[FF] Fallen for a Witch PART 13

The End

Sungmin meraba nadi di leher Aiden. Ia menghela napas.

“Rest in peace, my little brother.” Sungmin meletakkan tubuh Aiden di atas lantai dengan hati-hati. Ia lalu berdiri dan menatap Zhou Mi dengan marah. Yang ditatap masih tersenyum lebar sambil menanti Dennis bangkit kembali.

Hyukjae memperhatikan kondisi Sunghee. Dadanya naik turun, menandakan ada oksigen yang masuk ke tubuhnya. Tangannya bergerak perlahan. Matanya perlahan membuka. Ia mengerjap –ngerjap, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya sekitar. Hyukjae terkesiap. Mata perak Sunghee telah hilang. Mata itu kini digantikan oleh warna hijau. Warna mata Aiden.

“Sunghee yah?” tanya Hyukjae.

“Aku…hidup?” Sunghee membuka matanya lebar-lebar. Ia lalu melongok ke bawah, Aiden tergeletak tak bernyawa. Sunghee tak bisa berkata-kata. Aiden telah memberikan sihirnya pada dirinya. Ia mengorbankan dirinya untuk Sunghee.

“A-apa..apaan..” Sunghee menoleh ke arah Zhou Mi dengan cepat. Matanya berubah warna menjadi hitam kelam. Hyukjae terkejut. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Ia menatap Sungmin. Cowok itu tak kalah terkejut.

“YAH! LEPASKAN AKU!!” jerit Sunghee. Hyukjae ingin menenangkan Sunghee, namun dia tidak boleh menatap matanya. Zhou Mi menoleh.

“Oh, matamu ganti, Sunghee-ssi?” ujarnya tenang. Mata berwarna biru Zhou Mi tidak mempan terhadap hipnotis. Ia bisa bebas menatap mata itu sesukanya.

“Pengorbanan seorang kakak untuk adiknya. Ah, begitu menyentuh.” Kibum berkomentar. Sunghee menatapnya dengan tatapan tajam. Ia lepas kendali. Dengan kekuatan yang baru dimilikinya, Sunghee menarik tangannya, melepaskannya dari kunci. Rantai yang mengikat kaki dan tangan Sunghee terlepas. Sunghee melompat turun dari tempat tidur dan hendak menyerang Zhou Mi ketika kotak kaca berisikan mutiara itu pecah. Cahaya putih yang sangat menyilaukan membuat Sunghee harus menghalangi matanya dengan tangan. Angin yang berhembus kencang, mendorong dipan itu ke ujung ruangan. Marcus dan Jeremy tertarik ke dalam ruangan. Mereka terkunci di dinding oleh batang-batang mawar ungu yang muncul dari dinding putih. Batang berduri itu menusuk kulit mereka, membuat darah keluar dari sana.

Cahaya itu pun memudar, Sunghee kembali membuka matanya. Bola matanya yang berwarna hijau cerah pun terlihat. Sunghee tertegun. Sosok yang berada di memori pahitnya kini berdiri di hadapannya. Dennis tersenyum ramah. Sayap putihnya yang jauh lebih indah daripada sayap Zhou Mi terbentang. Matanya berwarna biru laut, menenggelamkan siapapun yang menatapnya. Kulitnya seputih bajunya. Senyumnya membuat siapapun ingin melihatnya terus.

“Selamat datang kembali, Tuan Dennis.” Zhou Mi membungkuk dalam. Dennis mengangguk. Ia melihat ke arah Kibum dan dua orang anak buahnya. Mereka membungkuk dalam. Dennis lalu menatap pada Sunghee, beralih pada Sungmin, lalu pada Hyukjae. Mereka bertiga terpana, tidak tahu harus bagaimana.

“Senang bertemu denganmu, Sunghee, Sungmin. Kalian sudah dewasa. Dan ini pasti Hyukjae, pasangan hidup Sunghee.”

“Ah..i-iya..” Hyukjae mengangguk kikuk. Dennis melangkahkan kakinya ke arah Aiden yang tergeletak tanpa nyawa, juga tanpa sihir. Ia berlutut di sebelahnya dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Aiden.

“Kau telah melakukan hal yang baik, Nak. Beristirahatlah dengan tenang.” Dennis menyentuh dada Aiden. Dari sana, cahaya putih memancar. Tubuh Aiden perlahan menghilang. Dennis bangkit berdiri dan menatap Marcus dan Jeremy yang masih berusaha melepaskan diri.

“Marcus Cho, Jeremy Kim, kalian telah menjaga Sunghee dengan sebaik mungkin. Aku menghargai itu.” Dennis tersenyum.

