[FF] Fallen for a Witch PART 2

A New School Janitor

Hyukjae uring-uringan di kamarnya. Sedari tadi ia hanya mondar-mandir dari ujung satu ke ujung lainnya. Setiap lima menit ia terduduk di atas tempat tidur dan menghela napas. Lalu dia bangkit lagi dan kembali mondar-mandir.

“Kenapa tidak ada datanya?” gumamnya. Hyukjae mengacak rambutnya.

“Lalu…kenapa wangi menenangkan itu kembali tercium dari tubuhnya?” Hyukjae mendudukkan dirinya di lantai berkarpet.

“Aku…ingin mencium wanginya lagi…wanginya…sangat menenangkan..” Hyukjae lalu merebahkan tubuhnya di lantai. Dia menjadikan kedua tangannya sebagai bantal. Dia menghela napas panjang.

“Kenapa…dia tidak ingin aku dekati?” Hyukjae mendengus. Dia lalu bangkit untuk duduk.

“Arrgh..Lee Sunghee!! Kau pakai sihir apa sih? Aku jadi tidak bisa berhenti memikirkanmu!”

= = =

“Marcus? Kenapa kau ada di sini? Bukankah kamu…”

“Semua tugasku sudah selesai. Sekarang aku kemari untuk mengecek keadaanmu, my fair lady.” Marcus mendekati Sunghee dan menyentuh dagunya. Dia menatap kedua mata perak Sunghee dengan dalam.

“…” Sunghee hanya bisa diam. Sepasang bola mata merah itu membuatnya tak bisa berkutik. Marcus perlahan mendekati leher Sunghee dan menjilatnya. Membersihkan dari darah yang tersisa. Sunghee berjengit kaget. Tapi dia tidak bisa apa-apa.

Marcus melirik Jeremy yang menatapnya dingin.

“Lain kali lakukan dengan bersih, Jeremy. Jangan mengotori my fair lady-ku ini.”

“My fair lady? Sebenarnya apa maksudnya itu?” tanya Jeremy.

“Itu sebutan untuk orang yang kami ubah menjadi penyihir. Hanya berlaku untuk perempuan tentu saja. Karena iblis laki-laki selalu merubah seorang wanita menjadi penyihir, begitu sebaliknya,” terang Marcus. Jeremy terdiam, tapi wajahnya tampak paham.

“Lalu sudah berapa perempuan yang kau ubah menjadi penyihir?” tanya Sunghee. Marcus tersenyum. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Sunghee.

Dia lalu berbisik, “Kau benar ingin tahu, Lady-ku?”

“Hentikan omongan menjijikkan itu…” gumam Jeremy. Sunghee dan Marcus tidak menghiraukannya. Sunghee malah menatap Marcus penuh harap.

“Tolong..”

“Well, well…dari dulu kau tidak berubah, Lady-ku. Aku masih ingat saat aku mengubahmu menjadi penyihir…dulu wajahmu begitu..”

“Jadi berapa perempuan yang sudah kau ubah menjadi penyihir, Marcus Cho?” geram Sunghee kesal. Marcus terkekeh.

“Hanya kamu, my fair lady.” Marcus tersenyum sambil membelai pipi Sunghee. Marcus lalu mencengkeram dagu Sunghee kuat. Tatapannya yang lembut berubah menjadi tajam.

“Ada seseorang yang mengganggumu, Lady?”

“Hah? Se-sebenarnya…ada seorang laki-laki di sekolah… “ Sunghee menggenggam tangan Marcus dan melepaskannya dari dagunya. Marcus terdiam. Dia tampak memperhatikan.

“Laki-laki ini…wanginya sangat menyengat. Aku jadi sesak kalau dekat-dekat dengannya..”

“Hm…” gumam Marcus.

“Lalu…jantungku jadi berdebar-debar. Sebenarnya, siapa laki-laki itu? Apa dia iblis? Atau manusia serigala?” Marcus tersenyum geli.

“Dia manusia, Lady. Hanya saja dia yang ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidupmu.”

“Eh?!” Sunghee terkejut.

“Jangan kaget. Penyihir juga punya kehidupan. Mereka juga harus punya keluarga. Pendamping hidupmu bisa mengerti keadaanmu. Dia akan selalu mencintaimu walaupun wujudmu perlahan akan berubah menjadi buruk rupa.”

“Buruk rupa ya…”

“Itu konsekuensi yang kau dapat karena memutuskan untuk menjadi penyihir.”

“Benar. Lalu, kapan wujudku akan berubah?”

“Aku tidak bisa memberitahumu. Nanti kau akan tahu.”

“Tolong. Agar aku bisa mengantisipasi…” Sunghee menggenggam lengan baju Marcus kuat. Marcus menghela napas.

