaimana rasanya.

Sedih, itu pasti. Tapi, apakah sesedih itu?

“Seharusnya aku mengikuti saran Hyung untuk menyatakannya lebih cepat..aku ingin dia tahu..Hyung..” Hyukjae tak kuasa berkata-kata lagi. Tangisnya meledak. Aku menghela napas. Para pelayat lain sudah pergi dari sini, tinggal kami berdua.

“Hyuk ah, aku yakin Sunghee mendengarnya. Dia pasti belum terlalu jauh..” Aku menengadah, menatap langit yang cerah. Aku menyipitkan mata. Kontras sekali cuaca hari ini dengan suasana hati hari ini.

“Aku menyesal tidak pergi ke rumah sakit lebih awal…aku malah…aku malah sibuk dengan pekerjaanku. Hyung..aku menyesal..”

“Hentikan penyesalanmu itu. Ayolah, kita pulang. Mau menyesal sampai kapan?”

Hyukjae tidak menjawab. Ia hanya terisak pelan.

Aku bangkit berdiri dan menarik tangannya. Ia akhirnya berdiri. Aku berjalan menarik tangannya, setengah menyeretnya, pergi dari pemakaman ini.

“Kau akan tahu bagaimana rasanya ditinggal sebelum sempat menyatakan sesuatu, Hyung..”

“Tidak akan. Aku akan mengatakannya sebelum dia pergi. Mungkin di tiga detik terakhirnya. Satu detik untuk mengatakan ‘I’, satu detik untuk mengatakan ‘love’, detik lainnya untuk mengatakan ‘you’.”

“Bicara memang mudah, Hyung..”

Aku tidak menanggapi perkataannya lagi. Sudah lelah. Aku memasuki mobil dan Hyukjae duduk di sebelahku. Aku mengemudikan mobilku dengan perlahan. Sedikit-sedikit aku melirik ke arah Hyukjae yang menatap keluar jendela dengan sedih.

Aku mengantarkan Hyukjae sampai di rumah. Ia berterima kasih dan berlalu pergi dengan langkah gontai. Setelah memastikan Hyukjae memasuki rumahnya, aku baru meluncur pergi. Aku tidak mau langsung pulang. Aku pergi ke Sungai Han dan menenangkan diri sejenak. Aku merenungkan kata-kata Hyukjae tadi, serta kata-kataku sendiri. Tiga detik terakhir. Aku terkekeh. Perkataanku tadi rasanya tidak masuk akal.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Banyak orang yang datang bersama temannya, keluarga, dan juga kekasih. Aku tersenyum. Senang rasanya melihat kebersamaan itu. Mataku menangkap seorang gadis yang sedang terduduk di pinggir sungai. Gadis itu sendirian. Dia kelihatan kesepian di tengah keramaian Sungai Han.

Gadis itu cantik, wajahnya manis. Di tangannya terdapat sebuah gelas minuman hangat. Ia tersenyum menatap sungai. Angin yang berhembus pelan memainkan anak rambutnya tanpa izin. Namun, itu membuatnya lebih menarik. Tanpa sadar, aku tersenyum menatapnya. Hebat. Bisa tersenyum dalam kesendirian.

Aku melirik jam, ternyata sudah sore. Aku bergegas menghampiri mobilku dan mengendarainya menuju rumahku.

Rumah sepi, lampunya tidak menyala. Apa Sunghee lupa untuk menyalakan lampu? Aku keluar dari mobil dan tertegun. Ah, benar. Adikku itu sudah tiada. Mulai sekarang aku tinggal di sini sendirian. Rasanya sedikit tak percaya. Biasanya ia selalu menyambutku dengan hangat. Ia tidak pernah lupa menyalakan lampu. Jarang sekali aku melihat pemandangan rumahku yang gelap gulita seperti ini.

Aku menekan handle pintu. Terkunci. Benar juga, sekarang aku harus membuka pintu itu sendirian. Mungkin aku tidak akan pernah menekan bel rumah ini lagi. Aku mengeluarkan kunci dari saku kemeja hitamku dan membuka pintu itu. Aku melangkah masuk dan berkata, “Aku pulang!”

Hening. Aku tertawa garing. Siapa yang kuharapkan membalas perkataan itu? Sekarang aku sendirian.

