[FF] Fallen for a Witch Part 4

Rating: PG-15

Note: Ini cuma fan fiction, kalau gak suka gak pa-pa, ga usah dimasukin ke hati, ke otak, ke jantung, ke organ tubuh apapun. Ini cuma karangan aku aja, jadi kalau OOC jangan salahin ya. Toh, ini cuma imajinasi. Hehehehe. Have a nice reading..🙂

A Bizarre Magic Club

“Sunghee, aku yakin kau ingin membaca koran hari ini.” Marcus menyodorkan sebuah koran pada Sunghee. Gadis itu bingung. Tapi ia ambil juga.

“Rumah Hyukjae bagus juga,” komentar Marcus sambil melihat sekeliling. Mereka bertiga – Sunghee, Marcus, dan Jeremy – memang bermalam di rumah Hyukjae. Cowok itu pingsan setelah mendengar kisah Sunghee. Mereka bertiga terpaksa membawanya ke rumahnya dan menungguinya sampai ia sadar.

“Hipnotis?” gumam Sunghee tidak tertarik.

“Kabarnya banyak gadis yang diculik karena terkena hipnotis.” Jeremy mengeluarkan suaranya. Ia duduk di kursi belajar Hyukjae. Kedua tangannya dilipat di atas sandaran kursi.

“Gadis-gadis itu terlihat normal, hanya pancaran matanya yang berbeda,” tambah Marcus. Sunghee mengangguk-angguk.

“Nah, aku memperingatkanmu. Jangan tatap mata si penculik. Itu berbahaya!” Marcus mengacungkan telunjuknya ke arah Sunghee.

“Memangnya penyihir bisa terhipnotis juga?” tanya Sunghee.

“Tentu.”

“Begitu ya. Baiklah, aku harus hati-hati.”

“Engh…kenapa…aku di sini?” Suara Hyukjae yang lirih terdengar. Sunghee langsung menoleh ke arahnya.

“Kau sudah siuman! Syukurlah…” desah Sunghee. Hyukjae menatapnya. Perlu beberapa detik bagi Hyukjae untuk mencerna semuanya. Sunghee duduk di atas kasurnya, di sebelahnya. Marcus berdiri di belakangnya dan menatap Hyukjae tanpa ekspresi. Jeremy duduk di kursi belajarnya, menatapnya sekilas, lalu mengalihkan tatapannya ke jendela.

“Kenapa kalian ada di sini…?” Hyukjae heran.

“Kau pingsan di sekolah, gara-gara mendengar ceritaku, ingat? Jadi kami bawa saja kamu kemari. Bagaimana? Sudah merasa lebih baik?” Sunghee yang menjawab.

“Ehm..yah..lumayan..” Dia duduk dan memegangi kepalanya. Ia lalu menatap Sunghee. Gadis itu balik menatapnya, menunggu cowok itu untuk mengucapkan sesuatu.

“Sunghee, kau benar-benar…?”

“Sudah kubilang sejak awal. Aku ini penyihir.”

“Hah…terserah. Aku pusing.”

“Minum.” Sunghee menyodorkan segelas air putih. Hyukjae menerimanya dan berterima kasih.

“Kurasa kau baik-baik saja. Sebaiknya kami pulang sekarang.” Marcus melangkah mundur. Hyukjae mengangguk. Jeremy bangkit berdiri dan berjalan ke sisi Sunghee.

“Aku sudah meletakkan obat di meja, minum habis sarapan ya. Sarapan sudah kusiapkan di meja makanmu.” Sunghee melambai dan mereka berjalan pergi. Hyukjae tertegun di tempatnya. Dia lalu mendesah dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Apa aku masih bermimpi? Apa aku bermimpi terbangun padahal sebenarnya aku masih tidur? Ya Tuhan, apa ini..”

= = =

“Sunghee, aku baru menyadari sesuatu.” Marcus berkata sambil terus berjalan. Sunghee menoleh.

“Apa?”