“Omong-kosong.” Marcus mencibir. Jeremy hanya diam. Dennis menghela napas. Ikatan batang-batang berduri itu semakinkuat. Jeremy sesak. Marcus mendengus.

“Setidaknya lepaskan dia.” Marcus mengedikkan kepalanya pada Jeremy. Dennis menjentikkan jarinya dan Jeremy pun terlepas. Ia menatap Marcus tidak mengerti. Bukankah selama ini Marcus membencinya?

“Aku tidak mau dekat-dekat denganmu,” ucap Marcus sadis sambil menatap ke arah Jeremy. Jeremy menyeringai. Iblis itu tidak pandai berbohong.

Sementara itu, Hyukjae meraih tangan Sunghee dan mendekatkannya pada dirinya. Ia mendekatkan wajahnya pada telinga Sunghee dan berbisik, “Ini diary ibumu.” Sunghee menerima buku yang disodorkan Aiden. Sunghee bergegas membuka halaman demi halaman. Kibum yang melihatnya langsung bertindak. Ia mengambil senapannya. Jordan dan Matthew merubah diri mereka menjadi serigala. Marcus yang melihatnya mendengus.

“Jeremy!” seru Marcus pada Jeremy yang notabene tidak terlalu jauh darinya. Marcus melemparkan pistol perak ke arahnya. Jeremy mengambilnya dan menembak Jordan. Tembakannya jitu, tepat mengenai jantung. Api pun membakar tubuh Jordan. Ia melolong sebelum akhirnya mati menjadi debu. Matthew yang melihat temannya mati menjadi geram. Ia mengalihkan targetnya dari Sunghee menjadi Jeremy.

Jeremy menembakan pistolnya ke arah Matthew, namun tiba-tiba sepasang sayap putih indah menghalanginya. Peluru perak itu memantul ke arahnya. Jeremy dengan gesit menghindar, peluru itu mengenai batang tumbuhan yang mengikat Marcus. Batang-batang mawar raksasa itu pun terbakar dan menghilang. Marcus menggerakkan sayapnya yang terasa kaku. Ia menatap Dennis garang.

“Lama tak berjumpa, Marcus,” sapa Dennis.

“Ya, lama sekali.” Marcus menyeringai. Dennis tersenyum tipis.

“Sayang sekali kita bertemu dalam keadaan seperti ini.”

“Bukankah ini keadaan yang kau nantikan?” ejek Marcus. Dennis tersenyum. Ia lalu menggeleng.

“Bukan ini yang kuinginkan. Seharusnya kau menyerahkan nyawa Sunghee, agar dia bisa hidup seperti gadis lainnya.

“Apa poinnya jika dia bisa hidup seperti gadis lain? Apa kehidupannya akan berubah?”

“Tentu saja. Dia tidak akan bisa melihat kita lagi, makhluk-makhluk yang seharusnya tidak dilihat oleh manusia.” Marcus tertegun. Dennis benar. Jika Sunghee berubah menjadi manusia kembali, ia tidak akan melihat Marcus lagi. Tidak akan bisa melihat Jeremy.

“Sekarang keputusan ada di tangan Sunghee.” Dennis berbalik. Kibum yang sudah membidikkan senjatanya ke arah Sunghee pun terdiam. Zhou Mi yang sedari tadi diam saja bersidekap di sisi meja. Di keheningan yang sesaat itu, suara tembakan menggelegar. Semua menoleh ke arah suara. Tubuh Matthew terbakar menjadi serpihan abu. Jeremy berhasil membunuhnya. Jeremy berusaha bangkit. Tubuhnya penuh luka dan darah. Sunghee ingin sekali menghampirinya dan membantunya berjalan, namun Hyukjae menahannya.

Jeremy berjalan tertatih ke arah Sunghee. Ia tersenyum sambil mengulurkan sesuatu pada Sunghee. Gadis itu terpana. Baru sekali ini ia melihat senyum Jeremy yang begitu tulus. Jeremy meraih tangan Sunghee dan membuka telapak tangannya. Ia lalu meletakkan sebuah taringnya yang patah di atas telapak tangan itu. Sunghee terkejut. Ia menatap Jeremy. Mulutnya berlumuran darah. Badannya sudah tecabik-cabik.

Jeremy membuka tiga kancing teratas kemeja Sunghee. Ia lalu membukanya, memperlihatkan pundak kanan Sunghee yang diberi cap bertandakan sayap. Napas Jeremy sudah satu dua. Tubuhnya limbung. Segera ia mencengkeram pundak kiri Sunghee, sebagai tumpuan. Sunghee menatap wajah Jeremy khawatir. Kedua matanya yang berbeda warna sama-sama menunjukkan kesedihan.

