[FF] Fallen for a Witch PART 9

Half Dead

Casey tersentak. Seperti ada sesuatu yang diambil dari tubuhnya. Tiba-tiba napasnya sesak. Ia mencengkeram lehernya kuat. Rasanya sesak. Sangat sesak. Seperti ditenggelamkan ke laut paling dalam dan tidak bisa kembali.

“Walcott? Kau kenapa?” Miss Hellen, guru Bahasa Inggris, terkejut melihat Casey seperti itu. Casey terbatuk. Seisi kelas menatapnya khawatir.

“Hellen, bawa dia ke ruang kesehatan! Cepat!” perintah guru muda itu. Si ketua kelas berdiri, hendak menuntun Casey ke ruang kesehatan. Namun, Casey menolak.

“Bi…biar aku saja..” ucapnya tersengal. Casey berdiri. Ia berjalan sempoyongan keluar kelas. Semua menatapnya khawatir. Casey berjalan ke lantai paling atas. Ke atap. Di atap, ia terjatuh. Ia mengerang kesakitan.

“Na…Nathan..” bisiknya. Casey merayap ke pinggir atap. Tiba-tiba ada sebuah kaki yang menginjaknya. Kaki itu bersepatu putih bersih. Casey mendongak. Zhou Mi menatapnya prihatin.

“Nathan ada di dalam sini.” Zhou Mi menunjukkan tabung berisi cairan berwarna biru itu. Casey terperangah.

“Maaf, kau harus mati, iblis.” Zhou Mi tersenyum dan menendang tubuh Casey. Tubuhnya terlentang menghadap matahari yang panas. Zhou Mi terbang menjauh. Casey tidak bisa berkata-kata. Mata merahnya meredup lalu menutup. Tubuhnya perlahan terbakar.

= = =

Jeremy merubah tubuhnya menjadi seekor nyamuk. Ia masuk melewati celah jendela kelas dan menghampiri Marcus. Ia mendekati telinganya.

“Sihir Nathan dicuri. Ia dan Casey dalam bahaya!” Setelah berkata begitu, Jeremy pergi menjauh, kembali ke tubuh Nathan.

Marcus tersentak, bersamaan dengan Amanda Crownwell yang memasuki ruangan.

“Selamat pagi! Perkenalkan, namaku Amanda Crownwell. Aku guru pengganti di sini. Usiaku tidak jauh berbeda dengan kalian, jadi kalian tidak usah sungkan menganggapku sebagai teman kalian.” Marcus tertegun. Amanda Crownwell. Nama itu sangat diingatnya. Ia menatap ke depan, dan terkejut. Wajah yang dikenalnya dari 10 tahun yang lalu. Wajah yang sama. Senyum yang sama.

Marcus seakan lupa dengan bisikan Jeremy tadi. Ia masih terpana menatap Amanda.

Suara orang berlari mengembalikan Marcus ke alam sadar. Ia spontan menole ke arah jendela. Jeremy berlari dengan cepat entah kemana. Marcus langsung teringat kata-kata Jeremy. Ia pun berdiri.

“Maaf, aku mau ke toilet.”

“Oh, silahkan..” Amanda mengangguk pelan. Raut wajahnya agak kecewa. Marcus langsung berlari keluar, tanpa peduli pandangan heran dari Sunghee.

= = =

Jeremy sampai lebih dulu. Ia melihat tubuh Casey terbakar. Jeremy ingin menolong namun terlambat. Tubuhnya sudah berubah menjadi debu. Marcus menerjang masuk. Jeremy menoleh ke arahnya. Marcus tertegun. Ia berjalan menghampiri tumpukan debu tersebut. Belum sempat Marcus berlutut, debu-debu itu berterbangan terbawa angin. Yang tersisa hanyalah setangkai mawar ungu. Marcus jatuh berlutut di hadapan mawar itu. Ia mengambilnya dan menciumnya. Wangi.

“Rest in peace, my friend.” Marcus menyematkan bunga mawar itu ke blazernya. Marcus ingin menangis, tapi dia tidak boleh.