“Kemarin, waktu kau dan Hyukjae menyelamatkanku, tangan kalian bertautan ya?” Pertanyaan Marcus menyadarkan Sunghee. Dia tersentak dan langsung menghentikan langkahnya. Jeremy yang berjalan di belakangnya otomatis menabrak punggungnya. Sunghee nyaris terjatuh kalau Jeremy tidak langsung menahan perutnya, seperti dipeluk dari belakang.

“Ehm…itu..” Wajah Sunghee memerah. Marcus memperhatikan perubahan ekspresi Sunghee dengan seringai mengejek.

“Lihat, lihat…sekarang siapa yang suka dia?” goda Marcus.

“Kemarin itu saat terdesak! Entah kenapa aku ingin menggenggam tangannya…well, aku merasa sedikit…aman..”

“Hmm??” Marcus menggumam. Wajahnya ia dekatkan ke wajah Sunghee, berpura-pura menyelidik.

“Ah, daripada itu, aku ingin bertanya padamu, Marcus!” Sunghee mendorong Marcus menjauh.

“Apa itu, Lady?”

“Kemarin waktu aku dekat dengannya…” Belum sempat Sunghee menyelesaikan ucapannya, sebuah limosin hitam muncul di samping mereka. Jeremy langsung memberinya tatapan menyelidik. Jendela belakang mobil itu terbuka. Seorang cowok tampan tersenyum menyapa.

“Permisi, boleh aku tanya sesuatu?” ucap cowok itu ramah. Sunghee tersenyum.

“Tentu. Apa yang bisa kami bantu?”

“Aku mau tanya…Neumann High School dimana?”

“Oh! Kau sudah tidak jauh dari sana. Dari sini kau hanya perlu…” Sunghee pun menjelaskan dimana Neumann High School dan jalan tercepat untuk sampai ke sana.

“Kelihatannya kau hafal seluk-beluk Neumann High School. Kau murid di sana?”

“Iya. Temanku juga.” Sunghee menyentuh lengan Marcus. Cowok itu melirik Jeremy.

“Well, aku hanya temannya yang kebetulan lewat.” Jeremy mengangkat bahu. Cowok itu tertawa.

“Aku akan menjadi murid di sana juga mulai besok. Aku ingin tahu yang mana gedungnya.”

“Oh, bagus sekali.” Sunghee tersenyum. Marcus menyentuh tangan Sunghee, seakan memberi kode untuk berhati-hati dengan cowok itu.

“Baiklah, terima kasih bantuannya. Sampai jumpa!” Cowok itu melambaikan tangannya sembari menutup jendela mobilnya. Limosin itu pun meluncur pergi. Tiga orang itu masih terdiam sampai limosinnya berbelok ke kanan.

Sunghee menghela napas. Marcus mendengus.

“Kurasa akhir-akhir ini banyak orang baru di Neumann,” bisik Sunghee.

“Ah, tentu saja! Ada kamu di sana!” kata Marcus.

“Lho? Ada apa denganku?” Sunghee tampak bingung.

“Kau tidak mengerti, Nona? Semua penasaran denganmu.” Jeremy yang menjawab, tapi jawabannya justru menambah kebingungan Sunghee.

Semua?” ucap Sunghee.

“Yah, lihat saja nanti.” Marcus berkata dengan misterius.

= = =

Di dalam limosin, cowok itu tersenyum sambil melihat lembaran-lembaran data. Cowok itu mengambil data Lee Sunghee. Enam orang gadis cantik dan seksi menemaninya. Dua orang merangkulnya dari sisi yang berbeda, satu orang duduk di pangkuannya, dua orang lagi duduk di karpet, menyandar pada kaki cowok itu.

“Ini dia gadis yang kucari..” Cowok itu tersenyum dan meletakkan data tentang Sunghee. Dia lalu menunduk, menatap wajah gadis yang ada di pangkuannya.

“Kau tahu apa yang harus kita lakukan, Honey?”

“Tentu.” Gadis itu tersenyum. Cowok itu membalas senyumnya dan mencium bibir gadis itu.

