[FF] Fallen for a Witch PART 5

Hypnoteria

Sunghee tertegun. Di hadapannya sekarang, Hyukjae sedang menahan tubuh Aiden dan menutup mata cowok itu dengan sebelah tangan. Hyukjae menatap Sunghee seakan memberinya kode untuk berlari. Sunghee mengangguk dan cepat-cepat berlari.

“Kau! Apa-apaan kau?!” Aiden melepaskan tangan Hyukjae dengan paksa. Tepat saat Sunghee menghilang di kelokan. Aiden berbalik dan menatap Hyukjae garang. Otak Hyukjae langsung mencari jawaban yang menurutnya masuk akal.

“Ah, maaf! Aku kira kau temanku. Aku salah orang. Hehehe..” Hyukjae mengusap belakang kepalanya. Aiden menatapnya curiga sekaligus kesal.

“Aku kan sudah bilang maaf. Ya?” Hyukjae tersenyum. Aiden menarik kerah Hyukjae, membuat wajah cowok itu mendekat ke wajahnya. Hyukjae terkejut. Aiden langsun menatap langsung ke mata Hyukjae yang balas menatapnya.

“Tatap mataku, dan tertidurlah.” Tubuh Hyukjae terjatuh ke tanah. Aiden berlutut dan menyentuh lengan Hyukjae.

“Saat kau terbangun, kau akan menjadi penghipnotis handal dan menghipnotis semua orang agar menjadi budakku.”

Hyukjae membuka matanya. Pancaran matanya terlihat berbeda. Terlihat kosong.

“Tentu, Tuan muda.”

= = =

Elle melihat Sunghee berlari ke belakang sekolah. Matanya berkedip dua kali dengan cepat. Dia masih berusaha mengatur napas, ketika ia mendengar suara langkah kaki. Elle menoleh, melihat salah satu member Magic Club di sana. Salah satu dari gadis-gadis Aiden.

Elle masih diam menatap gadis itu berjalan mendekatinya. Sikapnya biasa, namun pancaran matanya berbeda. Dia lalu berlutut di depan Elle yang masih terduduk.

“Kau mau melihat sulapan?”

“Eh?” Elle masih ternganga heran ketika gadis itu mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. Ia lalu mengeluarkan pematik api. Gadis itu menyalakan pematik api tersebut.

“Sulapannya…jika sapu tangan ini terbakar, kau akan tertidur lelap. Dan saat kau terbangun, kau bisa menghipnotis semua orang di sini.” Tanpa sempat Elle melakukan apapun, gadis itu membakar sapu tangan tersebut. Tubuh Elle pun tergeletak tak berdaya.

= = =

Jeremy merubah dirinya menjadi manusia di belakang gudang. Dia lalu menyandar pada dinding gudang. Kaki kirinya ia selonjorkan, sedangkan kaki kanannya ia tekuk. Tangan kanannya terkulai di lutut kanannya. Kepalanya menatap ke atas. Ke arah sinar matahari yang terhalangi oleh rimbunnya dedaunan. Dia lalu menghela napas. Jeremy memejamkan matanya. Ia menikmati angin sepoi-sepoi yang membelainya. Tanpa ia sadari, sebuah senyum lembut terukir di bibirnya. Ia jarang tersenyum. Tapi, kenyamanan ini membuat Jeremy tidak tahan untuk tersenyum.

“Menikmati cuaca hari ini?” Sebuah suara perempuan membuat mata Jeremy terbuka. Senyum di bibirnya menghilang. Gadis itu tersenyum. Dia membungkuk menatap Jeremy. Cowok itu langsung menatap pancaran matanya. Ah, kena hipnotis.

“Aku juga suka cuaca sekarang. Sejuk.” Gadis itu duduk di samping Jeremy dan ikut bersandar pada dinding gudang.

“Namaku Mia Aoki. Semuanya memanggilku Mia. Namamu?”

“Jeremy.”

“Jeremy saja?”

“Kurasa kau tak butuh margaku.” Jeremy kembali menatap ke langit.

“Kenapa?”

“Hah. Rasanya canggung dipanggil dengan nama keluarga. Lagipula semuanya memanggilku Jeremy.”

“Hei, kau tidak memakai seragam. Apa kau murid baru?”

