[FF] Fallen for a Witch Part 1

Casts: Lee Hyukjae, Lee Sunghee, oc.

Genre: Romance, Fantasy

Rating: T

= = =

Hari pertama tahun ajaran baru untuk sekolah Neumann High School. Lee Sunghee menelan ludahnya. Ini bukan pertama kalinya ia pindah sekolah pada tahun kedua. Tapi, ini pertama kalinya ia pindah sekolah ke luar negeri. Tepatnya di Jerman.

Cewek itu melihat sekeliling. Tidak ada orang yang satu bangsa dengannya. Dia lalu memfokuskan pandangan ke gedung yang berdiri dengan kokoh di hadapannya. Ia maju satu langkah. Lalu dengan ragu ia menambah langkahnya itu. Sampai ia memasuki gerbang, ia berjalan dengan cepat sambil menghindari tatapan orang-orang di sekitarnya. Orang Jerman memang ramah. Tapi, dia saja yang kurang bisa bergaul dengan baik. Meskipun ia menguasai bahasa Jerman.

Saat sedang berjalan tergesa sambil menunduk, tiba-tiba dia menabrak seseorang. Sunghee terkejut. Orang itu terjatuh dari skateboardnya. Ah, benar. Dia sedang menaiki sebuah skateboard saat bertabrakan dengan Sunghee.

“So…sorry…ich meinte nicht..” (Maaf, aku tidak bermaksud…)

“You’re Korean?” Ucapan lelaki yang terjatuh tadi memotong perkataan Sunghee. Gadis itu tertegun.

“Ye-yeah…and you are…?”

“Naneun hanguk saram imnida. (Aku orang Korea.)” Lelaki itu tersenyum, masih sambil terduduk di samping skateboardnya.

“Mi..mianhae…aku tadi tidak memperhatikan jalan…” Sunghee menunduk dalam.

“Kenapa jalan harus diperhatikan?” Cowok itu tersenyum dan mengangkat wajah Sunghee dengan mendongakkan dagunya. “Perhatikan aku saja.”

“Eh? Mak…maksudmu?” Sunghee terkejut dan segera menepis tangan Hyukjae. Gadis itu segera berdiri dengan napas terengah-engah.

“Hahaha…trik ini berhasil untuk gadis Korea juga…” gumam cowok itu sambil berdiri dan membersihkan celananya dari debu.

“Well…bersalaman dengan gadis cantik sepertimu menggunakan tangan kotor ini tidak pantas rasanya. Jadi kita berkenalan ala Korea saja. Annyeonghasaeyo, je irumun Lee Hyukjae imnida! Mannaseo bangapseumnida! (Hai, nama saya Lee Hyukjae. Senang bertemu denganmu.)” Lelaki yang bernama Lee Hyukjae itu tersenyum sambil membungkukkan badannya sedikit. Sunghee membalas dengan membungkuk 90 derajat.

“Hey, tidak usah membungkuk terlalu dalam..” Hyukjae menyentuh pundah Sunghee, maksudnya agar gadis itu menagakkan tubuhnya kembali. Tapi yang ada Sunghee malah berjengit dan mundur beberapa langkah. Hyukjae tertegun.

“Hey…aku tidak akan melukaimu. Kau pikir aku orang yang tidak baik?” Hyukjae merasa tersinggung dengan perlakuan gadis itu. Tapi dia sendiri merasa tertarik pada gadis yang menabraknya ini.

“Ma-maaf…aku…harus masuk kelas sekarang!” Sunghee berlari melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.

“Eh, tunggu! Aku belum tahu namamu! Hey!” Sunghee berusaha untuk tidak mempedulikan teriakan Hyukjae. Dia terus berlari.

Hyukjae tertegun di tempatnya berdiri. Pandangannya masih terpaku pada punggung gadis itu yang mulai menjauh. Dia terus begitu sampai tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundaknya.

“Hey, Spencer, kenapa kau? Jadi bolos nggak?”

“Oh, Hans…hahaha…kurasa aku ingin sekolah saja hari ini.” Hyukjae, yang bernama Inggris Spencer, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia terkekeh dan berjalan menuju pintu utama gedung Neumann High School. Hans termangu. Seorang murid laki-laki mendekatinya dengan heran juga.

“Ada apa dengannya? Sakit?” tanya anak laki-laki itu.

