Mengejar Kematian

Bunyi “tik-tok-tik” jam dinding menemani kesunyian seorang pria. Dia menyulut rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam. Tak peduli paru-parunya protes, tak peduli batuk yang keluar dari mulutnya seolah itu adalah alarm dilarang merokok. Lelaki itu terus menghisap benda berbahan dasar tembakau yang dibungkus kertas putih berbentuk tabung tersebut. Pria itu menatap ke arah kanan, layar laptopnya masih menampilkan proses penyalinan data. Bersamaan dengan selesainya proses penyalinan data itu, lelaki itu mematikan rokoknya ke asbak. Dia mencabut flash disk dari laptopnya dan memberikannya ke wanita di sebelahnya.

“Kenapa lama sekali?” gerutu wanita itu.

“Ukuran file-nya besar,” balas lelaki itu santai. “Lagipula kau hanya menunggu 30 menit.”

“30 menit disertai asap rokok. Sial..” wanita itu mendengus, “Kapan kau mau meninggalkan benda putih itu?”

“Aku hanya membantu perusahaan rokok. Mereka sudah capek-capek membuat rokok jadi aku menghargai kerja keras mereka.”

“Bah! Menghargai bukan berarti menikmatinya, kan? Lagipula perusahaan rokok itu tidak pantas dihargai. Perusak saja. Kau tahu ozon bumi kita semakin menipis karena asap rokok juga?”

“Kenapa kau jadi seperti beo yang cerewet, Lina?” lelaki itu menggeram gemas, “Kita hanya rekan kerja, bukan berarti kau bebas mengguruiku.”

“Ugh!” Lina memutar bola matanya. “Aku tidak menggurui, hanya memberitahu karena aku sayang sahabatku yang satu ini.”

Mau tak mau perkataan Lina membuat lelaki itu tersenyum.

“Kau pandai merangkai kata-kata. Dasar penulis.” Lelaki itu mengacak rambut Lina.

“Itulah kenapa aku bekerja di sini sebagai author, kau belum tahu kehebatanku saja.” Lina memamerkan cengiran di wajahnya. Lelaki itu tertawa.

“Sudah jam 9, ayo pulang.”

“Kau pikir aku mau pulang bersamamu?” Lina mendengus. Lelaki itu menatapnya.

“Kalau bukan denganku, dengan siapa lagi?”

“Aku bisa naik taksi.”

“Malam-malam begini? Nona Marselina Tiara Putri, kau akan dihajar habis oleh kakakmu yang tak kalah cerewet. Lagipula selama orang tuamu pergi naik haji, aku yang bertanggung jawab atasmu. Mengerti? Jadi kau harus pulang bersamaku.”

“Satu syarat.”

“Apa?”

“Selama di perjalanan, dilarang merokok.”

“Aku pasti akan mengantuk.”

“Kalau begitu aku naik taksi.” Lina bergegas pergi.

“Ah, iya iya! Oke, Nyonya Lina, aku tidak akan merokok selama perjalanan!”

“Itu baru namanya Rey.” Kini giliran Lina yang mengacak rambut sahabatnya. Rey terkekeh pelan.

= = =

Reynaldi Putra Febrianto. Lelaki muda berumur dua puluh empat tahun yang sudah bersahabat dengan Marselina selama 12 tahun, sejak mereka kelas 1 SMP. Rey adalah lelaki baik-baik yang bisa diandalkan oleh orang-orang di sekitarnya. Dia tampan, tinggi, gagah, tubuhnya berotot, rambutnya seperti hasil sisiran salon, ditambah lagi wangi mint yang selalu menemani tubuhnya yang semakin membuat para wanita tergila-gila padanya. Dia lelaki yang bisa dibilang sempurna, jika ada manusia yang sempurna di dunia. Hanya sayang, dia perokok berat.

Rey mulai merokok sejak usia 18 tahun, saat ia depresi ketika orang tuanya meninggal dalam kecelakaan. Rey yang saat itu masih labil dan depresi pun terima saja ketika ada seorang teman yang menyodorkan rokok padanya. Padahal Rey tidak suka rokok, sepupunya ada yang meninggal karena perokok berat. Tapi saat itu pikiran Rey kosong. Dia hanya menerima apa yang orang lain sodorkan, tidak melihat dulu apa yang diberikan.

