[FF] Fallen for a Witch PART 7

Her Mother’s Messenger

Pagi yang cerah membuat Sunghee membuka matanya. Jeremy baru saja membuka tirai jendela, membiarkan sinar matahari yang sehat masuk menyapa mata majikannya. Jeremy menatap Sunghee dengan sedikit senyuman. Sunghee membalas senyumnya.

“Pagi, Jeremy!”

“Pagi, Nona.” Jeremy melangkah ke arah Sunghee dan memperhatikannya. Sunghee balas menatap.

“Kenapa?” tanya gadis itu.

“Tidak apa-apa.” Jeremy memalingkan wajah. Sunghee meregangkan tubuhnya. Jeremy melirik jam tangannya.

“Kau lapar?” tanya Sunghee. Jeremy menggeleng.

“Mungkin kau yang lapar. Sekarang sudah jam sarapan dan kau masih bersantai di sini. Cepat bersihkan tubuhmu dan turun ke lantai bawah. Aiden dan Casey sudah menunggu.”

“Hah? Kenapa mereka kemari?”

“My fair lady!!” Marcus membuka pintu dan menerjang masuk. Sunghee terkejut dan segera menutup tubuhnya dengan selimut. Marcus menatapnya nakal.

“Kau tidur pakai gaun malam tanpa lengan lagi ya?”

“Hah?! Lagi?? Jadi kau sudah tahu?!” Wajah Sunghee memerah. Marcus tertawa. Sunghee mengambil sebuah bantal dan melemparkannya pada Marcus, tapi iblis itu langsung menangkap bantalnya. Ia melemparkan bantal itu ke arah Sunghee dan tepat mengenai kepalanya.

“Sialan!” umpat Sunghee. Jeremy menghela napas. Ia menggeleng-geleng melihat kelakuan dua orang itu.

“Nona, kalau kau tidak cepat mandi…”

“Sunghee-yah!!” ucapan Jeremy dipotong oleh seruan Aiden dan Casey. Sunghee sontak merapatkan selimutnya.

“KALIAN SEMUA KELUAAAAAR!!!”

“He? Kenapa?” tanya Casey polos. Aiden menatap Sunghee sambil menaikkan alisnya. Marcus tertawa. Jeremy mendengus. Dia lalu menarik tiga orang itu keluar ruangan dan menutup pintu.

“Heee? Itu tidak adil! Kenapa hanya Jeremy yang boleh?” seruan Casey terdengar dari luar.

“Nona, kalau kau tidak cepat…”

“Iya-iya aku tahu!” potong Sunghee. Ia langsung mengambil bajunya dan masuk ke kamar mandi. Jeremy menarik napas. Dia lalu melihat keluar jendela. Sesosok lelaki berambut hitam menatap ke dalam kamar. Sedetik kemudian ia melompat pergi. Jeremy menajamkan pandangan. Namun, lelaki itu sudah berlalu terlalu jauh.

Akhir-akhir ini Jeremy memang merasakan ada yang mengawasi mereka. Tapi, dia tidak tahu siapa.

“Kita lihat saja..” gumamnya.

= = =

“Pagi yang cerah, Spence!” sapa Hans dan Johnn bersamaan. Hyukjae mengangkat tangan kanannya sambil tersenyum.

“Akhir-akhir ini kau jadi jarang main dengan kami.” Hans cemberut. Johnn memukul kepalanya pelan.

“Jangan sok imut!”

“Hahaha…sudahlah kalian. Aku jarang main karena sibuk belajar,” dusta Hyukjae. Kenyataannya, ia mencari tahu segala sesuatu tentang penyihir.

“Oke. Kita buktikan siapa yang mendapat nilai tertinggi di ujian Fisika nanti,” ujar Johnn. Hyukjae mengangguk. Dia lalu menatap ke arah gerbang sekolah. Dia melihat Sunghee, Marcus, Aiden, dan Casey memasuki gerbang bersama-sama. Hyukjae mencari Jeremy. Ah, cowok itu berubah menjadi kucing hitam dan melompati dahan-dahan pohon.