“Tolong, Lady. Aku tidak bisa memberitahumu lebih lanjut. Maaf.”

“Baiklah…” Sunghee melepaskan genggaman tangannya. Dia lalu tersenyum sedih. “Lagipula tidak masalah. Kapanpun wujudku akan berubah, aku siap menghadapinya.”

“Good girl..” Marcus mengacak rambut Sunghee. Mereka berdua tersenyum.

Jeremy terdiam di kursi samping ranjang. Matanya menatap keluar jendela. Mendung masih menutupi langit hari ini. Entah kapan hujan deras akan turun. Waktu masih menunjukkan pukul 5 sore. Tetapi entah kenapa suasana di luar sudah seperti pukul 8 malam.

Tiba-tiba sesosok bayangan melintas di depan jendela. Jeremy terkesiap. Matanya tidak lepas dari jendela itu.

“Ada apa, Jeremy? Kau tidak ikut main billyard?” tanya Sunghee. Jeremy mengalihkan tatapannya.

“Ah, aku ingin langsung tidur saja. Aku kekenyangan..” Jeremy pura-pura mengantuk. Sunghee tersenyum maklum.

“Mimpi indah, Jeremy!” Sunghee mengusap lembut rambut Jeremy. Cowok itu tertegun. Marcus meliriknya tajam.

“Ayo, Lady. Taruhannya kalau kau kalah aku pindah ke sekolahmu ya?”

“Aku tidak akan kalah!”

.

.

Jeremy terduduk di atas tempat tidurnya. Matanya masih menatap jendela. Tampak waspada. Kukunya tergantikan oleh cakar, untuk bersiaga. Taringnya siap menerkam. Detik jarum jam mengisi kesunyian di ruangan itu. Bersahutan dengan suara petir yang mengisi kesunyian malam di luar. Sudah dua jam dia menunggu. Hujan deras di luar semakin mengaburkan pandangannya. Makanya ia sudah siaga dua.

Jeremy juga memasang telinganya. Siapa tahu Sunghee tiba-tiba berteriak membutuhkan pertolongan.

Tiba-tiba sekelebat bayangan itu melintas kembali. Mata Jeremy terbelalak. Dia segera melompat ke dekat jendela dan membukanya lebar. Ia melihat kanan-kiri. Tidak ada apa-apa. Tapi Jeremy tetap siaga.

“Hhh….” Jeremy berbalik. Baru saja ia mendengar ada suatu suara di belakangnya. Namun, tak ada yang ditemukannya selain kamarnya yang kosong. Mata Jeremy perlahan menyala. Pandangannya akan lebih tajam. Jeremy mulai memeriksa sekeliling. Namun nihil. Tak ada yang ditemukannya.

Dan begitulah. Jeremy tidak tidur sampai pagi menjelang, selain karena tidak terlalu butuh tidur. Meski Jeremy seorang vampir, dia butuh tidur juga untuk memulihkan energi. Biasanya ia tidur 3 hari sekali. Waktunya pun tidak lama. Hanya 3 jam.

Sementara itu, di ruangan billyard, Sunghee dan Marcus masih asyik bermain billyard dengan beberapa pelayan menemani mereka. Sejauh ini, skor Sunghee dan Marcus seri.

“Kau tidak pulang, Marcus?”

“Kenapa? Kau takut kalah?”

“Bukan. Ini sudah menunjukkan pukul 12 malam, lho.”

“Tapi di luar sedang hujan deras disertai angin yang dingin. Nanti aku mati beku lho, Lady.”

“Apa iblis bisa mati beku?” ujar Sunghee kesal. Marcus tersenyum dan memukul bola putih di atas meja billyard. Tiga buah bola masuk.

“Aku menang.” Marcus tersenyum penuh kemenangan. Dia lalu menatap Sunghee.

“Sesuai taruhan, aku akan menjadi murid di sekolahmu dan mengawasimu terus. Bukankah itu juga suatu keuntungan untukmu, my fair lady?” Marcus mengedipkan sebelah matanya.

“Keuntungan?” Sunghee mengerutkan kening. Marcus meraih dagu Sunghee dan mengelusnya pelan.

“Bukankah…cowok itu jadi tidak bisa dekat-dekat denganmu?”

“Ah…iya tapi… Jeremy kan selalu ada untuk menjagaku.”

“Tapi dia tidak ada di sisimu, kan?” Marcus tersenyum misterius. Sunghee menelan ludah.

“Oh ya, Lady. Jangan lupa tutupi bekas gigitan Jeremy di lehermu itu. Pakai plester misalnya.”

“Em.” Sunghee hanya menggumam.