“Murid baru?” Mau tak mau Jeremy terkekeh. “Bukan, aku bukan siapa-siapa.”

“Bukan siapa-siapa?” ulang Mia.

“Kau tidak dengar?”

“Maaf. Tapi, haha…kurasa kau menarik.”

“Terima kasih.”

“Hmm…kau selalu menatap ke arah langit. Memangnya langit yang berbicara denganmu?”

“Well, sepertinya sudah cukup aku berada di sini.” Jeremy bangkit berdiri. Mia terkejut. Dia langsung bangkit berdiri dan menarik baju Jeremy.

“Kau mau kemana?”

“Urusanmu kalau aku mau pergi?”

“Maaf…” Mia melepaskan genggaman tangannya. Dia lalu menunduk. Jeremy mendesah dan berjalan menjauh. Tiba-tiba Mia mendongak. Dia mengejar Jeremy dan mendorong tubuhnya hingga tersungkur. Mia langsung menduduki perut Jeremy. Dia menunduk dan menatap mata cowok itu dengan tajam. Matanya yang biru pucat berubah warna menjadi hitam kelam. Seakan ada kolam tinta yang siap menyedot Jeremy ke dalam sana. Jeremy terkejut. Cepat-cepat dia memejamkan mata.

“Buka matamu, Jeremy!” teriak gadis itu parau. Dalam hati, Jeremy membatin, sial! Kenapa harus perempuan yang ingin menghipnotisku? Aku tidak bisa main kasar!

Jeremy mencengkeram tangan Mia yang menekan pundaknya. Dia melepaskan tangan itu dan membalikkan keadaan. Kini dia yanga ada di atas tubuh Mia. Gadis itu meraung. Benar-benar kehilangan dirinya sendiri. Jeremy menggerutu.

Jeremy menutup mata Mia dengan sebelah tangannya. Dia bersiap kabur. Bersamaan dengan lepasnya tangannya dari mata Mia, Jeremy langsung melesat pergi. Bagaimanapun orang yang dihipnotis hanyalah manusia. Lari mereka tidak secepat Jeremy.

Butuh waktu sekian detik bagi Jeremy untuk sampai ke hadapan Sunghee yang terduduk di sudut kelasnya. Kelas itu sudah kosong. Tak ada guru, tak ada murid, tak ada apa-apa. Yang ada hanyalah kengerian.

“Nona, kau tidak apa-apa?” tanya Jeremy. Ia berlutut di hadapan Sunghee yang meringkuk, membuat tubuhnya semungil mungkin sampai tidak terlihat oleh orang lain.

Sunghee tidak menjawab.

“Nona?” Jeremy memperhatikan mata majikannya. Tidak terhipnotis. Dalam hati Jeremy menghela napas lega.

“Mana yang lain?” tanya Jeremy lagi. Sunghee menunduk.

“Mereka sudah terhipnotis…”

“Anak itu gerak cepat juga.” Jeremy menggertakkan giginya kesal. Sunghee menyentuh ujung baju hitam Jeremy.

“Marcus dan Casey…dimana?” tanya Sunghee. Jeremy terdiam.

“Ayo kita cari,” ujarnya sambil bangkit berdiri. Tangannya terulur. Sunghee ragu-ragu menyambutnya.

“Jangan takut. Kau harus menyelamatkan orang yang kau sayangi,” kata Jeremy sambil lalu. Sunghee tertegun sejenak sebelum akhirnya melangkah mantap mengikuti langkah Jeremy yang lebar.

= = =

“Sial! Apa-apaan ini?!” seru Marcus kesal. Dia berdiri saling membelakangi dengan Casey. Di sekeliling mereka terdapat puluhan orang yang terhipnotis. Mata mereka semua hitam kelam.

“Ini namanya bukan hipnotis lagi! Mereka sudah terlihat seperti zombie yang siap menerkam kita!” ujar Casey.

“Bagaimanapun jangan tatap mereka!”

“Marcus, kau tahu bagaimana caranya agar kita tidak terkena hipnotis? Apa iblis juga kena?”

“Entahlah. Kurasa ini bukan hipnotis biasa. Hipnotis biasa tidak akan merubah warna mata korban. Apalagi…mata mereka berubah dengan kehendak mereka.”