“Entahlah, Johnn. Kayaknya…dia demam. Aku belum sempat menyentuh keningnya.”

“Ya sudah. Kita saja yang membolos,” ujar Johnn enteng sambil berjalan menjauh.

“Tunggu! Aku punya firasat tidak enak. Kenapa kita tidak mencari tahu kenapa dia aneh hari ini?” usul Hans.

“Boleh juga. Untuk hari ini tak apalah..” Johnn mengangkat bahunya dan berjalan mengikuti Hans menuju kelas mereka.

= = =

Hyukjae’s POV

Gadis itu…siapa namanya? Aneh…saat bertabrakan dengannya tadi aku mencium wangi yang sangat menenangkan datang dari tubuhnya. Wanginya tidak seperti wangi parfum. Ah, ini seperti…sekelilingku yang wangi, bukan hanya tubuhnya. Apa ini? Sebenarnya siapa gadis itu?

Apa dia murid pindahan? Aku baru melihatnya sekarang. Harus kucari. Harus kucari gadis itu dan mendapatkan namanya!

= = =

Normal POV

Sunghee terengah-engah di depan ruang guru. Dia baru mengangkat tangannya untuk mengentuk pintu tapi seorang guru laki-laki sudah berdiri di hadapannya. Sunghee terlompat kaget dan mundur beberapa langkah. Guru laki-laki itu tertawa. Dia masih muda. Mungkin guru pengganti.

“Hahaha…aku mengagetkanmu ya? Maaf ya.” Guru itu terkekeh. Sunghee hanya menunduk.

“Kamu murid baru itu, kan? Yang dari Korea?” tanyanya. Sunghee mengangguk.

“Kenalkan, namaku Gerhard Friedrich. Aku guru olahraga di sini. Dan namamu..?”

“Nama asli saya Lee Sunghee, tapi semua memanggilku Autumn Reinhart.”

“Lee Sung…Sung apa?” Herr Friedrich terlihat kesulitan mengucapkan nama gadis itu.

“Sunghee. Tapi…panggil saja saya Autumn..”

“Baik, Autumn. Kelasmu ada di lantai 2. Kelas 2-1. Benar?” Sunghee mengangguk.

“Baiklah. Ayo, kuantar ke kelasmu.” Herr Friedrich menepuk pundak Sunghee. Gadis itu terkejut. Segera ia menepis tangan Herr Friedrich.

“Ma…maafkan aku!” Sunghee membungkuk dalam. “Aku…tidak suka..disentuh…” ucapnya tergagap.

Herr Gerhard mengerutkan alisnya heran. Tapi kemudian ia memasang tampang biasa kembali.

“Aku tidak akan bertanya kenapa. Ayo, pelajaran pertama sebentar lagi dimulai.” Herr Friedrich tersenyum. Sunghee mengangguk dan mulai berjalan di sisi Herr Friedrich. Selama perjalanan, Herr Friedrich terus bertanya tentang Sunghee. Dimana gadis itu tinggal, siapa orang tuanya, kenapa pindah ke Jerman, dan sebagainya. Sunghee lebih banyak diam. Tapi dia senang, Herr Friedrich tidak bertanya tentang sesuatu yang tidak bisa ia jawab.

“Nah, kita sudah sampai. Tunggu sebentar ya.” Herr Friedrich tersenyum dan melangkah masuk ke ruangan kelas. Sunghee terdiam di depan kelas. Dari luar sini dia bisa melihat Herr Friedrich sedang berbicara dengan guru yang sedang bersiap mengajar. Tak lama kemudian Herr Friedrich dan guru itu keluar lalu mengajak Sunghee masuk ke kelas.

“Sampai di sini tugasku, Autumn. Sampai ketemu nanti!” Herr Friedrich tersenyum dan melambaikan tangannya. Ia berbalik dan berjalan menjauh.

“Hai, Sunghee. Aku Ursula Wagner. Panggil aku Frau Wagner. Aku akan menjadi wali kelasmu selama satu tahun ke depan. Selamat datang di Neumann High School.” Guru perempuan muda itu menjabat tangan Sunghee.

“Ayo, masuk. Perkenalkan dirimu pada teman-teman barumu.” Sunghee melangkah masuk ke kelas dengan gemetar. Dia tidak biasa berbicara di depan orang banyak.