= = =

Sunghee berjalan dengan lunglai ke kelasnya. Dia menghela napas panjang. Di sisinya, Marcus berjalan dengan wajah gembira. Beberapa murid menatap ke arah mereka dengan kagum. Apalagi yang bergender perempuan. Mereka semua menatap Marcus dengan kagum.

“Sepertinya kau langsung popular di sini, Marcus,” bisik Sunghee. Marcus tersenyum. Tapi matanya terlihat sedih. Sunghee tertegun. Baru pertama ia melihat mata Marcus seperti itu.

“Kenapa?” Mata Sunghee terus mengarah pada Marcus sedangkan kakinya terus melangkah. Marcus balik menatapnya.

“Apa yang kenapa?” Marcus mengerutkan keningnya. Sunghee menggeleng. Marcus terdiam. Dia lalu menatap ke depan.

“Sunghee, awas!” Marcus langsung menarik tangan Sunghee, membawanya ke depan tubuhnya. Ternyata ada seorang laki-laki yang sedang membawa beberapa kardus besar. Lelaki itu tidak melihat jalan di depannya. Nyaris saja dia menabrak Sunghee. Mendengar seruan Marcus, lelaki itu terkejut. Kontan saja tangannya hilang keseimbangan dan kardus-kardus besar itu nyaris jatuh kalau Marcus tidak menangkapnya.

“Ma…maaf!” ujar lelaki itu. Marcus menghela napas.

“Lain kali hati-hati.” Marcus meletakkan dua buah kardus yang berhasil ditangkapnya dengan masing-masing tangan. Lelaki itu dan Sunghee terpana. Begitu juga dengan orang-orang di sekitar mereka.

“Ka-kau…kuat mengangkat dua buah dus besar ini? I-isinya peralatan lab. IPA yang tidak ringan lho. Tapi kau mengangkatnya hanya dengan satu tangan?” kata lelaki itu gemetar. Marcus tertegun. Dia tidak sadar telah menggunakan kekuatan iblisnya.

“Well…rasanya kardus-kardus ini tidak terlalu berat. Kau juga bisa mengangkat dua buah kardus ini dengan kedua tanganmu, kan? Kalau begitu aku juga bisa mengangkat satu kardus dengan satu tangan. Benar?” Marcus beralasan. Lelaki itu masih terdiam. Dia tampak heran.

“Oh, Marcus! Ayo cepat masuk kelas nanti terlambat!” Sunghee mencoba mengalihkan perhatian lelaki itu.

“Oke,” sahut Marcus. Dia pun kembali berjalan di sisi Sunghee.

Di belakang mereka, lelaki itu masih menunduk. Perlahan kepalanya menoleh ke arah Marcus dan Sunghee pergi. Sebuah senyum magis terukir di bibirnya.

= = =

Istirahat makan siang, Marcus dan Sunghee memutuskan untuk memakan bekal di kelas. Sebenarnya Marcus tidak makan, dia hanya menemani Sunghee yang menghabiskan sandwich-nya. Di luar, Jeremy – yang kini berwujud kucing hitam – mengawasi sambil bersantai di dahan pohon yang kokoh. Ekornya bergerak-gerak. Jeremy menguap. Matanya tampak mengantuk.

Sunghee menatap Jeremy terpana. Dia sangat suka kucing. Jadi dia pikir Jeremy saat itu sangat lucu.

“Jeremy!! Cute…” gumam Sunghee. Marcus menghela napas.

“Lady, daripada kamu menonton stupid Jeremy-mu itu, kenapa kau tidak cepat-cepat menghabiskan sandwich-mu saja? Istirahat selesai sebentar lagi lho,” ujar Marcus malas. Sunghee tiba-tiba tersadar.

“Ah! Danke (terima kasih), Marcus! Aku sampai lupa menggigit sandwich-ku lagi. Hehehe..Jeremy dalam bentuk kucing benar-benar cute!”

“Terserah..” Marcus menarik napas panjang dan menopang dagunya dengan satu tangan. Matanya menatap keluar jendela.

“Oh? Itu bukannya cowok yang bawa kardus-kardus besar tadi pagi?” kata Marcus.

“He? Mana?” Sunghee melihat ke arah yang dilihat Marcus. “Oh benar. Jadi dia penjaga sekolah kita yang baru?” Sunghee menutup kotak bekalnya dan melap mulutnya dengan sapu tangan. Di luar, mata Jeremy yang tadi tertutup kini terbuka lebar. Ia langsung melihat ke arah penjaga sekolah itu.

Penjaga sekolah itu sedang membawa kardus-kardus lagi dan menyimpannya di gudang sekolah yang sudah lama tidak terpakai. Marcus, Jeremy, dan Sunghee memperhatikan setiap gerak-geriknya.