Casey tidak menjawab. Dia melihat sekeliling, berusaha untuk menghindari berbagai pasang mata tinta. Casey mendengus putus asa karena tidak menemukan cara untuk pergi dari kepungan mereka.

“Casey…mereka tidak mempunyai sayap, sedangkan aku punya..” Ucapan Marcus menyadarkan Casey. Mereka bertatapan. Marcus mengangguk mantap. Casey tampak ragu-ragu. Tapi, tidak dilihatnya cara lain yang bisa menyelamatkan mereka.

“Kita harus gerak cepat. Saat aku melebarkan sayapku, kau langsung menyambar tanganku.”

“Kau yakin bisa mengangkatku?”

“Pada saat ini, keyakinan adalah yang terpenting.” Marcus memberi kode agar Casey bersiap-siap. Casey mengangguk mantap. Marcus melebarkan sayapnya dan mengulurkan tangan. Casey langsung menyambutnya. Marcus harus menggendong Casey, kalau tidak cowok itu akan terjatuh ke kerumunan manusia yang terkena hipnotis di bawah mereka. Tapi, Marcus tidak masalah. Dulu mereka pernah seperti ini.

Casey memikirkan hal yang sama. Dia teringat kenangan dahulu, saat sayapnya patah.

Casey meringis kesakitan. Dia belum mahir terbang. Dia menabrak batu besar di hutan itu. Mereka sedang menjalankan tugas. Atau lebih tepatnya misi rahasia mereka, membunuh manusia serigala yang membunuh adik Casey. Tapi, mereka belum cukup kuat untuk itu. Manusia serigalan itu lebih besar daripada mereka yang masih berumur 14 tahun. Setidaknya, berwujud seperti anak umur 14 tahun di dunia manusia.

Marcus menghampiri sahabatnya dengan panik. Dia langsung mengulurkan tangan. Dia harus membawa Casey pergi dari situ sebelum manusia serigala itu menerkamnya.

“Kau yakin bisa mengangkatku?” tanya Casey.

“Pada saat ini, keyakinan adalah yang terpenting!”

Marcus menurunkan Casey di tempat yang aman. Dia menghilangkan sayapnya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.

“Sunghee…dimana dia?” Marcus melihat sekeliling. Casey terpaku di tempat. Marcus menatapnya heran. Dia lalu mengikuti arah pandang cowok itu. Nathan, bersama beberapa orang lain yang juga terhipnotis menghampiri mereka. Marcus mendecak kesal. Dia bersiap lari. Tapi, dia terdiam saat melihat Casey.

“Ayo, lari!”

“Nathan…”

“Dia terhipnotis! Sekarang kita harus mencari yang lain!” seru Marcus putus asa.

“Tapi Nathan di sana!”

“Kita harus menemukan Aiden! Kita harus mengalahkannya! Dia gerak cepat!” Marcus menarik tangan Casey, agak menyeretnya. Casey mendengus kesal. Tatapan matanya berubah tajam. Mata merahnya menyala. Marcus tertegun. Casey langsung berlari mencari Aiden, Marcus otomatis terseret olehnya. Kalau marah, Casey menjadi jauh lebih kuat daripada dia.

= = =

Jeremy dan Sunghee tiba lebih dulu di ruangan Aiden. Cowok itu duduk di sofa panjang berwarna merah darah. Di sekelilingnya, terdapat gadis-gadis yang terhipnotis. Di ujung ruangan, terdapat sebuah penjara kecil – menyerupai kandang – yang terbuat dari baja. Di dalamnya, Hyukjae dan Elle meringkuk. Tatapan mereka kosong.

“Greetings, fellas!” seru Aiden. Cowok itu tersenyum menjijikkan. Setidaknya di mata Sunghee tampak seperti itu. Jeremy menatapnya tanpa ekspresi.

“Bunuh dia, Jeremy.” Sunghee berkata sambil menatap Aiden.

“With my pleasure, Young Mistress.” Jeremy membungkuk. Dia tersenyum tipis dan mengeluarkan cakarnya. Aiden bersiul ringan. Seakan yang Jeremy keluarkan hanyalah pisau pengoles selai cokelat pada roti tawar yang diimpor langsung dari Rusia, sarapan sehari-harinya.