“Greetings, fellas!” seru Aiden dari jarak 5 meter. Hyukjae melambai.

“Halo, hentai,” sapa Marcus datar. Hyukjae mendengus.

“Kau bilang itu ke aku atau ke Aiden?” ujarnya. Marcus berlagak tidak mendengarkan.

“Pagi, Sunghee,” sapa Hyukjae sambil menatap ke arah Sunghee. Gadis itu membalas tatapannya.

“Pagi, Hyukjae.” Dia tersenyum tipis.

.

.

Di atas gedung sekolah, dua orang lelaki berdiri. Lelaki yang pendek menyeringai sambil mengangkat sebuah pot bunga yang siap dilemparan.

“Kau serius?” tanya yang tinggi.

“Rencanaku tidak bisa diubah.”

Di bawah sana, Sunghee dan teman-temannya sedang berjalan mendekati pintu masuk sekolah. Lelaki yang pendek melepaskan pot bunganya.

= = =

Marcus merasakan sesuatu. Dia melihat ke atas. Sebuah pot bunga terjatuh ke arah Sunghee. Dia langsung menarik Sunghee menjauh. Pot bunga itu pun menghantam tanah. Mereka yang ada di sana terkejut. Apalagi Sunghee.

Marcus menatap ke atas. Tidak ada siapa-siapa.

“Kau tidak apa-apa, Sunghee?” tanya Hyukjae. Sunghee mengangguk.

“Siapa yang melakukannya?” gumam Aiden sambil melihat ke atas. Marcus mendengus.

= = =

Jam pelajaran sudah dimulai. Sunghee belajar dengan was-was. Begitupun dengan Marcus di depannya. Sedikit-sedikit ia melihat keluar jendela. Takut-takut ada sesuatu.

Jeremy bersantai di atas dahan pohon, seperti biasa. Matanya tertuju pada Sunghee.

Di atap gedung, dua orang lelaki menggerutu.

“Sialan. Siapa cowok yang bersama Sunghee tadi?” kata yang pendek. Yang tinggi mengangkat bahu.

“Gadis itu punya banyak pengawal,” komentar yang tinggi.

“Hmm…begitu.” Lelaki yang lebih pendek menyeringai.

“Kita hentikan saja, Vince.”

“Kau ini pembunuh bayaran! Masa mau menyerah di sini?”

“Bukan begitu..” gumam lelaki yang tinggi. “Tapi, kurasa gadis itu punya banyak pengawal yang hebat-hebat. Kurasa mereka bukan manusia.”

Vince tidak menjawab. Dia melompat ke pohon besar di depan mereka. Lelaki yang tinggi menghela napas dan mengikutinya.

= = =

“Kenapa kau ikut berjalan dengan kami?” tanya Sunghee pada Aiden yang berjalan di sampingnya bersama Griss.

“Mobilku di bengkel.”

“Dia bohong. Mobilnya baik-baik saja. Lagipula ia punya tiga mobil,” sahut Griss. Aiden menghela napas.

“Aku hanya ingin ikut dengan kalian.” Aiden mengangkat bahu.

“Kau boleh ikut kami jika kau mentrak..” ucapan Casey terpotong karena sebuah panah meluncur ke arah mereka. Sunghee terkesiap. Panah itu nyaris menggores hidungnya. Dia langsung melihat ke atas. Tidak terlihat siapa-siapa.

Jeremy mengeluarkan cakarnya. Marcus dan Casey bersiap dengan pisau mereka. Aiden mengeluarkan sebuah pistol dan melindungi Griss dengan tubuhnya.

Sebuah panah meluncur lagi. Namun, kali ini panah itu tertangkis oleh tongkat yang biasa dipakai pada martial arts. Seorang laki-laki menyusul tongkat itu dan menangkapnya sebelum jatuh ke tanah. Laki-laki yang lebih tinggi melompat ke arah pagar sekolah dan melemparkan beberapa buah pisau kecil ke arah si pemanah.