“Guten Morgen! (Selamat pagi) Nama asliku Lee Sunghee, nama lainku Autumn Reinhart. Kalian boleh memanggilku apa saja. Salam kenal..” Sunghee menarik napas panjang. Frau Wagner tersenyum. Dia lalu melihat ke sekeliling ruangan.

“Matamu minus, Frau Reinhart?”

“Tidak…”

“Hanya ada satu kursi kosong di paling belakang. Tidak apa-apa?”

“Tidak masalah.” Sunghee berusaha tersenyum. Frau Wagner mengangguk-angguk.

“Baik, kau bisa duduk di sebelah sana, Frau Reinhart, dan kita akan mulai pelajaran.” Sunghee mengangguk dan berjalan menuju bangkunya. Setiap pasang mata yang ada di kelas itu menatap ke arahnya. Ada yang menatapnya ramah, kagum karena kecantikannya, tidak suka, dan bahkan ada yang tanpa ekspresi. Dalam hati, Sunghee tersenyum. Manusia memang memiliki banyak ekspresi. Tapi dia tidak. Karena dia bukan manusia.

Di luar, awan gelap mulai menutupi langit yang tadinya cerah. Di atas pohon besar di samping patung pendiri sekolah ini, seekor gagak hitam menatap ke arah kelas Sunghee tajam.

= = =

“Hah…hah…hah…” Hyukjae mengatur napasnya sambil membungkuk memegangi lututnya. “Sialan…kenapa guru tidak pernah mengerti kebutuhan muridnya?” Hyukjae melihat ke belakang. Sepi. Sekarang sudah waktunya pelajaran namun dia masih mencari keberadaan gadis itu. Dia ingin tahu namanya, ingin tahu kelasnya dimana. Dia juga ingin tahu semuanya tentangnya. Semuanya.

“Gila.” Hyukjae memukul tembok di sampingnya. Dia lalu menegakkan tubuhnya. “Kenapa aku sebegitu ingin tahunya?” Hyukjae mendesah pelan. Dia lalu berjalan perlahan menuju kelasnya.

“Spencer Lee! Sedang apa kau di sini?! Pelajaran sudah dimulai sejak sepuluh menit yang lalu!” DEG. Hyukjae mendongak dan menatap siapa yang berbicara padanya.

“Ah…Herr Kaufmann, aku disuruh Frau Wagner untuk mengambil buku referensi di kantornya.” Hyukjae memamerkan senyum gusinya. Herr Kaufmann mengerutkan keningnya.

“Kelas berapa kamu?”

“3-5.”

“Kau tahu kalau saya hafal jadwal guru-guru di sekolah ini?”

“Ah, tentu saja, Herr Kaufmann. Semua orang tahu itu.”

“Jadi apa kau tahu kalau Frau Wagner sedang mengajar di kelas 2-1?”

“Eh?”

“Spencer! Ikut ke ruangan saya!” Herr Kaufmann langsung menarik kerah baju Hyukjae dan menyeretnya ke kantornya.

Dalam hati, Hyukjae menggerutu. Tadi dikejar-kejar Herr Koch. Sekarang diseret Herr Kaufmann. Lalu apa lagi?

“SPENCEEEEERRR!!!! Tumben kamu tidak membolos hari ini? Kesambet ya?” Dua suara yang sangat dikenal Hyukjae terdengar. Cowok itu terkejut dan menoleh ke belakang.

“Kalian…” Hyukjae mendesah pasrah. Hans dan Johnn berlari ke arahnya. Tapi mereka terdiam ketika Herr Kaufmann menatap ke arah mereka dengan tajam.

“Sepertinya..kau sedang sibuk, Spencer. Kita main lain kali ya!” Keduanya berbalik dan berlari menjauh.

“Hey, tunggu! Kalian!! HEY!!”

“Spencer! Berani berteriak di koridor! Minus 5 poin!”

“Apa?!” seru Spencer. “Tapi…”

“Kau ini! Seperti yang kudengar dari teman-temanmu, hari ini tumben kau tidak membolos. Sudah berapa hari kau membolos? Kau pasti menitip absen ya?”

“De-dengar dulu penjelasanku, Herr. Ah ah, sakit..” Hyukjae memegangi kerahnya.

“Kau bisa menjelaskan?”

“Tidak…”

“Hmh! Kau membuang waktuku yang berharga!” Herr Kaufmann menyeret Hyukjae. Cowok itu hanya bisa pasrah diseret wakil kepala sekolahnya.

