[FF] Fallen for a Witch PART 8

Crazy Scientists

“Well, terima kasih, Crownwell. Kau sudah membebaskan kami.”

“Sebagai gantinya…”

Dua orang pria China berpandangan lalu saling tersenyum misterius.

“Ka-kalian mau apa?” Amanda Crownwell berjalan mundur hingga menabrak tembok. Dua orang lelaki itu menarik tangan Amanda dan mengikatnya ke besi. Lelaki yang pendek mengambil sebuah cairan berwarna hijau tua dan meminumkannya ke Amanda. Gadis penyihir itu pun kehilangan kesadarannya.

Seorang lelaki yang tinggi mengambil sebuah alat yang tingginya sepantar dengannya. Ujung alat itu berbentuk seperti paruh burung elang. Lelaki itu menyalakan mesinnya, dan paruh itu pun membuka lebar. Dari tubuh Amanda, keluar sebuah cahaya hijau. Cahaya itu kemudian masuk ke mesin itu melalui paruh tersebut. Amanda terkesiap dan kembali terkulai lemah. Dari kotak yang ada di mesin itu, lelaki yang tinggi mengeluarkan sebuah tabung kecil berisi cairan hijau. Ia tersenyum.

“Kita mendapatkan sihir Crownwell. Tugas kita sekarang adalah mendapatkan sihir Autumn Reinhart.”

= = =

“Sekolahnya bagus juga,” komentar seorang pria China yang pendek.

“Ya. Lumayanlah.” Yang tinggi mengangkat bahu.

Mereka berdua berjalan menuju ruang guru. Di sana mereka menemui sang wali kelas yang akan memimpin mereka masuk ke kelas baru.

= = =

Hyukjae baru saja duduk di bangkunya ketika Hans terbirit-birit menghampirinya.

“Oi, Spence! Kelas kita kedatangan murid baru! Orang Asia!” serunya. Johnn berdiri di ambang pintu. Kepalanya menengok ke kanan lalu ke kiri.

“Terus?” balas Hyukjae. Ia mengangkat sebelah alisnya tak peduli.

“Gak seneng kalau ada orang Asia lagi di kelas ini?”

“Biasa aja. Lagipula di tingkat 2 ada orang Asia.”

“Lee Sunghee itu ya? Pacarmu?”

“Calon.” Hyukjae tersenyum. Hans mengetuk kepala cowok itu.

“Dari kemarin bilangnya calon terus. Kapan jadinya?” ujar Hans kesal.

“Ya sudah. Anak baru itu cowok apa cewek?”

“Sayangnya cowok. Tadi aku lihat tampangnya sih tampang-tampang pinter. Pakai kacamata, tinggi, terus rambutnya cokelat.”

“Oooh…” Seiring dengan gumaman tersebut, bel masuk berbunyi. Para murid langsung menduduki kursi masing-masing.

Herr Koch masuk dengan ekspresi datar. Murid-murid langsung memberi salam. Herr Koch membalas dengan datar sedatar ekspresinya.

“Kali ini ada penghuni baru di kelas kita. Dia datang dari China.”

“Oooh, China.” Hans berbisik di telinga Hyukjae. Hyukjae meletakkan telunjuknya di depan bibir. Bukan apa-apa, Herr Koch ini matanya tajam sekali. Kalau ada muridnya yang kelihatan mengobrol saat ia berbicara, pasti akan dihukum.

“Zhou Mi, silahkan masuk,” ucap Herr Koch. Dari luar, masuklah seorang tinggi jangkung nan tampan. Ia berdiri di depan kelas dan tersenyum. Hyukjae mengerutkan kening. Rasa-rasanya ia pernah melihat laki-laki itu entah dimana.

“Namaku Zhou Mi. Aku pindahan dari China. Senang bertemu dengan kalian.”

“Hai, Zhou Mi!” Kompak, murid-murid kelas itu membalas sapaannya. Mayoritas bernada kurang suka. Itu karena murid laki-laki lebih banyak dibanding murid perempuan di kelas tersebut.

“Johnn, sampingmu kosong?”

“Ya.”

“Zhou Mi, silahkan duduk di sebelah Johnn.” Herr Koch mempersilahkan. Zhou Mi mengangguk dan berjalan ke bangku ketiga, di depan bangku Hyukjae dan Hans. Hyukjae melihat Zhou Mi menyapa Johnn dan menyalaminya. Hyukjae masih mengingat-ingat, dimana ia pernah melihat wajah itu.

“Namamu siapa?” Hyukjae dikejutkan oleh suara Zhou Mi yang menyapanya.

