[FF] Fallen for a Witch PART 6

Note: Halo! Halo! Bagi yang nungguin dua orang itu siapa, sabar yaaa. Aku bakal ngasih extra story dulu. Tentang Aiden nih. hehehe. PART 7 menyusuul~ Happy reading ^^

The Witch’s Eyes

Aku tidak pernah menginginkan hal ini terjadi. Tidak pernah. Akupun tidak pernah meminta aku tidak mengetahui siapa ibuku. Bagaimana wajahnya. Akupun tidak mau dijual. Tidak mau kehidupanku kacau.

Aku Aiden Leonid. Dulu aku anak yang berkecukupan. Ayahku gambler kelas kakap. Ibuku…entahlah. Aku tidak tahu. Aku dan ayahku selalu menjadi buronan. Ayah pergi kesana kemari. Hampir satu benua sudah kami jelajahi, sampai akhirnya kami kembali ke kampung halaman. Rusia.

Aku selalu melihat ayahku dengan berbagai wanita. Tapi, ada satu wanita yang menarik perhatianku. Juga ayahku. Mata wanita itu perak berkilau. Sangat jarang melihat warna mata seperti itu. Sifatnya lembut, penyayang, baik hati. Aku tidak tahu siapa namanya. Ayahku tidak mengijinkanku untuk mengetahui nama-nama wanitanya.

Suatu hari…aku melihat ayahku sedang berduaan dengan wanita bermata perak itu. Aku terkejut. Aku hendak berjalan menjauh, tapi langkahku tertahan dengan jeritan ayah. Aku mengintip ke dalam ruangan. Mataku membelalak. Ayahku sudah tidak ada. Di sana hanya ada seekor anjing Rottweiler. Aku menyumpulkan, wanita bermata perak itu penyihir.

“Aiden..” lirih seseorang. Aku berbalik. Wanita bermata perak itu tersenyum. Dia menunduk dan mencengkeram kedua pundakku. Aku hendak lari, tapi tidak bisa. Mata berwarna perak itu mengikatku.

Wanita itu perlahan mengecup mata kananku. Lalu beralih ke mata kiri. Dia tersenyum lembut.

“Jaga diri baik-baik..” Dia mengusap rambutku sebelum menghilang pergi. Aku melorot ke lantai. Tubuhku lemas.

Baru saja aku hendak berdiri, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut diluar. Aku lemas. Pintu didobrak terbuka. Beberapa lelaki tegap bersenjata masuk. Mereka langsung mengangkatku berdiri. Aku menangis. Aku juga menjerit.

“Kemana ayahmu?!” seru seorang lelaki. Aku menggeleng. Aku lalu menunduk dan terkejut. Darah. Darah menetes di bawahku. Aku mengusap air mataku dan menatap tanganku. Darah. Aku berdarah. Tapi darah apa?

Dua lelaki yang memegangiku terkejut. Mereka melepaskanku. Mereka tampak ketakutan. Mereka berdua langsung berlari. Meninggalkan rumahku yang berantakan. Aku melirik ke dalam ruangan. Ayah sudah tidak ada. Aku masih menangis. Aku memasuki ruangan ayah dan melihat ke depan cermin. Darah. Darah mengalir dari mataku. Aku…aku menangis darah. Tubuhku bergetar ketakutan. Aku menjerit sekuat tenaga.

Aku berlari. Aku tidak tahu harus berlari kemana. Aku hanya ingin meninggalkan rumah ini. Meninggalkan kenangan di sana. Aku berlari sambil menangis. Darah terus mengalir dari mataku. Orang-orang menatapku takut.

Di gang yang berjarak agak jauh dari rumahku, aku berhenti. Tubuhku lemas. Aku terduduk di tanah sambil mengusap darah dari mataku. Aku bertanya-tanya kenapa. Kenapa semua ini terjadi padaku. Kenapa mata ini mengeluarkan darah, bukan air mata? Kenapa?

