[FF] Fallen for a Witch PART 11

Secrets

“Terima kasih ya, Sweet. Kau mau memperagakan adegan Titanic itu denganku.”

“Bukan masalah.”

“Rasanya pasti menyenangkan ya.”

“Apa?” Sunghee tidak mengerti kemana arah pembicaraan Aiden.

“Mengetahui ibumu. Pasti rasanya menyenangkan.” Aiden bertumpu pada besi di depannya. Sunghee memperhatikan laki-laki di sampingnya ini dengan pandangan duka.

Aiden menatap lurus pada Sungai Han yang gemerlap sambil menyunggingkan seulas senyum. Senyum yang terkesan terpaksa.

“Kau pasti akan tahu siapa ibumu suatu saat nanti.” Sunghee mencoba menghibur. Aiden melebarkan senyumnya.

“Ya, kuharap begitu.” Aiden menoleh pada Sunghee dan mengacak rambut gadis itu.

Hyukjae mengalihkan pandangannya dari Aiden dan Sunghee. Ia menatap pada bagian kapal yang lain. Hyukjae mengerutkan kening ketika melihat sesosok laki-laki mencurigakan yang sedikit-sedikit melihat ke arahnya. Ia seperti pernah melihat laki-laki itu sebelumnya.

“Bodoh! Jangan sampai ketahuan!” terdengar suara Elle yang berbisik. Hyukjae menaikkan alis dan menghampiri dua orang itu.

“Permisi, apa yang bisa kulakukan untuk kalian?” sapa Hyukjae ramah. Kibum tertegun. Elle memamerkan cengirannya. Hyukjae mengangkat alis melihat mereka berdua.

“Kelihatannya kalian berdua sudah akrab,” komentar Hyukjae.

“Kami tidak seperti yang kau pikirkan. Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa. Serius.” Elle membentuk huruf v dengan jarinya.

“Well, memangnya apa yang kupikirkan? Aku kira kalian memang berteman baik. Tapi, sekarang aku merasa kalian cocok untuk menjadi pasangan. Itu bagus.” Hyukjae mengatakannya sambil melirik ke arah Kibum. Cowok itu menatapnya tidak suka.

“Kurasa kau salah paham…” ujar Elle.

“Aku harap kesalah pahamanku ini menjadi kenyataan.” Hyukjae mengedipkan mata pada Elle lalu melengos pergi setelah melirik tajam pada Kibum.

Elle menganga mendengar perkataan itu. Harapannya hancur sudah.

“Kupikir dia benar-benar tidak menyukaimu. Menyerah sajalah.” Kibum menepuk pundak Elle.

“Sial!” Elle menepis tangan Kibum dengan marah.

= = =

“Jadi, kau kemari hanya ingin membunuh Kibum. Itu saja?”

“Tentu dengan mencuri sihir Autumn. Aiden juga tidak masalah. Antara mereka berdua.” Zhou Mi tersenyum lagi. Marcus mendengus.

“Terlebih aku ingin memasukkan memori pada otak Aiden. Dia selalu berdoa agar ia mengetahui siapa ibunya. Sekarang aku akan mengabulkannya. Bagaimana?”

“Apapun asal tidak dengan Autumn-ku,” Marcus mendesis kesal. Zhou Mi mengangkat sebelah alis.

“Autumn-mu? Oh iya, aku lupa. Kau akan mengubahnya menjadi iblis, kan?  Itu tidak akan terjadi, Marcus. Aku tidak akan membiarkan gadis sepolos ia untuk menjadi iblis terkutuk sepertimu. Aku akan membunuhmu dan menyisipkan nyawanya ke tubuhnya. Ia akan menjadi normal seperti sebelumnya.”

Marcus tidak menjawab. Ia hanya menggeram marah.

“Kenapa kau diam saja, Han? Ayo kita berburu manusia serigala lagi.” Zhou Mi membentangkan sayap putihnya. Han mengangguk. Ia menepuk tangannya satu kali. Tiba-tiba dari atas, mendaratlah sesosok makhluk legenda. Naga. Naga berwarna hitam kelam itu nyaris tak terlihat di kegelapan hutan ini. Mata naga itu berwarna ungu. Tatapannya tajam. Sayap naga itu mengepak, membuat ranting pepohonan bergoyang. Marcus tidak takjub melihat naga itu. Ia juga pernah mengendarai naga sebelumnya.

“Sampai jumpa,” pamit Han sebelum menerbangkan naganya. Zhou Mi mengikuti di sampingnya. Ia beranjak pergi setelah melambai pada Marcus.

“Hati-hati dijalan.” Marcus mendengus. Suara lolongan serigala terdengar lagi. Kini Marcus tidak akan lengah. Ia harus membunuh manusia-manusia serigala itu.