“Dimana Nathan?” tanya Marcus. Suaranya bergetar.

“Masih di gudang. Kutinggalkan tubuhnya demi menghampiri Casey.”

“Maksudku sihirnya. Jiwanya.”

“Dibawa Zhou Mi. Maaf, aku sudah berusaha menggagalkannya.” Marcus menoleh pada Jeremy. Tubuh Jeremy tidak semulus kemarin. Di pipinya terdapat sebuah goresan memanjang dan dari dalamnya keluar darah.

“Kau terluka..”

“Ya, aku tahu.” Jeremy mengusap darah yang mengalir dari lukanya. “Aku baik-baik saja.”

“Ayo pergi.” Marcus berjalan melewati Jeremy. Jeremy terbatuk sebelum mengikuti Marcus.

= = =

Marcus menarik napas melihat tubuh Nathan yang tergeletak di atas meja. Matanya terpejam damai. Tangannya terlipat di atas perut. Pasti Jeremy yang melakukannya.

“Apa dia masih bisa diselamatkan?” tanya Jeremy. Marcus terdiam.

“Bisa.” Ia akhirnya menjawab setelah menciptakan keheningan yang mencekam. “Jika ada sihir yang masuk ke tubuhnya. Kami merubah seseorang menjadi penyihir dengan menggantikan nyawa orang itu dengan sihir. Jadi, jika sihir mereka diambil, mereka mati. Jika sihir memasuki tubuh mereka, mereka hidup.”

“Kemana nyawa mereka?”

“Kami makan.” Marcus tersenyum pahit. Jeremy menaikkan alisnya.

“Nyawa mereka membuat kami semakin kuat.”

“Dasar iblis.”

“Penyihir itu…sebenarnya sudah mati.” Marcus tertunduk. Jeremy kembali menatapnya.

“Di tubuh mereka sudah tidak ada nyawa. Hanya ada sihir yang menggerakkan tubuh mereka. Istilahnya, setengah mati.” Marcus menghela napas. Jeremy terdiam. Baru ia sadari, kini ia dan Marcus bisa mengobrol dengan baik. Sebelumnya, selalu ada aura permusuhan di antara mereka. Jeremy tersenyum dalam hati. Iblis ini bercerita kepadanya.

= = =

“Aku mendapatkan sihir Nathan.” Zhou Mi menenteng botol berisi cairan berwarna biru. Henry tersenyum lebar.

“Great!” Ia lalu melanjutkan mengunyah permen karet. Zhou Mi meliriknya tajam.

“Tak bisakah kau berhenti mengunyah permen karet itu walau sedetik saja?”

“Hahaha…jangan berlebihan. Lagipula terkurung selama kurang lebih…berapa tahun? 20? Membuatku merindukan permen karet!” Henry mengunyah lagi. Zhou Mi tidak mengindahkan perkataannya dan berjalan ke arah sebuah kotak kaca berisikan sebuah mutiara yang melayang. Di sekeliling mutiara tersebut terdapat sebuah cahaya berwarna hijau. Zhou Mi membuka kotak kaca tersebut dan memasukkan cairan berwarna biru di tangannya. Cairan itu pun berubah menjadi sebuah cahaya ketika memasuki kotak tersebut. Warna hijau dan biru kini mengelilingi mutiara tersebut.

“Bagaimana dengan Elle?” tanya Zhou Mi.

“Sulit.” Henry mengangkat bahu. “Susah mengajak dua gadis itu pergi jalan-jalan.”

“Waktunya semakin dekat. Jangan buang-buang waktu dengan Elle. Cari penyihir lain. Tiga orang.”

“Baik, baik.” Henry mengangguk.

“Tenang saja, Tuan Dennis, sebentar lagi kau akan kembali.” Zhou Mi mengusap kotak kaca itu sekilas sambil tersenyum.

