[FF] Fallen for a Witch PART 10

Lovesick

“Kau benar-benar ingin pergi?” tanya Hyukjae melihat Sunghee mengemasi barang-barangnya. Sunghee mengangguk.

“Kau mau ikut?” tanya Sunghee. “Kita libur musim dingin, kan?”

“Aku ingin…tapi…” Hyukjae terlihat ragu.

“Kenapa?” Sunghee menatap wajah Hyukjae. Mereka saling menatap mata sang lawan bicara. Hyukjae menatap mata gadis itu dalam, membuat Sunghee cepat-cepat memalingkan wajah.

“Aku tidak punya banyak uang untuk kembali ke Korea. Lagipula, tak akan ada yang menyambutku di sana.”

“Kau bisa tinggal di rumahku,” ujar Sunghee masih sambil mengemasi barang-barangnya. Hyukjae berdiri di belakang gadis itu dan berbisik di telinganya.

“Kenapa kau mengajakku?”

Sunghee berjengit. Dia lalu berbalik. Tapi tindakannya malah membuat mereka berhadapan. Dan jarak mereka sangat dekat. Sunghee bisa merasakan napas Hyukjae.

“Apa aku masih menyengat? Atau sudah menenangkan?” lirih Hyukjae.

“Kau ini bicara apa? Minggir! Aku mau berkemas!” Sunghee berusaha menghindar, namun tangan Hyukjae terlanjur menguncinya. Hyukjae memperpendek jarak mereka.

“Hyuk ah..” pinta Sunghee.

“Kau memanggilku apa? ‘Hyuk ah’?” Hyukjae tersenyum.

“Ah, lupakan saja.” Sunghee hendak mendorong tubuh Hyukjae menjauh, tapi dia kalah cepat. Hyukjae langsung melingkarkan tangan kirinya ke belakang punggung Sunghee, sedangkan tangan kanannya memegang dagu Sunghee.

“Aku tanya padamu. Apakah aku masih menyengat atau sudah menenangkan?”

“Itu…ehm..” Sunghee terlihat gugup. Kegugupannya membuat Hyukjae tersenyum geli.

“Neomu kiyeopta! (lucu sekali)” Hyukjae mengacak rambut Sunghee sambil terkekeh geli. Dia lalu menjauhkan tubuhnya dari tubuh Sunghee.

“Jadi kau mau ikut atau tidak?” tanya Sunghee.

“Tentu saja. Aku tidak mau jauh-jauh darimu.” Hyukjae tersenyum sambil bersandar ke meja. Sunghee mendengus.

= = =

Marcus menunduk menatap meja di hadapannya. Jeremy di hadapannya melihat keluar jendela rumah. Sunghee dan Vincent sedang sibuk berkemas. Han jarang terlihat akhir-akhir ini. Mungkin ia sedang menjalankan tugasnya sebagai pembunuh bayaran. Aiden sedang berada di perjalanan menuju kemari. Ia ingin ikut ke Korea.

“Aku harap kau tidak lengah, Marcus.” Jeremy membuka pembicaraan. Marcus mendongak.

“Hah?”

“Aku tahu kau bertemu dengan Amanda-mu itu, tapi jangan sampai lengah dalam melindungi Sunghee.”

“Apa urusanku?”

“Aileen. Dia memintamu menjaga Sunghee.”

“Tapi, kau ada di sisi Sunghee. Kau selalu melindungi Sunghee, bukan?”

“Aku tidak sekuat kau.” Jeremy memandang Marcus kesal. “Kau sudah berjanji pada Aileen, kau harus menepatinya.”

“Aku bukan malaikat yang baik hati, Jeremy. Aku iblis yang berbohong, tidak menepati janji, melanggar aturan, egois, dan sebagainya.”

“Dasar iblis..”

“Maka dari itu aku merekrutmu sebagai peliharaan Sunghee. Agar aku tidak kesulitan menjaganya. Merepotkan saja.”

“Kau akan menyesal mengatakannya.”

= = =

Hyukjae sedang memasukkan barang-barang ke dalam mobil Aiden ketika seseorang menyapanya.

“Spencer?” tanya Elle yang melongokkan kepalanya dari mobil hijau miliknya. Hyukjae menoleh.

“Oh, Elle? Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya cowok itu.

“Aku ingin mampir ke rumah teman. Tapi, ternyata aku melihatmu di sini. Ini rumahmu?”

“Ini rumah Sunghee. Kau tidak tahu?” Hyukjae meletakkan koper terakhir ke dalam bagasi dan menutup pintunya. Ia lalu berjalan ke arah mobil Elle.

“Tidak. Sunghee orangnya sangat pendiam.” Elle melihat sekeliling. Ada dua mobil besar di sana. “Keliatannya kau tidak pergi sendirian? Mau kemana?”

“Oh..ya. Aku dan Sunghee ditemani beberapa teman. Kami mau pergi ke Korea. Mulai hari ini liburan musim dingin, bukan? Aku dan Sunghee merindukan kampung halaman kami.” Hyukjae terkekeh. Elle tampak diam. Dia terlihat tidak suka dengan penggunaan kata “Aku dan Sunghee”.

“Well, kebetulan sekali aku akan pergi ke Korea juga esok hari. Tadi aku baru saja dari rumah teman, membantunya mengemasi barang-barang dan menyimpan barangku. Kau akan berada di kota apa?” tanya Elle semangat.