= = =

Hyukjae duduk di kursi meja belajar Sungmin. Aiden sudah terlelap di ranjang. Hyukjae masih sibuk dengan buku penyihir yang dibelinya di toko buku bekas di pinggir kota. Hyukjae sudah membaca bagian manusia serigala. Cowok itu sesekali membetulkan letak kacamatanya. Ia bahkan mengangguk-angguk setelah membaca suatu bagian.

Hyukjae tertegun ketika ada bekas sobekan di sana. Halaman 234-235 tidak ada. Sepertinya disobek oleh seseorang. Hyukjae penasaran. Bagian yang tersobek adalah bagian yang menjelaskan tentang cara membangkitkan dan membunuh manusia serigala. Di halaman 233 tercantum judulnya, sedangkan caranya tidak ada. Ia lalu melihat siapa penulis buku ini. Kim Kibum.

Hyukjae langsung terperangah. Matanya membelalak lebar. Ia lalu membuka halaman biografi penulis. Tidak salah lagi, ini pasti dia, batin Hyukjae.

Lalu maksudnya apa bagian ini disobek? Apa pemilik buku ini yang terdahulu yang menyobeknya? Untuk apa?

Mata Hyukjae tiba-tiba membentur surat kabar dengan tajuk “Serigala Menyerang Kembali”. Keningnya mengkerut heran.

“Kibum pasti bukan manusia biasa.”

= = =

Marcus mengeluarkan pisau peraknya dan bersiap melemparkannya pada sesosok manusia serigala di hadapannya. Tapi, gerakan tangannya dihentikan seseorang.

“Woah woah, sabar!” seru lelaki yang menahannya. Marcus melayangkan tatapan tajamnya pada lelaki itu. Mata merahnya menyala.

Lelaki itu tersenyum. Marcus menggeram marah.

“Matthew, sepertinya kita harus menjelaskan sesuatu pada Tuan yang satu ini.”

“Well..” Manusia serigala itu ini sudah berubah wujud menjadi sesosok pria tinggi besar. Ia berjalan menghampiri dua orang lainnya.

“Namaku Jordan Kim.” Lelaki yang menahan Marcus tadi mengulurkan tangan. Marcus menepis tangan itu. Jordan mengangkat bahu. “Dia Matthew Shin.” Jordan menunjuk pada lelaki tinggi besar itu. Matthew tersenyum ramah. Marcus mendengus.

“Aku tidak tahu manusia serigala yang membunuh orang bisa seramah ini,” ujar Marcus sambil lalu. Jordan dan Matthew tampak terkejut mendengar perkataannya.

“Kami tidak membunuh orang. Kami manusia serigala baru.”

“Tapi kalian akan membunuh, kan?”

“Kami berjanji akan menjadi manusia serigala yang baik.” Matthew tersenyum. Marcus tertawa garing.

“Kalian makhluk terbodoh yang pernah kutemui. Mana ada manusia serigala yang baik?”

“Setidaknya masih ada kata ‘manusia’ pada diri kita. Bukan iblis.” Jordan mulai merasa kesal pada Marcus. Matthew menepuk pundaknya, menenangkan kawannya.

“Tapi, aku jarang melihat iblis di sekitar sini. Kau sedang apa, Tuan Iblis?” kata Matthew.

“Aku mencari manusia serigala yang membunuh adik sahabatku.”

“Ciri-cirinya seperti apa? Mungkin kami bisa membantumu menemukannya.”

“Mana mungkin aku mengingat ciri-cirinya! Aku panik sekali saat itu.” Marcus berkacak pinggang sambil mengalihkan pandangannya. Matthew dan Jordan saling tatap. Mereka lalu mengangkat bahu.

“Kejadiannya kapan?” tanya Matthew lagi.

“Kurang lebih 50 tahun yang lalu…”

“Apa?!” Matthew dan Jordan membelalak kaget.

“Pasti manusia serigala yang sudah agak tua,” gumam Matthew. “Jatah hidup kami hanya kurang lebih 100 tahun. Berarti dia masih hidup.”

“Tapi masalahnya, usia berapa dia saat membunuh adik sahabatmu itu?” tanya Jordan.

“Aku punya firasat umurnya sekitar 40 tahun,” Marcus menimbang-nimbang.

“Ya, kita akan berusaha mencarinya.” Jordan mengangguk-angguk.

Marcus hanya terdiam. Dia bisa memanfaatkan dua manusia serigala bodoh di hadapannya ini. Dia tidak perlu repot-repot membunuh semua manusia serigala, toh itu tugas Han.

“Well, baik. Silahkan lakukan semau kalian.”