= = =

Malam itu nampak mencekam. Hujan deras mengguyur rumah besar Sunghee. Semua orang yang ada di sana sedang berduka. Dua orang rekan mereka tewas. Sunghee nyaris tidak bisa berhenti menangis. Tubuhnya yang gemetaran ditahan oleh Hyukjae. Sunghee menangis di pundak cowok itu. Hyukjae menjauhkan tubuh Sunghee sejenak dan mendekapnya. Membiarkan gadis itu membasahi bajunya dengan air mata.

Jeremy hanya terdiam melihat semua kesedihan yang ada pada raut-raut wajah yang ada di hadapannya. Orang mati masih bisa bersedih. Ah, tidak. Setengah mati.

Di hadapan mereka, tubuh Nathan diletakkan di sebuah peti. Wajah Nathan tampak damai. Peti itu pun ditutup.

“Apa yang terjadi…” bisik Sunghee, tidak mengharapkan jawaban.

= = =

Belum sempat Aiden menghilangkan rasa dukanya karena kehilangan kedua temannya, datang sebuah berita baru yang mencengangkan lagi. Griss. Gadis itu juga meninggal dunia. Ternyata Griss adalah seorang penyihir. Aiden tidak pernah tahu itu. Griss pun tidak pernah membicarakannya.

Nasib naas memang sedang menimpa gadis penyihir itu. Saat ia menggunakan kekuatannya untuk menjaga diri, sihirnya diambil oleh dua malaikat itu. Setelah meminta maaf, malaikat-malaikat itu pergi. Sebelum pergi, tak lupa mereka menghubungi rumah sakit terdekat agar mengurus jenazah Griss.

Aiden menghela napas. Griss adalah satu-satunya gadis yang bisa membuat jantungnya berdebar. Hanya satu-satunya gadis yang bisa ia ceritakan kejelekannya. Satu-satunya gadis yang bisa mengerti kondisinya. Tapi, sekarang gadis itu telah tiada.

“Mereka benar-benar gerak cepat…”

= = =

“Well, dua penyihir lagi.” Zhou Mi tersenyum melihat kotak kaca yang sudah berisikan tiga buah cahaya berbeda warna.

“Menurutmu siapa dua orang yang akan mengisi tempat ini?” tanya Henry.

“Aku menginginkan sihir Autum. Aiden juga. Mata penyihirnya benar-benar menakjubkan.”

“Aku setuju. Aileen yang memberikannya, bukan?”

“Ya. Aileen terlalu baik untuk menjadi seorang penyihir.”

“Aku penasaran, apa Autumn tahu bagaimana kehidupan ibunya dahulu?”

“Itu yang Tuan Dennis tugaskan untuk kita. Kita harus mendapatkan Autumn dan memasukkan memori ibunya dan memorinya yang dulu, sebelum ia menjadi penyihir.” Zhou Mi berkata sambil menatap kotak kaca berisi mutiara tersebut.

“Setelah mengembalikan memorinya, kita ambil sihirnya dan masukkan kembali nyawanya.”

“Kalau begitu kita harus membunuh Marcus agar bisa menghidupkan Autumn..”

“Memang benar. Ya, lagipula iblis itu tidak pantas hidup di dunia yang suci.”

“Ya. Benar.”

“Malam ini kita harus mendapatkannya,” ujar Zhou Mi. Henry yang sedang menunduk menoleh. Tatapannya tampak ragu.

“Pakai cara lembut tidak bisa, kita harus pakai cara kasar.” Zhou Mi mengambil sebuah tabung berisikan cairan berwarna merah. Henry bersiul.

“Kau akan menggunakannya?”

“Tidak ada cara lain.”

= = =

Lee Hyukjae membuka lembar demi lembar buku tentang penyihirnya. Cahaya lampu meja belajar menjadi satu-satunya cahaya yang menemaninya saat itu. Tampangnya sangat serius. Kacamata ber-frame hitam bertengger di hidungnya.