“Benarkah? Hm…kurasa kami akan mengelilingi Korea Selatan. Hahaha..” Hyukjae tertawa. Elle tersenyum.

“Baiklah, aku pulang dulu, Spence. Aku harus menyiapkan energi untuk besok. Sampai jumpa.” Elle melambaikan tangannya. Setelah Hyukjae membalas lambaiannya, Elle menutup jendela mobilnya dan mengemudikan kendaraan itu menjauh dari rumah Sunghee.

“Bukankah itu Elle?” tanya Aiden yang bersiap memanaskan mobilnya. Ia menenteng kunci mobilnya sambil menatap ke arah mobil hijau tadi menghilang.

“Ya. Besok dia akan ke Korea juga.” Hyukjae mengulum senyum. Aiden mengerutkan kening.

“Untuk apa?”

“Liburanlah. Dia bersama temannya akan pergi ke Korea. Mungkin kita bisa bertemu karena ia berangkat besok.”

“Begitu..” Aiden tampak kurang suka.

“Kau mau memanaskan mobilmu?” tanya Hyukjae.

“Ya.”

“Biar aku saja.” Hyukjae mengambil kunci di tangan Aiden dan melangkah ke arah pintu depan. Aiden mengangkat alis dan berjalan memasuki rumah.

“Aku merasa ini kurang baik..”

Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di Korea Selatan. Negeri Ginseng itu menyambut memori-memori Sunghee dengan ramah. Sunghee terpana menyaksikan negeri tempat ia dilahirkan. Hyukjae tak kalah terpana. Tak banyak yang berubah, masih mirip seperti 3 tahun lalu. Sejak Hyukjae tinggalkan ke Jerman, negara ini masih sama.

“Aku ingin beli jajanan!” seru Hyukjae riang. Sunghee tersenyum.

“Sunghee, ayo kita serbu jajanan pinggir jalan!”

“Kka ja!!” seru Sunghee riang. Ia tertawa lepas. Marcus dan Jeremy terpana. Mereka baru melihat Sunghee tertawa selepas itu. Setelah tawanya direnggut kenangan pahit 5 tahun yang lalu.

“Sunghee, tunggu aku! Kakakmu juga ingin ikut jajan!” Sungmin – karena sebelumnya ia berpesan untuk memanggilnya Sungmin daripada Vincent – berlari mengikuti Hyukjae dan Sunghee. Mereka bertiga segera menyerbu kedai makanan pinggir jalan terdekat. Marcus, Jeremy, dan Aiden hanya menggeleng-geleng.

“Aku tidak menyangka Sunghee bisa seriang itu dibawa kemari,” gumam Aiden.

“Oh, apalagi aku.” Marcus membalas sambil berjalan santai mengikuti mereka.

“Kalian semua!! Aku ikuuut!!” Aiden berlari ke arah tiga orang yang asyik menyerbu kedai makanan. Kini tinggal Marcus dan Jeremy yang mengikuti mereka dengan langkah santai.

Jeremy tersenyum tipis.

“Benar-benar masih sama ya. Tak banyak berubah.” Ia melihat sekeliling. Marcus menanggapi dengan bergumam.

“Aku masih ingat dulu ada anak laki-laki yang lengket sekali dengan Sunghee. Apa dia masih ada ya?” Jeremy berbicara sendiri.

“Entahlah.” Marcus menanggapi. “Kalau dia masih hidup, berarti selama ini tak ada yang mengincarn ya.”

Jeremy hanya diam. Jarak mereka dengan empat orang penyerbu kedai makanan itu sudah dekat. Ia takut pembicaraan mereka terdengar orang.

= = =

“Sunghee, aku mau pergi ke Sungai Han. Kau mau ikut?” Hyukjae tersenyum lebar sambil memakai jaketnya. Sunghee yang sedang melihat pemandangan dari rumahnya yang dulu langsung berbalik dan mengangguk riang.

“Tentu saja aku ikut!” serunya. Hyukjae tersenyum melihat kegembiraan di wajah gadis yang dicintainya itu. Ia lalu mengambilkan jaket Sunghee dan memakaikannya kepada gadis itu.

“Terima kasih,” ucap Sunghee.

“Sama-sama, cantik.”

“Ada apa dengan kata ‘cantik’ di akhir kalimatmu? Sudah cepat nyatakan saja!” seru Aiden. Hyukjae menatapnya garang. Aiden tertawa.

“Jika Sunghee terluka sekecil apapun, aku akan membalasnya 10 kali lipat,” ujar Sungmin sambil memainkan tongkat martial arts-nya. Hyukjae menelan ludah.

“Tenang, Hyung! Aku akan menjaga adikmu sebaik mungkin.” Hyukjae tersenyum dan keluar dari rumah. Di hari kedua mereka di Korea ini, Hyukjae ingin menggunakan waktunya untuk berjalan-jalan seharian dengan Sunghee. Harus. Ini kesempatan emas untuk merubah aromanya agar menjadi menenangkan di hidung Sunghee.

Sampai di Sungai Han, Hyukjae langsung menggandeng tangan Sunghee ke jembatannya. Mereka berdiri di tengah-tengah jembatan, menghadap Sungai Han yang bersih. Angin menerpa tubuh mereka, membuat Sunghee menggigil. Hyukjae langsung menarik pundak Sunghee, membuat gadis itu mendekat padanya.