Tapi tunggu dulu! Sejak kapan sekolah ini memakai sistem minus?!

Hyukjae melirik keluar jendela. Matanya terbelalak ketika ia melihat seekor gagak bertengger di ranting pohon dekat jendela. Sebuah luka vertikal melintasi mata kirinya yang berwarna abu. Sedangkan mata kanan gagak itu berwarna merah darah.

= = =

Bel istirahat berbunyi. Sunghee mengeluarkan kotak makanan dari tasnya sementara teman-temannya pergi ke kantin untuk mengisi perut. Ah, bukan teman. Sunghee tidak punya teman. Mereka hanya orang lain yang kebetulan sekelas dengannya.

Suara bangku diseret terdengar seiring seorang perempuan duduk di hadapannya.

“Kau bawa bekal dari rumah?” tanyanya, sambil mengerutkan kening. “Tidak mau mencoba makanan di kantin sekolah ini?”

“Aku tidak tahu apakah semua makanan di kantin bagus untukku atau tidak.” Sunghee berkata tanpa menatap wajah lawan bicaranya. Dia lalu membuka tutup kotaknya dan mulai menyantap makan siangnya.

“Ckckck…sepertinya kau ini tipe-tipe maniak yang penyendiri,” komentarnya.

“Maniak?” Sunghee akhirnya menengadah, menatap wajah gadis cantik di hadapannya.

“Hm. Maniak.” Gadis itu tersenyum.

“Maksudmu?”

“Perlu kamus? Kau tahu arti kata maniak, kan? Orang-orang yang masuk ke sekolah ini tidak bodoh, lho.” Gadis itu memiringkan kepalanya.

“Aku tahu, Gabrielle. Aku menolak makan di kantin karena aku alergi bawang.”

“Tapi…di setiap masakan nyaris ada bawangnya, kan? Lalu kau makan apa?”

“Kau bisa lihat.” Sunghee tersenyum magis. Gabrielle melihat ke kotak makanan Sunghee dan tertegun.

“Salad buah?”

“Hm. Menyehatkan.”

“Gadis ini…” Gabrielle menggelengkan kepalanya. “Eh, tapi kenapa kau tahu namaku?”

“Bukankah tadi Frau Wagner mengabsen kita?”

“Tapi kau langsung hafal?”

“Memoriku tergolong bagus lho, Elle.” Sunghee menopang dagunya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya menyendok salah buah. “Kau tidak makan?” Sunghee menyodorkan sendoknya. Elle memundurkan kepalanya.

“Tadinya aku mau mengajakmu ke kantin. Tapi, kelihatannya kamu sudah ada makanan. Aku tinggal ya. Aku mau makan di kantin.”

“Silahkan.” Sunghee tersenyum setengah. Elle bangkit berdiri dan berlalu keluar kelas. Sunghee mendengus. Dia lalu melihat keluar jendela.

“Sekolah itu membosankan. Bukan begitu, Jeremy?” Seekor gagak dengan luka di matanya mengangguk. Sunghee tersenyum.

= = =

Beberapa jam membosankan berlalu. Bel pulang akhirnya berbunyi. Sunghee membereskan alat sekolahnya dan beranjak berdiri. Dia melirik Elle di bangku depan. Gadis itu juga sedang menatap ke arahnya. Elle sadar Sunghee meliriknya dan segera berbalik. Dia membaur bersama teman-temannya yang lain.

Sunghee melangkah dalam diam. Dia menghela napas. Koridor dipenuhi oleh manusia-manusia yang hendak kembali ke rumahnya. Wangi tubuh mereka menyengat hidung Sunghee. Gadis itu menunduk dan berjalan cepat. Dia tidak mau mencium wangi ini lama-lama. Paru-parunya jadi sesak.

Saat sedang berjalan cepat, tiba-tiba langkahnya terhenti. Tubuhnya menabrak seseorang.

“Hey, hati-hati kalau melangkah!” protes cowok yang ditabraknya.

“Maafkan aku!” Sunghee menunduk dalam.

“Eh? Kamu…bukannya yang tadi pagi?”

“Eh?” Sunghee mendongak dan terkejut ketika Hyukjae tersenyum di hadapannya.

“Wah wah…kau hobi menabrakku rupanya. Hehehe..”

“Maaf, aku buru-buru.” Sunghee melangkah ke samping tapi tangan Hyukjae menahannya.