“Kau punya kuku yang menakjubkan, Jer.” Aiden tersenyum. Dia memajukan posisi duduknya. Kedua sikunya bertumpu pada lututnya. “Sayangnya, kuku itu sebentar lagi akan patah.”

Jeremy terdiam. Menunggu apa yang akan terjadi. Namun, dia tetap waspada. Sikapnya berdiri menunjukkan betapa setianya ia pada majikannya. Ia akan menjaga majikannya sampai akhir hayat majikannya. Atau miliknya.

Aiden berdiri. Gadis-gadis yang terhipnotis berdiri di belakangnya. Aiden tersenyum. Mata hijaunya berubah menjadi hitam kelam. Jeremy terkejut. Dia langsung menutup mata Sunghee dengan tangannya. Dia berbisik di telinga Sunghee, “Tutup matamu, Nona. Kau bisa terhipnotis.” Sunghee mengangguk dan menutup matanya. Dia menyentuh tangan Jeremy dan menyingkirkannya dengan lembut.

“Kenapa kau tak mau melihatku, Sweet?” Aiden maju selangkah. Jeremy langsung menggenggam tangan Sunghee. Dia menunduk, matanya terpejam.

“Kau harus bergabung denganku, Sweet. Lihat, kau bisa punya banyak teman-teman yang cantik.” Bersamaan dengan perkataan itu, pintu terbuka lebar dengan hentakan keras. Orang-orang yang terhipnotis melangkah masuk. Jeremy masih tak berkutik. Matanya masih terpejam.

Aiden maju selangkah. Jendela di belakangnya pecah. Beberapa orang yang terhipnotis merangkak masuk. Sunghee menahan keinginannya untuk membuka mata dan melihat apa yang terjadi.

“Haruskah aku memakai itu?” bisik Sunghee.

“Jangan sekarang.” Jeremy membuka matanya. Mata kanannya yang merah membara menghilang, digantikan dengan bola mata abu pucat. Jeremy menyeringai. Kini kedua matanya berwarna abu pucat, buta.

“Aku membutakan diriku. Kini tak ada yang bisa menghipnotisku.” Jeremy melebarkan senyumnya. Aiden berhenti. Mata hitamnya mengarah pada mata abu pucat milik Jeremy. Tak ada yang terjadi. Cowok itu masih berdiri dengan gagah di hadapan Sunghee.

“Aku tahu kau dimana, Aiden. Apa kau tidak tahu siapa aku?” Jeremy berkata dengan ringan. Aiden terdiam. Mata hitam kelamnya perlahan berubah menjadi hijau kembali. Dia tersenyum mengejek.

“Kau hanya peliharaan si penyihir. Kau bukan siapa-siapa. Begitu katamu.”

“Sepertinya Mia Aoki sudah laporan kepadamu.”

“Haha. Kau benar. Dan sekarang, semua orang akan melapor padaku kalau kau dan si penyihir sudah mati.”

“Oh, really?” Sebuah suara lain terdengar. Suara kepakan sayap memenuhi ruangan itu.

“Marcus..” bisik Sunghee.

“Casey juga,” tambah Jeremy.

Marcus dan Casey memakai kacamata hitam. Dengan begini tatapan para penghipnotis tak akan langsung mengenai mata mereka. Marcus merobek baju seragamnya dan melipat-lipatnya hingga membentuk persegi panjang dan cukup untuk menutupi mata Sunghee. Ia lalu mengikatkan kain itu pada Sunghee.

“Dapat ide darimana kau?” tanya Aiden dengan nada mengejek. Casey tersenyum setengah.

“Dapat inspirasi di tengah perjalanan.”

Marcus dan Casey berlari menuju ruang Magic Club di lantai tiga. Di belakang mereka, belasan orang mengikuti mereka dengan mata hitam kelam. Di kelokan koridor, tiba-tiba mereka dihadang oleh puluhan orang. Marcus melirik ke arah ruangan kelas di samping tubuhnya. Dia langsung menarik Casey ke sana.

Kelas itu sepi, kecuali ada beberapa orang berkacamata hitam yang bersembunyi di belakang kelas. Ah, mereka geng sekolah itu. Mereka selalu membawa kacamata hitam kemana-mana. Marcus melihat ke kerumunan di depan kelas. Tak ada yang memakai kacamata.

“Boleh pinjam kacamata kalian?” tanya Marcus.