Aku terus merenung hingga akhirnya tertidur di gang itu. Di dekat tempat sampah.

Saat aku terbangun, semuanya gelap. Aku ketakutan. Aku pikir mataku buta. Tapi…lama-lama matau mulai terbiasa dengan kegelapan. Hingga aku menyadari, aku berada di dalam peti. Aku panik. Aku memukul-mukul kayu di atasku.

“Hey, kau berisik!” ujar seseorang. Dari suaranya, sepertinya ia anak lelaki. Seumuran denganku. Aku menoleh. Aku memicingkan mataku. Sekarang dia terlihat lebih jelas. Dia tepat di sebelahku. Kulitnya putih, sayang ada bekas luka yang samar terlihat oleh mataku. Rambutnya hitam lurus. Bajunya lusuh. Tapi, menurutku dia tetap mempunyai karisma.

“Kita dimana?” tanyaku.

“Kita di dalam peti yang dimasukkan ke dalam truk. Truk ini akan membawa kita ke ‘toko’ berikutnya.”

“Toko?”

“Kau anak baru ya? Kita ini dijual. Di ‘toko’ nanti, kita menunggu seseorang untuk membeli kita.”

“Apa?! Lalu…kalau kita dibeli, apa yang akan kita lakukan?”

“Tergantung permintaan pembeli. Entah itu menjadi budak mereka, menjadi anak mereka, atau…menjadi pemuas mereka.”

“Hah?” Aku terkejut. “Pemuas?”

Samar, anak laki-laki itu tersenyum getir.

“Ya. Pemuas sex.”

“Yang benar saja! Kita baru berumur 14 tahun!”

“Aku 16. Di sini masih ada anak yang lebih kecil dari kita.”

“..” Aku hanya ternganga. Tidak tahu harus berkata apa.

“Anak-anak gelandangan dipungut dari jalanan dan diberi rumah asuhan. Kita diurus di rumah itu. Diberi makan, diberi tempat tidur. Tapi, balasannya kita harus dijual. Agar orang yang mengasuh kita mendapatkan uang.”

“Tapi itu tidak adil! Kita hanya menumpang makan dan tidur. Itu tidak mengeluarkan banyak biaya!”

“Semua orang ingin untung, kan?”

Aku tidak menjawab. Aku dikira anak jalanan. Padahal aku keluar rumah memakai bajuku yang mahal. Mungkin karena penampilanku lusuh.

Bisa kurasakan mobil berhenti. Aku menatap anak laki-laki itu.

“Sudah sampai.”

“Dimana?”

“Entah. Kita tidak tahu kita dikirim kemana sampai kita keluar dari peti ini.”

Aku berpegangan erat pada dinding peti ketika peti ini diseret ke bawah. Peti ini didorong ke suatu ruangan. Setidaknya bisa kulihat dari celah di dinding peti. Sepertinya rumah mewah.

Peti ini pun terbuka. Cahaya lilin menyambut mataku. Aku berlutut dan melihat sekeliling. Aku terkejut. Banyak sekali peti-peti yang lain. Anak itu benar. Ada anak yang lebih kecil dariku. Mungkin umurnya sekitar 7-13 tahun.

“Cepat, semuanya menghadap ke Mr. Boss!” seru seorang lelaki. Aku menatap anak laki-laki itu heran.

“Seperti panggilannya, dia bos kita. Setiap sampai di tempat baru, kita harus menghadap ke dia.”

“Begitu..”

Aku berjalan berdampingan dengan anak laki-laki itu. Aku terdiam. Aku lalu menoleh ke arah anak itu. Wajahnya oriental. Pasti orang Asia.

“Namamu siapa? Aku Aiden.”

“Panggil saja aku Han.”

Aku menatap ke anak-anak yang lain. Ada yang menarik perhatianku. Ada seorang anak perempuan dengan rambut perak. Saat kulihat matanya, perak. Aku tertegun. Anak perempuan itu menatap ke arahku. Aku langsung memalingkan wajah dan segera menyusul Han.