“Apa yang kau pilih, Sunghee?” tanya Jeremy lirih.

“A-apa?” Sunghee tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini.

“Apa yang kau pilih…menjadi penyihir atau manusia?” Jeremy terbatuk.

“Aku…” Sunghee terdiam. Agak lama. Jeremy menguatkan cengkeramannya, seakan memberitahu Sunghee untuk membalas dengan cepat.

“Aku ingin tetap menjadi penyihir!” ucap Sunghee akhirnya.

“Kenapa?” tanya Dennis.

“Aku..aku tidak mau mengorbankan orang-orang yang kusayangi demi keselamatanku sendiri. Aku tidak mau menyusahkan orang lain lagi. Aku akan menjadi penyihir hebat seperti ibuku, yang tidak perlu dijaga oleh siapapun.”

“Begitu..” Jeremy tersenyum. Dia lalu membuka tiga kancing teratas milik Sunghee. Sunghee hanya diam diperlakukan seperti itu. Hyukjae terkejut. Kibum mengernyit heran.

Jeremy menyibakkan kemeja Sunghee, memperlihatkan pundak kanan Sunghee yang terdapat sebuah lambang. Lambang sayap terbentang lebar. Sunghee melirik lambang itu lalu memberikan tatapannya pada Jeremy. Jeremy membuka telapak tangannya, Sunghee melirik taring yang berlumuran darah itu.

“Maaf aku melakukannya..” Jeremy menusukkan taring itu pada lambang Sunghee, mengikuti bentuk lambangnya. Sunghee berteriak kesakitan. Ia mencengkeram pundak Jeremy kencang. Darah pun mengucur dari pundak Sunghee. Sunghee tidak kuasa untuk melihatnya.

Jeremy berbalik pada Marcus. Diliriknya Dennis yang kelihatan menahan sakit.

“Marcus, kau tahu konsekuensinya..” lirih Jeremy. Marcus mengangguk. Ia mencabut sehelai bulu hitam dari sayapnya dan memberikannya pada Jeremy. Jeremy lalu menusukkan ujung bulu itu ke luka terbuka di pundak Sunghee. Gadis itu semakin menjerit kesakitan. Rasanya seperti tulangnya ikut tertusuk.

Tiba-tiba, tubuh Dennis dan Zhou Mi mengeluarkan cahaya putih. Tubuh mereka perlahan memudar.

“Sunghee-yah! Sampai bertemu nanti!” seru Dennis sebelum tubuhnya benar-benar menghilang. Marcus tersenyum tulus. Dari tubuhnya keluar api yang sangat panas dan merah. Api itu membakar tubuhnya. Sunghee terkejut. Ia melepaskan dirinya dari cengkeraman Jeremy dan menghampiri Marcus sambil memegangi pundak kanannya.

“Marcus! Marcus!!” jerit Sunghee.

“Sunghee-yah! Jeremy!” seru Hyukjae. Sunghee berbalik dan terkejut melihat Jeremy sudah terkapar di lantai. Napasnya tinggal satu-dua.

“Selamat tinggal, Nona..” Dari tubuhnya pun muncul api yang sama panasnya dengan api yang muncul dari tubuh Marcus. Tubuh kekarnya berubah menjadi serpihan debu. Sunghee menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak lebar.

“Kenapa…a-ada apa?” Sunghee nyaris tak bisa berkata-kata. Kibum menjatuhkan senapannya.

“Ia mengorbankan nyawanya. Kau bilang ingin menjadi penyihir hebat tanpa ada yang menjaga, bukan? Jeremy mengabulkannya. Sekarang semuanya mati.”

“Apa?” Sunghee jatuh terduduk di lantai. Air matanya mengalir deras. “Aku tidak bermaksud..”

“Aku mengerti. Sekarang kita pulang ya..” Hyukjae menarik Sunghee berdiri. Sungmin mendekati adiknya dan membantunya berjalan keluar. Hyukjae menatap punggung Sunghee sedih. Dia lalu menoleh pada Kibum. Dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

“Ayo kita berteman,” ucapnya singkat, namun penuh arti. Kibum tersenyum setengah dan menepis tangan Hyukjae.

“Later!”

= = =

5 bulan kemudian, Hyukjae sudah lulus dari Neumann High School. Hari ini dia akan mengunjungi Sunghee di sekolah itu.

Hyukjae berjalan masuk. Ia melihat sekeliling. Masih sama, sekolahnya masih sama.

