[FF] Fallen for a Witch Part 3

Note: Ini terinspirasi – bahkan dikutip sebagian – dari lagu Jonathan Coulton yang Creepy Doll. Aku rekomendasikan lagu itu ke kalian. Lagunya menyeramkan, tapi bikin ketagihan. LOL. Credit for Jonathan Coulton, of course. Happy Reading🙂

Rating: PG-15

Creepy Doll

“Gadis pembohong.”

“AAAAA!!!!”

“Sunghee, ada apa?!” Marcus dan Jeremy sontak menghampiri Sunghee. Gadis itu masih terpaku menatap ke arah boneka itu. Tubuhnya gemetar hebat. Jeremy menggertakkan giginya marah. Marcus menatap boneka itu tajam. Dia lalu berjalan ke arahnya dan melemparnya keluar jendela. Sunghee terduduk di lantai saking syoknya. Jeremy langsung berlutut di sebelahnya, berusaha menenangkannya. Marcus terlihat marah.

“Aku yakin ini ada hubungannya dengan Nathan itu,” gumam Marcus.

“Aku juga berpikir begitu,” sahut Jeremy.

“Tentu saja untuk balas dendam padamu!” Kedua mata Marcus terbelalak. Ia baru ingat perkataan Casey tadi. Marcus mengepalkan tangannya geram. Mata merahnya menyala.

“Casey…Walcott…” geramnya.

= = =

Hyukjae dan teman-temannya sedang bercanda di koridor sepulang sekolah ketika tiba-tiba Casey mendatangi mereka. Hyukjae mengenali cowok itu. Mereka tidak sengaja bertemu saat di kantin tadi.

“Kamu Spencer Lee, kan?” tanya Casey sambil tersenyum. Hyukjae terdiam. Teman-temannya juga ikut menatap cowok pirang itu.

“Ya. Kamu yang di kantin tadi, kan? Yang mengantri di sebelahku?”

“Kau benar. Ternyata kau masih ingat wajahku. Kenalkan, namaku Casey Walcott. Aku kelas 2-4.”

“Nama asliku Lee Hyukjae, tapi semua orang di sini memanggilku Spencer. Senang bertemu denganmu.” Mereka berdua berjabat tangan. Casey melirik ke arah teman-teman Hyukjae. Seakan mengerti, teman-temannya pun undur diri. Casey kembali menatap Hyukjae.

“Aku sudah memperhatikanmu sejak lama. Kau suka menari ya?” tanya Casey. Hyukjae mengangguk.

“Jadi benar?! Dancing machine dari kelas 3 itu kau? Wah…tolong ajari aku!” Casey menatap Hyukjae penuh harap. Cowok itu jadi salah tingkah.

“Eh..kenapa tiba-tiba?”

“Ehm..sebenarnya begini, malam Minggu nanti ada pesta di rumah orang yang kusukai. Gadis itu amat menyukai tarian. Jadi, aku ingin menari untuknya dan menyatakan perasaanku. Kau mau membantuku?” Pipi Casey merona. Hyukjae jadi tersenyum. Pada dasarnya, dia memang orang yang baik hati. Kalau ia bisa membantu, ia pasti membantu.

“Mau latihan kapan?” tanya Hyukjae. Wajah Casey langsung berseri-seri.

“Hari ini ada waktu, guru?”

“Ahahaha jangan panggil guru. Hari ini aku kosong, kok. Boleh saja.” Hyukjae tersenyum ramah.

“Terima kasih banyak!!”

.

.

“Step one, two, three…tangannya lurus.” Hyukjae memperagakan gerakan dance. Casey tampak kesulitan mengikutinya. Hyukjae lalu menhampirinya dan membetulkan letak tangan Casey.

“Jangan kaku. Santai saja..” Hyukjae meluruskan tangan Casey yang kaku.

“Nah..begitu..” Hyukjae tersenyum dan memperagakan gerakan lainnya. Casey terdiam memperhatikan Hyukjae. Tatapannya sulit diartikan.

“Mengerti? Coba lagi.” Hyukjae menoleh. Casey langsung mengangguk. Dia pun memperagakan tarian yang baru diajarkan Hyukjae.

Hari yang ditunggu Casey akhirnya tiba. Dia sengaja mampir ke rumah Hyukjae untuk memberikan hadiah karena sudah bersedia mengajarinya menari. Casey menekan bel sambil menenteng kotak kayu di tangan kirinya. Bibirnya tak henti menyunggingkan senyum. Tuxedo hitam membalut tubuhnya hari ini. Wangi parfum kelas atas menambah daya tariknya.

Tak lama kemudian, pintu terbuka. Terlihat Hyukjae yang tampak mengantuk dengan baju santainya. Rambutnya acak-acakan seakan dia baru bangun tidur. Casey tampak sedikit bersalah. Sekarang memang baru jam 7, tapi ia dengar Hyukjae sering menulis lirik lagu juga. Mungkin ia kecapekan.

“Oh, Casey! Siap berpesta?” sapa Hyukjae ramah. Suaranya agak serak.

“Selamat malam. Maaf, aku mengganggu istirahatmu ya?” Casey menunjukkan wajah merasa bersalahnya. Hyukjae langsung mengibaskan tangannya.

“Ah, tidak. Aku hanya sedang malas-malasan di tempat tidur kok, tidak tidur asli.” Hyukjae terkekeh. Casey mengulum senyumnya. Sudah jelas mata Hyukjae merah karena mengantuk.

“Aku kemari hanya ingin memberimu hadiah karena sudah mengajariku. Tolong diterima.” Casey menyodorkan kotak kayunya. Besarnya seperti besar kotak sepatu.

“Eh, apa ini? Tidak usah repot-repot..”

“Sudah ambil saja. Ucapan terima kasih.” Casey tersenyum. “Aku pamit dulu, doakan penampilanku lancer ya.”

“Ya. Semoga gadis itu menerima cintamu ya.”

“Hehehe..terima kasih! Selamat malam!”

“Malam…” Hyukjae terdiam sampai Casey memasuki limosinnya. Setelah mobil itu pergi, ia baru menutup pintu. Ia berjalan ke kamarnya dan duduk di atas tempat tidur. Hyukjae membuka kotak itu dengan tergesa, saking penasarannya.

Ternyata isinya boneka. Boneka gadis kecil yang sangat cantik. Rambutnya perak bergelombang, ia memakai dress hitam yang elegan. Hyukjae tertegun. Ia jadi teringat Sunghee. Rambutnya juga berwarna perak dan bergelombang.