“Dingin ya?” ucap Hyukjae pelan. Sunghee mengangguk.

“Kau tidak perlu bertanya untuk mendapatkan jawabannya.” Sunghee berkata sambil menyandarkan kepalanya pada pundak Hyukjae. Cowok itu mengulum senyumnya. Ia menikmati kedekatan mereka saat ini.

“Lihat, di Korea salju sudah mulai turun.” Sunghee menunjuk langit yang menurunkan salju putih. Hyukjae mengangguk.

“Makanya hari ini dingin sekali.” Hyukjae membagi syalnya pada Sunghee. Gadis itu merasakan kehangatan dari syal Hyukjae. Apalagi wangi tubuh Hyukjae yang menempel pada syalnya menambah kehangatan di hatinya.

“Aku ingin kita selalu bersama,” kata Hyukjae.

“Aku juga. Tapi…entahlah. Bagaimana mewujudkannya..”

“Kenapa?”

“Aku takut, Hyukjae. Maksudku, Oppa. Aku takut sihirku diambil lebih dulu. Aku tidak mau disisipkan nyawaku kembali jika itu harus membunuh Marcus. Aku tidak mau.”

“Kalau begitu bagilah sihirmu denganku, Sunghee. Kita tanggung berdua.” Tatapan Hyukjae lurus ke depan ketika mengatakan hal itu. Sunghee mendongak terkejut.

“Aku tidak mau! Tidak. Biar aku saja yang pergi daripada aku mengorbankan kalian berdua.”

“Aku memang menginginkannya, Sunghee. Kau dengar kakakmu tadi? Aku tidak boleh membiarkanmu lecet sedikitpun. Dengan membagi sihirmu padaku, aku bisa membuatmu hidup kembali jika hal buruk itu terjadi.”

“Tapi itu akan membunuhmu! Aku tidak mau!” Sunghee menggeleng kuat. Hyukjae menghela napas. Di hatinya terdapat berbagai macam perasaan. Terharu, karena gadis ini mencintainya. Dan sedih, karena gadis ini cepat atau lambat akan meninggalkannya. Marah, karena ia tidak bisa melakukan apa-apa.

“Aku memang tidak bisa membantu banyak. Tapi, aku akan berada di sisimu hingga akhir hayat.”

“Itu sudah lebih dari cukup, Oppa.” Sunghee bersandar pada pundak Hyukjae lagi.

“Sunghee yah, saranghae.”

“…” Sunghee terdiam agak lama sebelum akhirnya menjawab, “Na ddo saranghae, Hyukjae Oppa.”

Hyukjae tersenyum dan menatap mata Sunghee dalam. Gadis itu membalas tatapannya dengan senyuman.

“Aku senang kau begitu bahagia hari ini,” ucap Hyukjae.

“Aku senang aku bisa bahagia bersamamu.” Hyukjae mendekatkan wajahnya ke wajah Sunghee. Ia memiringkan kepalanya sedangkan Sunghee memejamkan mata. Tiba-tiba sebuah suara yang dikenal mereka terdengar.

“Spencer? Sunghee?” Sunghee otomatis membuka matanya dan Hyukjae menoleh ke arah suara. Elle berdiri di sana dengan seorang gadis. Mungkin itu temannya yang dibicarakan sebelumnya. Ekspresi Elle saat itu terlihat terkejut.

“Elle?” Hyukjae mengernyit heran. “Kau sudah sampai?” Hyukjae berbalik. Syalnya yang dipakai Sunghee pun terlepas. Sunghee tertegun. Ia memalingkan wajah ke arah Sungai Han.

“Kalian sedang apa di sini?” tanya Elle sambil mendekat ke arah mereka berdua.

“Kami sedang menikmati Sungai Han sore ini. Jam 5 nanti ada pertunjukkan air mancur di taman dekat sini, bukan?”

“Oh ya. Aku juga mau pergi ke sana. Kalau begitu kita pergi berempat saja?”

“Oh well..” Hyukjae tampak menimang ajakannya.

“Ah aku lupa mengenalkan temanku. Kenalkan ini Hellena, temanku. Ellen, ini Hyukjae kakak kelasku.”

“Hai!” sapa Ellen.

“Sebenarnya nama panggilan Hellena ini Elle, tapi karena sama denganku diubah menjadi Ellen. Karena itulah kami bisa akrab seperti ini. Hahaha..” Elle merangkul Ellen.

“Kesamaan nama ya? Hahaha..” Hyukjae dalam hati tersenyum. Ia dan Sunghee memiliki marga yang sama. Ah, omong-omong tentang Sunghee sedari tadi ia diam saja. Hyukjae menoleh ke tempat Sunghee berdiri tadi. Gadis itu sudah tidak ada. Hyukjae terkejut.

“Kau mencari Sunghee? Tadi kulihat dia pergi ke sana.” Elle menunjuk ke arah belakang tubuh Hyukjae. Cowok itu berbalik.

“Ah, maaf aku harus pergi. Bye!” Hyukjae langsung berlari ke arah Sunghee menghilang tadi.

= = =

Sunghee berjalan sendirian dengan langkah cepat. Wajahnya cemberut. Bibirnya mengerucut kesal. Ia menendang batu yang menghalangi jalannya. Sunghee ingin cepat-cepat sampai ke taman itu saja. Daripada ia melihat pemandangan yang tidak mengenakkan.