“Bukannya berterima kasih,” gerutu Jordan. Matthew hanya tersenyum.

“Sudahlah, ayo kita pergi. Sampai jumpa, Tuan…”

“Marcus.”

“Tuan Marcus. Sampai jumpa!” Matthew melambai sebelum menyeret Jordan pergi. Mereka berubah menjadi serigala kembali dan berlari ke kegelapan hutan. Marcus mendengus. Sebuah senyum terukir di bibirnya.

“Manusia serigala yang baik? Apa-apaan.”

= = =

Aiden bergerak gelisah di atas tempat tidurnya. Matanya terpejam namun raut wajahnya terlihat gelisah. Keringat dingin membasahi kening hingga lehernya. Dia bermimpi buruk. Mimpi yang memberitahunya siapa ibunya.

“Viktor, aku kembali. Setelah sekian lama aku menghilang darimu. Ini…anakmu.” Aileen menyerahkan bayi laki-laki berumur satu tahun pada Viktor Leonid, ayah anak itu. Viktor terpana.

“Ini..kau menghilang karena..?” Viktor kehilangan kata-kata.

“Aku melahirkan anakmu dan merawatnya hingga umur 1 tahun. Maaf, aku tak bisa mengasuhnya lebih lama. Aku akan sering kemari dan menengoknya.”

“Siapa namanya? Kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau kau mengandung anakku?”

“Aku memberinya nama Aiden Leonid. Mirip dengan namaku,  bukan? Tidak perlu memberitahumu, kau juga tidak akan bisa bertanggung jawab. Aku sudah punya Klein dan anak pertamaku Sungmin.”

Viktor terdiam. Ia menatap bayi yang ada di gendongannya itu. Anaknya. Anaknya dengan Aileen.

“Aku merasa gagal. Semakin hari keadaan Klein semakin buruk. Aku tidak mau menyakitinya lebih jauh lagi. Aku hanya akan datang kemari sekali-kali, tapi kumohon kau jangan terlalu dekat denganku,” pinta Aileen.

“Aku mengerti. Aku memang tidak bisa memilikimu.”

“Maaf, aku harus pergi. Jaga Aiden baik-baik.” Aileen mengecup kening Aiden sebelum berjalan pergi. Viktor menatap kepergian wanita yang dicintainya dengan tatapan sayu.

“Tentu saja aku akan menjaga anak ini.”

Aiden terbangun dengan napas tersengal-sengal. Itu mimpi terburuk yang pernah ia alami. Apa benar ibunya adalah Aileen? Ibu Sungmin dan Sunghee? Itu berarti…mereka bertiga bersaudara?

Tidak, ini tidak mungkin, batin Aiden. Ia menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin.

“Waeyo (kenapa)?” gumam Hyukjae yang terbangun. Aiden menoleh sambil mengerutkan kening.

“Aku tidak apa-apa…” bisik Aiden, seakan mengerti apa yang Hyukjae ucapkan. “Hanya mimpi buruk.”

“Oh, kau mengganggu. Aku baru sampai pada bagian yang seru..” Hyukjae bergumam tidak jelas dan kembali melanjutkan tidurnya. Aiden lalu membaringkan tubuhnya di samping Hyukjae. Matanya masih terbuka lebar. Ia mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal.

“Itu hanya mimpi. Itu hanya mimpi. Itu hanya mimpi.” Aiden berulang kali membisikkan kata-kata itu pada dirinya sendiri. Ia lalu memejamkan matanya kembali. Mimpi itu pun datang kembali.

Aileen membuka laci meja kerjanya dan membuka sebuah buku diary. Ia lalu menulis di dalamnya.

‘Hari ini, aku sudah memberikan Aiden pada Viktor. Sekarang, aku bisa kembali ke Korea bersama keluargaku. Kebohonganku akan terselesaikan.’

Aileen memasukkan buku itu ke dalam tas.

Aiden terbangun lagi. Kali ini ia hanya membuka matanya. Buku diary Aileen. Ia harus menemukannya. Tapi dimana disimpannya?

Aiden menuruni tempat tidur dengan perlahan-lahan. Matanya mengarah pada Hyukjae yang masih asyik bermimpi. Setelah dirasanya pemuda itu takkan terbangun, ia lalu bergegas membuka laci meja belajar Sungmin. Tidak ada  buku diary yang dimaksud. Ia keluar dari kamar dan melangkah ke kamar tamu. Marcus tidak ada di rumah. Ia lalu masuk ke sana dan mencari buku tersebut. Tetap tidak ada. Aiden heran, kemana kamar orang tuanya? Kenapa tidak ada?

Aiden keluar dari kamar tamu dan melirik ke arah kamar Sunghee. Kamar itu tertutup rapat. Ia tidak mau mengganggu orang yang sedang tidur di sana dan memutuskan untuk turun ke bawah. Jeremy yang tidak tertidur menatapnya heran.