Wajahnya terlihat lebih cerah ketika menemukan apa yang ia cari. Itu dia. Bab 13 Membagi sihir. Hyukjae pernah mendengarnya dari Aiden bahwa penyihir bisa membagi sihirnya pada orang lain. Seperti Aileen yang memberikan sihir hipnotisnya untuk Aiden. Hyukjae berpikir, kalau sihir seorang penyihir dibagi menjadi beberapa bagian, jika penyihir itu diambil sihirnya masih ada sihir lain yang bisa memasuki tubuhnya.

Ya, benar. Cara membaginya adalah dengan mencium orang yang akan diberikan sihirnya. Tetapi, harus penyihir terlebih dahulu yang melakukannya. Jika manusia terlebih dahulu, sihirnya tidak akan terbagi.

“Bagaimana caranya agar Sunghee mau menciumku?” Hyukjae bersandar pada kursi dan menatap langit-langit.

= = =

Aiden membuka pintu apartemennya. Dia agak terkejut melihat Hyukjae berdiri di depan pintu.

“Ada apa?” tanya Aiden.

“Setidaknya biarkan aku masuk lebih dulu.”

“Masuk.” Aiden melebarkan pintunya. Hyukjae mengangguk dan melangkah masuk.

“Malam-malam datang ke sini, ada apa?” tanya Aiden lagi. Wajahnya tampak mengantuk. Hyukjae tersenyum meminta maaf.

“Maaf, tapi aku tidak tahu harus pergi kemana lagi.”

“Jadi ada apa?” tanya Aiden tidak sabar.

“Aku ingin Sunghee membagi sihirnya untukku,” ucap Hyukjae sambil bersandar di sofa. Aiden membelalak terkejut. Wajah mengantuknya seketika sirna.

“Kenapa? Kau tahu konsekuensinya?”

“Aku tahu.” Hyukjae menghela napas berat. “Tapi, kurasa ini satu-satunya cara agar aku bisa menyelamatkannya.”

“Dari Henry dan Zhou Mi?” tanya Aiden.

“Benar.” Hyukjae mengangguk. “Kau juga diberi sihir oleh Aileen, kan? Tapi Aileen baik-baik saja, kan?”

“Memang. Dia memang baik-baik saja. Hanya kekuatannya saja yang berkurang. Tapi…konsekuensi tidak terletak pada penyihir yang memberikan sihir, namun orang yang diberikan sihir.”

Aiden memajukan posisi duduknya. Dia menatap Hyukjae serius.

“Kau tidak ingin menjadi sepertiku. Aku yakin.”

“Kenapa?” Hyukjae heran.

“Semenjak aku diberi sihir oleh Aileen, aku dihantui perasaan takut. Aku berbeda, aku diincar, aku tidak diinginkan. Dan…aku takut sihirku diambil orang. Selalu ada malaikat yang mengambil sihir dari para penyihir dan menyisipkan nyawa ke tubuh mereka. Tapi..malaikat harus membunuh iblis yang memakan nyawa tersebut. Aku tidak mau. Jika sihirku diambil tidak ada yang bisa disisipkan ke tubuhku. Aku telah kehilangan nyawaku dan aku tidak tahu siapa yang mengambilnya,” jelas Aiden panjang lebar. Hyukjae harus berpikir dua kali baru bisa memahami perkataannya.

“Kau mengerti perkataanku?” tanya Aiden. Hyukjae terdiam.

“Intinya, jika sihirmu diambil, kau akan mati. Tidak ada kesempatan untuk hidup lagi.” Aiden menyandarka punggungnya pada sandaran sofa. Hyukjae terlihat sedang berpikir.

“Pikirkan baik-baik. Lagipula bagaimana caranya menyuruh Sunghee menciummu? Dia tidak akan mau.”

“Maksudmu dia tidak akan mau?” Hyukjae terlihat tersinggung. Aiden terkekeh.

“Bukan maksudku dia tidak mau karena merasa kau menjijikkan, tidak..”

“Aaah, Aiden, kata-katamu agak terasa…”

“Hahahaha…santailah.” Aiden menyodorkan segelas teh hangat. Hyukjae tersenyum dan menerimanya.