“Sebenarnya…apa isi kardus itu?” Marcus penasaran.

“Bukannya peralatan laboratorium?” Sunghee menjawab tanpa menoleh.

“Aku kurang yakin. Saat aku menangkap kardus-kardus itu tadi pagi, tidak ada suara apapun dari dalam kardus. Maksudku, suara beling bersentuhan.”

“Lagipula bagaimana caranya mengangkat dua buah kardus besar dengan badan semungil itu?” Suara Jeremy terdengar.

“Benar juga…” Marcus dan Sunghee berkata bersamaan. Sedetik kemudian mereka tersadar.

“Jeremy?!” seru Sunghee. Marcus sendiri hanya menatap Jeremy tanpa ekspresi.

“Kenapa kau tiba-tiba ada di sini? Tadi kau sedang bersantai di pohon itu kan…” Sunghee nampak terkejut. Marcus meliriknya bosan.

“Apa kau lupa kalau peliharaanmu ini bisa berubah wujud jadi apa saja?” ujar Marcus lagi-lagi dengan malas.

“Aku merubah diriku menjadi kupu-kupu dan terbang kemari.” Jeremy mengangkat bahu. Sunghee mengangguk-angguk. Mereka bertiga lalu focus pada penjaga sekolah yang sedang mengunci pintu gudang.

“Aku penasaran apa yang dia simpan di kardus itu..” gumam Marcus.

“Kalau begitu..” Saat Jeremy sedang berbicara, tiba-tiba bel masuk berbunyi. Jeremy mengeluh dan segera merubah dirinya menjadi kupu-kupu dan terbang keluar kelas.

“Bye-bye, Jeremy! Hehehehehe..” Marcus terkekeh sadis. Sunghee menatapnya tajam.

= = =

Bel pulang sekolah berbunyi. Marcus langsung beranjak berdiri setelah selesai memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.

“Lady, aku harus pergi ke ruang guru sekarang. Katanya ada seseorang yang ingin bertemu denganku.”

“Oh, oke. Aku tunggu di halaman belakang sekolah.”

“Baik.” Marcus menyambar tasnya dan berjalan keluar kelas. Sunghee yang sudah selesai dengan barang-barangnya pun menyusul anak-anak lain yang sudah keluar kelas terlebih dahulu. Seperti biasa, Sunghee berjalan menunduk dan tergesa-gesa. Hanya disamping Marcus dia bisa mengatasi rasa sesaknya. Tetapi jika Marcus tidak ada, wangi tubuh manusia-manusia itu semakin menyengat.

“Ka..kacamata…kacatamaku..” Sunghee menghentikan langkahnya. Sekitar 3 meter di depannya, penjaga sekolah baru itu sedang berlutut di lantai, tangannya menggapai-gapai kacamatanya yang berjarak satu meter darinya. Sunghee mengangkat kedua alisnya dan mengambil kaca mata tersebut. Dia lalu memberikannya pada penjaga sekolah itu.

“Ah, terima kasih..” Penjaga sekolah itu segera memakai kacamatanya kembali. Dia lalu mendongak, menatap Sunghee yang berlutut di hadapannya.

“Eh? Kau yang tadi pagi?” katanya. Sunghee mengangguk. Dalam hati dia bingung. Dia tidak mencium wangi apa-apa dari tubuh lelaki di hadapannya ini.

“Maaf ya..aku hampir menabrakmu. Kardus-kardus itu besarnya melebihi besar tubuhku sepertinya. Aku jadi tidak bisa melihat ke depan dengan baik.”

“Oh..” gumam Sunghee.

“Ngomong-ngomong, namaku Nathan Kim. Aku baru direkrut menjadi penjaga sekolah kemarin.” Nathan tersenyum.

“Namaku Lee Sunghee. Tapi orang-orang di sini biasa memanggilku Autumn Reinhart.”

“Ah, begitu, Frau Lee? Seperti namaku, aku campuran Inggris-Korea, jadi tidak apa-apa kan kalau aku memanggilmu Sunghee-ssi? Sudah lama aku tidak memanggil seseorang dengan panggilan itu.”

“Boleh saja.” Sunghee bangkit berdiri. Nathan tersenyum magis dan bangkit berdiri juga.

“Hmm…tampaknya kau masih muda, Herr Kim. Kenapa kau menjadi penjaga sekolah?”