“Insomnia?” tanya Jeremy. Aiden hanya mengangkat alis.

“Aku haus.” Aiden mengambil gelas dan mengisinya dengan air. Matanya menjelajah ruangan, mencari pintu lain. Ada. Dekat tangga, terdapat pintu kayu yang sudah tua. Aiden mengernyit. Rasanya kemarin ia tidak melihat pintu itu.

“Marcus kemana?” tanya Aiden. Jeremy mengangkat bahu. TV di hadapannya menampilkan acara musik. Aiden meletakkan gelasnya di mini bar dan berjalan ke arah Jeremy.

“Biarkan saja dia melakukan apa yang ia inginkan. Aku tidak mau pusing-pusing memikirkannya,” ujar Jeremy acuh.

“Aku khawatir terjadi apa-apa dengannya.”

“Tidak akan. Dia iblis.”

“Baiklah..” Aiden berpikir keras bagaimana caranya mengusir Jeremy dari sini. Ia takut Jeremy menanyainya macam-macam bila ia mencoba masuk ke ruangan di balik pintu tua itu.

“Jeremy, bisa aku minta tolong?”

“Apa?”

“Ehm…aku benar-benar khawatir tentang Marcus…dia sedang berburu manusia serigala, kan?”

“Hah? Darimana kau tahu?” Jeremy menatapnya heran.

“Aku membaca koran hari ini. Ada gadis yang tewas diserang serigala, bukan? Kurasa Marcus memburu serigala itu.”

Jeremy mengernyit heran. Kenapa Aiden bisa tahu banyak? batinnya.

“Well, aku tidak tahu kau merencanakan apa, tapi..baiklah. Aku pergi.” Jeremy mematikan TV dan melangkah keluar rumah. Aiden memperhatikan hingga Jeremy menutup pintu. Ia pun bergegas menghampiri pintu tua itu. Ia memantapkan hatinya dan membuka handle pintu. Ternyata pintu itu tidak terkunci. Ia melangkah masuk dan mendapati sebuah kamar yang luas. Sebuah kasur besar berdiri tegap di tengah ruangan. Ruangan ini masih bersih. Seperti tidak pernah ditinggalkan pemiliknya.

Aiden menggeledah kamar itu. Ia tertegun ketika menemukan diary Aileen di laci kerjanya. Aiden duduk di kursi meja kerja dan membuka diary itu perlahan. Ia membaca sekilas hingga menemukan tulisan yang sama persis dengan yang ada di mimpinya. Aiden terperangah. Jantungnya berdegup kencang. Benarkah Aileen adalah ibunya?

Aiden membuka halaman berikutnya. Lelaki itu membaca tulisan yang tertera di sana. Air matanya tak kuasa untuk ditahannya. Air matanya mengalir perlahan.

‘Untuk Aiden, anakku tersayang. Aku yakin kau pasti menemukan diary ini suatu saat nanti. Tolong, jangan beritahu siapapun bahwa kau adalah anakku. Jangan beritahu Sungmin dan Sunghee. Aku takut mereka membencimu. Aku takut mereka tidak menginginkanmu.

Maafkan aku, Aiden. Maafkan ibu.

Aku tidak bisa memberikan kasih sayangku layaknya seorang ibu padamu. Aku hanya bisa mengunjungimu sesekali. Hatiku sakit saat kau tak tahu wanita yang ada di hadapanmu saat itu adalah ibumu. Tapi, apa daya? Aku tidak bisa memberitahunya.

Kau pasti ingin mengetahui siapa ibumu. Maka dari itu, aku tulis pengakuan ini di diary-ku. Mungkin malaikat akan memberikan mimpi tentang kehidupanku padamu. Agar kau tahu siapa yang melahirkanmu.

Maaf. Tumbuhlah dengan baik. Jagalah Sungmin dan Sunghee, saudara-saudarimu.

Aileen.’

Aiden menangis. Ia tidak menyangka akan seperti ini. Pantas saja ia merasa ada ikatan batin antara dia dan Sunghee. Terkadang ia merasa sangat dekat dengan Sungmin. Mereka bersaudara. Hanya berbeda ayah.

Jadi begitu, batin Aiden. Kehadiranku tidak diinginkan. Kehadiranku mengacaukan segala hal. Untuk apa aku hidup jika aku tidak diinginkan?

Aiden melihat sebuah foto keluarga yang terpajang di sana. Hanya berempat, tidak ada dirinya.

Aiden meletakkan buku itu pada tempatnya dan mengusap air matanya. Ia bergegas keluar dari kamar itu dan menutup pintunya rapat. Ia lalu kembali ke kamarnya. Ia terduduk di tepi tempat tidur. Masih merenung.