“Setidaknya beritahu namamu! Aku tidak mau ditabrak oleh orang yang tidak kukenal!”

“Apa maksudmu? Lepaskan aku!” Sunghee memberontak tapi cengkeraman tangan Hyukjae lebih kuat.

“Apa susahnya memberitahu namamu? Aku tidak akan berbuat jahat!”

“Aku tidak percaya! Manusia berbohong!”

“Memangnya kau bukan manusia?”

“BUKAN!!” Sunghee menjerit sambil melepaskan tangannya. Napasnya terengah-engah. Hyukjae tertegun.

“Aku ini…penyihir..” bisik Sunghee. Hyukjae mengangkat kedua alisnya.

“Kalau begitu aku manusia serigala. Kau gadis yang menarik. Hahaha…aku jadi semakin tertarik padamu.”

“Jangan pernah mendekatiku!” Sunghee mundur beberapa langkah sampai menabrak loker. Hyukjae mengerutkan kening.

“Kenapa? Takut pacarmu marah? Atau…”

“Pergi! Aku tidak ingin dekat-dekat denganmu!” Sunghee menjerit. Tubuhnya gemetar. Bukan apa-apa, wangi lelaki ini begitu menyengat. Dadanya pun berdetak lebih kencang jika ada lelaki ini di dekatnya. Sunghee tersiksa dengan itu semua.

“Tapi..”

“PERGI!!” Sunghee menjerit lagi. Hyukjae terpaku di tempatnya berdiri. Beberapa murid melirik ke arah mereka. Namun kemudian mereka tidak peduli dan kembali ke rutinitas mereka.

“Kau dengar dia, kan? Dia bilang pergi.” Sunghee dan Hyukjae melirik ke arah pemilik suara bariton itu.

“Jeremy…” bisik Sunghee. Jeremy melangkah ke arah mereka tanpa ekspresi. Dia lalu berdiri menghalangi tubuh Sunghee dari Hyukjae.

“Kau dengar dia kan, Lee Hyukjae?”

“Kau! Bagaimana kau tahu namaku? Siapa kamu?!”

“Apalah arti sebuah nama, Hyukjae.” Jeremy tersenyum setengah. Mata kanannya – karena mata kirinya tertutupi rambut depannya – menyorot tajam ke arah Hyukjae. Hyukjae terkesiap.

“Baik. Lalu kau siapanya gadis ini?” Hyukjae mendengus. Matanya menyorot tak kalah tajam dari Jeremy.

“Aku? Hm. Aku hanya peliharaannya.” Jeremy mengalihkan tatapannya pada Sunghee. “Kau tidak apa-apa? Apa cowok vulgar ini menyakitimu?”

“VULGAR?! Siapa yang kau bilang vulgar, hah?!” seru Hyukjae.

“Jangan dipikirkan. Apalah arti sebuah kata.” Jeremy tersenyum dan menggandeng Sunghee pergi. Sekilas, gadis itu menatap Hyukjae. Hyukjae tertegun. Tatapannya…sulit diartikan.

“Jeremy?” lirih Sunghee.

“Yes?”

“Terima kasih…”

“Sudah tugasku untuk melindungi majikanku.”

“Hm..”

“Ngomong-ngomong, aku lapar, Nona.” Jeremy berucap perlahan. Sunghee mengulum senyumnya.

“Sampai di rumah, kita makan ya!” Sunghee tersenyum manis. Jeremy ikut tersenyum. Hanya pada Jeremy Sunghee bisa tersenyum semanis itu. Karena memang Jeremy-lah yang selalu ada di sisinya sejak ia menjadi penyihir.  Jeremy sendiri bukan manusia. Ia adalah vampir, tapi ia bisa berubah menjadi binatang yang ia mau.

= = =

Hyukjae masih terdiam di koridor yang mulai sepi. Dia masih tertegun dengan kejadian tadi. Gadis manis berambut perak dan seorang lelaki misterius dengan rambut menutupi mata kiri. Cowok itu bilang dia peliharaan gadis itu. Tapi, mana mungkin? Apa dia budak atau semacamnya? Tapi kelihatannya tidak. Sorot mata gadis itu berbeda.

Hyukjae merasakan panas di hatinya. Sebersit rasa cemburu muncul. Meskipun ia sudah mendapatkan larangan dari gadis itu untuk mendekatinya, ia tidak akan menyerah begitu saja. Toh, selama ini Hyukjae memang sering melanggar aturan. Tidak mengabaikan larangan.