“Makanya aku datang kemari, Leon.” Hyukjae menyebutkan nama belakang Aiden. “Aku meminta batuanmu bagaimana caranya agar Sunghee mau menciumku. Kau kan pandai memikat gadis.”

Aiden tersenyum mendengar perkataan Hyukjae.

“Aku jarang dicium gadis, aku yang mencium mereka. Hmm…bagaimana dengan ciuman kecelakaan?”

“Bisa?”

“Asal kena, kan?” Aiden malah balik bertanya.

“Mungkin.”

“Kalau situasi kecelakaan, kurasa aku bisa membuatnya.” Aiden tersenyum. Wajah Hyukjae tampak cerah.

= = =

Keesokan harinya, Marcus dan Sunghee masih berdiam diri di dalam kelas. Biasanya, selalu ada Casey yang menghambur ke kelas mereka dan berteriak bahwa ia bosan. Biasanya, saat mereka melihat keluar jendela, ada Nathan yang sedang menikmati sejuknya udara di bawah pohon besar. Kini pemandangan itu lenyap.

Casey dan Nathan dinyatakan menghilang. Hanya Sunghee dan teman-temannya yang tahu.

Henry terlihat asyik mengunyah permen karetnya di samping Sunghee. Henry melirik Sunghee. Gadis itu masih diam. Memandang keluar jendela. Dalam hati, Henry tersenyum. Ini kesempatan untuk mengajaknya jalan-jalan. Untuk menyenangkan hatinya. Di otaknya, sudah terancang suatu rencana.

= = =

Saat istirahat, Hyukjae menghampiri Aiden ke kelasnya. Kebetulan kelas mereka hanya berjarak satu ruang kelas. Mereka memang berada di tingkat yang sama.

“Kau sudah ada rencana?” tanya Hyukjae.

“Well, sudah.” Aiden tersenyum. Mereka berdua berjalan menuju kelas Sunghee. Saat mereka sampai di sana, mereka tertegun. Henry dan Sunghee sedang berjalan berdampingan keluar kelas. Tangan Henry bahkan tak segan-segan merangkul pundak Sunghee. Hyukjae menganga.

“Su..” Baru saja Hyukjae hendak memanggil Sunghee, pandangan matanya menubruk pemandangan yang lebih aneh. Di dalam kelas, Marcus dan Amanda sedang berciuman. Hyukjae agak terkejut, namun rasa heran lebih mendominasinya. Ada apa ini?

“Aiden, kau tahu mereka kenapa? Bahkan aku tak melihat Jeremy hari ini.” Hyukjae menatap Aiden bingung. Yang ditatap malah membalas dengan menatap bingung juga. Ia menggeleng pelan.

“Aku tidak tahu, Lee. Setelah kepergian mereka berdua, aku merasa suasana hari ini agak aneh.”

“Benar.” Mereka berdua termenung. Mereka berdua lalu bertatapan.

“Aku mau mengikuti Sunghee,” kata Hyukjae.

“Aku ikut denganmu.” Aiden membalas tanpa menatap Hyukjae. Ia langsung berjalan terlebih dahulu.

= = =

Henry benar-benar memanfaatkan kesempatan ini. Semua yang Sunghee inginkan pasti dipenuhinya. Mulai dari mengajak Sunghee makan, menoton film, membeli barang-barang lucu, dan sebagainya. Namun, senyum Sunghee belum terlihat juga. Gadis itu masih murung.

“Aku beli minuman dulu ya.” Henry tersenyum pada Sunghee yang duduk di taman kota yang agak sepi. Hari ini sudah malam, hanya sedikit orang yang berlalu lalang. Henry membeli minuman ke kios terdekat. Sebelum sampai ke tempat Sunghee, ia menuangkan cairan berwarna merah itu ke minuman gadis itu dan mengaduknya. Hyukjae dan Aiden yang melihatnya terkejut.