“Jeremy! Turunlah! Aku tidak bisa mengambil bukuku kalau kau ada di atas situ!” jerit seorang perempuan. Hyukjae menoleh ke arah suara. Ia tertegun. Sosok yang ia kenal, Amanda sedang meloncat-loncat sambil mencoba meraih Jeremy yang duduk di dahan pohon yang besar. Mereka berdua sangat mirip dengan Amanda dan Jeremy yang ia kenal sebelumnya.

“Naiklah, Amanda. Di atas sini pemandangannya bagus,” kata Jeremy.

“Aku tidak bisa! Aku kan memakai rok!” seru Amanda gusar.

“Memangnya kenapa kalau memakai rok?” Jeremy menyeringai.

“Biar aku saja.” Murid lain mendatangi tempat itu.

“Marcus? Ah, syukurlah! Kau memang penyelamatku!” Amanda menatap Marcus, yang benar-benar mirip dengan Marcus si iblis, dengan tatapan berbinar. Marcus mengangkat alis dan memanjat pohon tersebut.

“Jeremy kembalikan!”

“Untuk apa? Buku ini punya Amanda kok.” Jeremy mendengus. Hyukjae tersenyum. Entah kenapa sifat mereka juga mirip. Jeremy dan Marcus di masa lalu juga sangat suka bertengkar.

“Aiden! Kau sudah mengerjakan tugas sosiologi?” tanya seorang laki-laki berbadan gemuk pada lelaki yang kurus. Hyukjae tertegun. Mereka adalah..

“Tentu saja sudah, Matthew. Aku bercita-cita untuk mendapatkan beasiswa. Untuk membantu ayahku.” Aiden tersenyum.

“Waah…kau benar-benar hebat!” Yang berkata adalah sosok yang mirip Jordan.

“Biasa saja, Jordan. Kau juga bisa.” Aiden tersenyum ramah. Mereka bertiga berjalan memasuki gedung. Hyukjae mengikuti di belakang mereka. Dia menanti-nanti kira-kira siapa yang akan ditemuinya lagi.

“Henry! Zhou Mi! Aku mengerti kalau kalian itu pintar, tapi tolong jangan sembarangan di kelas saya!”

“Iya, Herr Dennis,” koor Henry dan Zhou Mi kompak. Hyukjae tersenyum. Dua murid itu sama persis dengan dua orang yang pernah ia kenal. Sifatnya pun mirip. Jantung Hyukjae berdebar. Mungkinkah ia akan bertemu dengan Nathan dan Casey lagi? Sahabat lamanya?

Tiba-tiba ia mendengar suara tawa beberapa anak. Ia menatap ke sumber suara. Seorang siswa sedang terduduk di lantai. Bajunya acak-acakan. Seorang siswa di dekatnya tertawa. Sementara dua siswa lagi hanya terdiam.

“Kau tidak pantas berada di sekolah ini, Nathan Kim.” Lelaki berambut pirang menendang tubuh Nathan.

“Hentikan, Casey. Dia tidak bersalah,” tahan seorang siswa yang berperawakan layaknya model.

“Diam, Andrew. Anak orang miskin tidak pantas bersekolah di tempat elit ini!”

“Andrew benar, Case. Hentikan saja.”

“Han! Bahkan kau juga ikut melarangku?” Casey tampak marah. Hyukjae hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Ia lalu menaiki tangga menuju lantai tiga, tempat anak-anak kelas tiga belajar. Ia menelusuri kelas demi kelas. Ah, dia menemukannya. Sunghee sedang sibuk berbincang dengan dua orang yang Hyukjae kenali.

“Oh ya, Griss, Fay, minggu depan kan liburan. Bagaimana kalau kita main ke pantai? Hm?” Sunghee tersenyum. Fay dan Griss tampak berpikir.

“Kurasa bagus juga.” Fay mengangkat bahu.

“Ya. Boleh.” Griss mengangguk-angguk. Sunghee tersenyum senang. Ia terlihat berbicara dengan temannya lalu berjalan ke arah Hyukjae di luar kelas. Sunghee berdiri di hadapan Hyukjae dan tersenyum.

“Kau tahu tentang mereka?” tanya Hyukjae penuh arti. Sunghee mengangguk.

“Kurasa, mereka tidak benar-benar menghilang dari kehidupanku.” Sunghee tersenyum.

“Ya. Pasti begitu. Oh, pulang sekolah nanti kau ada acara?”

“Tidak ada.” Sunghee menggeleng.

“Makan yuk. Aku traktir deh.”

“Oke!” Sunghee mengacungkan ibu jarinya. Hyukjae terkekeh dan mengacak rambut kekasihnya.