Mr. Boss duduk di kursinya yang mahal. Seperti kursi ayah. Mr. Boss memutar kursinya menghadap kami. Rokok di tangannya mengepulkan asap. Dia menyuruh seorang anak laki-laki maju. Anak laki-laki itu menurut. Mr. Boss mengamati penampilan anak laki-laki itu. Ia mengangguk puas dan menyuruhnya berjalan ke lorong kanan. Ia lalu menyuruh anak laki-laki yang dekil untuk maju. Dia mengamati penampilan anak itu dan menggeleng. Ia mengayunkan tongkatnya ke arah anak laki-laki itu. Anak itu terjatuh.

“Ercole! Bersihkan dia!” seru Mr. Boss. Seorang pelayan laki-laki menghampiri anak itu dan menyeretnya pergi. Aku menganga.

“Kau! Maju!” tunjuk Mr. Boss pada Han. Dia maju. Mr. Boss mengamatinya. Dia mengayunkan tongkatnya, hendak memukul Han. Tapi, dengan tanggap Han menahan tongkat itu. Han menunduk. Aku terpana. Tanpa melihat ia bisa menahan tongkat itu. Sebenarnya siapa dia?

“Valter! Penjarakan dia!” seru Mr. Boss. Valter berjalan ke arah Han dan menyeretnya. Han sempat berontak. Tapi, beberapa pelayan lain menodongkan pistol mereke ke arah Han. Akhirnya anak itu hanya diam. Aku menatapnya khawatir.

“Kau yang di sana! Anak bangsawan!” Mr. Boss menunjukku. Aku menelan ludahku dan melangkah maju.

“Siapa namamu?” tanyanya.

“Aiden..”

“Marga?”

“Leonid..”

“Oh. Anak penjudi itu.” Mr. Boss menyeringai. Dia bangkit dari duduknya dan mengambil tongkat besi. Di ujungnya ada lambang naga. Mr. Boss menghampiriku dengan tongkat panasnya. Aku mundur selangkah, namun tubuhku menabrak sesuatu. Kedua lenganku digamit oleh mereka, pelayan-pelayan itu. Napasku memburu.

“Buka bajunya,” perintah Mr. Boss. Kedua pelayan itu serentak menjatuhkan tubuhku ke tanah sambil memegangi tangan dan kakiku. Mereka melucuti baju atasanku. Aku berteriak. Aku meronta. Tapi, sia-sia. Mereka jauh lebih kuat. Aku hanyalah seorang anak kecil yang lemah. Aku tidak punya kekuatan untuk melawan mereka

Mr. Boss menyeringai lebih lebar. Ia mengacungkan besi itu ke arahku. Dengan sekali gerakan, ia menempelkan besi panas itu ke perutku. Aku menjerit kesakitan. Mataku mengeluarkan air mata. Air mata. Bukan darah.

“Lepaskan! LEPASKAAAAN!!!” raungku. Besi itu akhirnya diangkat dari perutku. Aku terengah-engah. Aku terisak.

“Sekarang kau baru boleh dijual,” ucap Mr. Boss. Dia lalu memerintahkan dua pelayan yang memegangiku untuk membawaku ke sebuah ruangan. Aku pasrah diseret oleh mereka. Aku melihat ke belakang, sekarang gadis bermata perak itu maju. Dagunya dielus-elus oleh Mr. Boss. Anak itu memang cantik.

Dia melirikku. Tatapannya sulit kuartikan.

Kedua pelayan itu menyeretku ke sebuah kamar yang luas. Kulihat anak laki-laki yang tadi di sana. Aku dilemparkan ke lantai begitu saja. Dua pelayan itu keluar dan menutup pintu.

Aku terbaring lemah di lantai. Air mataku tidak berhenti keluar. Anak itu menatapku prihatin. Tapi, ia tidak mengucapkan apa-apa. Ia berjalan ke arah kananku. Ia mengambil sebuah kain lembap. Ia lalu berjalan ke arahku dan mengusapkan kain itu ke perutku yang terbakar. Rasanya agak perih. Tapi, setelahnya jadi lumayan.