“Kau terbangun lagi?” suara serak Hyukjae terdengar.

“Hm,” Aiden hanya bergumam, tidak mau memperdengarkan suaranya yang juga serak karena menangis.

“Kau baik-baik saja?” Hyukjae mengadapkan tubuhnya pada Aiden. Ia menatap Aiden dengan mata yang menyipit. Mau tak mau Aiden tersenyum melihat tampang Hyukjae yang baru bangun tidur.

“Ya.” Aiden menaiki tempat tidur dan bersandar pada sandaran kasurnya. Hyukjae heran melihat wajah Aiden yang murung. Hyukjae bangun dan duduk menghadap Aiden. Ia mengusap wajahnya lalu menatap Aiden. Yang ditatap malah menundukkan kepalanya. Aiden ingin menangis lagi. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.

“Kenapa?” tanya Hyukjae. Agak khawatir juga melihat Aiden yang tiba-tiba murung. Aiden hanya menggeleng pelan. Ia semakin ingin menangis jika masih ada yang khawatir padanya.

Lama-lama air mata Aiden tumpah. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia membenci dirinya yang mudah menangis. Ia membenci dirinya yang tidak diinginkan. Ia membenci dirinya yang hidup. Kenapa harus hidup jika tidak diinginkan? Kenapa repot-repot bernapas kalau tidak ada yang menginginkan napas ini? Kenapa hidupnya selalu tersiksa?

Hyukjae terkejut melihat Aiden yang menangis di hadapannya.

“Kalau menangis bisa meringankan perasaanmu, menangislah. Kalau kau punya masalah, ceritalah. Aku bisa jaga rahasia.”

Tapi Hyukjae tidak mungkin menjaga rahasia ini. Aiden adalah kakak dari gadis yang dicintai Hyukjae. Hyukjae pasti tidak akan percaya. Dia pasti akan berkata Aiden sedang berbohong.

Maka dari itu, Aiden hanya diam dan mencoba menghapus air matanya. Hyukjae menatapnya sedih. Hyukjae tidak bertanya macam-macam. Ia hanya menemani Aiden hingga cowok itu merasa lebih baik.

“Hyukjae, tolong kau lupakan kejadian ini. Anggap aku baik-baik saja.”

“Aku tidak bisa. Aku tidak mau. Kau tidak baik-baik saja dan aku tidak mau berpura-pura kau baik-baik saja.”

“Setidaknya jangan beritahu orang lain.”

“Iya, tentu saja. Sudah baikan?” tanya Hyukjae. Aiden diam. Ia menatap ke arah lain. Baik? Dia tidak pernah merasa baik sebelumnya. Kecuali saat bersama Sunghee tadi, saat berburu jajanan bersama teman-teman barunya, saat….

Aiden tidak mau mengingatnya lebih jauh. Ia takut air matanya turun.

= = =

Sunghee meletakan sepatunya ke rak di dekat pintu rumah. Ia tertegun melihat tumpukan amplop surat yang tertata rapi di pojokan. Ia baru menyadari keberadaan surat-surat itu. Ia mengambilnya dan membacanya di ruang tengah. Semuanya surat dari Kibum.

“Sunghee, aku merindukanmu. Kapan kau kembali ke Korea?”

“Saranghaeyo, Lee Sunghee.”

“Ich liebe dich.”

“I love you.”

“Aku ingin bertemu denganmu…”

Semuanya berisi tentang perasaan Kibum terhadapnya. Sunghee menghela napas berat. Ternyata Kibum benar-benar mencintainya. Sejak mereka masih berumur 5 tahun dan hingga sekarang. Sunghee terharu dengan perasaan Kibum terhadapnya, tapi dia tidak bisa mengkhianati Hyukjae. Lelaki itulah yang menjadi pendamping hidupnya, bukan Kibum.

“Sedang apa?” tanya Hyukjae.

“Membaca surat. Dari Kim Kibum.” Mendengar nama itu, raut wajah Hyukjae berubah.

“Apa isinya?”

“Kau baca saja.” Hyukjae pun mengambil beberapa surat dan membacanya. Dalam hati ia cemburu.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Hyukjae.

“Kibum baik, tapi aku hanya sebatas menyukainya saja. Aku mencintaimu, Hyukjae.” Sunghee menoleh pada Hyukjae dan tersenyum manis. Hyukjae membalas senyumnya.

= = =

“Bagaimana? Kalian bertemu Marcus?” tanya Kibum pada dua orang di hadapannya.

“Ya. Tapi..” Jordan menggantung kalimatnya.

“Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada iblis itu. Apa dia tidak mengerti apapun tentang kami, kaum manusia serigala?” Matthew melanjutkan kata-kata Jordan. Kibum tersenyum.

“Kurasa tidak.” Kibum memainkan selembar kertas di tangannya. Ia melipat-lipatnya sedemikian rupa, lalu membukanya kembali. Jordan dan Matthew memfokuskan pandangan mereka pada kertas tersebut.

“Kalian tahu apa yang tertulis di kertas ini?” Kibum mengapit kertas yang ia lipat dengan jari telunjuk dan jari tengah. Jordan dan Matthew menggeleng.

“Ini cara untuk membunuh kalian.” Kibum tersenyum setengah. Wajah Jordan dan Matthew memucat. Mereka berpandangan.

“Kalian mau kuberi tugas lagi?” ucap Kibum sambil melihat ke arah perapian. Matanya yang berwarna cokelat tua berkilauan terpantul cahaya api.

“Apapun demi Anda, Tuan.”

“Awasi gerak-gerik Hyukjae. Kau tahu dia siapa, kan?” Kibum menunjukkan foto Hyukjae pada mereka. Jordan dan Matthew mengangguk. Kibum tersenyum dan berjalan menuju perapian. Ia melemparkan foto itu pada api yang menyala.

“Selamat tinggal.” Foto itu perlahan berubah menjadi serpihan abu.

= = =

Hari ini rumah sedang kosong. Sungmin dan Sunghee mengunjungi kerabat mereka yang sudah lama tidak mereka kunjungi. Marcus dan Jeremy masih menghilang sejak kemarin. Hyukjae penasaran kemana mereka pergi. Aiden berjalan-jalan sendirian ke Sungai Han. Hyukjae sempat menawarkan diri untuk menemaninya, kalau-kalau Aiden tidak tahu jalan. Tapi, Aiden menolak. Mungkin ia butuh waktu sendiri, pikir Hyukjae saat itu.

Hyukjae masih penasaran dengan sobekan kertas itu. Kira-kira dimana adanya? Apa mungkin di rumah ini terdapat sobekan kertasnya? Aku tidak akan tahu jika kau belum mencarinya, pikir Hyukjae. Ia lalu menggeledah setiap ruangan. Mulai dari kamar Sungmin, kamar Sunghee, kamar tamu, ruang TV, dapur, semua digeledah olehnya. Namun, hasilnya nihil. Sampai tiba-tiba matanya menubruk sebuah pintu kayu tua yang terdapat di dekat tangga. Cowok itu tertegun. Rasanya ia baru melihat pintu itu sebelumnya.

Mengingat keadaan rumah sedang sepi, Hyukjae memutuskan untuk memasuki ruangan itu. Tidak dikunci, untungnya. Hyukjae terpukau ketika melihat sebuah ruangan indah yang ada di balik pintu kayu tua itu. Ini pasti kamar orangtua Sunghee.

Mata Hyukjae langsung tertuju pada meja kerja di sana. Ada sebuah foto keluarga. Terlihat seorang lelaki yang sangat tampan sedang merangkul pundak seorang wanita cantik. Di sebelah wanita yang sedang duduk itu berdiri sesosok anak laki-laki yang lucu. Di pangkuan wanita itu duduklah seorang anak perempuan yang usianya berkisar antara 5-6 tahun. Mereka semua tersenyum gembira. Anak perempuan itu mengalungkan tangannya pada leher ibunya.

Itu Sunghee, dan anak laki-laki itu Sungmin. Wanita itu pasti Aileen. Lelaki yang tampan itu sudah pasti Klein Reinhart. Hyukjae menghela napas. Keluarga yang sangat harmonis. Tapi, sekarang keluarga itu sudah…

Memang tidak ada yang abadi, batin Hyukjae. Ia lalu membuka laci yang ada di hadapannya dan tertegun. Ada sebuah buku diary di sana. Hyukjae mengambilnya dan mengamatinya sekilas. Perlahan ia membukanya. Banyak tata cara membunuh dan membangkitkan makhluk-makhluk yang Hyukjae kira hanya ada di dalam novel fiksi. Ada cara membunuh iblis, membunuh vampire, dan yang Hyukjae butuhkan sekarang adalah cara membangkitkan dan membunuh manusia serigala. Semuanya lengkap di sana.

“Hm? Apa ini?” Hyukjae melihat sebuah kelopak bunga mawar ungu terselip di halaman buku-buku itu. Ia membuka halaman tempat kelopak bunga itu berada. Ada tulisan di sana. Hyukjae pun membacanya. Baru kalimat pertama, Hyukjae sudah terbelalak kaget.