“Hah? Tapi..”

“Tenang saja, kami akan menyelamatkan kalian.” Casey meyakinkan cowok-cowok itu. Mereka akhirnya meminjamkan Casey dan Marcus dengan jaminan mereka selamat.

“Well, kami sudah berjanji untuk menyelamatkan semua orang di sini. Termasuk kau.” Casey mengangkat bahu.

“Aku?” Aiden mengerutkan kening. Dia menepuk tangannya sekali. Semua orang yang terhipnotis terdiam di tempat.

“Ya,  kau.” Casey maju selangkah. “Kau butuh diselamatkan, Leonid. Kejahilanmu sudah melampaui batas.”

“Jahil maksudmu? Hahahaha.” Aiden pura-pura tertawa lalu menatap Casey tajam. Dia harus sedikit mendongak untuk menatap wajah cowok yang lebih tinggi darinya itu. Casey tersenyum setengah. Dia mengeluarkan beberapa buah pisau dari balik jasnya.

Aiden tersenyum magis. Dia mengeluarkan pistol dari saku celananya. Aiden menghentakkan pistolnya satu kali sampai terdengar bunyi “krek”. Dia lalu menodongkan pistolnya ke arah Casey.

“Very well then…let’s play!” Casey melompat tinggi sambil melemparkan beberapa buah pisau pada Aiden. Aiden berhasil menyingkir. Dia menembakkan pistolnya. Tak ada yang mengenai Casey. Dinding menjadi sasarannya. Aiden menggeram. Dia berlari mengimbangi Casey sambil terus menembakkan pistolnya. Dia menembak lagi namun tak ada satupun peluru yang keluar.

Casey terkikik, “Kehabisan peluru, Leonid?”

“Tidak juga.” Aiden melemparkan pistolnya dan mengambil senapan dari tangan gadis-gadisnya. Dua sekaligus. Aiden tersenyum setengah dan menembakkan senapannya ke arah Casey yang terus menghindar.

Marcus membawa Sunghee ke tempat yang aman. Ia mendudukkan gadis itu disebelah penjara Hyukjae dan Elle.

“Tunggu di sini, Lady.” Marcus membentangkan sayapnya dan terbang ke arah orang-orang yang terhipnotis. Mereka langsung mengerumuni Marcus dengan mata hitam kelam mereka. Marcus tersenyum tipis dan mulai menghajar mereka satu per satu.

Jeremy masih berkutat dengan beberapa orang bermata hitam kelam. Dia melayangkan tinjunya dan tendangannya sekaligus. Tiga orang tumbang.

“Permainan yang menarik. Ya kan, Griss?” seru Aiden. Griss mengangguk. Di tangannya terdapat dua buah senapan.  Dia membidik Sunghee dan bersiap menarik pelatuknya. Sunghee hanya bisa terdiam. Dengan mata tertutup, dia tidak bisa apa-apa. Kecuali…

“Aiden?” panggil Sunghee. “Aiden Leonid?”

Griss menurunkan senapannya. Aiden menatap Sunghee. Senapannya ia tujukan pada gadis itu. Casey seketika terdiam. Aiden menepuk tangannya satu kali, membuat semua orang yang terhipnotis diam.

“Kau sama denganku…” bisik Sunghee. Aiden tertegun. Dia melangkah mendekati Sunghee, masih dengan moncong senapan yang siap menembakkan peluru.

“Bisa dibilang begitu, bukan?” Sunghee menoleh, seakan bisa melihat Aiden. Cowok itu menunduk. Tangannya gemetar. Senapannya terlepas. Orang-orang yang bermata hitam kelam, merubah matanya kembali menjadi warna mata normal mereka. Namun, mereka tetap terhipnotis. Setidaknya sekarang mata mereka tidak membahayakan.

“Aku berbeda denganmu,” kata Aiden tegas.

“Benarkah? Lalu…kau tidak pernah dijual?”

“Omong kosong.” Suara tembakan menggelegar, namun beberapa detik kemudian terdengar suara seperti benda logam bertabrakan dengan logam lain. Sunghee menyeringai. Dia membuka ikatan kepalanya. Aiden tertegun.

“Kau…” Aiden menoleh ke arah kanan. Marcus memegang sebuah pisau di tangan kanannya. Dia lalu menunduk, melihat sebuah pisau tergeletak tak jauh dari pelurunya.