“A-apa yang terjadi?” bisik Sunghee.

Dahan pohon besar di dekat mereka bergerak. Sedetik kemudian, seorang perempuan yang membawa busur panah dan beberapa buah panah di punggungnya muncul. Gadis itu meluncurkan panahnya lagi. Lelaki yang pendek menangkis panah itu dengan tongkatnya.

“Hanya aku yang boleh membunuh Lee Sunghee!” seru lelaki itu. Ia lalu menerjang ke arah gadis pemanah.

Lelaki yang tinggi melompat ke belakang Sunghee dan menarik tubuhnya. Ia melompat ke atas pagar sambil membekap Sunghee. Sebuah pisau terarah pada leher gadis itu.

Marcus dan Jeremy tidak terima. Marcus melebarkan sayapnya dan terbang ke arah Sunghee. Jeremy melompat dan menyerang lelaki yang lebih tinggi. Lelaki itu limbung. Sunghee terlepas. Casey dengan sigap menangkapnya.

Aiden menodongkan pistolnya ke arah lelaki yang pendek dan gadis pemanah. Bingung hendak membidik siapa. Akhirnya ia menembakkan pistol itu ke arah si lelaki. Cowok itu berbalik dan menangkap peluru Aiden. Ia melemparkan peluru itu pada gadis pemanah. Gadis itu dengan tangkas menghindar. Ia memanah lelaki itu lagi, namun meleset. Cowok itu menerjang gadis itu dan menjatuhkannya ke tanah. Ia lalu menginjak perut gadis itu dan meletakkan tongkatnya di atas lehernya.

Marcus melemparkan pisau ke arah cowok yang tinggi. Cowok itu melompat turun dari pagar. Tongkatnya terlepas dan Aiden menangkapnya. Pistolnya ia lemparkan pada Griss. Aiden langsung mengacungkan tongkat itu, hendak memukul cowok itu yang masih terduduk di tanah, karena pendaratan yang tidak sempurna. Aiden mengayunkan tongkat itu, namun cowok yang tinggi itu menahannya, tanpa melihat.

Aiden tertegun. Cowok itu memanfaatkannya untuk membalikkan keadaan. Ia berbalik dan menarik tongkatnya, membuat Aiden tersungkur. Cowok yang tinggi hendak memukul tubuh Aiden dengan tongkatnya ketika suara Aiden terdengar.

“Han..?” katanya. Cowok itu tertegun. Ia lalu menurunkan tongkatnya. Marcus menghilangkan sayapnya. Jeremy menghilangkan cakarnya. Casey memegang pundak Sunghee, membantunya tetap tegak.

“Vincent, kita ketahuan.” Lelaki bernama Vincent, menyingkirkan kakinya dari perut gadis pemanah itu. Begitupun dengan tongkatnya. Ia mengulurkan tangan dan membantu musuhnya berdiri. Gadis itu menepis tangan Vincent.

“Well…” Vincent mengangkat bahu. Dia lalu berjalan ke arah Han. “kurasa kau ada benarnya, Han. Kita ketahuan.” Vincent tersenyum. Sunghee tertegun.

“Kau…benar-benar Han?” tanya Aiden pada Han. Cowok itu menatapnya. Dia menatap Aiden dari ujung kaki hingga ujung kepala.

“Ya. Namaku Han Geng.” Han tersenyum tipis. Aiden menganga.

“Aku Vincent Reinhart.” Vincent tersenyum. Sunghee terkejut.

“Sungmin Oppa??” pekiknya. Wajahnya menganga seakan sedang melihat hantu.

“Hai, Dik. Bagaimana kabarmu?” Vincent tersenyum, kali ini senyum tulus.