Hyukjae jadi tersenyum sendiri. Ia lalu menutup kotak kayu itu dan meletakkannya di bawah tempat tidur. Bonekanya ia simpan di meja kecil di samping tempat tidur.

Hyukjae menarik selimut hingga ke dadanya. Ia lalu tertidur lelap.

= = =

Malam ini, Marcus, Sunghee, dan Jeremy terpaksa berkumpul di ruang keluarga. Marcus yakin, boneka itu bukan boneka sembarangan. Nathan sendiri bilang kalau itu boneka spesial. Hanya saja, Marcus masih mencari tahu apa kaitannya dengan Casey.

“London Bridge is falling down, falling down, falling down. London Brige is falling down, my fair lady..” Terdengar suara nyanyian gadis kecil. Sunghee berjengit. Dia tahu suara siapa itu. Marcus dan Jeremy sontak menoleh ke arah pintu. Boneka itu berjalan ke arah mereka sambil bernyanyi. Sunghee menutupi telinganya.

Kepala boneka itu berputar 90 derajat, ke arah Sunghee.

“Kenapa kau menutup telingamu? Suaraku tidak merdu?” Krek…krek…boneka itu berjalan ke arah Sunghee. Sendi kayunya tampak tidak sempurna. Gerakannya amat kaku dan selalu menimbulkan bunyi yang mengganggu.

“Tolong pergi dari sini..” Suara Sunghee bergetar. Boneka itu memiringkan kepalanya.

“Kenapa? Kamu tidak suka Cecil? Tidak mau bermain bersama Cecil?” Mendengar nama itu, Marcus tersentak. Matanya terbelalak. Dia tiba-tiba teringat sesuatu. Cecillia Walcott. Adik Casey Walcott.

Marcus masih ingat saat ia dan Casey masih berteman baik dulu. Cecil selalu ikut bergabung dengan mereka berdua. Gadis kecil itu menyukai Marcus.

Suatu hari, kejadian buruk itu terjadi.

“Cecil, lihat! Ini bunga mawar ungu yang kutanam beberapa hari yang lalu. Sepertinya ini tak ada di dunia manusia…bunga ini kubawa dari dunia kita.” Casey menunduk untuk mencium wangi bunga itu. Cecil menatapnya penasaran.

“Aromanya enak, lho, Cecil! Aku sangat suka bunga ini! Kau bagaimana?” Casey tersenyum menatap adiknya yang beda dua tahun darinya.

“Hm. Cecil juga suka bunga ini!” Gadis itu tertawa renyah.

“Kabarnya…di hutan sana banyak tumbuh mawar ungu ini. Tapi aku tidak tahu siapa yang menanamnya. Mungkin ada iblis lain yang menanamnya?”

“Di hutan…?”

“Ah, iya! Cecil tidak boleh pergi ke sana ya! Bahaya!” Casey memperingatkan. Cecil terdiam.

“Janji padaku untuk tidak pergi ke sana ya!” Casey menyodorkan jari kelingkingnya. Cecil mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kakaknya.

“Cecil janji!”

Suatu malam bulan purnama, lolongan serigala memecahkan keheningan. Cecil meringkuk di kamarnya. Dia takut serigala.

“Tolong….! Tolong!!” Samar-samar terdengar suara perempuan meminta tolong di luar. Cecil penasaran. Ia melihat ke jendela kamarnya.

Gelap. Tak ada yang terlihat kecuali bayangan pepohonan.

“Tolong…” Suara itu terdengar lagi. Kini lebih lirih. Cecil tidak kuat. Ia diam-diam keluar dari rumahnya dan memasuki hutan.

Dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada, Cecil bergerak maju. Matanya tampak was-was ke sekelilingnya. Terangnya rembulan yang menerangi jalannya seakan mendukungnya untuk segera menolong orang itu.

Semakin ia berjalan masuk ke hutan, semakin jelas teriakan itu terdengar. Cecil menggigit bibirnya untuk melawan rasa takut. Ia lalu berhenti di depan jalan bercabang. Dia tidak tahu jalan mana yang harus ia pilih. Ia ingin mengikuti suara teriakan itu namun suaranya tidak terdengar lagi. Dia sendirian. Di tengah hutan. Dalam keadaan memakai gaun tidur dan kedinginan.

Tiba-tiba suara lolongan serigala terdengar lagi. Kali ini jaraknya lebih dekat. Cecil terkesiap dan melihat ke sekeliling. Tak ada serigala, yang ia temukan malah hamparan mawar ungu. Di kegelapan malam, mawar itu terlihat berwarna hitam. Tetapi mata Cecil tetap berbinar. Ia langsung berlari menghampiri ladang mawar ungu itu dan memetik beberapa bunga. Cecil tertawa senang. Tapi tawa itu tak berlangsung lama. Sesosok manusia serigala berlari ke arahnya dan menggigit baju Cecil. Gadis kecil itu berteriak meminta tolong. Suara permintaan tolongnya sama persis seperti teriakan yang tadi ia dengar. Karena memang itu teriakannya.

Saat Cecil sedang menangis ketakutan, tiba-tiba sesosok bayangan meloncat ke arahnya. Marcus. Cowok itu segera menusuk serigala yang menggigit baju Cecil. Namun ternyata jumlah serigalanya terlampau banyak. Ia mendorong Cecil ke tempat yang aman sementara ia mencoba mengalahkan manusia-manusia serigala itu. Marcus tidak menyangka jumlah manusia serigala itu kian bertambah. Dia mulai kewalahan. Darah mulai mengucur dari kepalanya, wajahnya, dan bagian tubuhnya yang lain.

Sesosok manusia serigala mengigit baju Cecil dan menyeretnya pergi. Marcus segera mengeluarkan pisau dan melemparnya ke arah manusia serigala itu. Namun naas, seekor manusia serigala menerkam tangannya dan lemparannya pun meleset. Pisau yang seharusnya mengenai leher si manusia serigala, malah mengenai jantung Cecil. Gadis itu menjerit kesakitan sebelum akhirnya nyawanya melayang. Marcus tertegun. Dia panik. Sontak saja dia menghajar manusia-manusia serigala itu dengan membabi buta. Akhirnya ia ditinggal sendirian, bersama mayat Cecil yang tergeletak berlumuran darah di tanah.

Marcus menghampiri tubuh kecil itu dan menutup mata Cecil. Setetes air mata Marcus menetes, membuat noda darah di pipi Cecil luntur.  