“Tuan muda, kita sudah sampai,” ucap supir pribadi cowok itu. Cowok itu terpaksa melepaskan ciumannya dan melihat keluar jendela.

“Aahh…jadi ini sekolah si penyihir?” gumam cowok itu. “Menarik.”

= = =

Sunghee dan Marcus berjalan memasuki gerbang sekolah. Jeremy seperti biasa menyamar sebagai kucing dan bersantai di atas pohon. Pagi ini sekolah agak ramai. Maksudnya, ramai di luar. Kebanyakan siswi berbondong-bondong melihat papan pengumuman. Beberapa siswa juga melirik papan itu penasaran. Sunghee dan Marcus jadi ikut penasaran.

“Ada apa ini? Ujian kan belum dimulai…masa nilainya sudah terpampang?” gumam Sunghee. Marcus nyaris tergelak.

“Jangan bodoh, Sunghee. Aku rasa ada pengumuman yang menarik.” Marcus mengangkat kedua bahunya. Sunghee mengangguk-angguk.

“Hi, Sunghee! Hi, Marcus!” sapa Hyukjae. Ternyata dia sudah masuk sekolah. Cowok itu berlari-lari ke arah mereka berdua. Sunghee menegang. Wangi menyengat itu datang lagi. Tapi, bisa Sunghee rasakan wanginya agak berkurang. Tidak terlalu menyengat seperti dulu.

“Guten Morgen!” sapa Sunghee dan Marcus bersamaan. Hyukjae tersenyum.

“Sudah lihat papan pengumuman?” tanyanya.

“Well, papan pengumuman masih berada sekitar 6 meter dari kita. Jadi kurasa kau tahu jawabannya.” Marcus tersenyum setengah. Hyukjae mendesah.

“Kurasa kalian harus melihatnya. Ada ekstrakulikuler baru! Peminatnya langsung banyak.”

“Ekstrakulikuler ya..” gumam Sunghee.

“Ah, benar! Kalian kan termasuk murid baru, belum ikut eksrakulikuler apapun, kan?” tanya Hyukjae bersemangat.

“Aku tidak tertarik.” Marcus menghela napas. Hyukjae mendengus.

“Kau ini! Ekstrakulikuler masuk nilai raport!”

“Aku tidak peduli.” Marcus memeletkan lidahnya.

“Adik kelas kurang ajar…” geram Hyukjae bercanda. Marcus tertawa dalam hati. Siapa yang lebih tua? Kamu atau aku?

“Memangnya ada ekskul baru apa?” tanya Sunghee.

“Sebaiknya kamu lihat sendiri. Club itu benar-benar hebat! Posternya saja keren sekali!” Hyukjae mengacungkan dua jempol.

“Ayo, lihat!” Hyukjae mengulurkan tangannya. Sunghee terdiam. Hyukjae tersadar lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia cengengesan.

“Uhm… kerumunannya sudah mulai sepi. Ayo!” Hyukjae berjalan terlebih dahulu. Marcus berusaha-mati-matian menahan senyumnya. Sunghee meliriknya kesal.

“Apa? Sudahlah, ayo kita lihat.” Marcus menarik tangan Sunghee dan membawa gadis itu ke depan papan pengumuman.

“Magic Club, hah?” Sunghee mengangguk-angguk.

“Bagaimana? Menarik, bukan?” Hyukjae tersenyum. Marcus mengangkat sebelah alis.

“Maksudmu yang menarik itu klubnya atau gadisnya?” Marcus menunjuk gambar gadis yang ada di sebelah si pesulap. Ya, itu cowok yang kemarin.

“Eh?! Ten-tentu saja klubnya!” Wajah Hyukjae memerah. Marcus menatapnya dengan sebuah seringai.

“Heee…hentai, yadong, pervert, mesum..”

“Hentikaaan!!”  seru Hyukjae geram. Marcus masih saja berceloteh dengan berbagai bahasa. Sunghee menghela napas. Dia menatap poster itu sekali lagi. Lokasi klubnya ada di lantai 3. Lokasinya di ujung lorong. Dulunya laboratorium bahasa.