Marselina membenci kebiasaan sahabatnya ini. Dia mengerti sahabatnya depresi tapi dia tidak suka cara sahabatnya menghilangkan depresinya. Ketika dia meracau, Rey akan membalas dengan tenang.

“Ini kan hanya rokok, bukan narkoba,” katanya.

“Tapi rokok tidak kalah berbahayanya dengan narkoba! Kau tahu? Merokok sama dengan mengejar kematian!”

“Bukankah itu bagus? Aku bisa bertemu orang tuaku lagi.”

“Rey..”

“Lin, maafkan aku melanggar janji untuk tidak merokok seumur hidup, tapi aku benar-benar tidak tahu cara lain lagi. Dengan merokok aku merasa tenang.”

“Kau sudah ketagihan dan itu bahaya! Kau sama saja dengan mengonsumsi narkoba, apalagi overdosis! Kau tahu berapa batang rokok yang kau habiskan dalam satu hari? Lima belas!”

“Kau menghitungnya?” Rey terperangah kaget.

“Kau tidak tahu aku selalu ada di sampingmu? Bagus! Karena rokok kau bahkan tidak melihat keadaan sekitar!”

 

Marselina dan Reynaldi memang sering bertengkar karena rokok. Tapi kemudian mereka berbaikan kembali. Persahabatan yang sudah terjalin selama 12 tahun tidak bisa rusak begitu saja hanya dengan rokok.

Terkadang Rey merasa bersalah. Kulit tangan Lina jadi tidak semulus dulu. Ada lingkaran kecil bekas rokok di tangannya. Rey sering sekali dengan tidak sengaja mengenai tangan Lina dengan rokoknya. Lina selalu marah-marah dan langsung menguliahi Rey tentang bahaya rokok. Tapi Rey yang sudah ketagihan tidak bisa melepaskan rokok. Hal itu membuat Lina semakin berang.

“Kau tahu? Resiko perokok pasif lebih bahaya daripada perokok aktif! Berkat kamu aku juga jadi perokok pasif!”

“Tapi bukan aku saja yang merokok. Banyak orang lain yang merokok juga di sekitarmu.”

“Tapi penyebab paling parah itu kamu! Kamu kan yang selalu ada di sisiku?”

“Siapa suruh ada di sisiku?”

“Itu tugasku sebagai sahabatmu!”

 

Sore itu, Rey membuka pintu kamarnya. Dia melepaskan kemejanya dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Rey menghela napas panjang. Perkataan Lina tentang bahaya rokok mulai merangsek ke pikirannya. Benar, Rey merasakan perubahan dalam tubuhnya. Rey menatap tempelan-tempelan di dinding. Rey tersenyum kecil. Pasti Lina yang menambahkan poster anti rokok di kamarnya. Lina memang peduli pada kesehatannya. Sering sekali Lina memberikan file dalam bentuk Power Point atau Ms-Word tentang kampanye anti rokok. Bahaya rokoklah, korban-korban rokoklah, semuanya lengkap pokoknya. Rey memang mencoba berubah, tapi dia tetap saja mencari rokok. Padahal dia sudah mengikuti saran Lina di salah satu klipingnya, “Makanlah permen dibanding merokok.” Rey cukup setuju dengan ide itu. Setidaknya ada benda yang bisa menemani mulutnya selain rokok.

Rey jadi sering asma, ia mengakui itu. Ia juga mudah terserang penyakit flu berkepanjangan. Bahkan nafasnya pun jadi bau yang menyebabkan ia harus menyemprotkan penyegar mulut setiap ia bepergian. Giginya semakin lama semakin kuning membuat Rey harus menyikat gigi 4 kali sehari dan sering-sering pergi ke dokter gigi. Semua menyarankan agar ia berhenti merokok. Tapi Rey tidak bisa.

Rokok yang telah menemaninya selama 7 tahun itu sudah seperti kebutuhan primernya untuk bertahan hidup, meskipun kenyataannya malah sebaliknya. Jatah hidupmu semakin berkurang, begitu kata Lina. Rey mendengus. Dia pikir hanya Tuhan yang pantas menjatah hidup manusia, bukan rokok.

= = =

Telepon genggam Rey berbunyi. Dengan malas Rey membuka matanya dan meraih ponselnya yang diletakkan di samping tempat tidur. Tanpa melihat layarnya, ia langsung menekan tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga.