“Maafkan aku, Cecillia…Maafkan aku…” Marcus membuka jasnya dan menutupi tubuh Cecil dengan jas itu. Dia lalu mengangkat tubuh Cecil dan membawanya kembali pulang. Satu langkah terasa amat lama. Marcus seolah ingin mengundur waktu. Ah, tidak, dia ingin mengulang waktu seandainya ia bisa.

Sampai di rumah keluarga Walcott, Marcus langsung ditampar oleh Casey. Cowok itu menangis meraung-raung melihat mayat adiknya yang berlumuran darah.

“Kau pembunuh! Kau membunuh adikku!” Casey berteriak parau. Marcus hanya menunduk. Dia tidak bisa mengelak. Karena pisau yang dilemparnyalah yang mengenai jantung Cecil.

“Mulai sekarang, kita bukan teman lagi! Aku benci kau!” teriak Casey. Marcus mendesah. Dia membungkuk lalu berbalik pergi dengan langkah gontai.

Casey menyingkirkan jas Marcus dari tubuh adiknya. Dia tertegun. Sebuah bunga mawar ungu tergenggam di tangan kanan adiknya. Hati-hati ia mengambilnya. Air matanya menetesi mawar itu. Mawar itu pun berubah warna menjadi hitam.

“Cecillia, bagaimana kabarmu?” tanya Marcus pada boneka itu. Boneka Cecillia menatapnya. Lama boneka itu diam.

“Kakak bilang kalau kau musuh. Cecil tidak mau bicara denganmu.” Cecil menoleh ke arah Sunghee. Sebuah senyum kaku menghiasi wajah kayunya.

“Kakak ingin bertemu denganmu. Tapi sebelum itu, maukah kau bermain dengan Cecil, Sunghee?”

“Kakakmu pasti mencarimu. Kau pulang saja.” Suara Marcus terdengar lagi. Jeremy melirik ke arah pintu. Sekelebat bayangan lewat. Jeremy mengerutkan kening. Ia lalu pergi mengejar bayangan itu.

Cecillia menatap Marcus kesal.

“Kakak Cecil bilang kamu musuh. Cecil tidak diperbolehkan berbicara dengan musuh. Cecil hanya disuruh untuk membawa Sunghee kepada kakak.”

“Bagaimana kalau aku tidak mengijinkan?”

“Cecil pakai cara kekerasan.”

“Misal? Bisa apa tubuh kayu itu?” Nada suara Marcus terdengar mengejel. Cecil terdiam. Dia menunduk. Matanya yang berwarna biru berubah warna menjadi merah menyala. Boneka Cecil mendongak. Tatapannya tajam. Seketika seluruh ruangan itu seperti diserbu angin topan. Kertas-kertas berterbangan, perabotan rumah berterbangan. Jendela ruangan itu pecah dihantam meja kecil.

Marcus beranjak berdiri. Tatapannya tak kalah tajam dengan tatapan mata boneka itu. Dia mengambil kursi besi yang terbang ke arahnya. Ia lalu mengayunkan kursi itu ke arah boneka Cecil. Kena. Boneka itu terlempar sampai ke perapian dan terbakar perlahan. Kayu-kayunya gosong. Rambut pirangnya terbakar juga. Mata merahnya berubah menjadi biru kembali. Sunghee menyaksikannya dengan terpana. Kepala boneka itu mengarah pada Sunghee.

“Aku pasti akan mengambil sesuatu yang berharga darimu, Sunghee. Nanti kita main lagi ya. Dah!” Suara boneka itu seperti gaung di ruangan itu. Seiring dengan habisnya tubuh kayu boneka itu, keadaan kembali seperti semula. Tentu saja perabotan yang berantakan adalah pengecualian.

“Aku takut…” gumam Sunghee.

“Apa yang kau takutkan? Dia sudah pergi.”

“Tidak mungkin semudah itu…aku takut..”

“Tenang saja. Ada aku, Lady.” Marcus menepuk puncak kepala Sunghee. Gadis itu terdiam sambil melihat sekeliling. Ruangannya hancur. Tapi ada satu yang lebih penting dari ruangan yang hancur. Jeremy.

“Marcus, kau lihat dimana Jeremy?”

“Eh? Bukankah tadi dia bersama kita?” Marcus balik bertanya. Sunghee terpaku.

= = =

Hyukjae membuka matanya. Sinar matahari menyilaukan penglihatannya. Dia lalu melirik ke arah meja kecil tempat boneka Sunghee disimpan. Dia segera terduduk ketika tidak menemukan boneka itu di sana. Hyukjae melihat ke sekeliling, kalau-kalau bonekanya tersenggol lalu terjatuh. Tapi hasilnya nihil.

Hyukjae segera turun dari tempat tidur tanpa mencuci muka atau menyisir terlebih dahulu. Dia segera mencari boneka itu ke kamar lain, kalau-kalau ia salah meletakkan. Tapi hasilnya tetap tidak ada.

Tiba-tiba ia mendengar suara pisau diasah dari arah dapur. Hyukjae tertegun. Dia lalu memberanikan diri dan menghampiri dapur. Hyukjae nyaris tidak bisa bernapas ketika melihat boneka itu sedang mengasah pisau di atas meja dapur. Gerakannya kaku, layaknya robot. Awalnya Hyukjae berpikir kalau itu boneka yang bisa bergerak karena ada baterainya. Tetapi asumsinya hilang ketika ia mencoba menggendong boneka itu. Boneka itu langsung menodongkan pisau tepat ke matanya. Tatapan boneka itu tajam.

“Maaf…tolong jangan sentuh aku, Hyukjae. Aku…tidak suka disentuh..” Boneka itu berbicara. Ya, berbicara. Layaknya orang biasa.

Hyukjae terkejut dan segera meletakkan boneka itu. Nyaris dibanting. Boneka itu mengaduh kesakitan. Hyukjae segera merapat ke tembok di belakangnya. Wajahnya pucat. Keringat dingin menuruni pelipisnya.

“Aku sedang menyiapkan sarapan. Kau mau makan apa? Biar kusiapkan.” Boneka itu tersenyum, jika bisa dikatakan demikian. Hyukjae berteriak. Dia lalu berlari keluar rumah tanpa memakai alas kaki. Tetangga yang kebetulan ada di depan rumah jadi heran melihat tingkah Hyukjae. Cowok itu berlari tanpa tujuan. Rambutnya berantakan, matanya terlihat masih mengantuk. Dia masih mengenakan baju tidur dan tidak memakai alas kaki.

“Ada apa, Lee?” sapa Frau Wageler heran.

“A..ada..boneka hidup..” bisik Hyukjae gemetar.