“Magic Club?” Casey tiba-tiba berdiri di samping Sunghee. Gadis itu terkejut. Di sebelah Casey, Nathan melambai padanya. Sunghee balas melambai sambil tersenyum.

“Greetings, everyone!” Sebuah suara yang sudah tak asing di telinga Sunghee terdengar. Dia menoleh ke arah kiri. Cowok kemarin dan seorang gadis di sebelahnya tersenyum menyapa. Sunghee balas tersenyum.

“Bagaimana posternya? Keren, kan?” kata cowok itu.

“Well, yeah…” kata Sunghee pelan. Marcus dan Casey mencibir diam-diam. Hyukjae dan Nathan memilih diam memperhatikan gerak-gerik cowok itu.

“Kenalkan, namaku Aiden Leonid, dan gadisku, Grissella Marchbanks.”

“Hai. Namaku Lee Sunghee, nama lainku Autumn Reinhart. Kau boleh memanggilku apa saja. Ini Marcus, Hyukjae, Casey, dan Nathan. Mereka semua temanku.”

“Senang bertemu dengan kalian. Sung…”

“Sunghee. Tapi, kau boleh memanggilku apapun yang kau mau. Apa saja.”

“Apapun yang kumau?” Aiden tersenyum menggoda. Dia menyentuh dagu Sunghee dengan kedua jarinya. Wajahnya menunduk menatap wajah Sunghee yang ia dongakkan.

“Bagaimana kalau aku memanggilmu…Sweet?” ucap Aiden sambil mengelus pipi Sunghee.

“A-apa?” Sunghee mundur satu langkah, Aiden maju satu langkah.

“Sesuai denganmu kan, Sweet? Kelihatannya kau manis. Aku jadi ingin mencicipimu.” Aiden menjulurkan lidahnya, seakan hendak menjilat pipi Sunghee. Tatapannya tajam tapi mengejek. Sunghee terkesiap. Tiba-tiba ekspresi Aiden berubah. Ia tersenyum manis.

Sebuah tangan kekar menarik pundak Sunghee, menjauh dari Aiden. Tangan itu merangkul Sunghee.

“Cukup, Aiden. Dia milikku,” kata Marcus. Sunghee tertegun. Yah..dalam artian harfiah, Sunghee memang miliknya.

“Ow…kau sudah punya pasangan ternyata. Maafkan kelancanganku, Sweet.” Aiden tersenyum. “Well, kalau kalian ingin bergabung dengan klubku…aku akan dengan senang hati menerima kalian.” Aiden merentangkan tangannya sambil tersenyum. Marcus mencibir. Aiden tersenyum.

“Kurasa aku harus pergi sekarang. Ruangan klub itu perlu sedikit renovasi…” Aiden mengedikkan bahunya.

“Just go,” bisik Marcus. Aiden meliriknya. Dia lalu tersenyum.

Do svidaniya!” Dengan kata itu, Aiden berbalik dan merangkul Griss pergi.

“Mesum,” ucap Marcus dan Hyukjae bersamaan.

“Do..apa tadi?” kata Casey.

Do svidaniya. Artinya sampai jumpa. Bahasa Rusia.” Sunghee yang menjawab. “Dari marganya, kurasa dia orang Rusia. Campuran Rusia dan Asia kurasa.”

“Aiden Leonid ya..” gumam Marcus.

“Casey, apa kau memperhatikan mata gadis itu tadi?” Suara Nathan tiba-tiba terdengar. Casey mengerutkan kening.

“Tidak. Kenapa?”

“Mungkin perasaanku saja atau apa, tapi tadi kulihat pancaran matanya agak sedikit berbeda…”

“Kau benar.” Hyukjae menimpali. “Aku memperhatikannya tadi.”

“Eii…matamu selalu tertuju pada gadis ya, Hyukjae?” Marcus berkacak pinggang dan  menatap Hyukjae dengan tatapan mengejek.