“Lee Hyukjae. Tapi semuanya memanggilku Spencer,” jawab Hyukjae gelagapan. Zhou Mi tersenyum.

“Senang bertemu denganmu. Aku Zhou Mi. Panggil aku sesukamu saja.”

“I-iya..” Zhou Mi tersenyum lagi sebelum berbalik ke depan, memperhatikan Herr Koch yang sedang membahas pelajaran.

= = =

“Aku Henry Lau. Senang bertemu kalian semua.” Henry membungkuk sedikit. Lee Sunghee tersenyum. Ia senang ada orang Asia selain dia di kelas itu.

“Matamu minus?” Frau Wagner menanyakan pertanyaan yang sama pada Henry. Dulu pertanyaan itu ditanyakan pada Sunghee, ketika ia baru masuk ke kelas itu.

“Kurasa tidak, Frau. Aku belum pernah memeriksanya.”

“Kau harus memeriksanya. Aku menempatkan mereka yang bermata minus di depan. Coba kau ke belakang dan lihat ke tulisan di papan tulis. Terbaca atau tidak.”

“Baik.” Henry berjalan ke arah belakang kelas, melewati Lee Sunghee. Gadis itu mencium aroma yang sangat harum dari tubuh pemuda itu. Sunghee sampai menoleh ke belakang dan menatap Henry yang sedang mencoba membaca tulisan di papan tulis. Gadis itu mengerutkan kening. Heran pada aroma tubuh Henry yang begitu memikat.

“Bagaimana, Henry?”

“Kurang jelas.”

“Coba kau maju sampai ke deret ke tiga.” Henry pun melangkah hingga sampai di deret ketiga, tempat Sunghee duduk. Lagi-lagi Sunghee mencium wangi itu, apalagi dari jarak sedekat ini. Rasanya nyaman.

Sunghee mendongak, ingin menatap wajah Henry. Ternyata cowok itu sedang menunduk menatap Sunghee. Henry tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya. Marcus tampak tidak senang.

“Frau Wagner, bisakah aku duduk di deret ketiga saja?”

“Tapi tidak ada bangku kosong di sana, Herr Lau.” Henry menatap Elle yang duduk di sebelah Sunghee. Elle mengangkat bahu.

“Oke,oke, aku memang selalu pindah bangku.” Elle membereskan barang-barangnya dan pindah ke deret keempat di pinggir kanan. Henry berterima kasih dan duduk di sebelah Sunghee. Dia menatap Sunghee dan tersenyum. Dia mengulurkan tangan kanannya.

“Henry Lau.”

“Lee Sunghee.”

“Korea?”

“Iya.”

“Senang bertemu denganmu, Hee.” Henry tersenyum manis. Sunghee gemas hingga ingin mencubit pipi cowok itu.

“Oke, kita lanjutkan pelajaran.” Suara Frau Wagner memaksa keduanya menatap ke depan.

10 menit pertama, mata Sunghee masih segar. 3 menit kemudian, matanya mulai mengantuk. Itu karena wangi yang menenangkan dari tubuh Henry. Sunghee terbuai dengan wangi itu. 15 menit kemudian, Sunghee nyaris terlelap dengan posisi tertelungkup.

“Frau Reinhart! Apa aku memperbolehkanmu tidur saat pelajaran?” seru Frau Wagner. Sunghee terkejut dan menegakkan posisi duduknya. Ia menelan ludah.

Henry menunduk. Sebuah senyum terukir di bibirnya.

= = =

“Apa yang kau dapat tadi?”

“Gadis itu tidak tahan dengan aroma tubuhku.” Henry tertawa. Zhou Mi mengangguk-angguk dan mencatat di buku agendanya.

“Lalu pasangan hidupnya bagaimana?” Kini giliran Henry yang bertanya.

“Anak baik-baik. Dia mengikuti pelajaran dengan baik. Tapi, dia tidak kuper. Dia anak yang supel dan pintar bergurau.”

“Kebalikan Sunghee ya? Bayangkan, dia mengantuk saat pelajaran. Hanya karena mencium aroma tubuhku saja!” Henry tertawa lagi. Zhou Mi tersenyum dan menulis sesuatu di bukunya.

“Penelitian ini semakin menarik.” Henry menyeringai.

“Ya.” Zhou Mi menghentikan kegiatan menulisnya. Ia lalu menutup bukunya.

“Bukan begitu, Crownwell?” Zhou Mi menoleh pada tubuh Amanda yang mengurus, yang masih tergantung di tembok. Tubuh itu diam. Tak menjawab, tak bernafas.