“Hm? Mungkin hanya mimpi. Lihat, Nak, keadaanmu masih berantakan. Sepertinya kau bermimpi buruk.”

“Mu-mungkin..” Hyukjae ingin mengakui bahwa itu hanya mimpi.

“Kau kembalilah tidur. Kelihatannya kau kelelahan. Mau kubikinkan makanan?” tawar Frau Wageler. Hyukjae menggeleng.

“Tidak usah…terima kasih..maaf mengganggu..” Hyukjae berjalan lunglai ke rumahnya lagi. Dia enggan masuk ke sana, takut boneka itu masih ada. Hyukjae menutup mata dan menghembuskan napas panjang. Ia berkomat-kamit dalam hati, meyakinkan kalau ini hanya mimpi.

Perlahan, dibukanya handle pintu. Sepi. Hyukjae menutup pintunya hati-hati dan dengan was-was melihat ke sekeliling. Belum pernah ia merasa setegang ini di rumah sendiri.

“Sudah pulang? Aku baru saja membuatkan sandwich. Ayo makan sama-sama, Hyukjae-ssi..”

“AAAAAA!!!!”

= = =

Hari-hari berikutnya teror boneka masih berlangsung. Hyukjae dan Sunghee mengalami kejadian yang sama persis, seakan-akan mereka berdua sedang mengikuti skenario. Hyukjae dihantui di kamar mandi, Sunghee pun begitu. Hyukjae dihantui di ruang keluarga, Sunghee pun demikian. Mereka berdua sama-sama frustrasi.

Hyukjae terbangun di tengah malam. Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda, Sunghee melakukan hal yang sama. Mereka berdua memutuskan untuk membuat secangkir teh. Mereka berdua menuruni tangga rumah masing-masing dan berjalan ke dapur.

Hyukjae menuangkan madu ke tehnya sambil berpikir. Kutukan apa yang ia dapat sampai harus diteror boneka seperti ini.

“Apa kau butuh madu sebanyak itu?” Suara yang kini tak asing di telinga Hyukjae terdengar. Cowok itu menggenggam botol madu dengan keras. Kemarahan menguasainya. Ia sudah tidak kuat. Kemanapun ia pergi boneka itu selalu membuntuti.

“Sudah cukup…” Suara Hyukjae gemetar karena amarah. Ia lalu menyambar boneka itu dan berlari ke atas. Ia menggapai kotak kayu di bawah tempat tidurnya dan membuka kunci perak yang berukiran namanya. Ia membuka kotak kayu itu dan meletakkan boneka itu ke dalamnya.

“Kau mau ap–” Belum selesai boneka itu bicara, kotak kayu sudah ditutup oleh Hyukjae. Cowok itu bergegas berlari ke perapian di ruang keluarga dan melemparkan kotak kayu itu ke sana.

= = =

Sunghee menghembuskan napas kesal. Boneka itu sedari tadi memprotes terus. Gulanya kebanyakanlah, airnya kurang panaslah, porsinya kurang besarlah, dan lain-lain. Sunghee sudah tidak kuat lagi. Ia langsung menyambar boneka itu dan memasukkannya ke kotak kayu yang ada di bawah kursi ruang keluarga. Ia membuka kotak itu dengan kunci berukiran namanya. Saat dia hendak mengunci boneka itu di sana, suara boneka itu menghentikannya.

“Hyukjae mengalami hal yang sama lho…dia diteror oleh boneka yang mirip kau. Hihihihi..” Boneka itu cekikikan. Sunghee berusaha tidak menggubris perkataan itu dan mengunci boneka itu di kotak kayu. Ia berlari ke perapian dan melemparkan kotak kayu itu ke sana. Napas Sunghee memburu. Matanya terpejam. Dia menghela napas panjang. Ia lalu menarik napas lagi. Asap langsung masuk ke hidungnya. Ditambah lagi panasnya keadaan sekeliling.

Sunghee membuka mata dan menjerit. Dia menyadari yang ada di kotak kayu sekarang adalah dia, bukan boneka itu. Ukuran kotak kayu itu jadi lebih besar, menyesuaikan tubuhnya. Sunghee menjerit meminta tolong. Tangannya menggedor-gedor pintu kotak kayu di atasnya.

“Jangan panik, konsentrasilah. Kau bisa keluar dari sana, dengan sihirmu..”

Sunghee tertegun. Itu suara ibunya. Sunghee pun berhenti menjerit. Dia memejamkan mata, menahan rasa panas. Dia mulai berkonsentrasi. Tiba-tiba pintu kotak kayu itu terbuka dan terlepas dari tempatnya. Sunghee segera meloncat keluar. Dia langsung menuju ke rumah Hyukjae.

= = =

Sunghee tiba di rumah Hyukjae tepat waktu. Ia sempat mendengar dimana Hyukjae tinggal, jadi tidak sulit mencari rumahnya.

Di perapian, sebuah kotak kayu besar seukuran peti mati sedang terbakar. Sunghee langsung menyihir pintu kotak kayu itu agar terbuka. Pintunya pun terbuka dan terlepas dari tempatnya. Sunghee segera berlari ke arah Hyukjae di dalam kotak. Dia mengulurkan tangannya.

“Ikut aku! Aku tahu harus kemana!” seru Sunghee. Hyukjae terpana. Tapi tak ada waktu untuk bertanya apapun. Ia langsung meraih tangan Sunghee dan melompat keluar dari peti. Boneka itu tak ditemukan dimanapun. Menghilang tanpa jejak. Namun Sunghee tahu pasti kemana ia harus pergi. Ia tahu pasti kemana Marcus dan Jeremy.

“Hyukjae, kau ada motor?” tanya Sunghee.

“Ada.”

“Pergi ke gudang sekolah! Sekarang!”

Hyukjae segera mengambil motornya. Sunghee duduk di belakangnya. Hyukjae lalu mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Jantung mereka berdua berdetak lebih cepat. Semuanya karena ketakutan.

= = =

Di gudang sekolah, Marcus menatap Casey dengan marah. Kedua tangannya direntangkan dan diikat dengan rantai besi ke sudut-sudut papan kayu di belakangnya. Sepasang sayap hitam miliknya terbuka lebar. Mata merahnya menyala.

“Itu balasan untuk membunuh adikku, Marcus,” ucap Casey sadis.

“Itu tidak sengaja! Aku ingin menyelamatkannya tapi sesosok manusia serigala menerkam tanganku. Lalu…” PRAAK…Casey mencambuk pipi Marcus, meninggalkan bekas kemerahan di sana.