“Daripada aku menatapmu.” Hyukjae ikut berkacak pinggang dan mendongakkan kepalanya, menantang Marcus.

“Kalian ini kekanakkan sekali,” komentar Casey sambil geleng-geleng kepala.

Bel masuk pun berbunyi. Mereka membubarkan diri dengan sendirinya. Namun, di kepala mereka terlintas hal yang sama. Magic Club dan Aiden Leonid.

= = =

“Sekolah ini aneh. Kenapa memakai seragam? Sekolah lain tidak begitu.” Aiden menghela napas.

“Kau sendiri yang memilih ke sekolah ini,” ucap Griss.

“Kau benar. Tapi, itu semua karena ada Sunghee. Gadis itu incaranku.”

“…” Griss terdiam menatap mata Aiden yang berapi-api.

“Tapi tenang, Griss. Aku mengincarnya hanya karena ingin membunuhnya.” Aiden langsung merangkul gadis itu.

“Begitu…” Griss memalingkan wajah.

“Ya. Semenjak ibunya menyihir ayahku menjadi binatang terkutuk itu.” Aiden menggenggam gelas di tangannya terlalu kuat. Gelas itu pecah berantakan. Beberapa pecahan melukai tangannya. Darah mengalir dari tangannya. Griss menatap tangan Aiden. Cowok itu mengepalkan tangannya. Darah semakin banyak keluar.

= = =

“Aku bosaaaaaannn!” seru Casey sambil melangkah masuk ke kelas Sunghee dan Marcus. Sunghee hendak melahap pudding cokelatnya, sedangkan Marcus sedang menopang dagu menatap keluar jendela ketika Casey berteriak seperti itu. Casey tersenyum pada Elle yang duduk di sebelah bangku Sunghee – karena bangku di depan Sunghee direbut oleh Marcus – dan meminta bangkunya.

Casey menyentuh dagu Elle dan tersenyum menggoda.

“Bolehkah aku meminjam bangkumu untuk sejenak, gadis manis?” rayu Casey. Wajah Elle memerah.

“Eh ta-tapi…aku sedang makan bekal di sini…” Semenjak Sunghee sering membawa bekal dari rumah, tanpa dia sadari Elle juga melakukan hal yang sama.

“Begitu…” Casey memasang tampang sedih. “Bagaimana kalau sepulang sekolah, kau kutraktir di café paling mahal di sini? Atau..apakah kita sebaiknya berkencan dulu baru malamnya kita candle-light dinner? Hm? Mana yang kau mau?” ucap Casey sambil mengelus-elus dagu Elle.

“E-eh ta-tapi..” Elle tergagap.

“Masih kurang? Kalau begitu…bagaimana kalau…sebuah ciuman hangat dariku?” Casey mendekati wajah Elle dan mengedipkan mata. Wajah Elle semakin memerah.

“Ah, ba-baik. Ambil saja bangkunya.” Elle membawa kotak bekalnya dan bergegas pergi. “Kurasa makan di lantai paling atas asyik juga..”

“Bagaimana dengan ciumanku?” Casey menunjuk dirinya sendiri dengan tampang polos.

“Eh..lu-lupakan saja. Tidak usah.” Elle mengibaskan tangannya dan segera berlari keluar kelas. Sunghee ternganga menatapnya. Marcus berdecak. Casey tersenyum. Dia lalu memutar tubuhnya menghadap Sunghee dan Marcus.

“Bagaimana? Yang ada di hadapan kalian ini Casey Walcott, lho. Casey Walcott!” Casey membusungkan dadanya. Sunghee terkekeh.

“Ya..ya…terserah.” Marcus mendengus kesal. Casey menarik bangku Elle dan meletakkannya tepat di samping meja Sunghee. Mereka bertiga berkumpul, seakan sedang mengadakan rapat atau sesuatu seperti itu.

“Kau tidak makan, Case?” tanya Sunghee. Casey melirik pudding milik Sunghee.

