[FF] Sacrifice

Casts: Lee Donghae x Kang Hyojoon, Lee Hyukjae

Rating: T

Genre: Romance, Fluff

= = =

Matahari sudah bersiap-siap untuk tenggelam. Mempersilahkan bulan untuk mengambil alih tugasnya menyinari bumi. Langit yang tadinya berwarna biru cerah kini berganti warna menjadi oranye. Lembayung senja membuat Lee Donghae harus memakai kacamata hitamnya. Cahaya lembayung kurang bagus untuk mata. Di pantai itu, Donghae berdiri tegap menghadap lautan. Donghae senang berada di pantai, dekat laut, dekat dengan dirinya. Arti namanya sendiri adalah laut. Makanya, Donghae tidak segan-segan menghabiskan waktu 3 jam di pantai, untuk menunggu sunset.

“Donghae-ssi! Kau datang lagi kemari?” tanya seorang gadis. Donghae menoleh. Ketika tahu siapa yang datang, senyumnya melebar.

“Ya, Hyojoon-ssi. Aku baru pulang dari pantai sekitar jam enam. Ada apa?”

“Aniyo..” Hyojoon kelihatan kesulitan menghampiri Donghae. Kakinya yang telanjang berkali-kali masuk ke dalam tumpukan pasir, membuat jalannya menjadi limbung. Donghae menghampirinya dan menangkap tangannya. Ia lalu membimbing gadis itu menuju tepi pantai. Air laut menyapa kaki mereka.

“Ah, ini dingin!” ujar Hyojoon. Donghae terkekeh.

“Memang. Tapi, kau bisa merasakan sensasi yang berbeda, bukan? Kedinginan, kegelapan, tapi ada keindahan di dalamnya.”

“Ya..” desah Hyojoon takjub dengan pemandangan di hadapannya. Sunset. Jarang sekali ia melihat sunset di tepi pantai seperti ini.

“Hyojoon-ah, aku ingin meminta satu hal.”

“Apa?” Hyojoon sibuk memainkan kakinya yang kedinginan.

“Panggil aku Oppa.”

“Ne?” Hyojoon mengalihkan pandangannya pada Donghae. Cowok itu menatapnya serius. Hyojoon tertawa kecil.

“Waeyo? Kenapa tiba-tiba? Biasanya kau baik-baik saja kupanggil dengan embel-embel ssi.”

“Kau harus mengorbankan embel-embel ssi itu untuk memanggilku Oppa. Arasseo?”

“Hahahaha ne, arasseo, Songsaengnim.” Hyojoon tertawa. Donghae cemberut.

“Aku bilang Oppa, bukan Songsaengnim!”

“Arasseo, Oppa! Aigo kau ini..” Hyojoon menertawakan kepolosan Donghae dan kembali menatap ke arah lautan yang mulai gelap. Warnanya mulai kehitaman.

“Oppa, ayo pulang. Di sini dingin sekali.”

“Ah, kau ini.” Donghae menarik Hyojoon ke pelukannya. “Masih dingin?”

“Oppa…lepaskan..”

“Tidak mau.” Donghae malah mempererat pelukannya. Hyojoon akhirnya membalas pelukan cowok itu. Sebuah senyum terukir di bibirnya.

“Kau ini kenapa sih, Oppa? Hari ini aneh sekali.”

“Hyojoon-ah…”

“Ne, Oppa?”

“Hyojoon-ah…”

“Apa?” Hyojoon mulai gemas dengan tingkah kekasihnya ini.

“Saranghaeyo..” bisik Donghae lirih. Jantung Hyojoon berdegup kencang. Ia yakin Donghae pasti bisa merasakan detak jantungnya karena mereka masih dalam posisi berpelukan erat.

“Na ddo saranghae..”

“Mianhae..” Donghae melepaskan pelukannya.

“Waeyo?” Hyojoon mendongak menatap kekasihnya. Wajah Donghae terlihat sedih.

“Aku…aku harus…” Donghae menarik napas panjang. Hyojoon dengan sabar menunggu.

“Aku harus pergi ke Jerman. Aku akan melanjutkan studiku di sana.”