“Tapi adikku mati di tanganmu!” PRAK..cambuk itu kembali merasakan kulit Marcus lagi.

“Seandainya tidak ada aku di sana, mayat adikmu tak akan ditemukan!” Kembali cambuk itu mengayun. Kali ini mengenai perut Marcus. Sayap hitam yang tadi terbentang lebar kini agak sedikit tertutup. Marcus menyeringai.

“Kalau mau menangis, menangislah, Casey. Aku tahu sejak dulu kau jarang sekali menangis. Sekali ini kau boleh menangis…di hadapanku,” ucap Marcus lembut.

“Kau pikir aku akan luluh mendengar ucapan itu?” Casey menatap mata Marcus tajam. “Tidak akan.”

“Nathan, sejak kapan kau menjadi budaknya?” Marcus mengalihkan topik pembicaraan dengan bertanya pada Nathan yang duduk di samping kardus-kardus. Sedari tadi ia tidak berani melihat ke arah tubuh telanjang dada Marcus yang penuh luka. Jeremy terikat dengan rantai di sebelahnya. Jeremy menggeram. Matanya yang berbeda warna menatap Casey tajam.

“Dia bukan budakku.” Casey yang menjawab.

“Aku tidak tanya kamu,” sahut Marcus sinis.

“Dia benar. Aku bukan budaknya.” Nathan menjawab sambil menunduk. Jeremy yang berada di sampingnya menatapnya. Jeremy tidak marah pada Nathan. Dia tahu Nathan hanya disuruh. Ada suatu ikatan di antara Nathan dan Casey. Ikatan yang sangat kuat. Jika satu orang memutuskan ikatan tersebut, pasti ada sesuatu yang terjadi pada orang itu. Yang terparah pastilah kematian.

Ikatannya sama seperti ikatan Sunghee dan Marcus. Jika Sunghee memilih untuk memutuskan ikatan itu, dia harus mendapat balasannya. Dibunuh Marcus, atau menjadi iblis bersama Marcus. Dengan kata lain, jika ikatan itu putus, ikatan lain akan terjalin.

“Tindakan bodoh apa yang kau lakukan sampai mengubah laki-laki menjadi penyihir, bukan perempuan?” Marcus bertanya pada Casey. Cowok itu terlihat kesal mendengar pertanyaan tersebut.

“Kurasa itu bukan urusanmu.”

“Tapi kurasa itu urusanku juga. Casey, gara-gara itu kau kehilangan sepasang sayapmu, kan? Sebagai teman lama…tentu aku harus peduli.” Jika telingamu teliti, kau akan mendengar nada mengejek di suara Marcus. Casey tak menjawab. Ia hanya menatap Marcus geram.

= = =

Hyukjae dan Sunghee sampai di depan sekolah. Sunghee segera melompat turun sebelum Hyukjae benar-benar memarkirkan motornya. Hyukjae tersentak dan menyandarkan motornya ke pagar sekolah, lalu cepat-cepat mematikan mesinnya. Cowok itu berlari menyusul Sunghee yang masuk lebih dulu. Ia lalu terpaku. Sunghee ada di sana, pekikannya tertahan.

“Apa-apaan…” gumam Sunghee.

“Boneka-boneka itu…” gumam Hyukjae. Di depan mereka, ratusan boneka berambut pirang dan perak menghadang mereka. Bentuknya sama dengan yang meneror Sunghee dan Hyukjae. Mata mereka membulat lebar. Hyukjae langsung berdiri di hadapan Sunghee, bersikap melindunginya.

“Hyukjae, Sunghee, ayo kita main sama-sama.” Itulah kata-kata yang diucapkan boneka-boneka itu.

“Hyukjae, Sunghee, ayo kita bernyanyi bersama-sama.” Itu kata-kata mereka yang lain. Hyukjae otomatis mencari tangan Sunghee dan menggenggamnya erat. Tangan Sunghee berkeringat dingin. Matanya melirik ke jam besar yang ada di dinding luar gedung sekolah.

“Kita sudah terlalu lama. Kita harus cepat mencari Marcus dan Jeremy.”

“Marcus dan Jeremy?” ulang Hyukjae.

“Kuceritakan nanti. Mereka dalam bahaya!”

“Aku mengerti. Tapi apa kita juga tidak dalam bahaya?” Hyukjae mendesis. Sunghee menarik napas, mencoba menenangkan diri tapi ia yakin usahanya sia-sia. Jantungnya masih  berpacu dengan cepat. Seakan hendak membalap kecepatan detak jantung lain.

Mungkin jantung Hyukjae.

Cowok itu lebih berdebar daripada Sunghee. Debaran takut dan debaran yang menyenangkan. Tapi Hyukjae tidak mau memikirkan detakan kontras itu.

“Sunghee, aku akan mencoba melakukan sesuatu.” Hyukjae mendorong Sunghee ke belakang dengan lembut.

“Tidak, jangan!” Seruan Sunghee tidak digubris Hyukjae. Cowok itu menendang beberapa buah boneka. Dia lalu menendang yang lain, berusaha menciptakan jalan. Sunghee terdiam. Mencoba mencari cara yang tepat. Ia tahu tendangan takkan cukup.

“Hyukjae, hentikan!” seru Sunghee ketika melihat boneka-boneka yang terkena tendangan Hyukjae mengeluarkan pisau tajam dari balik gaun mereka.

“Sunghee, aku akan memberimu jalan ke gudang belakang, kau cepat lari, biar aku yang menangani mereka!” teriak Hyukjae sambil menendang dan menangkis boneka-boneka yang menyerangnya.

“Jangan tolol! Aku tahu cara lain!” Sunghee terpaksa melakukannya, tapi ia pikir ini cara yang terbaik.

“Apa?! Apa yang bisa kaulakukan?” Tanpa sadar, Hyukjae sedikit membentak. Sunghee mengatur napasnya dan berkonsentrasi.

“Hyukjae, akan kujelaskan hal ini nanti,” ujar Sunghee sebelum merentangkan tangannya dan menatap boneka-boneka itu dengan tajam. Sunghee menyatukan tangannya dan memejamkan mata. Mulutnya tampak komat-kamit seperti sedang melafalkan mantra. Sunghee membuka matanya sambil merentangkan tangan. Seketika angin mengelilingi mereka. Boneka-boneka itu mulai terbakar. Jeritan-jeritan mereka tak tertahankan.