“Ya Tuhan! Kukira kau sudah tiada…” Suara Sunghee bergetar. Dia lalu berlari menghambur ke pelukan Vincent. Cowok itu tertawa dan balas memeluk adiknya.

“Aku selalu mengawasimu selama ini. Untunglah kau sehat.” Vincent tersenyum.

Aaah…jadi bayangan-bayangan dan bisikan itu kau, batin Jeremy.

Han mengerutkan kening heran.

“Hei, kau bilang kau ingin membunuh gadis ini?” Han menunjuk Sunghee. Vincent tertawa.

“Kalau aku  bilang aku ingin melihat kemampuan adikku bela diri dan hendak mengajarkannya martial arts, kau pasti tidak setuju untuk ikut denganku.” Vincent menjulurkan lidahnya. Han menggeram kesal.

“Setidaknya bilang dari awal!” Han menggerutu.

“Setidaknya kau bertemu teman lama.” Vincent mengedikkan dagunya ke arah Aiden. Cowok itu masih menatap Han tak percaya. Han menghela napas. Dia lalu menatap Aiden.

“Kau tak banyak berubah,” komentar Han pada Aiden. Aiden tidak tahu harus menjawab apa.

“Hey, kalian!” Gadis pemanah itu berdiri dan menghampiri Sunghee dan teman-temannya.

“Kau siapa?” tanya Vincent polos. Gadis itu mendengus.

“Aku Fay Connor. Aku orang yang diutus oleh Aileen untuk memberikan surat ini.” Fay mengeluarkan sebuah amplop dari tas panahnya. Dia lalu menyerahkannya pada Sunghee.

“Aileen?” Sunghee mengerutkan kening. Vincent menatapnya heran.

“Ibu kita. Kau sudah lupa namanya?”

“Bukan lupa, aku tidak tahu..” Sunghee menggumam sambil menerima surat dari Fay. Vincent semakin bingung.

“Sungmin Oppa, ibu mengirimkan surat untukmu juga.” Sunghee berkata sambil melihat amplop. Vincent berdiri di belakang gadis itu dan ikut melihat amplopnya.

“Hm, iya.”

“Jadi, Fay, kenapa  kau masih di sini?” tanya Marcus. Fay mendengus.

“Kulihat Sunghee ini tidak bisa apa-apa. Dia hanya bisa menyihir. Aku akan mengajarinya memanah.”

“Perintah dari ibu juga?” tanya Vincent. Fay mengangkat bahu.

“Antara iya dan tidak.”

“Maksudmu?” Casey bingung.

“Aku hanya ingin mengajarinya cara memanah. Itu saja.”

“Mencurigakan,” ucap Marcus, Casey, dan Vincent bersamaan. Pundak Fay menurun. Dia menatap orang-orang di hadapannya dengan malas.

“Baiklah, baiklah. Aku memang disuruh ibumu untuk mengajarimu memanah. Jadi…dimana kita akan belajar?”

Sunghee tersenyum. “Kurasa rumahku cukup besar untuk menampung kalian semua.”

= = =

“Cukup besar maksudmu?” Fay ternganga melihat rumah Sunghee yang sangat besar. Vincent mendesah pelan.

“Rumah ini masih sama seperti dulu. Penuh kenangan…” gumamnya.

“Kau tahu, Oppa? Aku agak iri denganmu. Kau masih ingat tentang orang tua kita. Tapi, aku tidak ingat sama sekali.” Sunghee berkata dengan sedih. Dia membuka pintu rumah dengan membuka kuncinya.

“Kenapa kau tidak ingat?” Vincent bingung.

“Semenjak aku dirubah menjadi penyihir, aku kehilangan semua memoriku tentang keluargaku. Hanya ada memori tentang masa laluku yang tidak menyenangkan. Aku tahu Oppa juga dari album foto yang kutemukan di gudang. Jadi…” Sunghee sengaja menggantung kalimatnya. Vincent merangkul adiknya, berusaha mengatakan bahwa sekarang gadis itu punya keluarga.