= = =

Hyukjae hendak berjalan ke arah kelas Sunghee, namun Zhou Mi selalu berada di sampingnya. Ia bicara tentang segala macam hal. Mulai dari alamat rumahnya sampai pelajaran fisika.

“Kau tahu, Hyukjae? Sebenarnya fisika itu menyenangkan. Aku heran, kenapa banyak orang menganggap fisika itu sulit. Kau berpikiran sama denganku?”

“Oh ya, Zhou Mi tentu saj…” ucapan Hyukjae terpotong oleh seruan Henry yang memanggil nama Sunghee. Di dalam kelas Sunghee, Henry terlihat sedang memakan bekal Sunghee. Gadis itu ikut memakan bekal miliknya juga. Jadi, bila disimpulkan…mereka makan berdua, dari tempat yang sama. Hal itu membuat hati Hyukjae panas. Cowok itu menarik napas dan melangkah masuk. Marcus melihat kedatangan Hyukjae.

“Oh, ini tidak bagus,” gumam iblis itu.

“Halo, Sunghee!” Hyukjae duduk di hadapan Sunghee, di bangku Marcus. Iblis itu terusir dari bangkunya sendiri. Ia mendengus dan beranjak duduk di atas meja.

“Oh, Hyukjae!” Sunghee tersenyum. Tiba-tiba bau menyengat itu datang, bercampur dengan wangi tubuh Henry. Semuanya masuk ke indra penciuman Sunghee, menimbulkan aroma yang memuakkan. Sayang, hanya dia yang mencium aroma itu.

Sunghee menutupi mulutnya. Ia mual.

“Kau kenapa? Sakit?” tanya Hyukjae khawatir. Sunghee menggeleng. Ia benar-benar mual. Belum sempat Hyukjae bertanya lagi, Sunghee langsung beranjak berdiri dan berlari ke toilet.

Hyukjae heran.

“Hey, kau apakan Sunghee?” tanya Henry. Hyukjae melirik Henry tajam, ia lalu menatap Marcus. Iblis itu hanya menatap keluar jendela.

“Kenapa tidak ada yang khawatir pada Sunghee? Marcus?” tanya Hyukjae.

“Biarkan saja dia.”

“Kenapa?” Hyukjae berdiri, hendak menyusul Sunghee. Tapi, tangan Marcus lebih cepat. Ia menahan Hyukjae.

“Sudah, biarkan saja. Aku yakin kau tak mau melihatnya.”

= = =

Sunghee memuntahkan isi perutnya. Tapi, yang keluar malah darah kental berwarna hitam pekat. Sunghee terkejut. Ia cepat-cepat membersihkan wastafel dan mulutnya. Ia menutup mulutnya dengan sepasang tangannya yang gemetar. Tubuhnya yang lemas melorot ke lantai. Napasnya memburu.

= = =

“Hari ini perkembangannya cukup baik. Sunghee muntah mencium aroma tubuhku dan aroma tubuh Hyukjae bersamaan.”

“Maksudmu Hyukjae dan Sunghee belum melewati masa-masa indah bersama?”

“Kurasa begitu. Mungkin wangi tubuh Hyukjae masih menyengat di hidung Sunghee.”

“Berarti memang belum terlalu dekat ya. Tidak asyik.” Zhou Mi mencibir. Henry tersenyum tipis.

“Rencanamu itu memisahkan Hyukjae dan Sunghee ketika mereka sudah sangat dekat, bukan? Dan kau menggunakan aku sebagai alatnya?”

“Kau pintar.”

“Itulah kenapa kita menjadi ilmuwan. Ramuan yang kau buat kemarin hebat sekali. Wajah kita tampak lebih muda 20 tahun.”

“Well, kita memang tidak bertambah tua. Wajah ini abadi. Selamanya akan seperti ini.”

“Baguslah. Aku bisa menatap wajah tampan di cermin selamanya.” Henry tertawa. Zhou Mi hanya tersenyum tipis.

= = =

Bel pulang berdering, menandakan murid-murid Neumann High School boleh kembali ke rumahnya masing-masing. Sunghee berdiri dan mengalungkan tas selempangnya. Dia lalu menatap Marcus yang masih terdiam di kursinya.

“Sebaiknya kau menjauh dari Henry..” bisik Marcus. Sunghee mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Dia bukan manusia,” bisik Marcus sekilas. Ia berjalan melewati Sunghee keluar kelas. Di ambang pintu, ia berpapasan dengan Henry. Mereka bertatapan tajam. Henry lalu menatap ke arah Sunghee dan tersenyum lebar.