Suara langkah kaki membuat Hyukjae sadar dari pikirannya. Dia menoleh ke arah suara. Seorang gadis berkucir kuda menatapnya heran.

“Kau ini…Spencer dari kelas 3-5 itu, kan?” sapanya. Hyukjae mengangguk. Gadis itu tersenyum.

“Jadi ini si pembuat onar sekolah. Padahal kau orang luar ya. Tapi kau seenaknya saja membuat masalah di sekolah ini.” Hyukjae terkejut mendengarnya. Dia lalu bersidekap dan menatap gadis itu tajam.

“Siapa namamu, hah?”

“Apalah arti sebuah nama? Hihi.” Gadis itu terkikik. Mata Hyukjae membelalak.

“Kau…kenal gadis berambut perak? Rambutnya diikat dua. Anaknya manis. Orang Korea.”

“Sepertinya kau menyebutkan ciri-ciri Lee Sunghee…”

“Namanya Lee Sunghee?” Hyukjae terlihat antusias. Gadis itu mengangkat bahu.

“Aku kurang yakin yang kau maksud siapa. Tapi orang yang kukenal, yang memiliki ciri-ciri yang kau sebutkan itu Lee Sunghee.”

“Baiklah! Siapa namamu?” Kali ini Hyukjae bertanya dengan senyuman lebar. Gadis itu memiringkan kepalanya. Tatapannya mengejek.

“Gabrielle Brunnswick. Kenapa?”

“Terima kasih banyak, Brunnswick! Kutraktir kamu besok saat istirahat ya!” Hyukjae memeluk Gabrielle singkat sebelum berlari keluar sekolah. Gabrielle tertegun di tempatnya.

“Kenapa dengan cowok itu?” Gabrielle menghela napas. “Kudengar dia pelit? Jangan-jangan pembohong juga.”

“Ah, tunggu! Lady Brunnswick!” Hyukjae berlari masuk ke koridor lagi. Elle mengerutkan keningnya. Lady?

“Kamu…kamu anak kepala sekolah, kan?” Mata Hyukjae berbinar-binar. Elle memiringkan kepala.

“Lalu?”

“Kepala sekolah…tahu data muridnya, kan?”

“Em…mungkin..” Elle meletakkan telunjuknya di bibir. Matanya menatap langit-langit.

“Kau tahu rumah Lee Sunghee?”

“Tidak.” Elle menggeleng.

“Kalau begitu…” Hyukjae menggenggam kedua tangan Elle erat. Elle terkejut. Wajahnya merona merah.

“Antarkan aku ke ruang kepala sekolah! Aku ingin tahu dimana rumah Lee Sunghee!” Mata Hyukjae kembali berbinar penuh harap. Elle membelalakkan matanya.

“Satu syarat!” ujarnya.

“Apa?”

“Panggil aku Elle.”

“Terima kasih, Elle!!! Aku akan mentraktirmu dobel besok! Aku suka kamu!” Hyukjae memeluk Elle erat.

“Hei hei…hentikan…” gumam Elle. Hyukjae melepaskan pelukannya dan tersenyum.

.

.

“Ayah biasa menyimpan berkasnya di brankas ini.” Elle menunjuk sebuah brankas yang menempel di dinding. Hyukjae menghela napas.

“Lalu bagaimana kita membukanya?”

“Aku anak kepala sekolah, lho.” Elle memasukkan kode brankas itu lalu membuka pintunya. Terlihatlah map-map dengan bermacam warna. Hyukjae terpana.

“Elle…aku tidak tahu harus membalas jasamu dengan apa lagi…”

“Ini belum semua lho, Spencer. Aku tidak ingat yang mana berkas Lee Sunghee…” Elle mulai memilah-milah map yang ada. “Kalau aku tidak salah…kelas 2 itu.. mapnya warna merah. Nah!” Elle menarik sebuah amplop besar berwarna merah. Hyukjae diam memperhatikan.

“Kelas 2-1 pasti disimpan di depan. Ini dia!” Elle menarik sebuah amplop bening. Di sana terlihat data murid-murid kelas 2-1. Elle mulai mencari yang mana data Lee Sunghee. Setelah menemukannya, Elle menarik selembar kertas itu dan membacanya.

“Eh?” Hyukjae dan Elle terkejut. Di sana tidak ada alamat rumah Lee Sunghee. Begitupun nama orang tuanya.