“Untuk Aiden, anakku tersayang…? Jadi Aiden itu…” Hyukjae mengerti kenapa Aiden menangis. Ia betul-betul mengerti. Ia sekarang tahu masalahnya. Hyukjae menatap foto keluarga tersebut. Aiden pasti merasa terluka. Di foto itu tidak ada dirinya. Hyukjae menghela napas berat, ia mengerti bagaimana rasanya tidak dianggap.

“Aku harus melakukan sesuatu untuknya. Tapi, apa?” Hyukjae berpikir keras.

“Ah! Aku tahu!” serunya senang.

Di luar jendela, dua sosok bayangan memperhatikannya.

= = =

Hyukjae meraih ponselnya dan menelepon Sunghee. Pada dering ke 4, gadis itu menjawab teleponnya.

Yobosaeyo?

“Sunghee! Kau dimana?”

“Aku dan Sungmin Oppa masih berbelanja makanan untuk makan malam nanti. Kenapa?”

“Masih lama? Belanja dimana?”

“Kami sedang mengantri di kasir. Di SW Supermarket.”

“Aku akan kesana.”

“Mau apa?” Sunghee terdengar heran.

“Tunggu nanti ya.” Hyukjae mematikan sambungan telepon dan meraih kamera digital.

= = =

“Marcus, sebaiknya kau pulang dulu dan membersihkan tubuhmu. Lihat, kau sudah tampak seperti pengangguran putus asa.” Jeremy berkata sambil melipat tangannya di depan dada. Marcus mendengus.

“Mau apa kau ke sini? Pergilah! Kau tidak ada urusan apapun denganku.” Marcus menegakkan tubuhnya yang tadinya bersandar ke pohon.

“Aiden yang menyuruhku kemari.”

“Aiden? Bagaimana keadaannya?” Marcus akhirnya menoleh pada Jeremy. Jeremy menaikkan kedua alis.

“Kelihatan kurang baik. Aku tahu ada sesuatu yang dipendamnya. Apa malaikat itu sudah memberitau siapa ibu Aiden?”

“Kurasa sudah.” Marcus menghela napas. Ia lalu menyandar pada batang pohon besar itu kembali.

“Kenapa kau ada di sini? Masih berburu manusia serigala?”

“Tidak…ehm ya…ah aku tidak tahu.”

“Kau terlihat sangat kusut akhir-akhir ini. Aku tahu mungkin itu karena manusia serigala yang mulai menyerang dan Kibum yang membangkitkan mereka, tapi setidaknya kau lihat dirimu. Sangat-sangat kusut. Amanda tidak akan senang melihatmu seperti ini.” Mendengar nama Amanda disebut, Marcus membelalak.

“Jangan pernah sebut namanya lagi di hadapanku!” desisnya marah. “Pengkhianat.” Marcus membuang muka dengan kesal. Jeremy mengerti.

“Oke. Aku tidak akan sebut namanya lagi.”

= = =

“Ada apa sih?” Sunghee heran melihat Hyukjae menenteng kamera dengan bersemangat.

“Ayo kita foto-foto di Sungai Han, dengan Aiden juga. Dia sedang galau, jalan-jalan sendirian di Sungai Han. Ayo!” Hyukjae menarik tangan Sunghee ke mobil. Sungmin sudah selesai memasukkan barang-barang belanjaan ke bagasi dan menutup pintunya. Ia lalu bergegas masuk ke dalam mobil.

Di Sungai Han, tidak terlihat sosok Aiden. Hyukjae mengendarai mobil Sungmin ke taman tempat pertunjukan air mancur. Bingo, Aiden tampak sedang duduk sendirian di tepi air mancur. Aiden memandang air mancur itu dengan tatapan sedih. Sungmin dan Sunghee heran melihat Aiden sedih seperti itu, namun Hyukjae tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertanya.

“Aiden!” panggil Hyukjae. Yang dipanggil menoleh dengan tatapan heran. Ia agak sedikit terkejut melihat Sungmin dan Sunghee.

“Nice pose!” Hyukjae langsung memotret Aiden yang kebingungan. Aiden tersentak dan bergegas berdiri.

“Apa-apaan?! Hapus fotonya!” Aiden berlari ke arah Hyukjae dan berusaha merebut kamera di tangan Hyukjae. Hyukjae tertawa.

“Tidak sebelum kita foto-foto dulu. Bagaimana?”

“Siapa yang mau memfoto?” tanya Sungmin.

“Aku saja. Kalian bertiga coba berdiri di depan air mancur itu.” Mereka bertiga berpandangan tidak mengerti.

“Ayolah..” Hyukjae memohon. Sungmin akhirnya tersenyum.