“Ah…” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Hyojoon. Sungguh, perkataan itu menohok jantung Hyojoon. Lalu bagaimana nasib hubungan mereka yang belum genap satu tahun itu?

“Aku tidak yakin sanggup melakukan long distance relationship.” Donghae berkata dengan sedih.

“Aku mengerti. Aku juga merasa tidak sanggup..”

“Tapi…apa kau merelakan aku pergi?”

“Asalkan kau kembali.” Hyojoon meraih kedua tangan Donghae dan menggenggamnya erat.

“Aku janji akan kembali.”

“Oppa..” lirih Hyojoon. Ia lalu melepaskan genggaman tangannya dan memeluk Donghae erat. “Terkadang, kau harus melepaskan genggaman tanganmu untuk memeluk orang itu. Kau harus mengorbankan sesuatu demi sesuatu yang lebih.”

Donghae terdiam. Ia seakan sedang memikirkan kata-kata Hyojoon.

“Kuliah di luar negeri memang sudah menjadi cita-citamu sejak lama, bukan?” Donghae mengangguk. Hyojoon membentuk sebuah senyum dengan bibirnya.

“Kalau begitu kejarlah. Jangan pikirkan hal lain, seriuslah dengan cita-citamu dahulu. Ini demi masa depanmu.”

“Kau berjanji akan menungguku?”

“Ya. Tentu saja.”

“Terima kasih. Saranghaeyo.”

“Na ddo saranghae, nae namjachingu.”

= = =

Satu tahun sudah Donghae pergi menuntut ilmu ke negeri yang jauh. Hyojoon sendiri menuntut ilmu di universitas terbaik di Korea. Nilai-nilainya selalu cemerlang. Ia tidak mau kalah dengan Donghae yang bisa sekolah di luar negeri. Ia juga bisa mendapatkan nilai yang tak kalah bagusnya.

Hyojoon meregangkan tangannya. Ia lalu menghela napas lelah. Kuliah hari ini padat sekali. Dari pagi sampai sore menjelang. Ia malas pulang, di rumah tidak ada orang. Orang tuanya pergi ke Daegu, ayahnya dipindah tugaskan ke sana. Hyojoon tidak boleh ikut, tentu saja karena kuliahnya.

“Mungkin sebaiknya aku mampir pada dongsaengku dulu,” gumamnya pada diri sendiri. Ia berdiri di halte bus dan menunggu bus berikutnya.

Hyojoon sampai di sebuah tempat trainee. Adik kelasnya, yang sudah ia anggap seperti adik sendiri, memang sedang menjadi trainee di sana. Hyojoon sering mengunjungi tempat ini, itulah kenapa ia kenal beberapa orang di sana.

“Unnie!” sapa Sunghee, adik kelasnya. Gadis itu sedang terduduk di ruang latihan sambil memijat-mijat kakinya. Hyojoon tersenyum membalas sapaannya.

“Hey, Hyojoon!” sapa Hyukjae, koreografer. Hyukjae juga teman sekampusnya. Hyojoon melambai pada Hyukjae.

“Kenapa kakimu?” tanya Hyojoon. Sunghee meringis.

“Terkilir. Hehe.”

“Dasar. Makanya hati-hati!”

“Salahkan Hyukjae Oppa! Dia membuat gerakan yang membuat kakiku terkilir!” seru Sunghee sambil menunjuk Hyukjae yang sedang mengajari trainee lain.

“Heh! Salah siapa?! Aku hanya menyuruh kau menggerakkan kakimu, tapi kau malah memelintirnya sedemikian rupa sampai kakimu terkilir!” Hyukjae tidak terima.

“Memangnya kakiku cucian? Dipelintir segala! Pokoknya aku tidak terima! Kau harus tanggung jawab karena telah membuat kakiku terkilir!”

“Oke!” Hyukjae berseru kesal dan duduk di hadapan Sunghee. Ia mengulurkan tangannya dan memijat kaki Sunghee yang terkilir. Sunghee yang kesakitan berteriak-teriak dan refleks memukul kepala Hyukjae.

“Aduh kau ini! Aku sudah berbaik hati mau memijitmu!”