“Sunghee! Kau kosong hari ini?”

“Ehm…kurasa aku tidak ada acara.” Sunghee mengangkat bahu.

“Oh, itu bagus! Bagaimana kalau kita berjalan-jalan dulu?”

“Kemana?”

“Kemanapun yang kau mau.” Henry tersenyum. Sunghee melirik ke pintu kelas. Marcus bersidekap sambil bersender di pintu, menatap tajam ke arah Sunghee.

“Sepertinya aku ingin langsung pulang saja. Maaf ya…” Sunghee tersenyum meminta maaf. Pundak Henry menurun. Wajahnya tampak kecewa.

“Tidak bisa ya?”

“Lain kali mungkin?” Sunghee tersenyum. Ujung matanya melirik ke arah pintu. Marcus tidak ada di sana.

“Hmm…okay!” Henry tersenyum.

= = =

“Hyukjae!” panggil Marcus. Hyukjae yang sedang mengobrol dengan Hans dan Zhou Mi menoleh.

“Oh, hai, Marcus! Tumben kau kemari,” sapa Hyukjae. Marcus melirik Zhou Mi sekilas. Cowok itu menatapnya tidak suka. Hans menatap Marcus heran.

“Hyukjae, kurasa kau harus berbicara dengan Sunghee.”

“Hah? Tentang?” Hyukjae heran. Marcus menarik tangan Hyukjae menjauh dari Hans dan Zhou Mi lalu mendekatkan wajahnya ke telinga cowok itu.

“Kau tidak mau dia diambil orang, kan?” bisiknya. Hyukjae terkejut.

“Siapa? Cowok China itu?” bisik Hyukjae. Marcus mengangguk. Hyukjae terdiam. Tangannya terkepal marah.

“Well, kurasa kau ingin mendengarkan sesuatu yang menarik.” Marcus, untuk pertama kalinya, tersenyum tulus di hadapan Hyukjae. Hyukjae terpana. Ia lalu mengangguk.

= = =

“Penyihir bisa mencium aroma yang menyengatkan dari tubuh manusia, tidak ada aroma apapun dari iblis, dan aroma menenangkan dari malaikat.” Marcus memulai ceritanya. Ia dan Hyukjae sedang duduk di pinggir lapangan basket dekat rumah Sunghee. Hanya ada anak-anak kecil yang bermain basket di sana.

“Maksudmu, Sunghee tidak mau dekat-dekat denganku karena aroma tubuhku menyengat?” tanya Hyukjae sambil memegang bola basket cadangan.

“Dua kali lebih menyengat.”

“Hah?” Hyukjae menoleh pada Marcus. Iblis itu menatap lurus ke depan. Lalu ia menolehkan kepalanya pada Hyukjae.

“Pernahkah kau mendengarnya atau melihatnya di suatu tempat?” Marcus balik bertanya. Hyukjae mengerutkan kening.

“Tentang pasangan hidup,” lanjut Marcus.

“Ah, aku pernah membacanya di buku…” Hyukjae tertegun. “Hey, apa aku pasangan hidup Sunghee?” Hyukjae terkejut. Wajahnya terlihat bahagia.

“Jangan senang dulu. Peran pasangan hidup penyihir sangat berat. Kau tidak tahu bagaimana ayah Sunghee meninggal, kan?”

“Jadi kau tahu?”

“Aku tahu segalanya tentang Sunghee.” Marcus tersenyum setengah. Ucapan itu membuat Hyukjae sedikit cemburu.

“Tapi bukan ini inti pembicaraan kita hari ini,” kata Marcus. Hyukjae menatap Marcus.

“Aku ingin memintamu melakukan satu hal.” Marcus menunduk. Ia mengambil bola dari tangan Hyukjae dan memutar-mutarnya.

“Apa?”

“Lewati masa-masa indah bersama Sunghee. Berkencan, atau apapun.”

“Kenapa?” Hyukjae heran.

“Aku yakin kau belum membaca bagian ini.” Marcus memantulkan bola ke tanah. “Aroma menyengat dari tubuh si pasangan hidup bisa hilang jika mereka melakukan hal yang menyenangkan bersama-sama. Bahkan, lama-lama aromanya bisa berubah menjadi aroma yang menyenangkan.”

“Benarkah?” Hyukjae terlihat terkejut.

“Kurasa bukumu itu tidak lengkap dan kurang akurat, Jae.” Marcus beranjak berdiri dan memainkan bola. Ia lalu melihat ke tengah lapangan. Anak-anak itu sudah bubar, kembali ke rumahnya masing-masing.