“Aku tidak segan-segan menceritakan tentang keluarga kita padamu.”

“Terima kasih.”

= = =

Di luar, Han dan Aiden masih berdiri dengan canggung. Aiden berdiri menghadap Han dan menatap cowok itu. Han berdiri menyamping, menghindari tatapan Aiden.

“Kenapa….ah, bukan. Bagaimana kau bisa pergi dari ‘toko’ itu?” tanya Aiden. Han menghela napas.

“Aku kabur dari jendela.”

“Kurasa bukan itu yang ingin kutanyakan. Maaf. Begitu banyak pertanyaan yang ada di otakku sampai aku tidak tahu harus menanyakan apa.”

Han tertawa pelan. “Perkataan macam apa itu?”

Aiden tersenyum sambil menunduk, menatap rumput hijau di bawah kakinya.

“Kau tahu, Han, aku sangat khawatir ketika kamu pergi. Tengah malam aku mengendap-endap ke penjara untuk mencarimu. Tapi, kau sudah pergi.”

“Kau khawatir untukku yang bahkan baru kau kenal kurang dari 5 jam?” Kini Han menatap Aiden. Cowok itu mengangguk.

“Apa orang tuamu tidak menyuruhmu untuk tidak berbicara dengan orang asing?”

“Aku jarang bertemu ayah, dan aku tidak tahu siapa ibuku.” Aiden menghela napasnya sedih. Han terdiam.

“Kau berubah, Han.”

“Kau tidak tahu siapa aku.”

“Dulu aku menganggapmu sebagai kakak. Sekarang aku tidak tahu harus menganggapmu siapa.”

“Kakak?” Han mendengus. “Ayolah, Aiden, kau baru kenal denganku. Jangan langsung percaya dengan orang asing!”

“Tapi aku merasa sudah mengenalmu dengan baik! Aku merasa…aku merasa ada orang yang mau berbicara denganku, mau menjadi temanku…”

“Seperti Harris?”

“Kau tahu tentangnya?” Aiden mendongak. Matanya berkaca-kaca. Han memalingkan wajah. Ia menatap langit yang tidak terlalu cerah.

“Aku tahu. Karena aku ada di sana saat itu.”

“Maksudmu?” Aiden mengerutkan kening.

“Kau mencariku kemana-mana, tapi kau lupa mencari ke atas genting, kan?” Han tersenyum. Aiden menganga.

“Kau melihatku menangis?”

“Iya. Awalnya aku terkejut melihat..darah dari matamu. Tapi…sekarang aku tahu. Kau punya mata penyihir. Mata yang menyelamatkanmu berkali-kali, bukan?”

Aiden merenung. Perkataan Han benar. Aiden jadi menyesal telah menyalahgunakan mata pemberian ibu Sunghee tersebut.

“Kalau kau berfikir kau saat itu sendiran..kau salah.” Han menatap Aiden. “Ada aku.”

Tak disadari, air mata Aiden menetes. Han tersenyum.

“Apa ini? Kenapa kau menangis?” Han tertawa dan mengacak rambut Aiden. Cowok itu langsung menghambur ke pelukan Han. Tangisnya makin kencang.

“Hahaha…kau ini lucu sekali. Seperti anak kecil! Kalau begitu bolehlah..”

“Boleh?” Aiden melepaskan pelukannya dan menatap Han heran.

“Kau boleh menjadi adikku.” Han merangkul Aiden. Cowok itu tersenyum.

= = =

“Aku benar. Kau hanya bisa menyihir, memanah tidak bisa.” Fay geleng-geleng kepala frustrasi. Sedari tadi bidikan Sunghee selalu meleset. Tangan Sunghee sampai merah-merah, keringatnya sampai bercucuran, tapi tak satupun panah yang menancap di papan target.

“Apa yang harus kulakukan? Aku memang tidak pandai memanah.” Sunghee menggumam.

“Bukan tidak, tapi belum! Ulangi lagi!” seru Fay.