“Kau sama denganku, Aiden. Aku tahu kau.” Sunghee berdiri dan berjalan mendekati Aiden. Mereka bertatapan. Aiden menatap gadis itu dengan benci, Sunghee dengan tenang.

“Lihatlah mata itu…” Sunghee menyentuh kedua pipi Aiden. “penuh dendam, benci…” Sunghee melepaskan tangannya. Aiden masih menatapnya. Tatapan bencinya sedikit menghilang.

Aiden tersenyum palsu.

“Bagaimana kabar ibumu?” tanyanya. Sunghee tersentak. Dia tidak menyangka Aiden akan menanyakannya.

“Sudah mati?” Senyuman Aiden berubah menjadi seringaian. Sunghee mengepalkan tangan.

“Aku bersyukur kalau dia sudah mati. Itu balasannya untuk mengutuk ayahku. Itu balasannya untuk menjadikanku barang dagangan!” Sunghee terperangah. Dia menatap mata Aiden yang penuh dendam.

“Aiden…” bisik Sunghee. Pundak Aiden naik turun dengan gerakan konstan. Tubuhya gemetar karena amarah.

“Karena ayahku dikutuk, aku terlantar. Aku tidak tahu siapa ibuku. Aku hanya punya ayah. Dan ibumu mengutuk ayahku, Lee Sunghee! Aku akan membalas dendam!” seru Aiden parau. Sunghee terdiam.

“Ada alasannya ibuku mengutuk ayahmu.” Sunghee memandang lurus. Pandangannya tertuju pada dada Aiden, namun fokusnya tidak ada di sana. Sunghee menunduk. Dia memejamkan mata.

“Itu karena..” Sunghee menengadah sambil membuka matanya. “Ayahmu menyiksa orangtuaku.”

“Maksudmu?” Aiden mengerutkan keningnya heran. Sunghee tersenyum tipis.

“Kau tahu, Aiden? Kisah cinta penyihir itu rumit.” Sunghee berjalan ke arah penjara kecil Hyukjae dan Elle. Dia berlutut di samping Hyukjae dan menggenggam jeruji di depannya. Semuanya terdiam menunggu.

“Ada istilah pasangan hidup. Pasangan hidup yang tidak boleh mencintai orang lain selain pasangan hidupnya. Pasangan hidup…yang tidak boleh membuat pasangannya sakit.” Sunghee sengaja mengambil jeda. Seakan hendak memunculan suasana tegang dan dramatis di sana.

“Jika pasanganmu bermesraan dengan orang lain, kau pasti sakit hati, benar?” Sunghee bertanya pada Aiden. Cowok itu mengangguk. Sunghee tersenyum lemah.

“Sakitnya pada penyihir…lima kali lipat. Kau benar-benar hanya memiliki satu orang sebagai pasangan, dan hanya orang itu yang bisa kau serahkan hidupmu padanya. Lalu…” Sunghee mengambil jeda lagi. “Tidak setia pada pasanganmu, berarti membunuh pasanganmu.”

Mata Aiden membelalak. Marcus memalingkan wajahnya. Jeremy menatap Sunghee sedih. Casey terdiam. Griss menatap ekspresi Aiden dengan pandangan kosong.

“Karena ayahmu mencintai ibuku, itu membuat ayahku tersiksa. Ia nyaris mati. Satu-satunya cara untuk menyembuhkan ayahku adalah dengan menghilangkan ayahmu. Atau…menghilangkannya dari sisi ibuku.”

Aiden masih diam. Namun, Sunghee menganggapnya sebagai kemajuan. Setidaknya kali ini matanya menyorot sedih, bukan dendam lagi.

“Kalau kau mau, aku bisa mengubah ayahmu menjadi manusia lagi.” Ucapan Sunghee membuat Aiden menganga. Dia menatap Sunghee tanpa berkedip. Gadis itu masih menatap Hyukjae yang berada dalam naungan hipnotis.

“Bagaimana…”

“Ada syaratnya.” Sunghee memotong perkataan Aiden. Dia beranjak berdiri dan menatap Aiden.

“Syarat?”

“Hilangkah hipnotis dari sekolah ini. Setelah semua orang tidak terhipnotis lagi, aku akan mengembalikan wujud ayahmu.”