“Ah, panggil saja aku Nathan. Seperti katamu, aku masih muda. Umurku baru 21.” Nathan tersenyum ramah. Sunghee masih diam. Pandangannya menilai lelaki itu. Tubuhnya agak pendek. Rambutnya pendek dan rapi. Warnanya cokelat kehitaman. Kulitnya seputih salju, bersih pula. seperti kulit bayi. Pakaiannya juga rapi dan bersih. Apalagi kacamata yang bertengger di hidungnya malah membuatnya tampak lebih tampan. Orang ini tidak cocok jadi penjaga sekolah yang biasanya sudah berumur 30 tahun ke atas.

“Sunghee-ssi?”

“Ya?” Sunghee terkejut. Segera saja ia memfokuskan tatapannya pada mata Nathan.

“Kau ingin tahu kenapa aku menjadi penjaga sekolah?” Ah, ya. Sunghee menilai suara lelaki ini juga lembut dan merdu.

“Ya..”

Nathan tersenyum. Lalu dia berkata, “Aku tidak keberatan untuk memberitahumu. Tapi…apa kita bisa bicara di tempat yang lebih nyaman?”

“Hm. Dimana?”

“Aku tahu tempat bagus. Ayo.” Nathan mengedikkan kepalanya. Sunghee mengangguk. Ini kesempatan untuk mencari isi kardus itu juga.

Sekilas, Sunghee melihat keluar jendela. Ia mencari-cari keberadaan Jeremy. Sunghee agak sedikit panik ketika ia tidak melihat Jeremy dimanapun, dalam bentuk apapun. Sunghee tahu ciri Jeremy. Luka vertikal. Tapi sedari tadi tidak ada hewan yang mempunyai luka vertikal itu. Jadi dimana Jeremy?

“Ayo, Sunghee-ssi. Kau sedang menunggu apa?” Nathan berbalik. Sunghee tersadar dan cepat mengangguk. Dia lalu mensejajarkan langkahnya dengan Nathan.

Sementara itu, Marcus..

“Halo? Ada orang?” Marcus mengetuk pintu ruang guru. “Haloooo?”

“Lama tak berjumpa, Marcus Cho.” Sebuah suara tenor menyambutnya. Marcus melirik ke sumber suara.

“Ah, kau..” Marcus tampak mengenali lelaki itu.

“Ahahahahahaha! Kau masih ingat denganku rupanya, Marcus!”

“Siapa ya?”

“Ha…?” Mulut lelaki itu terbuka, tapi tak ada sepatah katapun yang keluar. Saking syoknya.

“Ehm…aku pernah melihat tipe wajah seperti ini di suatu tempat…tapi…dimana ya?” Marcus tampak seperti sedang berpikir. Matanya serius menatap ke dinding di sampingnya. Tangan kanannya mengusap-usap dagunya sedangkan tangan kiri menopang tangan kanan. Seakan-akan dia sedang berpikir tentang solusi mengenai suatu masalah.

“Hey, Marcus, kita ini kan teman seperjuangan. Masa kau melupakanku begitu saja?” Lelaki itu tampak frustrasi menghadapi Marcus. “Aku ini…”

“Casey Walcott!” seru Marcus tiba-tiba. Lelaki bernama Casey itu menghela napas.

“Sudah kuduga kau akan ingat! Siapapun akan mengingatku! Hohohoohoho! Ooohohohohoho!”

“Tapi..kenapa kau di sini? Memakai seragam pula..”

“Kau tidak tahu? Aku pindah kemari mulai hari ini!”

“Kenapa?”

“Masih tanya kenapa..” Casey menepuk keningnya dengan telapak tangan. “Tentu saja untuk balas dendam padamu!”

“Balas dendam? Kupikir kau teman lama.” Marcus mengangkat bahunya tidak peduli. Casey menggertakkan giginya kesal.

“Kau lupa telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupmu padaku?”

“Apa?” balas Marcus malas.

“Kau…mengalahkanku dalam game yang disebut PS di dunia manusia ini!”

“Haa..? Jadi hanya karena itu? Benar-benar tidak masuk akal.”

“Masuk akal! Kau tahu? Aku tidak pernah terkalahkan oleh siapapun…”

“Kalau begitu sekali-kali cobalah kalah. Menambah pengalaman kok.” Marcus melengos dan berjalan menjauh. Casey tertegun.

“You idiot! Awas kau, Marcus! Aku akan membalas dendam!” Casey menundukkan kepalanya. Mata merahnya menyala.

“Bukan karena game. Tapi karena…kau membunuh adikku.”

= = =

Sunghee meniup-niup teh panas-nya sambil serius mendengarkan Nathan bercerita. Cowok itu mengajaknya makan di restauran Korea yang berada di pinggir kota. Sunghee baru tahu kalau ada restauran Korea di sekitar situ. Padahal jika ia ingin mengunjungi pamannya, ia selalu lewat jalan itu.