“Terima kasih. Namamu siapa?” tanyaku. Ia tersenyum dan membuat bentuk huruf dengan jarinya. Aku berusaha membacanya.

“Harris?” tanyaku. Anak itu mengangguk. Dia bisu. Meskipun anaknya cukup tampan. Kulitnya bersih juga. Mungkin dulunya ia anak bangsawan juga.

“Kau sudah lama di sini?” tanyaku. Entah maksudnya apa. Harris menggeleng. Dia menunjuk dirinya dan menunjukku.

“Kita sama?” tanyaku. Harris mengangguk.

“Jadi kau baru juga sepertiku?” Harris mengangguk lagi. Ia tersenyum dan mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya.

“Teman?” tanyaku. Harris mengangguk senang.

“Apa kau anak bangsawan?” tanyaku. Harris menunjukkan wajah sedih. Ia mengangguk pelan.

“Apa orang tuamu jadi buronan?” tanyaku. Harris menggeleng. Ia lalu berpura-pura menusukkan pisau ke jantungnya.

“Bunuh diri?” Harris mengangguk. Wajahnya tampak sangat sedih. Aku turut sedih.

“Turut berduka cita,” ucapku pelan. Harris tersenyum tipis. Dia menyentuh lenganku. Seakan hendak berkata ‘aku juga turut berduka cita akan dirimu’.

Aku tidak membayangkannya sebelumnya. Aku akan berteman dengan seorang tuna wicara. Dan ternyata, kami bisa berkomunikasi dengan baik.

“Harris, kau tahu bagaimana nasib anak yang dipenjara?” tanyaku. Harris menggeleng sedih. Dia membentuk jarinya mengatakan ‘temanmu?’. Aku mengangguk. Harris menggeleng lagi. Dia menyentuh lenganku lagi.

“Tidak apa-apa.” Aku menggenggam tangannya yang menyentuh lenganku. Aku berusaha tersenyum meskipun susah.

“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanyaku. Harris menggeleng. Pintu terbuka, dua orang anak laki-laki masuk. Mereka duduk di sofa jelek yang tersedia.

“Oh, anak baru. Kau berteman dengan si bisu itu?” ujar anak yang kurus. Anak yang bertubuh tegap menyeringai.

“Apa gunanya berteman dengan anak bisu?”

Aku menatap mereka marah. Lalu aku mengalihkan pandanganku pada Harris. Dia menunduk sedih. Aku menyentuh pundaknya, berusaha mengatakan bahwa aku temannya.

“Aku lebih memilih berteman dengan Harris daripada dengan kalian!” seruku marah.

“Jadi namanya Harris? Bagaimana kau tahu? Kau punya indera ke-enam ya? Bisa bicara dengan orang bisu! Hahahahaha!”

“Hentikan!” seruku. “Memangnya kenapa kalau dia tidak bisa bicara?! Hatinya baik, tidak seperti kalian!”

“Hahaha romantis sekali!” ejek mereka berdua. Mereka lalu tergelak. Aku menatap mereka penuh amarah.

Pukul 8 malam, kami dikumpulkan di ruang makan. Di meja makan di hadapan kami, sudah tersedia banyak hidangan. Meskipun tidak selezat dan berkelas seperti di rumah, tapi ini cukup untuk mengisi perutku yang kosong.

Aku melihat sekelilingku. Tidak ada Han. Harris menatapku. Dia paham aku khawatir dengan Han. Dia menepuk pundakku. Dia tersenyum dan menggerakkan jarinya seakan mengatakan, ‘dia akan baik-baik saja. Ini bukan tempat pembunuh.’

“Tapi penyiksa..” bisikku. Harris terdiam. Dia mengangguk pelan, setuju dengan perkataanku.