“Kedengarannya menarik.” Aiden tersenyum tulus.

“Oh ya, kau harus mencabut hipnotis dari mereka semua SEN-DI-RI-AN. Kalau tidak, aku tidak akan mengembalikan wujud ayahmu.”

“A-apa?! Se-sendirian?! Orang sebanyak ini?” Aiden terkejut. Nada suaranya meninggi. Sunghee tersenyum.

“Kenapa?” tantang Sunghee.

“Ugh..” Aiden mengerang. “Baiklah, baiklah. Tapi mungkin akan memakan waktu agak lama.”

“Deadline-mu lusa.”

“Baik…” Aiden menghela napas. Sunghee tersenyum. Dia mengulurkan tangan.

“Deal?”

“Deal!” Aiden menjabatnya. Mereka semua tersenyum.

Dimulai dari Griss, Aiden menghilangkan hipnotis dari orang-orang di sana. Ternyata, sifat asli Griss jauh berbeda dengan sifatnya saat dia terhipnotis.

“Kau bodoh!! Berapa kali kubilang kalau ide ini keterlaluan! Aku belum selesai bicara kau sudah menghipnotisku! Sekarang apa yang kau dapat? Silahkan menikmati waktumu dengan menghilangkan hipnotis-hipnotis dari mereka!” seru Griss panjang lebar.

“Pantas saja Aiden menghipnotis gadis itu,” gumam Marcus. Sunghee menyikut perut Marcus pelan. Marcus menatapnya. Dia lalu menyeringai.

“Kisah cinta penyihir itu rumit ya? Heeeyy…sekarang siapa yang jatuh cinta?” goda Marcus.

“Hentikan!” Sunghee memalingkan wajah. Wajahnya merah padam karena malu. Marcus tertawa.

= = =

“Ini ayahmu?” tanya Sunghee sambil melihat seekor anjing Rottweiler hitam di atas ranjang kamar utama. Aiden mengangguk. Sunghee menghela napas.

“Aku pinjam dapurmu.” Sunghee berlalu keluar ruangan. Aiden membiarkannya saja. Ia berjalan ke arah ayahnya dan mengelus-elus rambutnya.

Sekian menit kemudian, Sunghee kembali dengan membawa segelas air berwarna merah di tangan kanannya. Dia lalu menyuruh Aiden untuk meminumkannya pada ayahnya. Aiden menurut. Dengan lembut, ia meletakkan mulut gelas di depan mulut ayahnya dan meminumkannya. Perlahan tapi pasti, sosok anjing Rottweiler itu berubah menjadi sesosok manusia dewasa. Mata Aiden berbinar. Air matanya menetes ketika melihat ayahnya kembali ke wujudnya yang semula.

“Ayah!” Aiden menghambur ke pelukan ayahnya. Ayahnya tertawa dan mengelus-elus punggung anaknya dengan sayang. Dia lalu menatap Sunghee dan tersenyum berterima kasih.

“Maafkan aku, Nak. Karena aku kau harus menderita..kau dijual…kau..diperlakukan tidak layak..”

“Bukan. Bukan salah siapa-siapa..” bisik Aiden di sela tangisnya. Aiden menoleh ke arah Sunghee dan tersenyum. Sunghee membalas senyumnya dengan tulus.

= = =

“Well, kalau kasus-kasus bisa diselesaikan dengan jalan damai..rasanya menyenangkan,” kata Marcus. Sunghee mengangguk. Jeremy meliriknya.

“Setidaknya aku tidak perlu mengeluarkan banyak energi.” Marcus mengangkat bahu. Sunghee tersenyum tipis.

“Seperti Marcus yang biasanya,” ujarnya.

“Yah..jalan damai memang…menyenangkan..” bisik Jeremy.

= = =

Di pohon besar samping jalan tempat Sunghee, Marcus, dan Jeremy lewat, dua orang lelaki tegap menatap punggung mereka yang semakin menjauh.

“Jalan damai lebih menyenangkan? Rasanya aku tidak berpikir begitu,” ujar seorang laki-laki yang lebih pendek.

“Hm,” gumam yang lain.

Mereka berdua masih menatap tiga orang itu hingga mereka hilang di kelokan. Dua lelaki itu bertatapan.  Sebuah seringai mengiasi wajah lelaki yang lebih pendek.