“London Bridge is falling down, falling down, falling down. London Bridge is falling down, my fair lady.” Nyanyian boneka-boneka bersuara imut itu kini berubah menjadi erangan kesakitan. Suara mereka semakin parau. Semakin jauh dan samar. Tubuh-tubuh kayu mereka mulai hancur menjadi abu.

Angin besar itu berhenti. Boneka-boneka itu sudah terbakar menjadi abu. Angin yang menghembus perlahan menerbangkan mereka ke arah gudang sekolah. Sunghee langsung berlari ke sana, tanpa melirik Hyukjae sedikitpun. Cowok itu tergeragap dan segera bangkit dari jatuhnya. Ia langsung mengejar Sunghee.

“Kau berhutang penjelasan. Kau tahu itu, Sunghee!” seru Hyukjae sambil berlari. Sunghee tidak membalas. Ia malah mempercepat larinya.

Ketika sampai di depan gudang, Sunghee langsung menyihir pintu itu agar terbuka sendiri dengan hentakan keras. Dia tidak mau repot-repot mengetuk pintu.

Karena ia akan terlambat jika ia mengetuk pintu.

Tubuh Marcus sudah penuh darah dan bekas cambukan. Tubuh Jeremy yang terlilit rantai tajam pun tak ada bedanya. Jika cowok itu bergerak, rantai berduri itu akan menusuk tubuhnya. Apalagi rantai itu sudah diberi sihir oleh Nathan, agar tidak membuka kecuali ia yang membukanya.

Yang membuat Sunghee lebih terkejut adalah Casey. Cowok berambut pirang itu berbalik, tersenyum licik ke arah Sunghee. Sunghee tidak suka senyum itu. Penuh kepalsuan dan dendam.

“Apa kau keberatan jika aku membunuh pengawalmu?” ujar Casey. Sunghee menyadari ada yang janggal. Casey hanya bilang pengawalmu, itu bentuk tunggal. Siapa yang akan Casey bunuh?

Dari posisi berdirinya, Sunghee tahu Casey hendak membunuh Marcus. Cowok bersayap hitam itu menunduk, tidak mau menunjukkan wajahnya yang penuh luka ke hadapan Sunghee.

“Apa yang kauinginkan…” Sunghee menggeram. Kedua tangannya dikepalkan. Casey mengangkat kedua alisnya. Jeremy menoleh menatap majikannya tanpa ekspresi – atau mungkin ekspresinya tidak terlihat karena gelapnya malam. Nathan diam-diam melirik takut ke arah Sunghee. Mentalnya memang bukan mental pembunuh. Dia lemah lembut, tapi kuat. Hanya saja kekuatannya tidak digunakan untuk membunuh atau menyiksa orang lain.

“Melenyapkan pengawalmu tentu saja. Atau..haruskah aku melenyapkanmu dan teman tampanmu itu?” Casey melirik ke arah Hyukjae yang kelihatan syok. Sunghee mencari tangan Hyukjae, setelah mendapatkannya, ia mengenggamnya erat. Genggamannya seperti mengatakan, aku hutang penjelasan, dan aku jamin kau baik-baik saja sebelum mendapat penjelasan itu.

“Kalau mau membunuh seseorang…bukankah lebih enak memulainya dari ketuanya dahulu?” Sunghee maju selangkah, Hyukjae otomatis mengikutinya.

“Kalau kau mau membunuh mereka, langkahi mayatku.” Sunghee mendongakkan kepala, menantang Casey. Tangan Hyukjae menegang di genggaman Sunghee. Kau gila, itu yang bisa ia tangkap dari tangan Hyukjae.

Casey tersenyum penuh kemenangan. Tiba-tiba terdengar suara duk-duk keras dari dalam kardus-kardus besar di dalam gudang itu. Sunghee mengawasi dengan waspada. Tangannya dan tangan Hyukjae semakin mengeratkan genggaman mereka. Dus yang paling besar terbuka. Tangan-tangan kayu kecil keluar dari sana. Dus yang lain terbuka. Begitu seterusnya hingga satu dus tersisa. Boneka-boneka itu menyanyikan lagu London Bridge is falling down lagi.

Casey membungkuk sopan. “Selamat bermain.” Ia menegakkan tubuh dan sebuah benda perak tajam terselip di tangannya. Sunghee terkejut. Itu pisau dari dunia sana, bukan dunia manusia. Pisau itu bisa membunuh apa saja. Manusia, iblis, vampir, penyihir, bahkan malaikat.

“Sunghee, ayo kita nyanyi sama-sama.”

“Sunghee, ayo kita bermain.”

“Sunghee, lihat! Rambut perakmu sama seperti punyaku.”

“Sunghee…”

“HENTIKAN!” Sebuah suara tenor membuat boneka-boneka itu terdiam. “Sunghee sedang tidak bisa bermain sekarang. Dia sedang sibuk. Kalian semua bermain denganku saja.”

“…” Boneka-boneka itu terdiam. Mereka kelihatan sedang mengawasi Hyukjae.

“Aku suka suara kalian, aku suka permainan kalian, aku suka rambut kalian, baju kalian, wajah cantik kalian. Jadi, keberatankah jika bermain denganku?” Bisa Sunghee tangkap dalam suara Hyukjae ada sedikit getaran ketakutan.

Casey menelan ludah. Marcus meliriknya. Tidak, dia melirik pisaunya.

“Namaku Hyukjae Lee, tapi semua biasa memanggilku Spencer. Nama kalian siapa?” tanya Hyukjae ramah.

“Namaku Cecil!” seru boneka-boneka berambut pirang.

“Namaku Sunghee!” seru boneka-boneka berambut perak. Sunghee tidak terkejut. Dia sudah tahu boneka itu meniru sosoknya.

“Nah, Cecil, Sunghee, bagaimana kalau kita bermain di luar?” Hyukjae tersenyum. Boneka-boneka itu terlihat tertarik, setidaknya karena mereka tidak melawan.

Hyukjae melepaskan tangannya dari tangan Sunghee. Ia mundur selangkah. Sunghee ingin mencari tangan Hyukjae lagi, tapi ia sadar ia tidak boleh melakukannya sekarang.

“Baiklah, ladies. Kita bermain di luar ya? Supaya orang-orang tua itu tidak mengganggu kita.”

Lihat siapa yang bicara, Marcus mengulum senyumnya. Kini ia berpikir Hyukjae tidak seburuk bayangannya.

Casey tergeragap. Pegangannya pada pisau peraknya mengendur. Marcus melihat kesempatan.

“Ce-Cecillia!” seru Casey. Boneka-boneka berambut pirang menoleh. Yang perak diam di tempat.