Sunghee tahu Elle suka pada Hyukjae. Ia bisa membaca pikiran meskipun sedikit-sedikit. Lagipula tanpa kemampuan membaca pikiran, setiap orang pasti tahu bahwa Elle sedang jatuh cinta pada Hyukjae.

Hyukjae memang memikat, batin Sunghee.

Tak terasa ia sampai di taman yang tak jauh dari Sungai Han itu. Pertunjukkan baru akan dimulai. Orang-orang banyak yang datang berpasangan. Sunghee menghela napas. Ia lalu berjalan ke tengah taman, ke tempat air mancur itu.

Saat asyik berjalan sendirian, tubuhnya tertabrak seseorang.

“Ah, maaf! Aku tidak sengaja,” ujar lelaki itu meminta maaf. Untung saja tubuh Sunghee cepat-cepat ditahan cowok itu agar tidak terjatuh.

“Tidak apa-apa,” gumam Sunghee.

“Kau tidak apa-apa? Kau marah?”

“Tidak. Aku baik-baik saja.” Sunghee menunduk.

“Kau tidak tidak apa-apa,” kata lelaki itu. Sunghee lalu mendongak. Sesosok pria tinggi tegap yang tampan berdiri di hadapannya. Penampilan lelaki itu rapi, bersih, dan tampaknya ia masih muda. Pakaian cowok itu simple, namun tetap keren.

Cowok itu tertegun menatap mata Sunghee yang perak. Ia ingat sekali mata perak itu.

“Lee Sunghee?” tanya cowok itu.

“Ya? Bagaimana kau tahu namaku?” Sunghee memperhatikan wajah pria itu sekali lagi. Sepertinya ia pernah melihat air muka ini di suatu tempat…

“Aku Kim Kibum. Aku teman sepermainanmu waktu kecil dulu! Ingat?” Wajah cowok itu berbinar-binar. Sunghee mengingat-ingat sebentar. Kepalanya agak pening saat berusaha mengingat memori yang baru dimasukkan ke otaknya.

“Kim Kibum…” gumam Sunghee.

“Aku yang suka bermain ke rumahmu dan meminta minum jika aku capek bermain dengan teman laki-lakiku. Ingat?”

“Ah! Kibummie?” seru Sunghee akhirnya.

“Ah..syukurlah kau masih mengingatku. Aku merindukanmu, Sunghee!” Kibum menarik Sunghee ke pelukannya. Sunghee agak terkejut. Namun, ia tersenyum dan membalas pelukan Kibum.

“Lama tak bertemu!” ujar Sunghee.

“Sangat lama..” Kibum melepaskan pelukannya. Ia memperhatikan Sunghee.

“Kau tampak berbeda, Hee. Kau makin cantik.”

“Hahahaha, kau juga tampan. Dari dulu kau memang tampan.”

“Terima kasih.” Kibum mencubit hidung Sunghee. Gadis itu tertawa.

Di kejauhan, Hyukjae tertegun melihat pemandangan tersebut. Hatinya sakit. Seperti ada pisau yang menggoresnya. Hyukjae menghela napas. Ia lalu berjalan ke arah bangku taman yang terletak di bawah pohon dan mendudukinya. Ia memperhatikan gerak-gerik Sunghee dan Kibum.

“Kau datang bersama siapa kemari?” tanya Kibum.

“Tadi aku bersama teman. Tapi…entahlah sekarang dia kemana.” Sunghee mengangkat bahu.

“Teman? Laki-laki?”

“Ya. Kenapa?”

“Dari Jerman?”

“Dia memang bersekolah di Jerman tapi dia orang Korea. Kenapa?”

“Tidak apa-apa.” Kibum menutupi rasa cemburunya dengan sebuah senyuman palsu. Ia harus menjadikan Sunghee sebagai miliknya. Harus.

Pertunjukan pun dimulai. Air mancur berwarna-warni itu membentuk pola-pola yang indah. Mata perak Sunghee berbinar menatapnya. Kibum di sebelahnya juga menikmati pertunjukkan itu. Apalagi dengan gadis yang dicintainya berdiri di sebelahnya.

Hyukjae sama sekali tidak menikmati pertunjukan itu. Ia mendengus kesal.

“Spencer, kenapa kau sendirian di sini? Sunghee mana?” Elle datang seorang diri ke sana.

“Sunghee sedang bertemu teman lamanya.” Hyukjae mengedikkan kepalanya ke arah Kibum dan Sunghee. Elle mengikuti arah yang ditunjuk. Mulutnya lalu membentuk huruf o. Ia lalu duduk di sebelah Hyukjae.

“Kenapa kau sendiri?” tanya Hyukjae tanpa ada niatan bertanya. Matanya masih fokus pada Sunghee.

“Temanku ada urusan mendadak. Dia juga bertemu teman-teman lamanya.”

“Menyebalkan.” Hyukjae mendengus lagi. Entah untuk yang keberapa kalinya.

“Spence, bagaimana kalau kita melihat lebih dekat? Sepertinya di sana seru.” Elle menunjuk sisi air mancur yang sedikit lengang.

“Boleh,” ujar Hyukjae singkat. Agar aku bisa memperhatikan mereka lebih jelas, batin Hyukjae.

Elle dan Hyukjae pun berjalan menuju tempat itu. Sementara itu Sunghee dan Kibum masih asyik menikmati pertunjukan.