Henry kembali ke tempat Sunghee dengan senyum lebar. Ia lalu memberikan minuman di tangannya pada Sunghee. Hyukjae terkejut dan langsung keluar dari tempat persembunyiannya. Namun, tubuhnya ditahan oleh sesuatu. Seperti ada penjara yang tak terlihat.

“Selamat malam, Tuan-Tuan.” Zhou Mi tersenyum manis di hadapan mereka. Hyukjae dan Aiden terperangah.

Sunghee meminum minuman yang diberikan Henry tadi. Hyukjae berontak minta dilepaskan. Namun, penjara tak terlihat itu sangat kuat. Hyukjae tidak bisa menerobosnya.

Sunghee tersentak. Tiba-tiba sekujur tubuhnya sakit. Kepalanya pening. Gadis itu pun pingsan di tempat. Henry membawa tubuh gadis itu pergi. Zhou Mi sengaja menunggu lebih lama agar Hyukjae tidak bisa mengejar mereka.

“Oke. Dapat.” Zhou Mi menyeringai. Ia pun berlalu pergi tanpa melepaskan penjara transparan itu.

“YAH!! Kau mau apakan Sunghee?!” Hyukjae berteriak.

“Berisik.” Jeremy berjalan santai ke hadapan mereka. Ia lalu menjentikkan jarinya dan penjara itu pun hilang.

“Kenapa tidak dari tadi?!” gerutu Aiden.

“Well, aku baru datang.” Jeremy mengangkat bahu.

“Jeremy, kau tahu kemana mereka membawa Sunghee? Kau tahu? Kau harus melindungi Sunghee, bukan?!” seru Hyukjae yang panik.

“Ya aku tahu.”

“Tunjukkan aku dimana tempatnya.”

= = =

Sunghee berteriak kesakitan di atas dipan. Kedua tangan dan kakinya dirantai. Kepalanya sakit sekali. Memori-memorinya yang dulu kembali memasuki otaknya.

“Aku harus mengembalikan memorimu dulu sebelum mengubahmu menjadi manusia.” Zhou Mi tersenyum. Henry menatap ke tempat lain sambil mengunyah permen karetnya.

Sunghee sudah mulai melemah. Teriakannya tidak sekeras tadi. Saat itu, Jeremy, Hyukjae, dan Aiden datang. Jeremy hanya terdiam.

“Kenapa kau diam saja? Ayo cepat masuk ke sana!” kata Hyukjae.

“Aku tidak bisa. Tempat ini tidak diperuntukkan bagi Vampir dan makhluk hitam lainnya. Aku selalu terlempar keluar jika ingin memasuki tempat ini. Hanya manusia dan penyihir yang bisa masuk.”

“Aku akan masuk..” lirih Hyukjae.

“Aku ikut,” kata Aiden tegas.

= = =

Sunghee samar melihat Hyukjae yang memasuki ruangan. Namun, tak sempat memandangnya lebih lama lagi, sekelebat ingatan masuk. Ingatan paling pahit dari ingatan yang sebelumnya. Ingatan ini bukan miliknya. Ini ingatan milik Marcus.

Tubuh Klein Reinhart terkoyak. Di depan tubuh itu ada sesosok malaikat yang berdiri dengan gagah. Tatapanya terlihat miris. Namun dari balik sayap putihnya yang terbentang, batang-batang mawar ungu mengkoyak tubuh di hadapannya. Batang berduri itu cukup untuk menghancurkan tubuh Klein.

“Maafkan aku, Klein. Kau harus mati. Aku akan mengirimmu ke surga.” Dennis tersenyum. Ya, sang Tangan Tuhan.

“Tidak! Klein!!” seruan seorang wanita terdengar. Pandangan di ingatan itu berubah pada seorang wanita yang memeluk kaki Marcus. Wanita itu menangis melihat tubuh suaminya sudah tidak terbentuk lagi.