“A-aku kakakmu! Aku memerintahmu untuk tidak bermain dengan lelaki itu!” Casey menunjuk ke arah Hyukjae.

“Kakak selalu mengajariku untuk berbuat baik kepada siapapun. Jadi sekarang aku ingin berbuat baik pada kakak ini. Kelihatannya dia baik.”

Kakak…

Satu kata itu meruntuhkan pertahanan Casey. Bahkan adiknya lebih senang berada dekat Hyukjae, bukan dengannya. Casey jatuh berlutut di tanah. Sunghee langsung menggunakan kesempatan ini untuk melepaskan rantai Marcus dengan sihirnya. Nathan melakukan hal yang sama. Ia melepaskan rantai di tubuh Jeremy. Jeremy menatap Nathan ingin tahu. Tapi cowok mungil itu hanya menarik rantai itu dan menghilangkan durinya dengan sihirnya.

Rantai di tangan Marcus terlepas. Dengan sayapnya terbentang lebar, Marcus menerjang punggung Casey. Casey yang tidak siap dengan serangan mendadak pun terkejut. Pisau peraknya terlepas. Marcus tidak sempat menggapai pisau itu. Jatuhnya di dekat kaki Sunghee. Marcus berusaha keras untuk menahan kedua lengan Casey, agar iblis itu tidak banyak bergerak. Sunghee membungkuk mengambil pisau perak di lantai. Ia lalu berjalan ke arah Casey.

“Bunuh dia, Sunghee. Dan kita selesai,” geram Marcus. Sunghee mengacungkan pisaunya. Casey hanya menatap Marcus dengan marah. Nathan terkejut. Ia langsung berdiri, tapi kakinya ditahan Jeremy.

“Kau yang salah, Marcus! Kau yang membunuh adikku!” sembur Casey marah. Gerakan tangan Sunghee yang hendak menghujamkan pisaunya terhenti di udara. Pegangan tangan Jeremy di kaki Nathan pun melemah, tapi Nathan masih diam. Dia tidak berinisiatif mendekati iblis yang mengubahnya menjadi penyihir.

“Aku frustrasi karena aku kehilangan adikku, kau tahu. Tapi kenapa kau malah hendak membunuhku!!” jerit Casey.

“Tentu saja aku ingin mempertemukanmu dengan adikmu di sana!” jerit Marcus tak kalah keras. Casey tertegun. Tangan Sunghee terjatuh ke sisi tubuhnya. Tapi pisau perak tetap ada di genggamannya.

“Kau pikir aku tega membunuh temanku sendiri? Membunuh saudaraku? Begitu?!” bentak Marcus.

“Kau..” Casey mendesah. “Jangan coba menipuku!!” Seiring dengan jeritan Casey, ia membalikkan keadaan. Marcus berada di bawah tubuhnya dan ia menahan lengan Marcus. Mata merahnya menyala dengan bara api di dalamnya. Penuh dendam, benci.

“Menipumu untuk apa? Tak ada untungnya bagiku. Jikapun karena ingin menyelamatkan nyawaku, tak ada gunanya. Pisau itu ada di genggaman Lady-ku. Keputusan aku mati atau tidak ada di tangannya. Jadi tidak masuk akal jika aku berbohong padamu agar kamu menyelamatkan nyawaku.”

“Lalu untuk apa..” Suara Casey gemetar.

“Aku tidak berbohong, Case. Untuk apa? Untuk membuat teman lamaku menjadi semakin membenciku?”

“Kenapa…” Setetes air mata jatuh dari mata Casey, menuruni pipi Marcus seakan ia yang sedang menangis. “Kenapa harus adikku…”

“Seandainya aku bisa, aku ingin menukar posisinya denganku.”

“Tidak! Tidak! Itu tidak benar! Aku..aku…akulah yang salah! Aku yang mengucapkan ada banyak mawar ungu di hutan…aku…aku sangat suka mawar ungu. Adikku…Cecil..dia..pergi ke hutan untuk mengambilkanku mawar ungu! Dia menggenggam sebuah bunga untukku di saat terakhirnya…itu…itu salahku..” Kini Casey menangis sesenggukan. Masih berada di atas tubuh Marcus. Iblis itu tidak keberatan menampung air mata teman lamanya. Sahabatnya.

“Jangan marah, Case, tapi…aku senang melihatmu menangis. Aku senang melihatmu mencurahkan isi hatimu…kepadaku. Kepada semuanya.

“KAU BODOH!!” jerit Casey sekuat tenaga.

“Kuanggap itu pujian.” Marcus tersenyum.

“KAU PEMBUNUH! PENGECUT! LICIK!”

“Teruskan, Case.”

“KAU! Kau…kau sahabatku yang paling berharga!!” Casey menarik tubuh Marcus agar tubuhnya duduk. Mereka duduk berhadapan. Posisinya agak aneh. Casey masih berada di atas kaki Marcus yang terselonjor lurus. Kedua tangan Casey berada di pundak Marcus. Tangan Marcus berguna untuk menjadi penyangga tubuhnya.

Casey menangis dan menarik Marcus ke pelukannya. Marcus terdiam. Dia lalu tersenyum dan menepuk-nepuk punggung sahabatnya, mencoba menopang beban tubuhnya dan tubuh Casey dengan satu tangan.

“Berbaikan, sobat?” tanya Marcus.

“Jika itu maumu.” Casey mengangkat bahu. Mereka lalu bersalaman. Mereka terkekeh. Jeremy tersenyum tipis melihatnya. Dia bangkit berdiri dan menatap luka-luka di tubuhnya.

“Maaf soal itu,” gumam Nathan. Jeremy harus menunduk untuk melihat wajah Nathan.

“Bukan masalah.” Jeremy mengangkat bahu.

“Terima kasih..”

“Untuk?”

“Untuk menjadi peliharaan Sunghee. Gadis itu sangat beruntung.” Nathan berlalu tanpa sempat melihat perubahan ekspresi Jeremy. Jeremy memperhatikan kemana Nathan pergi. Ke satu kardus besar di pojok gudang. Jeremy ingat kardus itu belum terbuka. Ia tidak yakin isinya apa.

Sunghee menghela napas dan menatap pisau perak di tangannya. ‘Sudah tak ada gunanya. Kulenyapkan saja.’ Pisau itu pun menghilang. Sunghee menepuk-nepuk tangannya seakan sedang membersihkannya dari remah.

Di luar, suara Hyukjae terdengar.