Di pinggir halaman tempat Sunghee berlatih, Vincent, Marcus, dan Casey bersantai di kursi sambil memperhatikan Sunghee berlatih. Jeremy berdiri bersandar ke tembok sambil menyilangkan tangannya.

“Kau sudah membaca surat itu?” tanya Marcus. Vincent menggeleng.

“Sunghee dan aku tidak diizinkan membaca surat itu sebelum Sunghee mahir memanah.”

“Itu akan memakan waktu lama,” ujar Casey santai.

“Begitu menurutmu? Hah?” Vincent meregangkan tangannya dan lehernya sambil menatap Casey geram.

“Oops, my bad.” Casey menutup mulutnya dengan tangan.

Sunghee mencoba memanah lagi. Kali ini panahnya mengenai pinggir papan. Sunghee tersenyum lebar.

“Hm, lumayan. Lanjutkan, Hee.” Fay melangkah mundur dua langkah. Sunghee mengangguk dan bersiap memanah lagi. Ia meluncurkan panahnya dan mengenai bulatan berwarna biru.

“Sepertinya sebentar lagi aku bisa pulang,” gumam Fay dengan senyuman.

Setengah jam kemudian, Sunghee berhasil memanah tepat di tengah papan. Marcus, Casey, dan Vincent bersorak gembira. Sunghee hanya tersenyum lebar. Fay tersenyum dan mengambil perlengkapan memanahnya dari tangan Sunghee.

“Tugasku sudah selesai. Aku harus pergi.”

“Kemana?” tanya Sunghee. Fay menatapnya.

“Baca surat itu ya.” Ia menepuk pundak Sunghee sekilas sebelum melangkah mundur. Ia tersenyum lagi dan melompat keluar pagar dengan gesit.

Sunghee masih terpana. Ia masih menatap tempat Fay menghilang.

“Oi, Sunghee! Ayo kita baca suratnya!” seru Vincent.

“Ya!”

= = =

“Untuk anakku Sunghee,

Maaf, ibu tidak bisa melindungimu. Tidak bisa mengawasimu tumbuh besar. Tidak bisa mengasuhmu. Maaf. Maaf. Maaf.

Ibu hanya bisa mengirimkan Fay untuk membantumu memanah. Kau harus belajar bela diri. Jangan sampai kau lengah, Sunghee.

Ibu tahu pasti banyak sekali yang ingin membunuhmu. Maaf, itu semua salah ibu. Mereka ingin membunuh ibu, tapi karena ibu pasti sudah mati, mereka tidak bisa membalas dendam. Maka dari itu, mereka ingin membunuhmu sebagai ganti membunuhku.

Kakakmu selalu menjagamu kan, Sunghee? Dia harus mengajarimu cara membela diri. Harus. Agar kejadian dulu tidak terulang lagi…

Sehat selalu. Ibu mengawasimu dari sana.

With Love, Aileen.” Sunghee terdiam. Dia lalu melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop. Vincent menatapnya. Aiden, Griss, dan Casey sudah kembali ke rumah masing-masing. Kini hanya ada Marcus, Jeremy, Han, dan Vincent yang setia mendengarkan Sunghee membaca surat.

“Yang ini surat untukmu, Oppa.” Sunghee memberikan sepucuk surat pada Vincent. Cowok itu menerimanya dan mulai membacanya.

“Apa isinya?” tanya Sunghee. Vincent mengangkat bahu.

“Hanya pesan agar aku selalu sehat dan menjaga adikku. Isinya kurang lebih sama dengan isi suratmu.”

“Tapi…ada satu hal yang mengganjal pikiranku.”

“Apa itu, Sunghee?”

“Ibu meninggal umur berapa?”

“Aku tidak tahu pasti. Kurasa…antara umur 30-an…” Vincent menatap langit-langit. Pandangannya menerawang.

“35,” jawab Marcus singkat. Vincent menatapnya.