“Halo…?” sapanya dengan suaranya yang berat.

“Rey, Lina masuk rumah sakit. Kanker paru-paru.”

“Hah?!” Rey terlonjak bangun. “Kapan?! Kok bisa?!”

“Paru-parunya rusak, Rey. Dokter bilang ini juga disebabkan karena dia perokok pasif.”

“…” Rey tidak tahu harus menjawab apa. Seketika perasaan bersalah mengerubungi hatinya.

“Rey?”

“Di rumah sakit mana?” Tangannya sibuk mencabut kertas memo dan bersiap mencatat dengan pulpennya. Rey mendengarkan temannya menyebutkan alamatnya sambil mencatatnya di kertas memo.

“Terima kasih,” gumam Rey tidak jelas lalu menyambar jaket hitamnya yang digantung di balik pintu.

= = =

Pemandangan Lina dengan alat-alat di sekitarnya membuat hati Rey semakin sakit dan bersalah. Inikah yang dilakukannya pada seorang sahabat yang sudah menemaninya selama 12 tahun? Inikah balasan yang diberikannya untuk gadis yang memedulikan kesehatannya? Baru kali ini Rey merasa begitu gagal. Gagal menjadi sahabat yang baik! Gagal melindungi gadis yang dicintainya!

Diam-diam Rey memang mencintai Lina melebihi sekedar sahabat. Itu sudah terjadi sekitar 7 tahun yang lalu, saat Lina menunjukkan simpati terbesarnya pada Rey.

Rey benar-benar menyesal. Saking menyesalnya ia sampai tidak berani masuk ke ruang inap Lina. Seakan-akan ia adalah virus yang haram memasuki ruangan serba steril itu.

“Maafkan aku, Lina..” Rey hanya bisa bergumam pilu.

“Kenapa tidak masuk dan menjenguknya?” tanya Nina, kakak Lina.

“Aku tidak punya muka untuk bertemu dengannya.”

“Mukamu ada di kepalamu! Sudahlah, kau masuk saja! Aku yakin Lina senang.” Mana mungkin? batin Rey pilu. Mana mungkin dia senang bertemu dengan oknum yang membuatnya mengidap kanker paru-paru itu?

“Ayo! Tunggu apalagi? Lina sudah menunggumu sedari tadi..” Nina mendorong tubuh tinggi Rey. Akhirnya lelaki itu masuk ke ruang inap Lina. Dia tersenyum menyapa Lina. Gadis itu membalas senyumnya dengan hangat.

“Ehm…bagaimana keadaanmu?” tanya Rey kaku.

“Baik-baik saja sekarang.”

“Sekarang? Tadi?”

“Tadi kan kamu tidak ada di sini, jadi aku merasa sakit. Sekarang kamu ada di sini, aku tidak merasakan sakitnya.”

“Dasar penulis! Pandai merangkai kata-kata!” Biasanya, dengan kata-kata itu, Rey pasti mengacak rambut Lina. Tapi kini berbeda, ia hanya mengusap lembut rambut sahabatnya. Lina memamerkan cengirannya.

“Kenapa? Takut rambutku rontok?” kekeh Lina pelan. Rey tersenyum, tatapan matanya menyiratkan kasih sayang. Lina bisa merasakannya, rasa cinta Rey. Dia merasakannya lewat belaian tangan Rey di rambutnya, tatapan mata Rey, dan senyumnya.

“Sudah berapa lama?” bisik Rey parau.

“Apa?”

“Mengidap kanker paru-paru?”

“Entahlah. Sudah agak lama.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Haruskah? Lagipula jika aku bilang, kau pasti tidak peduli,” balas Lina dengan nada sarkastis. Hati Rey berdenyut nyeri. Tangannya berhenti membelai rambut Lina dan menggenggam tangan gadis itu.

“Aku minta maaf. Aku memang salah. Kau mau memaafkanku?”

“Ya. Asalkan kau berjanji satu hal.”

“Apa?”

“Berhenti merokok dan jangan menyalahkan dirimu jika aku mati.”

“Tapi kau tidak akan…” Suara lengkingan tanda kehilangan berbunyi memecahkan keheningan. Bisikan Rey berhenti tiba-tiba, terpotong oleh suara lengkingan itu. Rey terpaku.