“Kau mau bermain?” ajak Marcus. Hyukjae mengedikkan kepalanya.

“Ya.”

Marcus tersenyum tipis lalu melemparkan bola itu ke arah Hyukjae.

“Yang mendapatkan 15 poin pertama, dia yang menang.”

= = =

“Kalau dia macam-macam, lapor padaku!” Vincent mengepalkan tangan kanannya dan memukulkannya ke telapak tangan kirinya. Sunghee terdiam.

“Tapi, kurasa Henry anak yang baik. Hanya saja wangi tubuhnya aneh. Menenangkan. Berbeda sekali dengan wangi tubuh Hyukjae.”

Vincent terdiam mendengarkan.

“Aku sangat tidak suka jika Henry dan Hyukjae berada di sisiku sekaligus. Wanginya..ugh..aku tidak bisa membayangkannya.” Sunghee menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa.

“Kudengar kau bisa menghilangkan wangi menyengat itu dengan melakukan hal yang menyenangkan berdua.”

“Benarkah?” tanya Sunghee. Nada suaranya penuh harap.

“Ya.” Vincent mengangguk meyakinkan. Sunghee terdiam menatap kakaknya.

= = =

Suara pukulan keras di dinding memecahkan keheningan di ruangan berwarna dasar putih. Zhou Mi menggeram dan melepaskan tangannya dari tembok. Henry hanya diam melihat rekannya kesal. Ia bersandar ke tepi meja sambil bersidekap. Mulutnya mengunyah permen karet.

“Sial!” geram Zhou Mi. Henry meniupkan balon dari mulutnya.

“Iblis itu tahu siapa kita!”

“Well, umurnya lebih tua daripada kita.” Henry mengangkat bahu. “Tentu dia tahu banyak.”

Zhou Mi mengepalkan tangannya.

“Kita harus mengalihkan perhatian iblis itu agar tidak ikut campur dengan urusan kita.”

“Caranya?” tanya Henry santai sambil terus mengunyah.

“Amanda Crownwell.” Zhou Mi menatap tubuh kurus yang terikat di dinding. Henry mengangkat bahunya bingung.

“Dan kenapa Amanda Crownwell?”

“Karena dia cinta pertama Marcus Cho.”

“Ow…hahahaha!” Henry tertawa. “Kau pintar, Zhou. Itulah kenapa aku suka kau!” Henry berjalan ke arah Zhou Mi dan mengacak rambutnya.

“Oh, hentikan. Itu menjijikkan.” Zhou Mi menepis tangan Henry.

“Well, aku adikmu.” Henry mengedikkan bahu. “Kenapa harus jijik dengan adik sendiri?” Henry tertawa.

“Oke, sekarang kita harus membangkitkan Amanda.”

“Aku tahu, aku tahu.” Henry berjalan ke dinding tempat Amanda diikat dan membuka rantainya. Henry menangkap tubuh Amanda yang terjatuh dan membaringkannya ke meja kaca. Zhou Mi berjalan perlahan menghampiri Amanda. Sayap putihnya terbentang lebar. Ia lalu mengelus wajah Amanda yang tirus.

“Maafkan kami, Amanda. Tapi, ini demi kebaikan semua. Kau tahu kami bertugas untuk menghilangkan semua makhluk-makhluk jahat itu dari dunia ini. Kami sudah berbaik hati untuk mengambil kekuatan sihirmu. Kau bisa menjadi manusia seutuhnya.” Zhou Mi tersenyum dan mencabut sebuah bulu putih dari sayapnya. Henry membentangkan sayapnya. Matanya yang cokelat berubah menjadi biru cerah. Ia membuang permen karetnya yang sudah tidak manis ke tempat sampah.

“Ehm…Zhou, kurasa kau mau melakukannya sendirian. Yah, kau tahu aku barusan makan permen karet.”

“Bodoh,” cibir Zhou Mi. Henry mengangkat bahu.

“Minum ini.” Zhou Mi melemparkan botol air mineral pada Henry. Cowok itu menangkapnya dan meminumnya.

“Oke, kau tidak akan melakukannya sendiri,” ucap Henry. Ia lalu menunduk mendekati wajah Amanda. Ia meniupkan nafasnya dari ujung kepala Amanda, hingga ujung kakinya. Tubuh Amanda perlahan berubah menjadi tubuhnya yang dahulu. Yang tidak tirus dan berkulit lembut.