Tanganku meraba-raba dinding, mencari saklar. Setelah menemukannya, aku menekan saklar itu. Lampu pun menyala. Mataku menyipit, silaunya. Suara langkah kakiku terdengar dengan jelas. Rasanya aneh. Biasanya selalu ada suara TV atau suara musik yang distel keras-keras dari kamar Sunghee. Tapi, sekarang semuanya sudah tiada. Agak…menyesakkan.

Aku melepas kemejaku dan memasukkannya ke dalam keranjang baju kotor. Aku lalu menggantinya dengan kaus. Aku berjalan ke dapur, membuka kulkas, dan tertegun. Ada dua liter teh dalam kemasan karton di sana. Itu semua milik Sunghee. Sekarang siapa yang akan menghabiskan semuanya? Aku? Kurasa tidak mungkin. Aku bukan maniak teh, untuk menghabiskan dua liter teh itu mungkin membutuhkan waktu satu bulan.

Kulirik tanggal kadaluarsa teh itu. Tinggal tiga minggu lagi. Aku menghela napas. Ya sudahlah, untuk malam ini aku menghirup teh saja.

Aku membawa gelas berisi teh itu ke balkon kamarku yang berada di lantai dua. Aku suka dengan angin malam. Angin malam ini tidak kencang, bisa dibilang sepoi-sepoi. Aku memejamkan mata dan tersenyum. Hebat. Aku bisa tersenyum dalam keadaan seperti ini. Di dalam keheningan, kegelapan…

Tiba-tiba saja aku teringat gadis itu. Dia juga sama sepertiku. Masih bisa tersenyum dalam kesendirian. Aku penasaran dengannya. Kenapa dia sendirian di sana? Kenapa dia tersenyum?

Aku tertegun. Tidak pernah aku merasa seperti ini sebelumnya. Merasa begitu penasaran dengan seorang gadis. Aku hanya pernah berpacaran sebanyak satu kali selama 25 tahun aku hidup. Aku tidak mengerti. Padahal aku dekat dengan gadis, tapi kenapa mereka tidak menyukaiku?

Lamunanku buyar oleh dering ponselku. Aku menatap layarnya. Ah, dari Heechul Hyung.

“Yobosaeyo, Hyung?”

“Sungminnie, aku baru saja mendengar kabarnya. Yang sabar ya, kamu harus tegar. Jangan menangis terlalu banyak.”

“Ne, Hyung. Terima kasih banyak.”

“Kamu dimana?”

“Aku di balkon kamar.”

“Jangan bilang kamu mau bunuh diri!”

“Hahaha..tentu tidak, Hyung. Aku sedang menikmati angin malam. Hyung tenang saja, aku tidak apa-apa.”

“Baik, baik. Awas saja kalau aku sampai di sana kamu sudah tinggal nama, aku tidak akan mengunjungi makammu seumur hidupku!”

“Iya, Hyung. Hahaha..” Aku terkekeh. Hyung-ku yang satu ini memang agak aneh menurutku.

“Besok aku akan datang ke sana bersama anak-anak yang lain. Malam ini jangan melakukan hal aneh-aneh. Arasseo?”

“Iya, Hyung…”

“Baiklah, cepat tidur. Nanti masuk angin. Selamat malam!”

“Malam, Hyung.” Telepon pun terputus. Aku menghela napas. Tiba-tiba air mataku turun menuruni pipi, mendarat di dasar gelasku yang sudah kosong. Lama-kelamaan air mata itu semakin banyak. Aku terisak. Gelasku terjatuh, menimbulkan suara pecahan yang cukup keras. Aku menutupi wajahku dengan kedua tangan. Aku baru ditarik menuju kenyataan. Keadaan di sekitar mempertegas fakta bahwa Sunghee sudah tiada. Aku baru merasakannya sekarang, saat aku sendirian. Semuanya terasa begitu berbeda.

Angin malam menemaniku menangis. Angin itu seakan sedang menyanyikan sebuah lullaby untuk mengantarkanku terlelap dalam mimpi.

Beberapa hari kemudian, aku mengunjungi pasar swalayan untuk membeli keperluan sehari-hari. Rasanya aneh belanja keperluan sehari-hari sendirian begini. Memang dari segi pengeluaran itu menguntungkan, tapi…rasanya berbeda. Itu saja.

Sampai di bagian minuman, aku melihat gadis itu lagi. Gadis yang kulihat di Sungai Han waktu itu. Ia sendirian. Tubuhnya yang lebih pendek dariku tidak bisa menggapai kotak teh celup yang berada di bagian atas rak. Aku menghampirinya dan mengambilkan kotak teh itu. Ia menatapku dan tersenyum berterima kasih. Aku terpana. Senyumnya begitu menawan. Seakan membuat wajahnya yang pucat menjadi cerah.