Nathan sudah bercerita kenapa dia memilih menjadi penjaga sekolah. Itu karena ia diusir dari rumah dan tidak membawa apa-apa dari rumahnya. Uang pun tidak diberi. Jadilah ia berjalan ke daerah sini dan melamar pekerjaan menjadi penjaga sekolah. Kebetulan ia sempat bertemu dengan sang kepala sekolah, saat ia masih menjadi anak bangsawan.

Anak bangsawan. Pantas saja penampilannya level atas.

“Aku menyewa rumah di daerah timur sana. Lumayan, harga sewanya tidak terlalu mahal. Jaraknya juga tidak terlalu jauh dengan sekolah.”

“Kalau aku boleh tahu…sampai jam berapa kamu di sekolah?” tanya Sunghee sambil mengaduk jjajangmyun-nya.

“Jam 9 malam sekolah dikunci. Tapi kadang aku menginap di sekolah.”

“Begitu..” Sunghee mengangguk-angguk.

“Oh ya, kau suka boneka, Sunghee?” tanya Nathan. Sunghee berpikir sejenak.

“Tergantung boneka apa sih.”

“Aku ingin memberimu sebuah boneka yang cantik. Ada di rumahku. Boneka itu kubeli saat aku masih menjadi anak bangsawan. Bonekanya jarang ada yang jual, waktu aku membelinya juga hanya ada satu di toko itu. Jadi ini boneka yang spesial.”

“Lalu kenapa kau ingin memberikannya padaku?”

“Sebagai permintaan maaf. Atau…hadiah ucapan terima kasih? Kau tahu, semenjak aku bekerja di Neumann High School, tak ada murid yang mau bicara padaku. Aku berterima kasih kau mau menjadi teman bicaraku.”

“Sama-sama. Tapi…rasanya aku tidak pantas menerima boneka itu..”

“Tidak apa-apa. Boneka spesial cocok untuk orang spesial, bukan?” Nathan tersenyum. Sunghee hanya diam. Dia lalu mengangguk.

“Besok aku bawa bonekanya ya. Kau mau menunggu di dekat gudang sekolah?”

“Boleh saja. Tapi kenapa harus di gudang?” Dalam hati Sunghee bertekad untuk mencari tahu lebih lanjut tentang kardus dan gudang itu.

Kantor-ku kan di sana.” Nathan tersenyum miris.

“Tapi kulihat kemarin kamu meletakkan kardus-kardus besar itu di gudang?”

“Yap. Kantorku ada di gudang, Sunghee.”

“Kalau boleh tahu, kenapa peralatan laboratoriumnya disimpan di gudang? Bukankah maish digunakan?”

“Herr Koch membeli peralatan baru. Yang lama akan diberikan ke sekolah lain yang membutuhkan. Dia menyuruhku untuk memasukkannya ke kardus dan menyimpannya di gudang sampai orang yang mengambilnya datang.”

“Oooh…” Sunghee mengangguk-angguk, tapi dalam hati ia tidak percaya akan perkataan Nathan.

“Sepertinya sudah sore. Kau pulang dengan siapa?” tanya Nathan.

“Aku dijemput teman.” Sunghee tersenyum. Nathan mengangguk paham.

“Baiklah. Aku harus kembali ke rumah. Istirahat untuk besok bekerja lagi.”

“Silakan.”

“Kau mau menunggu di sini?”

“Ya.”

“Aku tidak tega…aku tunggu sampai temanmu jemput saja ya.”

“Eh…tidak usah..” Sunghee menolak dengan halus.

“Yakin?”

“Iya. Aku tidak apa-apa.”

“Maaf ya, aku pulang duluan. Hati-hati. Kalau ada apa-apa panggil aku. Punya nomorku, kan?”

“Iya. Terima kasih.” Nathan menatap gadis itu dengan tatapan khawatir.

“Aku serius tidak apa-apa, Nathan. Kau duluan saja. Aku masih ingin membeli makanan untuk orang rumah, kok.”

“Baiklah. Hati-hati ya. Besok jangan lupa.”

“Oke!”

Nathan pun pergi meninggalkan restaurant. Di luar restauran, Sunghee melihat seekor kupu-kupu hitam yang berubah menjadi Jeremy. Cowok itu membuka pintu restauran dan menghampiri Sunghee. Gadis itu menghela napas lega.

“Kenapa berubah di depan pintu? Kalau ada yang lihat bagaimana?” bisik Sunghee agak khawatir.

“Gak ada orang. Gak masalah.”

“Hah…tadi kamu kemana? Aku cari di sekolah tidak ada.”

“Aku mengikuti Marcus.”

“Kenapa?”

“Yang Marcus temui tadi bukan manusia.”