“Lina? Lina? Marselina! Marselina!” jerit Rey parau. Beberapa perawat dan dokter datang tegopoh-gopoh ke ruangan. Beberapa di antara mereka menarik Rey menjauh. Rey memberontak, berusaha melepaskan diri dari pegangan perawat-perawat itu dan mencoba mendekati Lina. Tapi percuma. Marselina Tiara Putri sudah tiada, dan Reynaldi Putra Febrianto yang membuatnya mempercepat kematian. Dia telah mengejar kematian, tapi tak disangka di tengah kejarannya, ia membawa sesuatu yang berharga. Ia membawa serta seorang yang dicintainya, bersama-sama berlari mengejar maut. Dan kini, Lina telah mendahuluinya ke garis finish. Itu berarti Rey pun akan sampai sebentar lagi. Rey benar-benar menyesal. Rasanya ia ingin menggali kuburannya sendiri dan mendekam di sana sampai mati. Ia menyesal dan malu.

Takdir memang di tangan Tuhan, tapi kita yang memilih mau takdir yang mana. Dan Rey telah memilih takdir yang pahit.

= = =

Rey meletakkan setangkai bunga mawar di atas makam Marselina. Dia berdoa untuk Lina dan mengecup nisannya agak lama.

“Aku mencintaimu,” bisiknya pelan. Rey lalu berdiri dan berbalik. Matanya menangkap seorang bapak yang hendak menyalakan rokoknya. Di sekitarnya ada keluarganya yang masih berziarah. Dengan geram, Rey mendekati bapak itu dan mematahkan rokoknya serta melempar koreknya ke sembarang arah. Bapak itu menatapnya marah dan tersinggung.

“Kau siapa? Seenaknya bertingkah!”

“Jika Anda ingin mengejar kematian, kejarlah sendiri. Jangan bawa orang-orang yang  Anda cintai.” Mata Rey melirik keluarga bapak itu. Seketika bapak itu tertegun dan menatap Rey dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Apa Anda tahu bahwa rokok itu tidak ada bedanya dengan narkotika? Sama-sama membuat ketagihan dan merusak organ penting. Dan Anda tahu? Lapisan ozon bumi kita semakin menipis karena asap rokok juga. Apa Anda tidak kasihan dengan anak cucu Anda?” ucap Rey dengan tegas. Keluarga bapak itu pun menatap ke arahnya dengan heran. Rey bergantian menatap mereka. Matanya lalu terfokus lagi pada bapak di hadapannya. Rey mengeluarkan beberapa bungkus permen dari kantungnya dan memberikannya pada bapak itu. Bapak itu menerimanya dengan bingung.

“Makanlah permen dibanding merokok.” Rey tersenyum magis. Bapak itu menatapnya dengan terpana, begitupula dengan keluarganya. Rey undur diri dari hadapan keluarga itu dan berjalan tegas menuju mobilnya. Seulas senyum menghias wajahnya. Rey sudah berhenti merokok dan bertekad akan mengajak para perokok di dunia agar berhenti merokok, sebisa mungkin. Pengalaman memberitahu kesalahannya, dan Rey tidak mau tergelincir di kesalahan yang sama. Dia ingin kembali berlari, kini mengejar kebahagiaan. Di tengah kejarannya, Rey ingin mengajak orang-orang di sekitarnya. Orang-orang yang melakukan hal merugikan dengan merokok. Rey baru menyadari, merokok adalah hal sia-sia. Itu bahkan bisa membunuh orang sekitar kita yang tak pernah sekalipun menyulut rokok selama hidupnya.

Rey mengemudikan mobilnya sambil tersenyum. Terima kasih Lina, kaulah orang yang menyadarkanku. Terima kasih sekali lagi dan….aku mencintaimu.

 

TAMAT

16 thoughts on “Mengejar Kematian

  1. dhila_アダチ says:

    kereen..tema yg diangkat unik…
    kirain awalnya itu mistery, krna berbau data di komputer sama orang perokok berat, trnyata yang jadi tema rokoknya itu sendiri toh…
    keep writing, nis ^o^/

  2. dorky Mint says:

    cuma satu yang bikin aku bingung => “Makanlah permen dibanding merokok.” Rey tersenyum magis.

    kenapa dengan ngomong begitu, Rey malah tersenyum magis? cuma ngerasa aneh aja, bukan apa-apa.

    but still, this is a great story! dan aku sudah RCL ya~ bahasanya mantep b^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s