“Kenapa…tidak ada datanya?” Hyukjae dan Elle berpandangan heran.

“Ini aneh..”

= = =

“Je-Jeremy!” Sunghee memekik kaget ketika Jeremy menjatuhkannya ke tempat tidur. Jeremy menghela napas.

“Apa? Aku lapar…”

“Persediaan darahku sudah habis?”

“Hm.” Jeremy menganggukkan kepalanya. “Lagipula makan dari kantung darah itu tidak enak. Aku lebih suka dari tubuhnya langsung..” Jeremy mendekatkan wajahnya ke leher Sunghee. Gadis itu menarik napas.

“Bolehkah…?” tanya Jeremy. Sunghee mengangguk.

“Ini mungkin akan terasa sakit sedikit…” Jeremy menjilat leher Sunghee. Gadis itu memejamkan matanya.

“Aku…tidak akan berubah menjadi sepertimu, kan? Kau tahu…ini pertama kalinya kau meminum langsung darahku..”

“Tidak akan. Penyihir tidak akan menjadi vampir. Lagipula, aku adalah peliharaanmu.”

“Baiklah…”

“Aku mulai…” Jeremy membuka mulutnya dan dua pasang taring yang tajam terlihat. Sunghee memejamkan matanya rapat-rapat. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit.

“Nah…tahan sedikit, Nona…”

“Ah!!” Sunghee memekik ketika Jeremy menggigit lehernya dan meminum darahnya. Sunghee sampai lupa untuk bernapas. Sunghee merintih kesakitan. Dia meremas seprai tempat tidurnya untuk menahan sakit.

Tak lama kemudian Jeremy selesai. Sunghee menarik napas lega. Jeremy menatap Sunghee sedih.

“Maaf…sakit ya?” Jeremy mengusap air mata yang menuruni pipi Sunghee. Gadis itu menggenggam tangan Jeremy. Dia tersenyum.

“Tidak apa-apa. Sudah kewajibanku untuk memberi makan peliharaanku, bukan?” Jeremy tersenyum mendengarnya. Saat Jeremy hendak membersihkan darah yang masih mengalir dari leher Sunghee, pintu kamar diketuk.

“Masuk!” seru Jeremy. Sunghee membelalak.

“Hey, di saat seperti ini?” bisik Sunghee. Jeremy hanya menyeringai.

“Maaf mengganggu, ada tamu yang ingin bertemu dengan Nona.” Seorang pelayan membuka pintu dan menunduk.

“Siapa?” tanya Sunghee.

Suara langkah kaki mendekat. Sesosok pria tinggi tegap berdiri di ambang pintu. Sunghee terkesiap. Jeremy melirik cowok itu tidak niat.

“Sepertinya aku mengganggu aktifitas kalian berdua, Nona Sunghee, Jeremy.”

“Kau!” Sunghee terduduk kaget. Dagu Jeremy sampai terbentur kening Sunghee. Jeremy mengelus-elus dagunya kesal.

“Marcus Cho…” bisik Sunghee. Marcus tersenyum.

“Lama tak berjumpa, my fair lady.”

20 thoughts on “[FF] Fallen for a Witch Part 1

  1. amitokugawa says:

    wahhhh… asik asik, settingnya di Jerman
    my fair lady? jd marcus cho itu siapa?

    tapi setahuku biasanya panggilan ‘bapak/tuan’ di jerman itu Herr deh, jadi Herr Koch gitu, tp itu cuma saran aja
    pokoknya keren deh nis, ditunggu lanjutannya

  2. Lena says:

    ohini ff barunya? ko ga ngasih tau😦
    hihi ada vampirnya😀
    johnn,hans,elle tuh siapa?
    marcus tuh kyuhyun kan? #asbak

  3. sungheedaebak says:

    aku ngasih taunya di wall fb…hehehe maaf *bow
    mereka cuman pemain tambahan hehehe
    iya🙂
    maaf y lupa ngasih tau, klo part selanjutnya udah ada aku janji bakal ngasih tau kok

  4. vidiaf says:

    aaaa udah lama ga main ke sini ternyata ada FF baru u,u
    udah sampe part 4 pula…
    sunbae ninggalin jejak dulu gapapa kan? aku lagi sibuk nih u,u takutnya bacanya jadi ga konsen… gapapa kan? ._.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s