“Apa?” Sunghee menganga.

“Dia…” Jeremy mendekatkan wajahnya ke telinga Sunghee. “iblis.”

“Sama seperti Marcus?”

“Ya.”

“Kalau begitu ada penyihir lain di sekolah kita?”

“Aku tidak terlalu yakin soal itu. Tapi sepertinya memang ada.”

“Begitu..”

“Ngomong-ngomong, kenapa kamu bersama Nathan?”

“Aku mencoba mencari tahu tentang gudang dan kardus-kardus itu. Ada yang mencurigakan darinya.”

“Apa?” Jeremy penasaran. Sunghee memajukan tubuhnya. Dia lalu melirik kanan dan kiri.

“Aku tidak mencium wangi apapun dari tubuhnya. Dia juga bilang dia diusir dari rumah tanpa perbekalan apapun dan berjalan ke daerah sini. Kau tahu orang tuanya bangsawan dimana?”

“Dimana?”

“Swiss.” Sunghee berbisik. Jeremy membelalakkan matanya.

“Dia memang tidak menyebutkan negara itu, tapi dari nama perusahaan milik keluarganya, itu memang perusahaan di Swiss.”

“Aku juga merasa kalau dia bukan manusia…” Jeremy melirik ke arah Nathan pergi tadi.

“Oh, Jeremy, kau selalu ada di sisiku, kan?” tanya Sunghee tiba-tiba. Jeremy menatapnya heran.

“Iya. Lalu?”

“Besok kau bisa menyamar dan menemaniku ke gudang sekolah? Tapi diam-diam.”

“Memang ada apa? Nathan?”

“Ya. Dia mau memberiku sebuah boneka.”

“Boneka?” Jeremy mengerutkan kening.

“Katanya boneka itu boneka spesial, untuk orang yang spesial.”

“Kau mengerti apa maksudnya?”

“Eh?”

“Dia tahu kau bukan manusia biasa.”

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Tolak.”

“Tapi aku tidak punya alasan untuk menolaknya!”

“Saat kau melihat bonekanya, bilang saja kau sudah punya. Tadi malam seseorang membelikannya untukmu atau apa terserah. Pokoknya tolak, Sunghee!”

“Oh..oke. Ngomong-ngomong, kau tahu dimana Marcus?”

“Pulang duluan. Tadi dia berjalan denganku kemari. Katanya dia ingin istirahat.”

“…” Sunghee hanya diam. Dia masih penasaran apa isi kardus-kardus itu.

= = =

Keesokan harinya, Sunghee menunggu di gedung sekolah. Jeremy merubah dirinya menjadi kucing hitam dan bersembunyi di pohon. Marcus yang baru tahu permasalahannya tadi malam pun mengawasi dari kelas.

“Oh, Sunghee kau datang!” Nathan berseru sambil melambaikan tangannya. Sunghee balas melambai sambil tersenyum.

“Sudah lama menunggu?” tanya Nathan. Tangan kanannya menjinjing sebuah kantung karton.

“Tidak. Aku baru sampai.”

“Baguslah. Ini, bonekanya!” Nathan tersenyum riang dan menyodorkan kantung itu. Jeremy dan Marcus bersiap kalau-kalau isinya berbahaya.

Sunghee menerimanya dan membuka kantungnya. Dia tertegun. Isinya boneka yang cantik sekali. Rambutnya pirang bergelombang. Ia memakai dress merah yang cocok untuk tubuhnya. Sedetik Sunghee merasa boneka itu cantik sekali. Tapi dia ingat dia harus menolak boneka itu.

“Nathan, maaf…semalam ayahku membawakanku boneka seperti ini. Sama persis…maaf ya..aku..tidak bisa menerimanya.

“Eh?” Raut wajah Nathan berubah sedih. “Sudah ada ya..”

“Iya. Maaf ya.” Sunghee membungkuk dalam. Dia tidak menyadari Nathan menyembunyikan senyumnya.

“Ya sudah, tidak apa-apa.” Nathan tersenyum. Sunghee merasa bersalah. Tapi tiba-tiba dia menyadari sesuatu.

“Nathan, kau tidak memakai kacamata?”

“Hari ini aku pakai kontak lens. Hadiah boss. Dia tahu kacamataku sering dicuri, jadi dia menyarankan aku pakai kontak lens saja.” Nathan tersenyum lembut. Sunghee mengamati mata cowok itu. Dia yakin hijaunya bukan dari soft lens. Tapi memang mata aslinya.

“Kalau begitu aku pulang dulu ya, Nathan. Sekali lagi maaf ya..”

“Tidak apa-apa, Sunghee. Tidak masalah.”