“Ehm…maaf yang di dalam, kurasa…boneka-boneka ini sudah cukup brutal dengan…menjadikan bajuku sebagai alas duduk mereka…” Hyukjae mengintip malu-malu dengan tubuh telanjang dada. Wajah Sunghee memerah. Ia lalu cepat-cepat menunduk.

Hyukjae melihat Casey dan Marcus yang masih berpelukan.

“Oh, maaf. Aku mengganggu kalian. Jadi sebaiknya aku menemani boneka-boneka itu bermain sebentar…” Hyukjae hendak berbalik ketika suara Casey menahannya.

“Tidak usah repot-repot.” Casey bangkit berdiri. Tangannya terulur untuk membanti Marcus berdiri, dan ia menyambutnya. “Nathan, bisa lenyapkan sihirnya?”

“Tentu.” Nathan berbalik dari kardus besar dan menghampiri boneka-boneka itu. Ia lalu mengucapkan suatu mantra yang tidak dikenal dan boneka-boneka itu pun berjatuhan tanpa nyawa. Sunghee terpukau.

“Kau harus ajari aku,” bisiknya pada Nathan. Cowok itu hanya tersenyum.

Marcus menghampiri Hyukjae yang masih bertelanjang dada. Bajunya sudah tidak keruan dihancurkan boneka-boneka itu. Marcus meraih baju hitamnya di lantai dan menyampirkannya pada tubuh Hyukjae.

“Terima kasih,” gumam Marcus. Hyukjae terpana. Ia lalu tersenyum.

“Well, maaf sudah membuat keributan malam ini, kawan! Bagaimana kalau kutraktir makan?” saran Casey. Semua berseru setuju.

Jeremy masih berada di dalam gudang. Dia berjalan mendekati kardus besar itu dan membukanya. Dia lalu mengangkat kedua alis.

“Sepertinya kau tak akan terpakai, Nak,” ucap Jeremy pada boneka replika Sunghee. Ukuran tubuh, model rambut, sampai warna kulit persis seperti Sunghee. Jeremy yakin Casey ingin mengambil jiwa Sunghee dan memasukkannya ke boneka ini. Agar Marcus merasakan kehilangan juga. Padahal jika ditanya, Marcus pasti akan menjawab ia juga sudah merasa kehilangan. Kehilangan adik sahabatnya berarti kehilangan adiknya juga.

Jeremy berjalan keluar gudang. Tapi dia menghentikan langkahnya ketika mendengar sesuatu berbisik di belakangnya. Jeremy berbalik. Kosong. Dia lalu mengangkat bahu dan berjalan santai mengikuti orang-orang yang sudah berada di luar gudang.

= = =

“Tatap mataku dan konsentrasi. Setelah melihat tepukan tanganku, kau akan tertidur lelap. Saat kau terbangun, kau adalah sekutuku. Kau adalah sekutuku. Sekutuku. Sekutuku. Sekutuku.”

PROK..suara tepukan tangan terdengar. Tubuh seorang gadis jatuh ke lantai dingin. Seseorang yang menghipnotisnya tersenyum.

“Kau akan bergabung denganku dalam Magic Club. Bergabung denganku dalam Magic Club.”

“Mendengar jentikan jariku, kau akan terbangun.”

CTIK.. suara jentikan jari terdengar. Mata gadis itu terbuka. Dia menatap orang di hadapannya dengan kosong.

“Tuan muda…”

To be continued

13 thoughts on “[FF] Fallen for a Witch Part 3

  1. amitokugawa says:

    kyakyakyaaa..seru bgt n sangat mengharukan..adegan2nya berasa nonton anime
    aku bacanya sambil dengerin musik instrumental yg sedih sih.. *salah backsound kayaknya, ga punya backsound yg menegangkan*

    dan aku udah menduga kalo nathan ada hubungannya sama casey, eh ternyata bener

    btw, yang terakhir itu siapa sih? siapa yg masuk magic club?
    oyaoya, aku ada saran
    “Ah, tidak. Aku hanya sedang malas-malasan di tempat tidur kok, tidak tidur asli.” Hyukjae terkekeh.
    mgkn bagusnya dihganti jd tidak benar-benar tidur *cuma saran aja..hehe*
    part selanjutnya ditunggu!

    • sungheedaebak says:

      hehehehee *terbang* aku juga seneng ngetiknya. kebayang anime aku juga hahahaha

      tadinya mau kubikin terpisah, ga satu paket, tpi dipikir2 lagi mreka cocok satu paket hahaha jadi lebih dramatis :p

      oooh itu ada di part 4. tunggu aja okeh😉
      ah iya juga sih..bisa diganti gitu. tpi entah kenapa aku lebih seneng pake kata “tidak tidur asli.” Hyukjae banget gitu kesannya wkwkwkwkwk *apaa

      • amitokugawa says:

        iya sih, kalo dipikir2 tidak tidur asli itu lebih hyukjae..haha
        oke2
        btw rencananya mau ampai berapa part?

      • sungheedaebak says:

        hehehehehe :p
        kayaknya bakal panjang. jadi rencananya satu part nyelesaiin satu masalah, dan entah ada berapa masalah. aku udah ngerancang sekitar…3 atau lebih. hehehe jadi bakal panjang

  2. Rabbitpuding says:

    Aku udah bacaaaaa~ hehehe
    udah lama gak main ke sini. semua di sini perannya kegelapan semua ya? penyihir, vampir, iblis…

    hah, cepet yow lanjutannya!

    casey teh heechul bukan? aku lupa, awalnya aku pikir sungmin. tapi sungmin kan vincent.

    ya udah deh dari pada komen nyampah. saya sudahi saja.

    • sungheedaebak says:

      awalnya kegelapan semua, ke sana-sana nggak kok.

      Insya Allah yo! klo lagi mood lanjutin wkwkwkwk

      iya heechul, cuman aku kasih marga di sini.

      hohohoh makasih dah baca n komen

  3. purpleyeonhee says:

    waaaaaaaaaaa aku baca malem2~ sendirian di kamar~ jreeeeeeng =.=
    kalo ada boneka pasti udah ngibrit dah hahaha..

    mesra amet yak si marcus sama casey😄 /plakk

  4. vidiaf says:

    kereeeeeeen. walopun aku ga denger lagu yang di saranin (abis gapunya), pake lagu swan lake ampuh juga.😀
    entah harus ngakak ato apa pas hyukjae lari-lari keluar dari rumah ==a
    aku ngebayanginnya kayak di anime ato kartun gitu, terus larinya riweuh teriak2 ._.v
    ga sabar baca lanjutannya, penasaran banget >< /lgsg ke part 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s