“Sunghee, aku pernah dengar mitos. Katanya, bila ada seorang laki-laki yang mencium pasangannya saat air mancur ini sedang berwarna merah muda, cinta mereka akan abadi selamanya.”

“Benarkah?”

“Ya.” Warna pink keluar dari air mancur itu. Kibum meraih dagu Sunghee dan mencium bibirnya perlahan. Sunghee terkejut. Hyukjae tak kalah terkejut.

Ciuman itu berlangsung sebentar, namun efek yang ditimbulkannya cukup fatal. Sunghee merasakan sakit di bagian jantungnya. Seperti ada sesuatu yang meremasnya. Saat Kibum melepaskan ciumannya, tubuh Sunghee limbung. Hyukjae segera berlari ke arah gadis itu dan menangkap tubuhnya yang nyaris terjatuh. Sunghee merintih kesakitan. Hyukjae menatap Kibum garang.

“Aku akan membuat perhitungan denganmu,” desisnya sebelum membawa Sunghee pergi. Elle yang melihat kejadian itu hanya bisa ternganga heran. Sebersit rasa cemburu muncul di hatinya. Sepertinya Sunghee adalah seseorang yang sangat spesial bagi Hyukjae.

“Kau mengenal gadis itu?” tanya Elle pada Kibum. Cowok itu menoleh dan mengangguk. Elle menyapanya dengan bahasa Inggris, untung saja Kibum pintar berbahasa Inggris. Ia pernah sekolah di Amerika.

“Dia teman masa kecilku.”

“Kau mencintainya?”

“Lebih dari apapun.”

“Kalau begitu kau pasti ingin memilikinya, bukan?” Kibum mengerutkan keningnya heran. Elle memandang wajah Kibum.

“Tentu. Ya, tentu aku ingin memilikinya.”

“Kalau begitu kau harus bekerja sama denganku. Aku menyukai Hyukjae, cowok yang membawa Sunghee pergi. Kau mau kan bekerja sama denganku? Kau bisa mendapatkan Sunghee dan aku bisa mendapatkan Hyukjae.”

“Tapi…”

“Kau mencintainya, bukan?” Elle menatap tajam tepat ke mata Kibum.

“Baik. Tapi, tadi Sunghee kenapa? Apa dia sakit?”

“Mungkin.” Elle mengangkat bahu. Agak heran juga dengan reaksi Sunghee tadi.

= = =

Hyukjae membawa Sunghee ke rumah sakit terdekat. Gadis itu langsung ditangani dokter. Hyukjae menggeram kesal. Siapa cowok itu? Berani-beraninya menyentuh Sunghee-ku!

Dokter keluar dari ruangan dan mempersilahkan Hyukjae masuk.

“Dia tidak apa-apa. Mungkin hanya kecapekan. Tidak ada penyakit yang berarti di tubuhnya. Ia hanya butuh istirahat saja.” Dokter muda itu tersenyum. Hyukjae membungkuk berterima kasih dan mendekati Sunghee yang tertidur di ranjangnya.

“Kau benar. Sakitnya penyihir lima kali lipat.” Hyukjae menghela napas.

“Maafkan aku. Aku mencintaimu.” Mendengar kata-kata tersebut, Sunghee membuka matanya perlahan. Ia lalu tersenyum lemah.

“Kau tidak tertidur?” Hyukjae agak kaget.

“Tidak. Aku sadar. Dan aku mendengar perkataanmu.” Sunghee tersenyum. “Kau tidak perlu meminta maaf. Aku juga mencintaimu.”

“Siapa cowok yang tadi?”

“Dia Kim Kibum, teman masa kecilku. Cinta pertamaku.”

“Ah..” Hyukjae merasa sedikit kesal. Sunghee menggenggam tangan cowok itu.

“Tidak perlu kesal. Sekarang aku hanya mencintaimu. Kaulah pasangan hidupku.”

“Kau tidak mencintaiku karena terpaksa, bukan? Bukan karena aku orang yang ditakdirkan menjadi pasangan hidupmu maka kau harus mencintaiku meskipun terpaksa?”

“Tidak, Oppa. Aku tulus. Ia hanya masa lalu.”

“Baik. Aku mengerti.” Hyukjae menggenggam tangan Sunghee yang menggenggam tangan kanannya. Ia mengelus tangan lembut itu perlahan.

“Aku merasa semakin hari kau semakin kurus.”

“Aku baik-baik saja.”

“Kau tidak baik-baik saja. Kau harus makan. Aku ingin makan japchae. Berdua denganmu. Makanya kau harus sembuh.”

“Apa kau ingin aku yang membuat japchae-nya?” tanya Sunghee dengan suara lirih. Hyukjae tersenyum.

“Aku ingin sekali, tapi kau masih lemah, cantik.”

“Ah, berhenti memanggilku cantik. Kau membuatku geli.”

“Aku mengatakan yang sebenarnya.” Hyukjae terkekeh.

“Jadi bagaimana? Soal japchae itu?”

“Kita makan diluar saja. Tapi, sebagai ganti kau tidak membuatkan japchae, kau harus makan berdua denganku suap-suapan. Bagaimana? Cukup adil?” Hyukjae mengedipkan sebelah mata. Sunghee terkekeh.

“Ya. Cukup adil.”