“Jika aku boleh mencicipinya…aku akan makan.” Casey mengedipkan sebelah mata. Sunghee tersenyum geli dan menyendok pudding itu ia lalu menyodorkannya pada Casey. Cowok itu melahap pudding yang disodorkan Sunghee. Marcus menatapnya jijik.

“Menjijikkan..” Marcus bergidik. Casey melirik cowok itu.

“Kenapa, Cho? Cemburu?” Kemudian ia terkekeh. Dia lalu menatap Sunghee yang melahap potongan terakhir puddingnya.

“Kau tidak menyisakan untukku?” tanya Casey pura-pura kecewa.

“Memangnya kau mau?” tanya Sunghee polos. Marcus terbahak.

“Good job, Lady! Hahahahaha…”

Casey menghela napas. Dia lalu menatap Sunghee dengan semangat. “Hey, Sunghee, kita main game yuk!”

“Game?” Marcus langsung tertarik. Sunghee menunjukkan ketertarikan yang sama.

“Game apa?”

“Apa ya…hmm..bagaimana kalau kartu?” Casey menunjukkan sekardus kartu di tangannya.

“Well…not bad.” Marcus mengangkat bahu.

“Boleh,” kata Sunghee sambil menyimpan kotak bekalnya ke tas.

“Very well. Let’s play.”

“Hukuman yang kalah apa?” tanya Marcus.

“Yang kalah..hmm…” Casey berpikir sambil mengocok kartu. Dia lalu menyeringai, “Yang kalah menggunakan kekuatannya untuk membuat angin di halaman samping sekolah. Bagaimana?”

“Kau gila!” Sunghee nyaris berteriak.

“Kau takut kalah?” Casey tersenyum setengah.

“Ugh.” Sunghee tidak bisa menjawab. Casey tersenyum. Dia mulai membagikan kartu.

“Again, let’s play!”

= = =

Elle berjalan ke lantai atas dengan lunglai. Dia menyentuh dagunya yang tadi disentuh Casey. Dia lalu menggelengkan kepalanya.

“Apa-apaan dia?” geram Elle kesal.

“Siapa?”

“Hah?” Elle mendongak, Hyukjae berdiri menyandar di koridor sambil menyilangkan tangan di depan dada.

“Spencer…” bisik Elle. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Wajahnya memanas. Ada sesuatu yang berdesir di hatinya. Berbeda dengan debarannya saat disentuh Casey tadi. Yang ini berbeda. Melihat wajahnya saja, seluruh tubuh Elle seakan terbakar.

Elle cepat-cepat memalingkan wajah.

“Ada sesuatu?” tanya Hyukjae.

“Tidak…tidak ada apa-apa.” Elle menyentuh tengkuknya. Salah tingkah.

“Sunghee ada di kelas?” DEG. Pertanyaan itu seakan menusuk hati Elle. Bukan ia yang dicari cowok tampan itu, tapi Sunghee.

“Ada..”

“Sendirian?”

“Ada Marcus dan Casey.”

“Oke. Terima kasih.” Hyukjae melambai sekilas dan melewati Elle. Gadis itu menghela napas. Tiba-tiba Hyukjae menghentikan langkahnya dan kembali ke hadapan Elle.

“Aku belum mentraktirmu ya?”

“Haha…kau masih ingat?” Elle tersenyum.

“Eii…jangan bilang begitu. Tentu aku masih ingat. Aku mentraktirmu dobel, kan?” Hyukjae mengacungkan dua jarinya.

“Hahaha…tidak usah mentraktir juga tidak apa-apa.”

“Huh, kau ini.” Hyukjae cemberut. Wajahnya sangat lucu sampai Elle tidak bisa menahan tawa. Hyukjae jadi ikut tertawa.

“Kalau begitu…aku menemanimu makan di kantin saja. Bagaimana? Pulangnya…kau boleh meminta traktir apa saja. Tidak usah makanan juga tidak apa-apa.”