Selesai makan, kami semua dibawa ke ruangan besar. Di dalamnya digelar karpet besar. Tidak ada selimut, tidak ada bantal, tidak ada ranjang. Aku ragu kalau ini tempat tidur. Tapi, melihat orang lain tertidur begitu saja di lantai, aku paham. Ini tempat tidur kami. Aku dan Harris memilih tempat di dekat pintu. Satu per satu orang-orang sudah mulai tidur. Harris berbaring di sebelahku. Aku masih duduk. Kakiku kulipat di depan tubuh. Aku merenung. Aku tidak ingin dijual. Aku ingin pergi.

Aku menepuk pundak Harris. Dia membuka matanya. Ternyata dia belum tidur. Aku menggerakkan jariku, seolah mengatakan, ‘ayo keluar dari sini’. Harris sempat mengajariku tadi. Harris mengerutkan kening.

‘Kemana?’

‘Entah. Yang penting keluar dari sini.’

‘Ke penjara? Selamatkan temanmu?’

‘Ya. Setelah itu kita kabur dari sini. Memang kau mau dijual?’

Harris menggeleng.

‘Kalau begitu, ayo!’

Harris menatapku ragu. Dia lalu berdiri di belakangku. Tatapannya tampak cemas. Aku mengangguk meyakinkannya kalau kita akan selamat. Harris mengangguk. Kami mengendap-endap keluar ruangan. Ada beberapa penjaga yang masih membuka mata. Aku menatap sekeliling. Ada patung besi kecil. Aku mengambil patung itu dan memukulkannya pada kepala si penjaga. Penjaga itu pun pingsan. Harris menatapku takut. Aku mengulurkan tangan. Ragu-ragu, ia menyambutnya. Kami berlari tanpa suara ke lorong sebelah kiri dari kursi Mr. Boss. Han pasti ada di sana.

Ada tiga penjaga lagi. Penjaranya sudah terlihat. Tapi itu penjara kosong. Pasti Han ada di salah satu penjara di sana.

Aku mencari senjata lagi. Namun, tidak kutemukan. Genggaman tangan Harris menegang. Aku menatap ke depan. Seorang penjaga menatap kami marah. Aku langsung berdiri di depan Harris. Mataku menyorotnya tajam. Penjaga itu membelalak. Tiba-tiba ia menyingkir dan mempersilahkan kami lewat. Aku mengerutkan kening. Tapi, kuabaikan saja. Aku langsung menarik Harris pergi.

Dua penjaga lain bersiap mengayunkan pedangnya pada kami. Aku menatap mereka tajam sekali lagi. Keduanya pun sama dengan yang tadi. Mereka tiba-tiba bersikap baik. Aku semakin heran. Tapi, ini kesempatan. Aku melihat penjara satu demi satu. Tak ada Han. Di penjara paling ujung, pintu penjaranya terbuka. Aku langsung melihat ke sana. Kosong. Aku menatap jendela di depanku. Rusak. Aku menatap Harris. Dia mengedikkan dagunya ke arah jendela. Aku mengangguk. Aku langsung melompat keluar. Harris mengikuti langkahku. Kami bebas. Kami sudah berada diluar rumah itu.

“Cepat, kita harus mencari Han,” bisikku. Aku menatap Harris. Ia mengangguk. Kami berlari lagi menyusuri jalanan. Han tidak ada dimana-mana.

Tiba-tiba Harris mendorong tubuhku hingga aku tersungkur. Suara tembakan menggelegar. Aku terkejut dan berbalik. Tubuh Harris tergeletak di tanah. Dadanya mengeluarkan darah. Aku melihat ke belakangnya. Sepi. Tidak ada orang lain.

Aku menghampiri Harris dengan panik. Dia tersenyum sedih. Air matanya mengalir.

“Harris…jangan…kau temanku..” bisikku. Harris menyentuh lenganku. Tangannya lalu terjatuh, bersamaan dengan napasnya yang pergi. Aku terkejut.