“Ubah Sunghee menjadi penyihir..kumohon!” ujar wanita itu pada Marcus. Tatapan Marcus berubah pada dua anak kecil yang terduduk tak jauh dari ibunya. Anak laki-laki yang lebih tua memangku adik perempuannya yang terluka parah. Tubuhnya sedikit terbakar. Tentu saja, rumah ini sedang dilahap api.

“Kumohon…Marcus…ubah ia menjadi penyihir..kumohon…hanya dia itu satu-satunya jalan agar ia bisa hidup…” Aileen berlutut di kaki Marcus. Ia memeluk kaki iblis itu. Darahnya mengotori baju hitam sang iblis.

“Kenapa kau ingin mempertahankannya? Ia hanya seorang gadis kecil berumur 11 tahun.”

“Ia punya mimpi…”

“Tapi, itu bukan jaminan kenapa ia harus hidup. Dengan ia hidup, belum tentu mimpinya tercapai.”

“Marcus…”

“Kau tahu apa yang akan terjadi jika dia diubah menjadi penyihir?”

“Aku tahu…konsekuensinya..” Aileen terbatuk. Darah kental keluar dari mulutnya. “Tapi…aku yakin ia bisa melewatinya..kumohon, Marcus..”

“Kau mau putrimu berakhir tragis sepertimu?”

“Tidak.” Aileen menggeleng. “Tolong jaga dia..”

“…”

“Kau selalu ada di sisiku semenjak kau mengubahku menjadi penyihir. Kumohon, ada di sisinya juga.”

“Apa aku ini? Anjing penjaga?”

“Marcus…hhh…hhh…kumohon..” Suara Aileen semakin lirih. Tatapan Marcus berganti pada Sungmin dan Sunghee.

“Baik, aku akan mengubahnya menjadi penyihir. Tapi, ada satu syarat.”

“Apa..itu?”

“Izinkan aku untuk memilikinya.”

“A-apa maksudmu…?”

“Aku akan menjadikannya iblis, sepertiku.”

“Apa..?” Aileen menengadah. Marcus tersenyum tipis.

“Kalau kau tidak setuju, aku tidak masalah. Aku akan membiarkan dia mati dengan senang hati.”

“Aku akan memberikan nyawaku untukmu. Atau apapun yang kau inginkan dariku. Tapi, tolong…biarkan dia hidup. Ubahlah ia menjadi penyihir, Marcus.”

“Nyawamu untukku, Aileen.” Marcus dan Aileen menoleh. Marcus terperangah.

“Dennis…”

Dennis berjalan menghampiri mereka dengan sayap putih terbentang lebar. Dari punggungnya keluar 15 batang mawar yang panjang dan besar. Mawar-mawar ungu terlihat menghiasi batang-batang berdarah itu.

“Marcus, aku benar-benar memohon pertolonganmu..” lirih Aileen. Marcus terdiam.

Duri mawar tajam itu mencabik tubuh Aileen. Jeritan Aileen terdengar parau. Marcus bergegas membawa Sungmin dan Sunghee pergi. Ia membawa mereka ke sebuah lapangan yang sepi.

Di sana, Marcus mengubah Sunghee menjadi penyihir. Ia juga mengambil ingatan pahit itu dari Sungmin dan Sunghee.

Mata Sunghee terbuka lebar. Napasnya tersengal-sengal. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Semua ingatannya kembali. Semuanya. Bahkan ingatan Marcus pun ada di otaknya.

“Kami memberimu bonus. Ingatan Marcus tentang orangtuamu yang mati mengenaskan. Kau sudah melihatnya?” tanya Zhou Mi. Sunghee masih tersengal, tak mampu menjawab.

“Sekarang…yang kami butuhkan adalah sihirmu. Agar Tuan Dennis bisa bangkit kembali.” Zhou Mi mengambil alat yang dipakai untuk mengambil sihir Amanda.

“Jangan!” seru Hyukjae. Ia menerjang ke arah alat itu dan menendangnya. Aiden menyihir alat itu agar tidak bisa terpakai kembali.