“Sekarang kau harus sembuh.” Hyukjae mendekatkan wajahnya pada wajah Sunghee dan mencium bibir gadis itu. Ia lalu melepasnya. Wajahnya merah. Sunghee lebih merah lagi.

“Yang tadi kan tidak jadi..” bisik Hyukjae.

“Aku rasa…aku sudah sembuh.”

“Hahahaha..”

= = =

Hyukjae menepati janjinya dengan mengajak Sunghee ke sebuah restauran yang menjual japchae. Mereka memesan dua porsi japchae. Hyukjae menggulung makanan sejenis mie itu ke sumpitnya dan menyuapkannya ke mulut Sunghee. Sunghee melakukan hal yang sama pada Hyukjae.

“Kau tahu kan makna memakan japchae dengan cara seperti ini?” tanya Hyukjae sambil menggulung japchaenya.

“Hm… kau menggulung japchae di sumpit itu lalu menyuapkannya pada orang yang kau cintai. Benar?”

“Seratus untuk Sunghee!” ujar Hyukjae sambil menyodorkan japchae yang sudah tergulung di sumpitnya. Sunghee memakan japchae itu lalu menggulung japchae untuk Hyukjae.

Siapapun yang melihat mereka pasti akan merasa iri. Mereka benar-benar pasangan yang cocok. Lebih seperti pasangan suami istri dibandingkan dengan pasangan kekasih. Mereka bahkan tidak pernah meresmikan diri mereka sebagai sepasang kekasih. Namun, mereka sudah bisa merasakan cinta dari pasangannya. Tak ada yang lebih penting dari itu. Status tidak penting.

Sunghee sadar, aroma manusia di hadapannya ini sudah tidak menyengat. Bahkan tubuh itu sekarang memancarkan aroma menyenangkan. Sunghee senang berada di dekat Hyukjae. Selain karena wangi tubuhnya, juga karena sifatnya yang menyenangkan.

“Sudah? Ayo kita pulang.” Hyukjae tersenyum hangat dan beranjak berdiri. Sunghee ikut berdiri dan menghampiri Hyukjae. Cowok itu meraih tangan Sunghee dan menggenggamnya.

“Pulangnya jalan-jalan dulu ya. Jangan langsung pulang,” pinta Sunghee.

“Mau kemana lagi?” tanya Hyukjae.

“Em..ya keliling-keliling saja. Lewat jalan yang agak jauh.”

“Oke.”

= = =

“Jam berapa ini, hah? Jam 10 malam! Kau bawa kemana saja Sunghee-ku?” Sungmin berkacak pinggang di depan pintu. Hyukjae hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Ya…kami melepas rindu pada kota ini.”

“Betul.” Sunghee mengangguk setuju. Sungmin menghela napas.

“Baiklah. Aku juga baru datang toh.” Sungmin cengengesan sebelum mengunci pintu rumah.

“Memangnya Oppa habis darimana?”

“Aku jalan-jalan bersama Aiden. Marcus dan Jeremy yang membosankan itu memilih menjaga rumah.” Sungmin mengedikkan dagu pada Jeremy yang tiduran di atas sofa. Sunghee tidak melihat Marcus.

“Marcus dimana?”

“Di kamarnya. Akhir-akhir ini auranya sedang gelap. Mengerikan. Hanya Jeremy yang berani mendekatinya.” Sungmin pun duduk di sofa seberang Jeremy. Hyukjae berjalan ke dapur, hendak membuat secangkir kopi.

“Aku tidur duluan,” kata Sunghee.

“Mimpi indah.” Hyukjae tersenyum. Sunghee menaiki tangga rumahnya. Ia melewati kamar Aiden yang tak tertutup pintunya. Sunghee melongok ke dalam kamar. Aiden terkapar begitu saja di atas ranjang. Dia tertidur pulas dengan rambut dan baju yang berantakan. Selimut yang tidak terpakai pun terlempar ke lantai. Sunghee mengulum senyum dan berjalan memasuki kamar Aiden.

Dulu, ini adalah kamar Sungmin. Sebelah kamar ini adalah kamarnya, lalu sebelahnya lagi kamar tamu yang kini ditempati Marcus. Jeremy tidur di sofa – berhubung ia tidak terlalu butuh tidur. Sungmin tidur di kamar bersamanya, sedangkan Hyukjae tidur bersama Aiden. Rumah Sunghee yang ini memang tidak terlalu besar. Hanya ada 3 kamar.

Sunghee mengambil selimut yang tergeletak di lantai. Ia lalu menyelimuti tubuh Aiden. Sunghee mengusap rambut Aiden sekilas, merapikannya sedikit. Sunghee tersenyum. Entah kenapa ia merasakan sebuah perasaan yang aneh. Seperti rasa sayang pada saudara.

“Aku tidak mengerti kita ada ikatan apa, tapi aku merasa aku menyayangimu,” bisik Sunghee.

“Mimpi indah.” Sunghee berbisik sebelum keluar kamar. Di pintu ia berpapasan dengan Hyukjae yang membawa cangkir kopi.

“Oh, Sunghee ada apa?” Hyukjae heran melihat Sunghee keluar dari kamarnya. Sunghee menempelkan telunjuk di bibir dan melirik ke dalam kamar. Hyukjae mengikuti arah pandangannya.