Zhou Mi membuka tiga kancing teratas kemeja Amanda. Ia lalu membukanya. Pundak Amanda pun terlihat. Zhou Mi mengulurkan bulu sayapnya ke arah pundak kanan Amanda dan mulai menggambar sesuatu. Ia menggambar sebuah lingkaran, lalu di tengahnya terdapat lambang sayap terbentang. Setelah selesai, lambang itu menyala. Warna biru terpancar dari sana. Zhou Mi menegakkan tubuhnya dan mundur dua langkah, begitupun dengan Henry.

Tubuh putih pucat Amanda mulai terlihat segar. Darah mengaliri seluruh tubuhnya. Dada Amanda yang diam, kini naik turun. Menunjukkan bahwa oksigen mulai masuk ke tubuh itu. Jari-jari tangan Amanda bergerak. Perlahan, lalu menggenggam. Kepalanya yang terkulai menoleh ke kanan lalu ke kiri, seperti orang sedang bermimpi buruk. Matanya mulai menunjukkan suatu respon. Sampai akhirnya kedua kelopak mata itu terbuka, menunjukkan mata berwarna hijau muda yang indah. Matanya berkedip, menyesuaikan dengan cahaya sekitar.

“Dimana…aku?” tanya Amanda dengan suara serak.

“Masih di laboratorium kami, sejak 10 tahun yang lalu.” Henry yang menjawab.

“10 tahun?” Amanda terlihat kaget.

“Well, Zhou Mi memberimu ramuan untuk awet muda sebelum kau mati, bukan?” Henry menoleh pada Zhou Mi yang hanya mengangguk.

“Wajahmu masih sama seperti 10 tahun yang lalu, cantik.” Zhou Mi berbasa-basi.

“Lalu, kenapa kalian membangkitkanku?”

“Karena kita butuh bantuanmu.” Zhou Mi menatap Amanda tepat di matanya.

“Apa?”

“Masih ingat dengan Marcus Cho?” tanya Zhou Mi enteng. Amanda tersentak. Ia terkesiap.

“Tugasmu adalah mengalihkan perhatiannya dari urusan kami. Aku yakin kau tahu caranya,” kata Zhou Mi tegas. Amanda menelan ludah.

“Dan kau Henry, kau juga punya tugas.” Zhou Mi mengalihkan tatapannya pada adiknya. Henry yang sedang asyik mengamati Amanda pun sontak menoleh.

“A-apa? Aku?” Henry menunjuk dirinya sendiri.

“Ya, kau. Kau tahu Gabrielle Brunnswick, bukan?”

“Yeah, dia dulu teman sebangku Sunghee.”

“Dia tahu Sunghee penyihir sebelumnya. Hanya saja Aiden Leonid menghipnotisnya agar melupakan kejadian itu selamanya.”

“Jadi tugasku adalah..?”

“Ubah Elle menjadi penyihir, dan suruh ia mendekati Hyukjae.”

“Tunggu, bukankah kita di sini untuk menghilangkan semua penyihir?”

“Aku hanya menggunakannya sejenak. Setelah misi ita tercapai, ia bisa kita buang.”

Henry bersiul. Dia menatap kakaknya dengan terkejut.

“Tak kusangka kau secerdik ini.”

“Yah, kita ilmuwan.”

= = =

“Amanda, kau memang bukan seorang siswi di sini, tapi kau menjadi guru pengganti kelas 2. Usahakan kau lebih dekat pada Marcus. Natural, jangan berlebihan. Buat dia tidak menyangka bahwa kau ada di pihak kami.” Henry terus berceloteh sepanjang perjalanan ke sekolah.

“Tapi…kenapa kalian mengambil sihirku?”

“Kau pasti bingung kenapa. Itu…tentu saja untuk kebangkitan Tuan Dennis.”

“Tuan Dennis?”

“Ia malaikat dari seluruh malaikat,” bisik Henry ke telinga Amanda. “Sang Tangan Tuhan.”

“Wow,” komentar Amanda tidak terkesan.

“Terkesanlah!” ujar Henry ringan.

“Bagaimana mungkin aku terkesan pada musuhku?” Amanda mendengus.

“Dia bukan musuhmu. Kau sudah menjadi manusia seutuhnya. Kita teman.” Henry merangkul pundak Amanda.

“Terserah.”

“Dan Tuan Dennis harus menyerap kekuatan 5 penyihir agar bisa bangkit.”

“Dan kenapa ia harus dibangkitkan?”

“Aileen menidurkannya sejenak. Sudah saatnya untuk bangkit.” Henry berhenti di depan ruang guru.

“Anggap aku bukan siapa-siapa. Dah, Amy.” Henry pun berjalan menuju ruang kelasnya. Amanda menghela napas. Ia lalu mengetuk pintu ruang guru.