“Oke! Ayo kita berfoto!” Sungmin menggandeng Aiden dan Sunghee lalu menyeret mereka berdua ke depan air mancur. Ia lalu merangkul keduanya dan tersenyum. Jarinya membentuk huruf V. Aiden dan Sunghee berpandangan.

“Well, tidak ada salahnya kita berfoto. Untuk kenang-kenangan.” Sunghee tersenyum dan memiringkan kepalanya ke arah Sungmin. Aiden terpana. Ia lalu membentuk huruf V dengan jari tangan kanannya.

“Say kimchi!” seru Hyukjae.

“KIMCHI!” Suara kamera pun terdengar, memberitahu bahwa gambar telah diambil. Hyukjae melihatnya sekilas dan mengacungkan jempol.

“Siip..lagi ya!”

Awalnya Aiden canggung difoto bersama dua saudara tirinya. Tapi, lama-kelamaan ia merasa senang. Ia jarang sekali difoto. Apalagi bersama orang-orang yang dicintainya.

Aiden tertawa. Lepas. Hyukjae dan Sungmin tak henti bercanda. Sungee tertawa lepas sambil menyentuh pundak Aiden, refleks. Aiden menoleh ke arah Sunghee dan kembali tertawa. Ini dia yang dia inginkan. Kedekatan bersama orang-orang yang disayanginya.

“Sekarang Hyukjae dan Sunghee foto berdua!” seru Aiden. Ia mendorong Hyukjae ke arah Sunghee. Aiden mengambil alih kamera di tangannya dan bersiap memotret mereka. Hyukjae berdiri di samping Sunghee dan mereka berdua membuat bentuk hati di atas kepala mereka. Kejadian itupun sudah diabadikan.

Sungmin dan Sunghee sedang pergi membeli minuman ketika Hyukjae berjalan ke arah Aiden dan memberikan foto-foto hasil jepretan kamera Polaroid tadi. Aiden menerimanya dengan tersenyum senang.

“Boleh aku menyimpannya?” tanya Aiden dengan mata berbinar.

“Kenapa tidak?” Hyukjae tersenyum.

“Terima kasih.”

= = =

Kibum memutar-mutar kursi nyamannya sambil memejamkan mata. Jordan dan Matthew menunduk dalam.

“Aku sudah bekerja sama dengan Zhou Mi, dan kalian harus membantuku.”

“Apapun, Tuan,” ucap Jordan dan Matthew pelan, nyaris berbisik.

“Culik Lee Sunghee, bawa dia ke hutan. Zhou Mi akan menunggu di sana, dan kita akan mengambil sihirnya.”

“Berarti dia akan mati..” bisik Matthew.

“Tentu. Sangat disesalkan dia sudah punya lelaki lain. Aku dengan berat hati harus membunuhnya karena dia tidak menerima cintaku.”

“Baik..”

“Lalu, bagaimana dengan Hyukjae? Dia masih membaca bukuku?”

“Kelihatannya seperti itu. Hanya saja, kemarin kami memergokinya membaca buku diary seseorang.”

“Begitu..”

To be continued

16 thoughts on “[FF] Fallen for a Witch PART 11

  1. Rabbitpuding says:

    nisaaaaa, fay di situ keuren bangettttz *gaknyambung

    tbc wae iiiih… bikin ff baru ya nis! *usul tapi yang oneshoot

    aku suka yang ada iblis iblisnya huehehehe. lanjuuuuut

  2. amitokugawa says:

    wahhh..part ini makin seru

    eaaa..aiden galau
    sabar ya aiden..
    tapi aku kebayang lo adegan foto2 itu, pasti keren deh

    ternyata jordan n matthew kerja sama dgn kibum ya..ckckck

    lanjuuuttt

    • sungheedaebak says:

      I feel sorry for Aiden T_T gatau kenapa ya dia dibikin karakter galau dan merana gitu haduh Aiden maap banget ya
      ah iya aku juga paling seneng adegan foto2. Hyuknya so sweet😄
      siap dilanjuuut

  3. vidiaf says:

    sunbae, disini Aiden galaunya parah ._.
    ga kebayang Marcus pengangguran putus asa :)) abis di pecat (?)
    ternyata Kibum kerjasama dengan Zhou Mi ._. wow…
    lanjuuuuuuuutt😄

  4. Lena says:

    aaaaah >< mian baru baca nisaaaaa, dimaafin ga? *kalo engga, aku gantung si kunyuk* xD
    eh kibum tuh jahat?
    zhoumi baik kan? dia teh malaikat kan?
    aku kurang ke fikiran gimana latar tempat hutan, ruang eksperimen(?), dll. kecuali rumah sunghee sama sungai han itu lumayan kebayang. hehehe
    donghae oh donghae malangnya dirimu sini aku peluk *peluk aiden* #ngayal xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s