“Dia bisa kedinginan jika tidak memakai selimut. Tidurnya agak berantakan ya?” Sunghee terkikik pelan. Hyukjae tersenyum setuju.

“Sudah, sudah, sudah! Pacarannya dilanjutkan besok!” ucapan Sungmin membuat Sunghee dan Hyukjae salah tingkah.

= = =

Aiden membuka matanya sedikit. Ucapan Sunghee barusan membuatnya berpikir dua kali.

“Aku tidak mengerti kita ada ikatan apa, tapi aku merasa aku menyayangimu,”

Aiden merasakan hal yang sama. Ia juga merasa aneh mengapa ibunda Sunghee begitu menyayanginya seperti ke anak sendiri. Aileen malah membagi sihirnya dengan Aiden agar cowok itu bisa menjaga diri. Jika ia tidak mempunyai kekuatan menghipnotis, mungkin saja dulu Aiden sudah dijual ke berbagai orang. Dan mungkin saja Aiden tidak akan selamat dari Mr. Roux…

“Tidurmu benar-benar berantakan. Aku tidur dimana jika kau menjajah satu ranjang besar begitu?” Suara Hyukjae terdengar. Aiden cepat-cepat menutup mata dan menggeser tubuhnya agar Hyukjae mendapatkan tempat untuk tidur.

= = =

Marcus membaca surat kabar di hadapannya. Sedari tadi ia hanya berdiam diri di kamar. Bahkan kini saat jam menunjukkan pukul 12 malam, ia tidak bisa, minimal, berbaring di tempat tidur. Berita di bawah topik utama surat kabar hari ini membuatnya gelisah.

Seorang Gadis Kecil Tewas Diserang Serigala

Marcus yakin ini bukan serigala biasa. Ini pasti manusia serigala. Hanya manusia serigala yang dibangkitkan seseorang yang bisa menyerang di malam selain malam bulan purnama. Marcus curiga siapa yang membangkitkannya.

= = =

Kim Kibum berjalan untuk membukakan pintu rumahnya untuk Elle. Gadis itu sengaja bertamu ke rumah Kibum untuk memberitahu rencana licik mereka. Rencana agar Hyukjae dan Sunghee berpisah.

“Aku punya beberapa rencana.” Elle duduk di atas sofa ruang TV Kibum. Kibum sedang menyiapkan minuman untuk Elle.

“Sebutkan.”

“Well, rencana pertama, kacaukan kencan mereka!” ujar Elle dengan nada berapi-api.

“Caranya?” Kibum menanggapi dengan santai sambil membawa minuman ke hadapan Elle.

“Apa ini?” tanya Elle melihat botol berwarna hijau dan beberapa gelas kecil.

“Soju. Semacam alkohol. Orang Korea biasa menjamu tamunya dengan mengajak mereka minum-minum.”

“Well, terima kasih.” Elle mengambil sebotol soju dan menuangkan isinya ke gelas kecil. Kibum melakukan hal yang sama. Setelah bersulang, mereka menenggak minuman masing-masing.

“Jadi bagaimana rencanamu?”

“Begini..”

= = =

“Kalian mau kemana lagi?” tanya Sungmin.

“Hyung ikut yuk! Kita menikmati Sungai Han via perahu,” kata Hyukjae.

“Aku ikut!” seru Aiden. Sunghee mengangguk.

“Semua ikut saja. Biar seru!” Sunghee mengacungkan jempolnya.

“Aku tidak ikut.” Marcus berujar dengan nada datar.

“Kenapa?” kata Sunghee dengan nada sedih.

“Aku punya sesuatu yang harus kuselesaikan.”

“Lagakmu sudah seperti presiden saja. Sibuk,” celetuk Sungmin.

“Ya sudah ayo cepat pergi!” Aiden tidak sabar.

 

Sungai Han tidak terlalu ramai malam ini. Perahu yang menganggur pun mudah didapatkan. Hyukjae melangkah masuk terlebih dahulu dan membantu Sunghee masuk ke perahu. Aiden, Sungmin, dan Jeremy menyusul.

Malam ini, Sungai Han tampak sangat indah. Lampu-lampu berbagai warna menghiasi sungai ini. Mata perak Sunghee berbinar menatap lampu-lampu yang memukai mata.

“Aku ambil minuman dulu ke dalam ya,” ucap Hyukjae. Sunghee mengangguk. Ia pun berdiri sendirian di bagian kapal yang paling depan. Tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. Sunghee terkejut, tapi saat tahu siapa yang memeluknya, ia diam saja.

“Aku ingin memintamu melakukan satu hal, Sunghee. Satu hal seumur hidupku,” kata Aiden.

“Apa itu?”

“Kita peragakan adegan romantis di film Titanic, yuk? Aku selalu ingin memeragakannya dengan seseorang tapi tidak pernah tersampaikan.”

“Ahahaha baiklah..” Sunghee terkekeh mendengar permintaan Aiden yang dianggapnya kekanakan.

“Aku hanya meminta ini satu kali seumur hidupku,” kata Aiden lagi.

“Iya, aku tahu.”

Sunghee pun merentangkan tangannya. Aiden menggenggam kedua tangan Sunghee. Sesekali Sunghee bersandar pada Aiden karena goyangan kapal yang mendorongnya ke belakang. Aiden tersenyum senang. Cita-citanya tersampaikan. Sejak melihat film Titanic, ia bertekad akan melakukan adegan tersebut dengan seseorang yang dicintainya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Aiden.