“Tapi jangan keras-keras juga, pabo!”

“Begini salah, begitu salah, maunya apa?”

“Aduh kalian ini bertengkar terus..” ujar Hyojoon yang bosan melihat tingkah laku dua orang  sahabatnya ini.

“Huh!” Sunghee mendengus.

“Cih!” Hyukjae melengos.

“Kalian ini bersyukurlah kalau kalian dekat. Setidaknya kalian tidak LDR.”

“Oh ya, Donghae Oppa kapan kembali?”

“Dua tahun lagi. Lama ya?”

“Kau masih berhubungan dengannya?” Sunghee mulai serius. Hyojoon terdiam. Dia sendiri bingung. Tidak ada kata ‘putus’ terucap dari bibir mereka berdua. Tak ada kepastian pula hubungan mereka masih berlanjut.

“Entahlah..”

“Kenapa kau kuat menghadapi ini? Kalau aku jadi kau mungkin aku sudah mencari cowok lain.”

“Aku mendengarmu, Sunghee! Namjachingumu ada di sini!” seru Hyukjae sambil lalu. Sunghee mendengus, tapi seulas senyum terukir di bibirnya. Hyojoon sedikit iri melihatnya. Mereka bisa bersama setiap saat, namun waktu mereka malah dipergunakan untuk bertengkar.

“Aku berjanji akan menunggunya. Dan, dia juga berjanji untuk pulang.”

“Bagaimana kalau di sana ia bertemu gadis yang lebih cantik?”

“Kenapa kau malah menakut-nakutiku?!” Hyojoon kesal. Sunghee terkekeh.

“Maaf, maaf. Aku percaya pada Donghae Oppa. Dia orangnya sangat setia.”

“Ehm..kudengar kau pernah mengalami LDR?”

“Ya pernah sekali. Itu waktu aku kelas 3 SMA.”

“Bagaimana hasilnya?”

“Kami putus.” Sunghee tersenyum. Hyojoon tertegun.

“Kenapa bisa?”

“Yah…kami bertemu dengan seseorang yang lebih baik..” Sunghee mengusap belakang kepalanya salah tingkah. Hyojoon terdiam. Bagaimana jika itu terjadi padanya juga?

“Tapi aku salut padamu, Unnie. Kau merelakan Donghae Oppa untuk pergi belajar ke luar negeri. Kau berjanji untuk menunggunya. Kurasa itu hebat.”

Hyojoon hanya tersenyum.

= = =

Hyojoon bersiap tidur ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Dengan malas-malasan, ia meraih ponselnya yang diletakkan di samping bantal. Ia melihat nomor yang meneleponnya. Ia terkejut ketika melihat nomor Donghae di layar. Segera ia menjawab telepon tersebut.

“Yo..yobosaeyo?” sapa Hyojoon gugup.

Hyojoon-ah? Jagiya?” Suara yang dirindukannya! Suara Lee Donghae!

“Ne, Oppa? Tumben kau menelepon.”

“Aigoo…aku merasa bersalah sudah jarang menelepon. Kalau kau ada di posisiku pasti kau mengerti. Menelepon ke luar negeri itu mahal sekali. Uangku pas-pasan. Hehehe.”

“Hahaha. Bagaimana kabar Oppa? Sehat, kan?”

“Iya. Kau juga, kan?”

“Iya aku baik-baik saja.”

“Hyojoon-ah aku kangen..”

“Aku juga, Oppa. Ayo cepat pulang..” kata Hyojoon dengan nada manja. Donghae terkekeh mendengar suara kekasihnya itu. Hanya pada dia saja Hyoyoon bermanja-manja.

“Sabar ya, Hyojoon-ku sayang. Masih ada 2 tahun lagi sebelum lulus. Nanti kalau liburan aku ada waktu dan punya uang lebih, aku akan mengunjungimu ke sana. Arachi?”

“Ne!”

“Oke, waktu meneleponku sudah habis. Saranghaeyo.”

“Na ddo saranghae..” Tuut. Tuuut. Telepon terputus begitu saja. Hyojoon tersenyum senang. Ia yakin malam ini ia akan mimpi indah.