“Terima kasih banyak bantuannya.”

“Sama-sama. Oh, kenalkan namaku Lee Sungmin.”

“Aku Lee Hyora.” Gadis itu menolak uluran tanganku. Untuk beberapa detik aku tertegun. Aku lalu memegang troli belanjaanku dengan salah tingkah.

“Kamu sendirian?” tanyaku. Gadis itu menggeleng.

“Sekarang kan ada kamu.” Hyora tersenyum. Aku tersenyum tipis.

“Sama. Tadi aku sendirian, dan sekarang sudah tidak karena aku bertemu denganmu.”

“Aku mau pergi ke bagian daging dulu.”

“Aku ikut.” Entah kenapa aku ingin mengikutinya. Aku ingin bersamanya. Hyora tersenyum dan mengangguk.

“Yah..aku juga mau membeli daging.” Aku mengusap belakang kepala. Ya Tuhan, ada apa denganku?

Akhirnya kami berdua selesai berbelanja. Aku membawakan belanjaannya yang tidak seberapa dan berjalan mendampinginya.

“Ke sini naik apa?” tanyaku.

“Bus.”

“Kalau begitu aku antarkan saja. Aku membawa mobil. Rumahmu dimana?” tanyaku. Ia menyebutkan alamatnya.

“Searah denganku. Ikut denganku saja.”

Begitulah. Kami bertukar nomor telepon dan berjanji untuk saling mengunjungi. Sekarang aku tidak sendirian, dia juga tidak. Kami berteman dengan baik.

Tiga bulan kemudian, Hyora jarang mengunjungiku lagi. Aku juga menjadi jarang mengunjunginya karena pekerjaanku yang sedang banyak-banyaknya. 18 jam dari 24 jam sehari kupergunakan untuk bekerja. Gila? Iya. Namun, aku telah memilih kerjakan daripada tinggalkan. Aku harus bertanggung jawab atas pilihanku. Aku rela bekerja mati-matian. Tidak apa. Daripada diam di rumah yang sepi.

Hari Minggu ini, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi Hyora. Aku menekan bel rumahnya. Tidak ada jawaban. Rumahnya tampak lebih sepi dari biasanya. Aku menekan bel lagi, mungkin Hyora sedang di kamar mandi.

“Oppa, Hyora Unnie sedang tidak di rumah.” Seorang anak kecil menghampiriku. Aku menoleh ke arahnya.

“Dia kemana?” tanyaku sambil tersenyum.

“Hyora Unnie masuk rumah sakit sejak tiga minggu yang lalu.” Aku tertegun. Rumah sakit..

“Hyora Unnie sakit apa?” tanyaku tanpa bisa menyembunyikan nada khawatir.

“Soojin tidak tahu. Unnie ditemukan sedang pingsan di rumahnya, waktu itu Eomma mau memberikannya oleh-oleh, tapi ternyata Unnie pingsan. Jadi oleh-olehnya Eomma simpan begitu saja di rumah.” Aku tidak mempedulikan masalah oleh-oleh itu, yang aku pedulikan adalah keadaan Hyora.

“Di rumah sakit mana?”

“Seoul Hospital.”

“Oke, terima kasih ya. Ini permen untukmu.” Aku memberikan dua buah permen dari saku jaketku. Anak itu tersenyum senang. Aku bergegas mengendarai mobilku menuju rumah sakit itu.

Sampai di rumah sakit, aku segera bertanya pada bagian administrasi. Setelah mendapatkan letak kamar rawat Hyora, aku langsung memasuki lift dan menekan tombol 3, tempat kamar Hyora.

Di lantai 3 itu, aku mencari ruangan nomor 335. Ah, ternyata tidak jauh dari lift. Aku berdiri di depan kamar itu. Nama Lee Hyora terpampang di sana. Aku menelan ludahku dan mengulurkan tanganku pada handle pintu, namun seorang suster menahanku.

“Maaf, kau harus memakai pakaian ini dulu.” Suster itu memberikanku pakaian steril berwarna hijau. Aku menerimanya dan memakainya. Aku sudah menduga sebelumnya bahwa Hyora sakit parah. Tapi, dia tidak pernah menunjukkannya.