“Harris? Harris!” pekikku tertahan. Mata Harris masih terbuka, namun napasnya sudah tiada. Aku menangis. Lagi. Aku lalu menutup mata Harris.

“Rest in peace, my friend,” bisikku ke telinganya. Aku menggendong tubuh Harris dengan susah payah ke sebuah rumah sakit yang berada sekitar 100 m di depan. Aku menyerahkan tubuh Harris ke sana. Untunglah mereka mau mengurusnya tanpa biaya. Aku berterima kasih dan melanjutkan pencarian.

Han tidak kutemukan. Dimanapun. Aku melihat ke jalan raya. Sepi. Lalu, sesuatu menyorot mataku. Sebuah mobil sedan mewah melintas di depanku. Di kursi belakangnya, bisa kulihat gadis bermata perak. Sepertinya dia sudah dibeli. Aku terduduk lemas. Kini aku tidak punya siapa-siapa.

Aku menengadah. Hujan turun. Aku menangis. Kali ini yang keluar darah. Aku tidak peduli bajuku luntur terkena darah. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin menangis. Aku tidak ingin memejamkan mata. Takut aku tertangkap lagi.

Seorang pengendara motor melintas. Suara tembakan menggelegar. Kakiku tertembak. Aku meringis kesakitan. Pengendara motor itu langsung menyeretku dan mendudukkanku di atas jok motor. Ia lalu membawaku ke rumah itu dengan kecepatan penuh. Sudahlah. Aku tidak tahu mau kemana lagi. Aku sudah kehilangan keluarga, teman, harga diri. Sudahlah.

Aku dijual ke sepasang orang Prancis. Mereka menawariku marga mereka, Roux. Aku menolak. Aku ingin memakai nama Leonid sampai kapanpun.

Mereka orang yang baik. Mereka menganggapku anak. Mereka sendiri tidak mempunyai anak. Aku bersyukur bisa dibeli oleh mereka. Tapi, kasihan temanku yang lain. Harris…

Seandainya aku tidak mengajaknya kabur, mungkin dia tidak akan mati.

Awalnya pasangan itu baik, tapi…sang suami mulai bertingkah aneh. Ia menatapku penuh gairah. Aku bergidik ngeri. Tapi, aku diam saja. Kemana lagi aku harus pergi? Di negara yang tidak kukenal ini?

Suatu malam, aku sedang tertidur lelap di kamarku. Tiba-tiba, Mr. Roux memasuki kamarku. Aku membuka mata. Jantungku berdegup kencang karena takut.

“Aiden? Kau terbangun, Nak?” sapanya. Aku menoleh, lalu terkejut. Mr. Roux bertelanjang dada. Aku beringsut mundur.

“Kenapa takut? Hm?” godanya. Aku bergidik. Dia mulai menaiki ranjangku, aku terus mundur. Aku ingin berteriak namun mulutu dibekap olehnya. Tangannya yang lain membuka kemeja tidurku. Aku meronta. Tidak bisa. Aku lemah.

Aku menatapnya tajam. Mr. Roux terperangah.

“Ma-matamu…” Mr. Roux beringsut mundur. Aku tertegun. Kenapa dengan mataku?

“Kau..pe-penyihir…” Apa? Penyihir?

“PERGI DARI RUMAHKU, PENYIHIR!!” Mr. Roux melemparkanku keluar jendela. Aku terjatuh dengan punggung menghantam tanah. Punggungku sakit sekali. Aku terjatuh dari lantai 2.

“JANGAN PERNAH KEMBALI, PENYIHIR!!”

“AKU BUKAN PENYIHIR!” Aku balas berteriak. Jendela sudah ditutup. Aku mendengus kesal. Aku lalu bangkit berdiri dan berjalan tertatih-tatih. Aku menatap jendela. Aku terkejut. Sesosok anak laki-laki dengan mata hitam kelam terpantul di sana. Siapa itu? Aku? Kenapa mataku?

Penyihir…aku..aku bukan penyihir..