“Ehm..tapi..” Elle melirik kotak bekalnya. Hyukjae mengikuti arah pandangnya.

“Oh! Kau bawa bekal! Mau makan dimana?”

“Di atap sepertinya seru.”

“Ah, iya! Aku menemanimu makan di atap saja, ya! Tunggu sebentar, aku ke kantin dulu.” Hyukjae baru melangkah satu kali ketika tangan Elle menahannya. Hyukjae berbalik dan menunggu. Elle menunduk. Wajahnya merah padam.

“Kalau tidak keberatan…kau bisa makan bekalku..”

“Eh? Terus kau makan apa?”

“Aku sudah makan sedikit tadi.”

“Gak bisa! Aku ambil makanan ke kantin dulu!” Hyukjae hendak melepaskan tangan Elle. Tapi, gadis itu tidak mau melepaskannya. Ia malah mencengkeram baju Hyukjae lebih kuat.

“Baiklah..” Hyukjae tersenyum. “Kita makan berdua.”

Elle tertegun. Dia lalu menengadah. Dia terpana melihat senyum Hyukjae. Dia terdiam sesaat sebelum kemudian mengangguk pelan.

= = =

“Yeah! Kau kalah, Sunghee!” seru Casey. Sunghee menganga. Seakan tidak percaya. Marcus menatap sekeliling dengan cemas.

“Bagaimana kalau ada orang yang melihat?” tanya Marcus, tanpa benar-benar menginginkan jawaban.

“Ya jangan sampai ketahuan. Ayo, Sunghee. Lakukan hukumanmu. Kita akan melihat dari sini.” Casey menopang dagunya dengan kedua tangan. Sebuah senyum menjengkelkan terukir di wajahnya. Sunghee mendengus. Dia bangkit berdiri lalu berjalan keluar. Marcus menatap Casey kesal.

“Kenapa? Salah aku kalau dia kalah?” Marcus memalingkan tatapannya ke arah halaman samping sekolah.

= = =

“Wah…tak kusangka atap sekolah nyaman juga..” Hyukjae memejamkan mata dan merentangkan kedua tangannya. Dia merasakan angin sepoi-sepoi yang membelai tubuhnya. Dia menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia membuka mata dan berbalik, tersenyum pada Elle yang berdiri kikuk sambil membawa kotak bekalnya.

“Kau sering ke sini?” tanya Hyukjae. Elle mengangkat bahu.

“Well yeah, sekali-sekali.” Elle menjawab tanpa menatap mata Hyukjae. Cowok itu tersenyum dan duduk selonjoran di lantai. Elle mengikutinya. Ia duduk di sampingnya dan membuka kotak bekal. Kotak itu diletakkannya di antara dia dan Hyukjae. Cowok itu melirik kotak bekal milik Elle. Dia lalu menganga takjub.

“Wow! Kau bawa ddukbokki?” Hyukjae tersenyum lebar. Elle mengangguk.

“Sunghee memberikan resepnya padaku. Dia bilang enak. Aku coba dan ternyata memang enak.” Mendengar nama Sunghee, wajah Hyukjae memerah. Senyum lebarnya berubah menjadi senyum lembut. Elle memperhatikan perubahannya. Dan ia menyesal telah melakukannya.

“Kamu buat sendiri?”

“Ya.”

“Boleh kucoba?” Mata Hyukjae berbinar. Tentu saja karena ini hasil resep Sunghee dan makanan dari negerinya. Bukan karena itu makanan buatan Elle.

“Tentu. Kau habiskan juga tak masalah.”

“Benar, nih?”

“Iya.” Elle menatap lurus ke depan. Hyukjae tersenyum tipis. Ia menusuk sebuah ddukbokki dengan garpu dan memasukkannya ke mulutnya.

“Agak aneh sih memakan ddukbokki pakai garpu dan sendok. Tapi rasanya tetap lezat!” Hyukjae mengacungkan jempolnya. Elle tersenyum. Dia lalu menunduk.

“Aku tidak bisa memakai sumpit..”