“Apa-apaan..” desis Zhou Mi. Henry terperangah. Tapi, ia sedikit senang. Sebenarnya, ia mulai menyukai Sunghee. Ia merasa Sunghee berbeda dari penyihir lain.

Henry melepaskan rantai yang mengikat tangan dan kaki Sunghee sementara Aiden dan Hyukjae sibuk dengan Zhou Mi. Henry membawa tubuh Sunghee keluar, memberikannya pada Jeremy. Sunghee yang kini sadar sepenuhnya terkejut.

“Aku menyukaimu.” Henry tersenyum pada Sunghee untuk yang terakhir kalinya dan kembali ke dalam laboratorium. Ia menarik Aiden dan Hyukjae, menyuruh mereka keluar. Zhou Mi terperangah.

“Maafkan aku, Kakak. Aku pengkhianat.” Henry tersenyum. Ia mencabut sehelai bulu putih dari sayapnya dan memasukkannya ke kotak kaca tempat mutiara itu melayang. Bulu itu berubah menjadi cahaya putih yang menyilaukan.

“Aku berika hidupku padamu, Tuan Dennis.” Henry tersenyum. Cahaya putih yang menyilaukan keluar dari tubuhnya. Dengan sebuah senyuman, tubuh Henry pun menghilang. Zhou Mi terkejut. Namun, ia tidak bisa melakukan apa-apa. Adiknya telah mati. Dengan membebaskan penyihir yang diincar mereka sejak lama dan memberikan nyawanya pada Dennis.

Zhou Mi menatap keluar, pada Sunghee yang ada di pelukan Jeremy. Ia menatap tajam pada mereka sebelum menghilang sambil membawa kotak kaca tersebut.

Hyukjae terpana. Aiden tak kalah terpana.

“Sunghee, kau tidak apa-apa?” tanya Hyukjae setelah ia tersadar.

“Ya…terima kasih…” bisik Sunghee. Kepalanya masih pening.

“Jeremy…”

“Ya?”

“Aku ingin pergi ke Korea.”

“Kenapa?”

“Aku ingin…mengunjungi rumahku..”

“Baiklah.”

= = =

Di belahan dunia lain, tepatnya Korea Selatan.

Seorang pria berdiri di depan pintu rumah Sunghee yang dulu. Rumah itu sudah lama ditinggal pergi pemiliknya namun masih terlihat terawat. Pria ini yang membersihkannya. Pria yang menunggu kapan gadis pemilik rumah ini kembali. Kapan teman sepermainannya dulu kembali.

Setelah meninggalkan sepucuk surat yang dimasukkan ke dalam rumah lewat celah pintu, pria itu pergi.

“Aku meridukanmu, Sunghee. Bagaimana rupamu sekarang ya? Pasti kau semakin cantik.” Pria itu bergumam sambil melangkah menjauhi rumah Sunghee.

To be continued

12 thoughts on “[FF] Fallen for a Witch PART 9

  1. amitokugawa says:

    kya…kereennn
    endingnya tidak terduga, ternyata henry suka sama sunghee n mengorbankan nyawanya

    btw, siapa tuh yang nungguin sunghee? lanjut!

  2. Lena says:

    ga ngasih tau klo udh publish T.T

    itu itu brarti marcus udh tua bgt yah? haha😀
    okey aku lanjut bca ke part10 ya😉

  3. vidiaf says:

    aaaa sunbae mian aku cuman bisa ninggalin jejeak dulu, belum bisa baca T^T
    maklum koneksi rese mukul modem #curhat
    ninggalin jejak dulu gapapa kan ><

      • vidiaf says:

        haha iya nih pas tau sunbae udah ngepost lanjutannya langsung panik (?) abisnya… gabisa langsung baca -_-

        sunbaeeee aku sudah baca~~~~
        rasanya miris banget ya kalo jadi penyihir .__.
        kaget banget pas tau ternyata Henry suka sama Sunghee dan dia ngorbanin nyawanya ;~;
        masa lalu Sunghee bener2 tragis T.T
        langsung ke next part~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s