Aku penyihir. Bukan. Tapi mataku. Aku penyihir.

“TIDAAAK!! AKU BUKAN PENYIHIR!! AKU BUKAN PENYIHIR!!!”

= = =

Aiden menghela napas.

“Itu kejadian 3 tahun lalu. Aku masih mengingatnya sampai sekarang. Meskipun aku tidak ingin,” katanya.

“Gadis bermata perak itu…aku, kan?” tanya Sunghee. Aiden mengangguk.

“Kasihan Harris..” gumam Nathan. Aiden menunduk.

“Dia teman yang baik,” komentar Casey.

“Lalu, bagaimana kau bisa kembali ke sini?” tanya Sunghee.

“Aku menumpang orang lain agar aku bisa kembali ke rumah. Aku mengurus diriku sendiri. Ayahku juga ada, tapi ia tidak bisa apa-apa.”

“Lalu bagaimana dengan Han? Kau sudah bertemu dengannya?” tanya Marcus. Aiden menggeleng.

“Dia hilang entah kemana,” ucapnya sedih. Jeremy terdiam. Sedari tadi ia mendengarkan cerita Aiden sambil menatap keluar jendela kamar Aiden.

= = =

Di dahan pohon besar depan kamar Aiden, dua orang lelaki terdiam.

“Cerita yang menarik ya,” komentar lelaki yang lebih pendek, membuka percakapan. Lelaki yang tinggi terdiam.

“Kau sudah siap dengan rencana kita besok?”

“Kenapa kau sebegitu ingin membunuh gadis itu?” tanya yang tinggi.

“Karena…”

To be continued

9 thoughts on “[FF] Fallen for a Witch PART 6

  1. vidiaf says:

    aaaaa kenapa TBCnya nanggung banget? /gigit jari
    Harris sama Han OC bukan? ._.
    masa lalu Aiden sedih banget u,u
    makin penasaran sunbae >< can't wait for the next chapter😀

      • vidiaf says:

        yaaa sunbae u,u /wajah sedih
        nyahaha dari part 1 udah penasaran, makin ke sini makin penasaran ><
        oiya, btw aku suka tampilan baru wordpress sunbae😀
        hijaunya bikin tenang😀

      • sungheedaebak says:

        MUAHAHAHAHA *ketawa sadis* *jahat*
        haha bagus bagus. teruslah penasaran (?)
        hehe temanya “all about tea” background kebun teh, header, daun teh wkwkwkwkwk😄

  2. amitokugawa says:

    wow, udah ada lanjutannya!
    aku suka ceritanya, ternyata aiden hidupnya nelangsa *hiksu hiksu*
    aku paling suka adegan ini entah kenapa
    “Kau! Maju!” tunjuk Mr. Boss pada Han. Dia maju. Mr. Boss mengamatinya. Dia mengayunkan tongkatnya, hendak memukul Han. Tapi, dengan tanggap Han menahan tongkat itu. Han menunduk. Aku terpana. Tanpa melihat ia bisa menahan tongkat itu. Sebenarnya siapa dia?

    ah.. kalo difilmin pasti keren *apa deh*
    asal usul marga Roux juga ada di sini..mantep

    part 7 ditunggu
    *btw, tuh orang berdua yang benci damai kok kayak stalker ya? tauuu aja apa yang orang omongin*

    • sungheedaebak says:

      iya makanya dia mau bales dendam ke ibunya sunghee dgn bunuh si sunghee

      hahaha iya ya? ada rencana bkin filmnya sih *rencana doang, g bisa dilaksanakan wkwkwk

      mreka kan stalker-in dlu si sunghee baru bunuh haha

  3. Lena says:

    karena…
    karena apa? karena aku mencintaimu? #plak *ga nyambung*😄
    makin pusing, makin penasaran, makin bagus :bd

  4. Lena says:

    gatau juga, kenapa pusing ya? *oon*😀
    hihi pokonya lanjut deh, kasih tau juga ya nanti kalau part7nya udah publish😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s