“Hm.” Hyukjae hanya menggumam. Mulutnya penuh dengan ddukbokki. Dia menusuk satu dan menyodorannya pada Elle. Gadis itu tertegun.

“Ayo, makan. Nanti terlanjur habis olehku, lho.”

“Aku bilang kan habiskan saja.” Elle menghalangi mulutnya dengan tangan. Hyukjae pura-pura kesal.

“Ayo cepat makan!”

“Kau habiskan saja!” Elle menutup mulutnya. Hyukjae mendengus dan menarik tangan Elle menjauh dari mulutnya. Ia lalu menyuapkan sepotong ddukbokki itu ke mulut Elle.

“Nah, begitu!” Hyukjae tersenyum. Dia lalu meletakkan garpu ke kotak bekal. Tinggal dua potong ddukbokki yang tersisa di sana. Elle menunduk. Wajahnya merah padam.

“Aku sudah kenyang. Kau cepat habiskan ddukbokki-nya.” Hyukjae memandang langit yang tidak terlalu cerah. Angin yang tadi berhembus sepoi-sepoi mulai berhembus agak kencang. Hyukjae mengernyit. Dia berdiri lalu berjalan ke tepi atap. Ia melihat ke bawah. Hyukjae menolehkan kepalanya dan terkejut. Sunghee berdiri dengan gugup di bawah pohon besar. Di atas pohon itu Jeremy mengawasi dalam bentuk kucing. Sunghee menyatukan kedua tangannya di depan dada dan memejamkan mata. Hyukjae tahu Sunghee hendak melakukan apa.

“Gila! Apa yang dia lakukan?!” Hyukjae melihat ke sekitar. Dia lalu terbelalak.

“Celaka! Aiden..” Hyukjae menelan ludahnya. Elle terheran-heran melihat cowok itu sebegitu paniknya.

“Sunghee!!” seru Hyukjae. Namun kelihatannya Sunghee tidak mendengarnya.

“Bodoh!” Hyukjae langsung berlari menuruni tangga. Elle heran. Dia berdiri dan melihat ke bawah, ke arah Sunghee. Dia mengerutkan kening. Apa yang dia lakukan?

Sunghee menghembuskan napasnya. Dia lalu merentangkan tangannya sambil membuka mata. Seketika angin berhembus kencang. Selama sekian detik angin itu berhembus sampai akhirnya berhenti. Suara tarikan napas tertahan terdengar. Sunghee terkejut. Gadis itu berbalik. Matanya membelalak kaget.

Elle lupa bernapas. Dia terduduk lemas di atap gedung sekolah. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membelalak. Sama kagetnya dengan Sunghee.

“Sunghee itu…apa?”

To be continued

14 thoughts on “[FF] Fallen for a Witch Part 4

  1. amitokugawa says:

    huaa…sunghee…baru baca eh udah tbc…
    tu adegan yang terakhir maksudnya apa? penasaran ihh

    oya, aku ada kritik soal marga aiden roux, dia kan campuran rusia-asia di sini, tapi roux itu kan kata bahasa prancis, artinya ‘merah’
    kalo saranku sih, bagusnya marganya itu yang lebih rusia, kayak ‘nikolai, vladimir’ gitu, tp itu cuma saran aja kok
    oya, kalo mau cari inspirasi ttg penamaan org rusia, bisa dilihat disini http://wp.me/p17mhq-5c (aku baru nyari kok..hehe)
    ditunggu part berikutnya! *banyak yang ngincar sunghee ya? ah, sunghee emang terkenal :)*

  2. vidiaf says:

    aaaaaa Elle bikin geregetan (?) ._.
    aiden…. Allahu Akbar .-.
    kenapa harus tbc aaa makin penasaraaaan
    ditunggu next chapternya sunbae😀

  3. Lena says:

    ah ada aiden juga toh, donghae kan? hihi;)
    part3 gabisa dibuka dihp, cacad nih hpnya jadi aja langsung ke part4-,-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s