“Baik, aku pulang ya. Bye!”

“Bye-bye!” Nathan melambaikan tangannya.

.

“Bonekanya agak menyeramkan kalau kataku,” komentar Jeremy.

“Aku tidak merasa boneka itu menakutkan. Bonekanya cantik dan lucu.”

“Huahm..” Marcus menguap. Sunghee meliriknya. Dia ingin bertanya tentang kemarin tapi ditahannya. Kelihatannya mood Marcus sedang tidak terlalu bagus.

Sampai di rumah, beberapa pelayan menyambut mereka. Mereka langsung berjalan ke lantai dua, tempat kamar mereka berada. Marcus lebih dulu ke kamarnya, karena memang letaknya paling dekat dengan tangga. Lalu Jeremy memasuki kamarnya juga. Kamar Sunghee di ujung. Kamar paling besar.

Gadis itu membuka pintu kamarnya dan tertegun. Sebuah boneka dengan rambut pirang bergelombang dan dress merah terduduk di atas tempat tidurnya. Matanya menatap Sunghee tanpa nyawa. Sunghee masih terdiam di ambang pintu. Dia masih syok.

Tiba-tiba mata boneka itu berkedip. Sunghee membelalakkan matanya. Mulut boneka itu terbuka, dan keluar suara,

“Gadis pembohong.”

“AAAAA!!!!”

To be continued

15 thoughts on “[FF] Fallen for a Witch PART 2

  1. amitokugawa says:

    oh noooo!!! apakah yang akan terjadi pada sunghee???
    aku jadi ingat yukan club eps brp ya? pokoknya pake boneka juga, serem..hiyyy

    btw, adegan yang paling aku suka tuh ini
    Di belakang mereka, lelaki itu masih menunduk. Perlahan kepalanya menoleh ke arah Marcus dan Sunghee pergi. Sebuah senyum magis terukir di bibirnya.

    haha, gatau kenapa, aku suka aja liat org senyum misterius, magis, atau senyum jahatlah pokoknya

    trus ada yang salah ketik kayaknya
    “Namaku Lee Sunghee. Tapi orang-orang di sini biasa memanggilku Autumn Reinhart.”
    “Ah, begitu, Herr Lee?
    seharusnya kan Frau..hehe

    aku udah nunggu2 ff ini lho, akhirnya nongol juga
    fighting buat lanjutannya

    • sungheedaebak says:

      yukan club itu apa? aku taunya Zuka Club yg di Ouran High School Host Club #ganyambung

      hehe sama aku juga suka gitu klo di film ada adegan begitu

      aaaahh iya salah ketik! aku ga konsen nih ngetiknya. ehehe…udah kuganti kok. makasih koreksinya ya, unnie!

      lanjutannya doain cpet oke😉

      • amitokugawa says:

        yukan club itu manga, cuma aku nonton doramanya
        ceritanya ttg 6 anak SMA yang ‘kurang kerjaan’ tapi sering nolong orang gitu, pas eps itu salah seorang tokohnya disukai nenek2 gara2 mirip sama mendiang suaminya, awalnya dia ga suka sama tuh nenek, eh ternyata mereka saling mencintai, tapi si nenek udah meninggal duluan. nah, waktu masi hidup, si nenek pernah mamerin koleksi bonekanya, dan ada satu boneka yang menghantui si tokoh gitu, sampe temen2 se-clubnya juga kena…

        ouran high school host club seru ga? aku baru baca sinopsisnya di wikipedia sih..hhehe

        yap, sama2…
        amin, semoga lanjutannya cepet dipublish..

      • sungheedaebak says:

        ih kayaknya seru deh…pengen nonton doramanya

        ih seru banget!! ngakak guling-guling tau nontonnya! hahahahahaha

        sbnernya ini boneka idenya dari lagu Jonathan Coulton yg Creepy Doll. serem banget. makanya aku mau masukin ke FF, tapi pake credit ke Jonathan Coulton hehehe

  2. amitokugawa says:

    iya, seru bgt tapi punyaku belum lengkap, jd gantung2 gitu
    genrenya campur2, ada mystery, horror, romance, friendship..lengkap!

    wah, jd pengen baca ouran deh, tapi pas liburan kayaknya

    oh, itu dari lagu? lagunya tentang apa?

  3. vidiaf says:

    waaa sunbae, rame~ makin suka..
    bodor pas marcus ketemu casey :))
    pas banget lah aku bacanya sambil denger lagu swan lake, jadi rasanya kayak gimanaaaa gitu (?)

  4. Lena says:

    itu boneka apa? boneka susan(?) haha
    lanjut ke part3 ajadeh. dah :-h *komen nya gaje banget ya? XD*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s