= = =

Waktu tiga tahun yang berasa tiga abad bagi Hyojoon akirnya tiba. Donghae akan pulang hari ini, maka ia bersiap menjemputnya di bandara. Hyojoon ditemani Sunghee dan Hyukjae. Mereka menunggu sekitar setengah jam hingga pesawat Donghae benar-benar tiba di bandara. Wajah Hyojoon cerah mengetahui Donghae sampai dengan selamat.

Menunggu beberapa menit, akhirnya Donghae terlihat menarik sebuah koper besar. Penampilannya menjadi jauh lebih tampan dari yang sebelumnya. Sunghee dan Hyukjae nyaris tidak mengenali siapa pria itu. Berbeda dengan Hyojoon, ia kenal betul siapa lelaki itu.

Donghae langsung menghampiri Hyojoon. Cowok itu langsung menarik Hyojoon ke pelukannya.

“Aku sangat merindukanmu..” bisiknya sambil menenggelamkan wajahnya ke bahu Hyojoon. Gadis itu mengangguk.

“Aku juga sangat merindukanmu.”

“Aku salut pada kalian berdua. Serius. Tiga tahun tidak bertemu masih awet ya,” komentar Sunghee. Hyukjae mengangguk-angguk setuju.

“Yah, mereka kan sama-sama setia. Tidak seperti kita, Sunghee.”

“Kita? Aku setia kok!”

“Aku tidak percaya. Kau ada main kan dengan Dongwoo-Dongwoo itu.”

“Dongwoo siapa? Aniyo! Kau sendiri ada main dengan Hyeyeon, kan?”

“Aku masih tidak mengerti kenapa mereka masih sering bertengkar,” gumam Hyojoon. Donghae tersenyum dan menggandeng tangan Hyojoon.

“Biarkan saja mereka. Ayo kita pergi.” Donghae dan Hyojoon pun menjauhi Hyukjae dan Sunghee yang masih asyik berdebat.

= = =

Sunset kali ini terasa lebih indah daripada sunset-sunset yang lain. Mungkin karena Hyojoon menyaksikannya bersama dengan Donghae, kekasihnya. Kekasihnya yang telah menepati janjinya untuk pulang.

Bergandengan tangan, mereka menyusuri tepi pantai hingga berada di tengah-tengah pantai. Mereka menatap lautan yang terbentang luas. Lautan yang sama.

Donghae melepaskan genggaman tangannya. Hyojoon menoleh. Donghae berlutut di hadapannya.

“Will you marry me, my love, Kang Hyojoon?”

Hyojoon terkejut. Kemudian semburat merah muncul di pipinya. Jantungnya berdegup kencang.

“I will, Oppa. Of course I will.” Hyojoon tersenyum. Donghae bangkit berdiri dan memasangkan cincin ke jari Hyojoon.

“Ich liebe dich,” kata Donghae penuh kasih sayang.

“I love you too.” Hyojoon tersenyum. Donghae mencium bibir Hyojoon perlahan. Matahari yang tenggelam seolah menjadi latar belakang kisah cinta mereka.

Donghae melepaskan ciumannya dan menggenggam tangan Hyojoon kembali. Mereka berdua tersenyum malu. Tiba-tiba Donghae melepaskan genggaman tangannya dan merangkul pundak Hyojoon. Hyojoon melingkarkan tangannya ke pinggang Donghae. Ia lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Donghae.

“Terkadang kita memang harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih,” kata Donghae.

“Kalau aku tidak merelakanmu waktu itu, mungkin tidak akan terjadi hari ini. Hari dimana aku akan menyetujui lamaran seorang komposer lagu yang hebat.”

“Ah, aku semakin mencintaimu,” ucap Donghae ringan. Hyojoon tertawa.

THE END

17 thoughts on “[FF] Sacrifice

  1. Lena says:

    3 tahun? gakuat.
    setuju sama sunghee, mungkin bakalan nyari orang yg lebih baik lagi hahaha😀
    dikit tapi bagus :bd

  2. Lena says:

    iya sih,nah kalo ada perjanjian baru deh berusaha buat nunggu. tapi kalo ga ada perjanjian? ya cari.tapi ga juga deng😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s