“Sepertinya ini akan menyenangkan…” Lelaki yang lebih pendek berkata.

“Karena kita tidak suka jalan damai,” lelaki yang tinggi melanjutkan.

To be continued

PHOTO CREDIT: 110105 Donghae @ ELLE Magazine Official Pictures – January 2011 Issue
Credits to. ELLE.co.kr || shared by indonELF at facebook || @indoELF_
TAKE OUT FULL CREDITS !!!

12 thoughts on “[FF] Fallen for a Witch PART 5

  1. amitokugawa says:

    sunghee…meine Schwester
    akhirnya ada lanjutannya
    ahhh..aku suka bgt deh, kirain aiden orgnya ga gampang tersentuh, eh, udah baik lagi.. *seneng*
    griss itu berarti cewek yg pertama kali dihipnotis aiden ya? yg di akhir eps 3?

    aku suka bagian akhir ceritanya, berasa nonton.. jd siap2 untuk part berikutnya

    Aish, siapa sih itu yang ga suka jalan damai? Damai itu indah, tau!
    Btw, pas baca bagian marcus n casey make kacamata hitam buat pelindung hipnotis, aku jd keinget film death note yg adegan polisi pada pake helm biar identitiasnya ga ketahuan sama Kira 3 (Takada Kiyomi)
    *ga nyambung*

    hwaiting buat lanjutannya!

    • sungheedaebak says:

      unnie, my teacher..
      ahahaha aiden yg asli kan orangnya gpg tersentuh un. jadinya dibikin gini deh wkwkwk untung suka hehe
      hmm klo cwe yg dihipnotis di part 3 sbnernya Mia. di situ Griss udah dihipnotis

      hahaha sengaja dibikin kyk gitu. jadi pembaca penasaran part berikutnya siapa yg muncul hoho

      ho-oh damai itu indah. siapa sih tuh anak dua nyebelin bgt *lho*
      Kira 3 itu yg mana ya..lupa! udah lama ga nonton Death Note. jadi kangen
      makasih! hehehe

      • amitokugawa says:

        ooo, berarti yg di part 3 itu mia *nod2*

        kira 3 itu Takada Kiyomi, cewek, rambutnya panjang, yg anchor di sakura TV, dia fans beratnya kira 1 (yagami light), tp dia ga suka sama anchor satu lagi (Saeko) yang agak centil. Gara2 Saeko meninggal (Kiyomi yg bunuh), makanya Takada Kiyomi bisa jadi anchor.

        yang ngasih death note ke dia itu Rem, shinigami yg warna putih

        pas polisi mau nangkap dia, ternyata dia mati dibunuh Light pake sobekan death note yang dia selipin di arlojinya
        *malah cerita death note*

  2. vidiaf says:

    sunbae aku komennya rada banyak gapapa? .-.
    foto donghaenya mana tahan uwooh (?) oh iya, kayaknya aku bener2 pas deh setiap baca ff ini backsoundnya swan lake. mana pas bagian tegangnya pas di musknya tuh bagian klimaksnya.
    ngebayangin marcus sama casey pake kacamata item ngebayanginnya pas di red carpet GDA ._.
    aaaa yang pendek itu siapaaa? apakah nathan? terus yang tingginya? apakah vincent? ato andrew? aa penasaran sunbae ><
    fighting buat next partnya, pasti makin rame😄

    • sungheedaebak says:

      sangat gapapa sekali (?) aku suka komen panjang wkwk

      aku malah gatau lagu swan lake wkwkwk donlod ah

      nathan ga mungkin muncul lagi. kan dia udah ada. pasti orang yg baru kok :))
      hehe makasih

  3. Lena says:

    kirain udah part akhir :p haha tapi aku lebihsuka banyak part ko😀 lanjut terus ! sunghee emang ga ada matinya dah :bd

  4. aish zaenal says:

    huaaaaaaaaaa,,ini fantasy yah???
    keren..
    mm,,tapi aku lebih suka ff romance dari pada fantasy
    hehheeh
    tapi aku suka juga koq critanya…
    apa lagi yang maen my mongkey (ini salah satu bias aku d suju chingu)
    ok ok lanjut dehh fantasy nyah…^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s