“Oh, kau pasti guru pengganti itu,” sapa Herr Friedrich ramah. Amanda tersenyum dan mengangguk.

“Baik, perkenalkan dirimu dulu ya.” Herr Friedrich membimbing Amanda masuk ke dalam ruang guru.

= = =

“Huaaahmm..” Marcus menguap sambil meregangkan kedua tangannya ke atas. Sunghee tersenyum.

“Kau mengantuk?” tanya Sunghee dari bangkunya. Marcus menoleh.

“Tidak. Hanya bosan saja.”

“Sunghee!!” seruan Henry dari pintu membuat Marcus menggerutu.

“Dia lagi,” gerutunya. Henry berjalan menghampiri Sunghee dengan riang.

“Pagi, Sunghee. Hai, Marcus.” Henry menyapa Marcus sekilas. Ia lalu menatap Sunghee.

“Hari ini kau masih ada acara?”

“Ada.”

“Apa?” Henry terlihat kecewa. Ia lalu duduk di samping Sunghee.

“Mengerjakan tugas.”

“Ya ampun! Sudahlah, besok kan Sabtu, kita libur. Ayo jalan-jalan. Kalau perlu kita ajak yang lain juga. Hmm…Elle mungkin?” Henry mengedikkan kepalanya ke arah Elle.

“Sunghee sudah ada yang punya. Kakak kelas,” ujar Marcus. Henry hanya melirik Marcus sekilas dengan tajam. Ia lalu menatap Sunghee kembali.

“Benar begitu?”

“Ehm…” Sunghee menggigit bibir bawahnya bingung.

“Kudengar kau bisa menghilangkan wangi menyengat itu dengan melakukan hal yang menyenangkan berdua.”

“Ah, benar sekali!” ujar Sunghee akhirnya. Ia meringis. “Maaf ya, Henry..”

“Well, kau tidak perlu meminta maaf.” Henry mendekatkan wajahnya ke wajah Sunghee. “Aku tidak memintamu untuk menjadi pacarku.” Henry tersenyum. Ia lalu membetulkan posisi duduknya dan mengeluarkan buku dari dalam tas. Sunghee tertegun. Ia masih menatap Henry.

Di luar, Jeremy memperhatikan Zhou Mi yang berjalan ke gudang sekolah. Nathan ada bersamanya. Jeremy menajamkan pendengarannya.

“Frau Metzger yang menyuruhku membawa beberapa peralatan laboratorium. Ada yang jumlahnya kurang jadi aku harus mengambilnya,” kata Zhou Mi.

“Bukankah pelajaran belum mulai?” tanya Nathan.

“Memang. Tadi Frau Metzger berpapasan denganku, lalu ia menyuruhku mengambil beberapa perlengkapan sebelum pelajaran dimulai.”

“Oh, baiklah.” Nathan mengeluarkan kunci gudang dari saku celanannya. Ia lalu membuka pintu gudang. Nathan masuk terlebih dahulu, disusul dengan Zhou Mi. Jeremy menuruni pohon tempatnya mengawasi dan berjalan mendekati gudang. Sosok kucingnya membuatnya mudah melompat kesana kemari. Ia melompat ke jendela. Gudang yang gelap menyamarkan sosoknya yang berwarna hitam.

“Ini peralatan yang sudah lama tidak dipakai. Tapi masih bagus.” Nathan mengambil sebuah kardus dan meletakkannya di atas meja. Ia lalu membuka kardus itu dan mengambil beberapa tabung reaksi.

“Mungkin ini yang jumlahnya kurang. Di sini tersedia banyak. Bukan, begitu?” Nathan menengadah, menatap Zhou Mi yang lebih tinggi darinya. Cowok itu sedang menatapnya tajam. Matanya berubah menjadi biru cerah. Jeremy mengubah dirinya menjadi manusia. Ia duduk di jendela.

“Hey, Zhou Mi!” seru Jeremy. Zhou Mi menoleh.

“Vampir,” bisiknya.

“Yap.” Jeremy melompat turun dari jendela. Ia lalu berjalan mendekati Zhou Mi dan Nathan. Nathan terlihat kebingungan.

“Mau kubantu membawakan peralatan?” Jeremy menawarkan. Zhou Mi mendengus.

“Tidak, terima kasih.” Zhou Mi mengeluarkan sebuah pisau perak dari balik blazer-nya. Jeremy mengangkat alis.

“Mau membunuhku?”

“Dengan senang hati.” Zhou Mi menerjang Jeremy. Jeremy mengelak. Ia melompat ke atas meja, mendorong Nathan menjauh. Nathan tersungkur, kardus-kardus kosong berjatuhan. Ia meringis.