“Ngomong-ngomong, kamu ngapain di sini?” Sunghee penasaran.

“Aku jadi pelatih dance. Kamu ikut ekskul dance, kan? Aku yang akan mengajarimu. Awas saja, aku tidak akan berlembut-lembut ria.” Hyukjae tersenyum misterius. Sunghee menelan ludahnya.

“Hyukjae!” seru seseorang. Hyukjae menoleh.

“Oh, Elle! Kenapa kau memanggilku dengan nama Korea-ku?”

Elle tersenyum, “Karena nama aslimu lebih baik.” Elle melirik Sunghee yang langsung menggenggam tangan Hyukjae. Elle terkekeh.

“Tenang saja, Sunghee! Aku juga sudah punya kekasih, kok! Memangnya kamu saja yang bisa? Hm?” Elle berkacak pinggang sambil tersenyum. Sunghee tersenyum malu.

“Yah, Kibum-ah! Ayo kemari!” seru Elle. Kim Kibum berjalan ke arah mereka sambil bersidekap. Sebuah senyum terukir di bibirnya.

“Hai!” sapanya. Dia lalu berjalan ke arah Hyukjae. Dia mengulurkan tangannya. Hyukjae menatapnya bingung.

“5 bulan yang lalu kau memintaku untuk menjadi temanmu. Sekarang aku akan menerima ajakanmu. Teman?”

“Teman.” Hyukjae menjabat tangan Kibum. Mereka tersenyum dan menepuk-nepuk punggung lawan bicaranya.

Di kejauhan, Dennis menatap mereka sambil tersenyum. Inilah yang dia inginkan. Melihat semua orang bahagia. Tujuannya sepertinya tercapai.

“Kau pasti senang tujuanmu tercapai.” Marcus berkata di sebelahnya. Dennis mengangguk.

“Aku membangkitkan kalian kembali dalam wujud manusia. Bagaimana? Cukup adil?”

“Sangat adil.” Marcus tersenyum.

Bel masuk berbunyi, menandakan siswa-siswi Neumann High School harus memasuki kelas mereka masing-masing. Hyukjae pamit pada Sunghee dan berjalan menuruni tangga ke lantai satu. Ia berjalan melewati gudang sekolah. Pintunya tidak terkunci. Hyukjae mengernyit dan melangkah masuk. Samar ia mendengar suara tangisan.

Hyukjae melangkah ke samping meja, melihat lebih jelas siapa yang berada di balik meja itu. Ia tertegun ketika melihat sesosok perempuan yang berusia kira-kira 15 tahun sedang menangis di sana. Ia memakai seragam sekolah ini.

“Kau kenapa?” Hyukjae berlutut di hadapan gadis itu.

“Tidak apa-apa..” isaknya.

“Ceritakan saja. Aku bisa menjaga rahasia..”

“Kau pasti tidak akan percaya kalau aku penyihir..”

“Aku percaya.” Hyukjae tersenyum. Gadis itu mendongak menatap Hyukjae heran.

“Kekasihku seorang penyihir juga.” Hyukjae mengusap puncak kepala gadis itu.

“Benarkah?”

“Benar.”

“Sungguh?”

“100% sungguh!”

“Aku ingin bertemu dengannya!” seru gadis itu. Hyukjae mengangguk.

“Aku akan mempertemukanmu dengannya.”

THE END

15 thoughts on “[FF] Fallen for a Witch PART 13

  1. amitokugawa says:

    wow.. endingnya tak terduga
    sangat adil..hoho, marcus memang benar
    kalau sunghee ketemu sm cewek penyihir itu bisa2 ada season 2 nya nih..hehe

  2. vidiaf says:

    omona sunbae endingnya diluar dugaan~
    aku bacanya sampe merinding + nangis :’)
    ganyangka dennis bakalan ngebangkitin semuanya dan jadi manusia lagi~
    season dua dong~ endingnya bikin penasaran ><

  3. lena says:

    aigooo mianhae chagi~a(?) >< *digampar eunhyuk :D*
    aku baru baca, maaf, maaf, maaf bangettt😥 biasa orang sibuk :p *ditendang*
    okey udahan ah curhatnya😀

    ga nyangka endingnya kaya begini. aku emang nyangkanya happy ending, tapi ga akan kebayang kaya gini. daebak :bd
    jadi itu teh semuanya jadi manusia yah?😉

  4. hyohae says:

    Sunghee, daebak! Bagus akhir ceritanya hehehe😀 tapi pas awalnya hyuk masuk ke sekolah masih rada bingung hahaha😀 tapi sekarang udh ngerti ko :-bd

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s