Aku memutar handle pintu. Kulihat sesosok gadis terbujur kaku di atas tempat tidur. Di sekelilingnya terdapat alat-alat yang tidak kuketahui fungsinya. Aku bukan mahasiswa kedokteran, jadi wajar saja. Yang kutahu fungsinya hanyalah infus dan alat penunjuk detak jantung itu. Apa namanya? Aku lupa.

Hyora menoleh ke arahku. Aku tersenyum kikuk.

“Hai, bagaimana keadaanmu?” tanyaku.

“Aku baik-baik saja, Sungmin-ah.” Ah, senyumnya tidak pernah hilang. Setiap orang yang melihatnya pasti akan merasa bahagia.

“Memalukan sekali menemuimu dalam keadaan seperti ini.” Suaranya lirih. Berbisik nyaris tidak terdengar. Aku melihat kupluk yang dipakainya. Aku yakin rambutnya sudah rontok semua.

“Kanker?” tanyaku. Tenggorokanku tercekat ketika mengatakannya.

“Penyakit yang menyebalkan ya?” Hyora berusaha tertawa.

“Iya.” Hanya itu yang bisa kuucapkan.

Hyora memejamkan matanya, seolah menahan sakit. Napasnya melemah. Aku menatapnya pilu. Hyora membuka matanya lagi, sorot matanya melemah.

“Sungmin-ah..kalau aku mati sekarang bagaimana?”

“…” Aku tidak bisa menjawab. Bagaimana? Aku tidak tahu.

“Pertanyaan macam apa..” gumamku tercekat. Hyora tersenyum.

“Maaf..”

“Kenapa?”

“Tidak bisa menemanimu lebih lama lagi.”

“Tidak apa-apa..”

“Jangan menangis…”

“Aku tidak..” Suaraku gemetar. Oh, kau pembohong yang buruk, Lee Sungmin! Buktinya jelas, air matamu mengalir, kenapa masih menyangkal bahwa kau tidak menangis?

Tiga detik terakhir. Tiba-tiba saja aku mengingat perkataanku dulu. Apa aku harus menerapkannya sekarang? Kepada Hyora? Kepada gadis yang kucintai?

“Sung…min…ah…”

“I love you.”

Setelah perkataanku itu, bunyi ‘TIIIT’ nyaring terdengar. Ya. Hyora sudah tiada. Dan aku berhasil menyatakan perasaanku di tiga detik terakhir hidupnya. Tidak berguna. Suatu keberuntungan bila Hyora masih sempat mendengarnya.

“Selamat jalan.” Aku berdiri. Beberapa suster dan dokter memasuki ruangan. Ekspresi-ekspresi panik terbaca dari wajah-wajah mereka. Aku hanya melangkah menjauh, berjalan keluar dari ruangan itu sambil menyeka air mataku. Aku mengeluarkan ponsel dan mengontak seseorang.

“Hyukjae-ya, aku berhasil menyatakan cinta di tiga detik terakhir hidup gadis yang kucintai.”

THE END

 

13 thoughts on “[FF] Last Three Seconds

  1. iischan says:

    hwaa sedih.nangis aku bacanya.
    hiks…hiks…. itu umin g shock apa ato sedih abis ucpin i love u hyora lgsg mati.
    apa hyora kaget dgrny lgsg mati y?hwaaa….

  2. vidiaf says:

    sunbae~
    ini ffnya sedih banget.. aku sampe nangis bacanya😦 kenapa sunghee bisa meninggal?
    diksinya baguuuus, tapi mudah dicerna. aku suka~

      • vidiaf says:

        iya nyahaha~
        pengaruh pas baca yang fallen for a witch air matanya lagi keluar banyak (?)
        hooo gitu…. /manggut2

  3. amitokugawa says:

    itu…
    ah, sedih bgt nih ffnya
    untung hyora blum jadi ceweknya sungmin, kalau udah, kayaknya dia bakal nangis histeris tuh

    last three seconds..judulnya aja bikin merinding

    thumbs up!

  4. autumnfille says:

    Hampir nangis bacanya…. (sayangnya cuma ‘hampir’) bzz -.-

    Aku suka sekali cerita-cerita bertema begini, yang berkesan ‘suram’ *digeplak* dan penuh kemisteriusan. Oh ya, aku juga menyukai ending cerita ini yg ‘ambigu’. Sedih sekaligus bahagia, karena rasanya aku sudah bosan membaca cerita-cerita ‘dongeng’ dgn ending happily-ever-after…….. *terkikik* *bersin*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s