Nathan terpana menyaksikan Zhou Mi dan Jeremy yang sedang berkelahi. Nathan tahu Zhou Mi bukan manusia. Tapi, ia tidak menyangka bahwa Zhou Mi berbahaya. Ia mengincarnya.

“Jangan ganggu kegiatanku, makhluk hina!” seru Zhou Mi.

“Kalau mau berkelahi, bagaimana kalau kita pindah ke tempat yang jauh? Ini sekolah, jangan ribut!” Jeremy tersenyum setengah. Zhou Mi menggeram kesal. Ia hendak menghujamkan pisaunya ke jantung Jeremy, tapi vampire itu langsung merubah tubuhnya menjadi seekor nyamuk kecil yang nyaris tak terlihat oleh mata. Zhou Mi membentangkan sayap putihnya. Mata birunya mengelilingi ruangan. Tiba-tiba, di hadapannya Jeremy berubah menjadi sosok manusia kembali. Kaki Jeremy tepat mengenai perut Zhou Mi. Jeremy melompat menjauh, mendekati Nathan.

“Nathan, pergi dari sini!” perintahnya. Nathan menggeleng.

“Aku akan membantumu.”

“Bodoh! Jangan pakai sihirmu!” Namun sayang, perintah Jeremy terlambat. Nathan menggunakan sihirnya untuk mengangkat barang-barang yang berat. Nathan hendak melemparkan barang-barang itu ke arah Zhou Mi, namun Zhou Mi telah bertindak lebih dulu. Ia mengeluarkan sebuah tabung kecil, seperti yang ia gunakan untuk mengambil sihir Amanda. Ia membuka tutupnya dan cahaya berwarna biru cerah keluar dari tubuh Nathan. Cahaya itu masuk ke dalam tabung. Nathan menjerit. Barang-barang berat itu terjatuh. Jeremy membuat sebuah pelindung, agar orang lain tak ada yang mendengar suara keributan di sini. Jeremy hanya bisa terdiam melihat Nathan terjatuh ke lantai, menjerit kesakitan.

Cahaya biru itu perlahan menghilang. Meninggalkan Nathan yang terkapar tak berdaya. Zhou Mi tersenyum. Ia menenteng tabung berisi cairan berwarna biru dengan senyuman lebar.

“Tiga penyihir lagi.” Zhou Mi mengedipkan sebelah mata dan berlalu pergi. Jeremy berlari menghampiri tubuh Nathan. Ia memeriksa denyut dan nafasnya. Tidak ada.

To be continued

16 thoughts on “[FF] Fallen for a Witch PART 8

  1. vidiaf says:

    aaaa sunbae kenapa Mochi harus jadi jahaaat? ;____;
    akhirnya Eunhyuk mau ngedeketin Sunghee :’) /eh
    ada momen yewook couple juga :’) /vid, please [oke abaikan saja dua kalimat di atas]
    makin ke sini makin tegang dan ga ketebak dah .__.v
    btw, kayaknya semua member SJ masuk di FF ini ya? .-.
    fighting buat part 9, sunbae!! ^^

    • sungheedaebak says:

      sebenernya mochi itu baik. sunghee dkk yang jahat…hahaha. kan sunghee penyihir, marcus, casey iblis, jeremy vampir…kan mochi membasmi kejahatan hahahhaa ^^

      haha iya tuh hyuk setelah sekian lama aku menanti (?)
      si aduh momen yewook =_= gatau ya kebetulan jad yewook momen

      iya emang semua member SJ masuk sini kok. tadinya mau masukin SHINee ama DBSK juga, tapi kebanyakan. ya udah SJ aja udah cukup hehehe😉
      oke makasih yaa…

      • vidiaf says:

        hoho iya juga sih, tapi.. rasanya jadi kebalikannya di sini =_= (sunbae ngerti, ngga? sama aku juga ngga ngerti-.-)

        hooo… jadi ga sabar baca lanjutannya :3 penasaran siapa lagi yang bakal ada di FF ini hoho

      • sungheedaebak says:

        haha iya sengaja aku bkin kaya gitu. bosen kan kalo pemeran FF tuh yang baik terus. sekali sekali ada di sisi yang jahat :))
        kalo merhatiin dari awal yakin ketebak deh siapa yang bakal muncul selanjutnya

  2. Lena says:

    uah~makin rumit,makin banyak tokoh,makin bagus,makin kaga ngerti alurnya kemana ._. *biasa IQnya rendah (amit-amit) xD*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s