“Aku baik-baik saja.”

“Tidak dingin?”

“Tidak. Aku merasa hangat.”

Hyukjae menatap pemandangan itu dengan terpana. Namun, ia tersenyum. Sunghee terlihat baik-baik saja jika berada di dekat Aiden. Mungkin karena mereka berdua penyihir. Entahlah. Hyukjae tidak mengerti. Hyukjae duduk di kursi dekat pintu. Ia memperhatikan dua orang itu sambil sesekali menyesap minumannya.

= = =

Kibum mengerutkan keningnya heran. Elle lebih heran.

“Siapa cowok itu?” ucap mereka bersamaan. Mereka memang berada satu kapal dengan Sunghee. Mereka juga melihat pemandangan Sunghee dan Aiden yang sedang memperagakan adegan Titanic.

“Apa kakaknya? Kalau dilihat-lihat sepertinya mereka tidak terlihat seperti pasangan,” gumam Kibum.

“Memang. Apa Sunghee punya kakak?”

“Setahuku ia punya satu kakak laki-laki. Tapi…wajahnya berbeda dengan yang satu ini.”

“Kenapa aku merasa mereka itu bersaudara ya?” gumam Elle. Kibum mengangguk-angguk.

Rencana menggagalkan kencan Hyukjae dan Sunghee pun gagal. Sunghee lebih sering berada di dekat Aiden. Kedekatan yang terlihat seperti saudara.

= = =

Marcus berlari melintasi pepohonan itu. Suara serigala terdengar dari sini. Marcus berniat membunuh manusia-manusia serigala itu. Demi Casey. Marcus menyentuh bunga ungu yang disematkan ke jaket hitamnya. Casey ada bersamanya, dan dia pasti senang bila Marcus berhasil membunuh manusia serigala yang mencelakakan Cecil.

Dan di sanalah mereka. Mereka berjumlah 4 ekor. Besar-besar. Tingginya sepantar dengan Marcus. Rambut mereka sangat tebal. Ada yang berwarna abu-abu dan ada yang berwarna hitam. Tampang mereka mengerikan. Mulut mereka selalu terbuka, memperlihatkan taring-taring yang tajam.

Marcus mengeluarkan pisau perak dari balik jaketnya. Ia lalu melemparkannya pada manusia serigala yang terdekat. Manusia serigala itu tumbang. Tiga lainnya menyerang Marcus. Marcus sedikit kewalahan menghadapi tiga manusia serigala yang besar-besar. Ketika Marcus sibuk menghadapi tiga manusia serigala di hadapannya, seekor manusia serigala yang sangat besar menerkamnya dari belakang.

Marcus baru menoleh ketika mendengar serigala itu melolong kesakitan. Ternyata ada seseorang yang melemparkan pisau perak pada serigala itu. Serigala itu terbakar menjadi serpihan debu. Marcus mencari-cari orang yang menyelamatkannya. Ia berbalik, matanya menubruk sesosok pria yang dikenalnya.

“Han?” tanya Marcus. Han tidak menjawab dan sibuk memerangi tiga serigala itu. Semuanya pun tumbang dalam waktu sekejap. Han menoleh pada Marcus.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Han.

“Seharusnya aku yang bertanya begitu.”

“Aku hanya sedang berpatroli. Aku pembunuh bayaran malaikat. Aku bertugas untuk membunuh semua manusia serigala di bumi.”

“Begitu?” Marcus tidak suka mendengar kata malaikat.

“Kerja yang bagus, Han.” Marcus menoleh ke sumber suara. Zhou Mi menghampiri mereka sambil tersenyum.

“Kau lagi..” gumam Marcus kesal.

“Jadi kau bekerja pada dia?” tanya Marcus pada Han. Han mengangguk.

“Cih.” Marcus tidak suka. Zhou Mi tersenyum.

“Tak kusangka aku bertemu denganmu di sini.”

“Apa yang kau inginkan?” tanya Marcus.

“Aku ingin menjadikan Kibum sebagai budakku. Dia pintar sekali, mungkin bisa membetulkan mesin pengambil sihir yang Henry buat?” Zhou Mi tersenyum lebar.

“Aku yakin bukan itu alasan utamamu.”

“Memang bukan.” Zhou Mi menyilangkan tangannya ke depan dada. “Alasan utamanya adalah karena dia telah membangkitkan manusia-manusia serigala ini. Menyusahkan bukan?”

“Apa?” Marcus tak percaya.

“Kau tidak tahu kalau penulis buku sihir yang sering dibaca Hyukjae itu ciptaan Kibum?” Zhou Mi menaikkan sebelah alis. Marcus tertegun.

To be continued

12 thoughts on “[FF] Fallen for a Witch PART 10

  1. Lena says:

    cape ih mijit tombol hpnya-,-*curhat*
    okey aku udah semakin bingung+penasaran😀
    hel-LENA asik ada aku #maksa
    lanjut~

  2. vidiaf says:

    sunbae aku datang ntuk memberi comment~~ (?)
    acieeee Hyukjae sama Sunghee :-” /toel Hyuk
    so sweet banget laaah
    Elle nyebelin -.-
    ganyangka Kibum ternyata yan bikin buku tentang penyihir.___.
    berarti… ada kaitannya dong sama dunia persihiran(?) ?
    aaaa langsung cabut ke next part😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s