“Bagaimanapun aku iblis yang mengubah adikmu menjadi penyihir. Itu juga atas suruhan Aileen.” Marcus mengangkat bahu. Vincent memalingkan wajahnya.

“Aku tidak suka kata itu. Penyihir..”

“Oppa..”

“Penyihir itu cantik. Tapi…seiring berjalannya waktu, mereka akan berubah menjadi buruk rupa. Faktor pasangan hidup juga bisa membuat mereka sakit. Aku tidak suka.”

“Pasangan hidup…ngomong-ngomong, ayah kita siapa?”

“Namanya Klein Reinhart. Orang Jerman asli. Ia juga manusia biasa. Kalau ibu bernama asli Lee Eun Hee. Nama baratnya Aileen. Semua memanggilnya Aileen.”

Sunghee terdiam, serius mendengarkan. Jeremy, Han, dan Marcus meninggalkan ruangan. Mereka membiarkan kakak adik itu berbincang semalaman.

“Lalu kenapa ibu meninggal?”

“Aku tidak tahu.” Vincent menyandarkan tubuhnya ke sofa.

“Ayah?”

“Aku juga tidak tahu..” Vincent menggeleng lemah.

“Apa ingatanku akan kembali? Aku tidak suka hanya mengingat hal-hal buruk di masa laluku.”

“Kuharap kenanganmu kembali utuh, adikku. Kenangan yang baik..” Vincent mengusap-usap rambut Sunghee dengan sayang. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada bahu Vincent. Mereka sama-sama merenung.

Vincent menelan ludahnya. Mengingat isi surat ibunya tadi, ia jadi tidak tenang.

Vincent, tolong jaga Sunghee baik-baik. Ibu tahu banyak orang yang ingin membalas dendam padanya. Termasuk dua orang China bersaudara yang pernah kusihir menjadi patung. Mereka berniat melakukan eksperimen berbahaya pada tubuhku. Aku terpaksa menyihir mereka.

Kini, mereka berdua sudah terbebas dari sihirku. Ada satu orang penyihir yang membebaskan mereka. Mereka mengincar Sunghee. Mereka tidak akan mengincarmu, karena kau bukan penyihir.

Tolong jaga adikmu, Vincent. Kumohon.

Aileen.

“Ngomong-ngomong, Sunghee, kau mau belajar martial arts?”

“Tentu.”

To be continued

19 thoughts on “[FF] Fallen for a Witch PART 7

  1. vidiaf says:

    aaa sunbae mian baru baca._.
    kirain 2 orang itu jahat, eh taunya kakaknya Sunghee._.

    penyihir dari china? jangan2…. Han lagi ._. ato ada Zhoumi? ato Henry? /asalnebak
    apa jangan2 Nathan yang bantu 2 penyihir china itu? /asalnebak (lagi)
    aaa gasabar nunggu lanjutannya >< penasaraaaan

  2. purpleyeonhee says:

    WHOAAAAAAA VINCENT~!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!😄
    KDNFAUIEFHANSWKFCJFUAEWJIFHKASNCMDBVJDB
    *langsung dibacok author*

    HAHAHAHA haduh maapin.. tapi itu potonya bikin ngiler ~ XP *?*

    aaaaaaaaaa vincent~! >.< *heup

    eh~ o.O

    kamu dapet nama Aileen dari mana?? o.O

  3. rabbitpuding says:

    wah wowow wei !
    ada namaku ternyata… sialan si pinky! nginjek perut segala, aku aduin ke nikky!

    kekeke, great story sister! b(^o^)d

    aku tunggu lanjutannya… siwon udah muncul belum? aku lupa… munculiiiiin!

    *lompat keluar blog kaya Fay

  4. Han Hye Rim says:

    Kyaaaaaa….
    thor, lanjut lagi donk aku pnsaran!
    aqhhh yg dpkiranku adalah marcus yg mnyebut sunghee sbgai ‘my fair lady’….
    lanjut ya, seru nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s